Pos

Wikimedia Indonesia Buka Beasiswa Daring untuk Perbaiki Konten dengan Bahasa Daerah

Kabar Damai I Rabu, 10 Maret 2021

 

Indonesia | kabardamai.id | Mempertimbangkan kondisi pandemi yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat, Wikimedia Indonesia memberikan Beasiswa Daring bagi sukarelawan proyek Wikimedia.

Beasiswa Daring ini dapat Anda gunakan untuk mendukung kegiatan daring yang bertujuan memperbaiki kualitas infrastruktur dan konten proyek Wikimedia dalam bahasa Indonesia dan daerah.

Karena hanya mendukung kegiatan daring, beasiswa ini hanya mendanai pulsa dan konsumsi harian. Komponen-komponen tersebut mengacu pada standar keuangan Wikimedia Indonesia, yaitu maksimal Rp200.000 untuk pulsa per orang per kegiatan dan maksimal Rp100.000 untuk konsumsi per orang per hari.

Beasiswa yang akan Anda dapatkan adalah akumulasi dari jumlah orang yang terlibat dikali jumlah hari (minimal 3 hari dan maksimal 10 hari) dalam kegiatan Anda dikali nominal konsumsi per hari ditambah jumlah orang yang terlibat dikali pulsa per kegiatan.

Sebagai contoh: Tim Jingga terdiri dari 2 orang yang mengerjakan kegiatan selama 10 hari. Dengan demikian, Tim Jingga akan memperoleh beasiswa sebesar Rp2.400.000 (2 orang x 10 hari x Rp100.000 + 2 orang x Rp200.000).

Pertanyaan terkait beasiswa daring ini dapat Anda sampaikan ke alamat surel panitia di hibah@wikimedia.or.id.

 

Persyaratan

Permohonan

  • Setiap permohonan beasiswa program diajukan oleh satu orang pemohon, yang mewakili diri sendiri atau mewakili kelompok; bagi yang berkelompok, maksimal anggota kelompok adalah 4 orang (total 5 orang yang mencakup pemohon dan anggotanya). Permohonan dibuat melalui formulir permohonan di bawah.
  • Tenggat permohonan: 14 Maret 2021.

Kegiatan

  • Kegiatan dilakukan secara daring. Kegiatan luring tidak diperkenankan.
  • Kegiatan seperti merapikan kategori tentang kecamatan di Wikipedia Indonesia, menambah kosakata di Wiktionary Nias, meningkatkan keaktifan Wikisource Sunda di Multilingual Wikisource atau Wiktionary Gorontalo di Wikimedia Incubator, membuat desain grafis untuk melengkapi artikel Wikipedia Jawa,mengunggah foto tematik tentang Indonesia ke Wikimedia Commons, dan memperbaiki kualitas artikel di Wikipedia Minangkabau adalah kegiatan-kegiatan yang layak didanai dalam beasiswa daring ini. Kegiatan lain selama sejalan dengan tujuan beasiswa daring ini merupakan kegiatan yang layak didanai.
  • Deskripsikan kegiatan daring yang akan Anda lakukan secara rinci dalam permohonan Anda. Jawab pertanyaan-pertanyaan ini di dalamnya: (1) Apa kegiatan Anda?(2) Apa alasan Anda membuat kegiatan ini? (3) Mengapa kegiatan Anda layak didanai? (4) Sebagai ukuran kesuksesan kegiatan Anda, apa yang ingin Anda capai dari kegiatan Anda? Sebagai contoh, menambah 200 entri baru pada Wiktionary Nias atau membuat 7 desain grafis untuk diletakkan pada 7 artikel Wikipedia Jawa.
  • Lama kegiatan minimal 3 hari dan maksimal 10 hari.
    • Anda bebas mengusulkan jumlah hari, namun Wikimedia Indonesia akan memutuskan jumlah hari yang layak untuk kegiatan Anda berdasarkan evaluasi terhadap halaman permohonan Anda.
    • Tanggal kegiatan bebas dalam rentang waktu April dan Mei 2021, tidak harus berurutan, namun sebaiknya ditentukan secara rinci dalam halaman permohonan.
    • Apabila belum tahu tanggalnya, Anda boleh menulis ‘tentatif’ pada halaman permohonan. Sebagai contoh, tuliskan ‘tentatif 4 hari’.

