Pos

Kajian Islam Salam #5: Islam Agama Cinta Lingkungan

Kajian Salam kali ini mengambil tema yang unik, yaitu tentang Islam sebagai Agama Cinta Lingkungan. Tema ini masih jarang dibahas di berbagai pengajian dan kegiatan keislaman. Karena itu, tidak heran jika perilaku umat Islam terkait upaya kelestarian alam dan kesehatan lingkungan sangat jauh dari ideal sebagaimana diamanatkan dalam Qur’an dan Sunnah Rasul.

Islam adalah agama yang vokal bicara tentang pentingnya kelestarian alam dan kesehatan lingkungan. Salah satu konsep Islam dalam pemanfaatan alam adalah had al-kifayah (standar kebutuhan yang layak). Artinya, dalam memanfaatkan alam manusia perlu menggunakan standar kelayakan, yakni gunakanlah sekedar kebutuhan yang layak. Jangan memanfaatkan alam di luar standar yang digariskan. Sebab, itu bermakna mengeksploitasi atau menzalimi alam.

Kecenderungan global yang merupakan kegelisahan manusia antara lain karena modernisasi adalah sebagai berikut:1) industrialisasi yang semakin cepat, 2) pertumbuhan penduduk semakin padat, 3) kekurangan gizi yang semakin parah, 4) sumber daya alam semakin terbatas dan tidak bisa diperbaharui, serta 5) lingkungan hidup yang semakin rusak.

Eksploitasi manusia terhadap lingkungan disebabkan oleh tiga faktor: populasi, konsumsi dan teknologi. Akibat dari perbuatan mengeksploitasi alam akan timbul bencana berupa tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, meningkatnya suhu panas bumi, melelehnya es di kutub sehingga volume air laut meninggi drastis. Semua itu akan berdampak sangat buruk bagi kehidupan manusia di planet bumi ini. Bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan yang akan merasakan dampaknya, melainkan orang lain yang tidak bersalah juga terkena dampaknya.

Upaya menjaga kelestarian alam sudah diingatkan sejak masa Rasul. Setidaknya, Rasul melakukan tiga upaya konkret sebagai berikut. Pertama, beliau misalnya tercatat melakukan upaya penetapan daerah konservasi dengan menjadikan wilayah Naqi’ sebagai daerah konservasi. Kebijakan Nabi juga diikuti khalifah Umar dengan menjadikan Saraf dan Rabazah sebagai daerah konservasi.

Kedua, upaya lain yang dilakukan Rasul adalah mendorong umatnya untuk rajin menanam pohon. Mengapa perlu menanam pohon?  Paling tidak ada dua pertimbangan. Pertama, pertimbangan manfaat seperti dinayatakan dalam QS. ‘Abasa, 80:24-32. Kedua, pertimbangan keindahan seperti disebut dalam QS, al-Naml, 27:60.

Ketiga, terakhir tapi tidak kurang pentingnya adalah melarang umatnya melakukan pencemaran lingkungan. Hadis Rasul yang terkenal soal ini, antara lain berbunyi: “Takutlah tiga hal yang menimbulkan laknat Tuhan, yaitu buang air besar di saluran air (sumber air), di tengah jalan dan di tempat teduh (HR. Abu Daud).

Qur’an dan Sunnah Rasul memuat sejumlah pedoman pemeliharaan lingkungan yang dapat dipolakan pada tiga hal: Pedoman pemeliharaan lingkungan (al-A’raf 55, Baqarah 205, Rum 41, Qashas 77, Saba, 27-28). Pedoman pemanfaatan lingkungan (al-Baqarah, 22, al-Nahl, 11, al-Anbiyaa, 30), dan Pedoman pencegahan bencana lingkungan (al-Baqarah, 11-12-195 dan Ali Imran 190-191).

Apa yang harus kita  lakukan? Mulai sekarang dan dimulai dari diri sendiri lakukanlah hal-hal berikut:

Pertama, belilah dan gunakanlah barang-barang dan jasa yang ramah lingkungan. Kedua, berlaku hematlah dalam segala hal, terutama terkait penggunan air bersih dan energi. Ketiga, pilihlah transportasi yang rendah emisi gas. Keempat, jangan menggunakan gelas, botol dan kantong plastik. Plastik sangat berbahaya bagi planet ini karena plastik tidak dapat mengalami biodegradasi, sulit untuk hancur dan merusak lingkungan. Kelima,  gunakanlah produk organik. Makanan organik bebas dari pestisida, pupuk kimia, dan tidak mengandung organisme transgenik dan seterusnya. Keenam, buanglah sampah pada tempatnya dan biasakanlah memilah-milah sampah sebelum dibuang. Ketujuh, biasakanlah pola hidup sehat bersih dan peduli pada kelestarian alam.  Ketahuilah, perilaku kita hari ini sangat menentukan masa depan nasib anak-anak kita. Berpikirlan untuk menyelamatkan sesama. Sebab, itulah inti kesalehan dalam beragama.

Musdah Mulia: Jangan Pernah Diam !

Saya sangat mengapresiasi kerja Institusi Kepolisian yang berhasil membekuk operasi teroris di Mako Brimob. Terimakasih polisi, keamanan negara dan bangsa amatlah penting. Ini adalah pelajaran penting bagi polisi agar tidak meremehkan teroris, mereka adalah penjahat luar biasa yang juga harus dihadapi dengan kekuatan ekstra.

Saya juga dengan tulus mendoakan agar para polisi yang gugur dalam tugas mendapatkan kehormatan mati syahid serta mendapatkan pahala yang setimpal dari Maha Pencipta. Demikian pula agar keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan dan juga perlindungan dari negara.

Terorisme umumnya lahir dari gerakan radikalisme, termasuk radikalisme agama. Gerakan radikalisme agama bukan hanya dijumpai dalam Islam, melainkan ada pada semua agama, hanya saja yang mengemuka di Indonesia adalah radikalisme Islam.

Radikalisme Islam tidak lahir begitu saja. Ada konteks yang melaratbelakangi dan tidak melulu disebabkan oleh satu faktor. Sejumlah faktor ikut mempengaruhi. Dimensi politik, sosial, dan ekonomi telah menjadi konteks yang signifikan dalam membaca gerakan radikalisme Islam di Indonesia.

