Pos

Bertemu Paus Fransiskus, Ulama Terkemuka Irak Dukung Kristen dan Muslim Hidup Damai

Senin, 8 Maret 2021

 

Bagdad – Ulama terkemuka Syiah Irak  Ayatollah Agung Ali al-Sistani mengatakan kepada Paus Fransiskus dalam pertemuan bersejarah di kota Najaf Irak pada Sabtu (6/3/2021) bahwa ia mendukung umat Kristen di negaranya hidup dalam ” damai”.

Diberitakan Kompas.Com, pertemuan itu berlangsung pada hari kedua dari jadwal kunjungan Paus di Irak untuk pertama kalinya, yang menandai momen penting dalam sejarah agama modern.

Meski sedang terjadi gelombang kedua virus corona dan ancaman keamanan, itu tidak menggentarkan Paus untuk mengunjungi Irak, tempat yang telah “lama ia nantikan”.

Tujuannya adalah untuk menghibur komunitas Kristen kuno di negara tersebut dan memperdalam dialognya dengan tokoh agama lainnya, seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (6/3).

Pertemuan antara dua tokoh agama berpengaruh itu berlangsung selama 50 menit di kantor al-Sistani. Tak lama setelah pertemuan itu, kantor al-Sistani mengeluarkan ucapan terima kasih kepada Paus 84 tahun itu atas kunjungannya di kota suci Najaf.

Melansir DW.Com (7/3), dalam pertemuan tersebut Pus Fransiskus juga mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan dan menyebut hal itu sebagai “penistaan terbesar”.

“Dari tempat ini, tempat lahirnya iman, dari tanah bapak kami Ibrahim, marilah kita tegaskan bahwa Tuhan itu penyayang dan bahwa penistaan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita,” ujar Paus Fransiskus di Ur, tempat kelahiran Ibrahim.

Al-Sistani (90 tahun) “menegaskan perhatiannya terhadap warga Kristen yang harus dapat hidup seperti semua warga Irak dalam perdamaian dan keamanan, serta dengan hak konstitusional penuh mereka”.

Kunjungan pemimpin tertinggi Katolik Roma itu adalah salah satu hal menarik dari perjalanan empat hari Paus Fransiskus ke Irak yang dilanda perang, di mana Sistani telah memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan dalam beberapa dekade terakhir.

Butuh berbulan-bulan negosiasi yang cermat antara Najaf dan Vatikan untuk mengamankan pertemuan satu lawan satu.

“Kami merasa bangga atas apa yang diwakili oleh kunjungan ini dan kami berterima kasih kepada mereka yang memungkinkan,” kata Mohamed Ali Bahr al-Ulum, seorang ulama senior di Najaf, lansir beritasatu.com (7/3).

Paus Fransiskus dikenal sebagai pendukung kuat upaya dialog antaragama, telah bertemu dengan ulama Sunni di beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Bangladesh, Turki, Maroko, dan Uni Emirat Arab.

 

Siapa Ali Sistani?

Sementara itu, Sistani dihormati oleh sebagian besar dari 200 juta penganut Islam Syiah di dunia – minoritas di antara Muslim tetapi mayoritas di Irak. Dia merupakan tokoh nasional bagi warga Irak.

“Ali Sistani adalah pemimpin agama dengan otoritas moral yang tinggi,” puji Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, kepala Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan spesialis studi Islam.

Sebagai seorang teolog, Ali Sistani jelas mendukung keterbukaan terhadap dunia – tetapi dengan syarat yang jelas bahwa hal itu tidak membawa umat Islam yang beragama menjauh dari jalan yang benar.

“Berkat toleransi dan penghormatan Sistani terhadap kebebasan berpikir dan berdebat, Najaf, sebagai pusat keagamaan, menyaksikan era paling toleran dalam seluruh sejarahnya,” tulis ilmuwan politik Abbas Kadhim dan Barbara Slavin pada musim semi 2020 dalam sebuah studi untuk Atlantic Council, lembaga pemikir Amerika.

Al-Sistani secara fundamental cenderung ke posisi moderat. “Secara politis, dia tampil sebagai orang yang moderat dan pragmatis,” kata Eckart Woertz. “Inilah yang mendasari reputasi dan otoritasnya.”

Ketika pemerintah Irak mengeluarkan ultimatum kepada pasukan al-Sadr, al-Sistani menyuruh pengikutnya berbaris di luar masjid. Akibatnya pasukan al-Sadr meninggalkan gedung tersebut. Al-Sistani menjelaskan kepada Syiah Irak, bahwa tidak perlu melawan Amerika. Sebaliknya, mereka bisa bekerja sama dengan mereka.

Al-Sistani dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian pada 2005 dan lagi pada 2014.

Dia bertindak lebih tegas pada bulan Juni 2014, saat mengeluarkan fatwa, yang sangat terbatas pada prinsip mempertahankan diri, terhadap organisasi jihadi Sunni yang dikenal dengan ISIS. Warga harus mengangkat senjata dan “membela negara mereka, rakyat mereka, dan tempat-tempat suci mereka,” seorang juru bicara al-Sistani mengatakan di Karbala, yang menjadi kota umat Syiah. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Kompas.Com | DW.com | beritasatu.com

Memaafkan Teroris?

Malang – Memaafkan merupakan pergulatan dan perjuangan yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Katanya, memaafkan itu kunci pembebasan diri. Nyatanya, memaafkan itu bisa jadi mudah, bisa jadi sangat sulit dan menguras hati.

Banyak aspek yang dipertimbangkan saat kita mempertimbangkan untuk memaafkan. Apalagi, saat efeknya bukan hanya luka batin, tetapi juga luka fisik yang harus diderita seumur hidup. Kita tidak bisa memaksa orang untuk memberi maaf karena memaafkan itu harus murni datang dari dirinya sendiri.

