Pos

Foto lansekap Ibu Kota dengan latar depan Tugu Monas, Jakarta Pusat, Selasa (14/11). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan akan mengubah pergub terkait larangan kegiatan keagamaan di Monas. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Anis Baswedan Buka Kembali Monas untuk Kegiatan Agama

Jakarta, ICRP – Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, membuka kembali pemanfaatan Monumen Nasional untuk kegiatan keagamaan. Tidak tanggung-tanggung, Pemprov DKI Jakarta akan melaksanakan kegiatan tausiyah pada 26 November mendatang. Tausiyah tersebut bertujuan untuk memperingati hari pahlawan.

 

“Dengan mengadakan tausiyah kebangsaan, insya Allah dilakukan Minggu malam di Monas. Kita menggundang seluruh warga Jakarta hadir,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Bukit Duri, Jakarta Selatan, Minggu (19/11/2017).

 

Anis Baswedan menegaskan bahwa tausiyah ini sekaligus menandai dibukanya kembali Monas, untuk kegiatan-kegiatan lengkap. Termasuk kegiatan kebudayaan dan kegiatan keagamaan juga.

 

“Insya Allah akan menjadikan Monas salah satu tempat di mana warga merasakan kebersamaan di tempat luas. Juga akan ada parade marching band,” ucap Anies.

 

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat menjabat Gubernur DKI Jakarta hanya mengizinkan Monas untuk kegiatan netral, seperti upacara sesuai dengan SOP Pemanfaatan Area Monas Nomor 08 tahun 2015.

 

Monas hanya untuk agenda kenegaraan juga sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor 150 Tahun 1994 tentang Penataan Penyelenggaraan Reklame di Kawasan Taman Medan Merdeka (Monumen Nasional) serta SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 14 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Reklame Dalam Bentuk Baliho, Umbul-Umbul, dan Spanduk di DKI Jakarta.

 

Menurut Anies, tak ada perubahan SK Gubernur terkait dibolehkannya Monas untuk kegiatan non-kenegaraan.

 

“Tidak ada (pencabutan SK), cuma penambahan saja. Kemarin hanya digunakan acara kenegaraan dan lain-lain, kalau sekarang boleh ditambahkan acara kebudayaan, pendidikan dan keagamaan,” tegas dia.

Focus Group Discussion antar pemuda lintas agama di Jakarta, 17 September 2016. (Ist) Sumber: sesawi.net

[:id]Ratusan Pemuda Lintas Agama Berkomitmen Menjaga Keberagaman[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang dan organisasi di Jakarta menyepakati untuk merayakan keberagaman dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut disampaikan saat mereka mengikuti Focus Group Discussion  bertema “Celebrating Diversity of Peace : Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila” di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen MPR,DPR, dan DPD RI Jakarta.

Kegiatan ini dimanfaatkan oleh kaum muda lintas agama untuk berbagi ide dan dialog mengenai peran pemuda dalam membangun perdamaian dan toleransi di Indonesia. FGD ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya: Yudi Latif, Alisa Wahid, Banthe Dhammakaro, Pdt. Manuel E . Raitung, dan Franz Magnis-Suseno SJ.

Sementara, untuk sesi kedua narasumbernya adalah: Ketua Lakspesdam NU Dr.Rumadi, Ketua Matakin Js. Liem Liliany Lontoh, Wayan Sudane dari PHDI DKI Jakarta, dan Romo Benny Susetyo.

Tanda kenangan untuk para sumber di Focus Group Discussion kelompok pemuda lintas agama di Jakarta. (ist) Sumber: sesawi.net

Tanda kenangan untuk para sumber di Focus Group Discussion kelompok pemuda lintas agama di Jakarta. (ist) Sumber: sesawi.net

Ketua Pelaksana, Bondan Wicaksono menyatakan kegiatan dialog seperti ini perlu dilaksanakan untuk membangun perdamaian dan toleransi bangsa. Dia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan bersama lebih banyak lagi komunitas yang berpartisipasi di berbagai macam kesempatan.

“Budaya dialog perlu terus dihidupkan untuk membangun persaudaraan yang inklusif untuk membangun bangsa yang lebih humanis dan damai,”ungkap Bondan.

