Pos

Dari Keluarga Menjadi Cahaya Perdamaian, Kilas Balik PTI 11 Temanggung

Jumat, 15 Januari 2021, pukul 03.00 WITA, alarm hp berbunyi, mengingatkan saya untuk segera bergegas, mempersiapkan apa yang harus dibawah ke pulau seberang, Pulau Jawa. Pukul empat lebih perjalanan menuju bandara Sam Ratulangi Manado. Penerbangan yang semestinya pukul 07.20 WITA, akan tetapi harus tiba lebih awal untuk validasi surat kesehatan. Satu hal yang baru untuk bisa berangkat menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Hal baru yang diterapkan semenjak wabah pandemi virus corona.

Jakarta, tempat tujuanku, untuk melihat hal baru yang masih nampak buram dalam angan-anganku. Bermodalkan alamat yang diberikan oleh panitia, tanpa seorang pun teman yang berangkat bersama, kenekatan dan semangat yang tentunya ditemani oleh rasa waswas.

Tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, diharuskan mengisi kartu kewaspadaan elektonik (e-HAC). Perjalanan dilanjutkan menuju stasiun kereta api bandara, disini saya bertemu dengan seorang pemuda dengan tujuan yang sama. Informasi yang saya dapat dari panitia bahwa ada seorang peserta sedang berada di stasiun yang sama. Wildan, nama pemuda tersebut, mahasiswa asal Pontianak. Percakapan dimulai dan keakraban mulai terjalin antar kami. Obrolan ringan tercipta selama perjalanan menuju Stasiun Kereta Manggarai untuk transit ke Stasiun Pasar Senen, titik kumpul semua peserta.

Peace Train Indonesia (PTI), ya, itulah nama kegiatan yang akan kami ikuti dan sudah pada edisi ke-11. Kegiatan traveling yang melibatkan pemuda lintas iman dengan menggunakan moda transportasi kereta api dan menuju lokasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu oleh panitia pelaksana. Kegiatan ini merupakan edisi kesebelas dengan tujuan Kab. Temanggung, Jawa Tengah. Kegiatan ini yang pertama dilaksanakan semenjak wabah covid-19 muncul dan menyebar di Indonesia. Tentu saja kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menaati dan memperhatikan protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh satgas covid-19.

Tiba di Stasiun Pasar Senen, kami para peserta dikumpulkan dan kegiatan yang pertama yaitu pembukaan kegiatan PTI-11 ini. Setelah pembukaan kami melanjutkan perjalanan kurang lebih enam jam menuju Stasiun Weleri menggunakan kereta api. Dalam perjalanan, peserta mulai saling berinteraksi satu dengan yang lain yang merupakan tujuan dari kegiatan ini, selain juga untuk memecah suasana canggung antar sesama peserta

Pukul 23.00 WIB, kami tiba di Stasiun Weleri. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus menuju Temanggung menuju Dusun Krecek, tempat dimana kami akan Live In  selama beberapa hari. Suasana keakraban antar peserta semakin nampak. Sesampainya di Dusun Krecek, udara dingin yang khas menyambut kami, suguhan teh jahe panas menghangatkan tubuh kami yang perlahan tapi pasti pun mulai berdaptasi.

Saya beragama Katolik menginap bersama Ahmad Annu, peserta yang beragama Islam dan kami tinggal di rumah keluarga yang beragama Budha. “1 tungku 3 batu,” ungkap Richard, salah satu peserta asal Fakfak, Papua Barat yang menimbah ilmu di Jakarta.  Jikalau diibaratkan, rumah ini adalah tungkunya maka kami yang berasal dari latarbelakan agama yang berbeda adalah batu nya. Obrolan ringan pun tercipta ketika kami tiba dirumah tempat kami menginap. Dari obolan ringan dan singkat ini kami mengetahui bahwa rumah ini milik keluarga Bapak Suradi dan Ibu Partima. Keluarga sederhana yang sehari-hari sebagai petani dan pak Suradi juga sebagai ketua RT. Kami pun menyudahi obrolan kami dan beristirahat.

(Sabtu, 16 Jan 2021) Dipagi hari kami yang seharusnya mengikuti kegiatan keluarga tempat kami menginap pun tak terlaksana, satu hal yang menurut saya adalah satu kerugian, semua itu dikarenakan kami yang terlambat bangun pagi, mungkin karena kami kelelahan ketika menempuh perjalanan yang panjang. Kegiatan dilanjutkan dengan menggunakan mobil pick-up kami menuju ke beberapa tempat ibadah, dengan tujuan untuk bisa membuka wawasan kami terhadap keberagaman yang ada.

Tempat pertama yang kami kunjungi ialah Gereja Katolik St. Yusuf Kaloran, disini kami disambut oleh Romo Fajar. Hal yang unik yaitu ketika kami mengetahui bahwa nama lengkap dari Romo Fajar dari tarekat Missionarii a Sacra Familia (MSF), yakni Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. Terjadilah dialog antar peserta dan Romo Fajar.

Perjalanan kami berikutnya, berkunjung ke kantor PCNU Kab. Temanggung, disini kami disambut oleh pengurus dan makan siang bersama. Dalam kunjungan ini kami mendengar arahan dari Satgas Covid-19 Kab. Temanggung. Selain itu, disini kami para peserta juga diajak untuk bersiaran, tepatnya dia Radio Santika radio kebanggaan masyarakat Temanggung.

Dari PCNU kami berpindah ke Vihara Cahaya Sakti, tempat ibadah umat Buddha, lalu diteruskan ke tempat ibadah Sapta Dharma, salah satu Penghayat Kepercayaan yang beberapa waktu lalu baru saja diakui oleh pemerintah. Sesudah itu kami kembali ke Dusun Krecek untuk melanjutkan kegiatan kami yakni Malam Budaya Nusantara  Sarasehan yang dirangkaikan dengan bedah buku “Ngaji Toleransi” oleh Ahmad Syarif.

(Minggu, 17 Jan 2021) Hari terakhir PTI, kegiatan kami diawali dengan menuju ke Wisata Alam Cerug, tempat yang biasa digunakan oleh umat Buddha yang ada di Dusun Krecek untuk bermeditasi. Disini kami bermeditasi, setelah bermeditasi kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan kami keluar Dusun Krecek, yang secara otomatis mengakhiri kebersaman kami dengan warga Dusun Krecek, terutama dengan keluarga tempat kami menginap. Isak tangis mewarnai pagi ini, perpisahan yang begitu mengharukan dimana kami peserta merasa waktu begitu singkat.

Perjalanan dilanjutkan menuju mata air Jumprit tempat umat Hindu mengambil air yang digunakan untuk upacara keagamaan ketika Hari Raya Waisak. Lalu dilanjutkan ke Wisata Alam Jumprit tempat milik Perhutani yang dikelola oleh Bapak Irwanto dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Hutan Desa.

Kunjungan berikutnya, Kandang Jaran. Kandang Jaran meupakan tempat pembuatan Jaran Kepang atau biasa dikenal dengan Kuda Lumping. Perjalanan kami diakhiri di “Rumah Kita”. Rumah yang dikelola oleh beberapa pemuda Temanggung, disini kami berdiskusi dan menyampaikan apa yang kami alami selama beberapa hari mengikuti kegiatan ini.  Selesai acara di “Rumah Kita” akhirnya kami berpisah, ada yang menggunakan motor menuju Yogyakarta dan ada yang menggunakan bus umum, sedangkan kami tetap menggunakan bus yang disiapkan panitia untuk menuju Stasiun Weleri dan kembali ke Jakarta

Dalam refleksi pribadi, saya menemukan pengalaman baru, ilmu yang baru dan terlebih keluarga baru yaitu keluarga Bapak Suradi, Ibu Partima, dan keluarga Peace Train Indonesia 11. Keluarga yang yang mempunyai satu visi dan misi serta tugas mulia dan tanggung jawab yang berat yakni menjadi agen toleransi dimana kita berada.