Perubahan politik yang berimplikasi pada kebebasan berekpresi, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan perubahan tata nilai masyarakat menjadi salah satu penyebab lahirnya radikalisme, kemudian ditopang oleh cara pandang keagamaan yang sangat tekstualis dan skripturalistik. Pemahaman keislaman yang sangat dangkal, sempit dan fanatik melahirkan perilaku radikal yang selanjutnya berpotensi melahirkan aksi-aksi teror.

Sebagai warga bangsa kita semua hendaknya jangan diam, dan jangan pernah membiarkan semua bentuk perilaku intoleran, persekusi, bullying dan ujaran kebencian merajalela di tengah-tengah masyarakat. Mari bersatu, lawan semua perilaku intoleran tersebut, termasuk pemaksaan, penghinaan, kebencian, permusuhan untuk alasan apa pun. Tentu saja kita melawan semua kebatilan dan kekejian tersebut dengan cara-cara yang santun dan damai.

Aksi tolak radikalisme dan terorisme. Sumber: liputan6.com

[:id]Radikalisme Bukan Soal Agama, Melainkan Politik[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As’ad Said Ali, menilai gerakan radikalisme muncul bukan disebabkan oleh masalah agama melainkan karena masalah politik. Gerakan radikalisme di Islam pun terjadi karena persoalan perselisihan politik.

“Radikalisme itu terkait politik, bukan terkait agama,” kata Asad dalam acara peluncuran buku berjudul Deradikalisasi karya AS Hikam di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (12/2/2016).

Dalam kesempatan tersebut, As’ad menceritakan sejarah munculnya radikalisme di Islam.  Saat itu, Sayyidina Ali terlibat konflik dengan sebuah kelompok bernama Khawarij. Kelompok tersebut mengatasnamakan agama dalam melakukan pemberontakan, padahal ada motif politik dan kekuasaan.

“Jadi masalahnya politik, bukan agama, hanya yang dipakai adalah dalil masalah agama,” ujar Asad.

Begitu juga dengan konteks radikalisme dalam konteks di Indonesia, menurut pria yang pernah menjabat sebagai Sekjen PBNU ini, gerakan-gerakan radikal juga muncul karena masalah politik. Ketika Indonesia merdeka, terjadi perdebatan panjang mengenai dasar negara, apakah akan menggunakan ajaran Islam atau nasionalis. Karena aliran nasionalis yang terpilih sebagai dasar negara, mereka yang tidak terima pun berusaha untuk memberontak.

“Yang memberontak kan turunan mereka-mereka itu juga. Itu kan politik namanya. Pesantren, NU, enggak ada yang begitu karena kita dukung negara pancasila,” ucap Asad.[:]

Sumber: rakyatku.com

[:id]Tetap Akur Meski Beda Agama[:]

[:id]MAKASSAR – Agama dan keyakinan pada dasarnya adalah hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya. Tapi, di Indonesia, hal prinsip tersebut sering kali dijadikan bahasan bahkan bisa menjadi masalah oleh manusia di sekelilingnya. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah banyaknya gunjingan masyarakat sekitar ketika mengetahui ada pasangan yang menikah beda agama.

Pengalaman itulah yang terjadi pada pasangan Bro Nusa Wibawa dengan istrinya Binti Wibawa. Berawal dari SMS seorang teman kepada istrinya yang muslim tentang apakah sang istri masih memeluk agama Islam, Nusa Wibawa yang beragama Hindu menulis klarifikasi sekaligus kisah harmonisnya Ia bersama istrinya tersebut di akun Facebook pribadinya, Jumat (29/1/2016).

“Saya hanya ingin menegaskan bahwa istri saya seorang muslimah, dan sangat muslim, bahkan dia lebih muslim daripada sebelumnya,” tegas Nusa terkait pertanyaan teman istrinya.

Nusa menekankan bahwa dirinya sama sekali tidak mau memaksa istrinya untuk mengikuti keyakinannya meski istrinya akan patuh jika Ia menyuruh istrinya berganti keyakinan.

“Pernah suatu ketika istriku bertanya kepada saya, “Bli, kenapa Bli tidak pernah memintaku untuk masuk Hindu, bukankah Bli adalah kepala keluarga, dan seorang istri harus mengikuti agama suami? Aku gak keberatan kok kalo harus mengikuti keyakinan Bli,” tulisnya.

Tapi bagi Nusa, dirinya beranggapan bahwa agama itu bukan lagi masalah keyakinan atau kepercayaan, tapi masalah kecocokan dan kenyamanan saja. Meski begitu, Ia mengatakan bahwa dia yakin pada semua agama dan Ia pun merasa nyaman dan cocok dengan apa yang sudah diajarkan oleh leluhurnya.

“Buat saya beragama bukan lagi kebutuhan spiritual, namun kebutuhan bermasyarakat dimana kita bisa memiliki tempat pergaulan yang positif. jalan spiritual itu bersifat pribadi, dan setiap orang memiliki jalan yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya walaupun agama dan keyakinannya sama,” lanjut Nusa dalam tulisan yang sudah di Like 435 kali dan dibagikan oleh 65 pengguna.

Sebagai contoh harmonis dan romantisnya hubungan cinta mereka, Nusa tidak pernah keberatan ketika diminta menemani istrinya pergi ke masjid, entah itu hanya untuk shalat ataupun mengantarkan zakat. Begitu juga dengan sang istri, dia tidak pernah merasa terpaksa ataupun merasa telah mengkhianati agamanya ketika pergi ke Pura untuk mengikuti upacara agama ataupun upacara adat. Bahkan setiap bulan purnama istrinya mengingatkan Nusa untuk pergi ke pura. Tak jarang pula dirinya ingin diajak meditasi bersama tiap malam.

“Ketika kita bisa hidup harmonis dengan siapa saja dan lingkungan dimana kita berada, itu sudah menunjukkan bahwa kita sudah beragama yang benar,” tutupnya dalam status tersebut.

