Pos

Hindu dan Toleransi Kehidupan Beragama

Selasa, 16 Maret 2021

 

Agus Sutrisno

 

Om Swastyastu. Om Awighnamastu Namo Sidham. Om Anobadrah Kratavo Yantu Visvatah. Om Sidhirastu Tat Astu Astu Swaha

Umat sedharma yang berbahagia. Mimbar Hindu kali ini membahas dharmawacana tentang ‘Kebhinekaan dan Toleransi Kehidupan Beragama (Pluralisme)’

Kebhinekaan dan Toleransi Kehidupan Bergama tidak akan pernah lepas dalam kehidupan beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negeri ini sangat majelmuk, terdiri dari ribuan pulau, suku, adat, dan budaya. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman tentang pluralisme.

Pluralisme berasal dari Bahasa Inggris: Pluralism yang terdiri dari dua suku kata Plural yang berarti beragam, dan isme yang berarti paham. Jadi Pluralisme adalah beragam pemahaman atau macam-macam paham. Bila dikaitkan dengan Pluralisme Hindu dapat diartikan beragam pemahaman atau cara pandang Hindu terhadap praktik ajaran Agama Hindu itu sendiri.

Umat sedharma yang berbahagia. Kita patut bersyukur karena umat Hindu dikenal sangat menjujung tinggi perbedaan. Hindu mengajarkan Desa, Kala, dan Patra yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada masa Kerajaan Majapahit, sat Hindu masih menjadi agama mayoritas, masyarakat dari berbagai agama dapat hidup berdampingan. Sebab, mereka memakai semboyan atau sesanti puja karya Empu Tantular yang tertulis dalam Swastikarana: 81:  “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” (berbeda-beda tetapi tetap satu dan tidak ada dharma yang kedua).

Baca juga: Memahami Konsep Hindu Nusantara

Lantas, bagaimanakah pandangan Hindu terhadap keberagaman itu sendiri. Pemujaan tidak bisa diseragamkan karena adat dan budaya yang berbeda. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita IV. 11 disebutkan: Ye yatha mam prapadyante. Tams tathaiva bhajamy aham. Mama vartmanuvartante. Manusyah partha sarvasah. (Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima, wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan)

Jadi dari sloka tersebut dapat dipahami bahwa Sang Hyang Widhi tidak pernah membedakan jalan atau cara yang kita lakukan untuk memuja-Nya. Sang Hyang Widhi akan menerima semua itu.  Sloka ini mengajarkan umat Hindu untuk melihat perbedaan atau kebhinekaan sebagai sesuatu yang selalu ada di dunia ini atau sering kita sebut Rwa Bhineda.

Inilah yang mendasari walaupun pemeluk agama Hindu berbeda suku dan budaya, namun tetap satu. Hindu tidak anti terhadap perbedaan, baik secara kebudayaan, adat-istiadat, dan dalam ritual (upacara dan upakara). Kita tetap memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Inilah maksud dari Kebhinekaan atau Pluralisme Hindu,.

Dalam Chandogya Upanisad juga disebutkan: Om Tat Sat Ekam Ewa Adwityam Brahman (Hyang Widhi haya satu, tak ada duanya dan maha sempurna). (Swastikarana:104). Jadi kita perlu menyadari bahwa Hyang Widhi hanyalah satu tidak ada duanya dan Maha Sempurna yang meresapi setiap insan di alam semesta ini.

Umat sedharma yang berbahagia. Sebagai umat Hindu, marilah kita bersama menjunjung tinggi kebhinekaan, sehingga kehidupan beragama akan sangat toleran baik dengan sesama Hindu maupun dengan umat agama lainnya.

Bukankah bunga di taman tidak akan tampak indah jika hanya terdiri dari saju jenis dan warna bunga saja. Namun, jika banyak warna dan jenisnya, maka akan tampak lebih indah. Sama halnya dengan Indonesia yang sangat beragam.

Demikian dharmawacana kali ini. Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Saya akhiri dengan Puja Parama Santhi. Om Santhi SanthI Santhi Om

 

Agus Sutrisno, Penyuluh Agama Hindu

 

Sumber: kemenag.go.id

Sri Lanka akan Larang Pemakaian Burka secara Permanen

Senin, 15 Maret 2021

 

Sri Lanka – Dua tahun setelah serangan di hari Paskah, Sri Lanka telah mengambil langkah signifikan untuk melarang burka dan penutup wajah lainnya di tempat umum, dengan alasan keamanan nasional.

Menteri Keamanan Publik Sarath Weerasekara mengatakan kepada BBC bahwa dia telah menandatangani perintah kabinet yang sekarang tinggal membutuhkan persetujuan parlemen.

Para pejabat mengatakan mereka berharap larangan itu segera diterapkan. Langkah itu dilakukan hampir dua tahun setelah peristiwa pengeboman hotel dan gereja pada Minggu Paskah.

Pengebom bunuh diri menargetkan gereja Katolik dan hotel yang didatangi banyak turis, menewaskan lebih dari 250 orang pada April 2019.

BBC mewartakan, Kelompok militan ISIS mengatakan berada di balik serangan itu.

Sementara pihak berwenang mencari para pelaku, larangan penggunaan penutup wajah darurat diterapkan di negara mayoritas Buddha itu.

Keamanan nasional menjadi dalih Pemerintah Sri Lanka untuk memberlakukan peraturan tersebut. Menurut Menteri Keamanan Publik Sri Lanka, Sarath Weerasekera, penggunaan burqa adalah simbol ekstrimisme dan dirinya tidak ingin itu ada di negaranya.

Sekarang pemerintah berupaya menerapkan aturan itu kembali secara permanen.

Weerasekara mengatakan kepada wartawan bahwa burka adalah “tanda ekstremisme agama yang muncul baru-baru ini” dan hal itu “mempengaruhi keamanan nasional”, sehingga larangan permanen sudah seharusnya diterapkan.

“Jadi saya sudah menandatanganinya dan aturan itu akan segera dilaksanakan,” katanya.

Baca juga: Pengadilan Malaysia Izinkan Umat Kristen Gunakan Sebutan “Allah”

Weerasekara juga mengatakan pemerintah berencana untuk melarang lebih dari 1.000 sekolah madrasah Islam yang menurutnya melanggar kebijakan pendidikan nasional.

“Tidak ada yang bisa membuka sekolah dan mengajarkan apa pun yang Anda inginkan kepada anak-anak. Sekolah harus sesuai dengan kebijakan pendidikan yang ditetapkan pemerintah.

Sebagian besar sekolah yang tidak terdaftar “hanya mengajarkan bahasa Arab dan Alquran, jadi itu buruk”, katanya, kutip BBC (14/3).

“Zaman dulu, kami memiliki banyak sekali teman-teman Muslim, dan kala itu perempuan Muslim tidak pernah memakai burqa,” sambungnya, dilansir dari laman Guardian pada Minggu, 14 Maret 2021.

 

Setiap Orang Memiliki Hak

Hilmi Ahmed, wakil presiden Dewan Muslim Sri Lanka, mengatakan kepada BBC bahwa jika para pejabat memiliki masalah dalam mengidentifikasi orang-orang yang mengenakan burka “orang yang mengenakan tidak akan ada keberatan untuk melepas penutup wajah untuk tujuan pengecekan identitas”.

Dia mengatakan setiap orang memiliki hak untuk memakai penutup wajah terlepas dari keyakinan mereka: “Hal itu harus dilihat dari sudut pandang hak dan bukan hanya dari sudut pandang agama.”

Mengenai masalah madrasah, Ahmed menekankan bahwa sebagian besar sekolah Muslim terdaftar di pemerintah.

“Mungkin ada … sekitar 5% yang belum patuh dan tentu saja bisa ditindak,” ujarnya.