Nanda Olivia Daniel, korban dan penyintas Bom Kuningan 2004, bercerita perjuangannya memaafkan pelaku teroris yang menyebabkan fisiknya tak senormal sebelumnya dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMK Budi Mulia Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Jumat lalu (26/02).

Dilansir dari aida.or.id, akibat peristiwa nahas tersebut, Nanda harus menjalani pengobatan intensif di Australia. Ia mengalami luka serius di bagian tangannya. Ibu jarinya kini tak bisa lagi berfungsi secara normal. Bukan hanya luka fisik, trauma dan kebencian pun sempat menghinggapi Nanda selama bertahun-tahun yang menguras energinya, bahkan termasuk keluarganya. Mereka mengalami trauma yang sangat berat.

“Saat itu, saya baru punya satu anak. Umurnya 1 tahun 8 bulan. Dia menemui saya di rumah sakit setelah 3 hari kejadian. Pertama ketemu, dia nggak mau dekat-dekat saya, dan nggak mau saya pegang, karena ngeri lihat perban di tangan saya. Selai itu, adik saya mukulin dirinya sendiri karena merasa nggak bisa jagain saya,” ungkap Nanda.

Ia mengaku baru bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan memaafkan pelaku saat dipertemukan dan berdialog dengan salah mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang sudah bertobat. Perjumpaan itu terjadi pada 2015 yang difasilitasi AIDA. Meski berat, dari situ, ia menyatakan bahwa secara perlahan, dirinya mulai memahami kisah-kisah pertobatan mantan pelaku dan memilih memaafkan ketimbang menyimpan dendam.

“Kebencian tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi. Maka, saya pun harus belajar memaafkan. Bukan karena orang lain tetapi karena diri saya sendiri. Saya memaafkan diri saya untuk ikhlas, sadar, dan bangkit,” lirihnya. [HH/Aida.or.id]

Kisah Gereja Makam Suci di Kota Tua Yerusalem

Jakarta – Gereja Makam Suci atau Gereja Makam Kudus yang dalam bahasa Latin dituliskan sebagai Sanctum Sepulchrum dan dalam bahasa Inggris Church of the Holy Sepulchre adalah gereja Kristen di Kota Lama Yerusalem.Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus.

Situs ini dipercaya oleh banyak orang Kristen sebagai Golgota, tempat di mana Yesus disalibkan dan kubur Yesus yang kosong, di mana dikatakan Ia pernah dikuburkan, tetapi kemudian bangkit dari kematian.

Gereja makam suci ini adalah tempat suci dan paling dihormati dalam agama Kristen. Gereja makam suci berdiri di Kota Tua Yerusalem yang bertembok kokoh juga luas.

Gereja tersebut dibangun saat situs penyaliban, makam, dan kebangkitan Yesus, telah dilindungi oleh dua keluarga Muslim Palestina, yaitu Nuseibeh dan Joudeh selama lebih dari 1.000 tahun.

Gereja Makam Kudus didirikan pada abad ke-4 oleh umat Kristen di Yerusalem, saat Sultan Saladin merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 lampau. Dia memerintahkan dua keluarga Muslim yang menjadi penjaga gereja, yakni keluarga Al-Husseini dan keluarga Nuseibeh.

Hingga saat ini, keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas membuka dan menutup pintu gereja. Gereja tersebut digunakan oleh enam denominasi kuno, Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap mazhab memiliki biarawan yang bermukim di kompleks gereja.

Monumen tersebut dikelola oleh lima denominasi Kristen yang berbeda termasuk Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Koptik dan Suriah, dan Ortodoks Ethiopia.

Sejarah mencatat, dalam beberapa kesempatan selama bertahun-tahun, faksi-faksi Kristen melewati masa saling bertengkar tentang siapa yang berhak mengendalikan ruang di dalam gereja tersebut.

Keputusan pun diambil dan ditentukan bahwa keluarga Nuseibeh dan Joudeh yang membantu untuk menjaga perdamaian di antara kelompok-kelompok saingan tersebut agar tidak terjadi perebutan yang nantinya akan beujung pada tindakan kekerasan.

Arsitektur gedung gereja menggunakan model arsitektur kubah. Arsitektur tersebut umum digunakan di bangunan gereja dan masjid di seluruh penjuru Tanah Suci Tiga Agama Samawi.

Model arsitektur kubah trsebut pada awalnya adalah milik gereja Ortodoks Bizantium yang kemudian dilestarikan oleh Islam pada saat tentara Islam merebut wilayah-wilayah politik Kekaisaran Bizantium pada abad ke-VII Masehi.

Bangunan tersebut dikelola bersama oleh beberapa komunitas Gereja Kristen Tradisional seperti Gereja Katholik Roma, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Siria, dan Gereja Ortodoks Etiopia.

Dalam bangunan gereja suci ini terdapat beberapa makam dari tokoh Kristen seperti Raja Baldwin VI yang meninggal disebabkan karena sakit kusta pada usia yang masih muda. Baldwin adalah keturunan Geofrey dari Boillon, salah seorang pejuang pertama dalam Perang Salib Pertama.

Gereja tersebut adalah salah satu situs yang sangat disucikan oleh banyak aliran umat Kristen mainstream yang merupakan situs Gereja Kelahiran Yesus di Kota Betlehem, Palestina dan situs Gereja Keluarga Suci di Kota Nazaret, Israel Utara.

Ribuan umat Kristen dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Gereja ini untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, terutama dalam Perayaan Jumat Agung dan Minggu Paskah setiap tahun.[AAJ/BBCNews]

Toleransi dan Kearifan Lokal Tanah Air

Oleh Ust. Ahmad Imam Mujadid Rais

 

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.al-Hujurat aya 13).