Sumber: Rakyatku.com[:]

Forum Kerukunan Pemuda Indonesia mengadakan tabur bunga dan menyalakan lilin di lokasi ledakan bom di Sarinah. Sumber: jpnn

[:id]Pemuda Lintas Iman Kecam Radikalisme dan Terorisme[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Sekumpulan pemuda lintas iman yang tergabung dalam Forum Kerukunan Pemuda Indonesia (FKPI) mengecam tindakan radikalisme dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Secara khusus mereka mengutuk tindakan terorisme yang  terjadi di Thamrin Jakarta Kamis (14/1) lalu.

Mereka  melakukan aksi tabur bunga dan menyalahkan lilin di lokasi kejadian bom dan teror di pos polisi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (23/1) malam.

Ketua Umum GAMKI Michael Wattimena saat memberikan orasinya menyatakan bahwa tragedi bom di jantung ibukota DKI Jakarta menjadi perhatian masyarakat Indonesia dan dunia. Insiden ini tidak boleh terulang lagi.

“Kami mengutuk keras segala bentuk aksi radikalisme dan terorisme atas nama agama dan aliran agama manapun di Tanah Air,” tegas politisi Partai Demokrat asal Papua Barat ini.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Komisi V DPR RI ini juga meminta pemerintah dan pihak keamanan yakni Polri dibantu TNI untuk menindak tegas pelaku teror yang sudah meresahkan masyarakat. Di sisi lain, ia juga meminta pihak keamanan untuk memberikan rasa aman dari aksi teror dan bom.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis FKPI juga meminta pemerintah agar menindak tegas dan menutup aliran dana penyumbang aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia, dan juga menutup atau memblokir situs media massa yang mengarah kepada penggilingan terhadap aksi radikalisme dan teror.

“Kita juga meminta seluruh pemuda lintas agama untuk bersatu padu menjadi garda terdepan dalam mencegah aksi radikalisme dan terorisme,” katanya.

Organisasi kepemudaan lintas iman ini terdiri dari Gerakan Pemuda Ansor, Pemuda Muhamadiyah, Gerakan Pemuda Kristen Indonesia (GAMKI), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Konghucu, dan Pemuda Peradah Indonesia. (jpnn/ucanews)[:]

[:id]Terorisme Menghancurkan Peradaban Islam[:]

[:id]ICRP, Yogyakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif menyatakan tindakan teroris telah memberikan citra buruk terhadap Islam. Teroris yang telah bertindak anarkis dengan mengatasnamakan Islam itu justru menghancurkan peradaban Islam. Teroris bukan menggambarkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

“Teroris tidak mempunyai hati dan perasaan. Mereka tega membunuh dan membantai sesama saudaranya,” kata Buya Syafii, Kamis, 29 Oktober 2015.

Syafii juga mengkritik ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang muncul di Suriah dan Irak. Mereka membabi buta menghantam sesama kelompoknya, yaitu Sunni. Menurut Buya Syafii—sapaan Syafii Maarif—orang-orang ISIS adalah Sunni, bukan Syiah, tapi mereka membunuh dan membantai orang-orang Sunni.

Kehadiran ISIS, kata dia, justru menjadi malapetaka bagi umat Islam. Jika ISIS menjadi idola anak-anak muda Indonesia, itu merupakan sebuah kesalahan fatal. Sebab, selain mengikuti organisasi yang sama sekali tidak mencerminkan Islam, juga akan mengancam stabilitas negara Republik Indonesia. Dengan demikian, ISIS harus diperangi bersama.

“Seorang muslim harus membersihkan pikiran dan hati jika ia ingin menjadi muslim yang baik,” ujarnya.

Dalam dialog dengan tema “Program Damai Dunia Maya” yang diselenggarakan di Jogja Expo Center ini, ia menambahkan, teroris menghancurkan peradaban Islam. Karena tindakan mereka, Islam menjadi sasaran kritik semua masyarakat. Bukan hanya masyarakat internasional, masyarakat Indonesia pun banyak yang menuduh. (Tempo)[:]

Ilustraasi Arab dan Islamic Studies. Sumber: http://socialsciences.exeter.ac.uk

[:id]Ragam Pendekatan Studi Islam (Bagian I)[:]

[:id]

Ahmad Nurcholish

Gelombang perhatian terhadap agama dewasa ini kian meningkat tajam. Agama yang dalam kacamata Barat, terutama bagi mereka yang menggunakan kerangka positivisme disetarakan dengan “mitos” dan karenanya diramalkan akan hilang dilibas zaman dan tenggelam dihempas kekuatan “ideology”dan “ilmu pengetahuan”, justru kini menunjukkan kekuatan dan peran strategisnya dalam ranah kehidupan.

Tak terkecuali agama Islam, yang sebelumnya ditengarai sebagai agama yang penuh mitos, doktrin keropos dan tidak tanggap terhadap dinamika zaman, nyatanya kini justru berkembang pesat, tidak hanya di Timur Tengah – tempat agama ini muncul pertama kali – tetapi juga di Asia, Amerika, bahkan Eropa. MaraknyaIslamic Studies di berbagai lembaga keagamaan dan Perguruan Tinggi di berbagai Negara di kawasan tersebut mengindikasikan hal itu.

Perhatian pada agama tidak hanya bersifat teologis, yakni dengan meningkatnya minat menjalani kehidupan yang diyakini berlandaskan ajaran suatu agama, yang kini dikenal dengan kebangkitan agama-agama. Bahkan tidak hanya bersifat lokal tetapi global, membentang dari Timur hingga Barat (Peter Connolly, ed., 2011: v).

Kebangkitan agama di sini tidak saja merujuk pada agama-agama besar, termasuk Islam, melainkan juga dialami oleh sekte-sekte spiritual, agama-agama kuno, dan berbagai macam singkretisme dan ekletisme keagamaan baru. Kesemuanya seolah mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang dengan beragama corak dan dinamikanya.

