HarianKegiatan Kami

Youth Camp ICRP Jadikan Perbedaan Indah

Vihara Vipassana Graha, Lembang, Bandung, menjadi saksi bisu perbedaan menjadi indah. Perbedaan agama dan keyakinan tidak menghalangi terjalinnya sebuah persahabatan dan persaudaraan. Sekitar 37 pemuda dan pemudi yang menganut berbagai macam agama, kepercayaan, madzhab, dan sekte berkumpul, berdiskusi, sharing, main game, dan belajar bersama. Dari sini mereka tahu bahwa kemajemukan menjadi indah.

Selama 3 hari, Jum’at-Minggu (27-29 Oktober 2013), Indonesian Conference on Religion and Peace menyelenggarakan kegiatan Youth Camp ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman akan perbedaan dan kemajemukan kepada para pemuda dari berbagai kepercayaan dan agama. Kegiatan ini dilaksanakan dengan konsep ringan dan menyenangkan. Peserta hanya diajak untuk berdiskusi, sharing pengalaman, bermain game, dan diskusi analisis sosial. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pelatihan menulis singkat.

Selain penganut 6 agama besar di Indonesia, para peserta yang mengikuti acara ini diantaranya adalah mereka yang selama ini mengalami tindakan diskriminasi agama. Di antaranya adalah penganut Syiah, Ahmadiyah, penganut agama Bahai, Sapta Darma, HKBP Filadelfia, dll. Mereka semua rata-rata masih muda dan mahasiswa, bahkan beberapa diantara mereka masih sekolah jenjang SMP dan SMA.

Pada awalnya mereka terlihat canggung karena belum saling mengenal. Namun setelah acara dimulai dan perkenelan, hubungan di antara mereka mulai cair dan akrab. Setelah beberapa materi dilalui, kecanggungan tersebut mulai hilang. Dan suasana hangat penuh persaudaraan pun tak terelakkan.

Konsep acara Youth Camp dikemas dengan cara santai tapi tetap serius. Ryan, Ketua Panitia Youth Camp menuturkan para peserta diharapkan menikmati acara ini. Peserta diminta berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Karena seluruh kegiatan dikonsep dengan acara sharing dan diskusi ringan perkelompok.

Turut hadir dalam kegiatan ini adalah Eva Kusuma Sundari, anggota DPR RI Komisi III. Eva didaulat menjadi pemateri dalam kegiatan ini. Dalam kesempatan tersebut Eva menuturkan sangat bahagia bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang luar biasa tersebut. Eva menuturkan sebagai anggota DPR, pluralisme dan toleransi merupakan basis perjuangan politiknya. Oleh sebab itu, tidak heran jika selama ini Eva selalui lantang menyuarakan toleransi dan menolak segala bentuk tindakan diskriminasi.

Kesempatan diskusi dengan Eva Kusuma Sundari tersebut tidak disiasakan oleh para peserta Youth Camp. Beberapa di antaranya menanyakan peran pemerintah selama ini yang cenderung diam dalam menindak kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Di antaranya adalah Javvad Munis, peserta penganut Syiah. Javvad menanyakan peran pemerintah yang cenderung membiarkan konflik Syiah terus berlanjut di Sampang Madura.

Eva Kusuma Sundari menuturkan memang benar bahwa selama ini pemerintah cenderung diam dan membiarkan tindakan kekerasan atas nama agama terjadi. Hal ini menurut dia karena saat ini terjadi upaya politisasi agama. Gejala politisasi agama menurut Eva telah menjalar kemana-mana, tidak di pusat atau di daerah-daerah, “semua sama” tegasnya. Oleh sebab itu, Eva menyatakan para pemuda harus waspada menghadapi gejala tersebut.

Diskusi dengan Eva Kusuma Sundari dihiasi dengan sharing yang mengharukan dari Irene, salah satu pemuda jemaat HKBP Filadelfia. Irene menuturkan kesedihanya selama ini yang tidak bisa beribadah dengan tenang di gerejanya sendiri. Sambil menangis sesenggukan, Irene yang tidak kuasa menahan emosi menyatakan bahwa mereka juga manusia yang punya perasaan. Mereka hanya ingin beribadah dengan tenang dan nyaman. Tidak lebih. “Kenapa kami diperlakukan seperti ini, kami beribadah dihadang, bahkan kami dilempari dengan telur busuk, dan kotoran hewan, sungguh tidak manusiawi” sendu Irene. Beberapa peserta yang hadir pun turut sedih mendengar penuturan haru Irene.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Noval, pengikut Sapta Darma dan Riaz, penganut agama Bahai. Keduanya mengalami diskriminasi agama, bahkan sampai saat ini negara masih belum mengakui agama mereka. Padahal Sapta Darma adalah salah satu agama asli nusantara. Namun hingga kini pemerintah masih mendiskriminasi mereka. Bahkan untuk menuliskan kolom agama di KTP saja sampai saat ini masih enggan. “Kini kami hanya menulis tanda strip dikolom agama di KTP kami” tutur Noval kepada Eva Kusuma Sundari.

Menanggapi kejadian yang dialami oleh para peserta Youth Camp tersebut, Eva Kusuma Sundari menyatakan memang begitulah kebijakan negara menyikapi perbedaan agama dan kepercayaan di Indonesia. Padahal konstitusi sudah jelas menuturkan, negara menjamin kebebasan beribadah dan berbibadah rakyatnya sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. “Namun kita tidak boleh pesimis, kita harus realistis” tegas Eva kepada para peserta Youth Camp.

