Pos

ICRP Bersama PGI-S Depok, FKUB, dan BASOLIA, Maknai Kemerdekaan dengan Menyalurkan Bantuan

Tepat pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ICRP bekerjasama dengan PGI-S, FKUB dan Basolia Kota Depok Salurkan Bantuan ribuan paket sembako. Pembagian dilakukan dengan prosesi Upacara Kemerdekaan.

Mangaranap Sinaga, SE, MH Selaku ketua Panitia Penyaluran Paket sembako menyampaikan, ” Pada hari ini PGI-S telah menyalurkan 1000 paket sembako bagi berbagai lapisan masyarakat depok. ICRP merupakan yang kali kedua menjadi sponsor kita dalam penyaluran paket sembako. Hari ini ada 2 kegiatan pembagian yang kita lakukan. Yang pertama adalah bagi warga kelurahan Depok Jaya, ada 300 paket sembako. Kemudian 150 Paket Sembako untuk warga Gereja. Seperti Gereja Bnkp depok, Gereja Pouk Depok Timur, GGP, HKBP Cilodong, KGPM, GKJ, juga bagi Masyarakat yang kurang mampu di sekitar Jalan Pemuda. Para supir yang berada sekitaran Jalan raya bogor Juga kita salurkan,” Papar Mangaranap. Di lapangan badminton, jl. Irian Jaya Rw 04 Kelurahan Depok Jaya. senin, (17/08/2020).

Deputi Direktur ICRP Ustad Ahmad Nurcholis menyampaikan, Salah satu nilai kemerdekaan adalah bagaimana kita memerdekakan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Semua agama mengajarkan supaya kita peduli akan sesama. Kami hanya adalah jembatan bagi mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. ICRP akan selalu terus melakukan gerakan kemanusiaan demi mewujudkan keadilan sosial sebagai mana nilai-nilai Pancasila sebab itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya,” Sahut Ustadz Ahmad.

Dalam aksi sosial perayaan Hut RI yang ke-75 tersebut turut hadir juga beberapa tokoh lintas agama serta memberikan kata samabutan. Diantaranya yaitu : H.Lufianto, Pdt. Bebalazi Zega S.Th, MMin, Pdt. Linda Purba, Pdt Romy Palit MTh.

Drs Sigit Wahyudi MM selaku tokoh masyarakat setempat menyampaikan, ” Terimakasih kepada ICRP, PGI-S dan lainnya atas perhatiannya bagi warga kami. Lewat kegiatan sosial ini juga kami harapkan pemerintah setempat juga bisa transparan dalam penyaluran bantuan. Sehingga bantuan akan sampai tepat sasaran, pada yang selayaknya menerima bantuan, ” Tutur Sigit. (Anto)

Sumber: nuansarealitanews.com

ICRP Dan PGI-S Depok Adakan Bansos Paket Sembako Bagi Masyarakat Lintas Agama

Indonesian Conference on Religion and Peace ( ICRP) Peduli Covid-19, melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Organisasi Persatuan Gereja- gereja Indonesia (PGIS) berikan sumbangan berupa 200 paket sembako kepada para lansia, janda dan warga tidak mampu serta memberikan Alat Pelindung Diri ( APD) kepada para pendeta,kegiatan ini dilaksanakan di Gereja KGPM Johanes Jl. Pemuda No. 17 Depok Lama, Rabu( 5/8/2020).

Turut hadir dalam giat tersebut Deputy Direktur ICRP Ustad Ahmad Nurcholis, Sekretaris FKUB H. Lufianto, Ketua Umum PGIS Pdt. Bebalazi Zega MTh beserta jajarannya, ketua Satgas Covid PGIS Mangaranap sinaga, Pdt. Romy Palit, Pdt. Linda Purba dan pengurus PGIS lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan covid, bantuan 200 paket sembako ini diterima oleh 50 orang perwakilan yang nantinya akan mereka salurkan ke warga semua lintas agama yang sudah didata sebelumnya.

