Pos

Perdamaian Aktif  ala Romo Yohanes Hariyanto (Bagian 1)

Rabu, 31 Maret 2021

 

Jakarta – Romo Yohanes Hariyanto, atau biasa disapa Romo Hari, adalah Sekertaris Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Beliau adalah alumni dari Innsbruck University dengan gelar Master of Theology.

Selama masa pandemi, Romo Hari bersyukur karena kegiatan di ICRP tetap berjalan. Ia mendukung seluruh kegiatan rutin ICRP dari jarak jauh. Meskipun ia tidak selalu berada di kantor ICRP, ia tetap membantu menjalankan kegiatan ICRP dengan caranya sendiri dan mengatur arahnya akan ke mana, termasuk apa yang harus diusahakan atau perlu diusahakan terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Tahun lalu, Romo Hari melihat bahwa kegiatan yang dilakukan oleh ICRP berfokus pada pengelolaan bantuan kemanusiaan. Berbagai macam sumber dukungan yang diberikan untuk ICRP menunjukkan betapa luasnya tingkat kepercayaan yang diberikan kepada ICRP dari banyak pihak.

“Penyaluran bantuan tersebut menjadi suatu hal yang mampu menumbuhkan kesadaran diantara kita bahwa kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama,” ujar Romo Hari saat diwawancari melalui Zoom.

 

Titik Temu

Bagi Romo Hari, masalah Covid-19 menjadi fokus yang paling mendominasi di tahun 2020, sebab berada di luar keinginan dan kontrol manusia. Dari situ, Romo Hari menyatakan bahwa ternyata ICRP dipercaya oleh begitu banyak lembaga.

Kepercayaan banyak lembaga pada ICRP berasal dari komunitas agama dan juga lembaga-lembaga yang lain. ICRP dipercaya untuk menyalurkan bantuan yang sifatnya tidak hanya untuk kelompok tertentu, tapi terbuka bagi semua yang membutuhkan dengan jangkauan yang luas dan dukungan yang besar.

Pada mulanya, Romo Hari tidak membayangkan ada banyak hal positif yang terjadi saat ICRP memberikan bantuan berupa sembako. Ternyata, ada satu hal yang bisa menjadi titik temu bagi banyak orang muda untuk ikut serta dan terlibat dalam menyalurkan bantuan.

Bagi Romo Hari, keterlibatan tersebut adalah sesuatu yang harus disyukuri sebab membuktikan bahwa orang muda ternyata bukan generasi yang tidak peduli terhadap situasi yang ada di dalam masyarakat.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa orang muda bisa menjadi penggerak yang luar biasa dan bisa dipercaya. Selain itu, keterlibatan orang muda juga menunjukkan kesadaran kebersamaan dalam konteks kebinekaan tidak memerlukan teori.

Romo Hari menceritakan bahwa ia ikut serta dalam kegiatan tersebut dan merasakan adanya kebersamaan dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Ia berterima kasih sebab hal tersebut bisa terjadi dan menunjukkan bahwa anak muda ingin mengusahakan perdamaian dan kebinekaan di mana keduanya bukan hal yang mustahil, tetapi malah sudah ada.

Persoalan yang ada bukan tentang membangkitkan kebinekaan, tapi lebih mencari cara agar kebinekaan menjadi kekuatan, tidak menjadi ancaman, dan tidak disepelekan begitu saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi kekuatan. Sebab, ada banyak faktor lain yang juga menjadi unsur pemecah.

Mengelola usaha-usaha dan membantu orang-orang yang terdampak dalam konteks Covid-19 justru menjadi kekayaan. Keterlibatan orang muda muncul dan menjadi kekuatan.

 

Kekayaan Orang Muda

Saat membahas tentang kebinekaan, Romo Hari menyinggung tentang ciri khas orang muda. Baginya, orang muda bukan generasi atau angkatan atau kelompok orang yang mau menancapkan kukunya di suatu wilayah tertentu saja.

Pada prinsipnya, orang muda adalah explorer yang selalu merasa harus menjaga diri dan keluar dari dirinya sendiri. Dengan keluar dari dirinya sendiri, orang muda terpaksa bertemu dengan orang lain.

Pertemuan dengan orang lain inilah yang menyadarkan orang muda bahwa ternyata perbedaan bukanlah masalah. Selalu ada unsur pembeda. Selalu ada unsur yang menyatukan. Selalu ada titik temu.

Selain mengorganisir bantuan pada tahun 2019 sampai dengan 2021, ICRP juga menjalankan program Peace Train. Ternyata, Peace Train mempunyai multiplayer effect.

Romo Hari menjelaskan bahwa biasanya suatu kegiatan yang dilakukan hasilnya hanya dinikmati oleh yang ikut. Padahal, kesadaran akan kebinekaan dan perdamaian bukan menjadi suatu yang menakutkan, tapi menjadi suatu kekuatan bersama ketika dimiliki oleh para peserta Peace Train Indonesia.

Akhirnya, sedikit banyak orang mulai berani mengeksplor teritorial di daerah lain, padahal sebelumnya tidak terlalu tertarik dan masih takut mencoba. Tidak ada lagi kegamangan untuk keluar dari batas-batas yang sebelumnya ada.

Semua orang muda harus keluar dari daerahnya sendiri sehingga akan menemukan hal-hal baru yang memperluas cakrawala. Tentu saja hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik terutama untuk orang muda.

Ada proses secara psikologis yang berkembang saat orang muda keluar dari diri sendiri, keluarga, dan lain sebagainya. Proses yang terjadi mendobrak batas-batas. Sejak bayi, pertumbuhan manusia berkutat pada prose mendobrak batas fisik.

Mulai dari melakukan kegiatan fisik mengeksplor dirinya ketika kecil, lalu pada saat remaja mulai mendobrak batas-batasan lingkaran aman dalam keluarga, pertemanan di luar, dan lain-lain.

“Ada proses yang diulang yakni keluar dari zona nyaman masing-masing. Kita selalu hidup dalam zona nyaman. Kalau kita ingin berkembang, kita harus mendobrak zona nyaman kita lalu masuk ke wilayah  lainnya dan seterusnya.” Pesan Romo Hari orang muda.

Baca juga: Justina Rostiawati: Keberagaman Adalah Keniscayaan

Perdamaian Aktif

Perdamaian bisa dipahami secara pasif dan secara aktif. Demikian cara Romo Hari memaknai perdamaian. Orang bisa damai secara pasif dan terbenam dalam gawainya di kamar masing-masing.

Jika demikian, maka masalah yang timbul adalah perdamaian seolah-olah diterjemahkan dengan hanya tidak adanya konflik karena menganggap bahwa cara paling baik untuk mencapai perdamaian adalah mengisolasi diri.

Menurut Romo Hari, anggapan tersebut bukan ciri orang muda sebab pemikiran tersebut sejatinya tengah mengerdilkan diri orang muda. Perdamaian seharusnya diwujudkan secara aktif sebagai suatu perlindungan bersama.

Ketika orang keluar dari zona nyaman, ada risiko, “saya menemukan sesuatu yang baru” yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan baru seorang manusia. Tapi, perlu diingat bahwa ada juga risiko “saya belajar dari orang lain dan orang lain belajar dari saya”.

Ada simbiosis mutualisme yang menjadikan sesama manusia harus saling belajar satu sama lain untuk memperkaya diri masing-masing. Keluar dari zona nyaman bisa menciptakan mindest yang berbeda dengan daerah-daerah asal seseorang.

Saat seserorang yang mengambil kebaikan dan membagikannya ke orang lain, bisa jadi orang lain malah merasa dirugikan. Hal ini bisa terjadi dan menyebabkan konflik.

Dalam cara komunikasi orang muda, bisa berarti bahwa ada semangat membuka diri tetapi di dalam hati justru tidak menyerap apa yang dia dapatkan. Di sana orang muda bergaul satu sama lain tetapi menganggap orang lain lebih rendah dari dia. Hal tersebut jelas menimbulkan konflik.

Maka, berani keluar dari zona nyaman berarti harus ada satu semangat yang penting yaitu respect; menghormati dan menghargai pihak lain. Artinya, saat agama dikaitkan dengan perdamaian, agama seperti pisau bermata dua.

Agama bisa menjadi pembawa perdamaian dan sebaliknya, agama bisa menghasilkan konflik. “Jadi jangan sampai dengan sangat naif kita mengatakan, ‘Pokoknya kalau udah dengan agama, semuanya beres.’ Enggak,” tegas salah seorang pendiri ICRP ini.

Sejarah membuktikan bahwa agamalah yang justru membawa pertumpahan darah meskipun maksud kehadiran agama tidak seperti itu. Sebagai orang yang menyadari kalau di satu pihak memiliki kekayaan agama tapi di lain pihak juga mau membangun perdamaian, orang muda harus bisa melihat apa saja yang perlu diperhatikan terutama ketika agama yang satu berhadapan dengan agama yang lain.

Problem yang disebut dalam banyak dialog tersebut adalah Truth Claim yakni setiap agama mempunyai klaim kebenaran di mana masing-masing agama merasa bahwa hal tersebut adalah mutlak.

Agama mengatakan We Are The One and The Only sebagai pembawa kebenaran. Dalam konteks pemahaman filsafat, orang muda bisa melihat bahwa ada yang tidak beres. Letak ketidakberesannya adalah karena instrumen dalam agama dimutlakkan dengan ide dan gagasan agama.

Seolah-olah, instrumen tersebut sama dengan gagasan agama yang mutlak. Tuhan itu mutlak. Agama adalah instrumen. Ada banyak istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa agama adalah instrumen.