Kembali saya mengutip pernyataan dari kawan Richard : “Toleransi bukan untuk dibicarakan tapi untuk dihidupi.” Kami sadar akan hal itu dan konkritnya adalah dipraktekkan. Bahwa untuk menjadi agen toleransi kita harus memulai dari diri sendiri, dengan mengenal diri kita dan apa yang ada pada kita masing-masing sehingga kita boleh dan layak untuk berdamai dengan apa yang baru dan yang tidak ada pada kita. Kedepan dengan menjadi agen toleransi, kita boleh mencontohkan atau mempraktekkan dan menghidupi toleransi itu sendiri melalui tingkah laku kita sehari-hari.

“Merawat Kebinekaan di Era Pandemi” adalah tema PTI 11 ini. MenyebarPandemi Kebinekaan” adalah tujuan kita. Mengikis atau bahkan meruntuhkan sekat-sekat perbedaan adalah tugas kita.

Akhir kata semoga kita boleh menjadi “Cahaya Perdamaian” demi Indonesia baru tanpa perbedaan. Terima kasih Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), terima kasih kakak-adikku dalam keluarga PTI 11. Terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mensukseskan acara ini. Ditunggu keluarga-keluarga baru PTI selanjutnya.

Laurentius Viktorinus Talokon – Alumni PTI 11, Temanggung 2021

Toleransi Memperkuat dan Mengikat 15 Pemuda-Pemudi di Kota Tembakau

Pagi menuju siang di kota 1000 industri, tepatnya di Kota Tangerang aku terbangun dan membayangkan untuk menuju kota tembakau, di Temanggung untuk perjalanan lintas iman yang dinamakan kegiatan Peace Train 11. Setelah bergegas, aku berangkat dengan keyakinan dan doa yang menguatkan untuk mencoba pengalaman sekaligus kegiatan perdana dalam hidupku.

Setelah itu aku sampai di Stasiun Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Aku sudah yakin niatku tidak akan berubah, mungkin aku kelelahan sehingga terlewat, yang seharusnya turun di Stasiun Pasar Senen, aku turun di Stasiun Gang Sentiong.

Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, aku bertemu dengan Kak Isa, beliau yang mengkoordinir massa untuk keberangkatan ke Jakarta-Temanggung. Kemudian aku bertemu Wildan, asal Pontianak, Kiki, asal Tomohon, Oka, Pemuda Hindu asal Jakarta, hingga pace Fak-Fak bernama Bung Richad.

Enam jam perjalanan dalam kereta dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Aku duduk disamping Dini, peserta asal Jakarta, lalu di depanku ada Ine peserta asal NTT, dan Kak Tri peserta dari Pontianak. Selama perjalanan itu kami bertukar pikiran tentang permasalahan pendidikan dan guru. Kami juga banyak bercerita tentang bagaimana kegiatan ini nantinya dan bercerita tentang pengalaman lainnya. Sesampainya di Stasiun Cirebon kami berfoto bersama sebagai dokumentasi kegiatan kami.

Setelah selesai merokok aku dan kawan-kawan langsung bergegas naik ke kereta untuk melanjutkan perjalanan. Aku merasa lapar dan memutuskan pergi ke kantin dan disana tak sengaja bertemu dengan Kak Jojo, salah satu fasilitator Peace Train 11. Kak Jojo bercerita bagaimana pengalaman-pengalamannya ketika mengikuti Peace Train sebelumnya, dimulai dari Peace Train di Bandung, Malang, Wonosobo.

Sesampainya di Stasiun Weleri, kami di jemput panitia dan kawan-kawan dari “Rumah Kita” dengan bus. Mas Adi pendiri “Rumah Kita” di Temanggung, adalah salah satu panitia Peace Train 11. Empat pilar dari “Rumah Kita” yaitu Rumah Belajar Kita, Koperasi KITA, Media Kita, Rumah Zakat KITA. Sesampainya di “Rumah Kita” mencicipi kopi dan jahe khas Kota Temanggung. Setelah beberapa jam di “Rumah Kita” kami melanjutkan lagi perjalanan ke Dusun Krecek. Jalan menuju kesana memakan waktu 1 sampai 2 jam banyak lika liku jalanan yang track nya sangat terjal dan sangat berbahaya menurutku. Disana lah perjalanan lintas iman kita dimulai.

Setelah hampir jam 3 subuh kami sampai di Dusun Krecek kami mesti berjalan sekitar 5 menit untuk ke tempat sekretariat Panitia Peace Train untuk diarahkan sekaligus ada beberapa hal yang dikoordinasikan. Dengan sambutan penuh keramahtamahan hingga kehangatan yang terasa membuatku merasa nyaman untuk yakinkan bahwa perjalanan lintas iman ini akan menjadi pengalaman yang terbaik.

Setelah mendapatkan arahan aku langsung bergegas ke rumah Pak Sarmin. Disana aku bertemu salah satu peserta yang sudah menyusul duluan ke rumah Pak Sarmin. Ahmad Shalahuddin, beliau pemuda Pare-Pare yang sudah lama berkuliah di Yogyakarta. Aku satu rumah dengan Ahmad dan yang menyambut kami adalah Ibu Yati, karena Pak Sarmin, suami Ibu Yati sudah tertidur. Kami kemudian bercerita dan bersilahturahmi. Keramahtamahan Ibu Yati membuatku merasa seperti anak sendiri yang disambut sehabis perjalanan yang jauh.

Setelah minum teh tubruk aku dan Ahmad langsung bergegas ke kamar untuk istirahat walaupun dengan waktu yang singkat. Kami bercerita tentang soal filsafat dan kondisi sosial saat ini dengan lantunan musik sebagai penghantar tidur kami, karena sudah banyak minum kopi tadi.

Tepat pukul 7 pagi aku terbangun dan merasakan dinginnya Dusun Krecek hingga kami mau mandi saja merasa takut karena air nya seperti es batu yang sangat dingin sekali. Pukul delapan sampai pukul sembilan kami mencoba memberanikan diri untuk mandi, kemudian sarapan, dimana sarapan itu sudah disiapkan Ibu Yati. Setelah itu kami langsung ke sekretariat untuk berkumpul untuk mendapatkan arahan mengenai kegiatan kami hari ini.

Momen paling menyenangkan ialah saat kami menaiki mobil bak terbuka walaupun sensasinya agak sedikit menegangkan tapi itu sangat menyenangkan karena kita bisa melihat alam sekitar hingga menghirup udara Dusun Krecek yang masih sangat bersih.

Destinasi pertama kami di Gereja Katolik Santo Yusup, satu hal yang ku ingat dan menjadi ketertarikan ku ialah Romo di Gereja Katolik tersebut memilik nama Romo Ibnu Fajar Muhammad. Hal ini menjadi menarik karena beliau memiliki nama yang unik. Gereja Katolik Santo Yusup juga gereja yang tak luput dari sejarah yang begitu panjang, salah satunya yang memberkati gereja ini adalah Mgr. Soegijopranoto, salah satu pahlawan indonesia.