Keragamaan dan kekayaan khazanah bangsa Indonesia merupakan asset berharga yang harus dirawat oleh segenap anak bangsa. Keragaman yang ada di tengah bangsa, mulai dari suku, etnis, dan agama merupakan anugrah Allah Swt agar kita saling mengenal, saling menghormati dan berlomba dalam kebaikan. Keragaman yang ada bukan malah justru memecah belah. Andai Allah menginginkan, tentu umat manusia akan dijadikan satu umat saja. Tapi Allah Swt tidak menghendaki hal demikian upaya umat manusia berpikir dan mencari hikmah d baliknya.

Keragaman etnis dan suku bangsa ini sejatinya memperkaya khazanah bangsa dalam hal toleransi, tepa selira, dan hormat menghormati baik antar umat beragama ataupun antar suku dan etnis yang berbeda. Setidaknya ada dua modal utama bangsa Indonesia yang dapat menjaga dan merekatkan ikatan bangsa yang besar dan majemuk ini. Pertama adalah agama-agama yang mengajarkan kerukunan dan harmoni. Kedua adalah kesepakatan dasar bangsa yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Materi ini akan lebih memberikan penekanan pada aspek modal kedua, terutama Bhinneka Tunggal Ika yang mewujud pada kearifan local (local wisdom) yang ada di tengah masyarakat. Khazanah kearifan local ini menjadi modal sosial yang secara substansi merupakan objektivasi nila-nilai universal. Alih-alih menggunakan konsep atau kosa kata agama masing-masing yang mungkin sulit diterima oleh kelompok agama yang berbeda, dengan adanya objectivasi khazanah local justru nilai-nilainya menjadi universal dan dapat diterima oleh banyak pihak. Sebagai contoh misalnya di Sumatera Utara, struktur kekerabatan di Suku Batak (Tarombo) merekatkan hubungan kekeluargaan dan persaudaraan walau berbeda agama antara satu dengan yang lain. Toleransi dan sikap saling menghormati bukan sekedar menjadi kewajiban, namun sudah menjadi norma dan tradisi yang lazim ditemukan dalam hubungan intra Suku Batak.

Demikian halnya bila kita menuju Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi Utara, Maluku, hingga Tual. Di Sulawesi Utara, titik temu toleransi ada pada nilai-nilai kearifan lokal atau bahkan genius local yang hidup di tengah masyarakat. Di antaranya adalah penghormatan kepada orang tua, filosofi “Sitou Timou Tumou Tou” yang berarti “manusia hidup untuk menghidupi sesama”. Selain itu ada pula ungkapan “Torang Samua Basudara”. Kerukunan di Minahasa juga terkait dengan asal nama Minahasa yang artinya ‘Mina Esa atau ‘yang dipersatukan’. Banyak nilai-nilai baik yang telah berkembang sebagai kearifan local di Minahasa. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka hubungan antar etnis dan suku melalui temali perkawinan merupakan hal yang biasa dan mudah ditemukan. Saat Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado, banyak dari anggota pasukannya yang menikah dengan warga setempat.

Demikian pula di Tanah Maluku bagaimana kearifan lokal menjadi metode yang efektif untuk bangkit setelah konflik horizontal di awal tahun 2000-an. Memori kolektif orang maluku punya prinsip bahwa walaupun berbeda tapi semua merasa bersaudara (Katong Samua Basudara) atau orang-orang basudara betapapun berbeda Beta tetap Maluku dan tingginya rasa saling memiliki di antara mereka. Hal ini sebagaimana petuah-petuah tetua orang Maluku ale rasa beta rasa, yang artinya apa yang kamu rasa saya turut merasakannya. Lalu ada filosofi yang artinya senada dengan sebelumnya, yaitu potong di kuku rasa di daging. Ada pula sagu salempeng bagi dua yang bermakna sepotong sagu dibagi dua atau ain ni ain yaitu satu untuk semua, semua untuk satu. Kearifal local lainnya adalah pentingnya merawat persaudaraan sejati seperti janji-janji leluhur Maluku di Nunusaku Nusa ina Pulau seram yaitu Nunu pari hatu, hatu pari Nunu yang artinya bersatulah seperti pohon beringin melingkari batu karang dan batu karang mendekap akar beringin.

Prinsip atau petuah adat yang memiliki substansi yang sama juga akan ditemukan di Tanah Kei atau Tual. Bahkan, menurut para tokoh agama dan adat di Tanah Kei, jauh sebelum Pancasila dilahirkan, filosofi Kei telah mewarnai denyut nadi kehidupan sehari-hari rakyat Kei. Hal ini semakin meneguhkan bahwa kearifan dan kebijaksanaan lokal di Tanah Air sangat kaya dan sudah seharusnya terus menerus dihidupkan dan diperkaya untuk konteks kebangsaan secara lebih luas. Kekayaan khazanah lokal inilah yang terus menerus menjaga Indonesia untuk terus tumbuh-berkembang dan maju secara toleran, demokratis dan penuh kemajemukan.

Tanah Kei, yang dikenal sebagai, Tanah Evav atau Nuhu Evav merupakan daerah yang mencakup Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual—setelah keduanya dimekarkan pada tahun 2007. Daerah ini merupakan daerah yang cepat pulih dan bangkit saat terjadi konflik sosial di Maluku dan sekitarnya pada tahun 2000an. Faktor kearifan lokal inilah yang turut menjaga harmoni di Tanah Kei.

Dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa 2018, beberapa kesepakatan penting dilahirkan oleh para pemuka agama. Salah satunya adalah terkait etika kerukunan antara dan intra umat beragama. Dalam etika antar umat beragama dijelaskan bahwa masing-masing pemeluk umat beragama diminta untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga masing-masing. Persoalan doktrin, konflik internal di agama lain tidak perlu dicampuri oleh penganut agama lain. Kerapkali, hal inilah yang menjadi persoalan dalam hubungan antar agama. Terlebih, dengan penggunaan media sosial yang kian luas, ujaran kebencian atau ceramah yang sudah mengalami plintiran turut memperburuk situasi. Merujuk kepada filosofi di Tanah Kei, Umat Rir Rahan Raan (ada larangan adat untuk mencampuri urusan dalam rumah orang).

Selain filosofi di atas yang menasehati untuk tidak mencampuri urusan dalam rumah orang, beberapa filosofi yang dapat ditemukan di Tual antara lain Roan Kain Yaau Ning, Vuan It Bisa Did yang bermakna daun dan batang saya punya, tapi buahnya kita semua punya; Manut Ain Mehe Tilur, Fuut Ain Mehe Ngifun yang artinya telur dari satu ayam dan telur dari satu ikan, yang artinya Kita Semua Bersaudara, punya satu asal-usul yang sama; It Fau Fo Banglu Vatu, ne It Foing fo Kut Ain yang secara harfiah artinya “Kita dibentuk menjadi seperti sebutir peluru dan diikat erat menjadi seperti satu berkas sumbu api dari seludang kelapa”. Makna secara luas adalah artinya kesatuan yang erat yang tak bisa terpisahkan dan memiliki semangat kebersamaan dan kekuatan yang bertahan terus. Bahkan melihat sistem hukum dan masyarakat di Kei, maka kita akan mengenal apa yang disebut dengan hukum adat Lar Vul Nga Bal, yang mrupakan kearifan lokal yang luar biasa. Lar Vul Nga Bal merupakan dasar/panduan/pegangan, nilai dan norma hukum, bagi perilaku, perbuatan dan tata hidup masyarakat Kei, baik dari segi susila/etik maupun moral, serta pidana maupun perdata, secara adat.

Tanah air Indonesia tidak saja memiliki keindahan yang memesona. Ketinggian filosofi dan nilai hidup yang dianut masyarakatnya juga demikian memukau. Nilai-nilai inilah yang terus dirawat oleh para tokoh dan masyarakat di tanah air sehingga kerukunan dan harmoni dapat terus dijaga. Kearifan local yang tercantum dalam materi khutbah kali ini hanya sebagian kecil saja dari kekayaan kearifan local di tanah air. Benang merah kearifan local ini senada dengan nasihat suci dari al-Quran dan Hadist yang memerintahkan untuk menjaga persaudaraan dan silaturahmi antar sesama, saling menghormati walau berbeda agama dan keyakinan, serta menjunjung solidaritas yang tinggi antar sesama manusia. Wallahu a’lam bi ash-showab. []

 

Ust. Ahmad Imam Mujadid Rais, pengurus Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP. Muhammadiyah.

Paus Fransiskus Akan Bertemu dengan Ayatollah Ali Sistani

Jakarta – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, akan melakukan kunjungan bersejarah ke Irak pada Maret 2021. Dalam kunjungannya, Paus Fransiskus akan melakukan pertemuan simbolis dengan ulama Syiah terkemuka di Irak, Grand Ayatollah Ali Sistani.

Myriam Benraad ilmuwan politik Prancis yang mengkhususkan diri untuk dunia Arab menyatakan bahwa kunjungan tersebut dilakukan dalam upaya memperdalam dialog dengan pemimpin Muslim.

“Kunjungan Paus ini mengirimkan pesan politik yang kuat untuk seorang tokoh yang sangat terkait dengan membela warga Irak,” kata dia.

Paus Fransiskus diketahui sejak lama memuji-memuji kekuatan dialog antaragama yang berada di Irak sebagai simbol perdamaian dan toleransi tanpa memikirkan seluk-beluk teologis yang diajukan oleh pendahulunya.

Paus Fransiskus yang berusia 84 tahun tersebut akan bertemu dengan Sistani di kediamannya, tepatnya di Najaf, pada Sabtu (6/3) mendatang. Sistani yang kini berusia 90 tahun tidak pernah terlihat di depan publik dan jarang menerima tamu. Agenda kali ini, Paus Fransiskus ingin bertemu langsung dengannya.

Melihat ke belakang, dua tahun lalu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Paus Fransiskus dan ulama Sunni terkemuka, Sheikh Ahmed al-Tayeb, yang juga Imam Besar Al-Azhar, menandatangani sebuah dokumen tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia. Keduanya menyampaikan seruan bersama untuk kebebasan berkeyakinan.

Kalangan Sunni mencakup hampir 90 persen umat Muslim sedunia dengan Syiah mencakup 10 persen, mayoritas ada di Iran dan Irak. Untuk Irak, 60 persen populasinya menganut Syiah dan 37 persen lainnya menganut Sunni.

Harapannya, dengan kunjungan ke Najaf dan bertemu ulama Syiah terkemuka, Paus Fransiskus akan mengulurkan tangan untuk cabang utama Islam lainnya. Hal tersebut jelas merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi dan hal yang besar, seperti apa yang disebut oleh peneliti di Institut Brookings, Marsin Alshamary.

Alshamary juga menyatakan bahwa mazhab pemikiran Islam di Najaf telah terlibat dialog antaragama sejak invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada tahun 2003 silam dan perang berdarah yang terjadi antara Syiah dan Sunni.

Dia juga menegaskan bahwa Muslim dilarang membunuh orang lain. Tahun 2014, saat Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) mendekati Baghdad, Sistani menyerukan warga Irak untuk menenteng senjata mengusir militan radikal tersebut.