Ustad Ahmad Nurcholis menceritakan bahwa pemberian bantuan sosial ini sudah rutin dilakukan oleh ICRP semenjak awal pandemi dan ini yang ke-8 berbarengan dengan ini ada 1500 bantuan kalau ditotal sudah 10.000 paket sembako disalurkan. Lanjut diceritakannya bahwa ICRP sudah 20 tahun berdiri yang mana didirikan pada tahun 2000 dan salah satu pendirinya adalah alm.Gusdur pada masa menjabat Presiden.

 

Kemudian lanjutnya,” Hal ini kita lakukan karena pandemi ini menimpa semua orang tidak memandang latar belakang agama maka inilah waktu yang tepat untuk merealisasikan konsep persaudaraan terutama persaudaraan antar sesama manusia atau ukhuwah Insaniah dan tetap melaksanakn dialog, dan di masa pandemi ini yang dilakukan adalah dialog sosial. Pada prinsipnya ICRP peduli pada semua umat beragama, semoga ini bisa membantu mereka yang membutuhkan,” jelas Nurcholis.

Mangaranap Sinaga juga menjelaskan bahwa paket sembako ada 200 paket dan disampaikan kepada teman-teman Muslim, Kristen, Kunghucu dan Hindu, sembako ini berisi beras, gula, tepung, minyak goreng dan kebutuhan makanan lainnya. Selain itu disalurkan juga pakaian APD untuk para pimpinan Gereja atau Pendeta yang akan digunakan ketika memakamkan warga yang meninggal dunia. Paket sembako didapat dari ICRP sedangkan APD didapat dari Satgas Provinsi Jawabarat melalui PGI Jawa barat. ” Harapan saya covid ini segera berkurang agar masyarakat bisa menghidupi dirinya dimasa kondisi saat ini dan pemerintah bisa memberikan perhatian langsung sampai ke sasarannya pada para lansia, janda dan warga yang kurang mampu,” tuturnya.

 

Ketua Umum PGIS Bebalazi Zega beserta Sekretaris FKUB H. Lufianto menyampaikan terimakasih kepada ICRP atas sembako yang dibagikan hari ini sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan yang pastinya inilah yang paling dibutuhkan masyarakat pada saat ini. (RINA/KTN)

Sumber: kliktodaynews.com

Bergandeng Tangan Menolong dan Melayani Sesama

[dropcap]P[/dropcap]ada masa yang sulit ini, kita perlu bergandengan tangan. Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19 ini berisikan komunitas dari berbagai latar belakang agama, Majelis Agama, semua berkumpul dalam jaringan ini melakukan usaha-usaha yang terbaik, untuk membantu bangsa ini sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki.

Menjadi konsen utama JIC, adalah kemanusiaan. Bahwa agama berkiatan erat dengan kemanusiaan, sehingga kita tidak lupa utk memanusiakan manusia. Saat ini banyak saudara kita yang memerlukan uluran tangan, memberikan bantuan.

Umat Sikh tidak tinggal diam, walau jumlah kecil. Kami berbagi dengan masyarakat di sekitar rumah Ibadah, Gordoara. Ini dilakukan di Jakarta dan di berbagai daerah.

Kami selalu mengajak untuk selalu bersyukur dan selalu optimis, bahwa kita bisa menghadapi ini dengan bersama-sama. Kita saling bergandengan tangan dengan kapasitas kita masing-masing, menolong dan melayani masyarakat. Seperti badai akan, berlalu tentunya wabah ini juga akan berlalu.

Tembang dan Doa untuk Pahlawan Inspirasi Kemanusiaan

[dropcap]dr[/dropcap] Rahmi Nur Alam, melantunkan sepotong doa, di Sekretariat JIC, dalam kesempatan bertemu para tokoh agama. Doa Kesatuan dipilih untuk mengemas pertemuan yg juga sekaligus menandai penyerahan bantuan masker medis dari ICRP kepada para pemuka agama. Hadir dalam kesempatan ini Romo Hariyanto, Sekretaris Jendral ICRP yang menyerahkan secara simbolis 100.000 masker medis kepada dr. Rahmi Nur  Alam dari Bahai, Bapak Peter Lesmana Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, dan Bapak Astono Chandra Dana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia yang mewakili penerima bantuan lintas agama (9/5). Rumah Perdamaian – Kantor ICRP, saat ini juga menjadi Sekretariat Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19 (JIC).

