Pos

Ulil Abshar Abdalla: Mencintai Tuhanmu, Mencintai Tetanggamu

Jakarta – Cendikiawan muslim Ulil Abshar Abdalla mengatakan bahwa dokumen yang bernama common word sangat bersejarah karena mengenalkan 2 konsep penting. Pertama, konsep mencintai Tuhan, Love of God. Kedua, Love of Neighbor, mencintai tetangga kita atau orang di sekitar kita. Kedua konsep ini kemudian diadopsi dalam resolusi PBB dan dijadikan dasar World Interfaith Harmony Week.

Hal itu disampaikan pengampu Ngaji Ihya’ ini dalam peringatan Pekan Harmoni Lintasagama Sedunia yang dihelat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bekerjasama dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Sabtu malam (20/2) secara daring.

Dua konsep ini menurut Ulil, penting, mencintai Tuhan dan tetangga. Kita, kata dia,  tidak cukup mencintai Tuhan saja.

“Yang jadi problem kadang-kadang adalah mencintai Tuhan mengorbankan manusia atau atas dasar cinta kita kepada Tuhan justru menyakiti manusia lain. Dokumen ini mau mengatakan bahwa atau semnagat hari ini adalah semangat mencintai Tuhan saja tidak cukup. Karena ia baru satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah mencintai tetangga kita,” terangnya.

Pengajardi  Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta ini juga menjelaskan bahwa mencintai tetangga tidak berarti hanya mencintai tetangga kita yang satu agama karena mencintai tetangga yang satu agama itu mudah.

“Mencintai tetangga yang berbeda agama juga diperlukan. Itulah semangat dari perayaan kita malam ini yaitu cinta Tuhan yang sifatnya vertikal dan cinta pada tetangga yang sifatnya horizontal. Ini juga pengandaian, kita tidak bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai tetangga. Itulah semangat yang seharusnya kita ingat terus menerus,” tandasnya.

Namun ia menyanyangkan, bahwa hari ini gaungnya tidak seperti peringatan internasional lainnya.

World Interfaith Harmony Week ini gaungnya belum semembahana dari hari-hari lainnya, seperti hari Buruh atau hari HAM. Untuk itu saya apresiasi ICRP mengadakan perayaan ini, meskipun terlambat. Saya kira hari ini harus diperingati setiap tahunnya,” pungkas pendiri Jaringan Islam Liberal yang pernah kuliah di Boston University, Massachussetts, AS., ini.

Dalam laman en.wikipedia.org, diulas bahwa World Interfaith Harmony Week adalah resolusi PBB untuk pekan kerukunan antaragama sedunia yang diusulkan pada 2010 oleh Raja Abdullah II dan Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Yordania . Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia jatuh pada minggu pertama bulan Februari setiap tahun  dan bertujuan untuk mempromosikan keharmonisan antara semua orang terlepas dari keyakinan mereka.

Pada tanggal 23 September 2010, Raja Abdullah II dari Yordania mengusulkan Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia pada Sidang Paripurna Sidang Umum PBB ke-65 di New York City . Dalam pidatonya Raja Abdullah berkata:

[Juga] penting untuk melawan kekuatan perpecahan yang menyebarkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan terutama di antara orang-orang yang berbeda agama. Faktanya adalah, umat manusia di mana-mana terikat bersama, tidak hanya oleh kepentingan bersama, tetapi oleh perintah bersama untuk mencintai Tuhan dan sesama; untuk mencintai yang baik dan sesama. Minggu ini, delegasi saya, dengan dukungan dari teman-teman kita di setiap benua, akan memperkenalkan rancangan resolusi untuk Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia. Yang kami usulkan adalah minggu khusus, di mana orang-orang di dunia, di tempat ibadah mereka sendiri, dapat mengekspresikan ajaran agama mereka sendiri tentang toleransi, menghormati orang lain dan perdamaian. Saya harap resolusi ini mendapat dukungan Anda.

Pada tanggal 20 Oktober 2010, Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Yordania , Penasihat Khusus dan Utusan Pribadi Raja Abdullah II dan penulis resolusi, mempresentasikan proposal untuk Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia di hadapan Sidang Umum PBB di New York di mana hal itu diadopsi. bulat.

Dasar Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia adalah Prakarsa Kata Bersama yang ditulis oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan dirilis pada tahun 2007. Prakarsa Kata Bersama dan Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia berasal dari gagasan bahwa umat manusia terikat bersama oleh keduanya. berbagi perintah ‘Cinta Tuhan dan Cinta Sesama’ atau ‘Cinta yang Baik dan Cinta Sesama’. [AN]

Sejumlah tokoh agama berdoa bersama dalam acara Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober 2017

Pemuda Lintas Iman dalam Pentas Seni dan Doa Damai

Jakarta, ICRP – Memperingati Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober lalu Komunitas Sant Egidio bekerjasama dengan Komisi HAAK KAJ dan ICRP menyelenggarakan doa damai di pelataran Universitas Atma Jaya, Jakarta. Kegiatan ini sebagai momentum meneruskan pesan dari Fransisikus Asisi untuk membangun dialog dan doa, mempromosikan rasa saling memahami diantara agama dan budaya yang berbeda-beda.

