Pos

Sri Lanka akan Larang Pemakaian Burka secara Permanen

Senin, 15 Maret 2021

 

Sri Lanka – Dua tahun setelah serangan di hari Paskah, Sri Lanka telah mengambil langkah signifikan untuk melarang burka dan penutup wajah lainnya di tempat umum, dengan alasan keamanan nasional.

Menteri Keamanan Publik Sarath Weerasekara mengatakan kepada BBC bahwa dia telah menandatangani perintah kabinet yang sekarang tinggal membutuhkan persetujuan parlemen.

Para pejabat mengatakan mereka berharap larangan itu segera diterapkan. Langkah itu dilakukan hampir dua tahun setelah peristiwa pengeboman hotel dan gereja pada Minggu Paskah.

Pengebom bunuh diri menargetkan gereja Katolik dan hotel yang didatangi banyak turis, menewaskan lebih dari 250 orang pada April 2019.

BBC mewartakan, Kelompok militan ISIS mengatakan berada di balik serangan itu.

Sementara pihak berwenang mencari para pelaku, larangan penggunaan penutup wajah darurat diterapkan di negara mayoritas Buddha itu.

Keamanan nasional menjadi dalih Pemerintah Sri Lanka untuk memberlakukan peraturan tersebut. Menurut Menteri Keamanan Publik Sri Lanka, Sarath Weerasekera, penggunaan burqa adalah simbol ekstrimisme dan dirinya tidak ingin itu ada di negaranya.

Sekarang pemerintah berupaya menerapkan aturan itu kembali secara permanen.

Weerasekara mengatakan kepada wartawan bahwa burka adalah “tanda ekstremisme agama yang muncul baru-baru ini” dan hal itu “mempengaruhi keamanan nasional”, sehingga larangan permanen sudah seharusnya diterapkan.

“Jadi saya sudah menandatanganinya dan aturan itu akan segera dilaksanakan,” katanya.

Baca juga: Pengadilan Malaysia Izinkan Umat Kristen Gunakan Sebutan “Allah”

Weerasekara juga mengatakan pemerintah berencana untuk melarang lebih dari 1.000 sekolah madrasah Islam yang menurutnya melanggar kebijakan pendidikan nasional.

“Tidak ada yang bisa membuka sekolah dan mengajarkan apa pun yang Anda inginkan kepada anak-anak. Sekolah harus sesuai dengan kebijakan pendidikan yang ditetapkan pemerintah.

Sebagian besar sekolah yang tidak terdaftar “hanya mengajarkan bahasa Arab dan Alquran, jadi itu buruk”, katanya, kutip BBC (14/3).

“Zaman dulu, kami memiliki banyak sekali teman-teman Muslim, dan kala itu perempuan Muslim tidak pernah memakai burqa,” sambungnya, dilansir dari laman Guardian pada Minggu, 14 Maret 2021.

 

Setiap Orang Memiliki Hak

Hilmi Ahmed, wakil presiden Dewan Muslim Sri Lanka, mengatakan kepada BBC bahwa jika para pejabat memiliki masalah dalam mengidentifikasi orang-orang yang mengenakan burka “orang yang mengenakan tidak akan ada keberatan untuk melepas penutup wajah untuk tujuan pengecekan identitas”.

Dia mengatakan setiap orang memiliki hak untuk memakai penutup wajah terlepas dari keyakinan mereka: “Hal itu harus dilihat dari sudut pandang hak dan bukan hanya dari sudut pandang agama.”

Mengenai masalah madrasah, Ahmed menekankan bahwa sebagian besar sekolah Muslim terdaftar di pemerintah.

“Mungkin ada … sekitar 5% yang belum patuh dan tentu saja bisa ditindak,” ujarnya.

 

Kecaman AS dan Kelompok HAM

Sebelumnya, pemerintah negara itu mewajibkan kremasi korban Covid-19, sejalan dengan praktik mayoritas Buddha, tetapi bertentangan dengan keinginan warga Muslim, yang ingin menguburkan jenazah keluarga mereka.

Sejumlah media menyebut, larangan ini dicabut awal tahun ini setelah mendapat kecaman dari AS dan kelompok hak asasi internasional.

Bulan lalu, BBC mengungkap, Dewan Hak Asasi Manusia PBB mempertimbangkan resolusi baru terkait dengan meningkatnya masalah hak asasi di Sri Lanka, termasuk terkait perlakuan terhadap Muslim.

Sri Lanka diminta untuk menuntut pertanggungjawaban para pelanggar hak asasi manusia dan memberikan keadilan kepada para korban perang saudara yang telah berlangsung selama 26 tahun.

Konflik 1983-2009 menewaskan sedikitnya 100.000 orang, kebanyakan warga sipil dari komunitas minoritas Tamil.

Sri Lanka membantah keras tuduhan tersebut dan telah meminta negara-negara anggota untuk tidak mendukung resolusi tersebut.

 

11 Negara Melarang Pemakaian Cadar dan Burqa

Rencana pelarangan pemakaian burqa di Sri Lanka menambah panjang daftar negara-negara yang melarang penggunaan cadar. Berikut 11 negara yang melarang penggunaan cadar dan burqa seperti dikutip Tempo dari telegraph.co.uk (19/10/ 2018).

  1. Prancis

Prancis telah menjadi negara pertama di Eropa yang melarang penggunaan burka di tempat umum. Burka adalah penutup kepala dan wajah seperti cadar, yang hanya memperlihatkan bagian mata. Aturan ini diberlakukan oleh Prancis pada 2004 yang dimulai pada sekolah-sekolah negeri dengan alasan menghapus seluruh bentuk simbol-simbol agama.

Namun pada 2011, pemerintah Prancis memberlakukan secara penuh larangan penggunaan cadar. Presiden Prancis,Nicolas Sarkozy, ketika itu mengatakan cadar tidak diterima di Prancis. Perempuan yang nekad memakai cadar di Prancis, akan dikenai denda 150 euro dan 30 ribu euro atau Rp 522 juta bagi siapa pun yang memaksa perempuan untuk menutupi wajahnya dengan cadar.

  1. Belgia

Beliga pada 2011 mengikuti jejak Prancis dengan memperkenalkan aturan larangan penggunaan jilbab yang menutupi seluruh wajah atau cadar di tempat-tempat umum. Perempuan yang kedapatan memakai cadar bisa dijebloskan ke penjara selama tujuh hari atau membayar denda 1378 euro. Aturan ini disahkan dengan suara bulat.

  1. Belanda

Pada 2015 Belanda menyetujui larangan penggunaan cadar di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah, rumah sakit dan transportasi umum. Belanda menilai, dalam situasi tertentu, penting bagi orang-orang untuk bisa dikenali. Larangan ini juga dengan alasan keamanan.

  1. Italia

Italia tidak melarang penggunaan cadar, namun beberapa daerah di negara itu memberlakukan larangan. Pada 2010, pemerintah daerah Novara memberlakukan aturan larangan penggunaan cadar. Tidak ada denda dalam larangan ini. Di beberapa pemerintah daerah lainnya di Italia, bahkan dilarang penggunaan burkinis atau baju renang islami.

  1. Spanyol

Sama seperti Italia, larangan penggunaan cadar dan burka hanya berlaku di beberapa daerah di Spanyol, seperti Katalonia. Pada 2013, Mahkamah Agung Spanyol telah mencabut larangan ini dengan alasan membatasi kebebasan beragama. Kendati putusan Mahkamah Agung sudah jatuh, namun sejumlah daarah masih memberlakukan larangan penggunaan cadar dengan berpegang pada putusan Pengadilan HAM Eropa pada 2014. Pengadilan Eropa memutuskan larangan penggunaan caar bukan bagian dari HAM.