Dalam kesempatan ini dilantunkan doa kesatuan, sebagai bentuk penghormatan dan juga mengenang jasa penyanyi Didi Kempot yang telah berpulang pada tanggal 5 Mei 2020. Ibu dr. Rahmi dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kesempatan ini sangat baik, kesempatan bersama untuk menghayati kesatuan umat antar agama dan menaikkan doa permohonan tidak saja bagi almarhum Didi Kempot, tetapi juga bagi kita yang ditinggalkan agar dapat menghayati spirit kemanusiaan yang telah diteladankan oleh Didi Kempot.

 

Dr. Rahmi mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Didi Kempot, “Hari ini sangat bagus, JIC dengan segala upaya almarhum Didi Kempot, hari ini kita bersatu menyelaraskan segala doa dan upaya kita, untuk bersama-sama memberhentikan mata rantai covid-19.” 

“Kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus bekerjsa bersama-sama. Kita bagaikan jari-jari di tangan berguna ketika bersatu, mengenggam dan mendirikan persatuan umat manusia. Ikaatan lintas iman ini sangat bagus, karena kita tidak lagi bertanya apa bangsamu, apa agamamu, tetapi kita bersatu untuk tolong menolong bagi teman-teman yang membutuhkan, kita ada bantuan masker dan sembako, dan lain-lain. Kita sangat terinspirasi oleh pahlawan inspirasi kemanusiaan yang baru saja berpulang, mas Didi Kempot. Semoga teman-teman bergerak, tetaplah berbuatlah baik menolong sekitar, tiap kebaikan membawa pada kebaikan yang lebih besar,” demikian jelas dr. Rahmi.

Didi Kempot berpulang pada hari yang bersamaan dengan dimulainya kerja-kerja jaringan untuk membagikan bantuan paket PeduliSobatAmbyar di 28 Posko di Jabodetabek. Mengingat hal ini, dr. Rahmi, melantunkan sebuah tembang yang mengingatkan siapakah sumber pengharapan ketika kita dilanda kesukaran. 

 

Penyaluran Bantuan Tanggap Bencana Covid-19 Melampaui Enam Agama ‘Resmi’

[dropcap]P[/dropcap]andemi Covid-19 makin menggugah gerakan antar agama terus membangun toleransi dan solidaritas di Indonesia. Banyak inisiatif dilakukan oleh organisasi-organisasi keagamaan dan gerakan lintas iman untuk bersolidaritas membantu warga terdampak wabah korona.

Hanya saja, pola kegiatan dan gerakan antar agama di Indonesia selama ini lebih memprioritaskan pada agama-agama yang ‘diakui’ negara. Sehingga, hanya enam agama ‘resmi’ menjadi penerima manfaat dari gerakan-gerakan lintas agama, termasuk bantuan warga terdampak Covid-19.

Bantuan Masker Medis dari ICRP yang diterima oleh Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19 (JIC) yang diwakili tokoh agama, diwakili pemuka agama hindu, Khonghucu dan Bahai, disampaikan oleh Sekretaris Jenderal ICRP, Romo Hariyanto.

Hal tersebut sangat disayangkan oleh Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Pendeta Frangky Tampubolon. Menurutnya, agama yang ada di Indonesia tidak hanya enam. Selain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, ada 187 agama lokal atau penghayat kepercayaan yang berorganisasi dan terdaftar di tingkat pemerintah pusat. Ada juga Baha’i, Sikh, dan bahkan Yahudi.

Artinya, sambung Frangky, yang terdampak Covid-19 juga tidak hanya para penganut dan komunitas dari enam agama yang ‘diakui’. Tetapi, dalam praktiknya bantuan dari aksi-aksi antar agama ini masih berkutat dan mementingkan kelompok dari agama-agama yang enam saja.

“Banyak sekali umat agama lain dan komunitas di luar agama tidak tersentuh dan mendapat manfaat dari solidaritas dan penggalangan bantuan lintas iman. Harusnya agama mengasihi semua manusia, tanpa memandang keyakinan dan identitasnya,” ujar Frangky saat menyerahkan bantuan terdampak Covid-19 dari Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19 (JIC) ke komunitas transgender yang tergabung dalam Yayasan Srikandi Sejati (12/5).