Realitas inilah yang pada gilirannya mendorong minat ilmiah terhadap agama. Beragam pendekatan untuk memahami agama pun tak lagi tunggal, misalnya semata teologis-normatif, tetapi telah meluas ke disiplin ilmu-ilmu humaniora lain. Agama – dalam pengertiannya yang potensial untuk meluas – telah menjadi subjek disiplin ilmu tersebut. Tentu ini membanggakan sekaligus memudahkan kita dalam memahami sebuah agama, termasuk Islam tentunya. Dengan berbagai pendekatan itulah memungkinkan kita memahami Islam bukan hanya sebagai ajaran doktrinal, tetapi mampu menalar dengan baik keberadaan dan ajarannya dan menangkap esensi atau subtansi di baliknya.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya akan mengajak Anda membahas beragam pendekatan dalam studi Islam, yakni pendekatan Teologis, Sosiologis, Antropologis, Historis, Filosofis  dan Tasawuf. Selain itu, kita akan membincang (kembali) hubungan manusia dan agama serta mengapa manusia seolah tak bisa lepas darinya. Sebagai pelengkap dari pemaparan yang serba singkat ini juga disajikan metodologi pemahaman Islam sebagai hal yang tak terpisahkan dari penggunaan beragam pendekatan yang ada.

Metode vs Metodologi

Dalam perbincangan antar-mahasiswa, kerap kita dengar pertanyaan apa sesungguhnya perbedaan antara metodologi dan metode. Menurut Dr. Muhyar Fanani (2010: ix-x), keduanya memang berbeda. Metodologi berasal dari tiga kata Yunani, meta, hetodos, dan logos. Meta berarti menuju, melalui, dan mengikuti.Hetodos artinya jalan atau cara. Maka kata methodos (metode) berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian, metode adalah langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi karena bersifat aplikatif.

Ketika metode digabungkan dengan kata logos, maka maknanya akan berubah. Logos berarti “setudi tentang” atau “teori tentang”. Oleh karenanya, metodologi tidak lagi sekadar kumpulan cara yang sudah diterima  (well received) tapi berupa kajian tentang metode. Dalam metodologi dibicarakan kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Singkatnya, bila dalam metode tidak ada perdebatan, refleksi, dan kajian atas kerja ilmu pengetahuan, sebaliknya dalam metodologi terbuka luas untuk itu. (Ibid)

Jika demikian, jika kita kaitkan dengan studi Islam, manakah yang benar, metodologi ataukah metode? Kedua-duanya menurut Muhyar, benar tergantung maksud dan tujuan penggunaan istilah itu. Istilah Metodologi Studi Islam (MSI) digunakan ketika seseorag ingin membahas kajian-kajian seputar ragam metode yang bisa digunakan dalam studi Islam. Ibarat akan pergi ke Surabaya berangkat dari Jakarta, MSI merupakan kajian atas cara-cara yang bisa digunakan agar seseorang bisa sampai Surabaya. Metode yang bisa digunakan tentu bisa naik sepeda motor, naik bus, atau naik pesawat terbang. Pembahasan seputar metode itu baik mencakup harga, kenyamaan, kecepatan, kelemahan, resiko maupun sejarahnya termasuk kajian metodologi.

Lantas apa pula perbedaan antara metode dan pendekatan (approach), yang juga kerap terlontar dalam perbincangan antar-mahasiswa. Perbedaan keduanya, menurut Muhyar, memang tipis. Metode merupakan cara mengerjakan sesuatu (a way of doing something). Sementara pendekatan adalah cara memperlakukan sesuatu (a way of dealing with something). Perbedaan keduanya hanya terletak pada perlakuan atas objek. Jika metode cenderung menganggap sebuah objek sebagai entitas pasif, sedangkan pendekatan cenderung menganggap sebuah objek sebagai sesuatu yang aktif. (Ibid., xxiii).

Dengan demikian, jika kita ingin mengkaji Islam dan menganggapnya sebagai sebuah entitas yang aktif dan dinamis, maka sesungguhnya kita sedang melakukan pendekatan atas Islam. Dalam tulisan ini tentu ingin memperlakukan Islam sebagai sebuah entitas yang aktif dan dinamis. Oleh karena itu mari kita dalami beragam pendekatan untuk memahami Islam secara mendalam dari berbagai sudut pandang.

Studi keagamaan, menurut Niniam Smart (2011: vii), membutuhkan tiga mode penggambaran dimensional (dimensional mode of representation). Dua aspek dimensional merepresentasikan agama-agama dan budaya-budaya yang berbeda secara vertical, dan berbagai pendekatan yang dibutuhkan untuk menginterprestasikan dan memahami agama dan budaya secara horizontal.

Oleh karena itu, kita bertemu denga Hinduisme, Taoisme, Kristen, Yahudi, dan juga Islam, termasuk pula agama-agama klasik Afrika, tradisi-tradisi Amerika asli, dan sebagainya.

Di samping itu, juga bersinggungan dengan dimensi sosiologis, antropologis, sejarah, filologi, sejarah seni, musikologi, dan studi-studi ritual lainnya. Untuk melengkapi kedua dimensi itu dan untuk menggambarkan perbandingan dan teori-teori agama berikutnya, menurut Niniam, kita membutuhkan dimensi lain. Akan tetapi, jaringan paling vital, menurutnya, adalah jaringan vertikal dan horizontal (Ibid., viii).

Disebabkan oleh karakter dimensional agama, timbul kebutuhan mengunakan beragam pendekatan bagi studi agama, termasuk agama Islam, seperti ilmu sosial dan humaniora (sejarah dan filologi). Maka menjadi penting untuk memahami beragam pendetakan yang dapat digunakan sebelum memahami agama, khususnya Islam yang diyakini oleh pemeluknya sebagai sebuah kebenaran wahyu dan sebagai fenomena sosial.

Dalam tulisan ini tidak semua pendekatan akan diuraikan, saya batasi hanya meliputi: pendekatan teologis, sosiologis, antropologis, historis, filosofis, dan tasawuf.

Pendekatan Teologis

Secara harfiah pendekatan teologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan mengunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiric dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibanding dengan yang lainnya (Abudin Nata, 2012: 28).  Dengan cara pandang ini, maka tersirat kecenderungan bahwa kebenaran teologis menjadi satu-satunya jalan yang harus digunakan oleh manusia.

Karena itu, Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis (Taufik Abdullah & M. Rusli Karim, 1990: 92).

Pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau symbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau symbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah atau sesat (Abudin Nata, 2012: 29).

