Daily

Timses Jokowi-JK ungguli PraHaRa soal Kebebasan Beragama

Dalam rangka mengenal visi-misi calon pemimpin bangsa berkenaan kebebasan beragama, Freedom Institute, Friedriech Nauman Foundation, dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) mengundang kedua tim sukses Rabu (18/6). Bedah visi-misi yang bertemakan“Masa Depan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” ini dilaksanakan di restoran Gado-gado Boplo.

Awalnya panitia mengundang wakil ketua umum Gerindra, Fadli Zon, untuk memaparkan pandangan jagoannya berkenaan kebebasan beragama. Tetapi, Fadli Zon siang itu tidak menampakan batang hidungnya. Dari kubu Jokowi-JK, Maman Imanul Haq pun tidak bisa hadir. Alhasil bedah gagasan kedua capres hanya dihadiri satu perwakilan dari masing-masing kubu.

Hadir dari sisi PraHaRa, sebutan yang cukup sunter di jejaring sosial bagi pasangan Prabowo Hatta Rajasa, yaitu Sosiolog Kastorius Sinaga. Dari Pihak Jokowi JK, datang agak terlambat Prof. Dr. Musdah Mulia. Debat antar kedua perwakilan timses sore itu sepanas cuaca di luar ruangan.
“Visi misi Jokowi-JK tentang pembangunan kehidupan beragama di tanah air dibuat secara serius. Tidak tergesa-gesa”, Ujar Musdah Mulia mengawali pembahasannya. Pernyataan pembuka Musdah Mulia ini disambut tepuk tangan para peserta debat. Pasalnya, dalam paparan  Kastorius Sinaga, kubu PraHara mengakui bahwa manifesto Gerindra yang kontroversial dan mengundang banyak kecaman dari tokoh intelektual itu dibuat secara “tergesa-gesa.”

Musdah yang mengenakan baju berwarna ungu pada acara itu menerangkan duduk perkara kebebasan beragama di tanah air. Profesor yang telah malang melintang dalam membela kebebasan beragama ini meyakini ada pembiaran pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terhadap kasus-kasus intoleransi di tanah air. Pernyataan itu terlihat membuat Kastorius Sinaga yang juga merupakan mantan caleg dari Demokrat itu tidak nyaman.

Siang itu dengan menggunakan beberapa slide presentasi, Musdah memberikan beberapa indikator pembiaran pemerintah sehingga mendorong menguatnya intoleransi. Musdah, berdasar hasil riset, menyatakan pemerintah abai untuk membangun kesadaran toleransi antar agama di dunia pendidikan. “Rohis kini menjadi salah satu sarang munculnya islam radikal”, kata Musdah. Bahkan, menurut Musdah banyak tenaga pengajar anti-kebhinekaan kini.

“Ada pembiaran terhadap penyebaran hate speech selama 7 tahun ke belakang”, imbuh Musdah. Meski jumlah orang radikal sedikit Musdah melihat penguatan semangat intoleransi begitu deras di dunia maya.

Selain itu, Musdah mengkhawatirkan netralitas aparat keamanan dalam melihat hubungan beragama masyarakat. “Aparat makin condong kepada kemauan mayoritas”, kata Musdah. Padahal, menurut Musdah persoalan hubungan beragama tidak bisa mengikuti besaran suara, melainkan konstitusi.

Dalam temuan di lapangan, ketua Indonesian Conference on Religion and Peace ini melihat ada paradoks aparat keamanan. “Ibu ini kan mengenal agama, kenapa membela Ahmadiyah yang sesat itu?”, kata Musdah menuturkan pernyataan salah seorang aparat keamanan di lapangan yang sempat berbicara dalam mengurusi persoalan Ahmadiyah.

Menurut Musdah persoalan kebebasan beragama bisa diatasi jika negara hadir. “Negara harus membuat peraturan, tetapi harus berdasar pada perlindungan warga negara, tanpa diskriminasi!”, tegas Musdah.

Mengakhiri sesi pertamanya, Musdah menunjukan sebuah buku kecil. “Jika Anda ingin melihat keseriusan visi-misi kami berkenaan isu kebebasan beragama silahkan baca buku ini”. Tutup Musdah.

Nisfu Sywaludin, salah satu peserta bedah visi-misi siang itu melihat kubu Jokowi-JK  lebih mantap. “Lebih keren Bu Musdah lah”, kata koordinator Forum Ide itu. Nisfu melihat Musdah memenangi forum siang itu.

Kastorius, menurut Nisfu tidak begitu ahli  dalam persoalan intoleransi.“Memang Bu Musdah kan concern terhadap isu seperti minoritas dan gender”, Pungkas Nisfu.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close