Berikut ini Petikan Komitmen Bersama Orang Muda Lintas Agama

  1. Menggugah dan mengingatkan orang muda Indonesia tentang pentingnya budaya dialog antar umat dari berbagai latar belakang agama dan tradisi budaya agar tercipta budaya damai, toleran dan saling memahami antar umat, sebagai aktualisasi kasih kepada Tuhan Allah dan sesama sesuai dengan ajaran kasih dari agama dan keyakinan masing-masing.
  2. Agar peran kerukunan antar agama dapat menjadi suatu forum untuk saling tukar informasi diantara umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama guna mendapatkan pemahaman yang lengkap dan mencari common world agar tercipta budaya toleransi dan saling memahami satu sama lain.
  3. Menyebarluaskan budaya damai dan toleran sampai di tingkat akar rumput secara bersama-sama oleh tokoh lintas agama dan memperteguh pelayanan kasih dalam sesama umat beriman.
  4. Memfasilitasinya orang muda dari berbagai agama untuk saling mengenal perbedaan agama dan memahami nilai-nilai pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Membentuk komunitas orang muda lintas agama yang mempunyai visi keterbukaan, toleran dan mengedepankan dialog untuk mewujudkan perdamaian.
  6. Memunculkan para orang muda sebagai lokomotif perdamaian berbakat yang concern terhadap isu-isu kerukunan dan perdamaian.

[:]

[:id]Menegakkan Kota HAM[:]

[:id]

Sahabat-sahabat, bila anda beragama, khususnya yang seiman, umat Islam, ayo bernalar. Pakailah fungsi akal itu. Lebih-lebih bila membaca al-Qur’an dan Hadis. Keduanya hadir dari Yang Maha Berakal dan Maha Baik. Sumber kebaikan dan kemaslahatan.

Salah satu Hadis yang perlu disikapi dengan akal adalah “man tasyabbaha biqaumin…”. Siapa-siapa (muslim) yang menyerupai dengan orang lain (kafir), maka ia bagian darinya. Lha, bagaimana bila yang lain itu membawa kebaikan dan kebermaknaan bagi kehidupan, kedamaian dan kesejahteraan?

Begini, belakangan ini riset-riset lembaga kredibel model Wahid Institute, Maarif Institute dan Setara Institute merilis betapa perilaku keagamaan umat memiriskan nurani. Sebagai pegiat damai, relasi positif antaragama,saya berduka mendalam. Umat Rasulullah kok jadi duri dan batu sandung kemanusiaan? Dari alam ruh, Rasulullah pasti sedih. Kok umatku….?!

Bagiku, Rasulullah sudah mencanangkan Madinah sebagai the human rights cities sejak abad ke-7. Tapi sedihnya, kota-kota non-Islam justru sukses mengadopsi inisiasi Rasul itu.

Selandia Baru jadi negara paling Islami. Gwangzu jadi role model kota HAM. Masihkah kita tak mau mengambil inspirasi dari non muslim karena hadis di atas?

Apa sih Kota HAM itu? Ia kota yang mempromosikan penghormatan dan pemenuhan hak-hak warga. Nilai-nilai kemanusiaan jadi standar perilaku sesama. Kota yang berjuang anti rasisme dan diskriminasi. HAM jadi barometer kebijakan negara kepada warga dan sesama warga.

Seoul di Korsel jadi model terbaik. Apanya? wali kotanya memancangkan “Seoul Sharing City”. Partisipasi warga didorong keras. Sharing pengalaman,ketrampilan, lahan parkir, konsumsi bagi kaum miskin dan terlantar, bisnis sharing, gedung pemerintah digunakan untuk kegiatan warga, pelayanan publik ditingkatkan, santunan difable, gerakan bersih-bersih sampah, dan berbagai inovasi sosial.

Kota HAM berjuang untuk menjadikan prinsip dasar: respect dan fullfiil HAM bagi semua warga. Tidak ada perda dan perbup yang diskriminatif-rasis. Hukum sebagai tiang dan pagar-pagar pengaman dan penyadar tegak secara adil dan kuat. Semua warga, siapapun dan apapun backgroundnya diperlakukan setara dan adil. Itulah Kota HAM.