Melihat para peserta Youth Camp yang bisa berdamai dengan identitas mereka yang berbeda, Eva pun yakin, Indonesia bisa menciptakan perdamaian dengan segala perbedaan yang dimiliki masyarakatnya. Semoga.Vihara Vipassana Graha, Lembang, Bandung, menjadi saksi bisu perbedaan menjadi indah. Perbedaan agama dan keyakinan tidak menghalangi terjalinnya sebuah persahabatan dan persaudaraan. Sekitar 37 pemuda dan pemudi yang menganut berbagai macam agama, kepercayaan, madzhab, dan sekte berkumpul, berdiskusi, sharing, main game, dan belajar bersama. Dari sini mereka tahu bahwa kemajemukan menjadi indah.

Selama 3 hari, Jum’at-Minggu (27-29 Oktober 2013), Indonesian Conference on Religion and Peace menyelenggarakan kegiatan Youth Camp ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman akan perbedaan dan kemajemukan kepada para pemuda dari berbagai kepercayaan dan agama. Kegiatan ini dilaksanakan dengan konsep ringan dan menyenangkan. Peserta hanya diajak untuk berdiskusi, sharing pengalaman, bermain game, dan diskusi analisis sosial. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pelatihan menulis singkat.

Selain penganut 6 agama besar di Indonesia, para peserta yang mengikuti acara ini diantaranya adalah mereka yang selama ini mengalami tindakan diskriminasi agama. Di antaranya adalah penganut Syiah, Ahmadiyah, penganut agama Bahai, Sapta Darma, HKBP Filadelfia, dll. Mereka semua rata-rata masih muda dan mahasiswa, bahkan beberapa diantara mereka masih sekolah jenjang SMP dan SMA.

Pada awalnya mereka terlihat canggung karena belum saling mengenal. Namun setelah acara dimulai dan perkenelan, hubungan di antara mereka mulai cair dan akrab. Setelah beberapa materi dilalui, kecanggungan tersebut mulai hilang. Dan suasana hangat penuh persaudaraan pun tak terelakkan.

Konsep acara Youth Camp dikemas dengan cara santai tapi tetap serius. Ryan, Ketua Panitia Youth Camp menuturkan para peserta diharapkan menikmati acara ini. Peserta diminta berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Karena seluruh kegiatan dikonsep dengan acara sharing dan diskusi ringan perkelompok.

Turut hadir dalam kegiatan ini adalah Eva Kusuma Sundari, anggota DPR RI Komisi III. Eva didaulat menjadi pemateri dalam kegiatan ini. Dalam kesempatan tersebut Eva menuturkan sangat bahagia bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang luar biasa tersebut. Eva menuturkan sebagai anggota DPR, pluralisme dan toleransi merupakan basis perjuangan politiknya. Oleh sebab itu, tidak heran jika selama ini Eva selalui lantang menyuarakan toleransi dan menolak segala bentuk tindakan diskriminasi.

Kesempatan diskusi dengan Eva Kusuma Sundari tersebut tidak disiasakan oleh para peserta Youth Camp. Beberapa di antaranya menanyakan peran pemerintah selama ini yang cenderung diam dalam menindak kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Di antaranya adalah Javvad Munis, peserta penganut Syiah. Javvad menanyakan peran pemerintah yang cenderung membiarkan konflik Syiah terus berlanjut di Sampang Madura.

Eva Kusuma Sundari menuturkan memang benar bahwa selama ini pemerintah cenderung diam dan membiarkan tindakan kekerasan atas nama agama terjadi. Hal ini menurut dia karena saat ini terjadi upaya politisasi agama. Gejala politisasi agama menurut Eva telah menjalar kemana-mana, tidak di pusat atau di daerah-daerah, “semua sama” tegasnya. Oleh sebab itu, Eva menyatakan para pemuda harus waspada menghadapi gejala tersebut.

Diskusi dengan Eva Kusuma Sundari dihiasi dengan sharing yang mengharukan dari Irene, salah satu pemuda jemaat HKBP Filadelfia. Irene menuturkan kesedihanya selama ini yang tidak bisa beribadah dengan tenang di gerejanya sendiri. Sambil menangis sesenggukan, Irene yang tidak kuasa menahan emosi menyatakan bahwa mereka juga manusia yang punya perasaan. Mereka hanya ingin beribadah dengan tenang dan nyaman. Tidak lebih. “Kenapa kami diperlakukan seperti ini, kami beribadah dihadang, bahkan kami dilempari dengan telur busuk, dan kotoran hewan, sungguh tidak manusiawi” sendu Irene. Beberapa peserta yang hadir pun turut sedih mendengar penuturan haru Irene.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Noval, pengikut Sapta Darma dan Riaz, penganut agama Bahai. Keduanya mengalami diskriminasi agama, bahkan sampai saat ini negara masih belum mengakui agama mereka. Padahal Sapta Darma adalah salah satu agama asli nusantara. Namun hingga kini pemerintah masih mendiskriminasi mereka. Bahkan untuk menuliskan kolom agama di KTP saja sampai saat ini masih enggan. “Kini kami hanya menulis tanda strip dikolom agama di KTP kami” tutur Noval kepada Eva Kusuma Sundari.

Menanggapi kejadian yang dialami oleh para peserta Youth Camp tersebut, Eva Kusuma Sundari menyatakan memang begitulah kebijakan negara menyikapi perbedaan agama dan kepercayaan di Indonesia. Padahal konstitusi sudah jelas menuturkan, negara menjamin kebebasan beribadah dan berbibadah rakyatnya sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. “Namun kita tidak boleh pesimis, kita harus realistis” tegas Eva kepada para peserta Youth Camp.

Melihat para peserta Youth Camp yang bisa berdamai dengan identitas mereka yang berbeda, Eva pun yakin, Indonesia bisa menciptakan perdamaian dengan segala perbedaan yang dimiliki masyarakatnya. Semoga.

Show More

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close