Sebagai misal, konsep Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus, dalam Islam. Jalan bukan tujuan. Konflik yang sering terjadi antaragama juga terjadi dalam konflik dalam tafsir agama itu sendiri.

Masing-masing kelompok mengklaim “kami yang paling benar” sehingga kelompok yang lain masuk neraka. Pada prinsipnya, ide dasar agama sebenarnya sudah baik. Saat diterjemahkan di dalam cara, cara yang dipakai justru diidentikkan dengan ide tentang agama.

 

Agama Food Court

Merawat agama adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan perdamaian. Pertama, cara dari internal agama sendiri yakni harus belajar untuk rendah hati. Ibarat menyewa rumah, pemeluk agama bukanlah pemilik rumah.

Artinya, manusia juga banyak menciptakan rumusan-rumusan, baik dalam bentuk kalimat dan dalam bentuk apapun yang merupakan bentuk lahiriyah tentang agama.

“Saya bisa mengucapkan kalimat syahadat dari semua agama tapi tidak mengubah keyakinan saya tentang agama saya. Apa susahnya sih mengucapkan kalimat?” tanya Romo Hari.

Saat ini, kabar tentang seseorang yang pindah agama dari satu agama ke agama yang lain selalu menjadi berita yang super besar. Hal tersebut (pindah agama) sebetulnya biasa-biasa aja.

Setiap manusia memiliki hak untuk memilih memeluk agama apa saja. Pilihan tersebut mesti dilakukan dengan baik dan dengan penuh kesadaran agar menjadi rahmat.

Kesadaran tersebut berguna untuk mengikis pilihan agama seseroang yang hanya berdasarkan apa yang sedang “in” saat ini, mana yang proyeknya lebih banyak, kerjaan terjamin, atau demi pasangan hidup. Betapa mudahnya seorang manusia loncat sana-loncat sini.

Dalam perspektif keagamaan masing-masing, orang muda harus mulai melihat dan mendalami kayaannya sendiri. Jangan sampai orang muda beragama hanya sekadar seperti berkunjung di food court saja.

Mencoba ini dan itu. Semuanya enak, semuanya baik. Pada akhirnya, banyak orang tidak mendapatkan sesuatu yang sungguh-sungguh. Agama hanya dijadikan sebatas apa yang bisa dinikmati dengan enak ala makanan di food court.

“Kita tahu kalau yang namanya makanan di food court, jangan mengharapkan yang kompleks, yang sulit dibuat, yang sungguh-sungguh mewakili suatu seller. Rasa rata-rata harganya juga yang murah-murah. Nggak mungkin mahal banget,” tutur Romo Hari memberikan perumpamaan.

 

Merawat Agama

Dalam hal merawat perdamaian dan kebinekaan, Romo Hari mengimbau orang-orang muda agara perjumpaan dengan berbagai macam agama membuat masing-masing dari orang muda mulai menggali kekayaannya sendiri, apa pun itu.

Sebab, jika seseorang memiliki sesuatu yang berharga, maka orang tersebut akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Seseorang bisa menemukan hal berharga dari orang lain. Jika seseorang tidak punya apa-apa, maka ia juga tidak akan mendapatkan apa-apa.

Selain menggali dengan dengan sungguh-sungguh kekayaan masing-masing, orang muda juga harus melihat–karena agama sebagai jalan–bahwa agama seharusnya menjadi cara untuk mencapai tujuan.

Setiap agama merumuskan tujuannya dengan berbagai macam cara dan undangan. Prinsipnya adalah bahwa sebagai seorang manusia, satu orang melalui jalan tersebut dan mau mencapai tujuan hidup. Secara sederhana, tujuan hidup tersebut harus menjadi tujuan bersama.

Romo Hari mengajukan pertanyaan: “Emangnya kamu mau masuk ke surga sendirian aja? Betapa kesepiannya berada di surga sendirian dan itu kesepian abadi. Sekarang, nggak ada wi-fi aja sudah bingung apalagi membayangkan kesepian abadi.”

Jika ingin mencapai tujuan, maka seseorang mesti menggandeng tangan yang lainnya dan berjalan bersama dengan yang lain sehingga kesadaran untuk menghormati yang lain bisa terlaksana.

Kebinekaan menunjukkan bahwa orang lain mempunyai makna bagi seseorang meskipun berbeda. Apabila setiap orang sama, hidup manusia hanya diibaratkan bertemu dengan fotokopian saja.

Orang muda harus menyadari kekayaan sendiri. Tapi, agar kekayaan berkembang, orang muda harus membuka diri dan menerima berka-berkah dari orang lain dan membagikan sesuatu kepada orang lain. Di sinilah kesadaran kemanusiaan dapat dimiliki bersama.[ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: Ahmad Nurcholish

Menuju Damai Positif

Minggu, 28 Maret 2021

 

Jakarta – Masih banyak yang memahami bahwa perdamaian adalah ketika tiadanya perang, tiada kekerasan, atau tiada konflik di tengah masyarakat. Dalam pandangan Johan Galtung, kondisi seperti itu ia sebut sebagai damai negative (negative peace). Lantas bagaimanakah damai positif itu?

Galtung mendefinisikan perdamaian negative sebagai situasi absennya konflik (conflict) dan kekerasan (violence). Dari permukaan bisa jadi ini sebuah kondisi yang menyenangkan. Akan tetapi, realitas yang sesungguhnya bisa jadi berbeda. Banyak masyarakat mengalami penderitaan akibat konflik dan kekerasan. Bahkan ketidakadilan kerap menimpa sebagian masyarakat kita.

Baca Juga : Mewujudkan Perdamaian Dunia Bisa Dimulai dari Hal-hal Kecil

Oleh karena itu, sembari menjaga kondisi damai negative tersebut, kita harus memikirkan untuk beranjak ke arah damai positif (positive peace). Perdamaian positif oleh Galtung didefinisikan sebagai absennya kekerasan structural atau terciptanya keadilan social serta terbentuknya suasana harmoni (Globalizing God, 2008: 16).

Apa yang diungkapkan sosiolog asal Norwegia tersebut senada dengan yang disampaikan Robert B. Baowollo, “si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)”. (IDEA, Maret 2011: 29).

Mengacu konsep tersebut, usaha mewujudkan perdamaian tidak hanya untuk mengurangi dan menghilangkan tindak kekerasan semata, tetapi juga adanya ikhtiar untuk mewujudkan rasa tentram, harmoni, dan damai dalam realita kehidupan social.

Paling tidak ada tiga ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai usaha menuju damai positif. Pertama, menggali kembali ajaran-ajaran perdamaian di masing-masing agama. Terlalu banyak ajaran-ajaran tersebut dapat kita ungkap kembali. Tak hanya di dalam agama-agama, bahkan juga terdapat dalam ajaran-ajaran kebijaksanaan masyarakat (local wisdom).

Islam misalnya, adalah agama perdamaian. Banyak alasan untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan, yakni; (1),  Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace). (2), salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam).(3), perdamaian dan kasih-sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya Al-Quran Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan. (2010: 329).

Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.

Pada tataran ontologis, agama manapun pada hakikatnya tidak mengajarkan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri bukan bagian integral dari agama. Agama mengajarkan sikap cinta-kasih dan keharmonisan dalam hidup.  Agama memprioritaskan cara-cara damai dan kemanusiaan dalam bersikap sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai universal agama itu sendiri.

Kedua, tradisi dialog yang sudah dirintis sejak tahun 1970-an oleh sejumlah tokoh dan cendikiawan dari berbagai agama nampaknya mesti kita lanjutkan dan kembangkan. Dialog adalah langkah pertama dari realisasi ajaran agama tentang perdamaian. Dialog pula merupakan cerminan bahwa setiap kita telah memulai membuka diri kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, dialog juga menjadi pintu masuk pertama bagi terjalin-eratnya hubungan antar umat beragama. Karena itu dialog tak hanya dilakukan atau dimotori oleh kalangan elitis saja: tokoh atau pemuka agama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat biasa dari berbagai agama dan kepercayaan. Dengan begitu dialog memiliki semangat kebersamaan yang akan memberikan sumbangan positif terhadap upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu saja. Dialog juga menjadikan ruang negosiasi menjadi sangat terbuka. Dengan begitua jika salah satu pihak atau berbagai pihak memiliki kebutuhan yang menyangkut agamanya dapat dengan mudah dikomunikasikan. Melalui dialog itulah antarumat beragama tersebut memahami kebutuhan di setiap komunikas/kelompok agama.

Ketiga, ini merupakan lanjutan dari dialog, yakni kerjasama antarumat beragama. Dialog tanpa kerjasama nyata hanya akan hubungan antaragama menjadi “editansil” (ejakulasi dini tanpa hasil) semata. Kerjasama ini tidak hanya dalam bentuk kerja-kerja social kemanusiaan belaka, seperti pembuatan posko kemanusiaan bersama atau aksi tanam pohon bersama, tetapi juga kerjasama dalam ranah yang lebih mencerminkan keseriusan adanya hubungan yang sangat baik antarumat beragama.

Salah satu contoh kongkritnya adalah saling membantu dalam mempersiapkan perayaan hari-hari besar keagamaan hingga saling membantu dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Betapa menyenangkannya jika ketika umat Kristen tengah membangun gereja, umat agama lain turuty membantunya. Begitu pula sebaliknya.

Jika ketiga hal di atas dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin kondisi damai positif akan segera dapat diwujudkan. Karena itu ini menjadi PR besar bagi semua kelompok/komunitas umat beragama. Kita harus memulainya segera. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi Kabar Damai, Deputy Direktur ICRP

In Memoriam Farid Husain: Sosok Kunci Perdamai RI – GAM

Kamis, 25 Maret 2021

 

Oleh: Gomar Gultom

 

Saya baru saja mau rebahan di kamar hotel ketika menerima kabar dari Loli J Simanjuntak: Farid Husein meninggal dunia sejam lalu di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Ah, saya baru saja tiba di Rantepao setelah seharian perjalanan panjang Makassar – Tanah Toraja.