Ditulis oleh Mohammad Monib, Direktur ICRP

[:]

Dua orang melepas bendera di lokasi permukiman eks Gafatar, ribuan massa membakar permukiman eks Gafatar, Selasa (19/01/16). Sumber: Republika

[:id]Soal Gafatar, Bukti Pemerintah Tidak Mengerti Has Asasi Warganya[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Sekitar  10 rumah milik warga eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Desa Moton, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa sore (19/01/16), di bakar oleh ribuan warga. Massa membakar rumah yang dihuni sekitar 700 anggota Gafatar.

Warga eks Gafatar kemudian dievakuasi oleh Pemda setempat dan dipaksa dipulangkan ke daerah asal mereka masing-masing. Dari catatan Pemkab Mempawah, warga pengikut Gafatar tersebut berjumlah sekitar 749 orang. mereka telah datang sejak 6 bulan lalu. Adapun kegiatan warga eks Gafatar ini adalah bercocok tanam.

Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Musdah Mulia, menilai tindakan evakuasi dan pemulangan warga eks Gafatar ini merupakan salah satu bentuk sikap pemerintah yang tidak mengerti hak asasi warganya.

“Mestinya, pemerintah menangkap dulu semua pelaku anarkis yang berani mengusir warga lain yang juga adalah WNI dari wilayah Indonesia” tegasnya.

Lanjut Musdah, tak satu pun WNI boleh diusir dari negeri ini kecuali jika mereka melakukan makar secara terbuka. Itu pun hanya dapat dilakukan oleh pihak berwenang. Warga tidak berhak main hakim sendiri, hal tersebut merupakan melanggar hukum dan Konstitusi.

“Pelanggaran HAM terhadap kelompok Gafatar menjadi preseden buruk bagi kelompok lain untuk melakukan anarkis. Mestinya, kelompok anarkis itu dulu yang ditangkap dan diadili sehingga terungkap motivasi mereka melakukan tindakan anarkis. Setelah itu, giliran Gafatar diadili sehingga terungkap secara jelas apa visi dan misi, serta tindakan mereka yang dianggap melanggar hukum” ungkapnya.

Selain itu, Musdah menegaskan, pemerintah harus memberikan informasi yang jelas terkait Gafatar. Mengapa mereka disebut organisasi terlarang dan apa kriteria pemerintah dalam mengategorikan itu.

“Semua harus jelas! Kita tidak boleh membiarkan siapa pun mengalami ketidakadilan hanya karena mereka berbeda” pungkasnya.[:]

[:id]Ancol Siap Meriahkan Imlek dengan 1.500 Lampion[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Wahana wisata Taman Impian Jaya Ancol akan menyiapkan hiburan khusus untuk menyambut tahun baru Imlek 2567. Semarak perayaan tahun baru Imlek 2567 di Ancol akan dimeriahkan pesta barongsai dan pelepasan ribuan lampion di Pantai Lagoon, Ancol, pada Senin, 8 Februari 2016, malam.

“Kami menyediakan 1.500 lampion yang akan diterbangkan oleh para pengunjung,” kata Juru bicara PT Pembangunan Jaya Ancol Rika Lestari, saat jumpa pers di Ancol, Jakarta, Rabu, 3 Februari 2016.

Pihak Jaya Ancol menyatakan ingin memberikan kesan khas tersendiri untuk menyambut Imlek. Pelepasan lampion tersebut juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi semua pengunjung.

Selain itu, kawasan sekitar Ancol akan dihiasi dekorasi-dekorasi yang menarik dan unik. “Harapan kami, acara yang disajikan mampu melebihi ekspektasi pengunjung, baik bagi mereka yang merayakan Imlek maupun yang datang untuk menikmati berbagai hiburan menarik di Ancol,” ujarnya.

Pihak Ancol menargetkan 80 ribu kunjungan untuk Imlek tahun ini. Menurut Rika, dari target kunjungan tersebut, akan didominasi oleh pengunjung dari wilayah Jabodetabek. “Kami sudah menyiapkan semuanya untuk perayaan Imlek ke-2567 ini,” ucapnya.