Tahun ini peringatan hari perdamaian tersebut dimeriahkan dengan pentas seni, penyampaian pesan damai dan diakhiri dengan  penyalaan lilin dan deklarasi damai lintas iman. Hadir beberapa tokoh lintas iman dari ICRP yakni Ulil Abshar Abdalla, Engkus Ruswana(penghayat), Suryani(Khonghucu), Balwant Singh(Sikh), Pedande Mangku Nyoman Sutisna(Hindu) dan Bhante Bhadrauttama(Budha).

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Dalam orasi pesan damai, Ulil mengatakan bahwa saat ini kita sedang menyaksikan kekuatan gelap bergentayangan. Agama dijadikan alat bukan untuk menyebarkan perdamaian dan cinta kasih tapi pemecah belah. Kita percaya bahwa Tuhan kita dalam sebutan yang berbeda memiliki kasih sayang. Agama adalah jembatan yang menghubungkan satu sama lain bukan tembok penghalang. Walau kekuatan gelap ada dimana-mana, kita tidak boleh putus asa. Kita bisa membangun komunitas dan membangun kebersamaan. Semoga inisiatif komunitas Sant Egidio bisa menyumbang langkah-langkah kecil menuju tujuan besar, modus vivendy.

Romo Wahyu Kristian dari Keuskupan Agung Jakarta, “ Saya mengajak kita semua dan umat katolik secara khusus untuk mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara kita dan pemersatu. Tahun lalu umat katolik merenungkan Allah yang maharahim dengan berbagi kepada sesama. Tahun ini amalkan Pancasila makin adil makin beradab terhadap diri sendiri, sesama dan alam sekitar. Tahun depan persatuan indonesia kita bhinneka kita indonesia. Kita bersyukur berada di negara tercinta ini. Pada kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk menjadi pembawa damai. Menggaungkan Harmoni nada dalam kehinnekaan.”

Sementara Pak Engkus Ruswana dari penghayat mengatakan bahwa Ada unsur Tuhan dalam diri manusia, ini yang mesti dihidupkan. Tuhan sudah menciptakan manusia lengkap dengan bekal hidup. Bicara kebhinekaan berarti bicara diri saja. Tuhan sudah mencontohkan kehadirannya dalam diri kita. Kita punya alat indra dengn keunikannya.  Bila alat indra tidak saling damai apa yang akan terjadi. Begitu juga dengan pergaulan kita. Unsur alam begitu juga. Alat untuk mengukur kedamaian ada dalam diri kita, dalam kepercayaan apapun unsur Tuhan sudah ada. Penghayat kepercayaan juga beragam tapi kami rukun saja. Tidak ada dalam sejarah, agama luar yang datang dihambat oleh keyakinan lokal itu bukti ajaran kami menerima ajaran luar dan rukun.

Turut memeriahkan pentas seni perwakilan kaum muda lintas iman seperti GAMKI(Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), FMKI KAJ(Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta), Komunitas Cikini, Komunitas Agama Sikh, mahasiswa Universitas Indonesia. (Lucia Wenehen)

Workshop Menguatkan Komitmen Bandung sebagai Kota Ramah HAM. Dok. ICRP

Ulil Abshar Abdalla Tegaskan Pentingnya Mewujudkan Kota Ramah HAM

Bandung, ICRP –  Ketua ICRP Ulil Abshar Abdalla menyatakan konsep kota HAM merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan adil. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mendukung gerakan kota ramah HAM tersebut dengan turut terlibat aktif dan mengawasi implementasinya.

“Kita ingin membangun al-madinah al-fadhilah, kota yang utama, kota baik, karena menghormati kebinekaan dan kemajemukan.” Ungkap Ulil Abshar Abdalla, dalam workshop Menguatkan Komitmen Bandung Sebagai Kota Ramah HAM di Lembang, Bandung, (26 Agustus 2017).

Lantas bagaimana mewujudkan kota Ramah HAM, Ulil menyatakan, unsur terpenting dalam membangun kota HAM adalah pemerintah. Namun, pemerintah bukan satu-satunya. Yang berperan penting dalam mewujudkan kota ramah HAM adalah masyarakat sipil sebagai agen.

“Sebuah gagasan tidak akan menggelinding jika tidak ada agen yang menjalankan, kita ingin membuat jaringan aktor sosial yang sadar pentingnya isu HAM dan penghargaan minoritas” tegas Ulil.

