Pos

ITS Klarifikasi Soal Alumni Terduga Teroris dan Pemecatan Dosen

Menanggapi berita yang beredar terkait dugaan keterlibatan atas tindakan terorisme di Surabaya yang melibatkan alumninya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi berita tersebut di Gedung Rektorat ITS, Selasa (15/5) sore.

Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD mengatakan, pertama terduga pelaku atas nama Anton Ferdianto memang pernah tercatat sebagai mahasiswa D-III Teknik Elektro ITS pada tahun 1991. Namun, ia tercatat hanya menjalani kuliah satu tahun dan selanjutnya tidak aktif kembali. “Atas dasar tersebut bisa dikatakan dia bukanlah alumnus ITS. Kami tidak mengetahui status yang bersangkutan selanjutnya,” ujarnya di hadapan awak media.

Kemudian terduga pelaku kedua atas nama Budi Satrijo pernah tercatat sebagai mahasiswa Teknik Kimia program studi S1 tahun 1988 dan lulus pada tahun 1996. Pihaknya menjelaskan, pada masa studinya Budi tidak memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan dan normal seperti mahasiswa lainnya. Budi juga aktif dalam kegiatan berwirausaha.

“Sebagai alumnus yang lulus 22 tahun yang lalu, seluruh aktivitas yang bersangkutan tentunya di luar sepengetahuan ITS dan semua merupakan tanggungjawab pribadi masing-masing di depan hukum,” jelas Prof Joni.

Rektor ITS ini juga menjelaskan bahwa ITS memiliki seratus ribu lebih alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, dan yang aktif dalam kegiatan alumni hanya sekitar seribu orang. Sedang kedua terduga pelaku tersebut merupakan alumni yang tidak aktif di ITS. “Selama ini kegiatan yang terkait alumni, kita bekerja sama dengan IKA (Ikatan Alumni, red) ITS. IKA lah yang menentukan siapa alumni yang akan menjadi pembicara jika diundang dalam acara ITS dan kedua terduga pelaku ini tidak pernah menjadi pembicara,” ujar pria yang gemar bermain piano ini.

Sehingga pada kesimpulannya atas tindakan kedua terduga pelaku teror tersebut, Joni menegaskan bahwa ITS tidak memiliki kaitan dengan apa yang mereka lakukan setelah lulus atau tidak terlibat lagi dengan ITS.

Klarifikasi Pemecatan Dosen

Dalam konferensi pers ini, Prof Joni juga melakukan klarifikasi terkait pernyataan Menristekdikti Mohamad Nasir kepada media mengenai adanya dosen dan dekan di ITS yang dipecat karena diduga terlibat dengan gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang telah dilarang oleh pemerintah.

Dalam hal ini, Prof Joni menjelaskan bahwa sebenarnya pihak ITS saat ini masih melakukan proses penyelidikan untuk membuktikan keterlibatan para dosen tersebut. Namun, pihaknya membantah bila telah memecat ketiga dosen yang diberitakan tersebut sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

“Benar ada dugaan atas kasus tersebut dan kami sedang melakukan penyelidikan kepada mereka, namun dua dosen dan satu dekan tersebut statusnya tidak dipecat dari status PNS. Hanya kami berhentikan sementara dari jabatan strukturalnya, yang berkaitan juga masih mengajar di ITS,” jelas Joni.

Joni meyakini adanya salah komunikasi atau salah kutip dari media terkait atas apa yang dinyatakan oleh Menristekdikti tersebut. “Saya sudah komunikasikan dengan Pak Menteri (Menristekdikti, red), karena memecat seseorang dari status PNS-nya itu tidak mudah. Kita harus memeriksa pelanggaran tersebut, mengacu pada pelanggaran apa, itu harus detail,” papar guru besar Teknik Lingkungan ini.

Menurut Joni, ITS saat ini juga sudah membentuk tim Bina Khusus untuk mengaji lebih dalam terhadap dosen dan dekan ITS yang terlibat dengan HTI. Tim Bina Khusus ini terdiri dari Wakil Rektor, dari biro hukum, para wakil dekan dan beberapa ahli lainnya. “Mereka akan menyelidiki kasus ini dan akan memberikan arahan kepada saya untuk selanjutnya saya usulkan kepada Pak Menteri,” sambungnya.

Joni juga mengatakan, terkait peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ITS tidak mau diklaim sebagai kampus radikal. “Atas kejadian akhir-akhir ini juga, kami tidak mau menjadikan para mahasiswa takut untuk mempelajari agama mereka sendiri,” tutupnya.