Dia lalu merangkul salah satu dari dua aliran Syiah modern, yakni aliran Najaf, yang memisahkan antara politik dan agama. Aliran tersebut bertentangan dengan mazhab di sekitar kota suci Qom di Iran yang meyakini pemimpin agama juga harus memimpin negara, mengikuti contoh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Biarawan Dominika-Irak, Amir Jaje, yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam dialog antaragama menyatakan, “Kaum Syiah di Irak ingin Vatikan dan dunia Barat mendukung mereka melawan cengkeraman Iran, yang ingin menelan Najaf.”[AAJ/Detik]

Meluruskan Distorsi Informasi Tentang SKB 3 Menteri

Sumatra Barat – Kebebasan berekspresi menjadi salah satu hal yang penting dalam menyatukan suatu masyarakat yang multikultural. Dalam konteks indonesia yang relijiusitasnya disebutkan cukup tinggi, isu kebebasan masih kerap kali konfliktual bila menyangkut identitas keagamaan.

Salah satunya, terkait penggunaan simbol agama (jilbab) di sekolah negeri yang belakangan mengemuka ke publik. Salah satu sekolah negeri di Sumatra Barat (Sumbar) mewajibkan siswa non-muslim untuk memakai jilbab. Kasus serupa juga muncul Jawa Timur (Jatim). Kemudian, di Bali ada larangan siswa non-muslim memakai jilbab.

Kasus tersebut kemudian mendorong tiga menteri, yakni Mendikbud Nadiem Makarim, Mendagri Tito Karnavian, dan Menag Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) soal penggunaan seragam dan atribut di lingkungan sekolah atau yang sering disingkat, SKB 3 Menteri.

SKB tersebut kemudian menuai berabagai reaksi. Yang cukup kut adalah respon negatif. SKB dipandang melarang orang untuk memakai jilbab di sekolah. Pesan ini terus berantai dan menyebabkan situasi mengkeruh. Terkait pergolakan ini, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatra Barat mengadakan diskusi daring dengan judul “SKB 3 Menteri di Tengah Masyarakat Pluralis dan Bhinneka” pada Selasa kemarin (2/3) melalui aplikasi Zoom Cloud.

Webinar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ketua PBNU Bidang Pendidikan dan Ketua Program Doktro Kajian Stratejik & Global Universitas Indonesia Dr. KH. Hanief Saha Ghofur, Rektor Universitas Andalas Prof. Dr. Werry Darta Taifur, SE, MA, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Prof. Dr. H. Ganefri, Ph.D.

Dr. Hanief mengungkapkan bahwa terjadi distorsi informasi terkait SKB 3 Menteri yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab sehingga mengadu domba masyarakat. Ia kemudian menegaskan bahwa masalah mayoritas dan minoritas identitas seringkali menjadi masalah yang dihadapi negara dalam menentukan sikap/keputusan/kebijakan publik. Negara harus memposisikan diri sebagai pelindung segenap bangsa. 

“Negara tidak boleh memposisikan layanan-layanan publik (dalam konteks diskusi ini: sekolah) dengan menggunakan identitas tertentu. Tapi juga tidak boleh melarang orang untuk berdakwah menganjurkan untuk, misalnya, menggunakan jilbab. Sekolah negeri tidak boleh mewajibkan dan tidak boleh melarang orang menggunakan identitas agamanya. Kasus di Sumbar yang mewajibkan jilbab dan kasus di Bali yang melarang jilbab, dua-duanya tidak dibenarkan. Sekolah negeri itu milik Pemda dan SMK/SMA itu milik Pemprov. Maka, sekolah negeri harus taat dengan aturan yang dikeluarkan negara. Itulah inti sebenarnya dari SKB 3 Menteri,” jelasnya.

Berdakwah bahwa jilbab itu baik dipersilakan tetapi tidak boleh masuk ke dalam aturan sebagai instrumen untuk mewajibkan jilbab. SKB 3 Menteri ini hanya berlaku untuk sekolah negeri saja, termasuk sekolah negeri yang basisnya agama.

Selanjutnya, Prof. Ganefri menambahkan bahwa pijakan SKB tersebut adalan Peraturan Mendikbud No. 45 Tahun 2014 tentang seragam sekolah. Isi di dalamnya sudah proporsional dan memenuhi substansi hak-hak warga negara, toleransi beragama, dan kepastian hukum sehingga menghormati dan menghargai kebebasan berekspresi.

“SKB 3 Menteri juga menjadi semacam pengingat dan kritik untuk sekolah negeri bahwa bahwa lembaga pendidikan tidak boleh hanya terjebak dalam aspek simbolik agama (simbol pakaian). Lembaga pendidikan juga tak hanya mengkonstruksi ilmu pengetahuan tapi juga lebih kepada penanaman nilai-nilai dan pengamalan ilmu serta keteladanan. Karenanya, pendidikan multikultural menjadi sangat penting,” terangnya.

Pengalaman masalah kebebasan berkekspresi ini menjadi pelajaran bagi kita semua, termasuk bagi pemerintah dalam mengelola dan menegaskan aturan.

“Seandainya, Peraturan Mendikbud Nomor 45 Tahun 2014 dilaksanakan dan dikontrol (diawasi) oleh instansi terkait, tidak akan ada SKB 3 Menteri. Artinya, kalau ada peraturan, perlu ada pengawasan secara serius sehingga aturan itu jelas dan tepat guna dalam implementasinya. Kalau ada yang penyimpangan bisa langsung diluruskan dengan tegas tanpa perlu memunculkan peraturan-peraturan lain,” tambah Prof. Werry. [HH/Webinar SKB 3 Menteri di Tengah Masyarakat Pluralis dan Bhinneka]

Kebangsaan, Islam, dan Founding Fathers Indonesia

Jakarta – Kita tahu, ajaran Islam tidak hanya mengajarkan tentang urusan keagamaan atau keakhiratan atau hubungan dengan Tuhan melalui serangkaian ibadah ritual yang disebut mahdhah saja.