Sayang sekali saya tak mungkin melayat, walau sedang berada di Sulsel.

Sudah lama juga tak mendengar kabar beliau.

Semula, selama bertahun-tahun saya hanya mengenalnya sebagai atasannya Loli, dan tak pernah berintetaksi dengannya. Maklum dia pejabat tinggi: Dirjen Yankes di Kemenkes. Tapi karena beliau juga Sekretaris CCM Global Fund untuk ATM, sedikit banyak saya mengikuti juga sepak terjangnya. Apalagi pada tahun-tahun ketika saya dan Loli banyak menggeluti masalah AIDS.

Interaksi saya yang intens dengan beliau justru terjadi sesudah beliau pensiun. Di sekitar 2007 beliau ditunjuk oleh SBY (Susilo Bambang Yudoyono) sebagai special envoy untuk masalah Papua. Dan oleh karena tugas saya sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia di PGI, berkali-kali kami jumpa dan diskusi tentang masalah Papua.

Komunikasi kami menjadi sangat kuat ketika beliau mengetahui saya suami Loli. Sebelumnya mereka banyak kerjasama dalam kapasitas Loli sebagai Ketua Komite AIDS HKBP yang berbasis di Balige.

Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan komitmennya sebagai special envoy tersebut. Betapa tidak, dalam usia yang sudah relatif lanjut, beliau menjelajahi pedalaman Papua.  Naik turun gunung, untuk menjumpai berbagai pihak yang bersengketa di Papua, termasuk para petinggi OPM. Mendengar kisah-kisah beliau menjumpai tokoh-tokoh tersebut berikut lika-likunya sangat menarik dan menegangkan.

Awalnya beliau sangat antusias. Dari beberapa kali pertemuan dengannya saya menangkap kesan bahwa dialog Papua dan Jakarta akan segera terwujud. Hingga pada suatu hari beliau berkata, “sepertinya usaha kita akan sia-sia”. Apa pasal?

Menurutnya SBY menyambut baik upaya yang beliau rintis, dan bersedia meneruskan langkah-langkah yang beliau rekomendasikan dalam rangka menuju dialog penyelesaian menyeluruh masalah Papua. “Ada kekuatan-kekuatan di sekitar istana yang tak suka apa yang saya kerjakan”.

Baca juga: Mengenang Nawal El Saadawi, Feminis Mesir yang Gigih dalam Berkarya

Dan tak lama kemudian, akhirnya memang Farid Husein berhenti. Saya tidak tahu apakah beliau mundur atau penugasannya diakhiri oleh SBY. Pokoknya berhenti begitu saja, sesuatu yang saya sangat sesalkan. Sejak itu saya tak pernah bertemu beliau lagi, hingga mendengar berita malam ini.

Ketika di kemudian hari, 2011, SBY membentuk UP4B dan dikomandoi oleh Letjen Bambang Darmono, dan sobat saya Amiruddin Al Rahab mempertemukan saya dengan Pak Bambang, saya sempat menyampaikan kepada Pak Bambang agar meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Farid Husein. Tapi nampaknya hal itu tak bersambut.

Strategi Farid Husein dalam mengatasi konflik adalah melakukan langkah-langkah pendahuluan berupa pendekatan personal yang cair, sebelum menghadirkan dua pihak di ruang pertemuan yang serba formal dan kaku.

Sesungguhnya penugasan sebagai special envoy untuk masalah Papua kepadanya tidaklah mengejutkan. Farid telah membuktikan diri sebagai sosok pemersiap perdamaian. Banyak penulis yang mengakui itu.

Walau namanya tidak secemerlang Jusuf Kala dan Hamid Awaludin dalam perdamaian Helsinki, Farid Husein adalah sosok kunci di balik perdamaian antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Publik memang hanya mengetahui Jusuf Kalla yang ketika itu menjabat Wakil Presiden atau Hamid Awaludin selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ketika itu. Padahal sesungguhnya, Farid Huseinlah yang mempersiapkan semua itu sehingga penandatanganan perdamaian itu bisa terjadi.

Atas jasanya dalam perdamaian itu, beliau memperoleh Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI pada 2010. Selain itu, beliau juga memperoleh Gelar Pahlawan Masa Kini, bidang Perdamaian dari Modernisiator Indonesia dan Majalah TEMPO (Tahun 2008). Pemerintah Aceh sendiri menganugerahinya dengan Gelar Bungong Jaroe Perdamaian dari Pemerintah Aceh pada 2006.

Kini Sang Perintis Perdamaian yang murah senyum itu telah tiada. Namun karyanya untuk perdamaian akan terus dikenang dunia, khususnya masyarakat Aceh.

 

Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI

5 Strategi Kemenag Atasi Diskriminasi Umat Beragama

Minggu, 21 Maret 2021

 

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa Kemenag telah memiliki lima strategi untuk mencegah munculnya konflik akibat perilaku diskriminatif.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Dialog Nasional SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah seperti disiarkan melalui channel YouTube Kabar Sejuk, Jumat (19/3).

Sebelum menguraikan 5 strategi itu, Menag menyebut bahwa dunia masa kini adalah sebuah peradaban yang tunggal. Sehingga tidak ada satu wilayah pun yang bisa mengisolasi dirinya hanya dengan satu keyakinan atau agama tertentu.

Gus Yaqut memberikan contoh. Misalnya saja sebuah negara dengan penduduk mayoritas Islam, tidak bisa mendiskriminasi penduduk non-muslim. Sebab, hal tersebut bisa diprotes oleh masyarakat di belahan dunia lainnya.

“Diskriminasi tersebut sangat mungkin dibarengi dengan pembalasan (kepada umat Islam yang menjadi minoritas di negara lain). Jadi kita bisa membayangkan, kira-kira akibat berantainya (diskriminasi) membawa dunia kepada konflik semesta tanpa masa depan,” terangnya.

Adapun kelima strategi yang telah dimiliki Kemenag itu, pertama, Kemenag akan identifikasi masalah dan mencari cara untuk mengatasinya.

“Elemen-elemen yang bermasalah dalam pandangan-pandangan keagamaan yang tidak sesuai lagi dengan konteks realitas, saat ini ini harus diidentifikasi secara akurat,” ujarnya.

Misalnya saja, pandangan agama yang mengarah pada ketakutan-ketakutan. Untuk itu, dialog-dialog yang membuat pandangan tersebut perlu ditangkal agar tidak tersebar luas.

“Artikulasi-artikulasi yang membuat pandangan-pandangan yang bermasalah tersebut dalam hemat kami perlu ditangkal, agar tidak terus menyebar menjadi semacam virus di kalangan beragama,” tuturnya.

Baca juga: Cici Situmorang: Melawan Diskriminasi dengan Menguatkan Toleransi

Kedua, harus ada resolusi konflik pada peristiwa-peristiwa diskriminatif yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Misalnya saja kejadian di Padang beberapa waktu lalu, siswi non-Muslim diminta untuk menggunakan jilbab.

“Itu seringkali dijadikan sumber pembenar untuk melestarikan pandangan keagamaan yang problematika,” ungkapnya.

“Nah (hal itu bisa terjadi) karena menurut saya, menurut hemat kami, tidak ada peraturan yang tegas yang mengatur bagaimana tempat ibadah itu boleh didirikan, atau peraturan itu sudah ada tetapi tidak diindahkan,” tandasnya.

Ketiga, mengembangkan wacana-wacana alternatif soal nilai perdamaian pada ajaran agama. Sebab menurutnya, tidak ada agama yang mengajarkan perilaku diskriminatif. Bahkan, semua agama mengajarkan soal kebaikan, kasih sayang, toleransi, hingga kebersamaan.

“Semua agama itu tidak ada yang mengajarkan kekerasan, ndak ada agama yang mengajarkan perilaku diskriminatif,” kata Gus Menteri.

Keempat, Kemenag akan melakukan penyesuaian sistem pendidikan agama. Gus Yaqut menargetkan, sistem pendidikan agama ini bukan hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua hingga lingkungan yang lebih luas.

“Upaya penyesuaian perlu terus dilakukan segera, supaya dampak langsung pada pola pikir umat beragama ini bisa berubah, di antara elemen penyesuaian itu adalah mengenalkan cara pandang baru terhadap sejarah dan membangkitkan kesadaran tentang perubahan realitas peradaban,” ucapnya.

Gus Yaqut mengungkapkan mengapa hal tersebut penting. Misalnya saja buku pendidikan agama lebih banyak memuat masa peperangan Nabi Muhammad dibandingkan masa perdamaian. Padahal masa peperangan Nabi Muhammad hanya 80 hari dari 23 tahun masa kenabiannya.

“Sisanya yang 22 tahun lebih ini yang masa damai, masa kasih sayang, masa menghargai satu sama lain, tidak banyak diungkapkan dalam buku-buku ajar anak-anak sekolah,” sebutnya.

Kelima, melakukan gerakan sosial untuk memelihara harmonisasi  di dalam masyarakat. Misalnya dengan cara diskusi, agar masyarakat dapat menangkap hal apa saja yang berpotensi memecah belah bangsa.

“Jadi saya kira tidak hanya cukup terkait SKB 3 Menteri saja, tapi isi (pembahasan) yang lebih besar, saya kira juga penting untuk dilakukan gerakan-gerakan sosial seperti ini (diskusi),” tuturnya.