Gerakan Warga Lawan Terorisme Digaungkan berbagai Tokoh dan NGO

Tokoh dari berbagai kalangan berkumpul hari ini (Selasa, 15/05) di Sekretariat Wahid Foundation. Mereka menilai rangkaian aksi kejahatan teror yang terjadi di Rutan Mako Brimob Depok hingga bom bunuh diri di 3 gereja Surabaya, Rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya Jawa Timur telah melampaui batas kemanusiaan. Sebanyak 31 orang yang terdiri dari anak-anak, warga dan juga aparat meninggal dunia. Apalagi, pelaku bahkan mengorbankan anak2nya sendiri dalam aksi teror itu. Tercatat lebih dari 10 orang luka-luka.

Gerakan Warga Lawan Terorisme yang terdiri dari tokoh lintas-iman, lintas-profesi (pekerja seni dan budaya, akademisi &pendidik, pekerja kemanusiaan, dll.) dan masyarakat adat mengutuk keras tindak kejahatan terorisme dan juga menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan keluarga. Gerakan Warga Lawan Terorisme menyatakan tekad bersama untuk melawan aksi terorisme yang telah menghanucurkan nilai kemanusiaan dan menyebarkan rasa ketakutan serta memecah belah bangsa, serta dalam jangka panjang dapat menghancurkan NKRI.

“Terorisme adalah nyata dan itu merupakan kejahatan kemanusiaan paling keji. Ideologi mereka sangat biadab karena membuat korbannya kehilangan nurani dan nalar sehat sehingga rela mati konyol dan bahkan menggunakan anak-anak sebagai korban.” Kata Musdah Mulia yang juga menjadi penggagas gerakan ini.

“Kita warga bangsa harus berani melawan terorisme dimulai dari keluarga. Jangan biarkan sikap intoleran dalam bentuk apa pun. Mari bersatu melawan terorisme, namun tetap dengan cara2 damai. Kekerasan tdk pernah menyelesaikan masalah”, pungkasnya.

Kondisi pasca terjadinya teror bom di salah satu lokasi di Surabaya. Sumber: Merdeka.com

Negara-negara Ramai Kecam Bom Di Surabaya

ICRP – Teror Bom yang terjadi di wilayah Surabaya dan Sidoarjo beberapa hari ini menyulut kemarahaman dari berbagai kalangan di dunia. Ternyata, tidak hanya masyarakat dalam negeri yang merasa geram dengan aksi yang menelan korban 28 jiwa tersebut (Senin, 14/5/18. Pukul 20.00 WIB). Beberapa negara sahabat menyatakan turut bela sungkawa. Beberapa diantaranya adalah Amerika, Kanada, hingga Korea Selatan.

Melalui akun Twitter, juru bicara Amerika Serikat (AS), Heather Nauert, AS mengecam teror bom di Surabaya. Pemerintah AS mengutuk kejadian tersebut dan turut berduka cita atas serangan bom di tiga gereja Surabaya.

“AS sangat mengutuk serangan terhadap tiga gereja di #Surabaya. Serangan terhadap para jemaat ini merupakan penghinaan terhadap toleransi serta keragaman yang dianut orang Indoensia. Kami berdiri bersama #Indonesia dan menyampaikan belasungkawa terdalam kami.  #UnitedAgainstTerrorism,” tulisnya di Twitter, Minggu (13/5/2018).

Hal yang senada dilontarkan oleh pemerintahan Kanada.  Duta Besar Kanada untuk Indonesia, H.E. Peter MacArthur, mengungkapkan kesedihannya melalui akun twitter.

“Kanada ikut berduka atas serangan membabi buta pada rumah ibadah di #Surabaya. Rasa belasungkawa kami sedalam2nya kpd keluarga mereka yg ditinggalkan dan semoga lekas pulih kpd mereka yg terluka. Kami berdiri bersama #Indonesia dim melawan #terorisme, musuh semua agama @Kemlu_RI,” tulis Peter.

Lebih jauh lagi, pemerintahan Korea Selatan selain memberikan ucapakan keprihatinan, mereka juga mendukung penuh tindakan pemerintah Indonesia untuk melawan segala bentuk tindakan terorisme. bahkan Korea Selatan bersedia untuk menjalin kerjasama dalam kontra terorisme.