Islam pun turut mengatur urusan keduniaan atau hubungan dengan manusia melalui serangkaian ibadah muamalah, seperti urusan ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Islam juga turut memperhatikan masalah kebangsaan.

Kebangsaan bisa menjamin kehidupan yang rukun dan damai dalam perbedaan. Kerukunan dan perdamaian membuat ajaran agama bisa lebih mudah dipahami, dihayati dan diamalkan. Maka dari itu, tidak bisa tidak, kehidupan kebangsaan adalah prasyarat agar ajaran Islam bisa terlaksana.

Melaksanakan ajaran Islam adalah kewajiban. Maka, menyediakan berbagai persyaratan bagi tegaknya ajaran Islam pun menjadi hal yang wajib. Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa menegakkan kebangsaan menjadi wajib hukumnya.

Kesimpulan tersebut bisa didasarkan pada kaidah fiqhiyah yang berbunyi: maa laa yatimmu al-wajibu ila bihi fahuwa waajibun yang memiliki arti bahwa sebuah kewajiban tidak akan tegak jika tidak ada sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kita juga bisa melihat makna kebangsaan dalam ajaran Islam di mana ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan nilai-nilai universal dan kekal ajaran Islam. Nilai  universal tersebut adalah kebenaran, keadilan, kasih sayang, kesabaran, perpaduan, kebaikan, keindahan dan sebagainya.

Dalam buku Islam Indonesia Menatap Masa Depan (1989) tercantum bahwa ada contoh makna kebangsaan dalam surat al-Anfal (6) ayat 41 bahwa tanah-tanah negeri yang ditaklukan oleh tentara Islam dibagikan kepada tentara yang menaklukkannya, fakir miskin, dan lain-lainnya.

Dalam hal ini, Umar al-Faruq justru memilih jalan lain. Tanah-tanah tersebut tetap dimiliki oleh pemiliknya yang asal, tapi mereka harus membayar pajak tanah, dan para pemilik itu juga membayar jizyah yang boleh disamakan dengan pajak kepala.

Umar menyatakan bahwa jika ketentuan al-Qur’an tersebut dilaksanakan, maka tidak akan mencapai keadilan sebab zaman sudah berubah. Pada saat tanah-tanah tersebut dibagikan kepada prajurit atau tentara yang ikut berperang, keadaan tentara dan prajurit tersebut masih miskin.

Sedangkan pada zaman pemerintahan Umar, keadaan sudah jauh berbeda. Islam saat itu semakin kukuh dan teguh. Tentara Islam terdiri dari laskar-laskar profesional. Kehidupan dan kedudukan para tantara tersebut sudah terjamin. Umar merasa lebih adil jika tanah-tanah tersebut dikekalkan pada tangan pemiliknya asalnya. Sebab, kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang yang dhaif.

Kisah ini mengukuhkan bahwa kebangsaan adalah sebuah produk ijtihad yang bisa saja secara langsung dan eksplisit tidak dijumpai di dalam ajaran Islam. Tapi, perlu diingat bahwa nilai-nilai universal yang ada di dalamnya sejalan dengan ajaran Islam. Maka, wawasan kebangsaan tersebut bisa digunakan bahkan wajib digunakan.

Sadarkah kita bahwa pilar kebangsaan Indonesia yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dilahirkan oleh para pendiri bangsa (The Founding Father) yang sebagian besar dari mereka adalah para ulama dan tokoh-tokoh Islam?

Ada K.H.Wahid Hasyim, H.Agus Salim, Muhammad Natsir, K.H. Mas Mansyur, bahkan Soekarno dan Hatta yang meskipun tidak tergolong sebagai ulama atau ahli agama, namun keduanya adalah orang yang religius dan Islamis.

Usaha para tokoh Islam di zaman pra kemerdekaan untuk membangun pilar-pilar kebangsaan dan melaksanakannya dalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia serupa dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. yang tertuang dalam Piagam Madinah atau Mitsaq al-Madinah.

Dua hal di atas sudah cukup menjadi prototipe bagi kita untuk memiliki pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang membutuhkan sebuah wadah yakni negara yang tertib, aman dan damai.

Negara yang demikian mesti memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh. Kehidupan kebangsaan yang baik akan membuat umat Islam bisa menjalankan ibadahnya dengan khusyuk, melakukan kegiatan dakwah, pendidikan, dan melahirkan berbagai karya-karya inovatif lainnya.

Kita juga perlu sadar bahwa tanpa adanya sebuah negara yang aman dan damai, maka berbagai kegiatan umat beragama tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini bisa kita saksikan di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Masyarakatnya hidup dalam suasana cemas, penuh ketakutan, kekurangan sandang, pangan dan papan, bahkan kehilangan masa depan. Masyarakat pun terkena dampaknya dan mengungsi mencari perlindungan dari negara lain. Masyarakat yang masih bertahan, setiap harinya menghadapi suasana ketakutan akibat perang di antara kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.[AAJ]

Masyarakat Singkawang dan Harmoni Antaragama

Jakarta – Singkawang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Mengapa demikian? Sebab, komponen masyarakatnya terdiri dari banyak kelompok suku bangsa dan agama. Banyak orang yang mengakui bahwa masyarakat Singkawang mampu mempertahankan harmoni antaragama.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Azyumardi Azra dalam Agama dalam Keagaman Etnik di Indonesia (1998) menuliskan bahwa Singkawang hampir tak pernah diterpa kabar buruk tentang isu-isu kristenisasi atau islamisasi. Khususnya kabar buruk tentang upaya agresif untuk menambah jumlah penganut.