  1. Chad

Chad, sebuah negara di Afrika, memberlakukan larangan bercadar sejak terjadinya dua serangan bom bunuh diri pada Juni 2015. Perdana Menteri Chad, Kalzeube Pahimi Deubet, menyebut burka telah menjadi kamuflase sehingga seluruh burka harus dimusnahkan. Perempuan yang mengenakan cadar atau burqa di Chad, akan ditahan dan dipenjara.

  1. Kamerun,

Aturan larangan memakai cadar diberlakukan Kamerun hanya berselang setelah Chad memberlakukan aturan ini. Pemberlakukan aturan ini atas dasar banyaknya bom bunuh diri dengan pelaku yang memakai burka. Aturan ini sudah berlaku secara akif di lima provinsi di Kamerun.

  1. Nigeria

Tak boleh memakai cadar diberlakukan di Diffa, sebuah wilayah yang pernah porak-poranda akibat pemberontakan Boko Haram. Presiden Nigeria menyarankan agar jilbab pun dilarang saja di Nigeria.

  1. Congo-Brazzaville

Di negara ini, aturan takk boleh memakai burka atau cadar sudah diberlakukan sejak 2015. Hal ini ditujukan untuk mencegah serangan terorisme.

  1. Switzerland

Undang-undang larangan bercadar diproses pada 1 Juli 2016. Lewat aturan ini siapa pun yang mengenakkan cadar bisa dikenai denda hingga 9.200 euro atau Rp 160 juta. Sejauh ini, aturan ini baru berlakukan di wilayah Tessin, Switzerland

  1. Denmark

Denmark telah menjadi negara terakhir di Eropa yang melarang perempuan muslim mengenakan pakaian menutup seluruh wajah, termasuk cadar atau burqa. Aturan ini diberlakukan pada 1 Agustus 2018 dan memberlakukan denda bagi mereka yang melanggarnya.

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: BBC.com | dunia.tempo.co | med.com

HAM dalam Jaminan Kebebasan Beragama

Minggu, 14 Maret 2021

 

Dalam soal keberagama atau berkeyakinan setiap orang memiliki kebebasan untuk taat pada ayat-ayat suci dari KItab Suci mereka. Tetapi dalam konteks berbangsa dan bernegara, yang harus diutamakan adalah taat pula pada ayat-ayat Konstitusi yang menjadi dasar dan haluan hukum di negeri ini serta instrument hukum internasional yang telah disepakati bersama.

Artinya, ada saatnya kita patuh dan taat pada aturan-aturan hukum yang tertera dalam Kitab Suci masing-masing, sebab itu bagian dari kebebasan beragama atau berkeyakinan (KBB). Tetapi pada saat yang bersamaan dengan jaminan itu pula teks-teks Konstitusi juga harus selalu dikedepankan. Ini merupakan konsekuensi dari Negara yang meskipun tidak 100% sekuler, tetapi juga bukan merupakan Negara berlandaskan hukum agama tertentu. Saya kerap menyebutnya dengan Negara “yang bukan-bukan”.

Dalam konteks perlindungan terhadap ha katas kebebasan beragama, berkeyakinan dan beribadah itulah ada sejumlah instrument hukum HAM internasional yang mengatur tentang hal ini.

Gagasan HAM, sebagaimana diuraikan dalam buku pedoman Pemerintah Daerah dalam Perlindungan Hak Beragama atau Berkeyakinan (2015: 19 – 21),  dipandang sebagai titik temu yang paling relevan – hingga saat ini – untuk menyatukan pelbagai pandangan keagamaan dan doktrin di seluruh dunia, karena dengannya setiap entitas dan identitas diakui dan dilindungi secara setara, namun di sisi lain identitas keagamaan atau leyakinan itu tetap dapat mempertahankan karakteristik khususnya yang sejak awal berbeda-beda.

Pada sisi yang lain, gagasan HAM kebebasan beragama merupakan titik negosiasi tanpa henti yang terus dilakukan oleh omunitas internasional, dengan tetap membuka peluang kritik dan masukan dari setiap kelompok dan Negara.

Lantas, apa saja yang menjadi landasan normative HAM KBB yang telah dihasilkan oleh komunitas internasional? Ada banyak sekali. Tetapi dalam ulasan ini saya hanya menurunkan 3 instrumen utama yang dihasilkan oleh PBB atau pasca Perang Dunia II.

Pertama, Deklarasi Universal HAM 1948 (DUHAM). Ini merupakan instrument yang sangat kuat yang disepakati oleh masyarakat internasional pada tahun 1948. DUHAM menjamin perlindungan ha katas kebebasan berkeyakinan dan beribadah, yang secara jelas tercantum dalam Pasal 18, dengan menyatakan:

“Setiap orang berhak atas kemerdekaan berpikir, berkeyakinan dan beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran, peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun secara pribadi.”

Pasal 18 DUHAM tersebut, dalam buku pedoman (h. 20) mengandung tiga hal penting dalam perlindungan HAM KBB, yaitu: (1). Ia menjamin hak kebebasan berfikir, keyakinan dan agama, yang umumnya dideskripsikan sebagai forum internum atau ekspresi internal. Aspek ini merupakan kategori yang luas, meliputi hak untuk memeluk suatu agama atau tidak, termasuk pula percaya atau tidak percaya. Pada prinsipnya, ia juga mencakup kepercayaan (belief), yaitu kepercayaan non-agamis dan ateisme, seperti agnostik.

(2). Pasal 18 membahas tentang perubahan (konversi) dan penyebaran agama, termasuk pula di dalamnya tentang aktivitas pengajaran agama; (3). Pasal tersebut juga mengatur tentang forum eksternum, yaitu ekspresi atau manifestasi  keagamaan atau keyakinan, yang dalam batas-batas tertentu dapat menjadi subjek pembatasan (limitasi) oleh Negara selama hal itu sesuai dengan persyaratan yang telah diatur.

Kedua, Kovenan Hak Sipil dan Politik. Instrument terkait hal ini adalah Kovenan Internasional Tentang Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Politic Rights/ICCPR). Kovenan ini ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966.  Terkait jaminan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan, Kovenan Sipil dan Politik in memberikan jaminan dalam Pasal 18:

Ayat (1):  Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan, dan pengajaran.

Ayat (2): Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.

Ayat (3): Kebebasan menjalankan dan menentukan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain.

Komite HAM PBB, sebuah badan HAM internasional yang bertugas untuk memantau pelaksanaan Kovenan Hak Sipol tersebut, menegaskan bahwa hak-hak yang menjamin dalam ketentuan pasal 18 tersebut di atas, harus dilindungi oleh Negara, terutama Negara-negara yang telah meratifikasi. Indonesian adalah Negara yang sudah meratifikasinya.

Hak tersebut merupakan suatu hak yang melekat pada individu dan tidak dapat dikurangi. Kovenan Hak Sipol mempertegas bahwa ha katas kebebasan beragama atau berkeyakinan merupakan hak yang tidak bisa dikurangi dalam kondisi apapun (Non-Derogable Rights), sebagaimana ditegaskan di dalam Pasal 4 Kovenan ini.