Catatan: Jumlah orang dan jumlah hari menentukan banyaknya nominal beasiswa yang akan Anda terima. Apabila lolos, Anda hanya akan menerima dana untuk konsumsi harian yang harus Anda kelola sendiri, sedangkan dana untuk pulsa akan dibelanjakan langsung untuk Anda oleh Wikimedia Indonesia pada awal April 2021.

Baca juga: KBR Gelar Lomba Konten Baik Keberagaman

Pemohon

  • Pemohon dan anggotanya adalah sukarelawan proyek Wikimedia yang telah memiliki setidaknya 10 suntingan.
  • Pemohon belum pernah mengikuti Beasiswa Daring sebelumnya.
  • Pemohon dan anggotanya adalah sukarelawan yang tidak sedang diblokir, telah menyelesaikan kewajiban dari Wikimedia Indonesia atas program yang telah usai (seperti Saraswati), tidak pernah melanggar Kebijakan Ruang Ramah, bukan staf atau kontraktor Wikimedia Indonesia.
  • Pemohon dan anggotanya tidak diperkenankan mengerjakan lebih dari satu kegiatan daring dalam program Beasiswa Daring ini.

Alur Pendaftaran

  1. Pemohon mengisi halaman permohonan melalui formulir di bawah ini hingga tuntas lalu mengirimkan pranala halaman permohonan tersebut ke hibah@or.id dengan subjek ‘Beasiswa Daring’. Tenggat pengiriman: 14 Maret 2021.
  2. Seluruh permohonan yang masuk akan dinilai mulai tanggal 15 Maret 2021. Hasil penilaian akan diumumkan melalui surel pada 18 Maret 2021.
  3. Pemohon yang permohonannya diterima akan kami kirimi surat perjanjian beasiswa melalui surel.
    • Pencairan dana dilakukan setelah kedua belah pihak menandatangani secara digital surat perjanjian tersebut.
    • Apabila terdapat perubahan kegiatan setelah surat perjanjian ditandatangani, mohon konsultasikan dahulu melalui surel hibahor.id.
  4. Tenggat laporan 15 Juni 2021. Ketentuan laporan akan disampaikan melalui surel.

Untuk mengajukan beasiswa, silakan kunjungi laman:

https://meta.wikimedia.org/wiki/Wikimedia_Indonesia/Beasiswa_Daring

Tenggat permohonan beasiswa periode April-Juni 2021: 14 Maret 2021.

 

Sumber: Wikimedia.org

Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Kabar Damai | Senin, 8 Maret 2021

 

Fakfak | kabardamai.id | Sejak dulu Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan toleransi yang tinggi. Berbeda-beda tetapi tetap satu, nilai toleransi ini dapat dijumpai dalam budaya suku-suku dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya adalah nilai toleransi ala Satu Tungku Tiga Batu di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Haru Suroto, menyebutkan, terdapat tiga agama di Fakfak, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen Protestan, yang dianggap sebagai agama keluarga. “Sehingga muncul semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati Satu Saudara’ untuk mempererat harmonisasi antar sesama,” ujarnya kepada Tempo.Co (18/1/20).

Dalam ulasan Tempo, Satu Tungku Tiga Batu mengandung arti tiga posisi penting dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama. Ketiga batu ini, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak yang sama, posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

“Tungkunya berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan untuk memasak,” kata dia.

Menurut dosen antropologi  itu, kemajemukan masyarakat Fakfak tetap memandang dirinya berasal dari satu rumpun kerabat, satu leluhur jauh sebelum ketiga agama tersebut berkembang di Fakfak. Hal itu juga lazim dijumpai di Fakfak dalam suatu keluarga, terbagi ke dalam tiga agama berbeda.

