Pos

BNPT Mengajak Seluruh Tokoh Agama dan Organisasi Masyarakat Untuk Menangkal Radikalisme

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berencana melakukan pembentukan gugus tugas bagi pemuka agama dan organisasi masyarakat untuk pencegahan paham radikalisme dan terorisme.

BNPT mengajak seluruh tokoh agama dan organisasi masyarakat untuk ikut terlibat dengan tujuan agar para tokoh agama dapat memulainya dari rumah ibadah masing-masing dengan kembali mempertajam Ideologi Pancasila dan kebersamaan.

Forum ini dilaksanakan di Jakarta, tanggal 13 Agustus 2020. ICRP mendukung penuh kegiatan ini dan menyampaikan beberapa kegiatan yang dapat menjangkau anak muda yakni dengan memperbanyak ruang jumpa. Hadir pula ketua ICRP, Musdah Mulia sebagai narasumber yang berbicara tentang “Peran Perempuan Menangkal Radikalisme”.

Fungsi Gugus Tugas yang disampaikan dalam forum ini yaitu :

  • Melakukan kegiatan pencegahan di lingkungan masyarakat dalam menghadapi ancaman radikalisme terorisme sesuai dengan mekanisme masing-masing ormas keagamaan.
  • Memberikan pencerahan dan sosialisasi kepada masyarakat yang ada di lingkungan ormas masing-masing, tentang bahaya dan ancaman radikalisme, terorisme terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkala dan konsisten.
  • Meningkatkan daya tangkal terhadap proses radikalisasi di lingkungan ormas masing-masing yang meliputi lembaga pendidikan, civitas akademika, guru-guru, dan pengurus ormas Islam serta masyarakat di sekitarnya.
  • Memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah ormas masing-masing tentang pentingnya moderasi beragama, keberagaman, dan toleransi terhadap sesama bangsa Indonesia dan umat manusia.
  • Meningkatkan pemahaman terhadap masyarakat di sekitar lingkungan ormas masing-masing tentang hukum dan tatanan hidup berbangsa dan bernegara.

Forum ini sifatnya masih dalam tahap persiapan karena ini merupakan program baru dari BNPT. Forum ini akan dikukuhkan September mendatang tetapi masih menunggu perkembangan dari BNPT.

ITS Klarifikasi Soal Alumni Terduga Teroris dan Pemecatan Dosen

Menanggapi berita yang beredar terkait dugaan keterlibatan atas tindakan terorisme di Surabaya yang melibatkan alumninya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi berita tersebut di Gedung Rektorat ITS, Selasa (15/5) sore.

Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD mengatakan, pertama terduga pelaku atas nama Anton Ferdianto memang pernah tercatat sebagai mahasiswa D-III Teknik Elektro ITS pada tahun 1991. Namun, ia tercatat hanya menjalani kuliah satu tahun dan selanjutnya tidak aktif kembali. “Atas dasar tersebut bisa dikatakan dia bukanlah alumnus ITS. Kami tidak mengetahui status yang bersangkutan selanjutnya,” ujarnya di hadapan awak media.

Kemudian terduga pelaku kedua atas nama Budi Satrijo pernah tercatat sebagai mahasiswa Teknik Kimia program studi S1 tahun 1988 dan lulus pada tahun 1996. Pihaknya menjelaskan, pada masa studinya Budi tidak memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan dan normal seperti mahasiswa lainnya. Budi juga aktif dalam kegiatan berwirausaha.

“Sebagai alumnus yang lulus 22 tahun yang lalu, seluruh aktivitas yang bersangkutan tentunya di luar sepengetahuan ITS dan semua merupakan tanggungjawab pribadi masing-masing di depan hukum,” jelas Prof Joni.