 

Ahmad Nurcholish, Pemimpin Redaksi Kabar Damai, Deputi Direktur ICRP

Arif Menyikapi Perbedaan

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Oleh Ust. Fathoni Muhammad

 

Perbedaan adalah sunnatullah dan keragaman adalah kenyataan yang menunjukkan ke-Maha-Besar-an Sang Khaliq. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Allah berfirman:

Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa (QS. al-Hujurat: 13).

Ayat ini merupakan bentuk pengakuan mengenai realitas keberagaman, termasuk keberagaman di bidang keyakinan. Karena itu, keterbukaan, toleransi dan menghormati agama-agama lain merupakan aspek penting dalam Islam. Al-Quran menegaskan dengan jelas, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. al-Baqarah: 256), “dan bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. al-Kafirun: 6). Al-Quran juga memerintahkan kaum muslim agar tidak mencaci maki orang yang menyembah selain Allah karena mereka tidak tahu (QS. al-An’am). Al-Quran juga mengajarkan agar orang yang beriman menunjukkan rasa hormat kepada semua Nabi, bahwa “mereka semua beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab Suci-Nya dan Nabi-nabi-Nya. Kami tidak membeda-bedakannya” (QS. al-Nisa’:150-151).

Inilah sebabnya, kaum Muslim menghormati seluruh Nabi hingga Nabi terakhir Muhammad Saw., apakah nabi-nabi itu namanya tercantum di dalam al-Quran maupun tidak. Al-Quran juga tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa surga tidaklah dimonopoli oleh sekelompok agama tertentu saja. Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berlaku baik (muhsin), dia akan mendapat pahala dari-Nya (QS. al-Baqarah: 112).

Saat ini sulit sekali menemukan suatu negara atau bangsa dengan warga negara yang berasal dari satu ras, satu agama atau satu ideologi saja. Ketunggalan suatu negara dalam satu ras, suku dan agama semakin jarang terjadi karena mobilitas penduduk yang kian meningkat. Perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain – baik karena alasan profesional maupun alasan personal melalui ikatan pernikahan – menunjukkan kecenderungan yang kian meningkat. Ini menyebabkan keragaman menjadi semakin tak terhindarkan.

Sebagai sunnatullah, perbedaan dan keragaman merupakan kehendak Allah Swt. Dalam beberapa ayat al-Qur’an disebutkan, antara lain:

Kalau saja Allah berkehendak, maka Ia akan jadikan mereka menjadi satu umat saja, tetapi ada orang yang dikehendaki-Nya masuk dalam rahmat-Nya, sementara orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun atau seorang penolong” (QS. Asy-Syura, 42: 8).

 “Jika Tuhanmu berkehendak, maka akan beriman seluruh orang di muka bumi  ini, apakah kamu mau memaksa orang-orang agar mereka beriman. Seseorang tidak akan beriman, kecuali atas izin Allah, dan Allah jadikan keburukan bagi orang-orang yang tidak berakal” (QS. Yunus, 10: 99-100).

Kita perlu bersikap arif menghadapi perbedaan dan keragaman, bukan semata-mata karena kehidupan ini penuh dengan keragaman, tetapi juga karena manusia tidak bisa lagi hidup sendiri di dunia jagat raya ini; semuanya saling terkait satu sama lain dan tidak bisa lagi mengelak dari pengaruh yang lain. Salah satu kemajuan penting abad dua puluh satu adalah kenyataan bahwa seluruh negeri-negeri ini telah menjadi tetangga kita berkat kemajuan teknologi informasi yang semakin menglobal.

Jika masalah keragaman tidak ditangani dengan serius di tengah gegap gempita pertemuan berbagai kebudayaan dalam peradaban global, maka perang peradaban bisa semakin dekat dengan kenyataan.

Baca juga: Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa: Pendeta dan Imam yang Mendamaikan Perbedaan

Menghargai Perbedaan, Menghindari Konflik

Realitas keragaman itu tentu tidak bisa dibiarkan apa adanya tanpa ada usaha mengembangkannya dalam suatu harmoni sosial. Sebab, jika tidak dikelola dengan baik, maka perbedan dalam keragaman dapat menjadi bibit-bibit konflik. Perbedaan budaya, bahasa, asal usul, etnis dan keyakinan memang tidak pernah betul-betul menjadi pemicu konflik. Tapi perbedaan dan keragaman seperti itu bisa menjadi kendaraan efektif bagi berbagai kepentingan yang dengan mudah menumpanginya. Perbedaan memang tidak menjadi masalah, tapi begitu kepentingan masuk ke dalamnya, maka perbedaan yang sebelumnya berupa rahmat bisa dengan cepat berubah menjadi laknat.

Karena itu, dibutuhkan sikap yang lebih menghargai perbedaan dan keragaman. Sikap yang tidak hanya mengakui adanya kelompok lain, tetapi juga memberi perlindungan terhadap kelompok lain yang terancam. sebuah sikap pro-aktif untuk menjaga harmoni sosial dalam realitas yang beragam.

Namun, dalam konteks agama, rupanya keragaman tidak semudah dalam konteks lainnya. Kita perlu memikirkan secara serius masalah perbedaan agama yang sering dijadikan sebagai satu-satunya identitas pembeda. Dalam identitas etnis, seseorang bisa saja separuh Cina dan sekaligus separuh Jawa, tapi dalam identitas agama, seseorang tidak bisa memiliki identitas separuh Islam atau separuh Budha misalnya.

Itulah sebabnya, cara pandang terhadap keragaman perlu diperbarui. Selama ini cara pandang keragaman agama terlalu ditekankan pada aspek normatif, bahwa ajaran agama sangat mendukung keragaman dengan mengutip sejumlah ayat kitab suci. Padahal, realitas yang ada dalam kitab suci sangat berbeda dengan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Ada jarak yang demikian lebar antara ajaran luhur kitab suci dengan realitas empiris di depan mata.

Jika kita gagal memperbaharui cara pandang ini, maka yang paling terancam sebetulnya adalah umat beragama itu sendiri. Sebab, jika satu kelompok agama terus hidup dalam komunitasnya sendiri sambil bersikap curiga dan menganggap kelompok agama lain sebagai musuh, maka yang akan terjadi adalah perang agama. Itulah sebabnya, kebenaran agama tidak cukup ditunjukkan hanya dengan ajaran yang terdapat dalam kitab suci, tetapi juga dibuktikan dengan keterlibatan agama itu sendiri untuk turut menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan yang kian hari kian kompleks.

Problem kemanusiaan yang kian kompleks tentu tidak mungkin diserahkan penyelesaianya hanya kepada satu komunitas agama. Dalam konteks seperti ini, mestinya kaum beriman sudah malampaui dialog dengan melakukan aksi nyata secara bersama-sama dalam rangka menanggulangi berbagai bentuk problem kemanusian.

 

Akhlaq dalam Perbedaan

Sebagai sunnatullah, tentu saja perbedaan memerlukan etika atau akhlaq. Sebab, jika perbedaan dibiarkan tanpa akhlaq, maka sangat mungkin perbedaan itu berubah dari rahmat menjadi laknat. Sudah menjadi tugas manusia sebagai khalifah fil ardl untuk memelihara dan melestarikan pesan moral dari hadits yang menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat.

Perbedaan dan keragaman bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan memang sudah disengaja oleh Allah Yang Maha Pencipta.

