Siaran Pers

Transkrip Siaran Pers Bersama tragedi 98

Hari : Selasa, 11 Mei 2001
Tempat : Atmajaya
Waktu : 10:30-11:30

Spoken Person : Ester Jusuf (Direktur Solidaritas Nusa Bangsa), Andy Yentriyani (Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan-Komnas Perempuan), Yohanes Temaluru (Rektor III Atmajaya), Nancy Widjaya (Perhimpuan Indonesia Thionghoa), Jetty. S(Ikohi)

Ester Jusuf:

Hari ini kami jaringan bersama memperingati Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional dan juga mengenang 12 tahun tragedi kemanusiaan Mei 98. Pada tahun ini tema yang diangkat adalah pengharapan. Pada dasarnya bangsa Indonesia punya harapan kedepan, asalkan kita semua, siapapun, kita pribadi-pribadi mau bersama-sama membangun bangsa. Apapun masalah yang kita hadapi, kita bisa menghadapi itu kalau kita bisa menerima keberagaman kita. Kami melihat bahwa ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh kaum awam. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang besar, setiap orang masing-masing bisa memberikan sesuatu untuk membuat perubahan. Misalnya dalam peringatan mei ini ada ribuan anak yang setelah mereka diajar bagaimana menghargai orang yang berbeda, jenis kelamin, ras, agama apapun latar belakanganya mereka mengecapkan tangan sebagai bagian mendukung tekad untuk Indonesia yang damai dan menghargai keberagaman. Setiap orang dalam kapasitas masing-masing mereka berbuat sesuatu, mereka membuat bintang pengharapan kepada anak-anak, mereka juga membuat boneka Mei. Boneke yang dibuat khusus oleh korban Mei dan orang-orang yang peduli pada masa depan bangsa, yang bertekad untuk tidak terjadi lagi peristiwa yang serupa. Intinya kita harus membangun kekuatan bersama dengan anak-anak melalui pendidikan.

Yohanes Temaluru

Refleksi peristiwa 98 kebetulan pada waktu itu saya juga menjadi Dekan. Setiap kali bicara 98 saya selalu merinding. Oleh karena itu saya menyambut prakarsa dari kawan-kawn untuk memberikan penyadaran kepada kita bahwa sesuatu yang sangat serius telah terjadi pada bangsa kita dan kita tidak ingin terjadi dimasa atang. Pilihan kepada kelompok anak sangat tepat karena masa depan bangsa ini ada di tangan anak2 itu. Kita bisa membayangkan tanpa bimbingan orang2 dewas, maka anak-anak tidak akan mungkin tahu. Oleh karena itu saya menyambut baik kegiatan ini. Bahkan pilihan untuk Atmajaya, kebetulan Atmajaya merayakan ulang tahun ke-60. Dan tema yang diangkat adalah adalah “ Atmajaya untuk Tuhan dan bangsa”. Oleh karena itu momentum peringatan Mei semoga bisa memberi isnpirasi dan semangat.

Ktia tidak harus melakuakn yang besar2, melakukan hal2 kecil yang berarti besar. Solidaritas Nusa Bangsa, dan Komnas perempuan coba menyalakan lilin kecil yang akan mengarahkan kepada keinginan atau pencapaian harapan2 kita ke depan. Jadi saya berharapa bahwa gandegan tangan kita yang lintas agama, etnik, kelompok. Oleh karena itu semoga acara ini mendapat sambutan luas dan dengan cara kita masing2 ditempat kita masing2 kita sebarluaskan kepedulian yang sama, kepedulian tentang harapan.

Andy Yentriyani

Bagi Komnas Perempuan tragedi mei 98 adalah peristiwa yang betul2 penting karena Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan berdiri di atas peristiwa ini, dan seluruh perjuanga ini didedikasikan untuk memastikan perempuan korban, dalam bentuk perkosaan maupun serangan2 seksual pada akhirnya bisa memperoleh kebenaran, keadilan dan pemulihan. Karena kita tahu bersama mekipun sudah ada hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang didirikan 6 lembaga dan institusi, sampai hari ini negara masih menyangkal kalaupun tidaa berusaha melupakan tragedi itu.