 

Kecaman AS dan Kelompok HAM

Sebelumnya, pemerintah negara itu mewajibkan kremasi korban Covid-19, sejalan dengan praktik mayoritas Buddha, tetapi bertentangan dengan keinginan warga Muslim, yang ingin menguburkan jenazah keluarga mereka.

Sejumlah media menyebut, larangan ini dicabut awal tahun ini setelah mendapat kecaman dari AS dan kelompok hak asasi internasional.

Bulan lalu, BBC mengungkap, Dewan Hak Asasi Manusia PBB mempertimbangkan resolusi baru terkait dengan meningkatnya masalah hak asasi di Sri Lanka, termasuk terkait perlakuan terhadap Muslim.

Sri Lanka diminta untuk menuntut pertanggungjawaban para pelanggar hak asasi manusia dan memberikan keadilan kepada para korban perang saudara yang telah berlangsung selama 26 tahun.

Konflik 1983-2009 menewaskan sedikitnya 100.000 orang, kebanyakan warga sipil dari komunitas minoritas Tamil.

Sri Lanka membantah keras tuduhan tersebut dan telah meminta negara-negara anggota untuk tidak mendukung resolusi tersebut.

 

11 Negara Melarang Pemakaian Cadar dan Burqa

Rencana pelarangan pemakaian burqa di Sri Lanka menambah panjang daftar negara-negara yang melarang penggunaan cadar. Berikut 11 negara yang melarang penggunaan cadar dan burqa seperti dikutip Tempo dari telegraph.co.uk (19/10/ 2018).

  1. Prancis

Prancis telah menjadi negara pertama di Eropa yang melarang penggunaan burka di tempat umum. Burka adalah penutup kepala dan wajah seperti cadar, yang hanya memperlihatkan bagian mata. Aturan ini diberlakukan oleh Prancis pada 2004 yang dimulai pada sekolah-sekolah negeri dengan alasan menghapus seluruh bentuk simbol-simbol agama.

Namun pada 2011, pemerintah Prancis memberlakukan secara penuh larangan penggunaan cadar. Presiden Prancis,Nicolas Sarkozy, ketika itu mengatakan cadar tidak diterima di Prancis. Perempuan yang nekad memakai cadar di Prancis, akan dikenai denda 150 euro dan 30 ribu euro atau Rp 522 juta bagi siapa pun yang memaksa perempuan untuk menutupi wajahnya dengan cadar.

  1. Belgia

Beliga pada 2011 mengikuti jejak Prancis dengan memperkenalkan aturan larangan penggunaan jilbab yang menutupi seluruh wajah atau cadar di tempat-tempat umum. Perempuan yang kedapatan memakai cadar bisa dijebloskan ke penjara selama tujuh hari atau membayar denda 1378 euro. Aturan ini disahkan dengan suara bulat.

  1. Belanda

Pada 2015 Belanda menyetujui larangan penggunaan cadar di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah, rumah sakit dan transportasi umum. Belanda menilai, dalam situasi tertentu, penting bagi orang-orang untuk bisa dikenali. Larangan ini juga dengan alasan keamanan.

  1. Italia

Italia tidak melarang penggunaan cadar, namun beberapa daerah di negara itu memberlakukan larangan. Pada 2010, pemerintah daerah Novara memberlakukan aturan larangan penggunaan cadar. Tidak ada denda dalam larangan ini. Di beberapa pemerintah daerah lainnya di Italia, bahkan dilarang penggunaan burkinis atau baju renang islami.

  1. Spanyol

Sama seperti Italia, larangan penggunaan cadar dan burka hanya berlaku di beberapa daerah di Spanyol, seperti Katalonia. Pada 2013, Mahkamah Agung Spanyol telah mencabut larangan ini dengan alasan membatasi kebebasan beragama. Kendati putusan Mahkamah Agung sudah jatuh, namun sejumlah daarah masih memberlakukan larangan penggunaan cadar dengan berpegang pada putusan Pengadilan HAM Eropa pada 2014. Pengadilan Eropa memutuskan larangan penggunaan caar bukan bagian dari HAM.

  1. Chad

Chad, sebuah negara di Afrika, memberlakukan larangan bercadar sejak terjadinya dua serangan bom bunuh diri pada Juni 2015. Perdana Menteri Chad, Kalzeube Pahimi Deubet, menyebut burka telah menjadi kamuflase sehingga seluruh burka harus dimusnahkan. Perempuan yang mengenakan cadar atau burqa di Chad, akan ditahan dan dipenjara.

  1. Kamerun,

Aturan larangan memakai cadar diberlakukan Kamerun hanya berselang setelah Chad memberlakukan aturan ini. Pemberlakukan aturan ini atas dasar banyaknya bom bunuh diri dengan pelaku yang memakai burka. Aturan ini sudah berlaku secara akif di lima provinsi di Kamerun.

  1. Nigeria

Tak boleh memakai cadar diberlakukan di Diffa, sebuah wilayah yang pernah porak-poranda akibat pemberontakan Boko Haram. Presiden Nigeria menyarankan agar jilbab pun dilarang saja di Nigeria.

  1. Congo-Brazzaville

Di negara ini, aturan takk boleh memakai burka atau cadar sudah diberlakukan sejak 2015. Hal ini ditujukan untuk mencegah serangan terorisme.

  1. Switzerland

Undang-undang larangan bercadar diproses pada 1 Juli 2016. Lewat aturan ini siapa pun yang mengenakkan cadar bisa dikenai denda hingga 9.200 euro atau Rp 160 juta. Sejauh ini, aturan ini baru berlakukan di wilayah Tessin, Switzerland

  1. Denmark

Denmark telah menjadi negara terakhir di Eropa yang melarang perempuan muslim mengenakan pakaian menutup seluruh wajah, termasuk cadar atau burqa. Aturan ini diberlakukan pada 1 Agustus 2018 dan memberlakukan denda bagi mereka yang melanggarnya.

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: BBC.com | dunia.tempo.co | med.com

Arif Menyikapi Perbedaan

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Oleh Ust. Fathoni Muhammad

 

Perbedaan adalah sunnatullah dan keragaman adalah kenyataan yang menunjukkan ke-Maha-Besar-an Sang Khaliq. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Allah berfirman:

Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa (QS. al-Hujurat: 13).

Ayat ini merupakan bentuk pengakuan mengenai realitas keberagaman, termasuk keberagaman di bidang keyakinan. Karena itu, keterbukaan, toleransi dan menghormati agama-agama lain merupakan aspek penting dalam Islam. Al-Quran menegaskan dengan jelas, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. al-Baqarah: 256), “dan bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. al-Kafirun: 6). Al-Quran juga memerintahkan kaum muslim agar tidak mencaci maki orang yang menyembah selain Allah karena mereka tidak tahu (QS. al-An’am). Al-Quran juga mengajarkan agar orang yang beriman menunjukkan rasa hormat kepada semua Nabi, bahwa “mereka semua beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab Suci-Nya dan Nabi-nabi-Nya. Kami tidak membeda-bedakannya” (QS. al-Nisa’:150-151).

Inilah sebabnya, kaum Muslim menghormati seluruh Nabi hingga Nabi terakhir Muhammad Saw., apakah nabi-nabi itu namanya tercantum di dalam al-Quran maupun tidak. Al-Quran juga tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa surga tidaklah dimonopoli oleh sekelompok agama tertentu saja. Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berlaku baik (muhsin), dia akan mendapat pahala dari-Nya (QS. al-Baqarah: 112).

