Pos

Pemikiran Musdah Mulia

Pada tayangan Cokro TV yang di publish pada tanggal 10 November 2020 pada channel Youtube CokroTV. Ade Armando sebagai host pada acara tersebut mengobrol dengan Musdah Mulia yang merupakan Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Melalui tayangan tersebut saya hendak menuangkan dalam tulisan ini dan menganggap sebagai Pemikiran Musdah Mulia.

Bagi Musdah Mulia, interpretasi terhadap teks-teks suci, terhadap Qu’ran ataupun hadist-hadist selalu terbuka, karena interpretasi adalah ciptaan manusia. Sehebat apapun seseorang melakukan interpretasi akan ada celah-celah yang mungkin sudah tidak relevan.

Menurut Musdah Mulia, interpretasi yang ada pada masyarakat hari ini adalah interpretasi yang dibuat para ulama pada abad ke 9M, Islam turun pada abad ke 7M, dan Ia sangat mengapresiasi hal itu dengan luar biasa. Namun interpretasi tersebut kemudian dianggap masyarakat sudah tidak bisa diubah lagi. Padahal kondisi sosial, politik yang dihadapi umat Islam atau Ulama-Ulama pada abad tersebut berbeda dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya yang dihadapi masyarakt kita di abad ke-21 ini.

Musdah Mulia menggangap bahwa para ulama terdahulu melalui interpretasi yang mereka lakukan telah menetapkan landasan bagi bangunan peradaban Islam. Tapi kemudian, Ia mempertanyakan apa kontribusi kita, manusia yang datang sesudah itu? Ia terus mencari, kontribusi apa yang bisa ia berikan. Oleh karena itu ia mencoba untuk terbuka dan melihat kembali, dan melakukan pembacaan yang berulang, lalu kemudian mengemukakan.

Ali bin Thalib mengatakan teks-teks Qu’ran, teks-teks hadist itu bisu tergantung siapa yang membacanya. Karena itu sekarang mari kita membangun sebuah kecerdasan. Dimana Musdah Mulia selalu mengajak untuk melakukan penguatan literasi agama. Kenapa Al-Qu’ran itu dimuali dengan Iqro, kata-kata Iqro bukan sekedar membaca atau menulis. Musdah melihat Iqro itu berarti membaca, mengerti, memahami, lalu kemudian menghayati, dan mengambil pesan-pesan moral yang ada dibalik ayat-ayat itu untuk diimpelementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Islam bagi Musdah Mulia telah membuka mata peradaban  bahwa perempuan itu adalah makhluk mulia yang juga harus diperlakukan sebagai subjek dan Islam datang membawa pesan-pesan kesederajatan, kesetaraan semua manusia.

Sayangnya, saat ini agama bukan membuat kita lebih wise tapi agama sering diperjualbelikan untuk kepentingan-kepentingan kapitalistik, kepentingan-kepentingan politik identitas, dsb.

Beragama itu seharusnya lebih mengedepankan hati nurani, karena itulah yang disebut dengan takwa. Rasa beragama harus dibangun dengan kasih sayang dan cinta kasih.

Dalam tayangan tersebut Musdah Mulia banyak bercerita yang kemudian banyak pesan yang jarang terungkap di masyarakat, beberapa diantaranya seperti berikut:

Nabi Muhammad ketika datang ke Thaif untuk berdakwah, masyarakat Thaif meresponnya dengan kekejian, melempari dia dengan batu, dsb. Lalu Malaikat Jibril turun mengatakan “Kamu mau saya timpakan azab kepada masyarakat Thaif yang memperlakukan kamu secara keji? Saya bisa mengangkat gunung-gunung disekitar sini untuk ditimpakan kepada mereka.” Tetapi Rasulullah tidak mau penyelesaiannya dengan kekerasan. Rasulullah mengatakan “Jangan, jangan melakukan itu! Saya tidak ingin mereka itu ditimpakan azab karena saya masih percaya bahwa generasi mereka nanti akan menerima dakwah Islam.”

Kenapa sikap rasul yang anti kekerasan ini tidak menginspirasi kita? Tidak mesti juga menyelesaikan masalah dengan kekerasan, saya selalu ikut pada Rasulullah. Seperti ini yang tidak banyak terungkap di masyarakat kita.