 

Mendikbud: SKB Seragam Sekolah Implementasi Ideologi dan Konstitusi

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menegaskan SKB tiga menteri tentang seragam sekolah merupakan implmentasi pelaksanaan ideologi dan konstitusi.

“SKB tiga menteri tentang seragam sekolah juga dilindungi Pancasila dan UUD 1945 sehingga semestinya tidak ada kontroversi,” ujar Nadiem.

Aktivis Human Right Watch Andreas Harsono mengungkapkan masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan dalam berpakaian.

 “Kami baru saja menerbitkan laporan sejumlah siswa, guru, dosen, yang didiskriminasi bahkan diberhentikan karena menolak berjilbab,” katanya dalam dialog nasional tersebut.

SKB tiga menteri diterbitkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri. SKB mengatur sekolah tidak boleh mewajibkan atau melarang siswa di sekolah negeri memakai seragam beratribut agama.

Dalam dialog nasional itu, masyarakat sipil mendukung SKB tiga menteri tersebut. Mendikbud dan Menag berterima kasih atas dukungan tersebut. Menag dan Mendikbud berharap masyarakat sipil terus mendukung melalui satu gerakan karena implementasi SKB itu tidak mudah. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Komunitas Buddhis Samye Ling Minta Dukungan untuk Perdamaian

Jumat, 19 Maret 2021

 

Skotlandia – Komunitas Buddhis Samye Ling di Skotlandia adakan petisi online untuk menentang pembangunan lapang tembak demi menjaga perdamaian di wilayah sekitar kuil tersebut.

Hal ini diberitakan oleh Theguardian.com pada Minggu lalu (14/3).

Samye Ling terletak di desa Eskdalemuir di Dumfries dan Galloway yang dikelilingi padang rumput, lahan pertanian dan batu neolitik.

Namun, meskipun menjadi tempat yang biasanya dicirikan oleh kedamaian dan ketenangan, populasi monastik Eskdalemuir sekarang menjadi pusat perselisihan antara pedagang senjata api, klub menembak, dan militer Amerika Serikat.

Perselisihan tersebut menyangkut dua rencana berisiko oleh peternakan di sekitar untuk memperluas lapangan tembak di wilayah perbatasannya.

Pertama, di pertanian Over Cassock sekitar lima mil dari Samye Ling. Proyek ini berusaha untuk mengganti bangunan sementara dengan struktur permanen.  

Kedua, di pertanian Clerkhill yang hanya berjarak dua mil, untuk memperluas jarak tembak, yang dibuka Maret lalu tetapi ditutup delapan bulan kemudian jika tidak ada persetujuan perencanaan penuh.

Kedua rencana tersebut ditentang oleh penduduk Samye Ling atas dasar kekhawatiran kebisingan dan gangguan terhadap satwa liar, serta penggunaan satu jangkauan untuk pelatihan senapan mesin dan senapan Pasukan Khusus AS.

“Samye Ling telah berada di sini lebih dari 50 tahun dan kami selalu berusaha menjadi penganut Buddha yang baik dan terutama menjadi tetangga yang baik. Sekarang saya mendengar pasukan AS akan melakukan pelatihan tembak berkecepatan tinggi jarak jauh dalam jarak dua kilometer dari Samye Ling, di lahan kehutanan. Kami memiliki banyak burung yang sangat jinak di Samye Ling. Wilayah ini seperti tempat perlindungan yang damai bagi mereka. Mereka merasa aman di sini karena tidak ada yang menyakiti mereka. Ada sejumlah besar burung kecil dan burung besar juga. Mereka terbiasa dengan lingkungan kami yang damai dan suara tembakan akan menakutkan bagi mereka semua,” kata Kepala Biara Lama Yeshe Losal Rinpoche.

Baca juga: Bhiksu Dutavira Sthavira: Vaksin Jalan Keluar Memutus Pandemi Covid-19

 

Tak Ada Bukti Keuntungan Ekonomi

Samye Ling mendapat dukungan dari lebih dari 10.000 anggota masyarakat dalam petisi online, dewan komunitas Eskdalemuir dan Joan McAlpine, MSP (anggota parlemen) untuk Skotlandia Selatan, yang mengatakan kepada Observer bahwa Majelis Konstituante turut khawatir tentang rencana dan penggunaan lokasi Clerkhill oleh militer AS.

“Kami prihatin dan khawatir bila sebagian besar tanah di sekitar komunitas ini diberikan kepada sekolompok orang yang akan ‘bermain-main’ dengan amunisi kaliber tinggi. Ini tentu lebih dari sekadar masalah kebisingan. Penduduk setempat juga mengkhawatirkan keselamatan mereka dan implikasi dari pembangunan kamp militer, yang sama sekali tidak pantas di tempat yang damai. Tidak ada sedikitpun bukti bahwa rencana itu akan membawa keuntungan ekonomi. Rencana tersebut justru cenderung akan membuat pengunjung pergi,” katanya.

Seorang juru bicara pemilik pertanian Clerkhill dan Gardner Guns mengatakan penting untuk mendiversifikasi pendapatan setelah Brexit dan pandemi, dan rencana tersebut akan menghasilkan pekerjaan dan pendapatan.

Darren Bean dari Fifty Calibre Shooters Association, yang mengoperasikan Over Cassock, mengatakan, “Rencana ini akan beroperasi selama tiga tahun dengan cepat tanpa penduduk Samye Ling menyadari keberadaannya. Lokasinya berada di ujung lembah yang jauh dari semua area pemukiman.”

Seorang juru bicara dewan Dumfries dan Galloway mengatakan kedua pengajuan rencana tersebut akan dipertimbangkan oleh komite aplikasi perencanaan.

Bagi Rinpoche, rencana tersebut adalah puncak kekecewan pihaknya. Komunitas Samye Ling tidak pernah mengeluhkan dampak yang mereka terima dari polusi udara karena lalu lintas dan polusi suara dari kehutanan komersial dan perburuan yang tiap tahun terus meningkat.

Sekarang mereka meminta para pendukung dan simpatisannya untuk membantu menyampaikan suara keberatan mereka atas kedua rencana tersebut kepada pihak yang berwenang.

“Ribuan orang datang ke sini untuk kursus dan bermeditasi. Mereka semua merasa sangat menentang rencana ini, dan saya memiliki banyak teman dari seluruh dunia yang bertekad untuk bersuara menentangnya,” imbuh Rinpoche.

Samye Ling merupakan rumah bagi sekitar 60 biksu, biksuni, dan sukarelawan, dan dikunjungi oleh ribuan orang setiap tahunnya.

Kuil Buddha terbesar di Eropa Barat ini didirikan pada 1967 dan telah menerima figur-figur terkenal, termasuk Billy Connolly, Richard Gere, dan David Bowie.

David bahkan begitu tersentuh oleh waktunya di sana sehingga ia mempertimbangkan untuk menjadi seorang biksu sampai para pemimpin spiritual menyuruhnya untuk mengejar karir di bidang musik. [ ]

 

Penerjemah dan penyunting: Hana Hanifah

Editor: – A. Nurcholish

Sumber: The Guardian.com

Menkopolhukam: Islam Bukan Agama Teror, tapi Agama Kedamaian

Jumat, 19 Maret 2021

 

Surabaya – Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan tindakan terorisme jelas sangat dibenci oleh semua ajaran agama, termasuk Islam. Meski banyak dicap sebagai agama teroris, Mahfud menyebut Islam justru merupakan agama yang cinta kedamaian.

Menurut Mahfud, tindak teroris hanya dilakukan oleh segelintir pihak saja. Namun, tidak jarang mengakibatkan pandangan pihak lain terhadap agama tersebut jadi berubah.

“Islam bukan agama teror. [Penduduk] Indonesia 87 persen beragama Islam, tapi kalau ada teroris yang kebetulan beragama Islam itu hanya beberapa segelintir orang. Islam adalah agama kedamaian,” ujar Mahfud dalam acara silaturahmi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di Makodam V Brawijaya, Surabaya, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (18/3), kutip kumparan.

Diwartakan kumparan (18/3), agar tidak ada pandangan miring terhadap ajaran agama tertentu, Mahfud mengajak seluruh umat beragama agar saling menghormati satu dengan lainnya. Ia menekankan tidak perlu ada rasa benci dari sebuah perbedaan dalam agama.

Tak hanya itu, Mahfud mengatakan, ketidakadilan dan korupsi justru menjadi sesuatu hal yang wajib dilawan oleh seluruh pihak.

“Kita tidak perlu membenci orang lain karena perbedaan agama. Yang harus kita lawan adalah ketidakadilan. Agama apa pun setuju melawan ketidakadilan. Yang harus kita lawan adalah perilaku korupsi,” ujar Mahfud.

“Orang Islam, kristen, Konghucu, Buddha, Hindu benci pasti sama orang-orang korupsi. Bahkan orang korupsi sama orang korupsi lainnya juga benci kok,” sambungnya.

 

Madinah Al-Munawarah sebagai Contoh

Ia kemudian mengambil contoh tentang konsep kehidupan yang saling menghargai perbedaan, yakni negara yang pernah didirikan Nabi Muhammad yaitu Madinah al-Munawwarah. Mahfud menyebut Madinah adalah negara berperadaban yang menghargai betul perbedaan.

“Ketika orang-orang takut saat Nabi Muhammad mendakwahkan Islam, Nabi Muhammad mengatakan: Innama Bu’istu liddini al-hanifiyah al-samhah; saya diutus bukan untuk mengislamkan orang Yahudi, bukan untuk mengislamkan orang nasrani, bukan untuk mengislamkan orang majusi. Tapi saya diutus ke muka bumi ini untuk membawa agama yang lurus tetapi toleran, tidak memaksa, tidak menyalah-nyalahkan orang lain karena berbeda,” terang Mahfud.