“Pemerintah Korea Selatan akan bergandeng tangan dengan masyarakat Indoensia dalam melawan terorisme, yakni teror-teror yang mengancam seluruh umat manusia,” ujar Duta Besar Korsel untuk Indonesia Kim Chang-Beom.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20180514122523-33-14794/amerika-kanada-sampai-korsel-kecam-aksi-teror-bom-surabaya

Editor: Mukhlisin

 

Perempuan dalam Gerakan Terorisme di Indonesia

[gview file=”https://icrp-online.com/wp-content/uploads/2018/05/Perempuan-Dalam-Gerakan-Terorisme-di-Indonesia.pdf”]

Pernyataan Sikap Indonesian Conference on Religion and Peace Terkait Teror Bom di Surabaya, Jawa Timur

 

Akhir-akhir ini, radikalisme dan bahkan aksi teror atas nama kebencian agama seakan menjadi hal biasa. Belum hilang duka atas meninggalnya lima orang anggota POLRI di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, aksi teror bom kembali mengejutkan kita pada Minggu pagi, 13 Mei 2018. Teror bom kali ini terjadi pada tiga Gereja di Surabaya, Jawa Timur, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Teror bom ini menelanan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di antaranya jemaat anak-anak.

Aksi ini tidak hanya menimbulkan korban luka maupun jiwa, aksi ini juga bertujuan menanamkan rasa takut dalam masyarakat, mengganggu keamanan, dan mengancam kehidupan berbangsa kita. Aksi ini adalah bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai luhur Agama yang menjungjung tinggi manusia sebagai makhluk Tuhan yang terbaik. Aksi ini sesungguhnya menegasikan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Aksi ini adalah seburuk-buruknya tindakan, walaupun para pelaku meyakini bahwa mereka melakukannya atas nama kebenaran yang mereka yakini.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengutuk keras aksi aksi teror atas nama apapun. Baik atas nama agama, atas nama ideology, atau atas nama keyakinan apapun, aksi-aksi teror yang mengorbankan kemanusiaan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Mengorbankan nyawa manusia tak bersalah, melukai manusia dan bahkan anak-anak tak berdosa tidak pernah menjadi ajaran agama manapun.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) juga mengajak semua orang untuk tidak pernah tunduk pada ketakutan yang menjadi tujuan dari aksi-aksi teror semacam ini. Segenap masyarakat harus bersatu padu, teguh meyakini kebaikan yang menjadi semangat semua agama, serta tetap dalam keberanian menyuarakan dan menegakkan kebenaran melalui cara-cara yang baik dan beradab.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) menghargai dan memberikan hormat yang setinggi-tingginya pada setiap upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa, pada setiap usaha menahan diri dari menyebarkan informasi-informasi menyesatkan yang dapat berakibat kekacauan dan perpecahan. ICRP juga menyampaikan dukungan sepenuhnya kepada aparat yang berwenang untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjamin rasa aman bagi masyarakat. Masa ini adalah masa bagi kita semua anak bangsa untuk merapatkan barisan, menyatukan hati dan saling menguatkan agar kejadian seperti ini tak lagi terjadi di masa depan.

ICRP mengajak seluruh warga bangsa utk melawan semua bentuk intoleran dan radikalisme yg menjadi bibit terorisme. Jangan biarkan setiap ujaran kebencian. Jangan tolerir berbagai bentuk dakwah dan kegiatan keagamaan apa pun yg mengandung konten kebencian dan permusuhan. Sebab, agama sepenuhnya untuk kedamaian manusia.

Jakarta, 13 Mei 2018

Indonesian Conference on Religion and Peace

Musdah Mulia: Jangan Pernah Diam !

Saya sangat mengapresiasi kerja Institusi Kepolisian yang berhasil membekuk operasi teroris di Mako Brimob. Terimakasih polisi, keamanan negara dan bangsa amatlah penting. Ini adalah pelajaran penting bagi polisi agar tidak meremehkan teroris, mereka adalah penjahat luar biasa yang juga harus dihadapi dengan kekuatan ekstra.

Saya juga dengan tulus mendoakan agar para polisi yang gugur dalam tugas mendapatkan kehormatan mati syahid serta mendapatkan pahala yang setimpal dari Maha Pencipta. Demikian pula agar keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan dan juga perlindungan dari negara.

Terorisme umumnya lahir dari gerakan radikalisme, termasuk radikalisme agama. Gerakan radikalisme agama bukan hanya dijumpai dalam Islam, melainkan ada pada semua agama, hanya saja yang mengemuka di Indonesia adalah radikalisme Islam.