Selepas dari gereja kita beranjak ke PCNU Kabupaten Temanggung. Sebelum acara dimulai kita makan siang di PCNU dengan khas makanan Temanggung, yang sangat enak. Tidak lupa setelah makan siang kita berlanjut untuk mendengarkan pengarahan sedikit dari Satgas Covid-19 Kabupaten Temanggung. Beliau menghimbau agar kita lebih menjaga jarak dan mencuci tangan serta menggunakan masker. Karena penyebaran Covid-19 di Kabupaten Temanggung sangat masif. Oleh karena itu kita harus berjaga-jaga.

Masih di tempat sama, kami bersiaaran di Radio Santika (96.4 Santika FM), pada siaran kami kali itu kami mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dalam sudut pandang orang muda dan bagaimana kita tetap konsisten dalam merawat kebinekaan di tengah pandemi covid-19 saat ini.

Setelah dari PCNU, kami menuju Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti. Melalui dialog dijelaskan Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti masih tetap konsisten dalam menjalankan kegiatan lintas iman walaupun untuk situasi pandemi kali ini mereka mengurangi aktivitasnya.

Kemudian kami beranjak ke Komunitas Penghayat Kepercayaan Sapto Darmo. Jaraknya memang sangat jauh, dan perjalanan kami sempat diguyur hujan. Tapi niat kami tidak terurungkan oleh keadaan disana di Komunitas Sapto Darmo kami melakukan dialog seperti, bagaimana persebaran pertama kali di Kabupaten Temanggung dan siapa yang menyebarkannya. Hal itu menjadi pengalaman baru lagi bagi saya setelah sebelumnya mengetahui Komunias Penghayat Kepercayaan yaitu Sunda Wiwitan, dimana para penganut Kepercayaan dulu pernah tidak diakui oleh negara dan bersyukur hari ini mereka sudah diakui oleh negara.

Agenda terakhir, malma harinya kami dengan mendengarkan bedah buku Gus Yahya yang berjudul “Ngaji Toleransi” satu hal yang bisa saya simpulkan dalam bedah buku tersebut, bahwa toleransi harus mengikat kita walauapun suku agama kita berbeda tetapi bahasa kemanusiaan itu penting agar cinta dan toleransi itu bisa mengikat kita semua.

Setelah bersantap malam dan berfoto saya berjumpa dengan Ahmad lagi untuk kembali ke tempat istirahat karena kami sudah lelah, dan harus persiapan di hari esok.

Saya terbangun karena kaget dan merasa kedinginan, jam menunjukan pukul 5, bertepatan dengan kegiatan kami yang memang dimulai pada jam itu. Saat saya keluar kamar, saya melihat Bu Yati sedang menyiapkan dagangannya, bubur. Saya tidak ingin berdiam diri dan memutuskan untuk membantu Ibu Yati. Selesai membantu Ibu Yati saya melakukan sedikit pemanasan sebelum berangkat menuju curug untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

Perjalanan menuju curug lumayan licin tapi tidak menyulutkan semangat saya ke curug untuk bermeditasi. Jarak ke curug memakan waktu berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Saya merasa beruntung walau sedikit lelah tapi lelah saya terobati karena mendengar curahan air terjun yang membuat hati saya tenang dan teduh. Kemudian saya beserta teman-teman lainnya mencoba untuk bermeditasi. Walaupun saat meditasi saya merasa agak sedkikit capek, tapi saya tetap bisa fokus saat melakukan meditasi.

Selesai bermeditasi kami berdiskusi dan berfoto, darisana kami kembali ke rumah tempat menginap untuk berkemas dan melanjutkan kegiatan selanjutnya. Jujur aku sedih karena waktu interaksiku dengan Pak Sarmin dan Ibu Yati sangat singkat.

Saya sangat bersyukur dalam tiga hari yang singkat itu saya diterima dengan baik dan sudah dianggap anak sendiri oleh Pak Sarmin dan Ibu Yati. Saya pun sempat bertanya dengan anak Pak Sarmin, David namanya. Saya bertanya apa cita-cita David, jawabnya “Ingin menjadi gamers dan youtubers” membuatku merasa agak tergelitik tapi itulah cita citanya yang nyata.

Mobil bak sudah siap dan kami harus pergi. Destinasi selanjutnya ke Air Mata Umbul Jumprit, kawasan mata air yang terletak di Lereng Gunung Sindoro, disana banyak sekali binatang monyet. Air Mata Umbul Jumprit bisa diambil airnya untuk diminum, dan biasanya Air Mata Umbul Jumprit digunakan untuk Hari Raya Waisak di Candi Borobudur.

Beranjak dari Umbul Jumprit kita ke Wisata Alam Jumprit atau biasa disebut Wapitt. Udaranya dan embunnya sangat terasa karena di bawah kaki Gunung Sindoro. Disana sangat dingin ditambah curah hujan yang gerimis. Salah satu pemilik Wapitt ialah mantan bupati Kabupaten Temanggung. Kami berdiskusi dengan beliau terkait potensi pengembangan usaha nya dan juga melihat bagaiamana fenomena pandemi ini apakah sangat berpengaruh dalam pengembangan sektor pertanian dan rekreasinya.

Selesai diskuis kami kembali bersantai dan sekaligus santap makanan khas Temanggung. Saya paling suka makan nasi gono dan saya hampir nambah 3 kali, nasi gono enak sekali, dengan campuran suwir ikan, ayam, ditambah tempe itu sangat nikmat.

Setelah dari Wapit, segera kami bergegas ke Kandang Jaran, dimana Kandang Jaran ini ciri khas kesenian Kabupaten Temanggung dan yang sangat saya banggakan atas kesenian ini tetap berjalan walaupun disituasi pandemi. Kanang Jaran milik Temanggung sangat variatif dan unik.

Perjalanan berakhir di “Rumah Kita” disana kami diberi pengarahan, serta melakukan sharing atas perjalanan yang sudah kami lalui.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Saya yakin alumni Peace Train 11 disetiap langkah mereka, mereka akan selalu optimis mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dan bukan sekedar itu saja tetapi juga melakukan hal itu menjadi tindakan yang nyata.

Akhirnya kami pergi meninggalkan Kabupaten Temanggung untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.

Satu hal yang saya bisa ambil dari perjalanan ini, kebersaman akan timbul dalam bingkai keberagaman bila kita saling toleransi satu sama lain dan bahasa kemanusiaan juga harus tetap terjaga tanpa memandang agamamu apa, sukumu apa..

_Janeiro Subiyanto Manuhua, Alumni Peace Train Indonesia 11

Kandang Jaran Temanggung Jadi Destinasi Peace Train

Ada empat tempat yang menjadi tujuan Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung di hari terakhir pada Minggu (17/1). Keempat tempat tersebut adalah mata air Jumprit yang airnya biasa diambil untuk upacara Waisak, Wapitt: destinasi wisata alam di Temanggung, Kandang Jaran: tempat pembuatan Jaran Kepang kesenian khas Temanggung, dan Rumah Kita.

Para peserta mendapat pengetahuan tentang tanaman hidroponik dari Ir. Irawan Prasetyadi, MT., pemilik tempat wisata Wapitt. Selain itu, para peserta juga berdiskusi di Kandang Jaran. Kandang Jaran didirikan tahun 2010 oleh Supriwanto di Dusun Kembang Desa Dlimoyo Kecamatan Ngadirjo. Tahun 1931, pembuatan Jaran Kepang dimulai oleh Sang Mbah kemudian diteruskan oleh Sang Bapak pada tahun 1971. Supriwanto kemudian meneruskannya lagi setelah ia lulus sekolah.