Di dalam Qu’ran ada larangan menikah dengan orang kafir, larangan menikah dengan orang-orang musrik, tidak ada yang mengatakan larangan menikah dengan orang beda agama. Cuma diinterpretasi bahwa yang dimaksud dengan kafir adalah beda agama, ini problem besar buat saya.

Seorang sahabat saya almarhum Prof. Harifuddin Cawidu dalam disertasinya, beliau menemukan kafir dalam Al-Qu’ran mempunyai 48 makna. Pertanyaannya kenapa dibawa-bawa ke beda agama? Arti kafir dalam Bahasa inggris itu cover yaitu menutupi. Bagi saya orang kafir adalah orang yang tertutup hatinya dari kebenaran, bagi saya koruptor adalah kafir yang betul-betul kafir, nyata kafirnya, karena itu saya setuju orang tidak menikah dengan kafir.

Jangan-jangan kita, saya, sudah kafir!

Tidak mensyukuri nikmat Tuhan itu kafir, karena tertutup hati kita untuk bersyukur kepada nikmat-nikmat Tuhan.

-Admin

Menghayati Semangat Tenggang Rasa yang Diajarkan Oleh Semua Agama

Pemerintah Republik Indonesia telah menerima Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (HAM) namun kebebasan masih belum bisa dinikmati sepenuhnya oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Hanya dengan kebebasan beragama yang penuh dan utuh, keberagaman yang tulus akan bisa dihayati dan mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Segala bentuk pemaksaan, kentara maupun terselubung, hanya akan melahirkan kemunafikan dan kepura-puraan.

Salah satu alasan mereka yang keberatan dengan kebebasan beragama yang penuh dan utuh itu adalah bahwa kebebasan beragama di Indonesia berdasarkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, hal tersebut menyiratkan suatu pemikiran bahwa agama atau paham yang tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak memperoleh tempat di negeri ini. Pemikiran ini jelas tidak dianut oleh pendiri Republik Indonesia. Alasan lain adalah bahwa ide tentang HAM agaknya bernuansa barat yang lebih menonjolkan aspek kebebasan untuk masyarakat timur, dengan sendirinya bangsa dan masyarakat Indonesia lebih mendahulukan kewajiban.

Hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan. Ketika diperjuangkan hak kebebasan memeluk agama yang kita yakini maka pada saat yang sama kita dituntut untuk memenuhi kewajiban untuk menghormati bahkan membela kebebasan orang lain untuk memeluk agama yang mereka yakini. Hak lahir sebagai imbalan kewajiban dan sebaliknya kewajiban muncul sebagai imbalan hak.

Untuk melengkapi ide yang terkandung dalam HAM kita perlu menghayati semangat tenggang rasa yang diajarkan oleh semua agama. Prinsip itu dikenal dengan “Golden Rule” atau “Undang-undang Emas”. Esensi prinsip yang ditekankan oleh berbagai agama, dalam berbagai ungkapan, akan tetapi esensinya sama. Berikut adalah kutip ungkapan dari berbagai agama yang diterima Undang-undang Emas :

Baha’I : Jangan anggap siapapun yang kalian tidak ingin anggapan itu ditujukan kepada kalian sendiri. Diberkatilah orang yang menyukai saudaranya lebih dari dirinya sendiri. (Baha’ullah)

Buddha : Jangan sakiti orang lain dengan cara apapun yang kamu sendiri merasakan rasa sakit. (Undana-Verga 5:18)

Hindu : Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang menyebabkan rasa sakit kalau hal itu dilakukan padamu. (Mahabhrata 5:1517)

Islam : Tidaklah beriman salah seorang dari kamu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. (Al-Hadits)

Jain : Dalam bahagia dan sengsara, dalam suka dan duka, kita harus menghargai semua makhluk sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri. (Lord Mahavira, Trithantara ke-16)

Kong Hucu : Jangan lakukan terhadap orang lain yang kamu sendiri tidak ingin orang loain melakukanya kepadamu. (Analects 15:23)

Kristen : Segala sesuatu yang kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7:12)

Shinto : Hati seseorang di hadapanmu adalah nagaikan sebuah ermin. Pandanglah perwujudanmu sendiri di situ. (Kojiki Hachimin Kasuga)

Sikh : Tak seorangpun musuhku, taka da orang asing, setiap orang sahabatku. (Guru Arjan Dev.: AG 1299)