Radikalisme Islam tidak lahir begitu saja. Ada konteks yang melaratbelakangi dan tidak melulu disebabkan oleh satu faktor. Sejumlah faktor ikut mempengaruhi. Dimensi politik, sosial, dan ekonomi telah menjadi konteks yang signifikan dalam membaca gerakan radikalisme Islam di Indonesia.

Perubahan politik yang berimplikasi pada kebebasan berekpresi, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan perubahan tata nilai masyarakat menjadi salah satu penyebab lahirnya radikalisme, kemudian ditopang oleh cara pandang keagamaan yang sangat tekstualis dan skripturalistik. Pemahaman keislaman yang sangat dangkal, sempit dan fanatik melahirkan perilaku radikal yang selanjutnya berpotensi melahirkan aksi-aksi teror.

Sebagai warga bangsa kita semua hendaknya jangan diam, dan jangan pernah membiarkan semua bentuk perilaku intoleran, persekusi, bullying dan ujaran kebencian merajalela di tengah-tengah masyarakat. Mari bersatu, lawan semua perilaku intoleran tersebut, termasuk pemaksaan, penghinaan, kebencian, permusuhan untuk alasan apa pun. Tentu saja kita melawan semua kebatilan dan kekejian tersebut dengan cara-cara yang santun dan damai.

Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

CISForm Meluncurkan Film Animasi Religi

CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meluncurkan film animasi religi di Jakarta. Kegiatan ini adalah launching ke-2 setelah kegiatan serupa telah dilaksanakan di Yogyakarta, 3 Februari 2018. Film animasi religi CISForm yang masing-masing berdurasi sekitar 1,5 s/d 2 menit ini berjumlah 40 film. 20 film animasi religi pertama sudah dilaunching di Yogyakarta dan 20 film berikutnya diluncurkan di Jakarta ini. Film animasi religi ini merupakan komitmen CISForm untuk mengantisipasi penyebaran narasi Islamisme dan radikalisme di Indonesia. Acara ini merupakan bentuk kerja sama antara CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam peluncuran di Jakarta ini, acara diisi dengan pemutaran film animasi religi dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Ustadz H. Muhammad Nur Hayid sekalu tokoh ulama dan Dhania selaku returnee Syiria. Kegiatan ini dihadiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan akademisi, yang dibuka langsung oleh Dr. Muhammad Wildan selaku Direktur CISForm.

CISForm adalah salah satu pusat studi dan penelitian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kosen dalam menangani fenomena radikalisme melalui pendekatan yang lunak/moderat. Studi terbaru menunjukkan bahwa rata-rata kebiasaan membaca kaum muda di negara Indonesia ini kurang dari 10%. Menariknya, media sosial online lebih dipilih menjadi alternatif yang cukup efektif untuk mendapatkan isu-isu update terkini. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa banyak pemuda akhir-akhir ini yang lebih suka memilih akses mudah ke gadget dan internet dalam mencari dan memperlajari segala hal termasuk dalam belajar ilmu agama. Maka dari itu CISForm berupaya menggunakan animasi sebagai sarana yang mudah dan fleksibel untuk menjangkau kaum muda.

CISForm menyadari bahwa tidak bisa dipungkiri arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, paham extremisme dan radikalisme menyebar dan berkembang dengan pesat. Media sosial merupakan media paling rawan untuk penyebaran ideologi ultra-konservatif seperti ISIS. Gerakan-gerakan ultra-konservatif tersebut menyebarkan ideologi (propaganda) mereka khususnya ke generasi muda dengan narasi-narasi extremism dan radikalisme. Berdasaran pengamatan dan penelitian CISForm, ideologi yang dikembangkan oleh gerakan-gerakan extremism adalah seputar narasi hijrah, jihad, khilafah dan intoleransi. Oleh karena itu, CISForm berusaha untuk menangkal perkembangan ideologi ultra-konservatisme tersebut dengan membuat film animasi religi yang menarik yang berisi pesan-pesan Islam moderat yang rahmatan lil’alamin.