“Membuat Jaran Kepang adalah panggilan jiwa sebab saya suka dengan kesenian Jaran Kepang. Saya ingin Jaran Kepang dikenal banyak orang. Orang-orang kadung tahu bahwa Jaran Kepang dikaitkan dengan mistis, padahal tidak.” Terangnya kepada para peserta.

Saat ini telah berdiri Paguyuban Jaran Kepang Temanggung (PJKT) dari 20 kecamatan pegiat Jaran Kepang dan menjadi trendsetter di wilayah Jawa Tengah. Terkait hal ini, Supriwanto mengaku bahwa alasannya adalah karena Jaran Kepang di Temanggung mengedepankan kreasi, bukan atraksi. Sementara itu, pemasaran Jaran Kepang di Kandang Jaran sudah sampai ke Malaysia.

Richard Riruma, peserta dari Papua menyatakan bahwa Peace Train merupakan langkah yang paling konkret dalam menghidupi toleransi di Indonesia. “Saya punya mimpi bahwa di Papua ada orang Papua yg beragama Hindu, Buddha atau agama-agama lainnya, dan mereka duduk sama-sama menghidupi toleransi.” Tegasya.

Perjalanan Peace Train 11 berakhir di Rumah Kita, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak muda untuk mengadu ide di Dusun Demangan, Kecamatan Ngaderjo, Kabupaten Temanggung.

Adi Budiawan, pengampu Rumah Kita berharap semua peserta bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari kunjungan-kunjungan dan bisa kembali ke Temanggung dengan melaksanakan kegiatan yang sama.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Kunjungi Klenteng, Peserta Peace Train 11 Belajar Tentang Agama Buddha

Tempat Ibadah Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti menjadi destinasi terakhir di hari pertama Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung.

Dipandu Bapak Pandita Edwin Nugraha, para peserta belajar tentang seluk-beluk agama Buddha termasuk tiga komponen Tri Darma dalam Buddha, tiga ajaran dari Buddha, Konghuchu, Lao-Tze.

“Masyarakat menjalani apa yg masing-masing disabdakan. Dalam ajaran agama Buddha, ada karma nasib, yakni nasib baik dan buruk. Semua ciri-cirinya sama. Ketiganya mesti ada.” Jelas Pandita Edwin kepada para peserta.

Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti didirikan tahun 1890, 130 tahun yang lalu. Klenteng dengan pengurus 8 orang ini biasanya rutin dikunjungi komunitas Gusdurian setiap tahunnya. Sayangnya, tahun 2020 lalu tidak ada kunjungan karena pandemi Covid-19.

Usai mengunjungi Klenteng, para peserta melanjutkan kegiatan Malam Budaya. Kegiatan diisi dengan bedah buku Ngaji Toleransi karya Gus Yahya. Dalam buku tersebut, Gus Yahya menceritakan pengalaman toleransinya sebagai santri dari kalangan pesantren yang mempelajari Islam sebagai agama inklusif dan kebanggannya menjadi orang Kaloran yang meskipun masyarakatnya berbeda-beda keyakinan tapi tak pernah ada konflik terjadi.

“Cita-cita saya adalah menjadikan Koleran sebagai wisata kota toleran.” Terangnya kepada para peserta.

Richard, peserta asal Papua menceritakan pengalaman toleransi di kampung halamannya dengan menceritakan tentang filosofi Satu Tungku Tiga Batu.

Selain itu, Kiky, peserta dari Tomohon juga bercerita tentang pengalaman toleransi di kampung halamannya di mana masyarakat di sana saling berbagi makanan satu sama lain dalam perayaan hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Paskah, dan Natal.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama Pak Sukoyo, Kepala Dusun Krecek. Acara juga dihadiri oleh Romo Fajar, Rektor Universitas Syailendra, Kades Getas, serta perwakilan Koramil dan kepolisian setempat.

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Merawat Kebinnekaan di Era Pandemi Melalui Kegiatan Peace Train

Pandemi Covid-19 tidak membuat semangat para peserta Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung meredup. Upaya merawat kebhinnekan di era pandemi tak boleh redup. Selain berkunjung ke tempat-tempat ibadah berbagai agama, salah satu tempat lain yang dikunjungi adalah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Acara dimulai dengan arahan dari Joko Prasetyono, Satgas Covid-19 Temanggung. Ia menegaskan bahwa kegiatan Peace Train 11 telah diizinkan Satgas Covid-19 sebab tetap mematuhi protokol kesehatan. Ia juga menjelaskan bahwa bencana terbagi menjadi dua yakni bencana alam dan bencaba di luar alam. Dahulu, bencana non-alam jarang populer, namun kini umat manusia menghadapi pandemi Covid-19.

Di Temanggung, orang yang terkonfirmasi virus Corona berjumlah 3.119 kasus. Saat ini, hanya tersisa 94 orang. Joko menegaskan bahwa para peserta Peace Train 11 mesti memastikan telah taat dengan protokol kesehatan.

“Jika badan merasa tidak sehat, maka harus segera istirahat.” Pesannya kepada para peserta yang berjumlah 15 orang.

Peace Train Indonesia kali ini membawa dua misi. Pertama, ajang bagi generasi muda dalam peran sertanya merawat kebinekaan dan perdamaian di era pandemi. Kedua, kampanye hidup sehat di era New Normal dengan selalu mematuhi protokal kesehatan yang diatur oleh pemerintah.

Nurdin Wahid, S.Pdi, Direktur Radio Santika FM di PCNU Temanggung menyatakan bahwa ia dan timnya siap mendampingi kegiatan Peace Train yang telah menginspirasi anak-anak muda. Menurutnya, Kabupaten Temanggung adalah kota yang tepat untuk dikunjungi sebab masyarakatnya memiliki latar belakang yang sangat beragam tapi tidak pernah ada konflik.

“Napas perjuangan Peace Train dan Radio Santika FM sama dan harus saling mendukung. Apa yang selama ini diperjuangkan oleh teman-teman di media cetak dan elektronik didukung oleh perjuangan edukasi yang dilakukan oleh Peace Train.” Terangnya.

Menurutnya, hidup di dunia harus belajar dengan kenyataan bahwa Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa dengan keberagaman. Bisa saja Tuhan menciptakan manusia dengan kesamaan tapi manusia diciptakan beragam, tergantung bagaimana menyikapi semua perbedaan yang ada.

Ia melanjutkan, “semakin kita dewasa dan berwawasan luas, perbedaan adalah sunnatullah. Allah Swt. menciptakan perbedaan untuk manusia, apakah perbedaan menjadi rahmat dan kasih sayang, ataukah menjadi sesuatu yang sangat merugikan.”

Kunjungan ditutup dengan wawancara para peserta oleh kru Radio Santika FM. Wawancara dilakukan dengan mekanisme physical distancing dan protokol kesehatan yang telah diatur oleh pemerintah.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Peace Train 11 Kunjungi Gereja Santo Petrus Paulus di Temanggung

Peace Train kembali digelar untuk yang ke-11 kali di Temanggung, Jawa Tengah. Peserta yang terlibat berjumlah 15 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 8 laki-laki. Peace Train 11 adalah kegiatan Peace Train pertama yang dilaksanakan selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Kunjungan toleransi pertama berlangsung di Gereja Santo Petrus Paulus, Kaloran, Temanggung. Dalam kunjungan tersebut, Yb. Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. memaparkan tentang sejarah Gereja Santo Yusuf yang berdiri tahun 1950 dan kondisi 40 gereja yang ada di Kabupaten Temanggung.