Atas dasar itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat membangun Indonesia sebagai negara yang cinta perbedaan dan menghargai seluruh perbedaan yang ada.

“Konsep kebersamaan dalam negara kebangsaan yang kita beri nama Indonesia, yang menurut ormas-ormas besar seperti Muhammadiyah, NU dan lain-lain disebut dengan konsep Islam Wasathiah. Mari bersama bangun bangsa dan negara ini berdasarkan sikap toleran terhadap perbedaan. Kita merdeka karena bersatu di dalam perbedaan dan akan maju karena bersatu,” pungkasnya.

Baca juga: Agama Cinta dalam Tradisi Sufi

 

Perbedaan adalah Sunatullah

Dalam Islam, perbedaan dan keragaman suku, budaya bahkan agama adalah sunnatullah. Karenanya, perbedaan tak akan pernah bisa dieleminasi, apalagi disatukan.

Perbedaan yang ada semestinya tak perlu dihilangkan karena memang tidak mungkin. Yang penting adalah perbedaan tidak menjadi penyebab tergerusnya persatuan dan retaknya kedamaian, serta kerukunan selalu terjaga dalam perbedaan.

Banyak ayat dalam Alquran yang mendukung bahwa perbedaan dan pluralitas di dalam masyarakat sudah merupakan ketentuan Tuhan, seperti yang dinyatakan di dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Dalam ayat lain Allah lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S. al-Maidah/5:48).

Bahkan berbicara tentang surga,  Allah memberikan suatu pernyataan indah: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. (Q.S. Yusuf/12:67).

Dengan potensi-potensi keragaman yang Allah berikan kepada manusia, Dia ingin menguji manusia untuk fastibiqul khairat, berlomba-lomba dalam mewujudkan kebaikan sesuai dengan sistem pengetahuan dan keyakinannya masing-masing. Di titik keragaman itulah justru terselip rahmat bagi manusia. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: kumparan.com I detik.com

Mewujudkan Perdamaian Dunia Bisa Dimulai dari Hal-hal Kecil

Kamis, 18 Maret 2021

 

Jakarta – Cara untuk mewujudkan perdamaian dunia sangat mudah. Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan dengan modal kesungguhan. Sembilan cara di bawah ini adalah hal sederhana yang bisa dilakukan generasi muda, untuk menciptakan perdamaian dunia.

Pertama, menjadi pribadi yang baik tanpa mengharapkan imbalan. Menjadi baik tidak berarti harus memberi uang banyak atau memberi hadiah kepada seseorang. Kebaikan yang ditujukan kepada orang lainlah yang justru menunjukkan bahwa orang-orang di sekitar menjadi penting.

Melakukan berbagai hal demi kebaikan, misalnya dengan menyisihkan uang jajan dan memberikannya pada tunawisma, menyumbangkan sesuatu kepada sesama yang membutuhkan, mempedulikan rekan-rekan, atau bahkan hanya menebar senyuman.

Kedua, berhenti menghakimi orang lain. Melontarkan komentar dan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya adalah hal yang mudah. Tapi, prasangka buruk yang muncul hanya akan membuat seorang manusia menjadi tidak nyaman.

Tidak berprasangka buruk dan senantiasa berbuat baik kepada orang lain akan membuat orang lain lebih menghargai kita dan memanusiakan manusia sebagaimana mestinya.

Ketiga, berhenti berperan sebagai korban. Hal buruk yang terjadi dalam hidup membuat kita mudah merasa menjadi korban. Sayangnya, perasaan tersebut hanya akan membawa manusia pada perasaan yang melulu lemah sampai menjadi paranoid.

Lepaskan saja beban tersebut dan lupakan hal yang membuat takut sebab hal tersebut hanya akan membuat seorang manusia kehilangan kesempatan untuk menyebarkan dan mewujudkan perdamaian di dunia.

Keempat, mencintai orang lain. Merasa damai atau bahkan mencintai orang yang pernah melakukan kejahatan tentu bukan perkara mudah. Saat seseorang pernah menyakiti, biasanya hal yang ingin dilakukan adalah membalasnya, menggosipkannya, dan membicarakan keburukannya

Baca juga: Demi Perdamaian Seorang Biarawati Berlutut di Depan Polisi Myanmar

Bagaimana menciptakan perdamaian dunia jika antarsesama saja tidak berdamai? Memaafkan adalah kunci besar untuk sebuah perdamaian dunia. Dalam hal ini tak hanya orang lain yang pernah menyakiti, tapi juga kerabat dan teman dekat yang pernah menyakiti di masa lalu.

Kelima, menciptakan suasana damai di rumah. Rumah menjadi tempat seorang manusia untuk kembali dari aktivitas sehari-hari. Wajar apabila banyak orang mengharapkan suasana rumah yang damai, dan yang tidak membuat stres.

Oleh karena itu, melepaskan semua beban kerja saat berada di rumah, berbahagialah dan dengarkan musik yang menyejukkan hati adalah langkah kecil untuk bisa mewujudkan perdamaian.

Keenam, meluapkan sisi kreatif dalam diri. Setiap orang memiliki sisi kreatif tersendiri. Menggali sisi kreatif yang ada di dalam diri sebagai misal dengan mewarnai, melukis, menggambar, bermusik, atau apa pun yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stres adalah langkah yang positif.

Karya kreatif yang telah dilakukan bisa dipajang di seluruh sudut rumah untuk memancing energi positif dan membawa kedamaian dalam diri sendiri, lalu menyebarkannya kepada orang lain.

Ketujuh, menyisihkan waktu dan bantu orang lain. Biasanya, banyak orang terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-hari, entah itu belajar atau pun bekerja. Maka, ada baiknya untuk menyisihkan sebagian waktu untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan. Misalnya membantu para tunawisma dengan memberi makanan atau membantu membersihkan tempat tinggal para tunawisma.

Kedelapan, makan makanan yang sehat. Untuk menciptakan perdamaian dunia, dibutuhkan energi ekstra. Mari menjaga diri agar tetap prima dengan mengonsumsi makanan yang sehat. Kondisi fisik yang sehat akan mampu menyebarkan lebih banyak kebaikan dan perdamaian.

Kesembilan, meditasi. Satu hal yang harus diingat untuk menciptakan perdamaian di dunia bermula dari diri sendiri. Tak hanya soal fisik, jiwa yang damai juga akan mendatangkan energi yang positif.

Mari lakukan meditasi atau berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik, maka kedamaian dalam diri akan didapatkan. Jika diri sendiri sudah diliputi perdamaian, maka seorang manusia akan lebih siap untuk menyebarkan, menciptakan, dan mewujudkan perdamaian dunia. [ ]

 

Penulis : Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Sumber : Liputan6.com I Kompas.com

Aksi non-Kekerasan, Pentingkah?

Kamis, 18 Maret 2021

 

Amerika Serikat –Apakah aksi non-kekerasan benar-benar berkontribusi pada perubahan sosial?

Selain ajakan dari para pemuka agama – diberitakan oleh Peacenews.info – Lisa Fithian, aktivis Amerika Serikat, turut merefleksikan kekuatan dari aksi non-kekerasan (non-violence) melalui buku terbarunya, “Shut It Down: Stories from a Fierce, Loving Reistance” (Chelsea Green, 2019).

Lisa telah berada di garis depan perubahan sosial selama beberapa dekade. Mulai dari gerakan perdamaian Amerika Tengah pada 1980-an hingga gerakan melawan Trumpisme. Berikut yang ia katakan tentang kekuatan aksi non-kekerasan.

Ketika orang bertanya tentang pendekatan saya terhadap non-kekerasan, saya suka mengatakan bahwa saya berkomitmen pada non-kekerasan strategis. Saya percaya itu adalah cara paling efektif untuk membongkar ketidakadilan sambil sekaligus membangun dunia yang lebih baik.

Saya bukan seorang pasifis (penganut pasifisme: ideologi anti-perang). Saya percaya bahwa tindakan kita harus memiliki sisi konfrontatif tetapi di sisi lain, saya juga percaya kita dapat melakukannya tanpa niat untuk melakukan kerusakan fisik, emosional, mental, ataupun spiritual.

Ada banyak taktik non-kekerasan yang bisa sangat ‘lantang’ dan efektif, seperti blokade jalan raya dengan tubuh atau bongkahan batu, seperti yang dilakukan di Dunia Selatan (Global South).

Saya juga mengakui bahwa dalam menghadapi kekerasan oleh negara, aksi non-kekerasan membutuhkan keberanian yang luar biasa, strategi yang canggih, dan taktik yang kreatif dan fleksibel.

Sikap ini dibentuk oleh keterpaparan saya terhadap bahaya yang dihadapi aktivis ketika mereka berada di jalanan.

Saya telah menyaksikan agresi polisi terhadap demonstrasi publik setelah 11 September 2001. Saya telah menyaksikan pemerintah mengembangkan taktiknya melawan mobilisasi besar dalam koordinasi dengan departemen keamanan dalam negeri dan badan federal lainnya.

Pada mobilisasi anti-FTAA [Area Perdagangan Bebas Amerika] di Miami pada 2003, polisi mengarahkan senjata mereka pada anggota serikat pekerja dan aktivis lansia.

Pada mobilisasi seputar pertemuan G8 pada 2004 di kota Brunswick, Georgia, yang didominasi Afrika-Amerika, gubernur memobilisasi setidaknya 10.000 personil polisi, termasuk Garda Nasional, ke kota berpenduduk 15.000 orang. Dengan tindakan keras besar-besaran ini, hanya sekitar 300 demonstran G8 yang melakukan perjalanan ke Georgia.