Kalau saja Tuhanmu berkehendak, maka Ia akan menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja, tetapi mereka akan tetap berselisih dan berbeda pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, Dan karena itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. (QS. Hud, 11: 118-119).

Sebagai hasil ciptaan ALLAH, tentu saja perbedaan dan keragaman mempunyai tujuan. Allah Swt menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya tidak sia-sia. Selalu ada tujuan dalam menciptakan mahluk-Nya. Salah satu tujuan diciptakan-Nya keragaman adalah agar manusia saling kenal dan saling tolong menolong.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat ayat 13)

Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita melihat bahwa perbedaan seringkali menjadi pemicu konflik. Perbedaan tidak dilihat sebagai rahmat, tapi justru dianggap sebagai bencana. Keragaman dianggap sebagai bencana. Dari cara pandang inilah lahir upaya-upaya untuk mengingkari perbedaan dengan cara penyeragaman. Karena menyalahi Sunnatullah, maka penyeragaman ini melahirkan konflik berkepanjangan, bahkan diwarnai kekerasan. Sudah berapa banyak nyawa dan harta melayang karena manusia tidak mampu mengelola perbedaan dan keragaman.

Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut melalui pendekatan toleransi. Sayangnya,  toleransi selama ini hanya difokuskan pada hidup berdampingan secara damai antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, tanpa ada usaha untuk membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka di antara kelompok-kelompok tersebut. Sehingga mereka hidup dalam ketidaktahuan satu sama lain.

Usaha dialog antar pemeluk agama juga sudah lama dilakukan, namun usaha ini lebih bersifat retorik ketimbang empirik. Upaya dialog biasanya lebih sering mencari titik temu ketimbang mencoba mengelaborasi keunikan masing-masing kelompok. Padahal, substansi toleransi bukan pada persamaan, tetapi justru pada pernghargaan terhadap perbedaan. Manusia bergaul akrab dengan yang lain bukan semata-mata karena adanya kesamaan, tetapi terutama karena adanya perbedaan yang menandai keunikan masing-masing. Akibat dialog yang hanya bersifat permukaan tidak mampu memberikan saling pengertian dan pemahaman mengenai keunikan masing-masing. Keunikan tetap tersembunyi di balik permukaan. Ironisnya, ketika terjadi dialog, masing-masing kelompok seringkali masih menggunakan bahasa agamanya sendiri-sendiri sehingga dialog yang berlangsung pun tak ubahnya seperti berbicara kepada diri mereka sendiri, bukan dengan kelompok lain yang berbeda.

Dialog semacam itu harus digeser dari upaya mencari persamaan ke upaya mengenali keunikan masing-masing. Dan, di atas itu semua, tentu saja dialog itu harus ditingkatkan lebih dari sekadar saling mengenal, tetapi juga dalam bentuk dialog kemanusiaan misalnya. Tema dialog yang mesti diangkat bukan tema-tema keagamaan, tetapi tema-tema kemanusiaan yang menyangkut kepertingan dan problem bersama.

Persoalan lainnya adalah bahwa  dialog antar-agama yang selama ini dilakukan hanya terjadi di kalangan elite agama tanpa melibatkan kelompok arus bawah. Padahal justru kelompok arus bawa lah yang seringkali bersentuhan secara riil dengan kelompok lain. Mereka hanya mengetahui kelompok lain berdasarkan prasangka, sehingga ketika terjadi persentuhan diantara mereka – apalagi jika kemudian diwarnai ketegangan – tentu saja akan sangat mudah memicu konflik diantara mereka.

Karena itu, yang paling penting sebetulnya adalah dialog di tingkat akar rumput. Karena di sanalah persinggungan yang sesungguhnya terjadi. Sudah saatnya kita sebagai khalifah fil ardl memulai usaha yang lebih serius untuk membumikan pesan moral dari tujuan diciptakannya keragama ini. Allah Swt menciptakan perbedaan bukan untuk saling bermusuhan, tetapi justru untuk berkenalan, belajar satu sama lain dan tolong menolong dalam kebaikan.***

Sepuluh Tips Menguatkan Toleransi dalam Kehidupan

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Jakarta – Toleransi adalah cara menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perbedaan perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di seluruh dunia.

Toleransi menjadi keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras seperti Indonesia. Karena itulah, toleransi amat dibutuhkan di Indonesia.

Toleransi membentuk masyarakat Indonesia bisa saling membantu satu sama lain tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Lalu, bagaimana cara menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat?

Cara menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan harus diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak sejak dini. Mengajarkan sikap toleransi membuat anak terbiasa dengan perbedaan dan mampu menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ada sepuluh cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan. Sepuluh hal ini bisa diterapkan di keluarga, sekolah dan masyakarakat.

Pertama, menghormati perbedaan.

Perbedaan bukanlah masalah. Maka, menghormatinya adalah hal paling baik yang bisa kita lakukan. Dengan menghormati, tak akan ada prasangka buruk yang muncul dan berpotensi menimbulkan konflik.

Kedua, menghargai perbedaan.

Menghargai perbedaan harus dilakukan sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku di masyakat dan suatu negara tertentu. Jika ada perbedaan, musyawarah untuk mencapai mufakat adalah jalan terbaik. Sikap ini bisa diwujudkan dengan menghargai orang lain tanpa memandang usia, agama, ras, dan budaya.

Baca juga: Indahnya Toleransi, Pengungsi Banjir di Kudus Salat di Gereja

Ketiga, tidak bergunjing.

Bergunjing adalah sikap tidak baik yang membicarakan orang lain. Biasanya, tentang keburukan yang ada. Maka, tidak membicarakan keburukan orang lain tanpa alasan atau pembuktian menjadi jalan tengah paling baik yang bisa dilakukan di keluarga dan masyarakat.

Keempat, menjadi pendengar yang baik.

Individu yang baik selalu menanamkan rasa empati terhadap orang lain. Contoh sederhana adalah mendengarkan pendapat orang lain dan memahami perasaan orang lain saat berbicara.

Kelima, berbicara dengan santun.

Mari berbicara menggunakan bahasa yang baik dan sesaui norma yang berlaku. Hindari berteriak dan memaki. Taat pada norma kesopanan atau adat yang bersumber dari masyarakat atau dari lingkungan masyarakat yang bersangkutan adalah hal yang baik.

Keenam, toleransi saat umat lain beribadah.

Norma agama atau religi adalah norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya. Sebagai individu, memilikik sikap toleransi saat orang lain beribadah menurut kepercayaanya adalah langkah toleransi awal yang akan berpengaruh pada langkah-langkah selanjutnya.

Ketujuh, tidak memaksakan kehendak.

Manusia sebagai individu yang hidup di tengah masyarakat sebaiknya tidak memaksakan kehendak dan hidup sesuai norma yang berlaku yakni dalam norma agama, norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya, norma kesusilaan atau moral, adat istiadat, dan hukum yang berlaku.

Kedelapan, menerima perbedaan.

Selain menghormati dan menghargai, dibutuhkan pula kesalingpahaman antarindividu, keluarga, bertetangga dan dalam masyarakat lingkup kecil demi keselarasan kehidupan. Kerjasama yang dilakukan, dilandasi rasa ikhlas dan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Kesembilan, menghargai diri sendiri.

Jangan lupa, menghargai diri sendiri bisa dimulai dengan mampu mengendalikan diri terhadap sikap-sikap yang tidak sesuai norma masyarakat, seperti pamer, bergunjing dan memaksakan kehendak.