Salah satu bukti adanya toleransi agama di Fakfak, adalah Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870, arsitektur masjid ini sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Rumah ibadah muslim ini merupakan wujud dari nilai Satu Tungku Tiga batu, yang dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik. “Jika dilihat dari kejauhan, masjid terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa,” tutur Hari.

Pada 1870, Islam, Kristen Protestan, Katolik sudah menjadi tiga agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar. Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu adalah ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan seimbang untuk menopang kehidupan keluarga.

Hari menjelaskan bahwa mereka—masyarakat Fakfak—tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu, atau pun perselisihan terkait agama. “Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebagai bentuk keberagaman dan kebinekaan yang ada di Indonesia,” kata arkeolog yang berusia 40 tahun itu.

Hal yang sama diceritakan oleh budayawan Fakfak Abbas Bahambah (61) kepada Kompas.Com.

“Kita berasal dari satu rahim mama, jangan sampai terpecah hanya kerena perbedaan. Kekerabatan harus dijaga karena kekerabatan usianya lebih tua dibandingkan agama yang kita kenal saat ini,” ujarnya, kutip Kompas.com (20/8/19).

Hal itu ia ungkapkan sebagai cermin kuatnya toleransi di Fak-fak, Papua Barat. Ia menceritakan masyarakat Fakfak memiliki filosofi satu tunggu tiga batu yang dikenalkan nenek moyang mereka sejak zaman dulu.

Satu tungku tiga batu adalah dasar kerukunan di Fak-fak, Papua Barat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari “kau”, “saya” dan “dia” yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona

Dalam buku Jati Diri Perempuan Asli Fakfak yang ditulis Ina Samosir Lefaan dan Heppy Leunard Lelapary menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu adalah pengejawantahan dari filsafat hidup etnis Mbaham Matta Wuh yang disebut Ko, on, kno mi mbi du Qpona yang artinya adalah kau, saya dengan dia bersaudara.

Filosofi ini, masih dalam ulasan Kompas,  mengarah kepada adat, agama dan pemerintah.

Etnis Mbaham Matta Wuh adalah masyarakat adat tertua yang ada di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua. Fakfak juga menjadi salah satu kota tertua di provinsi tersebut.

Di buku itu, Lefaan dan Lelapary juga menjelaskan, Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau yang dikenal satu tungku tiga batu mengandung arti yang sama, tiga posisi penting dalam kekerabatan etnis Mbaham Matta Wuh.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau satu tungku tiga batu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima.

Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari kaki rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.

Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat.

Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Ketiga batu yang sama kuat itu, dilambangkan sebagai tiga pihak yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang.

Nama Fakfak diyakini berasal dari kata pakpak yaang berarti tumpukan batu berlapis yang banyak ditemui di sekitar wilayah pelabuhan.

Fakfak kemudian menjadi identifikasi diri warga asli yang bermukim sejak masa nenek moyang yang ditandai dengan nama marga sebagai identitas dan digunakan hingga saat ini.

Lalu mereka disebut “anak negeri” untuk membedakan dengan pendatang dari luar wilayah Fakfak, baik dari dalam maupun luar Papua.

“Penduduk Fakfak mayoritas beragama Islam, berbeda dengan wilayah lain di Papua. Bahkan ada yang menyebut bahwa Fakfak adalah serambi Mekkahnya Indonesia, tapi toleransi di sini sangat tinggi,” jelas Abas kepada Kompas.com.

Ia mencontohkan saat perayaan hari raya Idul Fitri, umat Nasrani yang akan menjadi panitianya. Demikian juga sebaliknya, saat Natal, maka umat Islam akan ikut mengurus acara perayaannya.

Termasuk saat pemberangkatan jamaah haji asal Fakfak atau upacara pentahbisan di gereja, Abbas mengatakan semua umat lintas agama akan ikut terlibat.