Sangat jelas bahwa pemerintahan George W. Bush melihat KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) itu sebagai tempat pelatihan bagi departemen baru keamanan dalam negeri untuk mempraktikkan tugasnya.

Dari ratusan agen yang menyamar yang mengenakan sandal kulit mereka yang lucu dan mencolok, hingga Humvee (kendaraan penggerak empat roda militer kelas truk ringan) yang berpatroli di jalan-jalan, Anda tidak dapat melewatkan kekuatan luar biasa yang dikerahkan untuk menekan komunitas Brunswick dan hak Amandemen Pertama terkait masyarakat biasa.

Pendudukan militer di Brunswick menelan biaya dari pembayar pajak AS sekitar $35 juta. Sementara itu, kami pengunjuk rasa yang dicap ‘menakutkan’ mengadakan acara rebus udang, menyalakan lilin bagi mereka yang meninggal akibat kebijakan G8, dan mengedukasi masyarakat tentang 22 lokasi limbah beracun di Brunswick – yang semuanya kemudian ditutup sebelum G8 sehingga politisi tidak perlu menerima konsekuensi dari kebijakan mereka.

Baca juga: Ribut-Ribut Ekstremisme Kekerasan

Kerangka yang salah

Pada akhirnya, saya tidak yakin bahwa ‘kekerasan’ dan ‘non-kekerasan’ adalah kerangka yang tepat bagi kita.

Itu memposisikan masalah sebagai yang berasal dari gerakan kami pada pengunjuk rasa, padahal dalam kenyataannya, sisi kekerasan biasanya berasal dari personil penegak hukum atau militer.

Saya pikir kerangka yang lebih tepat adalah yang mempertanyakan kekerasan yang dilakukan pemerintah dan pembelaan diri terhadap kekerasan tersebut, dengan pemahaman bahwa pembelaan diri adalah pilihan yang kita buat untuk membela apa yang benar.

Karenanya, saya lebih suka berbicara tentang perlindungan diri: bagaimana kita melindungi diri kita sendiri dengan melatih dan mempersiapkan diri untuk potensi kekerasan, mengembangkan kesadaran kita, belajar bagaimana melindungi tubuh kita, dan mengetahui apa yang kita bisa dan tidak bisa kita tahan.

Beberapa komunitas telah membela/melindungi diri atau anggotanya dengan mendirikan rumah aman/penampungan, membangun barikade, membakar ban, melempar batu, menutup jalan, menduduki gedung, tanah, atau pabrik, berunjuk rasa dalam jumlah besar, mendirikan perimeter manusia, atau kolektivisasi uang dan sumber daya.

Beberapa bahkan telah mengangkat senjata. Lainnya, seperti Black Panthers, menggunakan senjata lebih banyak untuk mengirim pesan daripada mengirim peluru.

Dalam konteks global, kita akan selalu melihat keragaman taktik saat orang kulit berwarna, orang miskin, dan orang tertindas menanggapi kekerasan negara yang merugikan mereka.

Saya telah belajar untuk berhenti menghakimi dan mengakui bahwa mengambil posisi moral ‘non-kekerasan adalah satu-satunya cara’, adalah tindakan opresif atau menindas.

Jika saya tidak punya keberanian dalam perjuangan ini, siapa saya bisa berkata begitu?

Dan kemudian ada banyak garis halus dan area abu-abu antara taktik bertahan dan menyerang. Apakah melempar batu ke tank Israel merupakan kekerasan?

Apakah mengangkat senjata untuk menghentikan invasi asing yang akan datang merupakan kekerasan, atau pertahanan diri atau perlindungan?

 

Penindasan tidak dapat menyelesaikan penindasan

Saya juga belajar melalui berbagai pelatihan bahwa setiap orang memiliki ide yang berbeda tentang non-kekerasan.

Apa yang mungkin dianggap kekerasan dalam satu situasi mungkin tidak dianggap kekerasan di situasi lain, dan apa yang dilihat sebagian orang sebagai kekerasan, yang lain lihat sebagai pembelaan diri.

Pada akhirnya, saya suka berpegang pada apa yang telah diajarkan oleh pengalaman hidup saya kepada saya, sambil mendengarkan pengalaman orang lain, dan inilah yang telah saya lihat: Anda dapat menciptakan banyak gangguan sosial dan perubahan menggunakan non-kekerasan taktik saja.

Dalam hati, saya juga percaya bahwa kekerasan adalah alat negara, dan dalam kata-kata Audre Lorde, ‘The master’s tools will never dismantle the master’s house’ atau yang bermakna kita tidak dapat menyelesaikan masalah penindasan yang bekerja dengan alat sistem penindasan itu sendiri. Kita perlu memahami dan merangkul kekuatan perbedaan yang sebenarnya.

Saya telah melihat bagaimana dunia memperhatikan ketika gedung-gedung terbakar dan jendela-jendela pecah, tetapi saya juga telah melihat bagaimana hal ini membuat orang takut.

Membongkar struktur penindasan adalah bagian dari tujuan kita semua ini – tetapi jika kita membongkar struktur penindasan menggunakan taktik yang didasarkan pada ketakutan, bagaimana mungkin kita membangun sesuatu yang lebih baik secara bersamaan?

Ketika saya bekerja dengan orang-orang yang mempraktikkan agresi dalam menghadapi ketidaksepakatan mereka, saya mencoba untuk berjalan di garis tidak meminggirkan atau menghakimi mereka sambil juga menunjukkan cara yang berbeda.

Saya mengkomunikasikan kemungkinan konsekuensi dari tindakan mereka dan kekhawatiran saya atas kerentanan yang mereka buat.

Saya menemukan, biasanya pemuda kulit putih yang paling tertarik pada taktik agresif, dan saya berkata kepada mereka: ‘Apakah Anda benar-benar ingin mengambil umpan mereka?’

 

Provokasi dalam unjuk rasa

Dalam hampir setiap situasi selama 20 tahun terakhir di mana orang-orang kedapatan merencanakan tindakan berisiko atau kekerasan, ternyata penyusup pemerintah ikut serta mendesak mereka.

Seperti yang terjadi selama protes Konvensi Nasional Partai Republik 2008, ketika tiga pemuda kulit putih, dalam dua situasi berbeda, ditangkap karena membuat bom molotov.

Selama persidangan mereka, terungkap dengan jelas bahwa mereka tidak bermaksud untuk menggunakan bom tersebut, dan ternyata mereka telah diprovokasi oleh seorang agen provokator yang juga diprovokasi oleh FBI.

Baru-baru ini, debat publik seputar ‘Antifa’ anti-fasis semakin menonjol. Antifa adalah militan anti-rasis, anti-fasis yang menggunakan berbagai taktik, termasuk keterlibatan fisik jika diperlukan, untuk menghadapi supremasi kulit putih dan rasisme.

Setelah pemilihan Donald Trump, tindakan Antifa menjadi lebih mencolok saat mereka berhadapan dengan supremasi kulit putih yang kejam yang didorong oleh pengarusutamaan pandangan mereka.

Media sayap kanan, tentu saja, menghipnotis Antifa, seringkali dengan mengarang cerita dan menyebarkan gambar dengan narasi palsu.

Kita tahu bahwa media terobsesi dengan gambar para pengunjuk rasa berpakaian hitam ini, tak peduli itu Antifa atau blok hitam.

Kita tidak dapat mengontrol ini tapi kita perlu memahami bahwa orang-orang benar-benar setuju dengan kampanye kriminalisasi ini.

Selama bertahun-tahun, saya telah menyaksikan upaya besar yang dilakukan pemerintah untuk mengkriminalisasi gerakan kami dan investasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan untuk membungkam dan memfitnah kami melalui kampanye kotor media yang  tiada henti.

Investasi terhadap gerakan keadilan sosial ini menunjukkan kepada saya bahwa perlawanan kita benar-benar mengancam kekuasaan mereka. Dan yang paling mengancam mereka bukanlah blok hitam, tapi perlawanan yang dipenuhi dengan keindahan, kegembiraan, dan cinta.

 

Diterjemahkan dan disunting dari Peacenews.info oleh Hana Hanifah

Dakwah Melalui Jalan Damai

Selasa, 16  Maret 2021

 

“Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama.”

Ungkapan Hans Kung di atas jelas hendak menegaskan peran penting agama-agama. President Yayasan Etika Global itu seperti ingin mengingatkan kembali akan tujuan hadirnya agama di muka bumi. Saat yang sama mungkin pula justru ia tengah mempersoalkan kenyataan sebaliknya. Mengapa mereka yang mengaku beragama justru terlibat dalam konflik dan kekerasan berdarah.

Ungkapan ini jelas pula tertuju pada Islam yang dipeluk sekitar 1.5 milyar penduduk dunia.  Jika Islam agama damai, mengapa pemeluknya justru melakukan tindakan kekerasan, penebar kebencian dan mengedepankan semangat permusuhan? Di mana yang keliru, ajarannya atau umatnya?

Jika merujuk ajaran dasar Islam, jelas sekali Islam menempatkan perdamaian sebagai salah satu prinsip ajarannya. Tiga alasanya. Pertama, Tuhan adalah Mahadamai. Dalam al-asma’ al-husna, nama-nama Tuhan yang indah, Yang Mahadamai (al-salam) merupakan satu dari 99 nama yang tersedia.

Tuhan menciptakan manusia (sebagai khalifah), di antara fungsinya untuk menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Karena itu, seluruh praktiek ritual keagamaan selalu mempunyai visi dan misi mewujudkan kedamaian dan perdamaian. Misalnya, setiap selesai menunaikan ibadah shalat, umat Islam senantiasa membaca doa dan wiridan yang berisi tentang harapan untuk hidup damai. Wirid tersebut berbunyi,

Wahai Tuhan, Engkau adalah Mahadamai.