Rektor ITS ini juga menjelaskan bahwa ITS memiliki seratus ribu lebih alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, dan yang aktif dalam kegiatan alumni hanya sekitar seribu orang. Sedang kedua terduga pelaku tersebut merupakan alumni yang tidak aktif di ITS. “Selama ini kegiatan yang terkait alumni, kita bekerja sama dengan IKA (Ikatan Alumni, red) ITS. IKA lah yang menentukan siapa alumni yang akan menjadi pembicara jika diundang dalam acara ITS dan kedua terduga pelaku ini tidak pernah menjadi pembicara,” ujar pria yang gemar bermain piano ini.

Sehingga pada kesimpulannya atas tindakan kedua terduga pelaku teror tersebut, Joni menegaskan bahwa ITS tidak memiliki kaitan dengan apa yang mereka lakukan setelah lulus atau tidak terlibat lagi dengan ITS.

Klarifikasi Pemecatan Dosen

Dalam konferensi pers ini, Prof Joni juga melakukan klarifikasi terkait pernyataan Menristekdikti Mohamad Nasir kepada media mengenai adanya dosen dan dekan di ITS yang dipecat karena diduga terlibat dengan gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang telah dilarang oleh pemerintah.

Dalam hal ini, Prof Joni menjelaskan bahwa sebenarnya pihak ITS saat ini masih melakukan proses penyelidikan untuk membuktikan keterlibatan para dosen tersebut. Namun, pihaknya membantah bila telah memecat ketiga dosen yang diberitakan tersebut sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

“Benar ada dugaan atas kasus tersebut dan kami sedang melakukan penyelidikan kepada mereka, namun dua dosen dan satu dekan tersebut statusnya tidak dipecat dari status PNS. Hanya kami berhentikan sementara dari jabatan strukturalnya, yang berkaitan juga masih mengajar di ITS,” jelas Joni.

Joni meyakini adanya salah komunikasi atau salah kutip dari media terkait atas apa yang dinyatakan oleh Menristekdikti tersebut. “Saya sudah komunikasikan dengan Pak Menteri (Menristekdikti, red), karena memecat seseorang dari status PNS-nya itu tidak mudah. Kita harus memeriksa pelanggaran tersebut, mengacu pada pelanggaran apa, itu harus detail,” papar guru besar Teknik Lingkungan ini.

Menurut Joni, ITS saat ini juga sudah membentuk tim Bina Khusus untuk mengaji lebih dalam terhadap dosen dan dekan ITS yang terlibat dengan HTI. Tim Bina Khusus ini terdiri dari Wakil Rektor, dari biro hukum, para wakil dekan dan beberapa ahli lainnya. “Mereka akan menyelidiki kasus ini dan akan memberikan arahan kepada saya untuk selanjutnya saya usulkan kepada Pak Menteri,” sambungnya.

Joni juga mengatakan, terkait peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ITS tidak mau diklaim sebagai kampus radikal. “Atas kejadian akhir-akhir ini juga, kami tidak mau menjadikan para mahasiswa takut untuk mempelajari agama mereka sendiri,” tutupnya.

Gerakan Warga Lawan Terorisme Digaungkan berbagai Tokoh dan NGO

Tokoh dari berbagai kalangan berkumpul hari ini (Selasa, 15/05) di Sekretariat Wahid Foundation. Mereka menilai rangkaian aksi kejahatan teror yang terjadi di Rutan Mako Brimob Depok hingga bom bunuh diri di 3 gereja Surabaya, Rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya Jawa Timur telah melampaui batas kemanusiaan. Sebanyak 31 orang yang terdiri dari anak-anak, warga dan juga aparat meninggal dunia. Apalagi, pelaku bahkan mengorbankan anak2nya sendiri dalam aksi teror itu. Tercatat lebih dari 10 orang luka-luka.

Gerakan Warga Lawan Terorisme yang terdiri dari tokoh lintas-iman, lintas-profesi (pekerja seni dan budaya, akademisi &pendidik, pekerja kemanusiaan, dll.) dan masyarakat adat mengutuk keras tindak kejahatan terorisme dan juga menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan keluarga. Gerakan Warga Lawan Terorisme menyatakan tekad bersama untuk melawan aksi terorisme yang telah menghanucurkan nilai kemanusiaan dan menyebarkan rasa ketakutan serta memecah belah bangsa, serta dalam jangka panjang dapat menghancurkan NKRI.

