Pos

Musdah Mulia: Jangan Pernah Diam !

Saya sangat mengapresiasi kerja Institusi Kepolisian yang berhasil membekuk operasi teroris di Mako Brimob. Terimakasih polisi, keamanan negara dan bangsa amatlah penting. Ini adalah pelajaran penting bagi polisi agar tidak meremehkan teroris, mereka adalah penjahat luar biasa yang juga harus dihadapi dengan kekuatan ekstra.

Saya juga dengan tulus mendoakan agar para polisi yang gugur dalam tugas mendapatkan kehormatan mati syahid serta mendapatkan pahala yang setimpal dari Maha Pencipta. Demikian pula agar keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan dan juga perlindungan dari negara.

Terorisme umumnya lahir dari gerakan radikalisme, termasuk radikalisme agama. Gerakan radikalisme agama bukan hanya dijumpai dalam Islam, melainkan ada pada semua agama, hanya saja yang mengemuka di Indonesia adalah radikalisme Islam.

Radikalisme Islam tidak lahir begitu saja. Ada konteks yang melaratbelakangi dan tidak melulu disebabkan oleh satu faktor. Sejumlah faktor ikut mempengaruhi. Dimensi politik, sosial, dan ekonomi telah menjadi konteks yang signifikan dalam membaca gerakan radikalisme Islam di Indonesia.

Perubahan politik yang berimplikasi pada kebebasan berekpresi, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan perubahan tata nilai masyarakat menjadi salah satu penyebab lahirnya radikalisme, kemudian ditopang oleh cara pandang keagamaan yang sangat tekstualis dan skripturalistik. Pemahaman keislaman yang sangat dangkal, sempit dan fanatik melahirkan perilaku radikal yang selanjutnya berpotensi melahirkan aksi-aksi teror.

Sebagai warga bangsa kita semua hendaknya jangan diam, dan jangan pernah membiarkan semua bentuk perilaku intoleran, persekusi, bullying dan ujaran kebencian merajalela di tengah-tengah masyarakat. Mari bersatu, lawan semua perilaku intoleran tersebut, termasuk pemaksaan, penghinaan, kebencian, permusuhan untuk alasan apa pun. Tentu saja kita melawan semua kebatilan dan kekejian tersebut dengan cara-cara yang santun dan damai.

Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

CISForm Meluncurkan Film Animasi Religi

CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meluncurkan film animasi religi di Jakarta. Kegiatan ini adalah launching ke-2 setelah kegiatan serupa telah dilaksanakan di Yogyakarta, 3 Februari 2018. Film animasi religi CISForm yang masing-masing berdurasi sekitar 1,5 s/d 2 menit ini berjumlah 40 film. 20 film animasi religi pertama sudah dilaunching di Yogyakarta dan 20 film berikutnya diluncurkan di Jakarta ini. Film animasi religi ini merupakan komitmen CISForm untuk mengantisipasi penyebaran narasi Islamisme dan radikalisme di Indonesia. Acara ini merupakan bentuk kerja sama antara CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam peluncuran di Jakarta ini, acara diisi dengan pemutaran film animasi religi dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Ustadz H. Muhammad Nur Hayid sekalu tokoh ulama dan Dhania selaku returnee Syiria. Kegiatan ini dihadiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan akademisi, yang dibuka langsung oleh Dr. Muhammad Wildan selaku Direktur CISForm.

CISForm adalah salah satu pusat studi dan penelitian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kosen dalam menangani fenomena radikalisme melalui pendekatan yang lunak/moderat. Studi terbaru menunjukkan bahwa rata-rata kebiasaan membaca kaum muda di negara Indonesia ini kurang dari 10%. Menariknya, media sosial online lebih dipilih menjadi alternatif yang cukup efektif untuk mendapatkan isu-isu update terkini. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa banyak pemuda akhir-akhir ini yang lebih suka memilih akses mudah ke gadget dan internet dalam mencari dan memperlajari segala hal termasuk dalam belajar ilmu agama. Maka dari itu CISForm berupaya menggunakan animasi sebagai sarana yang mudah dan fleksibel untuk menjangkau kaum muda.

CISForm menyadari bahwa tidak bisa dipungkiri arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, paham extremisme dan radikalisme menyebar dan berkembang dengan pesat. Media sosial merupakan media paling rawan untuk penyebaran ideologi ultra-konservatif seperti ISIS. Gerakan-gerakan ultra-konservatif tersebut menyebarkan ideologi (propaganda) mereka khususnya ke generasi muda dengan narasi-narasi extremism dan radikalisme. Berdasaran pengamatan dan penelitian CISForm, ideologi yang dikembangkan oleh gerakan-gerakan extremism adalah seputar narasi hijrah, jihad, khilafah dan intoleransi. Oleh karena itu, CISForm berusaha untuk menangkal perkembangan ideologi ultra-konservatisme tersebut dengan membuat film animasi religi yang menarik yang berisi pesan-pesan Islam moderat yang rahmatan lil’alamin.