“Yang membedakan adalah ritual keagamaan. Yang agamanya beda tentu tidak akan terlibat pada ritualnya. Setiap hari raya kita juga pelesiran, berkunjung atau bersilaturhami karena dalam satu marga keluarga ada beberapa agama di dalamnya. Ini adalah bentuk kerukunan,” terang Abbas.

Kerukunan antar-umat beragama juga terlihat saat masuk bulan Safar dalam kalender Islam. Semua umat lintas agama mengikuti tradisi mandi safar dengan saling menyiram air serta menggelar makan bersama.

Selain itu, jika ada masalah atau konflik yang terjadi di masyarakat, maka akan diselesaikan secara adat. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Tempo.co | Kompas.com

Awal Mula Kedatangan Katolik di Indonesia

Senin, 8 Maret 2021

 

Jakarta – Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara tidak hanya untuk mencari rempah-rempah, tapi juga membawa kejayaan dan keinginan untuk menyebarkan agama Katolik.

Kemudian, dikenallah apa yang disebut dengan goldglorygospel. Pencarian rempah-rempah di Nusantara berjalanan beriringan dengan keinginan untuk menyebarkan agama Katolik.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur adalah bagian dari mandat Paus Alexander VI. Melalui Perjanjian Tordesillas, Paus Alexander VI membagi belahan dunia di luar daratan Eropa.

Sementara di sisi Barat, mandat tersebut diserahkan kepada negara Spanyol. Kedua negara tersebut kemudian bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing negara tetap bisa tetap meraup rempah-rempah.

Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis tentang agama Katolik yang sudah ada pada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara. Agama Katolik lalu menyebar ke daerah lain, termasuk di Pulau Jawa.

J. Bakker menggunakan sumber-sumber Islam dalam penelitiannya dan dia meyakini bahwa agama Katolik yang datang ke Indonesia adalah agama katolik yang berasal dari India Selatan.

Mulanya, Santo Thomas yang mewartakan Injil sampai ke India Selatan. Katolik kemudian berkembang di India Selatan dan menyebar lewat perdagangan ke Sumatra Utara.

Gereja Kristen Katolik kemudian mulai dibangun di daerah Tapanuli sebelum tahun 600 oleh seorang saudagar yang berasal dari India dan menamakan diri sebagai Thomas Christians.

Pada April 1511, setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque yang merupakan gubernur Portugis kedua di India mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka.

Perjalanan dalam waktu singkat tersebut kemudian membuat Alfonso berhasil menaklukkan Malaka, sebuah pelabuhan perdagangan penting yang berada di wilayah Nusantara pada masa itu.

Setelah tiba di Malaka, Alfonso pun mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Alfonso melanjutkan perjalanan ke Banda menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate inilah kemudian Portugis mendapat izin membangun benteng.

Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Setelah menguasai Malaka, Portugis akhirnya bisa memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur yakni Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore.

Salah satu zandeling Katolik di kawasan tersebut adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis yang kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. Misi tersebut dinilai menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri.

Dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia, Jan Bank menuliskan bahwa pada saat hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan tersebut berakhir di awal abad ke-17, gereja Katolik kehilangan pelindung dan wilayah.

 

Jumlah Umat Katolik di Indonesia

JalaPress.com mencatat omat Katolik di Indonesia berjumlah 6,9 juta (2,91%) pada tahun 2013 dan pada tahun 2016 naik kurang lebih 7 juta orang (hamper 3%) dari jumlah populasi penduduk nasional.

Konsentrasi umat Katolik agak merata di Bali dan Nusa Tenggara, dengan pertumbuhan 1,19%. Pertumbuhan dan persebaran tertinggi ada kawasan Indonesia Timur (Maluku-Papua) sebesar 6,39% dan yang terendah di Sumatra sebesar (–0,65%). Pertumbuhan tertinggi ada di Provinsi Papua (6,58%) dan terendah di Provinsi Gorontalo (-6,64%).