Dalam agenda jumpa pers tersebut, PT Pembangunan Jaya Ancol menampilkan kesenian khas Imlek barongsai dan liong sebagai simulasi untuk perayaan Imlek tahun ini. Penampilan tersebut melibatkan sembilan orang pemain dan menjadi tontonan menarik bagi para pengunjung Ancol.(tempo)[:]

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

[:id]Youth Interfaith Forum Perkuat Kerja Sama Pemuda Damai[:]

[:id]

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

Jakarta, ICRP – Mengakhiri tahun 2015, Search for Common Ground (SFCG) menginisiasi pertemuan Youth Interfaith Forum, Kamis (17/12/15) di Jakarta. Pertemuan 70 pemuda lintas agama dari berbagai daerah ini bertujuan untuk membendung arus intoleransi yang semakin merajalela dan memperkuat kerja sama pemuda dalam gerakan perdamaian.

 Youth Interfaith Forum merupakan ajang berkumpul para pemuda lintas iman dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka telah melakukan kegiatan-kegiatan konkret untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih toleran dan damai. Beberapa di antaranya adalah pemuda alumni program peace leader dari Madura, Jember, Jakarta, dan Banten yang telah digagas SFCG beberapa tahun belakangan ini. Selain itu, hadir pula organisasi kepemudaan dan organisasi perdamaian seperti Gusdurian, Wahid Institute, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), P3M, Aktifis Ponpes Asshidiqiyah, STFI Sadra, AMS, Pandu ABI, PGI, GMKI,PMII,IMM, FORPELA, dll.

Youth Interfaith Forum ini diisi dengan kegiatan diskusi seputar kondisi keberagaman masyarakat, strategi menyampaikan nilai-nilai perdamaian, serta tidak kalah pentingnya adalah berbagi pengalaman kegiatan-kegiatan komunitas pemuda yang telah dilakukan di berbagai daerah. Adapun, pembicara diskusi dalam kesempatan tersebut adalah Anggita Paramesti (SFCG), Alamsyah M Djafar (The Wahid Institute), dan Savic Ali (Pegiat Media).

Youth Interfaith Forum. Sumber: Islamiyahnews.com

Youth Interfaith Forum. Sumber: Islamiyahnews.com

Project Officer SFCG, Anggita Paramesti dalam kesempatan tersebut menegaskan sebagai generasi muda penting untuk menjaga dialog antar iman di Indonesia. Pasalnya, dialog merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menciptakan perdamaian di tengah masyarakat.

Sementara itu, Project Officer The Wahid Institute, Alamsyah M Dja’far mengemukakan saat ini tidak sedikit pemuda yang menunjukkan sikap intoleran. Pesan-pesan intoleran begitu masif melalui berbagai media terutama media sosial. Hal ini, menurut Alamsyah, merupakan tantangan dan ancaman bagi NKRI. Oleh sebab itu, pihaknya berharap pemuda-pemuda yang mempunyai perhatian terhadap perdamaian semestinya lebih semangat menyebarkan pesan perdamaian melalui cara-cara yang lebih kreatif.

Hal senada disampaikan oleh pegiat media, Savic Ali. Menurutnya peran media dalam membentuk karakter dan sikap keberagaman masyarakat sangat dominan. Bahkan, menurutnya, media sering dijadikan sebagai rujukan dalam beribadah dan beragama. Sayangnya, media intoleran yang sering menyebarkan ide-ide radikalisme, perpecahan dan permusuhan saat ini lebih mendominasi dunia maya. Sementara media damai semakin ditinggalkan masyarakat.

Savic berpesan, pemuda yang peduli terhadap kondisi keberagaman dan perdamaian masyarakat seharusnya tidak lupa untuk mempromosikan juga di dunia maya. Sebarkan ide-ide perdamaian melalui berbagai cara yang bisa dimanfaatkan. [MM][:]

Pertemuan 11 Sekolah agama di ICRP, Jumat 27 November 2015. Menjadi mediator dan fasilitator dalam peace building. narasumber: Alamsyah M Dja'far (The Wahid Institute) dan Pdt. Didik Christian Adi Cahyono.

[:id]Sekolah Agama, Menjadi Mediator dan Fasilitator dalam Peacebuilding[:]

[:id]

Pertemuan 11 Sekolah agama di ICRP, Jumat 27 November 2015. Menjadi mediator dan fasilitator dalam peace building. narasumber: Alamsyah M Dja'far (The Wahid Institute) dan Pdt. Didik Christian Adi Cahyono.