Saat ini sulit sekali menemukan suatu negara atau bangsa dengan warga negara yang berasal dari satu ras, satu agama atau satu ideologi saja. Ketunggalan suatu negara dalam satu ras, suku dan agama semakin jarang terjadi karena mobilitas penduduk yang kian meningkat. Perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain – baik karena alasan profesional maupun alasan personal melalui ikatan pernikahan – menunjukkan kecenderungan yang kian meningkat. Ini menyebabkan keragaman menjadi semakin tak terhindarkan.

Sebagai sunnatullah, perbedaan dan keragaman merupakan kehendak Allah Swt. Dalam beberapa ayat al-Qur’an disebutkan, antara lain:

Kalau saja Allah berkehendak, maka Ia akan jadikan mereka menjadi satu umat saja, tetapi ada orang yang dikehendaki-Nya masuk dalam rahmat-Nya, sementara orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun atau seorang penolong” (QS. Asy-Syura, 42: 8).

 “Jika Tuhanmu berkehendak, maka akan beriman seluruh orang di muka bumi  ini, apakah kamu mau memaksa orang-orang agar mereka beriman. Seseorang tidak akan beriman, kecuali atas izin Allah, dan Allah jadikan keburukan bagi orang-orang yang tidak berakal” (QS. Yunus, 10: 99-100).

Kita perlu bersikap arif menghadapi perbedaan dan keragaman, bukan semata-mata karena kehidupan ini penuh dengan keragaman, tetapi juga karena manusia tidak bisa lagi hidup sendiri di dunia jagat raya ini; semuanya saling terkait satu sama lain dan tidak bisa lagi mengelak dari pengaruh yang lain. Salah satu kemajuan penting abad dua puluh satu adalah kenyataan bahwa seluruh negeri-negeri ini telah menjadi tetangga kita berkat kemajuan teknologi informasi yang semakin menglobal.

Jika masalah keragaman tidak ditangani dengan serius di tengah gegap gempita pertemuan berbagai kebudayaan dalam peradaban global, maka perang peradaban bisa semakin dekat dengan kenyataan.

Baca juga: Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa: Pendeta dan Imam yang Mendamaikan Perbedaan

Menghargai Perbedaan, Menghindari Konflik

Realitas keragaman itu tentu tidak bisa dibiarkan apa adanya tanpa ada usaha mengembangkannya dalam suatu harmoni sosial. Sebab, jika tidak dikelola dengan baik, maka perbedan dalam keragaman dapat menjadi bibit-bibit konflik. Perbedaan budaya, bahasa, asal usul, etnis dan keyakinan memang tidak pernah betul-betul menjadi pemicu konflik. Tapi perbedaan dan keragaman seperti itu bisa menjadi kendaraan efektif bagi berbagai kepentingan yang dengan mudah menumpanginya. Perbedaan memang tidak menjadi masalah, tapi begitu kepentingan masuk ke dalamnya, maka perbedaan yang sebelumnya berupa rahmat bisa dengan cepat berubah menjadi laknat.

Karena itu, dibutuhkan sikap yang lebih menghargai perbedaan dan keragaman. Sikap yang tidak hanya mengakui adanya kelompok lain, tetapi juga memberi perlindungan terhadap kelompok lain yang terancam. sebuah sikap pro-aktif untuk menjaga harmoni sosial dalam realitas yang beragam.

Namun, dalam konteks agama, rupanya keragaman tidak semudah dalam konteks lainnya. Kita perlu memikirkan secara serius masalah perbedaan agama yang sering dijadikan sebagai satu-satunya identitas pembeda. Dalam identitas etnis, seseorang bisa saja separuh Cina dan sekaligus separuh Jawa, tapi dalam identitas agama, seseorang tidak bisa memiliki identitas separuh Islam atau separuh Budha misalnya.

Itulah sebabnya, cara pandang terhadap keragaman perlu diperbarui. Selama ini cara pandang keragaman agama terlalu ditekankan pada aspek normatif, bahwa ajaran agama sangat mendukung keragaman dengan mengutip sejumlah ayat kitab suci. Padahal, realitas yang ada dalam kitab suci sangat berbeda dengan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Ada jarak yang demikian lebar antara ajaran luhur kitab suci dengan realitas empiris di depan mata.

Jika kita gagal memperbaharui cara pandang ini, maka yang paling terancam sebetulnya adalah umat beragama itu sendiri. Sebab, jika satu kelompok agama terus hidup dalam komunitasnya sendiri sambil bersikap curiga dan menganggap kelompok agama lain sebagai musuh, maka yang akan terjadi adalah perang agama. Itulah sebabnya, kebenaran agama tidak cukup ditunjukkan hanya dengan ajaran yang terdapat dalam kitab suci, tetapi juga dibuktikan dengan keterlibatan agama itu sendiri untuk turut menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan yang kian hari kian kompleks.

Problem kemanusiaan yang kian kompleks tentu tidak mungkin diserahkan penyelesaianya hanya kepada satu komunitas agama. Dalam konteks seperti ini, mestinya kaum beriman sudah malampaui dialog dengan melakukan aksi nyata secara bersama-sama dalam rangka menanggulangi berbagai bentuk problem kemanusian.

 

Akhlaq dalam Perbedaan

Sebagai sunnatullah, tentu saja perbedaan memerlukan etika atau akhlaq. Sebab, jika perbedaan dibiarkan tanpa akhlaq, maka sangat mungkin perbedaan itu berubah dari rahmat menjadi laknat. Sudah menjadi tugas manusia sebagai khalifah fil ardl untuk memelihara dan melestarikan pesan moral dari hadits yang menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat.

Perbedaan dan keragaman bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan memang sudah disengaja oleh Allah Yang Maha Pencipta.

Kalau saja Tuhanmu berkehendak, maka Ia akan menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja, tetapi mereka akan tetap berselisih dan berbeda pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, Dan karena itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. (QS. Hud, 11: 118-119).

Sebagai hasil ciptaan ALLAH, tentu saja perbedaan dan keragaman mempunyai tujuan. Allah Swt menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya tidak sia-sia. Selalu ada tujuan dalam menciptakan mahluk-Nya. Salah satu tujuan diciptakan-Nya keragaman adalah agar manusia saling kenal dan saling tolong menolong.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat ayat 13)

Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita melihat bahwa perbedaan seringkali menjadi pemicu konflik. Perbedaan tidak dilihat sebagai rahmat, tapi justru dianggap sebagai bencana. Keragaman dianggap sebagai bencana. Dari cara pandang inilah lahir upaya-upaya untuk mengingkari perbedaan dengan cara penyeragaman. Karena menyalahi Sunnatullah, maka penyeragaman ini melahirkan konflik berkepanjangan, bahkan diwarnai kekerasan. Sudah berapa banyak nyawa dan harta melayang karena manusia tidak mampu mengelola perbedaan dan keragaman.

Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut melalui pendekatan toleransi. Sayangnya,  toleransi selama ini hanya difokuskan pada hidup berdampingan secara damai antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, tanpa ada usaha untuk membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka di antara kelompok-kelompok tersebut. Sehingga mereka hidup dalam ketidaktahuan satu sama lain.

Usaha dialog antar pemeluk agama juga sudah lama dilakukan, namun usaha ini lebih bersifat retorik ketimbang empirik. Upaya dialog biasanya lebih sering mencari titik temu ketimbang mencoba mengelaborasi keunikan masing-masing kelompok. Padahal, substansi toleransi bukan pada persamaan, tetapi justru pada pernghargaan terhadap perbedaan. Manusia bergaul akrab dengan yang lain bukan semata-mata karena adanya kesamaan, tetapi terutama karena adanya perbedaan yang menandai keunikan masing-masing. Akibat dialog yang hanya bersifat permukaan tidak mampu memberikan saling pengertian dan pemahaman mengenai keunikan masing-masing. Keunikan tetap tersembunyi di balik permukaan. Ironisnya, ketika terjadi dialog, masing-masing kelompok seringkali masih menggunakan bahasa agamanya sendiri-sendiri sehingga dialog yang berlangsung pun tak ubahnya seperti berbicara kepada diri mereka sendiri, bukan dengan kelompok lain yang berbeda.