Total jumlah Keuskupan di Indonesia adalah 37 Keuskupan. Sedangkan jumlah Paroki di seluruh Indonesia sebanyak: 1.205 Paroki, dengan rincian: Pulau Jawa (295 Paroki), Pulau Kalimantan (173 Paroki), Pulau Flores (211 Paroki), Pulau Sumba (24 Paroki), Pulau Timor (78 Paroki), Pulau Sulawesi (94 Paroki), Pulau Ambon (40 Paroki), Pulau Papua (116 Paroki), Pulau Bali dan NTB (24 Paroki), Pulau Sumatra (150 Paroki). [ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Editor: A. Nurcholish

Sumber: Historia.id | JalaPress.com

Penulis:  Ahmad Nurcholish

 

“Dengan mata hati, lihatlah orang yang beriman dan orang kafir.

Mereka tidak punya apa-apa kecuali hanya bisa menangis dan berseru

‘O, Tuhan, O Yang Maha Hidup,’ berdasar kepercayaan masing-masing.”

Mevlana Jalal al-Din Rumi

 

Djalal al-Din Rumi menulis syair ini dalam karyanya Divan-i Kabir,  1957: vol. V, No. 2578).  Sebait syair itu tercipta dari pengalaman panjang tokoh sufi kelahiran kampung di pinggir sungai Wakhsh, Persia (sekarang Tajikistan).  Di dalamnya, nilai terdalam Agama Cinta dapat diresapi. Ya, Agama Cinta, sebentuk spiritualisme universal yang melampaui bentuk-bentuk keyakinan dan agama umat manusia.

Spiritualisme ini mencerminkan desahan batin terdalam umat manusia dalam mengharap, merindu dan mencintai Sang Tuhan: Tuhan dalam pengertian-Nya sebagai (yang diyakini semua makhluk), Sang Pencipta dan Tempat Bergantung semua makhluk, tanpa terkecuali.

Ini merupakan “Agama Dalam” atau “Agama Batin” yang melampaui bentuk-bentuk, doktrin, model sesembahan dan konseptualisasi manusia atas Tuhan. Menurut Rumi, ketika terjadi hubungan intim sang pecinta dengan yang dicintai, tak bermakna lagi kehadiran setan dan kebencian. Hanya cinta yang ada. Kekufuran pun berubah keimanan jika dilakukan atas nama Cinta kepada Tuhan atau demi Tuhan semata. Cinta kepada Tuhan apalagi menyatu dengan-Nya membuat apa pun yang bertabiat duniawi (bentuk) menjadi tak berarti. Kata Rumi,

“Aku telah membersihkan rumahku dari kebaikan dan keburukan;

rumahku hanya diisi dengan Cinta kepada Yang Esa.”

Untuk sampai hakikat ini, keadaan yang tak semata terpaku pada jalan lahiriah, seorang mesti meresapi Agama Cinta melalui pintu tasawuf.Taraf ini lebih tinggi dibanding sekadar memuja atau mengabdi kepada-Nya. Seseorang yang berhasrat mesti mendalami ilmu tentang-Nya dan tentang hakikat semesta, di samping tentu mempraktikkan jalan tasawuf melalui ibadah, riyadah dan mujahadah dalam maqamat dan ahwal.

Dalam pandangan Rumi, mereka yang sudah meresapi jantung agama-agama melalui jalan tasawuf akan menjadi “manusia Tuhan”. Manusia jenis ini berhasil melampaui bentuk-bentuk agama formal. Dalam bait-bait syair, Rumi menulis:

Manusia Tuhan adalah ia yang telah melampaui kekufuran dan keimanan

Manusia Tuhan adalah ia yang memandang yang benar

dan yang salah sama saja.

Diwan Shamsi Tabrizi of Jalaluddin Rumi, terj. Nicholson (Bethesda, Maryland: Ibex Publisher, 2001), h. 31.

Bagi manusia awam, untaian syair Rumi di atas mungkin dipahami sebagai kesesatan. Bagaimana tidak, Rumi mengatakan “yang benar dan yang salah sama saja”. Dalam logika keimanan “orang awam”, tak mungkin sama antara ‘yang salah’ dan ‘yang benar’. Jelas berbeda.