Harapannya, melalui animasi religi ini mampu menjadi counter-narratif yang efektif bagi kalangan muda yang familiar dengan sosial media, dan mudah untuk disebarkan melalui youtube, facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Dengan demikian mampu diharapkan dapat berkontribusi dalam mengarusutamakan pemahaman Islam moderat yang rahmatan lil’alamin di kalangan muda, sekaligus menjadi sebagai wacana tanding (counter violent extremism) untuk meredam propaganda ideologi radikalisme di Indonesia melalui pesan-pesan yang dikemas dalam bentuk animasi yang menarik, dan menghibur.

Untuk dapat menikmati film-film animasi hasil karya CISForm, cukup menonton melalui kanal Youtube Cisform Uinsuka.

Tiga Gadis Inggris Diburu ISIS

Tiga gadis asal Inggris dilaporkan tengah dalam pelarian dari ISIS. Diduga ketiga gadis ini merupakan pelajar dari London yang kabur pada awal tahun 2015.

Sebuah tim pemantau tak resmi di akun sosial facebook bernama Mosul Eye menyatakan bahwa kelompok teroris paling mengerikan ini tengah memburu ketiga pengantin yang kabur setelah dinikahkan dengan militant ISIS. Ketiga gadis yang berumur sekitar 16 tahunan ini tenga dalam pencarian ISIS. Namun,  laman ini lebih lanjut menuliskan bahwa identitas ketiga gadis ini belum diketahui.

Diduga kuat ketiga gadis ini adalah Shamina Begum dan Amir yang berumur 15 tahun dan Kadzina Sultana yang setahun lebih tua. Ketiga gadis ini meninggalkan Bethnal Green pada Februari 2015.

Bulan lalu ketiga gadis ini dikabarkan tinggal di Raqqa. Namun sebagaimana diketahui bahwa Raqqa ke Mosul hanya butuh enam jam perjalanan. Pihak keamanan dan polisi meyakini informasi ini.

Mosul Eye yang mendaku sebagai seorang blogger di Irak membuat sebuah laman untuk menginformasikan apa saja yang terjadi di Mosul pada dunia dari menit ke menit. Informasi yang disebarkan oleh Mosul Eye berasal dari seorang sejarawan yang tinggal di Mosul.

Sejarawan yang tak mau diekspos publik ini menentang ISIS. Ia menuliskan detail-detail peristiwa dalam bahasa Inggris dan Arab mengenai kegiatan-kegiatan ISIS, eksekusi mati warga sipil dan dampak yang dialami ISIS dari serangan udara.

Tertanggal 2 Mei, Mosul Eye memposting : “Tiga gadis (Inggris) yang dinikahkan dengan jihadis ISIS, dilaporkan menghilang, ISIS mengungumpakan kepada seluruh orang untuk mencari mereka. Diyakini ketiga gadis ini telah kabur.

Dalam postingan berikutnya Ia melanjutkan : “Kabar terbaru yang saya dapat tentang mereka yakni bahwa ketiga gadis ini masih dalam pelarian namun belum keluar dari Mosul. ISIS masih tetap memburu mereka namun belum sanggup untuk menangkap ketiga gadis ini”

“mereka gadis asal Inggris, bukan imigran, dan mereka masih sangat muda (sekitar 16 tahun). Ini saja yang saya ketahui mengenai mereka”. Shamima, Amira dan Kadiza merupakan pelajar dari Bethnal Green Academy. Mereka berangkat ke Turki awal tahun ini sebelum menuju ke perbatasan Suriah.

.

sumber : the telegraph.co.uk

Diduga Jadi Bisnis Perang, ISIS Bisa Picu Perang GlobalAllegedly So Business War, ISIS Can Trigger Global War

Jakarta, ICRP – Kekejaman yang dipertontonkan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) melalui berbagai media telah menimbulkan keresahan di seluruh belahan dunia. Bahkan ada dugaan, ISIS menjadi bisnis perang yang akan memicu perang global. Pendapat tersebut diungkapkan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Iqbal Parewangi.

“Ini ada beberapa pendekatan, adanya ISIS bisa juga bisnis perang secara global setelah perang dunia. Karena tidak ada lawan yang jelas, jadi (ISIS) imajiner tapi juga nyata ada di lapangan,” kata Iqbal dalam diskusi di Senayan City, Jakarta, seperti dilansir tribunnews.com, Minggu (22/3/2015).