Dialog semacam itu harus digeser dari upaya mencari persamaan ke upaya mengenali keunikan masing-masing. Dan, di atas itu semua, tentu saja dialog itu harus ditingkatkan lebih dari sekadar saling mengenal, tetapi juga dalam bentuk dialog kemanusiaan misalnya. Tema dialog yang mesti diangkat bukan tema-tema keagamaan, tetapi tema-tema kemanusiaan yang menyangkut kepertingan dan problem bersama.

Persoalan lainnya adalah bahwa  dialog antar-agama yang selama ini dilakukan hanya terjadi di kalangan elite agama tanpa melibatkan kelompok arus bawah. Padahal justru kelompok arus bawa lah yang seringkali bersentuhan secara riil dengan kelompok lain. Mereka hanya mengetahui kelompok lain berdasarkan prasangka, sehingga ketika terjadi persentuhan diantara mereka – apalagi jika kemudian diwarnai ketegangan – tentu saja akan sangat mudah memicu konflik diantara mereka.

Karena itu, yang paling penting sebetulnya adalah dialog di tingkat akar rumput. Karena di sanalah persinggungan yang sesungguhnya terjadi. Sudah saatnya kita sebagai khalifah fil ardl memulai usaha yang lebih serius untuk membumikan pesan moral dari tujuan diciptakannya keragama ini. Allah Swt menciptakan perbedaan bukan untuk saling bermusuhan, tetapi justru untuk berkenalan, belajar satu sama lain dan tolong menolong dalam kebaikan.***

Sepuluh Tips Menguatkan Toleransi dalam Kehidupan

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Jakarta – Toleransi adalah cara menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perbedaan perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di seluruh dunia.

Toleransi menjadi keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras seperti Indonesia. Karena itulah, toleransi amat dibutuhkan di Indonesia.

Toleransi membentuk masyarakat Indonesia bisa saling membantu satu sama lain tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Lalu, bagaimana cara menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat?

Cara menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan harus diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak sejak dini. Mengajarkan sikap toleransi membuat anak terbiasa dengan perbedaan dan mampu menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ada sepuluh cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan. Sepuluh hal ini bisa diterapkan di keluarga, sekolah dan masyakarakat.

Pertama, menghormati perbedaan.

Perbedaan bukanlah masalah. Maka, menghormatinya adalah hal paling baik yang bisa kita lakukan. Dengan menghormati, tak akan ada prasangka buruk yang muncul dan berpotensi menimbulkan konflik.

Kedua, menghargai perbedaan.

Menghargai perbedaan harus dilakukan sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku di masyakat dan suatu negara tertentu. Jika ada perbedaan, musyawarah untuk mencapai mufakat adalah jalan terbaik. Sikap ini bisa diwujudkan dengan menghargai orang lain tanpa memandang usia, agama, ras, dan budaya.

Baca juga: Indahnya Toleransi, Pengungsi Banjir di Kudus Salat di Gereja

Ketiga, tidak bergunjing.

Bergunjing adalah sikap tidak baik yang membicarakan orang lain. Biasanya, tentang keburukan yang ada. Maka, tidak membicarakan keburukan orang lain tanpa alasan atau pembuktian menjadi jalan tengah paling baik yang bisa dilakukan di keluarga dan masyarakat.

Keempat, menjadi pendengar yang baik.

Individu yang baik selalu menanamkan rasa empati terhadap orang lain. Contoh sederhana adalah mendengarkan pendapat orang lain dan memahami perasaan orang lain saat berbicara.

Kelima, berbicara dengan santun.

Mari berbicara menggunakan bahasa yang baik dan sesaui norma yang berlaku. Hindari berteriak dan memaki. Taat pada norma kesopanan atau adat yang bersumber dari masyarakat atau dari lingkungan masyarakat yang bersangkutan adalah hal yang baik.

Keenam, toleransi saat umat lain beribadah.

Norma agama atau religi adalah norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya. Sebagai individu, memilikik sikap toleransi saat orang lain beribadah menurut kepercayaanya adalah langkah toleransi awal yang akan berpengaruh pada langkah-langkah selanjutnya.

Ketujuh, tidak memaksakan kehendak.

Manusia sebagai individu yang hidup di tengah masyarakat sebaiknya tidak memaksakan kehendak dan hidup sesuai norma yang berlaku yakni dalam norma agama, norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya, norma kesusilaan atau moral, adat istiadat, dan hukum yang berlaku.

Kedelapan, menerima perbedaan.

Selain menghormati dan menghargai, dibutuhkan pula kesalingpahaman antarindividu, keluarga, bertetangga dan dalam masyarakat lingkup kecil demi keselarasan kehidupan. Kerjasama yang dilakukan, dilandasi rasa ikhlas dan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Kesembilan, menghargai diri sendiri.

Jangan lupa, menghargai diri sendiri bisa dimulai dengan mampu mengendalikan diri terhadap sikap-sikap yang tidak sesuai norma masyarakat, seperti pamer, bergunjing dan memaksakan kehendak.

Kesepuluh, menghargai hak pribadi orang lain.

Hak asasi tertinggi orang lain adalah pilihan menentukan agama dan kepercayaannya sendiri. Selain itu, hak pribadi orang lain yang diatur undang-undang adalah hak mengelurakan pendapat sesuai norma hukum.

Menerima perbedaan antara suku, agama dan kebudayaan bisa dimulai dengan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Mari buat lingkungan masyarakat yang nyaman, tentram dan aman.

Jangan lupa, sampaikan juga kepada orang lain terutama orang-orang terdekat bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan. Hal positif akan cepat menyebar dan melibatkan banyak orang.

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Sumber: –

Kisah Hidup Nida dan Mohan, Pasangan Pernikahan Beda Agama di India

Kamis, 11 Maret 2021

 

India – Nida Rahman, muslimah 26 tahun, dan Mohan Lal, lelaki Hindu 28 tahun asal India memutuskan untuk mengikat janji suci setelah saling jatuh cinta pada 2011 saat masih duduk di bangku kuliah.

Bagi Nida, pernikahan mereka adalah bunga mekar yang bisa menenangkan hubungan kedua komunitas agama yang pernah terlibat pertikaian di Negeri Sungai Gangga.

Nida juga menyatakan bahwa anak yang akan hadir dalam rumahnya akan akrab dengan tradisi Hindu dan Islam. “Anak-anak akan tumbuh untuk menghormati kedua agama.” Ujar Nida kepada The Straits Times.

Ia menyatakan bahwa sejak awal menjalin hubungan, keduanya sudah sama-sama berkomitmen untuk tidak pindah agama. Mereka ingin apa adanya. Keduanya menyatakan telah memilih pasangan apa adanya dan tak ada yang perlu diubah.

 

Kisah Penikahan Nida dan Mohan

Negara India yang penduduknya terdiri dari berbagai umat beragama menjadi tempat yang tidak ramah bagi pernikahan beda agama. Para pelakunya kerap dikecam, tidak hanya oleh keluarga tapi juga masyarakat luas.

Nida pergi dari rumahnya pada Agustus 2020 karena pihak keluarga meminta Mohan untuk pindah agama yakni masuk Islam dan pindah ke satu kontrakan yang Nida dan Mohan sewa bersama.

Sebelumnya, Nida sempat tinggal beberapa hari di Dhanak of Humanity, sebuah organisasi nirlaba yang fokus membantu pasangan beda agama, beda kasta, dan memberi mereka tempat untuk berlindung.