Komnas Perempuan pada penghujung tahun lalu meluncurkan kampanya Mari Bicara Kebenaran. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengingat peristiwa2 penting yang menimnbulkan rasa pilu sebagai bangsa Indonesia, termasuk tragedi Mei 98 ini. Dan membahas tragedi ini tidak hanya membahas peristwia kelamnya, tapi juga bagaimana peristiwa ini membangkitkan rasa solidaritas di dalam tubuh bangsa Indonesia dan untuk memastikan bahwa semangat solidaritas bersama dan bangsa Indonesia bisa belajar untuk bangkit dari luka yang mendalam dari peristiwa sejarahnya itu. Maka kami mendorong adanya intergrasi pembahasan masalah ini ke dalam dunia pendidikan dari segala tingkatan. Untuk itu bagi Komnas Perempuan kami tidak bisa tidak melainkan mendukung acara dari kawan2 Solidaritas Nusa Bangsa, dan juga rekan2 yang lain, untuk melakukan peringatan terhadap tragedi Mei 98 dan juga melakukan langkah2 strategis lanjutan bagi dunia pendidikan maupun lembaga 2negara yang relevan untuk memastikan suatu hari kebenaran, keadilan juga pemulihan bagi perempuan korban, keluarganya, pendamping mendapatkan hal itu.

Nancy Widjaja

Keadilan seperti apa sih? Bagi saya pribadi keturunan Etnis Thionghoa keadilan adalah terimalah kita sebagai salah satu suku bangsa Indonesia ini. Kita telah ratusan bahkan ribuan tahun tinggal di Indonesia jadi jangan dianggap beda. Kawan2 Thionghoa yang melarikan ke luar negeri setelah terjadi kerusuha Mei 98, buktinya mereka kembali ke Indonesia, karena keluarga, sumber penghidupan mereka ada di Indonesia.

Kita warga Thionghoa merasa didiskriminasi. Sehingga saya menyekolahkan ketiga anak saya ke luar negeri sejak kelas satu. Itu biayanya sangat mahal. Dan saya tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Dari kecil mengirim anak sekolah ke luar mengakibatkan hubungan orang tua renggang. Sekali lagi terimalah kami di sini (Etnis Thionghoa). Jalan yang kami tempuh tidak mudah ketika mendapatkan diskriminasi.

Yohanes Temaluru

Bicara tentang pengalaman tragei Mei memberikan trauma sampai saat ini. Atmajaya sejak 98 melalui kelompok mahasiswa, studi, organisasi massa, melakukan kegiatan. Mereka ingin menimbulkan semangat agar kedepan hal2 seperti itu jangan sampai terulang kembali. Dibeberapa kelas bahka dosen multirkuluralisme juga melakukan penyadaran tentang itu. Karena Atmajaya menghargai harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu momentum ini tidak hanya seremonial, tapi menjadi inspirasi.

Andy Yentriyani

Pada banyak kesempatan keadilan adalah dalam ranah hukum, tapi itu bukan satu2nya, meskipun itu tetap untuk perlu diperjuangkan. Keadilan hukum tidak mungkin tercipta kalau kita bangsa Indonesia melupakan peristiwanya. Kalau kita ingat penderitaan jugun ianfu dibutuhkan waktu 60 untuk mereka mendapatkan keadilan dan kebenaran lewat mereka, meskipun apakah mereka sudah mendapatkan pemulihan masih menjadi pertanyaan. Untuk korban Mei 98 yang anak2nya terbakar dalam kerusuhan untuk bangkit menjadi keluarga yang utuh kembali ini perjuangan yang besar, dan kalau boleh menyebutkan dalam acara ini proses peringatan Mei 98 bukan hanya untuk mengingat tragedinya tapi juga membantu korban untuk bangkit dan berdaya.

Upaya melawan lupa ini harus dijadikan upaya massif baik itu melalui pendidikan informal maupun formal. Karena pada akhirnya inilah yang bisa melakukan perubahan. Bila tidak ada perubahan secara substantif mengenai apa itu perkosaan, penganiyaan, bila tidak ada perubahan hukum acara yang membebankan pembuktian terjadinya kekerasan seksual pada perempuan korban, dan bila tidak ada perubahan budaya melihat perempuan korban kekerasan seksual justru sebagai orang yang memprofokasi, maka tidak mungkin kita hari ini bicara pada keadilan, khususnya bagi kawan2 kita yang mengalami tragedi Mei 98.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close