Sebelumnya, dari kantor ICRP juga telah membagikan paket bantuan kepada Sanggar Waria Remaja (SWARA) dan Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL-Ina). Untuk itulah ICRP yang tergabung dalam JIC hendak mengubah tatanan lama gerakan antar agama yang dianggapnya sekadar memprioritaskan agama-agama di bawah Kementerian Agama, bahkan mengubah pengucapan salam di acara-acara resmi sebatas pada enam agama.

“Solidaritas terdampak Covid-19 yang JIC tempuh saat ini, didorong agar bantuan yang terdiri dari sembako, masker, hand sanitizer dan alat pelindung diri, APD, dapat menyentuh kalangan rentan, miskin, dari berbagai agama atau kepercayaan termasuk juga komunitas di luar agama. Ini bentuk protes kami atas kegiatan-kegiatan seremonial yang diskriminatif yang masih dilanjutkan di tengah pandemi korona,” ungkapnya sambil menegaskan pentingnya membangun norma dan pola baru gerakan lintas iman dan secara imparsial ke depannya distribusi bantuan akan terus menjangkau kelompok-kelompok rentan yang benar-benar membutuhkan, tanpa membeda-bedakan.

Ustad Ahmad Nurcholish, yang juga inisiator JIC, menjelaskan bahwa JIC merupakan kolaborasi organisasi lintas iman dan kepercayaan yang bergerak bersama dalam penanganan Covid-19. JIC telah menggalang bantuan dari berbagai pihak yang ingin berperan serta dalam solidaritas lintas iman untuk membantu warga miskin yang terkena dampak pandemi korona.

“Jadi, JIC mempunyai misi yang tidak hanya bersolidaritas di seputar komunitas dari enam agama saja, tetapi akan berusaha menyalurkan bantuan ke umat agama atau penghayat kepercayaan dan warga negara lainnya dari berbagai komunitas dan identitas seperti transgender atau LGBT secara umum, disabilitas dan sebagainya,” kata Nurcholish.

Melalui JIC Ustad Nurcholish maupun Pendeta Frangky hendak memulai gerakan lintas iman dan kepercayaan yang lebih inklusif dalam menurunkan ajaran cinta kasih dan perdamaian yang mampu menyentuh seluruh warga negara, apapun agama dan identitasnya, serta mengoreksi praktik-praktik eksklusif yang mengistimewakan enam agama. Mereka berdua menyebutkan apa yang tengah dibangunnya ini sebagai “new normal life” gerakan lintas iman yang bersifat universal, tidak parsial berputar pada kelompok agama yang ‘diakui’ saja.

“Agama dan para pemuka agama sudah seharusnya tidak berlaku tak adil, diskriminatif. Begitupun ketika semakin banyak warga yang terdampak korona, sepatutnya agama hadir dengan wajah universalnya dalam menyalurkan bantuan, tanpa melihat apa keyakinan dan identitas penerima,” tegas Nurcholish.

Jakarta, 13 Mei 2020

Kontak:
Frangky Tampubolon (Direktur ICRP: 0811-138-816)
Ahmad Nurcholish (Koordinator Pelaksana JIC: 0813-1106-8898)
Desiana Samosir (Sekretaris JIC: 0813-6928-1962)

Download Press Release JIC: Norma Baru Gerakan Lintas Iman dan Covid-19

Pelajaran Berbagi dari Realitas Pandemi Covid-19

[dropcap]N[/dropcap]ama saya Frangky Tampubolon, saya tinggal di Bekasi dan saya aktivis perdamaian lintas agama. Saya ingin bercerita sesuatu yang membuat hati saya tersentuh beberapa waktu ini, khususnya beberapa bulan ini. Ada seorang ibu yang saya jumpai, ia menyampaikan bahwa ia telah kehilangan mata pencahariannya dan hari itu memberi kabar bahwa dia sudah tidak punya beras. Dan saya cukup kaget bagaimana pandemi covid-19 ini membuat dia sangat kesulitan.