“Terorisme adalah nyata dan itu merupakan kejahatan kemanusiaan paling keji. Ideologi mereka sangat biadab karena membuat korbannya kehilangan nurani dan nalar sehat sehingga rela mati konyol dan bahkan menggunakan anak-anak sebagai korban.” Kata Musdah Mulia yang juga menjadi penggagas gerakan ini.

“Kita warga bangsa harus berani melawan terorisme dimulai dari keluarga. Jangan biarkan sikap intoleran dalam bentuk apa pun. Mari bersatu melawan terorisme, namun tetap dengan cara2 damai. Kekerasan tdk pernah menyelesaikan masalah”, pungkasnya.

Pernyataan Sikap Indonesian Conference on Religion and Peace Terkait Teror Bom di Surabaya, Jawa Timur

 

Akhir-akhir ini, radikalisme dan bahkan aksi teror atas nama kebencian agama seakan menjadi hal biasa. Belum hilang duka atas meninggalnya lima orang anggota POLRI di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, aksi teror bom kembali mengejutkan kita pada Minggu pagi, 13 Mei 2018. Teror bom kali ini terjadi pada tiga Gereja di Surabaya, Jawa Timur, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Teror bom ini menelanan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di antaranya jemaat anak-anak.

Aksi ini tidak hanya menimbulkan korban luka maupun jiwa, aksi ini juga bertujuan menanamkan rasa takut dalam masyarakat, mengganggu keamanan, dan mengancam kehidupan berbangsa kita. Aksi ini adalah bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai luhur Agama yang menjungjung tinggi manusia sebagai makhluk Tuhan yang terbaik. Aksi ini sesungguhnya menegasikan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Aksi ini adalah seburuk-buruknya tindakan, walaupun para pelaku meyakini bahwa mereka melakukannya atas nama kebenaran yang mereka yakini.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengutuk keras aksi aksi teror atas nama apapun. Baik atas nama agama, atas nama ideology, atau atas nama keyakinan apapun, aksi-aksi teror yang mengorbankan kemanusiaan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Mengorbankan nyawa manusia tak bersalah, melukai manusia dan bahkan anak-anak tak berdosa tidak pernah menjadi ajaran agama manapun.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) juga mengajak semua orang untuk tidak pernah tunduk pada ketakutan yang menjadi tujuan dari aksi-aksi teror semacam ini. Segenap masyarakat harus bersatu padu, teguh meyakini kebaikan yang menjadi semangat semua agama, serta tetap dalam keberanian menyuarakan dan menegakkan kebenaran melalui cara-cara yang baik dan beradab.

ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) menghargai dan memberikan hormat yang setinggi-tingginya pada setiap upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa, pada setiap usaha menahan diri dari menyebarkan informasi-informasi menyesatkan yang dapat berakibat kekacauan dan perpecahan. ICRP juga menyampaikan dukungan sepenuhnya kepada aparat yang berwenang untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjamin rasa aman bagi masyarakat. Masa ini adalah masa bagi kita semua anak bangsa untuk merapatkan barisan, menyatukan hati dan saling menguatkan agar kejadian seperti ini tak lagi terjadi di masa depan.

ICRP mengajak seluruh warga bangsa utk melawan semua bentuk intoleran dan radikalisme yg menjadi bibit terorisme. Jangan biarkan setiap ujaran kebencian. Jangan tolerir berbagai bentuk dakwah dan kegiatan keagamaan apa pun yg mengandung konten kebencian dan permusuhan. Sebab, agama sepenuhnya untuk kedamaian manusia.

Jakarta, 13 Mei 2018

Indonesian Conference on Religion and Peace

Musdah Mulia: Jangan Pernah Diam !