Jika semata menggunakan kaca mata “syariat formal” seseorang bisa kebingungan.Ungkapan Rumi tak bisa hanya dipahami makna literalnya. Butuh perenungan dan penelaahan lebih mendalam, memasuki relung batin para sufi itu sendiri. Dan bagi setiap orang, hasilnya bisa berbeda. Itulah yang membuat jalan sufi tak serta-merta diamini, terutama oleh kalangan yang hanya “menghamba” pada ritual syariat. Terlebih jika tidak diiringi dengan menyelami dimensi spiritual dalam ritual syariat tersebut.

Bagi kaum sufi, yang baik, salah atau yang kufur dengan beriman sama saja. Apa yang dimaksud semua sama ini bisa dilihat dari dua hal.

Baca Juga: Masyarakat Singkawang dan Harmoni Antaragama

 

Pertama, bagi para sufi yang berada di maqam hakikat atau esensi, semua yang bersifat lahir maupun batin sulit dibedakan. Sama sulitnya membedakan bentuk dan isi. Bentuk dan isi terpatri atau tercampur satu sama lain. Ibarat logam campuran seunsur, mereka sudah tak dapat melihat lagi perbedaan unsur-unsurnya.

Pandangan tentang kesatuan atau yang menyatukan dua aspek biasa disebut dengan paham non-dualisme. Mereka para sufi yang meganut paham kesatuan (wahdat, union) seperti Ibn ‘Arabi dan Jalal al-Din Rumi. Sementara bagi orang yang hanya menyakini kebenaran syariat, bentuk formal merupakan wujud satu-satunya yang riil yang tak dapat ditawar lagi.

Pandangan kesatuan bisa ditemukan dalam Bhagavad-Gita. “Orang arif bijaksana melihat semuanya sama, baik brahmana budiman dan rendah hati maupun seekor sapi, gajah dan anjing ataupun orag hina papa, tanpa kasta,” tulis salah satu sloka.

Kesadaran dan kebahagiaan terhadap Cinta pada Yang Tertinggi hadir pada segala eksistensi. Perbedaannya hanya berkaitan dengan nama dan rupa dalam perwujudan. Bila manusia memandang dari sudut pandang Realitas Tertinggi yang hadir pada semuanya, ia akan melihat dengan pandangan yang sama. Dualisme mendasar ada pada ruh dan sifatnya bukan jiwa dan badan.

Kedua, pada setiap aspek ciptaan selalu terdapat pasangannya.Ini bukti kesempurnaan Tuhan.Pada keburukan atau kekufuran pasti terdapat aspek yang baik atau keimanan. Dalam pandangan Tuhan semua ciptaan sama saja. Tetapi dalam pandangan makhluk, bentuk-bentuk ciptaan terlihat berbeda. Bagi kaum sufi, semua perbedaan atau pertentangan bukanlah dua aspek yang mutlak terpisah dengan realitas masing-masing, melainkan satu.

Dalam aspek batin, tak ada nama dan bentuk. Manusia pencari Tuhan mengarahkan spiritualitasnya pada aspek dalam hanya melihat satu kesempurnaan: sebuah cinta kepada Tuhan yang sama. Inilah relevansi ungkapan Rumi.Dalam mazhab Cinta, tak ada bentuk keimanan dan kekufuran.Cinta bersemayam pada jiwa yang mendalam.Cinta kepada Tuhan sebagai bentuk keimanan tertingggi memiliki kekuatan besar.

Ketika bercerita tentang seorang Muslim yang mengajak seorang Majusi memeluk Islam dan kisah seorang muazin yang memanggil salat di wilayah kaum non-Muslim, Rumi sampai pada kesimpulan bahwa iman dan Agama Cinta ternyata melampaui bentuk-bentuk formal agama. Rumi memberi ilustrasi. Setetes air dari Cinta yang ditumpahkan ke dalam samudra, niscaya samudra itu terserap ke dalam tetesnya. Jika api cinta masuk ke dalam hutan, hutan itu terbakar habis. Jika hasrat cinta merasuki seorang raja atau komandan sebuah pasukan, niscaya musuh-musuh keduanya bisa hancur berantakan.