Saya langsung memberikan apa yang ada di rumah kami, kebetulan saya baru membeli beras 5 kg. Lalu saya bagi beras itu untuknya, saya kirimkan dengan tambahan bumbu dapur dan lainya, itu membuat saya terkejut dengan realitas saat ini tentang pandemi covid ini. Kemudian saya berjumpa lagi dengan seorang ibu yang mengatakan saya demikian waktu saya memberikan telor, “Pak saya ini mungkin tidak akan mati karena covid,tetapi bisa saja saya mati karena kelaparan.”

Tetapi lain hal yang membuat saya lebih terkejut lagi, ketika saya bertemu lagi dengannya dan dia berkata, “Pak saya menerima bantuan telor, dan ternyata di sekitar saya banyak orang yang perlu bantuan, sehingga bantuan bapak saya bagi per seperempat kilo telor, supaya orang bisa ikut makan.”

 

Realitas tentang pandemi Covid-19 ini, sungguh-sungguh membuat saya tidak bisa diam tidak bisa tidur. Saya bersama teman membangun kepedulian, melalui lembaga yang kebetulan saya nahkodai, yakni ICRP. Kami membangun sebuah kebersamaan dengan teman-teman relawan, ICRP Peduli. Ini semua membuat saya sampai pada hal, apapun yang bisa kita lakukan, sekecil apapun yang kita lakukan mengatasi pandemi Covid ini sangat berarti.

Teman-teman ada yang memberikan bantuan kecil, ada yang memberikan bantuan sedikit demi sedikit. Dari semua ini, anda tidak perlu menunggu menjadi orang kaya atau memiliki segala hal baru bisa memberi kepada orang lain. Saya sendiri sangat tergerak ketika ada orang yang mengatakan dia tidak beruntung, tetapi dia juga mengatakan bahwa masih banyak orang lain yang tidak beruntung. Dan karena itu, kebersamaan yang dibutuhkan saat ini adalah kebersamaan yang sungguh-sungguh ingin membangun kehidupan solidaritas, kehidupan yang ingin memperhatikan satu dengan yang lain.

Kalau anda merasa tidak beruntung, lalu melihat orang lain lagi yang juga tidak beruntung, maka disitulah sebenarnya nilai-nilai kebersamaan itu ada, gotong royong itu ada.

Sampai kapan kita harus menerima realitas ini? Saya yakin kita semua pasti bisa melewati badai yang sangat besar ini. Dan ini mungkin peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan terjadi, dimana dunia mengalami pergolakan yang sangat besar.

Kunci dari keberhasilan kita bersama melewati semua ini adalah, lihatlah disekeliling anda, perhatikanlah dan jangan merasa kita tidak pernah menjadi bagian dari sekeliling kita itu. Tuhan memberkati kita semua, dan saya yakin Covid-19 akan bisa kita atasi bersama.

Bung Jacky Bertanya Cak Nur Menjawab: Berbagi Berkah dan Inspirasi Ramadhan

Buku “Kristen Bertanya Muslim Menjawab,” sangat menginspirasi Pdt. Jacky Manuputy dan menjadi “berkah ramadhan” yang sangat istimewa, tidak saja karena buku ini diberikan langsung oleh ustad Ahmad Nurcholish, tetapi juga telah mendorong sebuah dialog dalam ruang perjumpaan yang dapat saling berbagi inspirasi.

Pdt. Jacky Manuputty mengajak Ustad Nurcholish berbagi inspirasi ditengah situasi pandemi wabah Covid-19 yang tengah melanda bangsa Indonesia.  Bersamaan dengan itu Bulan Ramadhan berlangsung ditengah situasi yang bagi banyak orang sangat memprihatinkan, yang berimplikasi banyak pada kondisi sosial ekonomi.

Bagaimana Ustad Nurcholis mempertemukan makna ramadhan dalam situasi yang seperti sekarang ini?

Salah satu ritus dalam bulan Ramadhan ini adalah puasa. Puasa berasal dari kata saum, yang artinya menahan diri, menahan diri dari nafsu dan kesenangan dunia, pesan yang ingin disampaikan pada masa ramadhan ini adalah bagaimana setiap individu muslik mampu menahan diri dari nafsu duniawi, artinya setiap kita harus mau melahirkan semangat sosial dan kemanusiaan kepada sesama.