Pertemuan 11 Sekolah agama di ICRP, Jumat 27 November 2015. Menjadi mediator dan fasilitator dalam peace building. narasumber: Alamsyah M Dja’far (The Wahid Institute) dan Pdt. Didik Christian Adi Cahyono.

[:]

deklarasi damai agnes mo

[:id]Ini Isi Deklarasi Damai yang Dibacakan Agnes Mo[:]

[:id]Jakarta, ICRP – memperingati Hari Perdamaian Internasional penyanyi Agnes Mo, Minggu (20/9/2015) mendeklarasikan sebuah gerakan perdamaian, di Balai Kota Jakarta. Deklarasi ini dibacakan bersama dengan istri Almarhum Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid, dan ribuan orang komunitas #BeraniDamai.

Bagi Agnes, gerakan perdamaian ini adalah komitmen untuk mengambil peran perubahan menuju perdamaian. Komitmen ini merupakan langkah kecil untuk memutus rantai kekerasan dan keinginan masyarakat untuk menjadi yang lebih baik.

“Ini adalah prestasi terbesar dalam hidup saya: dapat menggunakan diri saya untuk berbagi nilai-nilai yang paling saya percaya, kasih dan saling memaafkan. Saya sungguh merasa terhormat melihat gerakan I #AMgenerationOfLOVE yang saya mulai dan Janji Kasih yang saya tulis menjadi naskah Deklarasi Gerakan Perdamaian.” Tegas pelantun lagu “matahari” tersebut.

Tanggapan publik sehari kemarin terlihat luar biasa. Kampanye dengan hasta #AMgenerationOfLOVE dan #BeraniDamai menduduki trending topic di berbagai media sosial.

Berikut adalah sumpah kasih atau Oath of Love berjudul I am Generation of Love oleh Agnez Mo:

I am love. I am generation of love.

I dont hate.

I dont gloat over my brother in the day of his misfortune.

I dont take pleasure in seeing peoples trouble.

I am generation of love.

I love. I forgive.

Hatred is my enemy.

Love is my bullet.

 

I will change the world

and the change starts within me.[:]

international peace day at Jakarta. sumber: tim panitia International Peace Day 2015

[:id]Agnes Mo Meriahkan Peringatan Hari Perdamaian Dunia di Balaikota Jakarta[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Setelah sukses pada tahun 2014 lalu, kini the Wahid Institute kembali merayakan peringatan Hari Perdamaian Internasional bersama penyanyi Agnes Mo dan ribuan masyarakat di Balai kota Jakarta, Minggu (20/9/2015). Turut hadir pula beberapa pejabat pemerintahan seperti Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli, Ketua DPD RI, Irman Gusman, dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Menurut Direktur the Wahid Institute Yenny Wahid, pesan perdamaian ini harus terus disuarakan dan harus berani menyuarakannya dengan cara-cara yang kreatif. “Musuh utama kita adalah rasa takut, apatisme, dan cuek. Padahal, ini adalah masalah kita semua,” kata penerima Young Global Leader dari World Economic Forum itu.

Acara ini dimeriahkan rangkaian aksi dan hiburan dari beragam komunitas. Dari peluncuran Spanduk besar #BeraniDamai, pertunjukan barongsai, atraksi tari Komunitas 5 Gunung, pembacaan Mimpi Anak Indonesia, pertunjukan musik Koto, lomba menggambar anak, flash mob dan Pentas Musik Damai Nusantara.

Puncak acara ditutup pembacaan deklarasi Indonesia #BeraniDamai yang dipimpin Yenny Wahid, Agnes Monica –beken dipanggil AGNeZ MO—dan perwakilan komunitas. Selain Agnes ada, sejumlah musisi yang bakal terlibat diantaranya Indra Prasta vokalis The Rain, Tic Band, Gusdurian Band, dan beberapa musisi lain.

Hari Perdamaian Internasional diperingati setiap tanggal 21 September. Peringatan ini didedikasikan untuk memperkuat perdamaian dunia. Ditetapkan sejak 1981 lewat resolusi Dewan PBB 36/67 dan pertama kali dirayakan pada September 1982. Seluruh negara dan masyarakat dunia diharapkan memperingati hari ini sebagai satu hari tanpa peperangan dan tanpa kekerasan. Satu hari bagi Perdamaian, atau Peace One Day.[:]