Kesepuluh, menghargai hak pribadi orang lain.

Hak asasi tertinggi orang lain adalah pilihan menentukan agama dan kepercayaannya sendiri. Selain itu, hak pribadi orang lain yang diatur undang-undang adalah hak mengelurakan pendapat sesuai norma hukum.

Menerima perbedaan antara suku, agama dan kebudayaan bisa dimulai dengan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Mari buat lingkungan masyarakat yang nyaman, tentram dan aman.

Jangan lupa, sampaikan juga kepada orang lain terutama orang-orang terdekat bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan. Hal positif akan cepat menyebar dan melibatkan banyak orang.

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Sumber: –

Lima Negara Paling Toleran di Dunia

Kabar Damai I Senin, 8 Maret 2021

 

Jakarta – Diantara banyak negara di dunia, ada beberapa negara yang mendapatkan predikat negara paling toleran di dunia sebab indikator toleransi yang kuat di dalamnya.

Toleransi atau Toleran kerap diartikan sebagai suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain.

Lebih jauh dari itu, toleransi mestinya menjadi pintu gerbang agar kasih sayang senantiasa terpatri dalam setiap tindakan dan ucapan kita. Tindakan dan ucapan tersebutlah yang kemudian akan menjelma menjadi perdamaian.

Toleransi untuk orang Indonesia adalah hal yang penting dan mendasar, mengingat negara kita tidak hanya dihuni oleh satu suku bangsa saja, ataupun satu agama saja.

Menerapkan sikap toleransi membuat kita mampu menghindari terjadinya diskriminasi mengingat ada begitu banyak suku bangsa, agama, atau bahasa di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Toleransi juga membuat kita belajar menghargai pendapat atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, saling tolong-menolong antar sesama tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan, dan sebagainya.

Itulah mengapa ada Hari Toleransi Internasional agar rasa toleransi dalam diri tak terkikis dan semakin menguat. Frommers mencatat, setidaknya ada lima negara dengan toleransi paling baik, atau negara paling toleran di dunia.

Pertama, Kanada.

Negara multikulturalisme ini terkenal karena memiliki toleransi rasial dan agama yang tinggi. Kanada adalah negara yang sangat mengedepankan seberapa baik mereka memenuhi kebutuhan dasar manusia, memberikan akses ke kesempatan, dan menciptakan landasan untuk kesejahteraan.

Kanada juga dinobatkan menjadi negara yang tidak terlalu rentan terhadap pergolakan serta berulang kali menegaskan tentang nilai imigrasi.multikulturalisme di Kanada tumbuh dengan baik, tentu diimbangi dengan toleransi yang tinggi.

Kedua, Selandia Baru.

Selandia Baru adalah satu dari sedikit negara yang sukses merangkul penduduk asli. Mereka melindungi adat istiadat dan warisan suku Maori lewat sebuah keputusan pemerintah dan dirayakan dengan cara besar dan kecil.

Selandia Baru bukan saja memamerkan ukiran kayu Maori, kano, dan artefak lainnya di Museum Auckland dan Te Papa Tongarewa di Wellington, bahasa Maori juga dilestarikan dimana-mana mulai dari nama tempat hingga uang hingga sapaan kia ora.

Ketiga, Luxemburg.

Luxemburg hanyalah negara kecil yang terkurung daratan dan menempati posisi terbaik dalam hal kebebasan pribadi. Negara ini memiliki akses termudah ke hak hukum, kebebasan berbicara, dan sikap paling toleran terhadap imigran dan minoritas. Hal tersebut membuat Pengadilan Eropa berbasis di negara tersebut.

Keempat, Albania.

Tentang toleransi beragama dan negara paling toleran di dunia, maka Albania adalah juaranya. Pada waktu Paus Fransiskus mengunjungi negara kecil di Balkan ini pada tahun 2014, dia mengatakan bahwa seluruh dunia dapat belajar banyak dari bagaimana Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai di Albania.

Di negara ini, orang-orang yang beragama Islam dan Kristen berbaur di berbagai pesta dan festival. Semangat harmoni ini salah satunya kerap ditunjukkan pada Hari Air Terberkati yang jatuh di bulan Januari.

Di bulan tersebut, orang-orang akan terjun ke danau, sungai, dan laut yang dingin untuk mencari salib yang terendam. Orang-orang yang dimaksud termasuk masyarakat yang beragam Islam.

Kelima, Irlandia.

Negara dengan toleransi paling baik di dunia adalah Irlandia. Survei menunjukkan bahwa Irlandia sangat toleran terhadap etnis minoritas dan LGBT daripada rata-ra ta negara di Uni Eropa. Irlandia tetap berkomitmen pada cita-cita benua yang bersatu. Selain itu, orang Irlandia juga dikenal sangat ramah.[]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas I Editor: A. Nurcholish

Sumber: –

Bupati Pasaman: NU Pasaman Harus Jaga Kedamaian di Tengah Kemajemukan

Minggu, 7 Maret 2021

 

Pasaman – Bupati Pasaman, Benny Utama meminta pengurus NU untuk terus tetap berperan menjaga kehidupan yang damai dan berdampingan satu sama lain. Sekalipun warga Kabupaten Pasaman terdiri dari berbagai suku dan keyakinan agama yang berbeda.

Hal tersebut ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat masa khidmah 2020-2025 resmi dilantik, Sabtu (6/3) di aula lantai III Kantor Bupati Pasaman, Lubuk Sikaping.

Menurut Benny, seperti dilansir NU Online, warga Kabupaten Pasaman berasal dari berbagai suku seperti dari Minang, Batak, Jawa, Mandahiling, dan lainnya. Selain mayoritas beragama Islam, ada sebagian kecil beragama non-Muslim.

“Sudah sejak lama mereka hidup berdampingan dan saling hormati menghormati satu sama lain. Tidak pernah terjadi konflik satu sama lain. Hal ini menunjukkan masyarakat Pasaman mampu hidup berdampingan walaupun ada perbedaan,” ujarnya, kutip nu.or.id (6/3).

Karena itu, kehadiran NU dengan kepengurusan yang baru dilantik tentu tinggal melanjutkan memelihara kondisi yang damai, tentram, dan saling menghargai satu sama lain. “Pemerintah Kabupaten Pasaman sangat mendukung program-program yang dilakukan NU untuk kemaslahatan umat di Kabupaten Pasaman,” imbuh Benny.

Dikatakan Benny, organisasi NU merupakan organisasi Islam terbesar dan tertua di tanah air. Keberadaan NU dalam menjaga dan merawat kebangsaan patut diapresiasi. Atas dasar itu, kata dia, NU sangat dicintai oleh banyak orang. Siapapun bisa bergabung dengan NU untuk menjaga bangsa dan negara tetap utuh dan damai.

“Siapa pun bisa masuk, karena NU ini bukanlah partai politik. NU ini milik semua umat. Termasuk di Pasaman, nenek saya dulu juga penganut NU setia,” tandasnya.

Ia mengaku bangga, kepengurusan NU di Pasaman dipimpin barisan anak muda. Ini pertanda baik, agar NU ke depan mampu merawat keutuhan bangsa dan tetap menjaga tradisi serta kearifan lokal dengan baik.