Islam sendiri disetiap perintah ritual selalu disertai dengan perintah untuk melakukan kepedulian sosial. Perintah solat, misalnya ada perintah dirikanlah solat dan berikan zakat. Ritus itu kewajiban kita kepada sang Khalik, sementara itu setelahnya adalah kita perlu menganyam jalinan kemanusiaan, kepedulian antra sesama, dalam Islam ada instrumen zakat, yang dalamnya merupakan ajaran dimana harta yang kita miliki itu tidak semua punya kita, ada sebagian yang harus kita berikan sebagian kepada yang membutuhkan.  Kalau kita kaitkan dengan pandemi Korona, maka disini lah kita membuktikan bahwa ajaran agama kita mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian kepada sesama.

Dompet Duafa yang telah melatih tim relawan dalam gerakan Gereja Melawan Covid (GMC-19), dalam pelaksanaan tugasnya salah satu teman dari mereka meninggal dunia, tetapi di sana kami melihat ada panggilan tentang persaudaraan antar manusia. Bagaimana Ustad Nurcholish memaknainya?

Di dalam Islam ada ajaran persaudaraan misalnya ukuwah islamiah, tetapi juga ada ukuwa insaniah, persaudaraan antar manusia. Nah persaudaraan mestinya bisa kita aplikasikan secara aktif dalam arti dalam kondisi seperti ini, kita penting untuk bisa menjaga diri agar tidak tertular dan juga sekaligus tidak menulari orang lain. Lebih penting dari itu semua adalah bagaimana kita peduli kepada sesama, dengan cara membantu. Itu sebabnya kami membuat gerakan berupa jaringan lintas iman tanggap bencana Covid-19 (JIC), kami mengajak berbagai latar belakang agama yang berbeda, baik islam, ahmadiah, dari Kristen tidak saja dari PGI tetapi juga dari kelompak lainnya.

Apa saja yang sudah dilakukan oleh JIC-19, sebagai gerakan lintas iman yang dikerjakan oleh Ustad Nurcholish?

Ide awalnya, selama ini kami dan teman-teman penggiat lintas agama telah terbiasa melakukan dialog, walaupun seringkali hanya seremonial dari atas panggung. Nah ini saatnya dialog itu diimplementasikan dalam ranah praksis nyata dan membuatnya menjadi dialog kemanusiaan. Lalu teman-teman dari berbagi agama membuat suatu wadah jaringan yang bernama JIC – jaringan lintas iman tanggap Bencana Covid-19. Dari sekian banyak donatur yang sudah mendonasikan, pertama ada  dana yang terkumpul melalui Konser Amal Didi Kempot, dari beliau melalui konser sobat Ambyar, kami mendapatkan 1,5 Milyar, yang kita sudah belanjakan menjadi 5350 paket bantuan sembako. Hari ini dan sampai lusa kita akan membagikan melalui 53 posko di seluruh Jabodetabek. Sebelumnya, kami sudah menerima donasi khusus untuk driver Ojol. Karena masa PSBB ini, para driver ini tidak bisa mangangkut orang, jadi perlu mendapatkan bantuan. Lalu kemarin baru tiba bantuan masker untuk paramedis, sebanyak 100 ribu masker bantuan dari China bernilai lebih setengah milyard, rencana akan kami distribusikan ke Indonesia Timur, karena kabarnya disana kekurangan APD – termasuk masker.

Saya ingin tahu bagaimana membangun jejaring di basis oleh lembaga antar iman?

Logikanya sederhana, PGI misalnya punya jejaring gereja sampai ke tingkat basis RW misalnya, nah itulah yang kita bekerjasama dengan mereka. Demikian juga dengan jaringan katholik, begitu pula dengan Gusdurian, mereka punya 100 posko di seluruh Indonesia, jadi bila kita katakan kita perlu kerjasama di Jabodetabek, mereka sudah ada datanya. Dan kita juga berkoordinasi, misalnya satu posko yang sebelumnya sudah dan di area tersebut, ada lembaga Bakat, Permabudi, dan gereja sudah bekerjasama dengan  PGI punya Gereja melawan Covid, ICRP punya ICRP Peduli, nah kita masing-masing punya data dengan kegiatan sebelumnya, nah ini kita berbagi data.

