Daily

Toleransi Beragama di Media Sosial, ini kata Kader Muda NU

Kader muda NU Savic Ali mengakui trend menebar kebencian berbasis agama semakin menguat di dunia maya. Meningkatnya gelombang kebencian berbasis agama ini, tutur Savic Ali, bisa dikategorikan sebagai New Tribalism. Pernyataan demikian, Savic sampaikan dalam Workshop Konferensi Kebebasan Beragama : Anak Muda, Media Sosial, dan Gerakan Toleransi, Senin (2/6).

Berdasar temuan Savic, dunia maya telah dikuasai kalangan intoleran. Pada presentasinya, pimred Voice + Magazine itu menunjukan situs semacam VOA-Islam.com, Arrahmah dan sejenisnya memiliki rating yang tinggi. Keadaan sebaliknya terlihat di situs-situs Islam moderat. “situs garis keras luar biasa menjamur dan kreatif, Islam moderat kalah di dunia maya!”, Kata Savic.

Savic menduga kalangan islam moderat dan pro pluralisme kalah militan dengan kelompok intoleran. “Kelompok intoleran mempersepsikan ada musuh Islam yang harus diperangi. Nah, dari sanalah muncul militansi mereka”, ujar Savic Ali. Gairah ini lah yang menurut Savic Ali tidak ada di kalangan moderat. “kita tidak mengasumsikan adanya musuh, hidup santai biasa saja”, canda Savic memandang kalangan moderat.

Kondisi semacam itu, lanjut Savic, yang membuat kalangan Islam moderat hanya punya sedikit inisiatif. Sehingga gagasan-gagasan dan gerakan toleransi terlihat seolah padam di dunia maya.

Selain kurangnya militansi, Savic menambahkan persoalan lain di sisi kalangan toleran dan moderat. “Ada perasaan minder dari kalangan moderat karena pemahaman agama yang masih belum mapan untuk menangkis pandangan kelompok intoleran”, kata Savic. Perspektif  tersebut dinilai kurang tepat. Menurut Savic kalangan moderat harus creating more content! “Tidak selalu harus menggunakan argumentasi agama dalam melawan konten garis keras”, imbuh Savic.

Savic Ali meyakini di dunia nyata, kalangan moderat masih dominan. “kalangan moderat ini Silent Majority”, ujar Savic Ali. Meskidemikian kondisi dunia maya, dalam pandangan Savic bisa mengubah pola pandang silent majority ini.

“Hanya butuh tiga orang untuk membakar hutan, sebaliknya dibutuhkan ribuan orang untuk merawan hutan”, tutur Savic memberikan analogi antara kalangan intoleran dan toleran.

Workshop yang diselenggarakan oleh The Indonesia Legal Resource Center (ILRC), LBH Jakarta, AWC Universitas Indonesia, CRCS Universitas Gajah Mada, Yayasan Cahaya Guru, SEJUK dan HIVOS ini turut mengundang inisiator Ayah ASI Shafiq Pontoh dan direktur komunikasi change.org Arief Aziz.\

Pada acara Workshop sore itu, peserta nampak dari berbagai kalangan muda dan beragam keyakinan. Salah satu yang sempat berbincang dengan redaksi icrp-online.org adalah Asep Somantri. Ia mengklaim diri sebagai penganut Sunda Wiwitan.

Penulis : Erton

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close