Tao : Anggaplah keuntungan tetanggamu sebagai keuntunganmu sendiri, dan kerugian tetanggamu adalah kerugianmu sendiri. (Tai Shang Kan Ying P’ien)

Yahudi : Apapun yang menyakitkanmu janganlah lakukan terhadap orang lain. (Talmud, Shabbat 31a)

Zarasustra : Apapun yang tidak enak untuk dirimu jangan lakukan pada orang lain (Shayastna-Shayat 13:29)

Apabila penganut agama menghayati norma dan nilai yang terkandung dalam Undang-undang Emas, maka perwujudan ide HAM secara penuh dan utuh tidak akan menyebabkan keretakan social diantara penganut berbagai agama dan kepercayaan.

Sumber : Buku “Djohan Effendi – Pluralisme dan Kebebasan Beragama”

Sejumlah tokoh agama berdoa bersama dalam acara Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober 2017

Pemuda Lintas Iman dalam Pentas Seni dan Doa Damai

Jakarta, ICRP – Memperingati Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober lalu Komunitas Sant Egidio bekerjasama dengan Komisi HAAK KAJ dan ICRP menyelenggarakan doa damai di pelataran Universitas Atma Jaya, Jakarta. Kegiatan ini sebagai momentum meneruskan pesan dari Fransisikus Asisi untuk membangun dialog dan doa, mempromosikan rasa saling memahami diantara agama dan budaya yang berbeda-beda.

Tahun ini peringatan hari perdamaian tersebut dimeriahkan dengan pentas seni, penyampaian pesan damai dan diakhiri dengan  penyalaan lilin dan deklarasi damai lintas iman. Hadir beberapa tokoh lintas iman dari ICRP yakni Ulil Abshar Abdalla, Engkus Ruswana(penghayat), Suryani(Khonghucu), Balwant Singh(Sikh), Pedande Mangku Nyoman Sutisna(Hindu) dan Bhante Bhadrauttama(Budha).

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Dalam orasi pesan damai, Ulil mengatakan bahwa saat ini kita sedang menyaksikan kekuatan gelap bergentayangan. Agama dijadikan alat bukan untuk menyebarkan perdamaian dan cinta kasih tapi pemecah belah. Kita percaya bahwa Tuhan kita dalam sebutan yang berbeda memiliki kasih sayang. Agama adalah jembatan yang menghubungkan satu sama lain bukan tembok penghalang. Walau kekuatan gelap ada dimana-mana, kita tidak boleh putus asa. Kita bisa membangun komunitas dan membangun kebersamaan. Semoga inisiatif komunitas Sant Egidio bisa menyumbang langkah-langkah kecil menuju tujuan besar, modus vivendy.

Romo Wahyu Kristian dari Keuskupan Agung Jakarta, “ Saya mengajak kita semua dan umat katolik secara khusus untuk mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara kita dan pemersatu. Tahun lalu umat katolik merenungkan Allah yang maharahim dengan berbagi kepada sesama. Tahun ini amalkan Pancasila makin adil makin beradab terhadap diri sendiri, sesama dan alam sekitar. Tahun depan persatuan indonesia kita bhinneka kita indonesia. Kita bersyukur berada di negara tercinta ini. Pada kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk menjadi pembawa damai. Menggaungkan Harmoni nada dalam kehinnekaan.”

Sementara Pak Engkus Ruswana dari penghayat mengatakan bahwa Ada unsur Tuhan dalam diri manusia, ini yang mesti dihidupkan. Tuhan sudah menciptakan manusia lengkap dengan bekal hidup. Bicara kebhinekaan berarti bicara diri saja. Tuhan sudah mencontohkan kehadirannya dalam diri kita. Kita punya alat indra dengn keunikannya.  Bila alat indra tidak saling damai apa yang akan terjadi. Begitu juga dengan pergaulan kita. Unsur alam begitu juga. Alat untuk mengukur kedamaian ada dalam diri kita, dalam kepercayaan apapun unsur Tuhan sudah ada. Penghayat kepercayaan juga beragam tapi kami rukun saja. Tidak ada dalam sejarah, agama luar yang datang dihambat oleh keyakinan lokal itu bukti ajaran kami menerima ajaran luar dan rukun.