Dari-Mu memancar kedamaian.

Dan kepada-Mu kedamaian akan kembali.

Maka hidupkanlah kami dengan kedamaian

dan masukkanlah kami ke dalam surga, rumah kedamaian

Dari wirid ini jelas kedamaian dan juga perdamaian adalah dambaan yang senantiasa diharapkan seorang Muslim. Bahkan puncak dari segala pengharapan tersebut adalah surga yang merupakan rumah kedamaian, tempat terindah bagi kehidupan abadi orang-orang yang menghuninya kelak.

Kedua, perdamaian merupakan keteladanan yang dipraktikkan Nabi Muhammad Saw. Ketika memulai dakwahnya, Nabi menjadikan perdamaian sebagai salah satu titik penting melakukan perubahan sosial. Rasulullah sadar betul bila dakwahnya dimulai dengan jalan kekerasan, sejak awal akan mendapatkan perlawanan keras. Secara sosiologis dapat dipastikan bahwa orang-orang Arab yang hidup di padang pasir, yang memiliki kecenderungan mempertahankan hidup dengan jalan kekerasan merupakan tantangan tersendiri bagi Rasulullah Saw.

Atas pertimbangan ini, Nabi memilih cara  terbaik dalam berdakwah: jalan damai. Di akhir dakwahnya, Nabi memang harus memilih jalan perang untuk mempertahankan diri dari invasi pihak luar. Tapi yang harus dicatat, dalam perang pun Nabi senantiasa mengacu jalan damai sebagai alternatif strategi dakwah. Bahkan ketika menjelang wafat Nabi berpesan agar menjaga kehormatan setiap manusia, tak menumpahkan darah dan tak pula melakukan tindakan diskriminatif. Karena sesungguhnya yang membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain adalah kadar ketakwaan, bukan warna kulit, bangsa maupun agama.

Ketiga, perdamaian salah satu bentuk ukuran tertinggi peradaban manusia. Menurut sejarawan dan sains Islam klasik asal Tunisia Ibnu Khaldun, setiap manusia harus menjalin hubungan yang harmonis dengan yang lain. Hakikatnya manusia makhluk yang senantiasa melakukan interaksi sosial. Jika dilakukan sesungguhnya bangsa tersebut telah membangun peradaban yang adiluhung. Jika tidak, maka akan terjadi kekacauan yang bisa mengarah pada kerusakan. Karena itu, perdamaian sesungguhnya merupakan inti dari agama dan relasi sosial. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi dan kemanusiaan.

Sayangnya semangat beragama dengan menghayati (kembali) inti atau esensi dari ajaran Islam itu sendiri telah hilang di sebagian umat Islam. Sehingga yang termanifestasi dari keberagamaan mereka cenderung perilaku destruktif dan kontraproduktif bagi nilai-nilai Islam yang damai. Karenanya menjadi penting kembali menyelami hakikat dari keislaman ini. Dari sana kita berharap menemukan pesan otentik yang menjadi ruh ajarannya.

Kata Islam sendiri berasal dari kata aslama-yuslimu-islaman berarti mendamaikan. Ayat al-Qur’an berbunyi udkhuluu fi al-silm kaaffah bisa diartikan dengan, masuklah kalian dalam kedamaian secara total. Karena kata al-silm berarti kedamaian. Inilah makna dasar dari Islam.

Dalam konteks keberagamaan dan kehidupan sosial secara umum tak ada alasan mengabaikan perdamaian. Bahkan jika di tengah komunitas Muslim dan lintas agama masih terjadi kekerasan, maka bisa dikatakan telah terjadi penyimpangan dari ajaran Islam. Karena itu, komitmen untuk membangun perdamaian harus diperbaharui dan dibangun secara berkelanjutan sehingga sepirit yang ada dalam agama dapat dipraktekkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Jangan sampai agama yang sejatinya menuntun umatnya untuk selalu dalam jalan yang terang, damai, lurus dan senantiasa mengedepankan hidup dalam keharmonisan (sakana-sakinah). Jalan damai inilah yang dianjurkan Allah untuk dijadikan pilihan.

Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka hendaknya kamu memilih jalan tersebut dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui (QS. Anfal [8]: 61)

Betul bahwa upaya membangun perdamaian bukanlah hal gampang. Bahkan jika kita cermati secara seksama, perdamaian masih belum menjadi pilihan alternatif, apalagi dijadikan sebagai jalan utama. Cara-cara kekerasan masih kerap digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan. Celakanya, cara-cara anarkistis itu seolah-olah menjadi bagian inhern agama. Para pelaku biasanya merujuk kisah-kisah peperangan yang dilakukan Nabi di masa hidupnya. Mereka dan juga kita barangkali tak pernah mencermati apakah perang merupakan ajaran utama dalam Islam? Lebih utama mana antara jalan perang dan jalan perdamaian?

Baca juga: Damai

Dari situlah maka menjadi sangat penting untuk membedah kembali dimensi perdamaian dalam Islam. Sekali lagi Tuhan itu Mahadamai. Perdamaian kehendak ilahi. Bahkan perdamaian identik dengan surga. Dalam surga tak ada lagi kebencian, kecurigaan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah. Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang dapat membangun toleransi dan tenggang rasa antara sesama makhluk Tuhan.

Di antara perlombaan yang mestinya diutamakan adalah perlombaan untuk membangun perdamaian, bukan kekerasan apalagi peperangan. Perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi agama. Karena itu dakwah tentang perdamaian dengan cara damai harus diprioritaskan sehingga kemanusiaan dapat berjalan sebagaimana diamanatkan Tuhan dan Rasul-Nya. Tak hanya itu Nabi pun banyak memberikan tauladan bagaimana umat Islam seyogyanya lebih mengutamaka jalan damai, bukan jalan perang.

Menyelami kembali ayat 61 pada Surat Al-Anfal [8] di atas menjadi penting bagi kita bersama. Utamanya dalam rangka menemukan oase perdamaian dalam agama. Ayat tersebut ini menjadi anti-klimaks dari kehidupan konfrontantif yang dialami Nabi dan para sahabat pada masa dakwah Islam. Artinya, perang bukan pilihan paling akhir di antara pilihan yang ada. Perang dilakukan di saat-saat tertentu, sedangkan perdamaian harus ditegakkan sepanjang masa. Perdamaian merupakan spirit yang diutamakan Tuhan, dan didakwahkan oleh agama-agama. Di sinilah ayat tersebut mempunyai signifikansi untuk dicermati secara hermeneutis karena memiliki konsern yang bersifat eksplisit dalam rangka mengkampanyekan perdamaian. Karena itu pula, ayat tersebut harus menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Dalam konteks keindonesiaan – ayat tersebut  sangat relevan untuk diimpolementasikan dalam ranah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Apalagi jika melihat masih tingginya angka kekerasan,  yang baik langsung maupun tak langsung berkaitan dengan isu-isu agama. Maka, perdamaian semestinya menjadi spirit yang gemanya terus dikumandangkan dari Aceh hingga Papua. Umat Islam harus menjadi umat terdepan dalam rangka menyuarakan perdamaian. Apalagi di tengah kuatnya kecenderungan untuk membangun benteng benturan antara umat agama-agama, Islam sudah selayaknya menjadi pionir dan pelopor untuk menyalakan api perdamaian. Sayangnya adalah, di tanah kelahiranya, Islam belum menjadi ruh yang kuat untuk menyemai perdamaian. Negara Arab, tanak kelahiran dan tempat tumbuhnya Islam hingga hari ini masih diwarnai dengan konflik yang berdarah – dan kita tidak tahu kapan hal itu akan berakhir.

Maka, permenungan dan pemikiran yang tenang untuk merajut kembali perdamaian amat sangat diperlukan. Bukan saja perdamaian antara umat Islam dengan non-Muslim, tetapi juga hubungan di internal umat Islam sendiri juga perlu mendapatkan perhatian penuh. Kampanye perdamaian di internal umat Islam sangat diperlukan, sehingga diharapkan mampu mendorong perdamaian dalam konteks yang lebih luas. Harus diakui memang, bahwa lemahnya upaya membangun perdamaian di tengah-tengah umat Islam sangat terkait dengan realitas pergulatan internal umat yang sejak dulu menganut hukum rimba: pihak yang kuat selalu menjatuhkan pihak yang lemah.

Contoh yang masih hangat adalah kekerasan dan indimidasi yang dialami oleh jemaat Ahmadiyah dan Syi’ah di Tanah Air. Mereka harus “tunduk” terhadap hegemoni (sekelompok) madzhab Islam yang menilainya sesat. Ironinya, dalam kasus-kasus semacam ini Negara pun tak mampu berbuat banyak, bahkan terkesan melakukan pembiaran – jika tidak mau dikatakan “mendukung” aksi-aksi intimidasi dan kekerasan tersebut.

Dengan demikian, perdamaian harus menjadi kekuatan penuh untuk membangun puing-puing perdamaian. Perdamaian merupakan warisan yang sangat penting, menarik dan patut diteladani daripada warisan perang. Andalusia dan Turki merupakan dua negeri yang telah menyemai perdamaian itu. Kini, kita harus punya niat yang kuat untuk membangun kembali hidup damai, nirkekerasan. Mengutamakan jalan damai akan memberikan amunisi bagi umat Islam untuk menyongsong peradaban kemanusiaan yang amat mulia. Sebuah peradaban yang kita dambakan bersama, khususnya kita yang hidup di bumi Indonesia yang berbhineka [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi kabardamai.id, Deputi Direktur ICRP

Sri Lanka akan Larang Pemakaian Burka secara Permanen

Senin, 15 Maret 2021

 

Sri Lanka – Dua tahun setelah serangan di hari Paskah, Sri Lanka telah mengambil langkah signifikan untuk melarang burka dan penutup wajah lainnya di tempat umum, dengan alasan keamanan nasional.