Melihat agama dari bentuk-bentuk “formal” tetap dibutuhkan, terutama bagi mereka yang mulai menempuh kehidupan keagamaan. Ini tahap persiapan untuk mengarungi kedalaman esensi atau jantung agama. Saat persiapan matang dan simbol-simbol formal tak lagi memadai, bersatu dengan Sang Kekasih akan jadi tujuan akhir yang mesti dicapai para penempuh jalan. Pada maqam ini yang dapat dicapai pemeluk agama mana pun, seseorang akan bernyanyi dengan Agama Cinta. Agama Cinta yang dianut kaum mistikus beragam agama adalah agama universal; satu-satunya agama yang mesti dianut umat manusia.

Agama universal itulah yang memungkinkan setiap penganutnya tak lagi terjebak pada ritual formal, simbol-simbol dan sejenisnya, yang seringkali menjadi sumber perdebatan, bahkan saling menyesatkan. Agama universal hanya dapat ditemukan dalam Agama Cinta, agama yang dapat diamalkan semua penganut agama, bahkan mazhab maupun tradisi ketika mereka berhasil menembus hijab kepada Yang Hakiki. Karena itu, Agama Cinta ala Rumi adalah agama universal yang dapat direguk berbagai pemeluk agama dan tradisi jika mereka semua dapat menembus yang hakiki dengan melampaui simbol-simbol, atau dapat keluar dari kungkungan bentuk-bentuk formal lahiriah semata. Rumi kembali menyakinkan bahwa,

“Agama Cinta adalah terpisah dari seluruh agama, hanya Tuhan saja miliknya.”

Pernyataan Rumi tersebut dalam pengertian bahwa para pecinta Tuhan adalah manusia-manusia yang dapat merefleksikan cahaya Tuhan. Karena Tuhan dapat mendekat dan menyapa siapa pun dan dari agama apa pun, maka Tuhan menjadi milik yang disapa. Nikmatnya bermesraan dengan Tuhan membuat sang pecinta merasa bentuk formal agama atau bentuk ikatan apa pun sudah tidak memadai lagi. Dalam keadaan begini, Rumi (dalam Talat Sait Halman dan Metin, Mevlana Celaluddin Rumi and The Whirling Dervishes, h. 28) menandaskan:

“Agama dan kebangsaanku adalah Tuhan.”

Para sufi memandang bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada Agama Cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Cinta adalah esensi segala kepercayaan. Hal ini sebagaimana pernah diungkapkan oleh Ibn ‘Arabi sebagai berikut:

 

My heart has become capable of every form;

it is a for gazelles and a convent

for Christian monks,

And a temple for idols, and the pilgrim’s Ka’ba,

And the table of the Tora and the book of the Koran

I follow the religion of Love, whicherver way

His camels take, My religion and my faith

Is the true religion.

We have a pattern in Bishr, the lover of Hind

and her sister, and in Qays and Lubna,

and in Mayya and Ghaylan.

(R.A. Nicholson, The Mistics of Islam, h. 106)

Melalui puisi tersebut ‘Arabi hendak menegaskan, ia menerima berbagai bentuk keyakinan atau agama, juga beragam bentuk rumah ibadah tempat penganutnya menghamba pada Sang Mahacinta, yang sejatinya sama-sama mengagungkan-Nya.Ia pun dapat mengambil atau menempuh semua jalan yang tidak ada bedanya jika mampu melihat esensi dari berbagai jalan itu melalui Agama Cinta.

 

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015, deputi direktur ICRP)

Bertemu Paus Fransiskus, Ulama Terkemuka Irak Dukung Kristen dan Muslim Hidup Damai

Senin, 8 Maret 2021

 

Bagdad – Ulama terkemuka Syiah Irak  Ayatollah Agung Ali al-Sistani mengatakan kepada Paus Fransiskus dalam pertemuan bersejarah di kota Najaf Irak pada Sabtu (6/3/2021) bahwa ia mendukung umat Kristen di negaranya hidup dalam ” damai”.