Selain itu, Romo Fajar juga menyampaikan tentang relasi umat Katolik dengan masyarakat non-katolik di Temanggung. Diskusi dengan peserta berlanjut, topik pembahasan sangat beragam, mulai dari politik identitas sampai politik internasional.

Kegiatan ini telah mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 Temanggung dan berlangsung sejak Jumat, 15 Januari 2021 sampai Minggu, 17 Januari 2021. Peace Train 11 menempuh rute Jakarta-Temanggung dengan tema kegiatan “Merawat Kebhinnekaan di Era Pandemi”.

Peserta berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Stasiun Waleri lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Desa Krecek.

Terkait kujungan ke gereja, Christy Yuhas Dini, peserta Peace Train dari kalangan Baha’i mengaku mendapatkan pengetahuan baru. “Terbukti bahwa ternyata ada nama Muslim yang ternyata seorang Romo. Kita tidak bisa menilai dari cover atau dari nama saja. Misalkan namaku, Christy, tapi tidak beragama Kristen.”

Ia menambahkan, “akar dari semua masalah adalah karena ketidaktahuan. Perlu ada dialog terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman.”

Peace Train diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang didukung oleh Demokrasi.id, Kabar Sejuk, Jaringan Gusdurian, Radio Santika FM, dan lain-lain.[]

_Ayu Alfiah Jonas – Fasilitator Peace Train Indonesia 11

Aku Berkereta, Maka Aku Ada: Sebuah Perjalanan Yang Belum Usai

(Refleksi Peace Train ke-11)

Oleh: Daeng Ahmad SM*

Kita diuji dengan adanya suatu kelompok yang mengira bahwa Allah tidak memberi petunjuk selain pada mereka

(Avicenna)

 

Inilah saatnya

melepas sepatu yang penuh kisah

meletakkan ransel yang penuh masalah

dan mandi mengusir rasa gerah

menenangkan jiwa yang gelisah.

Prolog: Pandemi Yang Merobek Kebhinnekaan

Sudah hampir setahun pandemi covid-19 ini dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pagebluk covid-19 ini tidak sekadar mengubah kebiasaan manusia, tapi juga mengubah banyak struktur masyarakat di berbagai sendi kehidupan. Protokol untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak digaungkan di mana-mana. Selain itu, perintah untuk menjauhi kerumunan dan tetap di rumah saja makin membawa manusia mengalami hari sabat terlamanya. Seolah, pandemi ini benar-benar menjadi jeda dari rutinitas manusia yang mekanis.

Di satu sisi, kondisi pandemi ini memunculkan banyak solidaritas antar kelompok atau komunitas untuk bahu membahu di tengah ombang-ambing keadaan yang menghancurkan hampir semua struktur kehidupan manusia. Bioskop tutup, sekolah berganti mode daring dan tentu saja kesenjangan sosial makin terasa, kondisi sosial-ekonomi guncang seketika. Selain terancam oleh virus mematikan ini, ancaman yang lainnya adalah kelaparan. Manusia seolah hanya punya dua pilihan, mati akibat corona, atau mati karena kelaparan.

Di sisi lainnya, solidaritas yang konstruktif tersebut diwarnai oleh aksi-aksi intoleransi di tengah kondisi huru-hara ini. Sehingga pandemi covid-19 dan intoleransi menjadi double kill bagi rakyat Indonesia di negeri berslogan Bhinneka Tunggal Ika ini. Kondisi pandemi seperti ini rupanya tak menyurutkan nafsu untuk melakukan tindakan intoleransi kepada kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan.

Kondisi pandemi yang dijadikan oleh sebagian orang untuk beribadah dan makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ternyata tidak digunakan baik oleh segelintir kelompok tertentu untuk melancarkan aksi intoleransiya. Masih segar di ingatan kita, bulan September 2020 lalu, terjadi empat kasus intoleransi sekaligus dalam sebulan. Bukannya September ceria, namun September kelabu.

Pertama, 1 September, terjadi pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas pendeta di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Kec. Napagaluh, Kab. Aceh Singkil. Kedua, 13 September, sekelompok orang mengganggu ibadah jemaat HKBP KSB di Kab. Bekasi. Ketiga, 20 September, terdapat penolakan ibadah yang dilakukan oleh sekelompok warga Graha Prima terhadap jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kec. Jonggol, Kab. Bogor. Keempat, 21 September, terjadi lagi pelarangan ibadah bagi umat Kristen di Desa Ngastemi, Kec. Bangsal, Kab. Mojokerto. (Sumber: Siaran Pers Setara Institute, 29 September 2020). (Baca juga: https://peacenews.yipci.org/sudahkah-kita-membalut-luka-nya/)

Jika ditarik lagi ke belakang, kasus intoleransi akan ditemukan tidak sedikit dan hari ini tidak mengalami penurunan meskipun virus covid-19 melanda, justru sebaliknya—mengalami eskalasi. Meski tak ada satu pun orang yang mampu meyakinkan kita kapan kondisi ini akan berakhir.

Belum selesai kasus intoleransi, paling tidak hingga bulan Januari, awal tahun 2021—negeri ini terus digempur oleh maraknya duka yang terus berdatangan. Di mana korban pagebluk ini tak jua menunjukkan penurunan kasus, justru sebaliknya, makin melangit. Lalu kabar duka datang dari pesawat yang jatuh yang menelan banyak korban jiwa, ditambah bencana alam menimpa berbagai daerah di Indonesia. Bertubi-tubi dan menambah panjang soal ujian sebagai manusia yang ternyata tidak berdaya apa-apa di hadapan kemahaan-Nya.

Inilah saatnya

Duduk bersama dan bicara.

Saling menghargai nyawa manusia.

Ahimsa,

tanpa kekerasan menjaga martabat bersama.

Anekanta,

memahami dan menghayati

keanekaan dalam kehidupan

bagaikan keanekaan di dalam alam.

Peace Train: Laku Meditasi Menemukan Diri

Membaca membuat manusia utuh, meditasi menjadi manusia yang mendalam, wacana menjadi manusia yang jernih” (Benjamin Franklin)

Meditasi atau samadhi adalah satu momentum menyelami kesadaran diri manusia. Masuk pada sebuah titik dimana kita memiliki diri kita sendiri. Titik dimana kita dapat memahami diri kita. Mengecek ulang apakah semua berjalan dengan pengetahuan kita, atau hanya berjalan mekanis oleh sebab kerumunan manusia lainnya berlaku demikian.

Perjalanan kunjungan ke berbagai tempat peziarahan, dari dusun Krecek, gereja, klenteng, sanggar (tempat ibadah Sapta Dharma), Umbul Jumprit hingga berbagai tempat lainnya adalah rute menyelami semesta ciptaan yang direfleksikan ke dalam diri. Perjalanan fisik atau tubuh material satu sisi membantu tubuh rohani berefleksi untuk melihat-Nya di semua ciptaan, melihat wajah kerahiman-Nya di segala sesuatu. Karena sesungguhnya Sang Pencipta tidak menyembunyikan diri dari mereka yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.