Pentingnya pemahaman keagamaan yang benar

Salah satu tantangan penting dalam mewujudkan Kota Ramah HAM menurut Ulil adalah membangun pemahaman keagamaan yang benar. Membangun dialog dan percakapan keagamaan yang toleran adalah kuncinya.

“Kita hidup di mana segala hal dipandang dengan kacamata agama. Bahkan, orang yang makin religius, dia semakin tertutup. Makin beragama, makin tidak rahmatan lil ‘alamin. Mudah sekali kita temukan orang seperti itu, terutama di sosial media” jelas Ulil.

Penafsiran dan pemahaman keagamaan yang salah akan menimbulkan efek sosial tidak baik. Oleh sebab itu, menurut Ulil, interpretasi agama yang terbuka itu penting sekali dalam mewujudkan kota HAM.

“Saat ini saya merasa ada yang salah dengan religiusitas kita” ungkap Ulil. “Makin religius seseorang, makin menganggap orang yang berbeda sebagai kafir. Kelompok seperti ini disebut kelompok takfiri. Gejala ini menyulitkan orang Islam sendiri. Bahkan bisa menyebabkan hubungan sosial di masyarakat penuh dengan ketegangan.  Orang seperti ini bisa melakukan diskriminasi. Bahkan mereka seperti punya licence to kill terhadap orang lain.” Resahnya.

Oleh sebab itu, pungkas Ulil, dimensi penting untuk implementasi kota HAM adalah mempengaruhi percakapan sosial dalam sebuah kota dengan alternatif conciousnes (kesadaran yang berbeda) yang ramah HAM. Hal itu penting untuk mendekonstruksi pemahaman agama yang tekstual dan eksklusif yang dimonopoli kelompok radikal.

Workshop Menguatkan Komitmen Bandung sebagai Kota Ramah HAM ini dilaksanakan oleh ICRP bekerja sama dengan beberapa organisasi lintas agama di Bandung. Seperti, Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS), Jakatarub, GP Anshor, Universitas Kristen Maranatha, Center for Diversity and Peace Studie, Layar Kita, dan Kedutaan Swiss. Workshop ini dihadiri oleh aktivis dan tokoh agamawan di wilayah Bandung dan Sekitarnya.

[:id]Inilah Pendapat Lengkap Ulil Abshar Abdalla Soal LGBT[:]

[:id]Beberapa pekan ini, perhatian masyarakat dan media Indonesia cukup terkuras dengan meledaknya isu (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) LGBT. Entah dari mana mulainya, dan akan sampai kapan LGBT ini akan terus menjadi headline dan trending topic media sosial kita. Menanggapi kegaduhan soal isu LGBT ini, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Ulil Abshar Abdalla menyampaikan pesan terkait pandangan terhadap LGBT.

Berikut petikan lengkap Ulil:

PENDAPAT SAYA SOAL LGBT

Ulil Abshar Abdalla

Saya mau share sikap saya soal LGBT yang sedang ramai dibicarakan di sejumlah grup WA akhir2 ini. Saya memegang dua prinsip dalam menyikapi isu ini. Prinsip sains dan prinsip “generosity” atau kedermawanan dan toleransi.

Saya yakin seyakin2nya (orang lain boleh beda pendapat dengan saya), bahwa dua prinsip itu sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kita umat Islam untuk menghargai sains dan pengetahuan. Ilmu dan derivasinya disebut berkali2 dalam Quran; menunjukkan betapa pentingnya ilmu menurut Islam.

Sementara itu “generosity” atau sikap kedermawanan juga diperintahkan oleh Islam. Sikap “generous” yg saya maksud di sini ialah sikap toleran, dermawan pada orang lain, menghargai mereka, meskipun mereka beda dengan kita. Sikap ini sesuai dengan ajaran dalam Quran sebagaimana tertuang dalam 49:13.

Berdasarkan dua prinsip ini, saya akan menentukan sikap saya sebagai Muslim terhadap LGBT.

Pertama, “prinsip sains”. Sudah seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap segala hal berdasarkan data dan bukti sains, jika masalah yang ia hadapi melibatkan fakta2 sains. Mengabaikan sains jelas tidak sesuai dengan ajaran Quran.

Apa kata sains tentang LGBT? Apakah ini penyakit atau variasi preferensi seksual yang lumrah saja? Ada dua cabang sains yang terlibat dalam penelitian soal LGBT ini: psikologi/psikiatri dan biologi, terutama cabang biologi yang berurusan dengan genetika.

Sekarang kita lihat dulu apa kata psikiatri. Untuk waktu yang lama, psikiatri di dunia Barat menganggap bahwa homoseksualitas adalah penyakit. Yang pernah menonton film “Game Theory” tentang ilmuwan Inggris yang meletakkan landasan untuk komputer modern, Alan Turing, pasti tahu bagaimana otoritas di Inggris saat itu (pada tahun 50an) masih menganggap LGBT sebagai penyakit, bahkan kejahatan. Karena itu Turing dipaksa untuk melakukan terapi yang dalam dunia psikiatri biasa disebut “reparative therapy”. Turing akhirnya bunuh diri, karena tak kuat menghadapi terapi itu.