Saya sangat mengapresiasi kerja Institusi Kepolisian yang berhasil membekuk operasi teroris di Mako Brimob. Terimakasih polisi, keamanan negara dan bangsa amatlah penting. Ini adalah pelajaran penting bagi polisi agar tidak meremehkan teroris, mereka adalah penjahat luar biasa yang juga harus dihadapi dengan kekuatan ekstra.

Saya juga dengan tulus mendoakan agar para polisi yang gugur dalam tugas mendapatkan kehormatan mati syahid serta mendapatkan pahala yang setimpal dari Maha Pencipta. Demikian pula agar keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan dan juga perlindungan dari negara.

Terorisme umumnya lahir dari gerakan radikalisme, termasuk radikalisme agama. Gerakan radikalisme agama bukan hanya dijumpai dalam Islam, melainkan ada pada semua agama, hanya saja yang mengemuka di Indonesia adalah radikalisme Islam.

Radikalisme Islam tidak lahir begitu saja. Ada konteks yang melaratbelakangi dan tidak melulu disebabkan oleh satu faktor. Sejumlah faktor ikut mempengaruhi. Dimensi politik, sosial, dan ekonomi telah menjadi konteks yang signifikan dalam membaca gerakan radikalisme Islam di Indonesia.

Perubahan politik yang berimplikasi pada kebebasan berekpresi, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan perubahan tata nilai masyarakat menjadi salah satu penyebab lahirnya radikalisme, kemudian ditopang oleh cara pandang keagamaan yang sangat tekstualis dan skripturalistik. Pemahaman keislaman yang sangat dangkal, sempit dan fanatik melahirkan perilaku radikal yang selanjutnya berpotensi melahirkan aksi-aksi teror.

Sebagai warga bangsa kita semua hendaknya jangan diam, dan jangan pernah membiarkan semua bentuk perilaku intoleran, persekusi, bullying dan ujaran kebencian merajalela di tengah-tengah masyarakat. Mari bersatu, lawan semua perilaku intoleran tersebut, termasuk pemaksaan, penghinaan, kebencian, permusuhan untuk alasan apa pun. Tentu saja kita melawan semua kebatilan dan kekejian tersebut dengan cara-cara yang santun dan damai.

Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

Ketua BNPT, Suhardi Alius, Sumber: Merdeka.com

Tidak Terduga, Ternyata 5 Daerah Ini Punya Potensi Radikal Tinggi

Jakarta, ICRP – Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) baru-baru ini meluncurkan sebuah hasil survei yang mencengangkan. Survei yang dilakukan BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi tersebut mengungkapkan ada lima daerah yang berpotensi menjadi basis radikalisme di Indonesia.

”Ada lima daerah yang tidak kita duga sebelumnya, ternyata potensi radikalnya cukup tinggi,” kata Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius saat membuka seminar hasil survei nasional daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme di 32 provinsi di Indonesia 2017, di Jakarta, kemarin.

Kelima daerah itu, yakni Bengkulu, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Kalimantan Utara. Suhardi menegaskan survei nasional ini menguji beberapa variabel yang bisa dijadikan sebagai daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme, baik dalam dimensi pemahaman, sikap, maupun tindakan. Variabel-variabel tersebut yaitu kepercayaan terhadap hukum, kesejahteraan, pertahanan dan keamanan, keadilan, kebebasan, profil keagamaan, serta kearifan lokal.

Dia menjelaskan, dari hasil survei yang melibatkan sebanyak 9.600 responden ini, terlihat sudah cukup memprihatinkan. Apalagi angka yang perlu di waspadai, yaitu angka 58 dari rentang 0-100.

”Artinya, memang paham (radikal) itu dengan seiring kemajuan teknologi informasi digital yang luar biasa, ternyata banyak sekali pengaruhnya. Dan itu banyak sekali variabelnya. Oleh sebab itu, de ngan melihat data hasil survei kita butuh peran serta dari 34 kementerian/lembaga terkait,” jelasnya.