Memanfaatkan jejaring, adalah kunci dari kerja yang terkonsolidasi, termasuk kerja-kerja antar iman. Pak Ustad dan teman-teman jaringan lintas iman bisa memanfaatkan dan mengkapitalisasi jaringan yang sudah terbentuk, sehingga dialog pada tataran konseptual bisa diterjemahkan secara fungsional menjadi dialog kehidupan. 

 

JIC Salurkan 5.350 Paket Sembako di Jabodetabek

[dropcap]J[/dropcap]aringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC) pada tanggal 5 – 7 Mei 2020 ini menyalurkan sebanyak 2.850 paket sembako untuk tahap I dan 2.500 paket sembako yang akan disalurkan pada 10 hari menjelang lebaran untuk tahap II.

Total 5.350 paket ini merupakan donasi dari Sobat Ambyar melalui KompasTV yang diserahkan dalam bentuk dana pada 24 April 2020 lalu di Sekretariat JIC Rumah Perdamian (ICRP), Jl. Cempaka Putih Barat XXI No. 34 Jakarta Pusat.

Penyaluran paket sembako tersebut diberikan kepada masyarakat yang terkena dampak pandemic korona melalui 28 Posko JIC di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Bekasi Kota, Kabupaten Bekasi, Bogor Kota, Kabupaten Bogor, Tangerang Raya, Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Kepulauan Seribu.

“Kami berharap bantuan ini dapat meringankan mereka yang terkena dampak pandemic Covid-19 yang masih melanda negeri kita. Ini sekaligus wujud nyata kerjasama lembaga-lembaga dari berbagai agama dalam peran serta meringankan beban masyarakat yang membutuhkan,” tutur Ahmad Nurcholish, Koordinator Pelaksana JIC.

Sementara itu, Pdt. Jimmy Sormin mengatakan bahwa gerakan kemanusiaan secara lintas agama dan budaya ini menjadi model yang sangat baik untuk diteruskan oleh komunitas atau lembaga lainnya, agar dibalik nestapa ini ada beragam makna dan dampak positif lainya yang kita terima ke depan. “Kami berharap pemerintah juga bisa segera membantu masyarakat miskin yang luput atau belum mendapatkan bantuan selama pandemic ini,”tandas Sekretaris Eksekutif PGI Bidang KKC.

Di tengah kami dalam proses penyaluran bantuan ini kemarin dikejutkan dengan berpulangnya Mas Didi Kempot ke haribaanNya. “Atas nama seluruh lembaga yang tergabung dalam JIC dan seluruh relawan posko kami mengucapkan duka cita mendalam. Sebagai seniman yang peduli pada sesama, memiliki solidaritas tinggi pada kemsnusiaan kiranya almarhum dapat kita jadikan teladan sebagai pahlawan kemanusiaan,”ujar Pdt. Frangky Tampubolon, Direktur ICRP

Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC) merupakan kolaborasi organisasi lintas iman dan kepercayaan yang bergerak bersama dalam penanganan Covid-19. JIC telah menggalang bantuan dari berbagai pihak yang ingin berperan serta dalam solidaritas lintas iman untuk membantu warga miskin yang terkena dampak pandemic Korona.

Diantara lembaga-lembaga yang tergabung dalam JIC adalah Indonesian Conference on eligion and Peace (ICRP), Pemuda Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Commad Center, NU Peduli, GP. Ansor, PGI, GEMABUDHI, PERMABUDHI, MBI – KBI, KomHAK KWI, JKMC, BAKKAT, Parusada Hindu Dharma Indonesia, Puskor Hindunesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN), Majelis Rohani Nasional Bahai Indonesia, Yayasan Sosial Guru Nanak, Temu Kebangsaan Orang Muda, Jaringan GusDurian, Kafkaf Foundation, Jakarta Gotong Royong, dan Yayasan Kesehatan Indonesia.