Mengutip tulisan Muhammad Yusuf Aunur Sabri, Pemandu Kerukunan Umat Beragama Kankemenag Kab. Pasaman dalam laman sumbar.kemenag.go.id, berdasarkan data dari BPS Kabupaten Pasaman tahun 2016, ia menyebut penduduk Kabupaten Pasaman yang berdomisili di 12 kecamatan berjumlah 269.883 jiwa. Memiliki keyakinan atau memeluk agama yang berbeda yaitu Islam, Khatolik dan Protestan. Selain itu juga terdapat kemajemukan kesukuan/ budaya yaitu Minang, Mandailing, Batak dan Jawa serta sedikit lainnya.

Dari data yang diperoleh, pemeluk agama yang terbanyak di ranah Pasaman adalah Islam dengan jumlah  269.168 jiwa, sementara Protestan 200 jiwa dan Khatolik 65 jiwa. Begitu halnya dengan kesukuan secara persentase 90 persen dominasi suku minang, sedikitnya 9 persen batak dan mandailing dan 1 persen suku jawa bercampur dengan suku lainnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat Prof Ganefri menegaskan, salah satu tugas Nahdlatul Ulama adalah mensyiarkan ajaran Islam yang mayoritas dianut masyarakat Pasaman. Selain itu, NU perlu meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Kabupaten Pasaman. Demikian ini adalah pekerjaan rumah (PR) yang harus diperhatikan PCNU Pasaman.

“PCNU Pasaman harus menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan di Kabupaten Pasaman. Salah satunya di bidang pendidikan. Harus diakui, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pasaman masih berada di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan masih rendahnya partisipasi warga di bidang pendidikan. Karena itu, harus didorong dan dongkrak peningkatan partisipasi tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi,” tuturnya, kutip nu.or.id.

Sebagai Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), kata Ganefri, dirinya siap memberikan kesempatan kepada tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan pendidikan ke UNP. Setiap tahun rata-rata 10.000 mahasiswa diterima. Ada sebanyak 2.200 peluang beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi tapi kurang mampu.

“Kita berikan kesempatan kepada Bupati Pasaman dan PCNU Pasaman untuk mendorong anak-anaknya yang tamatan sekolah menengah melanjutkan pendidikan ke UNP dan meraih beasiswa tersebut,” tandasnya.

 

Enam Poin Jaga Kerukunan

Untuk terus menjaga kerukunan hidup beragama di ranah Pasaman menurut Muhammad Yusuf Aunur Sabri, perlu dilakukan diantaranya:

Pertama, menjunjung tinggi toleransi antar umat Beragama di Kabupaten Pasaman. Baik yang merupakan pemeluk Agama yang sama, maupun dengan yang berbeda Agama. Rasa toleransi bisa berbentuk dalam macam-macam hal. Misalnya seperti, pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain dalam interaksi sehari – harinya, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya mereka melakukan ibadah.

Kedua, Selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun dan tanpa melihat status orang tersebut. Jangan melakukan perlakuan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan. Misalnya, di suatu daerah mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi Anda yang memeluk agama lain, jangan lantas malas dan enggan untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbedaan agama.

Ketiga, hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan sopan kepada siapapun. Biasakan pula untuk menomor satukan sopan santun dalam beraktivitas sehari harinya, terlebih lagi menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama.

Keempat, Bila terjadi masalah yang membawa nama agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin dan damai, tanpa harus saling tunjuk dan menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak – pihak manapun.

Kelima, Diperlukan juga aktivasi FKUB sebagai wadah yang mempersatukan umat beragama, maka pemerintah daerah harus bersungguh-sungguh memfasilitasi dengan setiap tahunnya menganggarkan biaya operasional FKUB dalam APBD.

Keenam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman yang juga selaku pemerintah dalam membidangi persoalan agama dan keagamaan harus selalu memprogramkan bermacam kegiatan pembinaan antar tokoh dan pemeluk antar agama juga intra agama.

Jika keenam poin tersebut terlaksana, maka menurut Muhammad Yusuf, beberapa manfaat akan diperoleh yakni: terciptanya suasana yang damai dalam bermasyarakat; toleransi antar umat Beragama meningkat; menciptakan rasa aman bagi agama – agama minoritas dalam melaksanakan ibadahnya masing masing; dan meminimalisir konflik yang terjadi yang mengatasnamakan Agama. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: NU Online (nu.or.id), sumbar.kemenag.go.id

Memaafkan Teroris?

Malang – Memaafkan merupakan pergulatan dan perjuangan yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Katanya, memaafkan itu kunci pembebasan diri. Nyatanya, memaafkan itu bisa jadi mudah, bisa jadi sangat sulit dan menguras hati.

Banyak aspek yang dipertimbangkan saat kita mempertimbangkan untuk memaafkan. Apalagi, saat efeknya bukan hanya luka batin, tetapi juga luka fisik yang harus diderita seumur hidup. Kita tidak bisa memaksa orang untuk memberi maaf karena memaafkan itu harus murni datang dari dirinya sendiri.

Nanda Olivia Daniel, korban dan penyintas Bom Kuningan 2004, bercerita perjuangannya memaafkan pelaku teroris yang menyebabkan fisiknya tak senormal sebelumnya dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMK Budi Mulia Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Jumat lalu (26/02).

Dilansir dari aida.or.id, akibat peristiwa nahas tersebut, Nanda harus menjalani pengobatan intensif di Australia. Ia mengalami luka serius di bagian tangannya. Ibu jarinya kini tak bisa lagi berfungsi secara normal. Bukan hanya luka fisik, trauma dan kebencian pun sempat menghinggapi Nanda selama bertahun-tahun yang menguras energinya, bahkan termasuk keluarganya. Mereka mengalami trauma yang sangat berat.

“Saat itu, saya baru punya satu anak. Umurnya 1 tahun 8 bulan. Dia menemui saya di rumah sakit setelah 3 hari kejadian. Pertama ketemu, dia nggak mau dekat-dekat saya, dan nggak mau saya pegang, karena ngeri lihat perban di tangan saya. Selai itu, adik saya mukulin dirinya sendiri karena merasa nggak bisa jagain saya,” ungkap Nanda.

Ia mengaku baru bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan memaafkan pelaku saat dipertemukan dan berdialog dengan salah mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang sudah bertobat. Perjumpaan itu terjadi pada 2015 yang difasilitasi AIDA. Meski berat, dari situ, ia menyatakan bahwa secara perlahan, dirinya mulai memahami kisah-kisah pertobatan mantan pelaku dan memilih memaafkan ketimbang menyimpan dendam.

“Kebencian tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi. Maka, saya pun harus belajar memaafkan. Bukan karena orang lain tetapi karena diri saya sendiri. Saya memaafkan diri saya untuk ikhlas, sadar, dan bangkit,” lirihnya. [HH/Aida.or.id]

Kisah Gereja Makam Suci di Kota Tua Yerusalem

Jakarta – Gereja Makam Suci atau Gereja Makam Kudus yang dalam bahasa Latin dituliskan sebagai Sanctum Sepulchrum dan dalam bahasa Inggris Church of the Holy Sepulchre adalah gereja Kristen di Kota Lama Yerusalem.Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus.

Situs ini dipercaya oleh banyak orang Kristen sebagai Golgota, tempat di mana Yesus disalibkan dan kubur Yesus yang kosong, di mana dikatakan Ia pernah dikuburkan, tetapi kemudian bangkit dari kematian.

Gereja makam suci ini adalah tempat suci dan paling dihormati dalam agama Kristen. Gereja makam suci berdiri di Kota Tua Yerusalem yang bertembok kokoh juga luas.