Aksi tolak radikalisme dan terorisme. Sumber: liputan6.com

[:id]Radikalisme Bukan Soal Agama, Melainkan Politik[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As’ad Said Ali, menilai gerakan radikalisme muncul bukan disebabkan oleh masalah agama melainkan karena masalah politik. Gerakan radikalisme di Islam pun terjadi karena persoalan perselisihan politik.

“Radikalisme itu terkait politik, bukan terkait agama,” kata Asad dalam acara peluncuran buku berjudul Deradikalisasi karya AS Hikam di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (12/2/2016).

Dalam kesempatan tersebut, As’ad menceritakan sejarah munculnya radikalisme di Islam.  Saat itu, Sayyidina Ali terlibat konflik dengan sebuah kelompok bernama Khawarij. Kelompok tersebut mengatasnamakan agama dalam melakukan pemberontakan, padahal ada motif politik dan kekuasaan.

“Jadi masalahnya politik, bukan agama, hanya yang dipakai adalah dalil masalah agama,” ujar Asad.

Begitu juga dengan konteks radikalisme dalam konteks di Indonesia, menurut pria yang pernah menjabat sebagai Sekjen PBNU ini, gerakan-gerakan radikal juga muncul karena masalah politik. Ketika Indonesia merdeka, terjadi perdebatan panjang mengenai dasar negara, apakah akan menggunakan ajaran Islam atau nasionalis. Karena aliran nasionalis yang terpilih sebagai dasar negara, mereka yang tidak terima pun berusaha untuk memberontak.

“Yang memberontak kan turunan mereka-mereka itu juga. Itu kan politik namanya. Pesantren, NU, enggak ada yang begitu karena kita dukung negara pancasila,” ucap Asad.[:]

Ilustrasi Terorisme. Sumber: Aktual

[:id]Logika Bom Bunuh Diri Teroris[:]

[:id]Oleh: Mohammad Monib

Setelah vakum sekian waktu, kemaren di sekitaran Gedung Sarinah, kita kembali bisa menyaksikan kebiadaban kaum teroris. Membunuh manusia tanpa pandang korban dan situasi. ISIS mengaku bertanggung jawab. Yang menarik warga Jakarta menikmatinya sebagai sebuah entertainment, hiburan belaka. Bahkan muncul hasta: KAMI TIDAK TAKU TEROR.Tentu kita berduka mendalam atas korban2 yang meninggal atau pun luka-luka.

Sejak tahun 2001, kita kian akrab aksi-aksi bom bunuh diri, termasuk nama-nama pelakunya. Ada Atta dan kawan-kawannya, yang tubuhnya menjadi debu bersama pesawat dan bangunan twin tower WTC (9/11/02). Amar Latin Sani tercabik-cabik di Hotel JW Marriot dan kepala Salik Firdaus tersisa ditumpukan kursi-kursi cafe dalam Bom Bali 2. Masih banyak lagi nama dan tubuh-tubuh lain yang hancur lebur dalam bom bunuh diri Bali 1 dan Kedubes Australia. Belakangan, pasca pendudukan Irak oleh tentara kolonial Amerika, aksi-aksi model itu menjadi pilihan rakyat Irak, entah untuk melumpuhkan tentara agresor itu, atau untuk saling menghancurkan sesama rakyat negeri seribu satu malam itu. Tulisan ini, meski tetap pada genre bom bunuh diri, namun mencoba menyajikan, aksi ini memiliki logika, strategi tersendiri, dan ternyata tidak hanya dilakukan oleh pejuang muslim.