Turut memeriahkan pentas seni perwakilan kaum muda lintas iman seperti GAMKI(Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), FMKI KAJ(Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta), Komunitas Cikini, Komunitas Agama Sikh, mahasiswa Universitas Indonesia. (Lucia Wenehen)

[:id]Pengungsi dan Kebencian Kita[:]

[:id]Ahmad NurcholishOleh: Ahmad Nurcholish

Jumlah pengungsi Aceh-Singkil mencapai 5.000-an orang. Bahkan ada yang menyebut 6 – 7 ribuan orang. Berapapun itu kita boleh sepakat bukan jumlah yang sedikit. Sangat banyak. Mereka adalah jemaat dari puluhan gereja yang beberapa waktu lalu diluluhlantahkan oleh massa yang tak bertanggungjawab.

Ini adalah potret nestapa di negeri ini betapa tak kunjung sirna. Mengungsi di negeri sendiri. Tiadanya rasa aman masih menggelayuti sebagian penduduk negeri.  Lalu ke manakah jaminan rasa aman itu? Kemanakah aparat Negara kita? Dan yang lebih penting lagi adalah mengapa kita harus “mengusir” sebagian saudara-saudara kita dengan lebih dulu membakar rumah ibadah mereka?

Pertama, hidup aman adalah hak setiap orang. Ini dijamin oleh kosntitusi (UUD 45; UU HAM). Nyatanya itu belum terealisasi sepenuhnya. Ironinya Negara bahkan kerap menjadi sponsor utama atas tiadanya rasa aman tersebut. Negara abai. Absen dalam setiap tragedi kemanusiaan yang (kebetulan?) berada di zona agama/kepercayaan (?).

Kedua, aparat Negara nampaknya masih dan selalu “tunduk” apa kata “mayoritas”. Negara tidak tegas, (atau bahkan mungkin tidak paham), bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan menjadi hak bagi setiap warga. Itu tidak bisa dikurangi dan diintervensi sedikit pun oleh siapapun.

Ketiga, tiadanya ijin tidak bisa dijadikan alasan untuk merobohkan dan membakar rumah ibadah. Sulitnya mengurus perijinan seharusnya tidak terjadi. Negara harus memfasilitasi umat apapun jika mereka mengalami hal itu. Bukan malah menyeponsori adanya tindakan keji: membakar rumah ibadah.

Keempat, alasan bagi mereka yang dengan semangat “jihad” membakar gereja karena gereja-gereja tersebut tidak ada ijin hanyalah pembenaran semata. Apakah mereka tidak mengaca diri, ada berapa ratus bahkan mungkin ribuan  masjid atau mushola yang tak berijin? Karena itu tiadanya ijin tidak bisa dijadikan landasan untuk mengenyahkan sebuah rumah ibadah.

Kelima, mungkin kita harus jujur pada diri sendiri. Benarkan orang-orang yang membakar rumah ibadah itu, entah itu gereja, masjid, vihara, dan sebagainya, hanya karena tiada ijin semata?

Jangan-jangan mereka  membakarnya karena sentiment saja. Mereka  tak pernah rela ada rumah ibadah umat lain berada di tengah-tengah komunitas kita. Mereka menganggap keberadaan rumah ibadah tersebut mengancam keimanan atau aqidah mereka dan anak-cucu mereka.

Itu yang menurut saya memprihatinkan. Bagaimana bisa merasa terancam keimanannya lalu menyalahkan keberadaan orang lain? Mestinya justru kembali belajar untuk memperkuat keberagamaan dan keberimanan masing-masing. Dengan begitu sebanyak apapun rumah ibadah yang bukan rumah ibadah kita tak akan mengganggu sedikit pun bagi (keyakinan, keimanan, aqidah) kita.

Jadi menurut saya, sejumlah peristiwa pembakaran rumah ibadah di beberapa tempat itu sangat boleh jadi karena kita masih sulit menerima keberadaan “orang lain” (the others) di lingkungan kita. Keberadaan mereka yang berbeda selalu diposisikan sebagai ancaman.

Padahal, bagi yang Muslim misalnya, Tuhan sengaja menciptakan kita berbeda: bersuku, berbangsa, bahkan berbeda agama, bukan untuk saling mencaci, bukan saling untuk saling membenci, melainkan untuk saling mengenal.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Ayat tersebut jelas sekali bahwa keberadaan kita yang berbeda itu agar kita saling mengenal, li ta’arafu. Dalam bahasa Arab, li ta’arafu disebut sebagai fi’il ‘amar, kata perintah. Maka implementsinya adalah aktif bukan pasif. Bagaimana caranya?

