Harian

Tajul Muluk Divonis Dua Tahun Penjara

Pemimpin Syiah Sampang Madura Tajul Muluk akhirnya divonis dua tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sampang Kamis, (12/07/2012). Sebelumnya jaksa penuntut umum menuntut Tajul dengan empat tahun penjara. Namun majelis hakim menilai beberapa pertimbangan sehingga meringankan hukuman Tajul.

Atas putusan ini, pihak Tajul Muluk memutuskan untuk mengajukan banding. “Saya putuskan hari ini juga. Saya akan naik banding, Ini semua fitnah, termasuk MUI, ini masalah harga diri, saya langsung naik banding, selain itu kasus Syiah ini adalah pesanan,” ujar Tajul usai tuntutan dibacakan majelis hakim seperti dikutip jaringnews.com

M. Faiq Assiddiqi, kuasa hukum Tajul, menyayangkan hasil putusan hakim. “Yang jelas saya sebagai kuasa hukum terdakwa merasa keberatan dan yang dimaksud penodaan agama yang mana? Menurut saya ini putusan yang salah besar, sebelum saya memberikan pendapat, terdakwa sudah bersikeras akan banding,” tuntas dia dalam jaringnews.com.

Dari media alert yang disampaikan oleh aliansi solidaritas sampang menjelaskan, sejak persidangan Tajul pada 1 Mei, menurut Sinung Karto, Kepala Divisi Investigasi Kontras, hakim dan jaksa cenderung diskriminatif, yakni lebih memberi angin pada saksi dari pihak jaksa. Sinung mencontohkan keputusan hakim tetap memberi ruang pada Zein Alkaf untuk tampil sebagai saksi ahli, meski dia hanya tamatan tsanawiyah; isyarat level pendidikan yang tak mumpuni untuk menerangkan latar belakang kompleks perbedaan mazhab dalam Islam. “Hakim seolah-olah membela Zein dengan mempersilahkan pengacara mencantuman keberatan di pledoi – bahkan sebelum penasehat hukum bertanya,” katanya.

Sinung, mendasarkan ceritanya pada laporan tim pemantau Kontras, juga bercerita laku hakim yang kerap ‘menolong’ saksi-saksi fakta dari pihak jaksa kala terpeleset oleh pernyataan sendiri. “Ini persidangan yang menggelikannya sebenarnya,” katanya. “Alih-alih menggali kedalaman fakta, hakim justru kerap membantu saksi agar keterangannya sejalan dengan isi berita acara pemeriksaan.” Jaksa pun lupa pasal yang ingin dia dalilkan kepada Tajul Muluk. berkali-kali Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut pasal 165 KUHP padahal sebenarnya pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama. Saking gemasnya dengan kelakuan jaksa, saksi ahli untuk Tajul Muluk Zainal Abidin Bagir PhD sampai menegur dan mengingatkan JPU bahwa dia salah menyebyt pasal. JPU sempat ngeyel dan tak mau kalah sampai membuka KUHP, dan kemudian malu mengetahui telah salah menyebut pasal.

Gambaran senada datang dari Alfon Kurnia Talma, Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Alfon bahkan bercerita kalau fakta di persidangan menunjukkan beberapa saksi jaksa justru tak bisa berbahasa Indonesia. Ini bertentangan dengan isi Berita Acara Pemeriksaan yang seolah mengisyaratkan mereka isi berkas perkara. “Seharusnya jaksa tidak terburu-buru menyatakan berkas perkara lengkap,” katanya. “Jaksa yang baik seharusnya mengerti dalam penyidikan perlu adanya penerjemah yang telah disumpah, sehingga ketika saksi yang tak bisa berbasa Indonesia menandatangani berita acara, dia mengerti apa yang dia tandatangani.”

“Persidangan ini lebih terkesan sebuah balapan, persis yang tercantum di BAP,” kata Alfon lagi. Dia bilang, sikap hakim dan jaksa di Sampang menutup pintu peluang bagi penasihat hukum Tajul untuk mengekplorasi lebih jauh kebenaran dan pemahaman saksi-saksi jaksa atas isi berita acara.

Seperti pemberitaan-pemberitaan sebelumnya Tajul Muluk dan warga Syiah Sampang lainnya pada akhir tahun lalu telah diserang oleh sekelompok warga. Dan Tajul Muluk sebagai pemimpinnya dituduh telah melakukan penodaan agama Islam. Sehingga memaksanya untuk duduk dimeja hijau. [Mukhlisin]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close