Strategi Logis Bom Bunuh Diri

Ada 2 model bom bunuh diri, termasuk motivasi dibalik fenomena yang mengerikan itu. Pertama, motivasi dan spirit pendorongnya, karena ideologi atau doktrin keagamaan. Tujuannya, karena tanah air (nasionalisme)nya dijajah yang diperjuangkannya atau karena tujuan politik lain. Pelaku yang didorong oleh ideology atau doktrin keagamaan, merupakan pemeluk agama fanatik, militan, irasional dan fundamentalistik. Bom yang membunuh Perdana Menteri India, Indra Gandhi termasuk model pertama ini. Pada model ini, dengan sedikit berbeda teleologis (tujuan akhir)nya bisa kita lihat pada kasus-kasus Bom Bali 1 & 2. Calon pelakunya, biasanya, dijanjikan kebahagiaan, keselamatan, kenikmatan surgawi dan bidadari cantik. Salik Firdaus akhirnya tertarik, dan kepalanya tersisa di tumpukan puing-puing kursi di café yang diluluhlantakkannya. Kedua, karena jalan buntu atas problem yang dialaminya. Pelakunya, stress, depresi dan frustasi. Penye-babnya karena tekanan ekonomi atau karena keterasingan diri (alienasi).

Yang menarik, Robert Pape, professor ilmu politik di Universitas Chicago melakukan riset mendalam aksi-aksi bom bunuh diri ini. Dalam buku hasil risetnya, Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism (2005), dengan detail, Pape menyajikan data, angka dan motivasi serta tujuan aksi yang sangat mengerikan ini. Riset Pape dilakukan kepada, semacam responden, 3145 kasus bom bunuh diri di seluruh dunia antara 1980-2003.

Model umum yang dilakukan adalah para teroris membawa bom ditubuhnya dan menabrakkan mobil atau pesawat, seperti dalam kasus menara WTC Amerika yang menghebohkan dunia itu. Intinya, model ini, pelakunya membunuh dirinya sendiri seraya menimbulkan korban, bahkan membunuh target sebanyak mungkin, sesuai pesan yang ingin disampaikannya. Korbanya, bisa masyarakat sipil yang tidak terkait dengan urusan politik, bahkan sebetulnya menentang aksi-aksi politik pemerintahnya. Sebagai contoh, tidak semua orang Australia atau Amerika mendukung, bahkan menolak agresi politik Amerika di Irak, atau dukungan Bush terhadap pencaplokan berkepanjangan bumi Palestina oleh Israel.

Riset Pape menemukan, pelopor aksi bom bunuh diri di era modern adalah pejuang Hizbullah, Lebanon. Aksi-aksi pejuang muslim ini menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok perjuangan dengan kekuatan kecil seperti aktivis Macan Tamil di Sri Langka. Meski tidak memiliki doktrin agama sekuat kelompok Islam, ternyata hasil riset ini menunjukkan, justru inilah kelompok separatis yang paling banyak melakukan aksi bom bunuh diri. Macan Tamil beraliran Marxis-Leninis, kebanyakan aktivisnya berlatarbelakang keluarga beragama Hindu. Karenanya, aksi bom bunuh diri tidak sebagaimana yang kita duga: selalu dilakukan oleh fundamentalis atau militan Islam.

Detail data riset Pape sebagai berikut: Macan Tamil melakukan; 76 kali, Hamas 54 kali, Jihad Islam 27 kali serangan bom bunuh diri. Menariknya, Pape juga mengkomparasi aksi-aksi bom bunuh diri dalam kalangan Muslim sendiri. Hasilnya: kalangan Muslim sekuler seperti Partai Buruh Kuridistan (Tuki), Front Rakyat Pembebasan Palestina, Brigade Syahid al-Aqsa Palestina melakukan sepertiga lebih banyak aksi-aksi bom bunuh diri Muslim fundamentalis.