Tidak hanya itu, bahkan dalam satu agama tetapi berbeda aliran atau madzhab pun ada keyanikan bahwa aliran atau madzhabnyalah yang paling valid atau benar. Dengan pola dan pemahaman serta keyakinan seperti ini maka tidak terbuka untuk melakukan dialog sebagai pintu untuk saling menghormati dan menghargai.

Oleh karena itu, menurut Amin Abdullah, pendekatan teologi semata-mata untuk memahami agama tidak akan mampu memecahkan masalah esensial pluralitas agama, khususnya sebagaimana saat ini. Apalagi jika terjadi campur aduknya doktrin teologi dengan historisitas institusi sosial kemasyarakatan yang menyertai dan mendukungnya akan menambah pelik persoalan yang dihadapi umat beragama (Ibid.)

Kepelikan ini bertambah parah dengan munculnya fatwa-fatwa keagamaan dari institusi agama yang dianggap otoritatif untuk mengeluarkan fatwa, yang alih-alih mendatangkan ketentraman di masyarakat, yang kerap terjadi adalah fatwa-fatwa tersebut dijadikan amunisi sekaligus justifikasi untuk mengintervensi, mendiskriminasi, bahkan diiringi dengan tindakan kekerasan yang merugikan banyak orang.

Tentu bukan berarti kita harus meninggalkan pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa pendekatan teologis, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan pelembagaannya (Ibid.: 132).  Namun, mengandalkan pendekatan teologis semata tentu saja tidak cukup. Karenanya perlu ada pendekatan lain guna mendapatkan pemahaman keagamaan yang komprehensip yang memungkinkan bagi kita, pemeluknya, tidak hanya melihat agama sebagai “lembaga” doktrin Ilahiyah, melainkan memahami agama dari berbagai aspek yang melingkupinya.

Dalam konteks studi Islam, maka pendekatan teologis yang hanya berbasis keyakinan bahwa Islam itu agama (paling) benar, berdasarkan wahyu Al-Qur’an, disampaikan oleh Nabi pilihan dan memiliki ritual ibadah yang sudah ditentukan waktu dan tata-caranya tidaklah cukup. Perlu pendekatan lain sehingga kebenaran Islam tidak hanya berhenti pada ranah keyakinan, tetapi mampu mengejawantahkan dalam praksis kehidupan. Al-Qur’an tak hanya dibaca sesering mungkin, tetapi mampu mengaplikasikan pesan-pesan moral, ajaran-ajarannya dengan baik sesuai dinamika zaman.

Dengan demikian, hanya mengandalkan pada pendekatan teologis semata maka akan menemukan problem krusial, dimana agama hanya akan terlihat sebagai kumpulan doktrin normative yang rigit, kaku dan terkadag nampak eksklusif. Karena itu dibutuhkan pendekatan lain guna memahami agama secara komprehensif. Bersambung… [ ]

Ahmad Nurcholish, santri program doctoral Studi Islam.

[:]

Ahmad Nurcholishs. Sumber: bbc

[:id]Tragedi Paris dan Dua Wajah Islam[:]

[:id]Oleh Ahmad Nurcholish

Hingga Minggu (15/11) sore kemarin, jumlah korban serangan  di enam titik di Paris telah memakan korban meninggal sebanyak 129 orang yang diketahui. Ratusan lainnya mengalami luka-luka, baik berat maupun ringan. Usai peristiwa yang menghentak kemanusiaan itu ISIS mengaku bertaggung jawab atas penyerangan tersebut.

Tak hanya itu, ISIS mengatakan Prancis dan pihak-pihak sekutunya tetap menjadi sasaran selanjutnya. Mengapa Perancis menjadi sasaran? Antara lain meliputi “karena telah berani menghina nabi kami, karena telah berbangga diri memerangi Islam di Prancis dan karena menyerang Muslim di khilafah dengan pesawat-pesawatnya.” (BBC Indonesia, 14/11)

Pasca tragedy tersebut, sebagaimana peristiwa-peristiwa sebelumnya, dunia, tak terkecuali dunia Islam terbelah menjadi dua. Sebagian mengutuk aksi-aksi tersebut dan menilai ISIS sesungguhnya bukan representasi Islam, sebagian yang lain semakin mengukuhkan pandangannya bahwa Islam memang agama kekerasan. ISIS adalah bukti nyata tentang ajaran kekerasan itu.

Saya sendiri tidak mau memungkiri bahwa ISIS bukan Islam. Lha wong mereka sendiri mengaku sebagai  kelompok jihadis Muslim. Bahkan dalam banyak aksi yang mereka lakukan di sejumlah tempat dan Negara sebagai buah tangan mereka. Apakah kita mau menyangkal bahwa mereka bukan orang Islam? Tak hanya itu,  aksi-aksi mereka juga didasari atas perintah jihad, mendirikan khilafah Islam yang menurut mereka sebagai perintah agama.

ISIS/NIS (the Islamic State of Iraq and Syria/ Negara Islam Irak dan Syam/ al-Dawlah al-Islāmīyah fī al-ʻIrāq wa-al-Shām) dikenal juga sebagai Negara Islam, dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Ia menggantikan Abu Umar al-Bagdadi yang telah meninggal. ISIS dinilai banyak kalangan  sebagai kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan dianggap menyimpang dari prinsip-prinsip jihad dalam Islam karena kerap melakukan penyerangan, kekerasan dan bom bunuh diri.

Oleh karena itu saya tidak mau menyangkal bahka ISIS bukan Islam. Bahwa kemudian saya tidak sependapat, bahkan menolak keras terhadap cara mereka memahami dan mengimplementasikan sebagian ajaran Islam, seperti jihad misalnya, itu iya. Termasuk juga dalam hal perjuangan mereka membentuh khilafah Islam saya juga tidak sepenuhnya mendukung. Untuk yang terakhir ini akan saya diskusikan di lain waktu.

Dalam tulisan ini saya akan fokuskan pada wajah Islam yang sesungguhnya beragam. Wajah Islam yang saya maksudkan adalah bentuk dan corak ajaran Islam ketika dipraktikkan oleh penganutnya, yakni orang Muslim. Ada yang berbuah corak kekerasan, perang, bahkan pembunuhan, tetapi ada pula yang mempraktikkan dengan wajah humanis: penuh toleransi, menebar kasih dan sayang kepada sesama, termasuk kepada non-Muslim, serta lebih mengedepankan kerukunan dan perdamaian.