Jadi kalau saya punya tetangga beragama lain dengan saya, maka saya tidak sekedar tahu apa agamanya. Akan tetapi juga harus tahu kapan mereka beribadah, merayakan hari besarnya, di mana dan seterusnya. Sehingga ketika mereka membutuhkan rumah ibadah atau tempat untuk beribadahnya seharusnyalah kita membantunya. Bukan malah menghalang-halanginya.

Oleh karena itu aksi-aksi pembakaran rumah ibadah karena masih adanya rasa benci di dalam hati kita. Benci karena tak terima dengan keberadaan orang lain yang berbeda. Dan itu berarti benci terhadap sunnah Allah, yakni kesengajaan Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Lalu sampai kapan?

Mari kita sama-sama belajar kembali ajaran agama kita masing-masing. Adakah dalam agama mengajarkan kebencian, keharusan mengenyahkan rumah ibadah orang lain? Jika tidak ada maka selama ini kita keliru. Tetapi jika ada agama yang mengajarkan seperti itu, maka kita harus berani mengambil sikap: tinggalkan agama tersebut!

Ahmad Nurcholish, Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Pengajar Pesantren Nusantara, Depok-Jabar.[:]

Ilustrasi agama dan kesepian, sumber: http://www.adrianashton.co.uk/

[:id]Agama yang Mengasingkan[:]

[:id]

Dony Anggoro

Dony Anggoro

Oleh Donny Anggoro *

Setiap zaman, agama di segala tempat menjadi masalah yang pelik sekaligus tetap hangat bagi manusia.  Di satu pihak ia dijunjung sebagai pedoman keselamatan sedangkan di pihak lain, peran agama ternyata malah memicu pertikaian.

Meretas sejarahnya, beberapa abad silam sejak ilmuwan Copernicus dan Galileo menemukan bahwa dunia bukan pusat semesta alam- bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, pemuka agama di zaman itu mendadak berang ketika gambaran Alkitab tentang alam semesta ternyata tidak akurat, seolah mereka sudah mencemari keyakinan yang telah dipercaya berabad-abad. Seusai heboh perdebatan penemuan Galileo dan Copernicus, muncul Darwin yang juga dikecam dengan teori evolusinya.

Dalam tataran internal, agama kemudian diorganisir agar mampu menjalankan misinya: kebaikan untuk manusia. Namun ketika menjadi organisasi yang notabene membutuhkan umat dan anggota, usaha untuk menambah jumlah pengikut kemudian menjadi pemicu konflik sehingga agama menjadi sebuah kenyataan yang tidak menguntungkan.

Ketika agama mulai banyak dipakai untuk kepentingan politik, para pemimpin dan pemukanya ramai-ramai dipinang partai politik sebagai “ikon” atawa “penglaris” untuk menambah jumlah pengikut. Ia kemudian menjadi kendaraan dan sarana semata yang dapat menguntungkan pihak tertentu. Tantangan yang timbul dalam organisasi agama bukan lagi untuk menambah kualitas keimanan, melainkan menambah jumlah anggotanya. Selain peran politik dengan label agama, ada pula tokoh-tokoh agama yang lantas rentan terhadap godaan seksual dan materi sampai praktik korupsi dalam bisnis donatur kaya yang dihormati organisasi keagamaan.

Sedangkan dalam industri televisi kita beredarnya tayangan religius dengan memadukan aspek mistis dan religius seperti Taubat dan Rahasia Illahi seolah-olah menunjukkan kesadaran keimanan di masyarakat sedang meningkat dengan tidak ditayangkannya lagi acara tersebut hanya pada bulan Puasa menjelang Idul Fitri. Padahal, tayangan-tayangan tersebut menjadi tren ketika para produser televisi melihat bahwa sinetron bernafaskan Islami toh bisa laku dijual setelah diproduksinya sinetron glamor adaptasi telenovela Meksiko dan cerita-cerita ala Meteor Garden. Belum lama berselang, kaum ulama di negeri ini sepertinya sedang risau bahwa “plularisme”, “sekularisme”, dan “liberalisme” akan mengalahkan Tuhan.  Karena di segala zaman persoalan agama tetap hangat digulirkan, guru besar Karl Marx, Feurbach kemudian menulis: “Agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri”.