Menurut Iqbal, pemerintah dan masyarakat harus melihat ISIS secara holistik. Pemerintah harus menyelidiki apakah memang ada bisnis perang dibalik ISIS.

“Perang itu kan bisnis yang besar, konteks bisnis perang ini kan bisnis senjata,” katanya.

Namun, masyarakat dihimbau untuk tidak takut berlebihan terhadap ISIS.

Ketua Umum PBNU, Kyai Said Aqil Siradj

Ketum PBNU: Waspada, 514 Warga Indonesia Bergabung ISIS

Jakarta, ICRP – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Said Aqil Siradj meminta semua warga terutama nahdliyin untuk waspada terhadap provokasi dan ajakan bergabung dengan ISIS. Saat ini sudah 514 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Said mengkhawatirkan jika mereka kembali ke Indonesia bertindak lebih sadis dari aksi terorisme saat ini.

“Itu akan menjadi penyakit yang sangat berbahaya jika pulang ke Jawa Timur atau daerah lain,” ujar Said usai menghadiri peluncuran Muktamar Ke-33 NU di halaman kantor PWNU Jatim, Sabtu (14/3) malam.

Menurut Said, kelompok militan ISIS bukan bagian dari Islam. ISIS lebih kejam dari kelompok radikal manapun. Tindakan seperti itu, tidak bisa dibenarkan.

Oleh sebab itu, Said meminta kepada pemerintah untuk lebih cepat mengupayakan tindakan preventif. Misalnya, memonitor biro-biro perjalanan wisata dan umroh. Hal tersebu diperlukan untuk memastikan tidak terjadi lagi warga negara Indonesia bergabung dengan kelompok radikal ISIS.

RI-Turki Siap Jajaki Kerjasama Halau Radikalisme Agama

Jakarta, ICRP – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan sudah melakukan komunikasi dengan pemerintahan Turki untuk mengatasi radikalisme agama terutama gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

“Pertemuan dengan Turki membicarakan tentang bagaimana kita secara bersama-sama dalam menghadapi radikalisasi,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3).

Disela perhelatan Konferensi PBB ke-3 di Jepang, Sabtu (14/3/2015), Wapres menemui sejumlah pejabat termasuk Turki. Dalam kesempatan tersebut, wapres membahas mengenai kerja sama keamanan hingga saling tukar-menuar informasi, termasuk bersinergi dalam hal membantu gelombang pengungsi akibat serangan ISIS.

“Radikalisme harus dapat kita atasi bersama-sama,” katanya dan menambahkan.

Wapres mengingatkan potensi bahaya bila orang-orang radikal kembali ke negaranya seperti Indonesia. Oleh sebab itu, perlu kerjasama dengan berbagai negara untuk mengahalau radikalisme tersebut.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan pemerintah RI akan mengirim tim keamanan gabungan untuk menginvestigasi lebih dalam terkait motif enam belas WNI yang ditangkap otoritas Turki di wilayah perbatasan dengan Suriah.

Cegah ISIS, Jokowi Utamakan Pembinaan Agama dan Budaya

Jakarta, ICRP – Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menko Polhukam) Tedjo Edhy Purdjiatno mengatakan Presiden Joko Widodo akan melakukan pencegahan terhadap gerakan teroris ISIS melalui pembinaan agama dan budaya. Hal tersebut disampaikan presiden dalam arahannya kepada petinggi Polri dan TNI.

“‎‎Kita mewaspadai jangan sampai itu terjadi, jangan sampai kejadian ada baru kita waspadai. Karena ini sudah mendunia masalah terorisme. Oleh karena itu Indonesia  harus mewaspadai ancaman tersebut, khususnya organisasi yang menamakan diri ISIS, agar tidak terjadi di Indonesia,” ujar Tedjo seperti dilansir liputan6.

Tedjo menuturkan masalah terorisme sudah menjadi masalah internasional. Dan Indonesia harus melakukan tindakan pencegahan. Pencegahan tersebut, tegas Tedjo, dapat dilakukan dengan pembinaan mengani ajaran Islam yang toleran dan menghargai perbedaan.

Pada kesempatan yang berbeda Jokowi menekankan pentingnya bekerja lintas sektoral dalam menjaga keamanan dan pertahanan nasional. Dan terkait terorisme Jokowi sudah menginstruksikan kepada segenap jajaran TNI dan Polri untuk agar dilakukan upaya pencegahan dini.

Video ISIS Ancam TNI, Polri, dan Banser Beredar di YouTube

Video orang Indonesia yang mengaku sebagai anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali muncul di YouTube.

Kali ini, beredar video berisi ancaman anggota ISIS terhadap Panglima TNI, Polri, serta Barisan Serbaguna (Banser) Anshor Nahdlatul Ulama.