Keduanya sama-sama bersumber dari ajaran Islam. Sebagian Anda mungkin akan menyangkal bahwa Islam bukan sumber kekerasan, perang dan pembunuhan. Itu pasti salah paham, dan seterusnya. Tetapi saya tidak akan menampiknya. Bagi saya ajaran-ajaran Islam memang bisa dipahami dengan sudut pandang yang beragam.

Soal jihad misalnya, serbagain orang atau kelompok memahaminya sebagai metode perjuangan menegakkan dan membela Islam dan Allah dengan cara sungguh-sungguh, termasuk mengangkat senjata lalu berperang. Sebagian yang lain memahaminya berbeda. Jihad mengangkat senjata adalah serendah-rendahnya cara memperjuangkan dan membela Islam. Sedangkan yang paling tinggi derajatnya adalah berjihad dengan cara mengendalikan nafsu, dan belajar menuntut ilmu.

Dari situ jelas bahwa satu ajaran bisa membuahkan hasil yang berbeda, bahkan bertolak belakang wujudnya. Yang satu lebih mengedepankan gerakan fisik, sementara yang lain lebih mengedepankan hati-nurani dan mengasah intelektual. Dua-duanya sama-sama megacu pada doktrin yang sama, yakni jihad.

Di antara ayat-ayat tentang jihad yang oleh sebagian orang Islam dipahami sebagai perintah perang adalah sebagai berikut:

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (Qs. An Nisaa’/ 4: 75)

“Wahai kaum mukmin, perangilah orang-orang kafir demi membela Islam. Seseorang tidak diberi beban kecuali sesuai kemampuannya. Wahai Muhammad, bangkitkanlah semangat kaum mukmin untuk berperang. Semoga Allah menghilangkan beban penderitaan yang ditimpakan orang-orang kafir kepada orang-orang mukmin. Allah jauh lebih kuat dan lebih kuasa dalam memberikan hukuman kepada orang-orang kafir.” (Qs. An-Nisaa’/4: 84).

Ayat-ayat tersebut dipahami oleh kelompok jihadis (mereka yang selalu menggelorakan semangat jihad dan juga pelaku) bahwa jihad itu tak lain adalah berperang  terhadap mereka yang diangap kafir, musyrik, dan munafik serta mereka yang mengjina (umat) Islam. Sementara kelompok Islam yang lain memaknai bahwa jihad dengan cara perang itu sebagai jalan terakhir dan jika pihak mush menyerang terlebih dahulu.

“Janganlah kalian tergesa-gesa untuk berperang. Akan tetapi laksanakan shalat dan keluarkan zakat lebih dahulu.” (Qs. An-Nisaa’/4: 77)

Dalam ayat tersebut ditandaskan bahwa shalat dan mengeluarkan zakatlah yang harus didahulukan, bukan perang. Mengapa demikian? Sebab shalat sesungguhnya memiliki dua makna. Pertama  sebagai ritual penghambaan manusia (makhluq) kepada Tuhannya (SangKhaliq) yang kemudian disebut sebagai hablum min Allah (berhubungan dengan Allah/Pencipta).Kedua, setelah itu sebagai media hablum min an-nas (berinteraksi dengan sesama manusia). Keduanya itu merupakan  pemaknaan dari rangkaian shalat yang diakhiri dengan salam di akhir ritual shalat, yakni salam dengan menongok ke kanan dan kekiri sembari mengucapkan “Assalamu’alaikum warakmatulah”.

Makna dari salam tersebut tidak lain adalah bahwa setelah kita bermunajat kepada Allah dengan shalat maka selanjutnya adalah memberi kedamaian (salam, assalamu’alaikum) dan rahmat (warahmatullah), dan berkah (wa barakatuh).

Shalat sendiri sesungguhnya merupakan media penghambaan bagi manusia kepada Tuhannya agar kita senantiasa tidak terjerembab dalam kesombongan, selalu bersyukur dan menyeimbangkan diri dari urusan dunia maupun akhirat. Hal ini tercermin dalam takbiratul-ikram(megangkat tangan sebelum sedekap) dengan mengucapkan Alahu Akbar, Allah Mahabesar, yang dapat kita maknai bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah. Tidak ada yag paling Mulia kecuali Dia. Karena itu manusia tidak boleh sombong.

Sementara rukuk melambangkan adanya keseimbangan antara kebutuhan duniawi (yang bersifat keduaniaan) dan kebutuhan ukhrawi (yang bersifat keakhiratan, hari kemudian seteklah kiamat). Sedangkan sujud, di mana kepala kita (sebagai symbol kedudukan, jabatan, kekuasaan) sejajar dengan telapak kaki kita. Artinya siapapun kita, setinggi apapun jabatan, kedudukan, kekayaan, ketika menghadap Sang Khaliq, maka kita tidak ada apa-apanya.

Dengan demikian, atas ajaran-ajaran atau doktrin Islam yang memiliki potensi multi-tafsir, terlebih jika mengarah kepada tindakan kekerasan, maka dibutuhkan “cara membaca” yang berbeda. Di situlah pengetahuan tentang asbab al-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) harus dikuasai. Dengan begitu kita memahami latar belakang diturunkannya ayat-ayat tersebut sehingga tidak terjebak dalam pemahaman yang sekedar literal atau tekstual.

Selain itu, lebih mengedepankan ajaran-ajaran Islam yang terang mengajarkan kedamaian nir-kekerasan juga jauh lebih penting ketimbang yang sebaliknya. Misalnya, ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang Islam yang mana yang terbaik itu?

Diriwayatkan oleh Muslim melalui Abdullah ibn Amru. Hadits ini menceritakan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang  Islam yang mana yang terbaik. Nabi menjawab: “Memberikan makanan dan menyampaikan salam kepada siapa saja yang engkau kenal dan siapa saja yang tidak engkau kenal. (Musa Syahin, Fath al-Mun’im, 1970: 233).