Tersebutlah satu ungkapan dalam mistik Islam bahwa “mengenal diri sama dengan mengenal Sang Pencipta”, manusia dapat melihat pancaran atau emanasi Sang Pencipta dalam dirinya sendiri dan seluruh ciptaan lainnya. Dia sesungguhnya dekat, tak pernah jauh di sana. Melalui dan menziarahi beberapa tempat selama Peace Train berjalan adalah upaya untuk mendalami lebih dekat tiap detail dari ragam ciptaan-Nya yang bertebaran di muka bumi. Mengunjungi tempat di mana nama-Nya disebut dan dimuliakan, membawa manusia sekaligus mensyukuri kebhinnekaan yang telah tercipta, bahwa kebhinnekaan tersebut disyukuri dengan cara merayakannya, bukan memperdebatkannya.

Kahlil Gibran dalam salah satu syairnya juga pernah memberitahu kepada umat manusia bahwa Sang Pencipta juga melingkupi semesta ini, “kalau kamu ingin mengenal Tuhan, maka janganlah menjadi pemecah masalah”, kata penyair kelahiran Lebanon itu. “Lihatlah saja sekelilingmu berada, engkau akan melihat Dia dan anak-anakmu bermain bersama. Dan layangkanlah pandangmu ke angkasa. Kau akan melihat-Nya berjalan diantara mega, menjulurkan tangan-Nya dalam guntur datang melalui hujan yang turun. Kau akan melihatnya tersenyum diantara bunga-bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan di pucuk pepohonan”.

Dari perjalanan singkat kurang lebih 3 hari dan 2 malam tersebut, laku serta refleksi dalam Peace Train kali ini membawa batin pesertanya ke dalam renungan pengalaman jasmani, pengalaman rohani atau spiritual serta pengalaman tentang kediriannya. Menyelami hikmah dan merefleksikannya ke dalam diri dari tiap-tiap peristiwa serta menghayati keugaharian dari tiap-tiap orang yang ditemui dalam perjalanan.

Epilog: Menjadi Kereta, Merawat Kebhinnekaan

Menerima hidup bersama

dengan golongan-golongan yang berbeda.

Lalu duduk berunding

tidak untuk berseragam

tetapi untuk membuat agenda bersama.

Di akhir perjumpaan para peserta Peace Train, di atas tanah Kabupaten Temanggung yang baru usai diguyur hujan, beberapa peserta mengutarakan tentang waktu perjumpaan yang dirasa kurang, acaranya dirasa terlalu sebentar, Peace Train ini dirasa begitu singkat. Hal ini mungkin bukan soal yang besar, karena saat ini kita adalah train atau kereta itu sendiri. Kali ini kita tidak lagi menumpang di atas kereta, tetapi justru kita adalah kereta itu sendiri.

Sudah saatnya kita menjadi kereta bagi orang yang lain, menjadi kereta yang membawa penumpangnya dari stasiun satu ke stasiun lainnya, menyambungkan kota-kota yang berbeda, menyambungkan mereka yang terpaut jarak, mendekatkan yang jauh. Demikianlah kita menjadi kereta di tiap baris kehidupan kita, menjadi penghubung banyak kota—menjadi penghubung banyak umat manusia yang penuh ragam perbedaan. Mendekatkan perbedaan, menyatukannya dalam irama harmoni kehidupan yang puspa warna.

Lepas kereta api mengantar para pesertanya pulang ke peraduannya masing-masing—ini jelasn bukan berarti akhir dari perjalanan, namun justru awal dari perjalanan baru yang sebenarnya. Dalam satu lingkaran yang sama ketika pelatihan berlangsung, suasana damai dan harmoni terjalin dengan indah antar para peserta yang berbeda latar belakang kota, agama, suku dan komunitasnya. Tanpa disadari bahwa perjalanan sebenarnya baru saja dimulai setelah mereka semua tiba di peraduan masing-masing, di kota atau di lokasi kita berada, berinteraksi, bertumbuh, berdinamika, dan menemukan makna. Perjalanan yang sebenarnya adalah perjalanan yang tak berujung di tengah realitas kehidupan sehari-hari, yang kita lihat di televisi, di jalan-jalan hingga di media sosial dalam genggaman kita, serta semua hal yang tampil di hadapan mata kita.

Kita adalah kereta itu sendiri, yang terus melaju dan singgah di tiap perhentian di stasiun demi stasiun. Kita singgah di tiap stasiun pengalaman sehari-hari. Di tiap stasiun tersebut kita mengangkut penumpang yang beragam. Menemani para penumpang bertemu tujuannya. Hingga ke tujuan yang hakiki, ke sebuah tempat yang tak ada lagi penghakiman atas pilihan-pilihan pribadi manusia, ke tempat yang penuh penghargaan atas martabat manusia, ke tempat di mana manusia memuliakan Sang Pencipta dengan cara memuliakan ciptaan-Nya.

Namun, sekali lagi, tujuan kita yang hakiki yang berjarak ratusan mil di depan, tidak akan tercapai tanpa memulai satu meter pertama bukan?

Inilah saatnya

Inilah saatnya.

Ya, saudara-saudariku.

Inilah saatnya bagi kita.

Di antara tiga gunung

memeluk rembulan.

(WS. Rendra – “Inilah Saatnya”)

 

Pulang-Pergi Yogyakarta dan Temanggung,

Di atas tanah Ngayogyakarta Hadiningrat,

19 Januari 2021.

 

* Peserta Peace Train ke-11

(Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia)

(Mahasiswa Pascasarjana Fak. Teologi UKDW Yogyakarta)

Catatan Buruk Kebinekaan di Madura

Ketika saya mengunjungi rumah ibadah diluar agama saya dan saling berinteraksi bersama pemeluknya, bukan berarti saya sedang mencampur adukkan agama saya (islam.red) dengan agama lainnya, atau bahkan sedang menukar keyakinan saya dengan keyakinan agama lainnya. Tetapi, saya sedang belajar menikmati toleransi dan merayakan keberagaman diantara saya dengan mereka.

Bagi sebagian orang, utamanya yang berteman dengan saya di media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram dan WhatsApp, ketika saya posting foto kegiatan kunjungan saya ke rumah-rumah ibadah di Temanggung selama mengikuti peace train Indonesia yang ke -11, muncul beberapa komentar. Ada yang sedikit sinis, ada yang menyayangkan sikap saya dan bahkan ada yang mengkafirkan perbuatan saya.

Bagi saya, kegiatan yang saya ikuti di Peace Train Indonesia ke Temannggung ini bagian dari cara bagaimana kita merefleksikan kebinekaan dan keberagaman. Sebab kita belajar langsung dan merasakan langsung keberagaman antar umat beragama. Kita tidak bisa hanya sekedar membaca dari teks untuk memahami keberagaman, tetapi juga butuh berinteraksi langsung agar lebih utuh. Saya pun menyadari, komentar-komentar miring dari beberapa teman saya ini karena ketidakmengertian mereka atau bahkan ketidaksadaran mereka kalau sedang hidup di Indonesia yang multikultural, multietnik dan bahkan multi-multi yang lainnya. Rata-rata, mereka yang berkomentar ini adalah teman-teman saya di Madura. Saya memaklumi, sebab di Madura masih sedikit eksklusif masyarakatnya (termasuk saya).

Kemudian saya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu dimana aliansi lora muda Madura (anak muda keturunan kiai) melakukan penolakan terhadap kepala kepolisian daerah Jawa Timur karena non muslim. Mereka yang bergabung barisan lora muda ini mendeklarasikan diri sebagai orang yang menolak Kapolda Jawa Timur karena non muslim. Tidak lama kemudian, beredar kembali surat pemberitahuan rencana aksi demontrasi yang hendak dilakukan oleh Pemuda Madura Peduli Islam, lagi-lagi pemuda Madura yang tidak terima dengan pimpinan Kapolda Jawa Timur non muslim.