Pertanyaan mengusik, jika benar agama sudah mengasingkan umat manusia, apakah yang sesungguhnya telah terjadi? Bukankah agama semula berasal dari Tuhan?

***

Secara logis, memang benar agama adalah ciptaan manusia. Sedangkan Dr. Franz Dahler, filsuf asal Swiss dalam bukunya Masalah Agama (Kanisius, 1970) mengatakan adalah benar agama didefinisikan sebagai hukum yang diturunkan Tuhan melalui perantaraan nabi-nabi. Sekalipun benar, definisi ini kemudian menjadi pengertian yang dangkal sehingga menimbulkan kesan jika sudah menaati semua hukum dalam agama dari Tuhan, segala persoalan sudah selesai. Padahal ketaatan tanpa keyakinan hati, tetap saja kosong. Inilah yang membuat agama dirasa telah mengasingkan manusia.

Memang agama menurut Harold S. Kushner seorang rabi asal Massachusetts, Amerika dalam bukunya Who Needs God? adalah usaha untuk mengerti dan mengontrol sesuatu yang belum diketahui meskipun semakin lama setelah memahami bagaimana dunia ini bekerja, wilayah agama menjadi kecil. Memang benar pada abad 19 dan 20 yang ditandai dengan kejayaan ilmu pengetahuan serta pencarian obyektif tentang kebenaran yang dapat diuji, iman kemudian tergantikan sehingga di dalam agama lama-lama hanya terasa seperti cerita rakyat atau khayalan saja. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ramai-ramai memilih kebenaran, melihat agama sebagai musuh kejujuran, kemajuan, dan sains.

Dalam novel masterpiece-nya yang berjudul 100 Years of Solitude sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez mengisahkan sebuah desa yang terjangkit wabah pelupa. Diawali dari penduduk paling tua, wabah tersebut mengakibatkan orang sampai lupa bahkan pada benda sehari-hari paling umum sekalipun. Seorang pemuda yang belum terjangkiti mencoba mengatasi dengan melabeli setiap  benda seperti “ini meja”, “ini jendela”, “ini sapi” dan seterusnya. Sampai pada pintu gerbang kota di jalan utama dia menuliskan tanda berukuran besar. Yang satu bertuliskan “Nama pemukiman kita adalah Macondo” sedangkan pada tanda berukuran lebih besar lagi pemuda itu menuliskan “Tuhan Ada”.

Marquez lewat novelnya seolah mengingatkan kita di abad 21 ini masih terjadi wabah penyakit lupa. Mirip dengan novel Marquez tersebut, setelah mengalami represi selama lebih dari 30 tahun, kita lalu mengalami “amnesia” kronis dengan melupakan kesalahan masa lalu. Seakan menegaskan apa yanng pernah dituliskan Marquez, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting mengatakan, melupakan adalah bentuk lain dari kematian. Dan yang sesungguhnya terjadi kita toh lupa bahwa setiap agama jika tak mau membeku harus sanggup berevolusi.

Kita memang sedang dikutuk untuk melakukannya dengan terus menerus mengulang kebodohan lantaran telah melupakan siapa pemilik kita yang sedang gusar melihat tindakan para pemuka agama beserta label-label agama yang digunakannya, yaitu Tuhan itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita beranjak untuk mulai melawan lupa? *

*) eseis, tinggal di Jakarta. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah MaJEMUK, ICRP

 [:]

Pastor Gottfried Martens menghidupkan lilin saat akan membaptis migran dari Iran, Mohammed Ali Zanoobi di Gereja Trinity di Berlin, Jerman. dailymail.co.uk

[:id]Imigran Muslim Pilih Pindah Agama Agar Dapat Suaka Jerman[:]

[:id]Berlin, ICRP – Ratusan imigran dari Iran dan Afghanistan berbondong-bondong untuk pindah agama dari Islam ke Kristen untuk mendapatkan suaka di Jerman. Meskipun tidak ada jaminan bahwa dengan memeluk Kristen akan mendapatkan suaka, namun ketika imigran keluar dari agama Islam (murtad) maka imigran akan dihukum mati oleh negara asal. Sehingga dengan alasan kemanusiaan, Jerman tidak akan mengirim imigran ke negara asal.