Menjelaskan hadits tersebut, Musa Syahin Lasyin, guru tafsir dan hadits Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar, Kairo, mengatakan bahwa di antara cabang iman yang terpenting dan perangai Islam yang paling menonjol adalah memberikan makanan dan menyebarkan salam. Dengan dua perangai ini persahabatan dan persaudaraan akan terwujud, umat Islam menjadi seperti tubuh yang satu, anggota-anggotanya saling menolong untuk kebaikan, satu sama lain saling memberi kedamaian dan saling menolong kesusahan dari anggota-anggota itu, dan satu bagian benar-benar mengokohkan bagian yang lain untuk kekuatan dan keteguhan.

Bahkan, menurut Musa Syahin, hadits tersebut juga menyuruh orang-orang Muslim memberikan makanan kepada semua orang, termasuk musuh, dan kepada binatang. Dengan dua perangai ini, akan terwujud keamanan dan keselamatan bagi diri yang melakukannya dari orang yang ada di sekitarnya. Ini sekaligus menandaskan bahwa Islam adalah agama solidaritas dan perdamaian. [ ]

Ahmad Nurcholish, Pegiat Keberagaman, Ketua Pusat Studi Agama dan Perdamaian ICRP.[:]

[:id]Menuju Damai Positif[:]

[:id]

nurcholish1

Oleh: Ahmad Nurcholish

Masih banyak yang memahami bahwa perdamaian adalah ketika tiada perang, tiada kekerasan, atau tiada konflik di tengah masyarakat. Dalam pandangan Johan Galtung, kondisi seperti itu ia sebut sebagai damai negative (negative peace). Lantas bagaimanakah damai positif itu?

Galtung mendefinisikan perdamaian negative sebagai situasi absennya konflik (conflict) dan kekerasan (violence). Dari permukaan bisa jadi ini sebuah kondisi yang menyenangkan. Akan tetapi, realitas yang sesungguhnya bisa jadi berbeda. Banyak masyarakat mengalami penderitaan akibat konflik dan kekerasan. Bahkan ketidakadilan kerap menimpa sebagian masyarakat kita.

Oleh karena itu, sembari menjaga kondisi damai negative tersebut, kita harus memikirkan untuk beranjak ke arah damai positif (positive peace). Perdamaian positif oleh Galtung didefinisikan sebagai absennya kekerasan structural atau terciptanya keadilan social serta terbentuknya suasana harmoni (Globalizing God, 2008: 16).

Apa yang diungkapkan sosiolog asal Norwegia tersebut senada dengan yang disampaikan Robert B. Baowollo, “si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)”. (IDEA, Maret 2011: 29).

Mengacu konsep tersebut, usaha mewujudkan perdamaian tidak hanya untuk mengurangi dan menghilangkan tindak kekerasan semata, tetapi juga adanya ikhtiar untuk mewujudkan rasa tentram, harmoni, dan damai dalam realita kehidupan social.

Paling tidak ada tiga ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai usaha menuju damai positif. Pertama, menggali kembali ajaran-ajaran perdamaian di masing-masing agama. Terlalu banyak ajaran-ajaran tersebut dapat kita ungkap kembali. Tak hanya di dalam agama-agama, bahkan juga terdapat dalam ajaran-ajaran kebijaksanaan masyarakat (local wisdom).

Islam misalnya, adalah agama perdamaian. Banyak alasan untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan, yakni; (1),  Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace). (2), salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam).(3), perdamaian dan kasih-sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya Al-Quran Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan. (2010: 329).

Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.

Pada tataran ontologis, agama manapun pada hakikatnya tidak mengajarkan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri bukan bagian integral dari agama. Agama mengajarkan sikap cinta-kasih dan keharmonisan dalam hidup.  Agama memprioritaskan cara-cara damai dan kemanusiaan dalam bersikap sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai universal agama itu sendiri.

Kedua, tradisi dialog yang sudah dirintis sejak tahun 1970-an oleh sejumlah tokoh dan cendikiawan dari berbagai agama nampaknya mesti kita lanjutkan dan kembangkan. Dialog adalah langkah pertama dari realisasi ajaran agama tentang perdamaian. Dialog pula merupakan cerminan bahwa setiap kita telah memulai membuka diri kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, dialog juga menjadi pintu masuk pertama bagi terjalin-eratnya hubungan antar umat beragama. Karena itu dialog tak hanya dilakukan atau dimotori oleh kalangan elitis saja: tokoh atau pemuka agama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat biasa dari berbagai agama dan kepercayaan. Dengan begitu dialog memiliki semangat kebersamaan yang akan memberikan sumbangan positif terhadap upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu saja. Dialog juga menjadikan ruang negosiasi menjadi sangat terbuka. Dengan begitua jika salah satu pihak atau berbagai pihak memiliki kebutuhan yang menyangkut agamanya dapat dengan mudah dikomunikasikan. Melalui dialog itulah antarumat beragama tersebut memahami kebutuhan di setiap komunikas/kelompok agama.

Ketiga, ini merupakan lanjutan dari dialog, yakni kerjasama antarumat beragama. Dialog tanpa kerjasama nyata hanya akan hubungan antaragama menjadi “editansil” (ejakulasi dini tanpa hasil) semata. Kerjasama ini tidak hanya dalam bentuk kerja-kerja social kemanusiaan belaka, seperti pembuatan posko kemanusiaan bersama atau aksi tanam pohon bersama, tetapi juga kerjasama dalam ranah yang lebih mencerminkan keseriusan adanya hubungan yang sangat baik antarumat beragama.

Salah satu contoh kongkritnya adalah saling membantu dalam mempersiapkan perayaan hari-hari besar keagamaan hingga saling membantu dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Betapa menyenangkannya jika ketika umat Kristen tengah membangun gereja, umat agama lain turuty membantunya. Begitu pula sebaliknya.

Jika ketiga hal di atas dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin kondisi damai positif akan segera dapat diwujudkan. Karena itu ini menjadi PR besar bagi semua kelompok/komunitas umat beragama. Kita harus memulainya segera. [ ]

Ahmad Nurcholish, Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP, mahasiswa program doctoral UMJ

[:]

Ilustrasi agama dan kesepian, sumber: http://www.adrianashton.co.uk/

[:id]Agama yang Mengasingkan[:]

[:id]

Dony Anggoro

Dony Anggoro

Oleh Donny Anggoro *

Setiap zaman, agama di segala tempat menjadi masalah yang pelik sekaligus tetap hangat bagi manusia.  Di satu pihak ia dijunjung sebagai pedoman keselamatan sedangkan di pihak lain, peran agama ternyata malah memicu pertikaian.