Asif Iqbal, pendiri Dhanak of Humanity pada 2005 menyatakan bahwa pelecehan dan penundaan pernikahan beda agama membuat pasangan menderita dan terpaksa meminta pasangan mereka pindah agama.

The Straits Times mewartakan bahwa pada 5 Oktober 2020, pasangan Nida dan Mohan telah memberanikan diri untuk mengajukan keberatan hukum ke Pengadilan Tinggi Delhi untuk mengubah undang-undang yang mereka yakini mendiskriminasi pasangan beda agama.

Sebelumnya, pada 21 September 2020, dua sejoli tersebut mengajukan petisi terhadap Undang-undang Pernikahan Khusus (SMA) 1954 yang mewajibkan pasangan beda agama menyerahkan surat pemberitahuan kepada petugas Kantor Urusan Agama di daerah tempat tinggal asal.

Salah satu syaratnya adalah pasangan yang akan dinikahi sudah tinggal di daerah tersebut selama 30 hari atau lebih sebelum menyerahkan surat. Surat tersebut harus memuat data pribadi lengkap seperti nama, alamat, dan foto pasangan serta harus diletakkan di tempat yang mencolok di KUA.

Hal tersebut dilakukan agar siapa pun yang tidak setuju dengan pernikahan yang dilakukan bisa mengajukan keberatan. Ketentuan ini tidak hanya berlaku untuk keluarga dan kerabat pasangan tersebut semata.

Baca juga: Eti Kurniawati Guru Kristen Pertama yang Mengajar Madrasah di Tana Toraja

Pelecehan dari Beberapa Pihak

Nida percaya bahwa pernikahan beda agama akan berisiko besar. Salah satunya adalah dengan mendapat pelecehan dari pejabat pemerintah yang tidak kooperatif dan penyalahgunaan data.

Penyalahgunaan data tersebut bisa dilakukan oleh orang asing setelah data pribadi diumbar ke publik lewat surat-surat resmi, terutama oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan politik dari hubungan mereka.

Petisi yang diajukan oleh Nida bertujuan untuk menghapuskan aturan soal keberatan publik. Menurutnya aturan ini melanggar hak asasi individu, termasuk hak privasi.

Aturan tersebut dinilai menghambat masyarakat untuk maju. Nida mempertanyakan, jika ada seorang laki-laki dan perempuan sudah siap untuk menikah, mengapa masih butuh persetujuan orang ketiga lagi?

Pelaksanaan pernikahan beda agama di India kerap mengalami pelecehan, bahkan bisa memicu pembunuhan demi kehormatan dan di banyak kasus juga bunuh diri.

Seorang laki-laki Hindu 23 tahun dibunuh tidak jauh dari rumahnya di Delhi pada 2018 oleh keluarga perempuan muslim yang putrinya berkencan dengan dia. Untuk kasus perempuan Hindu dan laki-laki muslim, tudingan “jihad cinta” yang kerap memicu ketegangan antar komunitas agama.

Istilah “jihad cinta” adalah sebutan dari kaum Hindu radikal untuk menuduh lelaki muslim yang dianggap melancarkan konspirasi untuk mengajak perempuan Hindu masuk Islam.

Sejak Januari sampai September 2020, ada 461 pernikahan yang didaftarkan dengan Undang-Undang Pernikahan Khusus berbanding 13.572 pernikahan sesama Hindu di New Delhi. Nida dan Mohan menolak melakukan langkah itu.

 

Penulis: Ayu Alfiah  Jonas

Pengadilan Malaysia Izinkan Umat Kristen Gunakan Sebutan “Allah”

Kamis, 11 Maret 2021

 

Kuala Lumpur – Setelah 35 tahun dilarang, akhirnya Pengadilan Tinggi Malaysia memutuskan untuk mengizinkan penggunaan sebutan “Allah”, merujuk pada Tuhan dalam publikasi pendidikan agama.

CNN Indonesia mewartakan, Hakim Nor Bee Ariffin menyampaikan keputusan tersebut pada Rabu (10/3), Keputusan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur yang memutuskan penyebutan kata Allah bukan hanya bagi umat Islam.

Selain itu, pengadilan juga mengizinkan penggunaan kata Baitullah, Kakbah, dan salat. Namun dengan syarat harus disertai penafsiran hanya untuk orang Kristen dan simbol salib di sampul-sampul depan buku.

Pengadilan menganulir putusan pemerintah Malaysia yang dianggap keliru dalam mengeluarkan larangan penggunaan kata Allah pada pada 1986 bagi non-Muslim.

Pemerintah yang sama kala itu memutuskan bahwa seorang perempuan Kristen Melanau berhak menggunakan kata Allah untuk tujuan keagamaan dan pendidikan.

Mengutip Reuters, hakim memutuskan setelah sebelumnya mengizinkan pernyataan yang dibuat oleh perempuan Melanau dari Sarawak, Hill Ireland Lawrence Bill bahwa konstitusionalnya untuk menjalankan agamanya dibatasi oleh pembatasan atau larangan impor materi pendidikan.

Ariffin mengatakan pengadilan mengizinkan penggunaan kata tersebut dalam mempraktikkan kebebasan beragama yang dilindungi dalam Pasal 3,8,11, dan 12 Konstitusi Federal.

Keputusan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur, yang dikonfirmasi oleh pengacara kasus tersebut dan dilaporkan oleh berbagai media, termasuk kantor berita nasional Bernama, adalah bagian dari perkara hukum yang diajukan seorang perempuan bernama Jill Ireland.

Ireland, yang beragama Kristen, merasa hak konstitusionalnya telah dilanggar.

Baca juga: Tanpa Toleransi, Hidup Akan Terganggu

Pemerintah Malaysia pada 11 Mei 2008 mensita CD religi berjudul “Bagaimana Hidup di Kerajaan Allah”, “Hidup Sejati di Kerajaan Allah”, dan “Ibadah Sejati di Kerajaan Allah” ketika tiba di bandara KLIA Sepang.

 

Digunakan Selama Berabad-abad

BBC memberitakan, banyak orang Kristen yang berbahasa Melayu mengatakan kata itu telah digunakan di Malaysia selama berabad-abad, khususnya di wilayah Malaysia di Pulau Kalimantan. Ireland adalah seorang Melanau, kelompok etnis penduduk asli dari negara bagian Sarawak.

Pengadilan pada hari Rabu (10/03) menyatakan bahwa konstitusi Malaysia memberi Ireland kesetaraan di hadapan hukum dan dia berhak mengimpor publikasi dalam menjalankan haknya untuk mendidik dan mempraktikkan agamanya, kata pengacara Ireland, Annou Xavier, kepada kantor berita Reuters.

“Pengadilan juga menyatakan bahwa peraturan Menteri Dalam Negeri tahun 1986 … melanggar hukum dan konstitusi,” kata Xavier.

Keputusan lengkap Pengadilan Tinggi tidak langsung tersedia bagi media. Pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia pun tidak menjawab permintaan komentar dari Reuters.

Hakim mencatat bahwa komunitas Kristen di Malaysia telah menggunakan kata “Allah” selama beberapa generasi dalam mengamalkan iman mereka.

“Fakta bahwa mereka telah menggunakannya selama 400 tahun tidak dapat diabaikan,” ucap Hakim Noor.

 

Sabah dan Serawak Lebih Dulu Membolehkan

Pada tahun 2013 Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak angkat bicara terkait vonis pengadilan banding yang memutuskan, selain umat Islam tak bisa menggunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan mereka.

Pada 17 Oktober 2013, pengadilan banding membatalkan keputusan pengadilan tingkat pertama pada 2009 yang membolehkan surat kabar Katolik, The Herald, bisa menggunakan kata Allah dalam edisi bahasa Melayunya. Sebagai kata pengganti untuk Tuhan dalam pengertian kristiani.