Harapannya, melalui animasi religi ini mampu menjadi counter-narratif yang efektif bagi kalangan muda yang familiar dengan sosial media, dan mudah untuk disebarkan melalui youtube, facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Dengan demikian mampu diharapkan dapat berkontribusi dalam mengarusutamakan pemahaman Islam moderat yang rahmatan lil’alamin di kalangan muda, sekaligus menjadi sebagai wacana tanding (counter violent extremism) untuk meredam propaganda ideologi radikalisme di Indonesia melalui pesan-pesan yang dikemas dalam bentuk animasi yang menarik, dan menghibur.

Untuk dapat menikmati film-film animasi hasil karya CISForm, cukup menonton melalui kanal Youtube Cisform Uinsuka.

Ketua BNPT, Suhardi Alius, Sumber: Merdeka.com

Tidak Terduga, Ternyata 5 Daerah Ini Punya Potensi Radikal Tinggi

Jakarta, ICRP – Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) baru-baru ini meluncurkan sebuah hasil survei yang mencengangkan. Survei yang dilakukan BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi tersebut mengungkapkan ada lima daerah yang berpotensi menjadi basis radikalisme di Indonesia.

”Ada lima daerah yang tidak kita duga sebelumnya, ternyata potensi radikalnya cukup tinggi,” kata Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius saat membuka seminar hasil survei nasional daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme di 32 provinsi di Indonesia 2017, di Jakarta, kemarin.

Kelima daerah itu, yakni Bengkulu, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Kalimantan Utara. Suhardi menegaskan survei nasional ini menguji beberapa variabel yang bisa dijadikan sebagai daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme, baik dalam dimensi pemahaman, sikap, maupun tindakan. Variabel-variabel tersebut yaitu kepercayaan terhadap hukum, kesejahteraan, pertahanan dan keamanan, keadilan, kebebasan, profil keagamaan, serta kearifan lokal.

Dia menjelaskan, dari hasil survei yang melibatkan sebanyak 9.600 responden ini, terlihat sudah cukup memprihatinkan. Apalagi angka yang perlu di waspadai, yaitu angka 58 dari rentang 0-100.

”Artinya, memang paham (radikal) itu dengan seiring kemajuan teknologi informasi digital yang luar biasa, ternyata banyak sekali pengaruhnya. Dan itu banyak sekali variabelnya. Oleh sebab itu, de ngan melihat data hasil survei kita butuh peran serta dari 34 kementerian/lembaga terkait,” jelasnya.

Kepala BNPT, Suhardi Alius.

BNPT Rekrut Anak Muda Menjadi Duta Perdamaian

Purwokerto, ICRP – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, merekrut anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk menjadi duta damai. Menurutnya, anak muda harus menyampaikan pesan damai dan menangkal radikalisme dengan berbagai cara terutama melalui sosial media dan internet.

Suhardi menuturkan, saat ini anak muda yang direkrut sudah ada di delapan kota di Indonesia. Dan kota-kota lain akan menyusul kemudian.

“Duta damai sudah kita gelar di delapan kota. Seluruh Indonesia. Kita ambil blogger dan netizen yang punya follower banyak. Kita didik mereka. Per kota bisa sampai 60 orang, dari sekian ratus, kita padatkan. Seluruh Indonesia akan kita buat seperti itu,” kata Suhardi Alius di Purwokerto, Selasa (22/8/2017), seperti dilansir KBR.

Setiap kota nantinya akan ada 60 orang pemuda yang akan menjadi agen perdamaian. Suhardi menegaskan saat ini penyebaran paham radikal banyak menyasar anak muda. Karena anak muda adalah masa pencarian identitas.

“Yang akan menjadi sasaran brainwash itu anak muda. Merekalah yang akan dikedepankan untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa-bahasa mereka. Anak muda ini, pemakai medsos baru, sangat rawan terkena radikalisme karena idealismenya sedang bangkit. Mereka masih mencari identitas, dan knowledge. Makanya knowledge ini harus dipadukan dengan moral,” kata Suhardi Alius.

BNPT yakin anak muda dapat diandalkan untuk mengimbangi konten radikal yang ada di dunia maya. Karena sosial media dan internet sangat dekat dengan anak muda.

Suhardi menambahkan saat ini terjadi pergeseran model rekrutmen terorisme di Indonesia. Dia menyebut, jaringan teroris menggunakan media sosial untuk menanamkan paham-paham radikal kepada pengguna internet Indonesia.

Hal itu, kata Suhardi, bisa dilihat dari makin maraknya konten radikal yang bertebaran di internet, termasuk melalui blog atau website. BNPT kini memiliki tim yang khusus mengawasi pergerakan radikal di dunia maya. (KBR)