Baik otoritas sains dan politik di Inggris hingga dekade 50an saat Turing hidup beranggapan bahwa homoseksualitas adalah “mental disorder”, bahkan kejahatan, yang harus diobati.

Tetapi riset tentang homoseksualitas tak pernah berhenti. Pada tahun 70an, pendapat para ahli psikiatri di dunia mulai berubah. Berdasarkan riset2 mereka, disimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit atau ” mental disorder”, tetapi variasi preferensi seksual yang wajar. Pada 1973, American Psychiatric Association mencabut homoseksualitas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Pada 1975, American Psychological Association juga mengambil langkah serupa. Ahli2 psikiatri dan psikologi di seluruh dunia mengikuti langkah ini.

Langkah ini juga diikuti di Indonesia. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang menjadi acuan para ahli psikiatri di Indonesia sudah mengeluarkan homoseksualktas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Dalam PPDGK edisi II 1983 dan edisi III 1993, homoseksualutas sudah dikeluarkan dari daftar penyakit mental.

Hingga sekarang ini, konsensus saintis di dunia sudah nyaris final: bahwa homoseksualitas bukan penyakit, dan karena itu terapi (“reparative therapy”) untuk preferensi seksual ini sama sekali tak disarankan, bahkan ditolak. WHO pada 1990 mengikuti konsensus ini: bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit, tetapi preferensi yang biasa saja. Preferensi ini ada dalam dunia binatang, dan dalam jumlah yg banyak, begitu juga dalam dunia manusia.

Sebaiknya, seorang Muslim dalam menyikapi soal LGBT ini bersandar pada sains, bukan berdasarkan tradisi dan pendapat generasi2 terdahulu. Quran melarang “taqlid” pada “ajdad” atau leluhur tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

Bagi saya, soal LGBT ini sudah nyaris final secara sains, sama dengan final-nya posisi sains tentang teori gravitasi atau evolusi. Rasanya sains susah berubah pendapat soal gravitasi dan evolusi lalu mengingkarinya sama sekali. Sebagaimana sains juga susah dibayangkan akan mengubah pendapatnya soal homoseksualitas ini.

Kesimpulannya: LGBT bukan penyakit menurut sains modern. Karena ajaran Quran mengharuskan kita menghargai sains, maka sudah sepatutnya pandangan kita umat Islam mengenai isu ini juga berubah, dan tidak sekedar mengikuti pandangan yg diwariskan oleh tradisi kita dulu.

Sementara itu prinsip “generosity” yang merupakan prinsip Islami mengahruskan seorang Muslim untuk menghindari sikap2 homofobia, yaitu membenci orang2 yang memiliki preferensi homoseksual.

Kita boleh saja tak sepakat dengan mereka, bahkan membenci atau jijik pada prilaku seksual mereka. Tetap ketidaksukaan kita pada mereka tak boleh menghalangi kita untuk bersikap adil pada mereka. Quran mengajarkan kita untuk bersikap adil, bahkan terhadap mereka yg kita tak suka (QS 5:8). Ini, setahu saya, adalah ayat yg kerap dikutip oleh Cak Nur dulu.

Sebab sikap adil itu lebih dekat kepada ketakwaan, demikian kata Quran.

Manifestasi sikap adil pada kaum LGBT adalah memberikan hak2 hidup yg sama pada mereka, bukan mendiskriminasikan.

Salah satu sikap adil juga adalah tak memaksa LGBT melakukan terapi penyembuhan. Satu2nya terapi yg diperbolehlan adalah dalam satu kasus ini: yaitu menakala ada orang LGBT yang merasa terganggu dengan kecenderungan seksualnya. Jika yang bersangkutan merasa terganggu dengan homoseksualitas dan minta diterapi, maka terhadap dia boleh dilakukan tindakan “reparative therapy”. Tetapi terapi ini tak boleh kita paksakan kepada kaum LGBT hanya karena pendapat kita bahwa LGBT adalah penyimpangan.

Hal terakhir yang mau saya ulas adalah anggapan populer bahwa LGBT menular. Menurut penelitian sejauh ini, tak benar LGBT menular. Dia hanyalah bisa menular pada orang2 yang memang sejak awal memiliki kecendetungan LGBT.

American Psychological Associaton menyarikan konsensus mutakhir di kalangan sains seperti ini:

Although much research has examined the possible genetic, hormonal, developmental, social, and cultural influences on sexual orientation, no findings have emerged that permit scientists to conclude that sexual orientation is determined by any particular factor or factors. Many think that nature and nurture both play complex roles; most people experience little or no sense of choice about their sexual orientation.”