Namun, pada 22 Oktober 2013 PM Najib mengatakan umat kristiani di negara bagian Sabah dan Sarawak bisa tetap menggunakan kata tersebut — sesuatu yang kini jadi perdebatan sengit para pengacara.

“Baru-baru ini, ketika pengadilan banding membuat keputusan tentang penggunaan kata Allah, itu sama sekali tidak menyentuh praktik umat Kristen di Sabah dan Sarawak,” kata Najib, seperti dikutip dari BBC, Rabu (23/10/2013).

Malah, dia menambahkan, 10 poin perjanjian masih tetap berlaku. Yang ia maksud adalah perjanjian yang dibuat tahun 2011, yang memungkinkan Alkitab dari semua bahasa diimpor ke Malaysia. Juga bahwa kibat suci bisa dicetak secara lokal di Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak.

Seperti Liputan6.com kutip dari The Malaysian Insider, PM Najib memperingatkan keamanan dan kedamaian negara bergantung pada kerukunan antarumat beragama.

Jaksa Agung Malaysia Tan Sri Abdul Gani Patail mengatakan, kata ‘Allah’ tak bisa digunakan surat kabar Katolik The Herald. Kalimah tersebut bisa digunakan dalam Alkitab berbahasa Melayu.

Ini alasannya: “Alkitab versi Melayu digunakan hanya oleh Umat Kristen dan di dalam gereja, sementara koran The Herald bisa diakses online dan dibaca kalangan muslim dan non-muslim,” kata dia. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: CNN Indonesia I BBC I Tempo.co I Liputan6.com

Potret Toleransi: Tiga Tempat Ibadah Berdiri Berdampingan di Karanganyar

Rabu, 10 Maret 2021

 

Jakarta – Ada potret toleransi antar-umat beragama yang ditunjukkan di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar dan menjadi contoh rukunnya kehidupan antar umat beragama di salah satu daerah Indonesia.

Tiga tempat ibadah berdiri saling berdampingan dan masyarakatnya hidup rukun dalam kebersamaan. Komunikasi antar pemuka agama menjadi kunci toleransi terjaga dengan baik.

Ada tiga tempat ibadah yang berdiri berdampingan di Desa Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tiga tempat ibadah tersebut adalah Masjid Al-Mu’min, gereja Sidang Jemaat Allah Pancaran Berkat, dan Pura Agra Bhadra Darma.

 

Masjid Al-Mu’min

Masjid Al-Mu’min dibangun pada 1998. Masjid tersebut adalah kategori masjid umum yang memiliki luas tanah 200 m2 , luas bangunan 350 m2 dengan status tanah Wakaf. Biasanya, jamaah yang ikut shalat berjamaah berjumlah 50 sampai dengan 100 orang, jumlah muazin 5 orang, jumlah remaja 20 orang, dan jumlah khatib 3 orang.

Suroso selaku takmir masjid Al-Mu’min mengatakan, salah satu cara untuk menjaga kerukunan ialah harus saling menghormati.

“Untuk itu baik dari pihak masjid, gereja, maupun pura, akan saling berkomunikasi jika akan melakukan kegiatan,” ujar Suroso, kutip nu.or.id (26/7/2015).

 

Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)

Gereja Sidang Jemaat Allah atau disingkat GSJA adalah salah satu sinode gereja Kristen Pentakosta di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GSJA juga anggota dari Persekutuan Injili Indonesia (PII).

Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah atau Assemblies of God adalah salah satu Gereja Pentakosta terbesar di dunia. Pada 2004, Gereja ini memilikii sekitar 15 juta orang anggota di seluruh dunia. 12.100 gereja di Amerika Serikat dan 236.022 gereja serta pos penginjilan di 191 negara di seluruh dunia.

Kantor pusat Assemblies of God ada di Springfield, Missouri, Amerika Serikat. Teologi Gereja ini didasarkan pada teologi Protestan yang menekankan doktrin Pentakostal seperti misalnya baptisan oleh Roh Kudus, berbicara bahasa roh, dan penyembuhan ilahi.

GSJA didirikan pada 1914 di Hot Springs, Arkansas, Amerika Serikat. Wakil dari 20 negara bagian dan beberapa dari negara asing berkumpul untuk membentuk sebuah persekutuan Pentakostal. Tujuan persekutuan ini adalah melindungi dan melestarikan hasil-hasil dari kebangunan yang terjadi atas ribuan orang percaya yang mengalami baptisan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles, California.

 

Pure Agra Bhadra Darma Ngargosoyo

Pada saat pembangunannya, Pure Agra Bhadra Dharma tidak hanya melibatkan umat Hindu saja, tapi juga melibatkan masyarakat yang beragama Islam dan Kristen yang membantu tanpa diminta.

Maka dari itu, keberadaan Pure Agra tidak sekedar milik masyarakat Hindu saja, akan tetapi juga seluruh warga masyarakat Ngargoyoso. Seorang tokoh pemuda Ngargoyoso bernama Suparno mengatakan bahwa toleransi juga ditunjukkan warga Ngargoyoso pada perayaan Idhul Adha setiap tahunnya, termasuk tahun 2020 lalu.

Dalam kegiatan tersebut, warga Kristiani dan Hindu akan membantu menjaga keamanan, menata parkir, dan membantu menyiapkan prasarana ibadah bagi umat Muslim.

Daging kurban pada Hari raya Idhul Adha kemudian dibagikan kepada semua warga masyarakat tanpa terkecuali, baik itu Muslim, Kristiani, Hindu dan Penghayat Kepercayaan di Ngargoyoso.

Baca Juga: Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

 

Komunikasi Antarpemuka Agama

Tiga tempat ibadah tersebut berdiri di lahan tanah kas Desa Ngargoyoso sejak belasan tahun silam. Meski saling berdampingan, tercatat tak pernah terjadi gesekan antarumat beragama. Masyarakat hidup berdampingan dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Ide pendirian tempat ibadah secara berdampingan ini dipelopori Kepala Desa Sri Hartono karena begitu beragamnya umat beragama di Desa Ngargoyoso. Kunci keharmonisan antara umat Islam, Kristen, dan Hindu di sana adalah komunikasi antarpemuka agama.

Pada Hari Raya Idulfitri, pihak majelis gereja memajukan kegiatan peribadatan sebagai upaya toleransi umat muslim yang menjalankan salat Id. Seyogiyanya, potret toleransi di Karanganyar ini menjadi pembelajaran berharga untuk toleransi di Indonesia.

“Ini Menjadi bukti bahwa di Ngargoyoso sangat harmonis sekali kehidupan masyarakatnya walau berbeda keyakinan yang dianut, namun mereka bisa hidup berdampingan dan rukun. Semoga Desa Ngargoyoso bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain yang memiliki warga dengan berbagai latar agama dan Indonesia kedepannya, menjadi kaca bagi negara-negara yang lain tentang kerukunan antar umat beragamanya,” kata Hudaya, ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Karanganyar, kutip jateng.kemenag.go.id (20/9/2019).

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Ahmad Nasirin, berharap Moderasi beragama di desa Ngargoyoso ini selalu dijaga, jangan sampai terkikis oleh zaman.

“Saya berharap, semoga kedepan desa Ngargoyoso ini tetap menjadi desa yang sadar dengan moderasi beragama. Hidup rukun, ayem tentrem berdampingan adalah kunci kuatnya persatuan bangsa Indonesia ini.  Ada masjid, ada gereja dan ada pula pura yang masyarakatnya hidup rukun sejak dahulu, ini sangat luar biasa sekali. Bisa menjadi percontohan bukan hanya di Kabupaten Karanganyar saja, tapi bisa di seluruh Indonesia bahkan dunia,“ terang Nasirin.