Gereja tersebut dibangun saat situs penyaliban, makam, dan kebangkitan Yesus, telah dilindungi oleh dua keluarga Muslim Palestina, yaitu Nuseibeh dan Joudeh selama lebih dari 1.000 tahun.

Gereja Makam Kudus didirikan pada abad ke-4 oleh umat Kristen di Yerusalem, saat Sultan Saladin merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 lampau. Dia memerintahkan dua keluarga Muslim yang menjadi penjaga gereja, yakni keluarga Al-Husseini dan keluarga Nuseibeh.

Hingga saat ini, keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas membuka dan menutup pintu gereja. Gereja tersebut digunakan oleh enam denominasi kuno, Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap mazhab memiliki biarawan yang bermukim di kompleks gereja.

Monumen tersebut dikelola oleh lima denominasi Kristen yang berbeda termasuk Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Koptik dan Suriah, dan Ortodoks Ethiopia.

Sejarah mencatat, dalam beberapa kesempatan selama bertahun-tahun, faksi-faksi Kristen melewati masa saling bertengkar tentang siapa yang berhak mengendalikan ruang di dalam gereja tersebut.

Keputusan pun diambil dan ditentukan bahwa keluarga Nuseibeh dan Joudeh yang membantu untuk menjaga perdamaian di antara kelompok-kelompok saingan tersebut agar tidak terjadi perebutan yang nantinya akan beujung pada tindakan kekerasan.

Arsitektur gedung gereja menggunakan model arsitektur kubah. Arsitektur tersebut umum digunakan di bangunan gereja dan masjid di seluruh penjuru Tanah Suci Tiga Agama Samawi.

Model arsitektur kubah trsebut pada awalnya adalah milik gereja Ortodoks Bizantium yang kemudian dilestarikan oleh Islam pada saat tentara Islam merebut wilayah-wilayah politik Kekaisaran Bizantium pada abad ke-VII Masehi.

Bangunan tersebut dikelola bersama oleh beberapa komunitas Gereja Kristen Tradisional seperti Gereja Katholik Roma, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Siria, dan Gereja Ortodoks Etiopia.

Dalam bangunan gereja suci ini terdapat beberapa makam dari tokoh Kristen seperti Raja Baldwin VI yang meninggal disebabkan karena sakit kusta pada usia yang masih muda. Baldwin adalah keturunan Geofrey dari Boillon, salah seorang pejuang pertama dalam Perang Salib Pertama.

Gereja tersebut adalah salah satu situs yang sangat disucikan oleh banyak aliran umat Kristen mainstream yang merupakan situs Gereja Kelahiran Yesus di Kota Betlehem, Palestina dan situs Gereja Keluarga Suci di Kota Nazaret, Israel Utara.

Ribuan umat Kristen dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Gereja ini untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, terutama dalam Perayaan Jumat Agung dan Minggu Paskah setiap tahun.[AAJ/BBCNews]

Toleransi dan Kearifan Lokal Tanah Air

Oleh Ust. Ahmad Imam Mujadid Rais

 

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.al-Hujurat aya 13).

Keragamaan dan kekayaan khazanah bangsa Indonesia merupakan asset berharga yang harus dirawat oleh segenap anak bangsa. Keragaman yang ada di tengah bangsa, mulai dari suku, etnis, dan agama merupakan anugrah Allah Swt agar kita saling mengenal, saling menghormati dan berlomba dalam kebaikan. Keragaman yang ada bukan malah justru memecah belah. Andai Allah menginginkan, tentu umat manusia akan dijadikan satu umat saja. Tapi Allah Swt tidak menghendaki hal demikian upaya umat manusia berpikir dan mencari hikmah d baliknya.

Keragaman etnis dan suku bangsa ini sejatinya memperkaya khazanah bangsa dalam hal toleransi, tepa selira, dan hormat menghormati baik antar umat beragama ataupun antar suku dan etnis yang berbeda. Setidaknya ada dua modal utama bangsa Indonesia yang dapat menjaga dan merekatkan ikatan bangsa yang besar dan majemuk ini. Pertama adalah agama-agama yang mengajarkan kerukunan dan harmoni. Kedua adalah kesepakatan dasar bangsa yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Materi ini akan lebih memberikan penekanan pada aspek modal kedua, terutama Bhinneka Tunggal Ika yang mewujud pada kearifan local (local wisdom) yang ada di tengah masyarakat. Khazanah kearifan local ini menjadi modal sosial yang secara substansi merupakan objektivasi nila-nilai universal. Alih-alih menggunakan konsep atau kosa kata agama masing-masing yang mungkin sulit diterima oleh kelompok agama yang berbeda, dengan adanya objectivasi khazanah local justru nilai-nilainya menjadi universal dan dapat diterima oleh banyak pihak. Sebagai contoh misalnya di Sumatera Utara, struktur kekerabatan di Suku Batak (Tarombo) merekatkan hubungan kekeluargaan dan persaudaraan walau berbeda agama antara satu dengan yang lain. Toleransi dan sikap saling menghormati bukan sekedar menjadi kewajiban, namun sudah menjadi norma dan tradisi yang lazim ditemukan dalam hubungan intra Suku Batak.

Demikian halnya bila kita menuju Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi Utara, Maluku, hingga Tual. Di Sulawesi Utara, titik temu toleransi ada pada nilai-nilai kearifan lokal atau bahkan genius local yang hidup di tengah masyarakat. Di antaranya adalah penghormatan kepada orang tua, filosofi “Sitou Timou Tumou Tou” yang berarti “manusia hidup untuk menghidupi sesama”. Selain itu ada pula ungkapan “Torang Samua Basudara”. Kerukunan di Minahasa juga terkait dengan asal nama Minahasa yang artinya ‘Mina Esa atau ‘yang dipersatukan’. Banyak nilai-nilai baik yang telah berkembang sebagai kearifan local di Minahasa. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka hubungan antar etnis dan suku melalui temali perkawinan merupakan hal yang biasa dan mudah ditemukan. Saat Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado, banyak dari anggota pasukannya yang menikah dengan warga setempat.

Demikian pula di Tanah Maluku bagaimana kearifan lokal menjadi metode yang efektif untuk bangkit setelah konflik horizontal di awal tahun 2000-an. Memori kolektif orang maluku punya prinsip bahwa walaupun berbeda tapi semua merasa bersaudara (Katong Samua Basudara) atau orang-orang basudara betapapun berbeda Beta tetap Maluku dan tingginya rasa saling memiliki di antara mereka. Hal ini sebagaimana petuah-petuah tetua orang Maluku ale rasa beta rasa, yang artinya apa yang kamu rasa saya turut merasakannya. Lalu ada filosofi yang artinya senada dengan sebelumnya, yaitu potong di kuku rasa di daging. Ada pula sagu salempeng bagi dua yang bermakna sepotong sagu dibagi dua atau ain ni ain yaitu satu untuk semua, semua untuk satu. Kearifal local lainnya adalah pentingnya merawat persaudaraan sejati seperti janji-janji leluhur Maluku di Nunusaku Nusa ina Pulau seram yaitu Nunu pari hatu, hatu pari Nunu yang artinya bersatulah seperti pohon beringin melingkari batu karang dan batu karang mendekap akar beringin.