Demikian urun pendapat saya. Semoga berguna. ***[:]

Dialog Terbuka Gerakan Nasional Revolusi Mental Perspektif Agama-agama di Jakarta. Sumber: Dok. ICRP

[:id]Agama Sejalan Dengan Revolusi Mental[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Gerakan revolusi mental yang digagas pemerintah dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia ternyata sejalan dengan ajaran-ajaran agama. Tiga nilai dasar revolusi mental yakni, integritas, gotong-royong, dan etos kerja ternyata selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang ada di Indonesia.

Hal tersebut terungkap saat Dialog Terbuka “Revolusi Mental dalam Perspektif Agama-agama; Menemukan Landasan Teologis untuk Penguatan Revolusi Mental” yang dilaksanakan oleh ICRP, Selasa (22/12/15) lalu. Dalam dialog tersebut hadir beberapa tokoh agama sebagai pembicara. Di antaranya adalah Suprih Suhartono (Penghayat Kapribaden),  Pdt. Albertus Patty (Persekutuan Gereja-gereja Di Indonesia), Jo Priastana (Buddhis), dan Ulil Abshar Abdalla (Intelektual Muslim dan Ketua Umum ICRP).

Dalam kepercayaan penghayat kepercayaan, menurut Suprih,  gerakan revolusi mental sejalan dengan ajaran penghayat. Dalam kepercayaan Kapribaden, terdapat konsep mewayu hayuning bawana yang artinya memperindah keindahan dunia. Memperindah keindahan dunia dapat diartikan secara fisik maupun nonfisik (mental). Secara fisik manusia sebaiknya arif secara fisik, tidak merusak lingkungan. Sedangkan secara nonfisik, mental harus tetap dibangun untuk menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter.

Hal yang senada diuraikan oleh Jo Priastana, intelektual Buddhis ini menegaskan, dalam ajaran Buddhis sangat kental dengan ajaran Karma. Karma bisa dimaknai sebagai upaya untuk menumbuhkan integritas seperti yang digagas dalam revolusi mental. Masa depan kehidupan manusia akan ditentukan oleh ucapan, tindakan, dan perbuatan manusia yang dilaksanakan saat ini.

Selain itu, Jo Priastana juga meyakini bahwa Siddharta Gautama adalah seoarang revolusioner. Dalam sejarah buddhisme, Siddharta  merubah struktur kastanisasi yang dimaknai sebagai pemisahan status sosial menjadi kastanisasi yang ditentukan berdasarkan perbuatan manusia. Jika pada zaman dahulu kasta ditentukan oleh harta kekayaan. Siddharta mengubah hal tersebut. Tidak berdasarkan harta tetapi berdasarkan perbuatan seseorang. Jika perbuatannya tercela maka orang tersebut termasuk dalam kasta rendah. Sementara orang yang perbuatannya bagus dia termasuk kasta yang baik.

Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla menyatakan, gerakan revolusi mental sepatutnya tidak dijadikan sebagai gerakan proyek semata. Dia berharap gerakan ini menjadi gerakan kebudayaan yang berlanjut terus menerus.

“Gerakan ini harus terus berlanjut, dan untuk melakukan gerakan revolusi mental salah satu yang wajib dirangkul sebagai mitra adalah kelompok agama. Karena dari dahulu yang menjadi pelaku pembina mental adalah agama” tegas ulil.

 

 

 [:]

[:id]Ebionite: Asal-Usul Penolakan Islam atas Trinitas?[:]

[:id]Ulil Abshar ngajiTesis yang saya anut adalah: Tak ada agama yang lahir dari ruang kosong sepenuhnya. Tak ada agama yang “ujug-ujug” datang ke permukaan bumi dengan membawa hal baru, tanpa “memungut” bahan-bahan yang sudah ada di sekitarnya saat itu. Tak ada religio ex nihilo. Tesis ini berlaku untuk semua agama, termasuk Islam. Islam bukanlah agama yang membawa hal baru. Dia hanya memungut ajaran-ajaran yang sudah ada sebelumnya.

Dengan tesis ini, saya akan mencoba masuk ke kawasan yang agak sedikit sensitif dan berbahaya, untuk menjawab pertanyaan berikut ini: Dari mana asal-usul penolakan Islam atas trinitas Kristen dan ajaran tentang ketuhanan Yesus? Apakah ini diilhami oleh agama Yahudi? Sebab, pada zaman Nabi, ada cukup banyak komunitas Yahudi yang mukim di Jazirah Arab, terutama di sekitar Madinah. Atau ada sumber-sumber lain yang mengilhami penolakan Quran atas ketuhanan Yesus?