Jika nantinya dunia ingin belajar bagaimana menjaga kerukunan antar umat beragama, silahkan datang dan belajar ke Ngargoyoso. Karena pada hakikatnya semua agama mengajarkan hal kebaikan, semua bercita-cita masuk ke surga. Hati tidak bisa dipaksa dalam hal agama, karena keyakinan itu sendiri-sendiri dan semuanya bertujuan baik. [ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Sumber: nu.or.id I jateng.kemenag.go.id

10 Kota Jadi Kota Paling Toleran, Apa Indikatornya?

Rabu, 10 Maret 2021

 

Jakarta – Kota Salatiga memeroleh gelar sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia tahun 2020. Predikat ini diberikan berdasarkan riset yang dilakukan Setara Institute.

Jika pada tahun 2018 Singkawang menempati urutan pertama, pada tahun 2020 giliran Kota Salatiga yang menempati urutan teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia.

Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan, mengatakan bahwa riset ini didasarkan pada asumsi bahwa semua masyarakat Indonesia memiliki sifat toleran.

“Indeks Kota Toleran itu didasari keyakinan bahwa masyarakat Indonesia itu toleran, tinggal yang membedakan satu kota dengan yang lain itu mengenai tata kelola,” ujar Halili, dikutip dari Kompas.com, Rabu awal Maret (3/3) lalu.

Lantas, apa yang membedakan Kota Salatiga dengan kota lainnya dan indikator apa saja yang digunakan? Yuk, simak uraian di bawah ini!

 

Indikator Kota Paling Toleran

Setara Institute menggunakan beberapa indikator penilaian dalam riset ini. Setiap indikator tersebut pun memiliki bobot peniliaian yang berbeda.

Berikut adalah indikator penilaian Kota Paling Toleran versi Setara Institute:

  • Rencana pembangunan 10%;
  • Kebijakan diskriminatif 20%;
  • Peristiwa 20%;
  • Dinamika masyarakat sipil 10%;
  • Pernyataan pejabat publik pemerintah kota dan tindakan nyatanya 15%;
  • Heterogenitas agama 5%;
  • Inklusi sosial keagamaan 10%.

Baca Juga: Bekasi Nomor 10 Kota Paling Toleran

Dalam penilaian indeks kota toleran, Setara Institute menggunakan skala dengan rentang nilai 1 sampai 7 untuk setiap indikatornya.

Angka 1 adalah angka paling rendah atau menggambarkan situasi paling buruk. Sementara, angka 7 adalah nilai paling tinggi dan menggambarkan situasi paling baik.

Berikut adalah daftar kota paling toleran berdasarkan riset Setara Institute:

  1. Salatiga (6,717).
  2. Singkawang (6,450).
  3. Manado (6,200).
  4. Tomohon (6,183).
  5. Kupang (6,037).
  6. Surabaya (6,033).
  7. Ambon (5,733).
  8. Kediri (5,583).
  9. Sukabumi (5,546).
  10. Bekasi (5,530).

Kota toleran adalah kota yang memiliki rencana dan kebijakan pembangunan yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi. Selain itu tindakan pejabat di kota tersebut juga harus kondusif bagi praktik tolerasi.

Di samping itu kota toleran memiliki tingkat pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan yang rendah atau tidak ada sama sekali dan kota toleran harus menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas warganya.

Setara menetapkan empat variabel dengan delapan indikator. Misalnya variabel regulasi pemerintah kota memiliki indikator yakni, RPJMD dan produk hukum pendukung lainnya.

Variabel kedua adalah tindakan pemerintah indikatornya terdiri dari pernyataan pejabat kunci dan selanjutnya regulasi sosial dengan indikator peristiwa intoleransi serta dinamika masyarakat sipil. Terakhir, demografi agama mencakup indikator heteregonitas keagamaan penduduk dan inklusi sosial keagamaan.

 

Sukabumi Urutan 9

Pemerintah Kota Sukabumi meraih penghargaan indeks Kota Toleran tahun 2020 dari Setara Institute. Hal ini menunjukkan komitmen pemkot dalam mendukung kerukunan antar umat beragama.

Setara Institute melakukan penilaian berdasarkan penelitian persoalan toleransi di berbagai kota dan kabupaten yang terfokuskan pada keberagaman di masing-masing daerah tepatnya di 94 Kota/ Kabupaten yang diriset.

” Alhamdulillah, Kota Sukabumi menjadi Kota Toleran tahun 2020,” ujar Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi kepada wartawan, Jumat (26/2), kutip republika.co.id.

Pencapaian ini, rilis Republika, merupakan hasil kerjasama seluruh elemen masyarakat yang telah menjadikan Kota Sukabumi yang harmonis dengan tidak membedakan suku, bahasa, budaya dan agama. Prestasi tersebut terang Fahmi menunjukkan Kota Sukabumi berkomitmen mewujudkan visi Kota Sukabumi yang religius, nyaman, dan sejahtera (Renyah).

Makna religius dalam visi itu berarti sudah dapat membentuk masyarakat yang memiliki keshalehan pribadi dan keshalehan sosial. ” Dengan keshalehan sosial, maka dapat hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi dan saling menghargai agama dan keyakinan lain,” kata Fahmi, yang merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Intinya selaku kepala daerah ia ingin pemerintahannya menguatkan dan mewujudkan harmoni yang indah dalam konteks kerukunan umat beragama. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: 99.co I kompas.com

Najwa Shihab: Kita Memang Berbeda Tapi Kita Tetap Bersama

Selasa, 9 Maret 2021

 

Jakarta – Dalam Convey Day yang diselenggarakan oleh Convey Indonesia pada Jumat 5 Maret 2021, Najwa Shihab menceritakan tentang pengalaman toleransi dalam hidupnya.

Ia memulai pemaparannya dengan penyataan bahwa Indonesia harus memperkuat dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat toleransi merayakan perbedaan dan melihat keragaman sebagai kekayaan bangsa.

Bagi  Najwa, ada sekian hal yang bisa mempersatukan dan hal tersebut tak selalu yang indah dan menyenangkan. Kita bisa dipersatukan bahkan oleh permasalahan. Pandemi Covid-19 sebenarnya adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ternyata kita saling membutuhkan.

Betapa bersama adalah cara bertahan menyepakati perbedaan memang tidak gampang yang tumbuh secara instan. Dibutuhkan toleransi, sebuah kata yang seperti lalat terdengar dengung tapi tak selalu kita raih dan wujudkan.

Najwa melanjutkan, toleransi harus dialami dan diajarkan atau disosialisasikan salah satunya lewat pengalaman hidup menjadi minoritas. Najwa merasa beruntung pernah mendapatkan pengalaman idalam usia yang relatif muda.

Usia Najwa 16 tahun saat mengikuti program pertukaran pelajar, ia lalu hidup dan tinggal di Amerika Serikat.  Ia tinggal di keluarga penganut Katolik yang taat bahkan menjadi satu-satunya muslim di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Najwa terekspos dalam beragam situasi dan muncul banyak pertanyaan hingga tudingan. Ia juga merasakan langsung keterbukaan dan penerimaan termasuk disiapkan makanan sahur setiap malam oleh ibu angkatnya yang beragama Katolik, juga ditemani puasa, diantar ke masjid di luar kota yang jauh untuk salat dan merayakan lebaran bersama komunitas muslim.

Baca Juga: Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Namun di sisi lain, Najwa mengaku pernah dibully saat salat di perpustakaan sekolah. Ia selalu diajarkan oleh orang tua untuk tidak boleh pilih-pilih teman. Ia memperoleh pelajaran tersebur dari didikan sang kakek, Habib Abdurrahman Shihab.