Meretas sejarahnya, beberapa abad silam sejak ilmuwan Copernicus dan Galileo menemukan bahwa dunia bukan pusat semesta alam- bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, pemuka agama di zaman itu mendadak berang ketika gambaran Alkitab tentang alam semesta ternyata tidak akurat, seolah mereka sudah mencemari keyakinan yang telah dipercaya berabad-abad. Seusai heboh perdebatan penemuan Galileo dan Copernicus, muncul Darwin yang juga dikecam dengan teori evolusinya.

Dalam tataran internal, agama kemudian diorganisir agar mampu menjalankan misinya: kebaikan untuk manusia. Namun ketika menjadi organisasi yang notabene membutuhkan umat dan anggota, usaha untuk menambah jumlah pengikut kemudian menjadi pemicu konflik sehingga agama menjadi sebuah kenyataan yang tidak menguntungkan.

Ketika agama mulai banyak dipakai untuk kepentingan politik, para pemimpin dan pemukanya ramai-ramai dipinang partai politik sebagai “ikon” atawa “penglaris” untuk menambah jumlah pengikut. Ia kemudian menjadi kendaraan dan sarana semata yang dapat menguntungkan pihak tertentu. Tantangan yang timbul dalam organisasi agama bukan lagi untuk menambah kualitas keimanan, melainkan menambah jumlah anggotanya. Selain peran politik dengan label agama, ada pula tokoh-tokoh agama yang lantas rentan terhadap godaan seksual dan materi sampai praktik korupsi dalam bisnis donatur kaya yang dihormati organisasi keagamaan.

Sedangkan dalam industri televisi kita beredarnya tayangan religius dengan memadukan aspek mistis dan religius seperti Taubat dan Rahasia Illahi seolah-olah menunjukkan kesadaran keimanan di masyarakat sedang meningkat dengan tidak ditayangkannya lagi acara tersebut hanya pada bulan Puasa menjelang Idul Fitri. Padahal, tayangan-tayangan tersebut menjadi tren ketika para produser televisi melihat bahwa sinetron bernafaskan Islami toh bisa laku dijual setelah diproduksinya sinetron glamor adaptasi telenovela Meksiko dan cerita-cerita ala Meteor Garden. Belum lama berselang, kaum ulama di negeri ini sepertinya sedang risau bahwa “plularisme”, “sekularisme”, dan “liberalisme” akan mengalahkan Tuhan.  Karena di segala zaman persoalan agama tetap hangat digulirkan, guru besar Karl Marx, Feurbach kemudian menulis: “Agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri”.

Pertanyaan mengusik, jika benar agama sudah mengasingkan umat manusia, apakah yang sesungguhnya telah terjadi? Bukankah agama semula berasal dari Tuhan?

***

Secara logis, memang benar agama adalah ciptaan manusia. Sedangkan Dr. Franz Dahler, filsuf asal Swiss dalam bukunya Masalah Agama (Kanisius, 1970) mengatakan adalah benar agama didefinisikan sebagai hukum yang diturunkan Tuhan melalui perantaraan nabi-nabi. Sekalipun benar, definisi ini kemudian menjadi pengertian yang dangkal sehingga menimbulkan kesan jika sudah menaati semua hukum dalam agama dari Tuhan, segala persoalan sudah selesai. Padahal ketaatan tanpa keyakinan hati, tetap saja kosong. Inilah yang membuat agama dirasa telah mengasingkan manusia.

Memang agama menurut Harold S. Kushner seorang rabi asal Massachusetts, Amerika dalam bukunya Who Needs God? adalah usaha untuk mengerti dan mengontrol sesuatu yang belum diketahui meskipun semakin lama setelah memahami bagaimana dunia ini bekerja, wilayah agama menjadi kecil. Memang benar pada abad 19 dan 20 yang ditandai dengan kejayaan ilmu pengetahuan serta pencarian obyektif tentang kebenaran yang dapat diuji, iman kemudian tergantikan sehingga di dalam agama lama-lama hanya terasa seperti cerita rakyat atau khayalan saja. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ramai-ramai memilih kebenaran, melihat agama sebagai musuh kejujuran, kemajuan, dan sains.

Dalam novel masterpiece-nya yang berjudul 100 Years of Solitude sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez mengisahkan sebuah desa yang terjangkit wabah pelupa. Diawali dari penduduk paling tua, wabah tersebut mengakibatkan orang sampai lupa bahkan pada benda sehari-hari paling umum sekalipun. Seorang pemuda yang belum terjangkiti mencoba mengatasi dengan melabeli setiap  benda seperti “ini meja”, “ini jendela”, “ini sapi” dan seterusnya. Sampai pada pintu gerbang kota di jalan utama dia menuliskan tanda berukuran besar. Yang satu bertuliskan “Nama pemukiman kita adalah Macondo” sedangkan pada tanda berukuran lebih besar lagi pemuda itu menuliskan “Tuhan Ada”.

Marquez lewat novelnya seolah mengingatkan kita di abad 21 ini masih terjadi wabah penyakit lupa. Mirip dengan novel Marquez tersebut, setelah mengalami represi selama lebih dari 30 tahun, kita lalu mengalami “amnesia” kronis dengan melupakan kesalahan masa lalu. Seakan menegaskan apa yanng pernah dituliskan Marquez, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting mengatakan, melupakan adalah bentuk lain dari kematian. Dan yang sesungguhnya terjadi kita toh lupa bahwa setiap agama jika tak mau membeku harus sanggup berevolusi.

Kita memang sedang dikutuk untuk melakukannya dengan terus menerus mengulang kebodohan lantaran telah melupakan siapa pemilik kita yang sedang gusar melihat tindakan para pemuka agama beserta label-label agama yang digunakannya, yaitu Tuhan itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita beranjak untuk mulai melawan lupa? *

*) eseis, tinggal di Jakarta. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah MaJEMUK, ICRP

 [:]