Pada 2012 silam, juga terjadi lebaran berdarah warga Syi’ah Sampang Madura, mereka penganut paham Syi’ah diusir dari tanah kelahirannya. Belum lagi kalau kita mengingat sejarah tahun 97 tragedi perang Sampit dan tahun 99 konflik antara etnis Madura vs Dayak di Kalimantan.

Sejarah kelam ini menjadi catatan penting bagi saya, bahwasanya Madura belum berhasil menanamkan nilai-nilai perdamaian dan Madura masih gagal merawat kebinekaan. Madura seperti bom waktu, sebab belum terbiasa dengan sebuah perbedaan. Bayangkan, hanya karena beda aliran dan pandangan saja dalam satu agama saling caci maki dan bahkan ada yang sampai saling pukul.

Butuh perjuangan panjang untuk membangun Madura yang toleran dan inklusif. Butuh kempanye lebih massif lagi agar Madura terbiasa dengan perbedaan dan menjunjung tinggi tinggi kerukunan. Madura memang sangat rukun dan sangat kuat dalam menjaga persaudaraan, tapi itu masih dalam satu keluarga dan satu etnis saja. Ini adalah PR kita bersama untuk merawat keberagaman di Madura.

Catatan ini, bukan dalam rangka menjatuhkan martabat Madura, tapi ini bagian dari ikhtiar saya untuk membangun kesadaran kolektif bagi pemuda Madura.

-Ahmad Annur (Peserta Peace Train ke-11) 

Press Release – Peace Train Indonesia 11 Jakarta-Temanggung

Press Release

Peace Train Indonesia 11 Jakarta-Temanggung

Jumat – Minggu, 15 – 17 Januari 2021

“Merawat Kebhinnekaan di Era Pandemi” 

Jakarta, 14 Januari 2021 – Peace Train Indonedia (PTI) adalah program travelling lintas iman dengan menggunakan kereta api, menuju ke satu kota yang telah ditentukan. Anak-anak muda dari berbagai agama dan kepercayaan akan berjalan bersama mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antar agama.

Program ini digagas oleh empat orang aktivis lintas iman, yakni: Anick HT, Frangky Tampubolon, Ahmad Nurcholish, dan Destya Nawriz. Sejak tahun 2017, Peace Train Indonesia telah melaksanakan perjalanan untuk kebinekaan dan perdamaian hingga 10 kali trip. Pada Januari 2021 ini merupakan trip ke-11.

Peace Train Indonesia 11 rute Jakarta – Temanggung akan diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) pada Jumat, 15 Januari 2021 s/d Minggu, 17 Januari 2021. Setelah melalui rapid test, para peserta akan dilepas pada Jumat, 15 Januari 2021 di Stasiun Pasar Senen Pukul 16.00 s/d 16.30 WIB. Kegiatan ini diikuti 15 peserta dari berbagai latar belakang agama yang dikoordinasi oleh Manajer Program ICRP Isa Oktaviani. Kelimabelas peserta tersebut berasal dari area Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan (Banten), Pontianak (Kalbar), Tomohon (Sulut), Madura (Jatim), Magelang, Salatiga (Jateng), Yogyakarta, Bandung (Jabar), dan Temanggung (Jateng).

Pandemi Covid-19 masih berjalan, tapi kegiatan (ikhtiar) merawat kebinekaan dan perdamaian jangan sampai berhenti. Aktivitas mengelola kebinekaan dan upaya mewujudkan perdamaian tentu menjadi hal yang penting di masa pandemi ini. Masyarakat masih bisa beraktivitas dengan protokol kesehatan yang ketat yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan secara rutin memakai hand sanitizer. Satgas Covid-19 Indonesia mengizinkan masyarakat beraktivitas dengan syarat masyarakat harus menjalankan protokol kesehatan yang tepat.

“Peace Train Indonesia kali ini membawa dua misi, yakni, pertama, ajang bagi generasi muda dalam peran sertanya merawat kebinekaan dan perdamaian di era pandemi, dan kedua, kampanye hidup sehat di era New Normal dengan selalu mematuhi protokal kesehatan yang diatur oleh pemerintah,” tutur Direktur ICRP Pdt. Frangky Tampubolon yang juga salah seorang penggagas Peace Train Indonesia.

Penggagas PTI lainnya, Ahmad Nurcholish menambahkan bahwa di era pandemi Covid-19 kelompok-kelompok intoleran-radikal tak pernah berhenti dalam beraksi. Karenanya perlu counter dan penyeimbang dari kelompok-kelompok toleran yang tak boleh berhenti dalam merawat kebinekaan dan terus berupaya mewujudkan perdamaian.

“Ikhtiar-ikhtiar merawat kebinekaan tidak boleh berhenti dilakukan. Di era pandemi pun hal tersebut harus tetap diprioritaskan. Karena dari situlah upaya membangun perdamaian tak sulit untuk diwujudkan,” tandas deputi direktur ICRP Ahmad Nurcholish.

Salahsatu peserta dari Pontianak Kalimantan Barat, Wildan Mubaraak mengatakan tujuan mengikuti Peace Train Indonesia untuk lebih dekat dengan masyarakat dan belajar bersama di sana. “Saya ingin belajar bersama terutama suku, agama dan budaya serta berbaur dengan masyarakat lokal di tempat tujuan,” kata Wildan dari Perkumpulan Pemuda Satu dalam Perbedaan (SADAP INDONESIA).

Laurentinus, peserta dari Tomohon mengatakan kegiatan Peace Train Indonesia ini adalah wadah berjumpa dengan teman baru dari berbagai latar belakang. “Saya akan membawa nilai perdamaian ke Tomohon dan membagikannya dengan teman-teman di daerah saya,” ujar Laurentinus dari Forum Pemuda Lintas Agama (PELITA) Tomohon.

Tempat-tempat yang akan dikunjungi dalam Peace Train 11 Jakarta-Temanggung antara lain; Dusun Krecek, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Temanggung, Gereja Santo Petrus Paulus, Klenteng, Kalisat (Sapto Dharmo), Pabrik Radio Kayu Magno dan Sepeda Bambu, Situs Liyangan, Kandang Jaran, RuMAH KiTA, dan lain-lain.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan berproses untuk saling belajar, bekerja bersama, mengelola perbedaan, berkampanye, dan menuliskan pengalaman perjumpaan. Program ini diorientasikan untuk menjadi program reguler sehingga akan mengeksplorasi sebanyak mungkin kota di Indonesia yang bisa dijangkau lewat kereta, dan melibatkan sebanyak mungkin komunitas muda lintas agama.

Tahun baru 2021 adalah momentum yang tepat bagi generasi milenial Indonesia untuk menguatkan kembali kerukunan beragama, kekuatan keberagaman, dan perdamaian. Peace Train adalah salah satu sarana untuk mewujudkannya melalui pengalaman bertoleransi yang nyata.

Peace Train Indonesia 11 Jakarta – Temanggung diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang mendapatkan dukungan dari The Network for Religious and Traditional Peacemaker dan European Union. ICRP juga bekerjasama dengan lembaga mitra, antara lain: Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Persatuan Sekolah Perempuan Perdamaian, GusDurian, Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Komunitas Keberagaman Peace Leader Indonesia, Orang Muda Katolik (OMK) Temanggung, Wiata Kreatif Jakarta, AMAN Indonesia, dan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH).

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Buddhazine, dan Santika FM menjadi media partner dalam program ini.