Pertanyaan ini memang tidak bisa dijawab dengan memuaskan, sebab sumber-sumber Islam sendiri jarang menyebutkan secara eksplisit dari mana ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi berasal. Meskipun, sejumlah sumber Islam klasik secara terserak memuat sejumlah informasi yang menarik tentang praktek-praktek pra-Islam yang diasumsikan mengilhami sejumlah ajaran Islam.

Salah satu karya modern oleh sarjana Muslim sendiri yang menulis secara ekstensif dengan data-data yang massif mengenai periode Arab pra-Islam adalah buku karya sarjana Irak Dr. Jawad Ali: al-Mufassal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam (Keterangan Rinci tentang Sejarah Arab Pra-Islam). Dalam buku ini kita jumpai banyak informasi mengenai kondisi kehidupan spiritual Arab pra-Islam yang bisa membantu kita menduga dari manakah sejumlah ajaran yang dibawa Nabi berasal.

Sementara itu, mayoritas umat Muslim saat ini tampaknya beranggapan bahwa semua yang dibawa Nabi Muhammad adalah hal yang baru sama sekali, seperti ujug-ujug datang dari ruang kosong. Ritual-ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, wudu, mandi besar (ghasl al-junub), larangan makan babi, bangkai, darah, larangan makan sembelihan yang dipersembahkan untuk dewa-dewa, larangan minum khamr – semuanya itu dianggap sebagai hal baru.

Asumsi itu, jika kita baca buku Dr. Jawad Ali di atas, sama sekali keliru. Semuanya itu sudah ada sejak sebelum Islam datang. Bahkan ritual haji, berikut Kabah yang menjadi pusat ibadah, sudah ada sejak sebelum Islam datang pada abad ke-7 Masehi, lengkap dengan seluruh detil-detil ritualnya – mulai dari tawaf, sa’i, mencukup rambut (tahallul), talbiyah.

Kembali ke soal trinitas tadi: Dari manakah penolakan Islam atas gagasan Kristiani ini datang? Dari mana sumbernya? Saya, secara pribadi, memang memiliki perhatian khusus terhadap isu trinitas ini, sebab persis di sinilah debat-debat kristologi antara Kristen-Islam, sejak zaman klasik hingga modern, berputar-putar.

Salah satu tokoh penting dalam karir kenabian Muhammad adalah sosok bernama Waraqah ibn Naufal. Dia adalah sepupu Khadijah, isteri Nabi. Waraqah, konon, adalah seorang Nasrani,wa qila (menurut pendapat lain), dia adalah Yahudi. Yang jelas, dia menguasai bahasa Ibrani dan sangat akrab dengan dua kitab suci pra-Islam: Taurat dan Injil.

Saat pertama kali menerima wahyu, Nabi agak kurang begitu yakin tentang apa yang dia alami dan terima. Sebab pengalaman “spiritual” itu tak pernah ia alami sebelumnya. Bahkan, Nabi cenderung ketakutan dan skeptik: jangan-jangan terkena roh jahat. Pada momen krusial itulah, Khadijah memainkan peran yang penting. Dia menyarakan agar suaminya itu berkonsultasi dengan Waraqah.

Tentang pengalaman yang dialami Nabi itu, Waraqah memberikan komentar berikut, sebagaimana direkam dalam Sahih Bukhari: Hadza al-namus al-ladzi nazzala ‘l-Lahu ‘ala Musa. Ini (maksudnya wahyu pertama yang datang kepada Muhammad) adalah “namus” yang sama yang pernah datang kepada Musa sebelumnya. Setelah mendengar keterangan ini, Nabi merasa tenang, sebab dia menerima sesuatu yang baik.

Yang menarik adalah penggunaan istilah “namus” oleh Waraqah. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, “nomos,” yang artinya adalah hukum atau kode etik yang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan (law of chastity). Sebagai seorang yang menguasai Alkitab, tentu tak heran jika Waraqah menggunakan istilah yang tak asing dalam Yahudi itu. Salah satu elemen penting, bahkan fondasi utama agama Yahudi adalah Hukum Musa atau Taurat. Hukum itulah yang dirujuk oleh Waraqah sebagai “nomos” atau “namus”.

Meskipun di sini ada kejanggalan: Bagaimana mungkin Waraqah menyebut wahyu pertama yang turun kepada Muhammad sebagai “nomos” sementara di sana tak ada ayat hukum sama sekali? Ayat hukum sebagian besar turun di Madinah, tiga belas tahun kemudian. Jika benar wahyu pertama yang turun kepada Nabi adalah Surah al-‘Alaq (96), jelas di sana tak kita temukan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Di sana tak ada semacam Sepuluh Hukum Tuhan yang pernah diterima Musa di Bukit Sinai.