Perlu kita ketahui, tidak semua pejuang Palestina beragama Islam. Kalau bukan agama, apa pendorongnya? Menurut Pape, motivasinya bersifat sekuler, misalnya, perjuangan pembebasan tanah air. Artinya dorongan nasionalisme. Sejak kapan fenomena ini menjadi pilihan kelompok perjuangan itu? Menurut Pape, Hizbullah baru melakukan aksi ini setelah invasi Israel ke Libanon pada tahun 1982. Macan Tamil melakukannya sejak tahun 1987, saat militer Sri Langka menginvasi wilayahnya. Kelompok Palestina baru aktif saat tentara pendudukan Yahudi menduduki Tepi Barat pada tahun 1980-an. Yang pasti, untuk kasus rakyat Irak, aksi-aksi bom manusia meningkat tajam sejak invasi kolonial Amerika tahun 2003. Sebelumnya tidak ditemukan, baik pelakunya kaum Sunni ataupun

Pape menandaskan bahwa aksi-aksi di atas menyatu pada tujuannya yang bersifat sekuler dan strategis. Yaitu memaksa negara-negara demokratis modern yang kolonialis menarik kekuatan militernya dari daerah-daerah yang dikuasainya. Misalnya AS dari Semenanjung Arabia, Israel dari Palestina atau Rusia dari Chechnya.

Ada 3 pola besar yang diungkap oleh Pape: pertama: 301 dari 315 aksi-aksi terror itu sebagai kampanye terorganisir kepentingan politik dan militer. Kedua, objek aksi adalah negara-negara demokratis (AS, Perancis, India, Israel, Sri Langka dan Turki).

Pesannya adalah rakyat di Negara-negara itu berpartisipasi menekannya pemerintahannya mengubah politik luar negerinya dan menarik mundur pasukannya. Ketiga, semua aksi itu mencapai tujuan strategis, yaitu mempertahankan kedaulatan dan nasionalismenya. Karenanya, dalam riset Pape, aksi-aksi ini diklasifikasi menjadi 2 bentuk: aksi bunuh diri sebagai pelarian diri karena alienasi dan problem (egoistic suicide) dan aksi bunuh diri karena tujuan yang lebih besar (altruistic suicide). Adakah peran agama dalam aksi-aksi? Pape meletakkan agama—sebagaimana umumnya—sebagai “alat” dalam rekruitmen calon-calon “syahid” bom bunuh diri dan alat propaganda mencari dukungan dari luar negeri. Ingat, Salik Firdaus, direkrut oleh jaringan Dr.Azhari dan Nordin M.Top dengan memanfaatkan doktrin agama berupa janji-janji kebahagiaan surgawi dan bidadari cantik.

Syahidkah?

Seperti klasifikasi Pape di atas, ada egostic suicide dan altruistic suicide. Bagaimana kita mengidentifikasi posisi hukum keagamaannya? Syahidkah mereka itu? Yang kita ketahui, pelaku bom bunuh diri semodel pejuang Palestina, di Timteng disebut para “syuhada” (martyrdom). Mati terhormat, karena merelakan diri mati membela kebenaran hak bernegara. “Mereka yang mati dalam perjuangan ini akan langsung dikirim ke surga”, demikian salah satu bunyi dokumen operasi kesyahidan Palestina. Ulama terkenal dan terhormat seperti al-Tantawi dan Yusuf Qardhawi mendukung aksi-aksi kesyahidan ini. Menurut kedua ulama yang sangat otoritatif keilmuannya ini, para “syuhada” Palestina, akan mencapai puncak perjuangan dan mendapat tempat yang mulia dihadapan Allah. Karenanya, banyak pemuda, termasuk pemudi menyambut gembira fatwa dukungan kesyahidan itu. Fatawa ini tidak berlaku untuk aksi -aksi teroris di Indonesia dan dunia umumnya.

 [:]

Aksi tolak radikalisme dan terorisme. Sumber: liputan6.com

[:id]Pembiaran Intoleransi Sebabkan Terorisme[:]

[:id]Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi menyatakan, intoleransi yang terjadi di Indonesia selama kurang lebih 9 tahun ini tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Akibatnya, menimbulkan radikalisasi dan berujung pada aksi-aksi terorisme.