Selain menyalurkan bantuan paket sembako, JIC juga akan menyalurkan masker medic untuk tenaga kesehatan melalui rumah sakit-rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di wilayah Timur. Sebanyak 100.000 masker kini telah berada di gudang JIC dan tengah dalam proses pengepakan dan penyaluran. [AN]

ICRP Peduli Salurkan 600 Paket Makanan Buka Puasa

[dropcap]D[/dropcap]alam pekan pertama Ramadan 1441 H (2020) ICRP Peduli telah menyalurkan sebanyak 600 paket makanan siap santap untuk mereka yang kala tiba waku berbuka puasa masih berada di perjalanan. Paket makanan siap santap tersebut donasi dari Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) yang merupakan Lembaga di bawah payunh Keluarga Buddhis Indonesia (KBI).

Enam ratus makanan untuk santap berbuka tersebut disalurkan di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Bekasi. Penerima makanan ini antara lain: pengemudi Ojek Online, supir angkot, dan karyawan yang masih dalam perjalanan ketika waktu berbuka telah tiba.

Relawan dari ICRP Peduli juga memberikannya kepada petugas parkir di mini market serta restoran yang masih buka di tengah pandemic Covid-19 ini.

“Alhamdulillah… Saya bisa berbuka puasa tanpa perlu repot mencari rumah makan yang saat ini banyak yang tutup. Ini sekaligus meringankan saya dalam pengeluaran kebutuhan untuk hari ini,” ungkap Masdikun, pengendara ojek daring di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

“Semoga ini menjadi berkah bagi donator yang telah berbaik hati di bulan suci ini,” doa Sanusi, petugas parker mini market di Jalan Lenteng Agung Timur, Jakarta Selatan.

Di tengah pandemi korona ini memang telah melahirkan semangat berbagi untuk sesama di kalangan masyarakat kita. Kepedulian berbagai kalangan sedikit banyak telah meringankan beban hidup bagi mereka yang terkena dampak covuid-19.

Dia antara para donator tersebut ada yang mendonasikan dalam bentuk uang, makanan, sembako, masker, dan APD yang saat ini masih dibutuhkan. ICRP sendiri selain membuka posko ICRP Peduli juga dipercaya oleh mitra jaringan lintas iman sebagai secretariat JIC (Jaringan Lintas Iman Tanggap Bencana Covid-19).

ICRP Peduli Salurkan Bantuan 300 Paket dari Foodcycle

[dropcap]D[/dropcap]alam rentang sepekan antara 25 April hingga 3 Mei 2020 ICRP Peduli telah menyalurkan
bantuan sembako sebanyak 300 paket. Bantuan tersebut berasal dari Foodcycle organisasi
nirlaba yang berkantor di Jl. KH. Ahmad Dahlan, Matraman, Kota Jakarta Timur.
Penyaluran bantuan tersebut tersebar di daerah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Bekasi, dan
Bogor. Para penerima bantuan adalah meraka yang terkena dampak Covid-19, antara lain
pekerja terkena PHK, janda miskin, pengendara ojek online, ojek pangkalan dan kalangan
kurang mampu lainnya.

“Kita prioritaskan ke lingkungan terdekat di mana kita tinggal,” kata Ahmad Nurcholish,
deputy direktur ICRP. Ia menjelaskan bahwa staf dan relawan ICRP tinggal tersebar di
berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Maka, menurutnya, orang-orang terdampak
korona di sekitar tempat tinggal itulah yang harus menerima terlebih dulu.

“Ya, ini dalam rangka bahwa keberadaan kita (para staf dan relawan) memberaikan manfaat
bagi warga yang membutuhkan bantuan di sekitar kita,” terang Pdt. Frangky, direktur ICRP
yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Foodcycle sendiri semasa pandemic korona ini konsentrasi memberikan bantuan kepada
mereka komunitas marjinal yang terdampak Covid-19. Paket bantuan yang mereka berikan
berupa beras, telor, kecap, minyak goreng, mentega, dan penyedap masakan.

Untuk periode berikutnya Foodcycle melalui ICRP Peduli akan Kembali menyalurkan
bantuan sembako sebanyak 700 paket. “Rencanya dalam rentang 6 hingga 11 Mei 2020
ini,”tutur Artika Kristanti, relawan posko ICRP Peduli. [kh]