Yang menarik, menurut sejumlah informasi, Waraqah ini adalah pengikut sekte Kristen yang dianggap “sesat” oleh ortodoksi gereja setelah Konsili Nikea pada tahun 325 Masehi. Waraqah adalah pengikut sekte Kristen “sesat” bernama Ebionite (Arab: al-Ibyuniyyah). Yang menarik adalah bahwa sebagian besar sekte Kristen yang dianggap sesat oleh Konsili itu bertebaran di kawasan Timur Tengah, terutama di Mesir. Tak heran jika Waraqah mengikuti salah satu sekte semacam ini.

Sekte Ebionite cukup unik. Ini adalah sekte Kristen yang masih sangat dekat dengan tradisi Yahudi. Mereka sangat menentang versi Kristen yang “didakwahkan” oleh Paulus karena dianggap telah manjauh dari tradisi keyahudian dari mana dan di mana Yesus sendiri tumbuh. Karena itu, sekte Ebionite kerap disebut sebagai gerakan Kristen yang memiliki semangat Yahudi. Mereka masih memegang kuat hukum-hukum Taurat.

Sekte ini memiliki keyakinan teologis tentang Yesus yang sangat berbeda dengan kelompok Kristen “mainstream”. Mereka tidak mempercayai gagasan tentang ketuhanan Yesus. Mereka mengimani Yesus sebagai messiah (Arab: al-Masih) yang membawa ajaran-ajaran moral yang melengkapi hukum-hukum Musa. Mereka tak memakai injil sinoptik yang dipakai oleh gereja “mainstream” saat itu – Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka memiliki injil sendiri yang biasa dirujuk sebagai Jewish gospels – injil-injil Yahudi.

Ini, saya kira, menjelaskan kenapa dalam rekaman sejarah Islam sosok Waraqah kadang digambarkan sebagi pemeluk agama Kristen, kadang Yahudi. Kesimpang-siuran ini mungkin saja berasal dari sekte keagamaan yang diikuti oleh Waraqah. Sekte Ebionite bisa disebut sebagai sekte keagamaan yang berada di persimpangan antara tradisi Yahudi dan Kristen. Sekte ini mungkin lebih tepat disebut sebagai “the Jewish Christian” – sekte Kristen yang Yahudi. Karena itulah, Waraqah kadang disebut sebagai orang Kristen, kadang Yahudi.

Jika kita bisa berasumsi bahwa sosok Waraqah memiliki pengaruh pada formasi gagasan teologis pada diri Nabi, kita bisa mengatakan bahwa penolakan Islam atas ide trinitas Kristen mungkin saja mendapatkan ilham dari ajaran Ebionite yang diikuti oleh Waraqah, sepupu isteri Nabi.

Dengan kata lain, pandangan Islam mengenai sosok Yesus sebagai nabi, bukan Tuhan, sebetulnya bukanlah hal yang aneh dalam sejarah kekristenan sendiri. Penolakan Islam atas trinitas Kristen bisa disebut sebagai pemihakan Islam atas versi Yahudi mengenai figur Yesus melalui sebuah perantara – yaitu sekte Ebionite yang masih taat menjaga tradisi Yahudi. Meskipun, pandangan sekte ini memang ditolak oleh gereja ortodoks dan dianggap sebagai ajaran sesat.

Dengan kata lain, dalam soal trinitas ini, Islam dan Yahudi bersatu: yaitu menolak. Selain karena kemungkinan pengaruh yang datang dari Waraqah, penolakan Islam atas trinitas mungkin juga bisa dijelaskan dari arah lain, seperti yang sudah pernah saya singgung sepintas dalam artikel yang lalu. Yakni: bagi bangsa Arab yang “simple minded” dan pragmatis, gagasan trinitas terlalu rumit dan mengandung misteri yang susah dipahami. Monoteisms Islam yang simple jauh lebih cocok dengan “thought style” bangsa Arab di Mekah pada zaman itu.

Tetapi, di luar soal trinitas ini, Islam memiliki simpati yang besar terhadap Kristen. Quran bersepakat dengan Kristen dalam banyak hal mengenai sosok Yesus atau Isa. Sama dengan Kristen, Islam menyebut Yesus sebagai messiah (al-Masih) dan firman Tuhan (wa kalimatuhu – ingat gagasan Kristen tentang firman Tuhan yang mendaging!). Sama dengan Kristen, Islam menyebut Yesus lahir melalui “virginal conception,” kelahiran melalui konsepsi seorang gadis, tanpa keterlibatan laki-laki.