Info lebih lanjut:

Pdt. Frangky Tampubolon (0811 138 8160)

Ahmad Nurcholish (0813 1106 8898)

Isa Oktaviani (0857 8715 2995)

Jojo (0813 8035 5847)

 

Silahkan download, file Press Release,: https://bit.ly/2MV14Hy

Merawat Kebinekaan di Era Pandemi

Merawat Kebinekaan di Era Pandemi

(Catatan Pengantar Peace Train Indonesia ke-11 Jakarta – Temanggung)

Ahmad Nurcholish

Pandemi Covid-19 yang menerpa Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu tak menghalangi sejumlah orang maupun komunitas untuk tetap berupaya bagaimana merawat kebinekaan sekaligus perdamaian di Tanah Air, bahkan dunia. Upaya tersebut tak hanya sekadar wacana melainkan sudah mewarna dalam bentuk aksi nyata.

Salah satu contoh adalah keberadaan Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC) yang diinisiasi oleh berbagai lembaga agama dari berbagai agama maupun lembaga interfaith yang ada di Indonesia. Tak kurang dari 20 lembaga agama dari  berbagai agama bergabung dalam JIC.

Diantara Lembaga-lembaga yang tergabung adalah ICRP, Pemuda Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Commad Center, NU Peduli, GP. Ansor, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), GEMABUDHI, PERMABUDHI, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) – Keluarga Buddhis Indonesia (KBI), Komisi HUbungan Antar-Agama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), JKMC, Badal Amal Kasih Katolik (BAKKAT), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Puskor Hindunesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN), Majelis Rohani Nasional Bahai Indonesia, Yayasan Sosial Guru Nanak (Sikh Indonesia), Temu Kebangsaan Orang Muda, Jaringan Gusdurian, Kafkaf Foundation, dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Mereka tak sekedar menebar rasa keprihatinan terhadap merebaknya pandemic korona, tapi beranjak ke aksi nyata dalam bentuk menghimpun bantuan dan kemudian menyalurkan Kembali kepada mereka yang terdampak atau membutuhkan uluran tangan. Selanjutnya masyarakat pun, mereka yang tergerak untuk membantu berdatangan menitipkan bantuan/donasi untuk disalurkan kembali ke masyarakat yang membutuhkan.

Dari JIC kita belajar bahwa era pandemic tak seharusnya mengehentikan kita bergandeng tangan dalam mewujudkan solidaritas sosial, merealisasikan semangat kemanusiaan dalam aksi nyata di tengah masyarakat. JIC juga wujud bagaimana dialog antar-umat beragama boleh kita tingkatkan menjadi kerjasama antar-umat beragama.

Oleh karenanya, pandemic Covid-19 tak seharusnya menghentikan aktivitas kita dalam upaya merawat kebinekaan dan mewujudkan perdamaian bersama. Inilah yang hendak dilakukan oleh orang-orang muda dari berbagai agama dalam upaya dimaksud. Melalui program Peace Train Indonesia mereka bergandeng tangan mengenal keberadaan orang atau komunitas lain yang beragam, belajar memahami secara mendalam perbedaan-perbedaan yang ada, sembari terus belajar bagaimana mengelola konflik akibat perbedaan tersebut, lalu bersama-sama menemukan treatment bagaimana mengurai dan mengelola konflik yang kerap muncul.

Itu sebabnya moment Peace Train Indonesia ke-11 Jakarta Temanggung yang dihelat pada 15 – 17 Januari 2021 ini mengusung sejumlah tujuan yang hendak dicapai bersama.

Pertama, pandemic Covid-19 tak selayaknya membuat kita takut berlebihan dalam beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. Bahwa kita mesti berhati-hati agar tak tertular virus tersebut itu setuju. Tetapi khawatir berlebihan juga tak semestinya. Bahkan mungkin jika kita berlebihan dalam kekhawatiran, rasa takut yang tak masuk akal justru akan membuat imun tubuh kita menurun.

Karenanya wajar-wajar saja. Tetap mengikuti protokol kesehatan: jaga jarak, sering cuci tangan, pakai masker. Olah raga rutin, mengkonsumsi makanan sehat, vitamin menjadi hal penting untuk meningkatkan imun tubuh agar tak mudah tertular virus. Dengan begitu tak harus mengurangi aktivitas secara berlebihan. Apa yang harus kita lakukan ya kita kerjakan.

Kedua, tantangan kebinekaan kita tak mengenal pandemi. Kelompok-kelompok intoleran, mereka yang kerap mengganggu orang atau komunitas lain yang berbeda (terutama dalam hal agama) tak pernah libur dalam melancarkan aksi-aksi mereka. Salah satu contohnya adalah pembubaran pelaksanaan ibadah pada rumah salah satu warga (Jamin Sihombing) di  Cikarang, Jawa Barat. Ini terjadi di hari ke-48 pandemi Covid-19 di Indonesia.

Padahal, mereka beribadah di rumah dalam rangka mengikuti himbauan pemerintah untuk tidak beribadah di rumah ibadah. Celakanya dua orang pria mendatangi rumah mereka, salah satu diantaranya bersarung memakai peci, berbaju putih dan tidak memakai masker bernama Imam Mulyana menghardik sembari membubarkan ibadah tersebut dengan alasan tidak boleh kumpul-kumpul.

Oleh sebab itu, upaya-upaya merawat kebinekaan, bagaimana menumbuhkan sikap toleran di tengah masyarakat tak boleh berhenti. Peace Train Indonesia kali ini adalah salah satu ikhtiar itu. Intoleransi sudah lama menjadi pandemi. Meningkat menjadi tindakan-tindakan radikal. Maka harus dicounter dengan aksi-aksi sebaliknya: menumbuhkan sikap toleran di tengah masyarakat yang plural.

Ketiga, generasi muda harus menjadi promotor terdepan bagi dua hal sekaligus: penggerak protocol Kesehatan di masa pandemic, menjadi contoh inspirastif bagi upaya mencegah merebaknya Covid-19, sekaligus pula menjadi peacemaker, promotor kerukunan dan perdamaian di tengah masyarakat.

Generasi muda adalah kunci. Mereka harus berada di garda terdepan dalam memberikan contoh hidup sehat di era baru tatanan kehidupan (new normal). Dalam waktu bersamaan juga menjadi contoh terdepan bagaimana merawat kebinekaan yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan. Tak boleh ada yang mengoyak.

Ketiga tujuan inilah yang oleh 15 peserta Peace Train Indonesia ke-11 ini hendak dicapai. Kelima belas peserta ini merupakan orang-orang muda pilihan dari daerah mereka masing-masing. Ada yang berasal dari Pontianak – Kalbar, Manado – Sulawesi Utara, Madura – Jawa Timur, selain dari Jakarta dan sekitarnya. Sengaja membatasi hanya untuk 15 orang mengingat masih pandemic. Sebelum-sebelumnya tiap trip Peace Train Indonesia kita membuka kuota untuk 40 orang peserta.

Selama tiga hari mereka berproses, belajar bersama bagaimana melihat kebinekaan, mengelolanya menjadi kekuatan dan mengantisipasi jika kebinekaan tersebut memantik konflik sosial. Sebelumnya mereka sudah dipertemukan secara virtual (daring) dalam dua kali kegiatan sebagai momen pengantar. Kesemuanya dilakukan dalam rangka mengasah, menambah wawasan dan skil mereka untuk menjadi peacemaker yang tangguh, siap menghadapi berbagai persoalan terkait dengan keragaman di sekitar kita. [ ]

Ahmad Nurcholish, salah seorang penggagas Peace Train Indonesia, deputi direktur ICRP