Prinsip atau petuah adat yang memiliki substansi yang sama juga akan ditemukan di Tanah Kei atau Tual. Bahkan, menurut para tokoh agama dan adat di Tanah Kei, jauh sebelum Pancasila dilahirkan, filosofi Kei telah mewarnai denyut nadi kehidupan sehari-hari rakyat Kei. Hal ini semakin meneguhkan bahwa kearifan dan kebijaksanaan lokal di Tanah Air sangat kaya dan sudah seharusnya terus menerus dihidupkan dan diperkaya untuk konteks kebangsaan secara lebih luas. Kekayaan khazanah lokal inilah yang terus menerus menjaga Indonesia untuk terus tumbuh-berkembang dan maju secara toleran, demokratis dan penuh kemajemukan.

Tanah Kei, yang dikenal sebagai, Tanah Evav atau Nuhu Evav merupakan daerah yang mencakup Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual—setelah keduanya dimekarkan pada tahun 2007. Daerah ini merupakan daerah yang cepat pulih dan bangkit saat terjadi konflik sosial di Maluku dan sekitarnya pada tahun 2000an. Faktor kearifan lokal inilah yang turut menjaga harmoni di Tanah Kei.

Dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa 2018, beberapa kesepakatan penting dilahirkan oleh para pemuka agama. Salah satunya adalah terkait etika kerukunan antara dan intra umat beragama. Dalam etika antar umat beragama dijelaskan bahwa masing-masing pemeluk umat beragama diminta untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga masing-masing. Persoalan doktrin, konflik internal di agama lain tidak perlu dicampuri oleh penganut agama lain. Kerapkali, hal inilah yang menjadi persoalan dalam hubungan antar agama. Terlebih, dengan penggunaan media sosial yang kian luas, ujaran kebencian atau ceramah yang sudah mengalami plintiran turut memperburuk situasi. Merujuk kepada filosofi di Tanah Kei, Umat Rir Rahan Raan (ada larangan adat untuk mencampuri urusan dalam rumah orang).

Selain filosofi di atas yang menasehati untuk tidak mencampuri urusan dalam rumah orang, beberapa filosofi yang dapat ditemukan di Tual antara lain Roan Kain Yaau Ning, Vuan It Bisa Did yang bermakna daun dan batang saya punya, tapi buahnya kita semua punya; Manut Ain Mehe Tilur, Fuut Ain Mehe Ngifun yang artinya telur dari satu ayam dan telur dari satu ikan, yang artinya Kita Semua Bersaudara, punya satu asal-usul yang sama; It Fau Fo Banglu Vatu, ne It Foing fo Kut Ain yang secara harfiah artinya “Kita dibentuk menjadi seperti sebutir peluru dan diikat erat menjadi seperti satu berkas sumbu api dari seludang kelapa”. Makna secara luas adalah artinya kesatuan yang erat yang tak bisa terpisahkan dan memiliki semangat kebersamaan dan kekuatan yang bertahan terus. Bahkan melihat sistem hukum dan masyarakat di Kei, maka kita akan mengenal apa yang disebut dengan hukum adat Lar Vul Nga Bal, yang mrupakan kearifan lokal yang luar biasa. Lar Vul Nga Bal merupakan dasar/panduan/pegangan, nilai dan norma hukum, bagi perilaku, perbuatan dan tata hidup masyarakat Kei, baik dari segi susila/etik maupun moral, serta pidana maupun perdata, secara adat.

Tanah air Indonesia tidak saja memiliki keindahan yang memesona. Ketinggian filosofi dan nilai hidup yang dianut masyarakatnya juga demikian memukau. Nilai-nilai inilah yang terus dirawat oleh para tokoh dan masyarakat di tanah air sehingga kerukunan dan harmoni dapat terus dijaga. Kearifan local yang tercantum dalam materi khutbah kali ini hanya sebagian kecil saja dari kekayaan kearifan local di tanah air. Benang merah kearifan local ini senada dengan nasihat suci dari al-Quran dan Hadist yang memerintahkan untuk menjaga persaudaraan dan silaturahmi antar sesama, saling menghormati walau berbeda agama dan keyakinan, serta menjunjung solidaritas yang tinggi antar sesama manusia. Wallahu a’lam bi ash-showab. []

 

Ust. Ahmad Imam Mujadid Rais, pengurus Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP. Muhammadiyah.

Paus Fransiskus Akan Bertemu dengan Ayatollah Ali Sistani

Jakarta – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, akan melakukan kunjungan bersejarah ke Irak pada Maret 2021. Dalam kunjungannya, Paus Fransiskus akan melakukan pertemuan simbolis dengan ulama Syiah terkemuka di Irak, Grand Ayatollah Ali Sistani.

Myriam Benraad ilmuwan politik Prancis yang mengkhususkan diri untuk dunia Arab menyatakan bahwa kunjungan tersebut dilakukan dalam upaya memperdalam dialog dengan pemimpin Muslim.

“Kunjungan Paus ini mengirimkan pesan politik yang kuat untuk seorang tokoh yang sangat terkait dengan membela warga Irak,” kata dia.

Paus Fransiskus diketahui sejak lama memuji-memuji kekuatan dialog antaragama yang berada di Irak sebagai simbol perdamaian dan toleransi tanpa memikirkan seluk-beluk teologis yang diajukan oleh pendahulunya.

Paus Fransiskus yang berusia 84 tahun tersebut akan bertemu dengan Sistani di kediamannya, tepatnya di Najaf, pada Sabtu (6/3) mendatang. Sistani yang kini berusia 90 tahun tidak pernah terlihat di depan publik dan jarang menerima tamu. Agenda kali ini, Paus Fransiskus ingin bertemu langsung dengannya.

Melihat ke belakang, dua tahun lalu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Paus Fransiskus dan ulama Sunni terkemuka, Sheikh Ahmed al-Tayeb, yang juga Imam Besar Al-Azhar, menandatangani sebuah dokumen tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia. Keduanya menyampaikan seruan bersama untuk kebebasan berkeyakinan.

Kalangan Sunni mencakup hampir 90 persen umat Muslim sedunia dengan Syiah mencakup 10 persen, mayoritas ada di Iran dan Irak. Untuk Irak, 60 persen populasinya menganut Syiah dan 37 persen lainnya menganut Sunni.

Harapannya, dengan kunjungan ke Najaf dan bertemu ulama Syiah terkemuka, Paus Fransiskus akan mengulurkan tangan untuk cabang utama Islam lainnya. Hal tersebut jelas merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi dan hal yang besar, seperti apa yang disebut oleh peneliti di Institut Brookings, Marsin Alshamary.

Alshamary juga menyatakan bahwa mazhab pemikiran Islam di Najaf telah terlibat dialog antaragama sejak invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada tahun 2003 silam dan perang berdarah yang terjadi antara Syiah dan Sunni.

Dia juga menegaskan bahwa Muslim dilarang membunuh orang lain. Tahun 2014, saat Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) mendekati Baghdad, Sistani menyerukan warga Irak untuk menenteng senjata mengusir militan radikal tersebut.

Dia lalu merangkul salah satu dari dua aliran Syiah modern, yakni aliran Najaf, yang memisahkan antara politik dan agama. Aliran tersebut bertentangan dengan mazhab di sekitar kota suci Qom di Iran yang meyakini pemimpin agama juga harus memimpin negara, mengikuti contoh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Biarawan Dominika-Irak, Amir Jaje, yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam dialog antaragama menyatakan, “Kaum Syiah di Irak ingin Vatikan dan dunia Barat mendukung mereka melawan cengkeraman Iran, yang ingin menelan Najaf.”[AAJ/Detik]