Menteri Keamanan Publik Sarath Weerasekara mengatakan kepada BBC bahwa dia telah menandatangani perintah kabinet yang sekarang tinggal membutuhkan persetujuan parlemen.

Para pejabat mengatakan mereka berharap larangan itu segera diterapkan. Langkah itu dilakukan hampir dua tahun setelah peristiwa pengeboman hotel dan gereja pada Minggu Paskah.

Pengebom bunuh diri menargetkan gereja Katolik dan hotel yang didatangi banyak turis, menewaskan lebih dari 250 orang pada April 2019.

BBC mewartakan, Kelompok militan ISIS mengatakan berada di balik serangan itu.

Sementara pihak berwenang mencari para pelaku, larangan penggunaan penutup wajah darurat diterapkan di negara mayoritas Buddha itu.

Keamanan nasional menjadi dalih Pemerintah Sri Lanka untuk memberlakukan peraturan tersebut. Menurut Menteri Keamanan Publik Sri Lanka, Sarath Weerasekera, penggunaan burqa adalah simbol ekstrimisme dan dirinya tidak ingin itu ada di negaranya.

Sekarang pemerintah berupaya menerapkan aturan itu kembali secara permanen.

Weerasekara mengatakan kepada wartawan bahwa burka adalah “tanda ekstremisme agama yang muncul baru-baru ini” dan hal itu “mempengaruhi keamanan nasional”, sehingga larangan permanen sudah seharusnya diterapkan.

“Jadi saya sudah menandatanganinya dan aturan itu akan segera dilaksanakan,” katanya.

Baca juga: Pengadilan Malaysia Izinkan Umat Kristen Gunakan Sebutan “Allah”

Weerasekara juga mengatakan pemerintah berencana untuk melarang lebih dari 1.000 sekolah madrasah Islam yang menurutnya melanggar kebijakan pendidikan nasional.

“Tidak ada yang bisa membuka sekolah dan mengajarkan apa pun yang Anda inginkan kepada anak-anak. Sekolah harus sesuai dengan kebijakan pendidikan yang ditetapkan pemerintah.

Sebagian besar sekolah yang tidak terdaftar “hanya mengajarkan bahasa Arab dan Alquran, jadi itu buruk”, katanya, kutip BBC (14/3).

“Zaman dulu, kami memiliki banyak sekali teman-teman Muslim, dan kala itu perempuan Muslim tidak pernah memakai burqa,” sambungnya, dilansir dari laman Guardian pada Minggu, 14 Maret 2021.

 

Setiap Orang Memiliki Hak

Hilmi Ahmed, wakil presiden Dewan Muslim Sri Lanka, mengatakan kepada BBC bahwa jika para pejabat memiliki masalah dalam mengidentifikasi orang-orang yang mengenakan burka “orang yang mengenakan tidak akan ada keberatan untuk melepas penutup wajah untuk tujuan pengecekan identitas”.

Dia mengatakan setiap orang memiliki hak untuk memakai penutup wajah terlepas dari keyakinan mereka: “Hal itu harus dilihat dari sudut pandang hak dan bukan hanya dari sudut pandang agama.”

Mengenai masalah madrasah, Ahmed menekankan bahwa sebagian besar sekolah Muslim terdaftar di pemerintah.

“Mungkin ada … sekitar 5% yang belum patuh dan tentu saja bisa ditindak,” ujarnya.

 

Kecaman AS dan Kelompok HAM

Sebelumnya, pemerintah negara itu mewajibkan kremasi korban Covid-19, sejalan dengan praktik mayoritas Buddha, tetapi bertentangan dengan keinginan warga Muslim, yang ingin menguburkan jenazah keluarga mereka.

Sejumlah media menyebut, larangan ini dicabut awal tahun ini setelah mendapat kecaman dari AS dan kelompok hak asasi internasional.

Bulan lalu, BBC mengungkap, Dewan Hak Asasi Manusia PBB mempertimbangkan resolusi baru terkait dengan meningkatnya masalah hak asasi di Sri Lanka, termasuk terkait perlakuan terhadap Muslim.

Sri Lanka diminta untuk menuntut pertanggungjawaban para pelanggar hak asasi manusia dan memberikan keadilan kepada para korban perang saudara yang telah berlangsung selama 26 tahun.

Konflik 1983-2009 menewaskan sedikitnya 100.000 orang, kebanyakan warga sipil dari komunitas minoritas Tamil.

Sri Lanka membantah keras tuduhan tersebut dan telah meminta negara-negara anggota untuk tidak mendukung resolusi tersebut.

 

11 Negara Melarang Pemakaian Cadar dan Burqa

Rencana pelarangan pemakaian burqa di Sri Lanka menambah panjang daftar negara-negara yang melarang penggunaan cadar. Berikut 11 negara yang melarang penggunaan cadar dan burqa seperti dikutip Tempo dari telegraph.co.uk (19/10/ 2018).

  1. Prancis

Prancis telah menjadi negara pertama di Eropa yang melarang penggunaan burka di tempat umum. Burka adalah penutup kepala dan wajah seperti cadar, yang hanya memperlihatkan bagian mata. Aturan ini diberlakukan oleh Prancis pada 2004 yang dimulai pada sekolah-sekolah negeri dengan alasan menghapus seluruh bentuk simbol-simbol agama.

Namun pada 2011, pemerintah Prancis memberlakukan secara penuh larangan penggunaan cadar. Presiden Prancis,Nicolas Sarkozy, ketika itu mengatakan cadar tidak diterima di Prancis. Perempuan yang nekad memakai cadar di Prancis, akan dikenai denda 150 euro dan 30 ribu euro atau Rp 522 juta bagi siapa pun yang memaksa perempuan untuk menutupi wajahnya dengan cadar.

  1. Belgia

Beliga pada 2011 mengikuti jejak Prancis dengan memperkenalkan aturan larangan penggunaan jilbab yang menutupi seluruh wajah atau cadar di tempat-tempat umum. Perempuan yang kedapatan memakai cadar bisa dijebloskan ke penjara selama tujuh hari atau membayar denda 1378 euro. Aturan ini disahkan dengan suara bulat.

  1. Belanda

Pada 2015 Belanda menyetujui larangan penggunaan cadar di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah, rumah sakit dan transportasi umum. Belanda menilai, dalam situasi tertentu, penting bagi orang-orang untuk bisa dikenali. Larangan ini juga dengan alasan keamanan.

  1. Italia

Italia tidak melarang penggunaan cadar, namun beberapa daerah di negara itu memberlakukan larangan. Pada 2010, pemerintah daerah Novara memberlakukan aturan larangan penggunaan cadar. Tidak ada denda dalam larangan ini. Di beberapa pemerintah daerah lainnya di Italia, bahkan dilarang penggunaan burkinis atau baju renang islami.

  1. Spanyol

Sama seperti Italia, larangan penggunaan cadar dan burka hanya berlaku di beberapa daerah di Spanyol, seperti Katalonia. Pada 2013, Mahkamah Agung Spanyol telah mencabut larangan ini dengan alasan membatasi kebebasan beragama. Kendati putusan Mahkamah Agung sudah jatuh, namun sejumlah daarah masih memberlakukan larangan penggunaan cadar dengan berpegang pada putusan Pengadilan HAM Eropa pada 2014. Pengadilan Eropa memutuskan larangan penggunaan caar bukan bagian dari HAM.

  1. Chad

Chad, sebuah negara di Afrika, memberlakukan larangan bercadar sejak terjadinya dua serangan bom bunuh diri pada Juni 2015. Perdana Menteri Chad, Kalzeube Pahimi Deubet, menyebut burka telah menjadi kamuflase sehingga seluruh burka harus dimusnahkan. Perempuan yang mengenakan cadar atau burqa di Chad, akan ditahan dan dipenjara.

  1. Kamerun,

Aturan larangan memakai cadar diberlakukan Kamerun hanya berselang setelah Chad memberlakukan aturan ini. Pemberlakukan aturan ini atas dasar banyaknya bom bunuh diri dengan pelaku yang memakai burka. Aturan ini sudah berlaku secara akif di lima provinsi di Kamerun.

  1. Nigeria

Tak boleh memakai cadar diberlakukan di Diffa, sebuah wilayah yang pernah porak-poranda akibat pemberontakan Boko Haram. Presiden Nigeria menyarankan agar jilbab pun dilarang saja di Nigeria.

  1. Congo-Brazzaville

Di negara ini, aturan takk boleh memakai burka atau cadar sudah diberlakukan sejak 2015. Hal ini ditujukan untuk mencegah serangan terorisme.

  1. Switzerland

Undang-undang larangan bercadar diproses pada 1 Juli 2016. Lewat aturan ini siapa pun yang mengenakkan cadar bisa dikenai denda hingga 9.200 euro atau Rp 160 juta. Sejauh ini, aturan ini baru berlakukan di wilayah Tessin, Switzerland

  1. Denmark

Denmark telah menjadi negara terakhir di Eropa yang melarang perempuan muslim mengenakan pakaian menutup seluruh wajah, termasuk cadar atau burqa. Aturan ini diberlakukan pada 1 Agustus 2018 dan memberlakukan denda bagi mereka yang melanggarnya.

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: BBC.com | dunia.tempo.co | med.com