Memang ada persaingan dalam syiar agama, tapi tidak muncul dalam bentuk yang negatif. Persaingan di Singkawang justru muncul dalam bentuk budaya tanding di mana etnik dan agama lain tampil dalam sebuah aktivitas budaya yang sama besar.

Persaingan tersebut berhasil meningkatkan keragaman budaya dan menambah akivitas budaya masyarakat Singkawang sehingga makin menarik minat wisatawan. Dalam batas tertentu, agama memang telah menjadi spesifik bagi kelompok etnis atau komunitas tertentu, tetapi sangat jarang terjadi di Singkawang.

 

Letak Geografis

Kota Singkawang terletak di Provinsi Kalimantan Barat dan termasuk dalam golongan kota kecil sebab hanya memiliki luas sebesar 50.400 ha. Singkawang dibagi menjadi lima wilayah kecamatan dengan 26 kelurahan.

Nama Singkawang menurut versi Melayu diambil dari nama tanaman ‘Tengkawang’ yang terdapat di wilayah hutan tropis. Tapi, yang paling diyakini adalah versi bahasa Cina, bahwa Singkawang berasal dari kosa kata ‘San Keuw Jong’ yang secara harfiah berarti Gunung Mulut Lautan. Artinya adalah suatu tempat yang terletak di kaki gunung yang menghadap ke laut.

Pada 1981, Singkawang berkedudukan menjadi Kota Administratif Singkawang dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor: 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang.

Kehidupan masyarakat Kota Singkawang adalah multietnis sebab terdiri dari tiga etnis terbesar. Tiga etnis tersebut adalah Tionghoa (Cina), Melayu dan Dayak. Selain tiga etnis tersebut, suku-suku lainnya pun hidup secara berdampingan dan harmonis.

Meski ada pendatang dari berbagai daerah lain seperti Madura, Sumatera, Sulawesi, Ambon dan sebagainya, Singkawang tidak rentan konflik. Keragaman sangat terasa sebab dalam suatu wilayah kelurahan di Singkawang, hampir semua etnis dan agama ada di dalamnya.

Lantaran keberagaman tersebut, tak mengherankan apabila Singkawang dinobatkan sebagai salah satu kita paling toleran di Indonesia.

 

Bentuk-bentuk Toleransi

Di Singkawang, hubungan antaranggota warga atau tetangga yang didasari oleh persamaan atau perbedaan agama tidak terlalu menonjol jika dibandingkan faktor budaya etnis. Latar belakang etnis yang beragam sangat berpengaruh dalam mendasari budaya atau perilaku umum warga Singkawang yang rukun bertetangga.

Toleransi di Singkawang terlihat dari perayaan-perayaan keagamaan dan adat yang begitu beragam berlangsung di Kota Singkawang. Warga Tionghoa di Singkawang baik yang beragama Budha atau Khonghucu bisa melaksanakan tradisi Imlek dan Cap Go Meh, serta tradisi lainnya secara terbuka. Perayaan tersebut bahkan berhasil menjadi daya tarik wisatawan.

Selain itu, kegiatan umat Islam seperti pengajian, maulidan, dan peringatan hari besar Islam lain bisa dijalankan dengan lancar di Singkawang. Sementara itu, untuk umat Nasrani, baik yang Katolik atau yang Kristen juga bisa melaksanakan kegiatan Natal dan peringatan keagamaan lainnya dengan baik.

Tidak berlebihan apabila Singkawang dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia peringkat kedua versi Setara Institute pada 2021. Sebab, Singkawang adalah saksi dari pembauran antara agama dengan tradisi budaya. Hal tersebut terjadi dalam upacara keagamaan katolik dan beberapa tarian adat Dayak yang menjadi bagian dari upacara keagamaan.

Di Singkawang, dalam agama Buddha dan Khonghucu, hampir tidak lagi dikenali antara aktivitas tradisi budaya etnis Tionghoa dengan aktivitas keagamaan Budha atau Khonghucu. Hal ini disebabkan karena adanya asimilasi yang sangat kuat antara agama dan budaya.[AAJ]

Indahnya Toleransi, Pengungsi Banjir di Kudus Salat di Gereja

Kudus – Banjir yang menerjang Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, membuat puluhan orang masih bertahan di pengungsian. Dua lokasi yang menjadi tempat warga mengungsi adalah Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), balai desa, dan aula kelenteng desa setempat.

Dilansir suara.com (14/2), beredar foto di media sosial yang menunjukkan seorang pengungsi Muslim salat di GKMI. Potret toleransi itu dibenarkan Camat Jati, Andreas  Wahyu.

“Toleransi umat beragama di desa setempat memang cukup bagus, sudah banyak kegiatan yang dilaksanakan bersama dari berbagai umat beragama. Tentunya menjadi hal biasa bagi warga desa sekitar melihat pemandangan seperti itu,” kata Andreas dikutip ANTARA, Minggu (14/2).

GKMI Tanjung Karang menjadi salah satu posko pengungsian di Desa Tanjung Karang sejak 31 Januari 2021.

Andreas menambahkan, warga Desa Tanjung Karang antara lain meliputi Suku Jawa, Suku Batak, dan keturunan Tionghoa dan mereka biasa bahu-membahu melaksanakan berbagai kegiatan di kampung.

Menurut dia, warga yang mengungsi di Balai Desa Tanjung Karang sudah pulang karena genangan di permukiman mereka sudah surut.

Korban banjir yang masih bertahan di GKMI Tanjung Karang dan aula Kelenteng Tanjung Karang, menurut Andreas, masing-masing 48 orang dan 36 orang.