Najwa bercerita bahwa sejak dulu, rumah Abi di Makassar memang selalu dengan sahabat-sahabat habis dari berbagai kalangan termasuk para non-muslim. Keluarga Najwa selalu berinteraksi dengan beragam kalangan.

Sang Habib Abdurrahman Shihab juga mengajarkan anak laki-laki berjalan bersama ke masjid masjid. Biasanya, Habib meminta anak-anak Masuk dari pintu yang berbeda-beda.

Hal tersebut adalah salah satu cara Habib mengajari anak-anaknya untuk melihat segala sesuatu secara seksama tidak hanya dari satu sisi tidak sepotong-sepotong.

 

Pentingnya Sikap Toleran

Dalam ritual keagamaan, Najwa juga mengatakan bahwa Abi menekankan titik pentingnya sikap toleran dan menjauhi fanatisme kebenaran dalam agama yang bisa beragam. Satu-satunya cara untuk hidup harmonis adalah mengedepankan toleransi tanpa melunturkan keyakinan.

Habib Abdurrahman juga tahu pentingnya menuntut ilmu dan pendidikan tinggi. “Abah tidak akan meninggalkan harta buat kalian tapi semoga bekal pendidikan dapat Abah usahakan.” Kata Najwa.

Cinta ilmu dan pentingnya bergaul dengan beragam kalangan itu jugalah nilai yang dijunjung tinggi oleh Habib Quraisy. Hasil didikan itu pula yang diajarkan kepada Najwa beserta kakak dan adiknya.

Najwa diizinkan pergi setahun ke Amerika Serikat saat masih remaja padahal banyak orang yang berkata pada saat itu, “anak perempuan remaja kok dibolehkan ke Amerika, tinggal dengan orang yang tidak dikenal, nonmuslim lagi,” ujar Najwa melanjutkan ceritanya.

Najwa Shihab melanjutkan bahwa ia beruntung menjadi wartawan selama 17 tahun sebab punya kesempatan untuk melihat langsung peristiwa yang memengaruhi lanskap dunia. Ia juga melihat dari dekat aksi terorisme, bencana alam, perang konflik dan lain sebagainya.

Bagi Najwa, hidup di dunia sangatlah kompleks. Karenanya, kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beragam itu sangat penting. Ia percaya bahwa pemimpin masa kini dan masa depan adalah orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi melampaui batas-batas budaya.

Selain itu, bukan hanya sebatas jago berbahasa asing tapi juga peka terhadap sensitifitas budaya lain, punya insting untuk selalu mencari common ground, memiliki pikiran yang terbuka dan perspektif yang luas.

Pengalaman Najwa memungkinkannya untuk berbicara dengan sosok-sosok yang tidak biasa dengan latar belakang dan situasi beragam. Kadang-kadang ekstrem mulai dari pemimpin yang berpengaruh, presiden, aktivis, pahlawan, penyintas, tapi juga ia berbincang dengan koruptor dengan hukuman mati.

Dari pertemuan tersebut, Najwa mulai mengenali karakter dari sosok-sosok tersebut. Sosok pemimpin yang dicintai rakyat atau orang-orang biasa yang punya determinasi luar biasa.

Bagi Najwab, mereka adalah kepala-kepala yang mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak atau melihat dari perspektif yang berbeda dan sadar masing-masing dari kita adalah orang yang perlu mencari gol bersama yang mempersatukan.

Najwa menutup pemaparannya dengan kalimat ajakan sebagai berikut: “Teman-teman, mari memulainya dengan sederhana. Menyadari ada sejuta fakta yang tak bisa dilihat hanya dari sepasang mata. Kita memang berbeda tapi kita tetap bersama.” [ ]

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Editor: A. Nurcholish

Lima Negara Paling Toleran di Dunia

Kabar Damai I Senin, 8 Maret 2021

 

Jakarta – Diantara banyak negara di dunia, ada beberapa negara yang mendapatkan predikat negara paling toleran di dunia sebab indikator toleransi yang kuat di dalamnya.

Toleransi atau Toleran kerap diartikan sebagai suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain.

Lebih jauh dari itu, toleransi mestinya menjadi pintu gerbang agar kasih sayang senantiasa terpatri dalam setiap tindakan dan ucapan kita. Tindakan dan ucapan tersebutlah yang kemudian akan menjelma menjadi perdamaian.

Toleransi untuk orang Indonesia adalah hal yang penting dan mendasar, mengingat negara kita tidak hanya dihuni oleh satu suku bangsa saja, ataupun satu agama saja.

Menerapkan sikap toleransi membuat kita mampu menghindari terjadinya diskriminasi mengingat ada begitu banyak suku bangsa, agama, atau bahasa di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Toleransi juga membuat kita belajar menghargai pendapat atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, saling tolong-menolong antar sesama tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan, dan sebagainya.

Itulah mengapa ada Hari Toleransi Internasional agar rasa toleransi dalam diri tak terkikis dan semakin menguat. Frommers mencatat, setidaknya ada lima negara dengan toleransi paling baik, atau negara paling toleran di dunia.

Pertama, Kanada.

Negara multikulturalisme ini terkenal karena memiliki toleransi rasial dan agama yang tinggi. Kanada adalah negara yang sangat mengedepankan seberapa baik mereka memenuhi kebutuhan dasar manusia, memberikan akses ke kesempatan, dan menciptakan landasan untuk kesejahteraan.

Kanada juga dinobatkan menjadi negara yang tidak terlalu rentan terhadap pergolakan serta berulang kali menegaskan tentang nilai imigrasi.multikulturalisme di Kanada tumbuh dengan baik, tentu diimbangi dengan toleransi yang tinggi.

Kedua, Selandia Baru.

Selandia Baru adalah satu dari sedikit negara yang sukses merangkul penduduk asli. Mereka melindungi adat istiadat dan warisan suku Maori lewat sebuah keputusan pemerintah dan dirayakan dengan cara besar dan kecil.

Selandia Baru bukan saja memamerkan ukiran kayu Maori, kano, dan artefak lainnya di Museum Auckland dan Te Papa Tongarewa di Wellington, bahasa Maori juga dilestarikan dimana-mana mulai dari nama tempat hingga uang hingga sapaan kia ora.

Ketiga, Luxemburg.

Luxemburg hanyalah negara kecil yang terkurung daratan dan menempati posisi terbaik dalam hal kebebasan pribadi. Negara ini memiliki akses termudah ke hak hukum, kebebasan berbicara, dan sikap paling toleran terhadap imigran dan minoritas. Hal tersebut membuat Pengadilan Eropa berbasis di negara tersebut.

Keempat, Albania.

Tentang toleransi beragama dan negara paling toleran di dunia, maka Albania adalah juaranya. Pada waktu Paus Fransiskus mengunjungi negara kecil di Balkan ini pada tahun 2014, dia mengatakan bahwa seluruh dunia dapat belajar banyak dari bagaimana Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai di Albania.

Di negara ini, orang-orang yang beragama Islam dan Kristen berbaur di berbagai pesta dan festival. Semangat harmoni ini salah satunya kerap ditunjukkan pada Hari Air Terberkati yang jatuh di bulan Januari.

Di bulan tersebut, orang-orang akan terjun ke danau, sungai, dan laut yang dingin untuk mencari salib yang terendam. Orang-orang yang dimaksud termasuk masyarakat yang beragam Islam.

Kelima, Irlandia.

Negara dengan toleransi paling baik di dunia adalah Irlandia. Survei menunjukkan bahwa Irlandia sangat toleran terhadap etnis minoritas dan LGBT daripada rata-ra ta negara di Uni Eropa. Irlandia tetap berkomitmen pada cita-cita benua yang bersatu. Selain itu, orang Irlandia juga dikenal sangat ramah.[]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas I Editor: A. Nurcholish

Sumber: –