“Persoalan kebebasan beragama dan berkeyakinan serta intoleransi menjadi titik awal dari munculnya radikalisme dan terorisme,” katanya dalam jumpa pers Kondisi Kebebasan Beragama Berkeyakinan di Indonesia 2015 di Jakarta, kemarin.

Tidak adanya perhatian dan ketegasan pemerintah terhadap intoleransi menimbulkan anggapan pembenaran terhadap intoleransi tersebut. Hendardi mengingatkan, dalam Nawa Cita dan Rencana Pembanguan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019, Jokowi-JK berjanji akan menegakkan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

“Namun sejauh ini tidak ada bukti nyata apa yang dilakukan pemerintah, gagasan Nawa Cita gagal diter­jemahkan oleh para menteri kabinet kerja hingga para kepala daerah,” ujarnya.

Peneliti Setara Institute, Halili menuturkan, pada 2015 terjadi 197 peristiwa dan 236 tindakan pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Jumlah ini meningkat dari tahun 2014 di mana terjadi 134 peristiwa dan 197 tindakan. Dalam satu peristiwa, bisa terjadi banyak tindakan pelanggaran, misalnya kekerasan terhadap kelompok minoritas agama dilakukan dengan cara mengusir, membakar properti, hingga kekerasan fisik.

Berdasarkan sebaran wilayah, lima daerah dengan kasus pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan tertinggi adalah Jawa Barat, Aceh, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan DIY. Aktor pelaku negara antara lain, pemerintah kota/kabupaten, Kepolisian, dan Satpol PP, sementara pelaku nonnegara antara lain warga masyarakat, ormas, hingga tokoh agama.

“Sungguh ironi, aparatur negara yang harusnya melindungi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan, ternyata menjadi pelaku pelanggaran, ini mem­buktikan pengaruh Nawa Cita tidak sampai ke tingkat daerah,” sebutnya.

Halili melihat, saat ini tingkat intoleransi masyarakat Indonesia sudah luar biasa. Sedikit pemicu saja bisa menimbulkan ledakan masalah yang sangat besar. Dia mengimbau pemerintah dan masyarakat ntuk berhenti pura-pura toleran, rukun, dan menghargai perbedaan.

“Pemerintah tidak punya grand design untuk mencegah intoleransi. Kita mengingatkan isu intoleransi tidak dapat diselesaikan dengan kata-kata tapi harus tampak dalam kebijakan pemerintah,” tandasnya.

Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani menerangkan, negara adalah subjek utama dalam penegakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pihaknya terus menagih janji Jokowi-JK soal pemajuan HAM dan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Maraknya intoleransi semakin mendukung tranformasi radikalisme jadi terorisme. “Untuk menjadi teroris, orang akan mengalami radikalisasi, ini sudah tampak dari sejumlah pelaku teror,” katanya.

Pembiaran kasus-kasus intoleransi akan berujung pada kegagalan program deradikalisasi yang dibuat pemerintah. Sementara regenerasi aktor terorisme terus terjadi. “Kita perlu mendorong energi sosial antiterorisme menjadi gerakan nyata untuk mengembangkan toleransi,” imbuhnya.

Rohaniawan Romo Benny Susetyo menekankan, setiap rantai kekerasan harus diputus. Dia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan mata pelajaran pendidikan agama yang biasa mengajarkan kemajemukan dan kebhinnekaan. “Selama ini ruang publik cenderung dikuasai kelompok ekstrim, tidak ada counter ideologi,” katanya.

Pihak Kepolisian juga harus menindak tegas setiap kekerasan atas nama agama agar para pelakunya tidak merasa kebal hukum.

Dia mengajak pemerintah dan masyarakat untuk keluar dari kepalsuan dan kepura-puraan dengan terus menyatakan bangsa Indonesia rukun, cinta damai, dan antikekerasan, na­mun antikeragaman. “Kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila di semua ruang hidup masyarakat,” tandasnya.

Sumber: rmol.co[:]