Video berjudul “Ancaman wahabi terhadap Polisi, TNI dan Densus 88, Banser” itu diunggah pada 24 Desember 2014 oleh akun al-faqir ibnu faqir. Video berdurasi 4:01 menit itu menampilkan seorang pria berkumis dan berjenggot yang mengenakan baju army look. Pria yang memakai kupluk dan bersarung tangan itu berbicara dalam bahasa Indonesia, dengan sedikit logat Arab, sembari sesekali mengutip ayat Al-Quran.

Pada awal tayangan, dia langsung menyebut Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kepolisian, dan Banser dengan sebutan Laknatullah. Pria itu mengatakan menunggu kedatangan TNI, Polri, dan Banser yang dikabarkan akan ikut memerangi ISIS. “Apabila kalian tidak datang kepada kami, kami akan datang kepada kalian,” ujarnya.

Pria itu juga memberi sinyal bahwa dirinya tengah berada di luar negeri, dengan mengatakan akan kembali ke Indonesia. Dia lantas kembali menebar ancaman akan membantai TNI, Polri, dan Banser. “Kita buktikan siapa yang Allah menangkan, kalian pasukan iblis atau kami pasukan Allah,” katanya.

Pria ini juga dengan mantab mengancam akan membunuh satu persatu pasukan TNI, Polri, Densus, dan banser.

“Kami mengetahui bahwa penegakan syariat Allah, dimulai dengan memerangi kalian. Dengan membantai satu persatu dari kalian, tentara, TNI, Polri, Densus, dan Banser”

Belum diketahui di mana video ini diambil. Namun hingga Jumat (26/12/14), video ini sudah ditonton oleh 4.499 viewer. Beberapa akun lain juga telah re-upload video tersebut dengan judul yang berbeda-beda. Hingga saat ini belum ada tindakan dari aparat terkait kemunculan video tersebut.

Berikut ini link Video :

http://www.youtube.com/watch?v=uVy0w0maqXc

Warga Australia Danai Terorisme

MELBOURNE, ICRP – Pihak keamanan Australia kembali melancarkan operasi dalam upaya memerangi terorisme di wilayah Melbourne. Kali ini, kepolisian negeri Kanguru berhasil menciduk  seorang lelaki berumur 23 tahun. Diketahui, pria itu  berbincang dengan warga negara Amerika Serikat via sosial media dan mendanai orang tersebut untuk pergi berjihad ke Suriah. 

Dalam penggerebekan tersebut terduga teroris itu tidak kurang dari 100 polisi diterjunkan.

Penggerebekan itu dilancarkan setelah dua minggu tersebarnya rencana Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) membuat Film Pemenggalan di Sydney

Pihak keamanan melaporkan penggerebekan pagi di Melbourne difokuskan pada sos0k Hasan Al Sabsabi. Pria berumur 23 tahun itu kini dituntut atas tuduhan medanai dua kelompok teroris yakni ISIS dan Al-Nusra senilai 12.000 Dollar Australia. Bahkan berdasar temuan, Hasan berencana untuk mengirimkan kembali dana ke para jihadis di Suriah.

Hasan dikabarkan telah menikah dan bekerja di sebuah toko pizza di Melbourne.

Tetangga Hasan, Herve Du Buisson Perrine, meyakini bahwa keluarga Hasan berasal dari Lebanon. “Saya benar-benar kaget,” ucap Herve pada The Age. “Ia (Hasan) merupakan orang yang ramah, Ia benar-benar orang yang ramah pada saya,” sambungnya.

Hasan diduga mentransfer uang antara 1 Maret hingga 11 Agustus untuk mendanai seorang warga negara Amerika Serikat berangkat ke Suriah untuk berjihad selama beberapa bulan.

Polisi menuturkan kedua orang berjumpa di sosial media. Diyakini kasus ini adalah kali pertama seseorang mendanai orang lain untuk pegi dan bejihad.

“Tidak ada informasi yang menunjukan bahwa orang ini (Hasan) terlibat dalam rencana penyerangan,” ujar asisten komisioner Neil Gaughan, dari Kepolisian Federal Australia.

“Kami melaksanakan operasi  sepagi mungkin hari ini karena kami mengetahui bahwa dana akan ditransfer ke warga negara AS itu di Suriah,” sambung Neil.

“Ini adalah kali pertama dala kasus terorisme kami sadar bahwa ada warga negara Australia yang mendanai atau membayar seorang warga negara lain untuk bertempur ke Irak dan Suriah,” katanya.

Sebagai informasi lebih dari 60 orang warga negara Australia diyakini terlibat dalam pertempuran di Irak dan Suriah dan lebih dari 100 orang mendanai para ekstrimis di kawasan Timur Tengah. 

(Sumber : The Telegraph.co.uk)