Semuanya ini secara ringkas diungkapkan dalam ayat 4:171: Innama ‘l-masihu ‘Isa ibnu Maryama rasulu ‘l-Lahi wa kalimatuhu. Sesungguhnya al-Masih adalah Isa anak Maryam (tak disebutkan bapaknya; ini isyarat kepada gagasan kelahiran melalui konsepsi kegadisan) dan firman-Nya. Dengan kata lain, banyak kesamaan teologis (ingat: teologis!) antara Islam dan Kristen, selain Yahudi sendiri.[]

*tulisan ini pernah dimuat di islamlib.com[:]

[:id]Soal Trinitas, Siapa Yang Dikritik Quran?[:]

[:id]JAKARTA, ICRP – Selama ini ada semacam kekeliruan pemahaman umat Islam terhadap konsep trinitas di kristen. Sebagaimana dipahami oleh hampir semua umat Islam trinitas dipersepsikan sebagai konsep yang tidak mengesakan Tuhan. Ada pun misalnya di dalam Al-Quran sendiri terdapat ayat-ayat yang secara implisit terkesan mengkritik konsep ketuhanan kristiani. Sebut saja misalnya ayat-ayat dalam surat Al-Ikhlas.  Persepsi demikian diduga menjadi dinding tebal yang memisahkan kedua agama samawi ini

Dalam diskusi bertajuk “ Polemik Ketuhanan Yesus Perspektif Islam dan Katolik” Ketua umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan catatan-catatan yang cukup menarik dalam melihat kritik Al-Quran terhadap trinitas.  Meski demikian, dalam awal diskusi Ulil mengaku argument yang Ia sampaikan memang tidak lazim dipahami oleh khalayak muslim.

“Pembacaan saya ini tentu  pembacaan yang ada di luar kerangka pemahaman muslim. Saya tahu itu. Ya kalau saya menyampaikan hal yang lazim anda sudah tentu tidak mau datang kesini,” canda Ulil di ruang diskusi Sekretariat ICRP di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34.

Ulil terus terang mengatakan selama ini pemahaman orang Islam terhadap teologi Kristen terutama konsep ketuhanan sebagai konsep yang salah. “Bahkan dalam al-quran dikatakan itu secara sederhana dalam pemahaman di permukaan tanpa mencoba mendalaminya secara serius,  secara harafiah ayat-ayat (yang berkenaan dengan konsep trinitas) itu suatu judgment atau hukuman bahwa trinitas adalah konsep ketuhanan yang salah,” tutur Ulil.

Ulil meragukan pembacaan umat Islam terhadap Al-quran yang sederhana dalam memahami konsep trinitas di Kristen. Pasalnya, sebagaimana yang Ulil pahami, konsep trinitas tidaklah sebagaimana tudingan khalayak muslim. Karena itu, Ulil menduga ada “Kristen yang lain” yang jadi sasaran kritik oleh Al-Quran.

“Yang jadi bahan pertanyaan kita ketika Quran membahas kristologi adalah siapa yang menjadi interlocutor atau teman bicaranya nabi? Apakah nabi mengkritik pemahaman Kristen yang ada di sekitar Madinah atau mekkah?” tanya Ulil pada peserta.

Ulil meyakini ketika Quran mengkritik keyakinan suatu kelompok tertentu maka kelompok yang dikritik sudah pasti ada di Madinah atau Mekkah. Sayangnya, Ulil lebih lanjut menuturkan, tidak ada data historis yang cukup memadai untuk menjelaskan kelompok-kelompok Kristen dan yahudi di Madinah maupun di Mekkah secara detail.

“Harus diketahui bahwa komunitas Kristen dan yahudi di Madinah, terutama Kristen, merupakan kelompok-kelompok Kristen yang melarikan diri dari persekusi gereja Kristen romawi Timur. Mereka dianggap kelompok yang sesat,” ungkap Ulil.

Keyakinan Ulil ini didasari pada masih “panasnya” pengkonsepsian  doktrin Kristen di Romawi kala nabi hadir ke dalam panggung sejarah. “Kelompok-kelompok Kristen yang ada di Madinah, menurut dugaan para sarjana-sarjana yang meneliti hal ini, merupakan kelompok yang dianggap sesat oleh Byzantium. Mereka melakukan perlawanan yang keras terhadap Byzantium,” jelas Ulil.

Karena itu, Ulil menduga Al-Quran pada dasarnya tengah mengkritik kelompok-kelompok “sempalan” Kristen yang hidup di Mekkah dan Madinah bukan konsep trinitas Kristen yang lazim dipahami secara mainstream oleh umat Kristiani hingga kini.

Selain mengundang Ulil, ICRP juga mendaulat Romo Magnis. Namun sayangnya, guru besar filsafat STF Driyarkara itu berhalangan hadir dalam acara diskusi. Walhasil, didoronglah Romo Mateo secara mendadak untuk merespon lontaran Ulil yang tengah memaparkan kristologinya itu. Acara siang itu nampak cukup sedap terasa. Sejumlah pertanyaan menukik dari peserta mewarnai ruang diskusi. Tidak kurang pula apresiasi dari para peserta terhadap tema diskusi. Para peserta diskusi berharap diskusi ini bisa berlanjut untuk memperkaya khazanah intelektual Islam dan Katolik.[:]