Hingga kini, sudah ratusan imigran yang dibaptis di Gereja Trinity, Berlin. Pendeta Paderi Gottfried Martens menuturkan, dalam dua tahun ini imigran yang memeluk kristen meningkat tajam. Awalnya sekitar 150 orang, dan kini menjadi 600 orang.

“Banyak yang yakin Kristen akan mengubah kehidupan mereka. Dan saya yakin hanya 10 persen yang mungkin akan ke gereja setelah dikristiankan,” kata Mertens seperti yang dilansir Daily Mail, Senin 7 September 2015.

Hal yang serupa juga terjadi di Gereja Lutheran di Hannover dan Rhineland. Di daerah tersebut pengungsi Iran yang memeluk Kristen pun mengalami peningkatan. Martens menuturkan, ada 80 lagi pengungsi dari Iran dan beberapa dari Afghanistan menunggu dibaptis.

Imigran yang berasal dari negara yang terlibat konflik seperti Suriah, Irak, Afghanistan dan Pakistan menjadikan Jerman sebagai negara tujuan karena di Jerman para imigran dapat hidup layak dan berprofesi seperti warga lainnya. Jumlah pengungsi yang ingin tinggal di Jerman tahun ini meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun lalu menjadi 800.000.[:]

Aktivitas Kegiatan di Sanggar Sapto Darmo. Sumber: saptadarma.org

[:id]Hendak Renovasi Sanggar, Sapta Darma Rembang Diancam Diserang[:]

[:id]Rembang, ICRP – Sekelompok orang mengatasnamakan Forum Umat Islam (FUI) Desa Plawangan mengancam akan menyerang Sanggar Candi Busono di Dukuh Blando, Desa Plawangan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Sanggar tersebut adalah sanggar penganut Sapta Darma yang sedang dalam tahap renovasi.

“Saya ditekan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Forum Umat Islam (FUI) Desa Plawangan, supaya menghentikan renovasi pembangunan sanggar. Mereka menyodorkan surat pernyataan, tapi saya menolak karena saya sudah sesuai dengan undang-undang,” kata Ketua Persatuan Sapta Darma (Persada) Kabupaten Rembang Sutrisno, seperti dilansir suaramerdeka.com.

Awalnya, Rabu, (2/9) sekitar pukul 16.00-17.00 WIB, sekitar 30-40 orang yang mengatasnamakan FUI mengadakan musyawarah dengan pihak sanggar didampingi perwakilan Polsek Kragan, Koramil Kragan, KUA Kragan, Kepala Desa Plawangan lengkap beserta perangkatnya. Dalam forum tersebut, FUI secara keras meminta menghentikan renovasi pembangunan sanggar.

Diancam dibunuh

Ancaman yang diterima penganut Sapto Darmo Rembang tidak bisa dianggap remeh. Kelompok FUI bahkan sempat mengancam untuk menyerang dan membunuh umat Sapto Darmo setempat.

“Pihak pemerintah sejatinya sudah menjelaskan bahwa Sapta Darma dilindungi oleh undang-undang. Tapi forum umat Islam itu tidak menghiraukannya. Mereka itu pakainya “pokoke” (renovasi pembangunan sanggar dihentikan). Karena kami menolak menghentikan. akhirnya ada ancaman akan diserang dan bahkan saya mendengar sendiri ada yang ngancam akan membunuh,” tambahnya.

Provokator dari luar

Pembangunan sanggar Candi Busono sejatinya sudah sejak 2012-2013. Tahun 2012 pernah ada penolakan sehingga berpindah lokasi ke tempat sekarang. Pembangunan sanggar ini sudah dilakukan selama dua tahun sejak tahun 2013, dan sebelumnya pembangunan berjalan dengan aman. Sutrisno menduga ada provokasi dari luar dibalik kejadian tersebut.

“Warga sekitar Dukuh Blando selama ini rukun-rukun saja dengan kami. Yang menolak itu bukan dukuh kami, tapi dari beda pedukuhan,” paparnya.

Karena kejadian tersebut, Sutrisno berharap pemerintah dan aparat keamanan untuk bertindak tegas terhadap oknum yang melakukan provokasi. Untuk meredam kejadian tersebut, pihaknya juga akan menghentikan sementara pembangunan sanggar tersebut. Namun upaya koordinasi dengan pengurus pusat Sapto Darmo akan dilaksanakan karena pihaknya merasa di jalur yang benar dan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.[:]