“Ini bukan hanya perihal keyakinan, tapi kemanusiaan. Potret warga pengungsian yang salat di gereja. Posko pengungsian di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Tanjung Karang, Jati, Kudus,” tulis keterangan unggahan di grup FacebookInfo Seputar Tanjungkarang-Instan.

Sontak, potret itu pun langsung menarik perhatian warganet. Mereka kemudian memuji warga setempat yang dianggap sangat menjunjung tinggi toleransi di tengah bencana banjir yang melanda desa tersebut dan sekitarnya.

Unggahan foto yang memperlihatkan seorang perempuan muslim pengungsi banjir yang tengah menunaikan salat di gereja tersebut pun mendapat pujian dari warganet. Banyak yang merasa salut dengan kerukunan dan toleransi beragama di desa tersebut.

“Indahnya kebersamaan. Gini ya adem. Kita semua saudara,” tulis Arkana Cahaya seperti dilansir kumparan.com (12/2).

“Di manapun kita bersujud sama Allah yang penting bersih, gereja juga bersih tempat saudara kita menyembah Tuhan. Persaudaraan kita tetap rukun dan kuat,” sahut BU TANRI.

“Desa Tanjung Karang memang desa yang penuh dengan toleransi beragama, hidup rukun, dan berdampingan. Ada gereja, masjid, dan klenteng yang saling berdekatan, mereka rukun saling mendukung dan saling menjaga toleransi,” timpal Weski Lalatbuah. [AN/suara/com/kumparan.com]

Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa: Pendeta dan Imam yang Mendamaikan Perbedaan

Jakarta – Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa adalah dua sosok penting yang ikut mendirikan Interfaith Mediation Centre atau IMC Nigeria. Keduanya adalah Ashoka Fellows 2006 dan telah menerima banyak penghargaan selama bertahun-tahun.

Mereka berdua telah berjasa dalam mendamaikan para pemimpin kelompok Kristen dan Muslim yang bertikai. Oleh orang-orang, keduanya disebut sebagai Pendeta dan Imam yang telah mendamaikan perbedaan.

Julukan tersebut sangat cocok sebab keduanya saling bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian melalui deteksi dini dan pencegahan kekerasan yang dimotivasi oleh kesalahpahaman agama.

Pengaruh internasional keduanya dimulai di Caux, Swiss pada 2004. pengaruh tersebut muncul ke permukaan saat pembuat filem Inggris David Channer memutuskan untuk membuat filem dokumenter tentang kisah Pastor James dan Imam Ashafa yang tidak terduga.

Filem berjudul “The Imam and the Pastor” tersebut kini telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan telah digunakan untuk membantu membangun jembatan di banyak daerah konflik.

Filem “The Imam and the Pastor” diproduksi oleh FLT Film-UK adalah sebuah filem yang inspiratif. presentasi tentang pengampunan, mendokumentasikan Deklarasi Damai Kaduna dari Para Pemimpin Agama 2002 dan Penegasan Damai Shendam 2003.

Penayangan perdana filem tersebut diadakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 28 November 2005 dan disambut dengan sambutan yang antusias dari para diplomat dan pejabat PBB.

Sejak pembuatan filem tersebut, Pendeta James dan Imam Ashafa telah melakukan apa yang disebut sebagai “perjalanan pengampunan dan penyembuhan melintasi perbedaan agama”.

Selain pengaruhnya keduanya yang memberikan dampak pada kesuksesan filem, ada juga beberapa kunjungan yang membuat keduanya diberi julukan sebagai pendeta dan imam yang mendamaikan perbedaan:

Pertama, pada Desember 2018, Imam Ashafa dan Pastor James datang ke Jenewa sebagai pembicara pada pertemuan tahunan Center of Competence on Humanitarian Negotiation (CCHN).

Kedua, pada Hari Perdamaian Internasional, kami berbagi pemikiran mereka tentang pentingnya membangun kepercayaan untuk perdamaian dan rekonsiliasi.

Pada 1990-an, Pendeta James dan Imam Ashafa memimpin milisi yang berlawanan serta berdedikasi untuk membela komunitas masing-masing saat kekerasan pecah di Nigeria Utara.

Milisi tersebut membuat Pendeta James kehilangan tangannya dan pembimbing spiritual Imam Ashafa dan dua kerabat dekatnya tewas. Keduanya kemudian bersumpah untuk membalas kematian dan luka orang yang mereka cintai dengan membunuh satu sama lain.

Pada 1995, sebuah pertemuan membuat kedua ulama tersebut melakukan rekonsiliasi yang menakjubkan dan pekerjaan selanjutnya untuk perdamaian di Nigeria yang ditampilkan dalam filem pemenang penghargaan tahun 2006 “The Imam and the Pastor”.

Proyek terbaru keduanya di Nigeria adalah mengatasi konflik antara penggembala dan petani menetap. Proyek tersebut membuat keduanya mendapatkan penghargaan PBB untuk Mediasi Antarbudaya pada 2017.

Ada juga proyek “Toleransi” milik mereka berdua yang ditujukan untuk melatih para pemimpin dalam hidup berdampingan agama dan nasional. Keduanya juga ditunjuk sebagai penasihat Uni Afrika tentang cara menangani korupsi dan dialog antaragama.

Duet Pendeta James dan Imam Ashafa adalah duet yang ramah dan dinamis. Sebagai pendeta dan imam yang mendamaikan perbedaan, keduanya juga menjadi simbol perdamaian yang tak lekang oleh zaman dan akan terus dikenang oleh banyak orang.

Kisah hidup keduanya juga menguatkan bahwa filem tidak bisa dipandang sebelah mata. Melalui filem, ada banyak orang yang terpengaruh. Pengaruh tersebut mampu mengukuhkan perdamaian di dunia.[]