Diberitakan Kompas.Com, pertemuan itu berlangsung pada hari kedua dari jadwal kunjungan Paus di Irak untuk pertama kalinya, yang menandai momen penting dalam sejarah agama modern.

Meski sedang terjadi gelombang kedua virus corona dan ancaman keamanan, itu tidak menggentarkan Paus untuk mengunjungi Irak, tempat yang telah “lama ia nantikan”.

Tujuannya adalah untuk menghibur komunitas Kristen kuno di negara tersebut dan memperdalam dialognya dengan tokoh agama lainnya, seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (6/3).

Pertemuan antara dua tokoh agama berpengaruh itu berlangsung selama 50 menit di kantor al-Sistani. Tak lama setelah pertemuan itu, kantor al-Sistani mengeluarkan ucapan terima kasih kepada Paus 84 tahun itu atas kunjungannya di kota suci Najaf.

Melansir DW.Com (7/3), dalam pertemuan tersebut Pus Fransiskus juga mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan dan menyebut hal itu sebagai “penistaan terbesar”.

“Dari tempat ini, tempat lahirnya iman, dari tanah bapak kami Ibrahim, marilah kita tegaskan bahwa Tuhan itu penyayang dan bahwa penistaan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita,” ujar Paus Fransiskus di Ur, tempat kelahiran Ibrahim.

Al-Sistani (90 tahun) “menegaskan perhatiannya terhadap warga Kristen yang harus dapat hidup seperti semua warga Irak dalam perdamaian dan keamanan, serta dengan hak konstitusional penuh mereka”.

Kunjungan pemimpin tertinggi Katolik Roma itu adalah salah satu hal menarik dari perjalanan empat hari Paus Fransiskus ke Irak yang dilanda perang, di mana Sistani telah memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan dalam beberapa dekade terakhir.

Butuh berbulan-bulan negosiasi yang cermat antara Najaf dan Vatikan untuk mengamankan pertemuan satu lawan satu.

“Kami merasa bangga atas apa yang diwakili oleh kunjungan ini dan kami berterima kasih kepada mereka yang memungkinkan,” kata Mohamed Ali Bahr al-Ulum, seorang ulama senior di Najaf, lansir beritasatu.com (7/3).

Paus Fransiskus dikenal sebagai pendukung kuat upaya dialog antaragama, telah bertemu dengan ulama Sunni di beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Bangladesh, Turki, Maroko, dan Uni Emirat Arab.

 

Siapa Ali Sistani?

Sementara itu, Sistani dihormati oleh sebagian besar dari 200 juta penganut Islam Syiah di dunia – minoritas di antara Muslim tetapi mayoritas di Irak. Dia merupakan tokoh nasional bagi warga Irak.

“Ali Sistani adalah pemimpin agama dengan otoritas moral yang tinggi,” puji Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, kepala Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan spesialis studi Islam.

Sebagai seorang teolog, Ali Sistani jelas mendukung keterbukaan terhadap dunia – tetapi dengan syarat yang jelas bahwa hal itu tidak membawa umat Islam yang beragama menjauh dari jalan yang benar.

“Berkat toleransi dan penghormatan Sistani terhadap kebebasan berpikir dan berdebat, Najaf, sebagai pusat keagamaan, menyaksikan era paling toleran dalam seluruh sejarahnya,” tulis ilmuwan politik Abbas Kadhim dan Barbara Slavin pada musim semi 2020 dalam sebuah studi untuk Atlantic Council, lembaga pemikir Amerika.

Al-Sistani secara fundamental cenderung ke posisi moderat. “Secara politis, dia tampil sebagai orang yang moderat dan pragmatis,” kata Eckart Woertz. “Inilah yang mendasari reputasi dan otoritasnya.”

Ketika pemerintah Irak mengeluarkan ultimatum kepada pasukan al-Sadr, al-Sistani menyuruh pengikutnya berbaris di luar masjid. Akibatnya pasukan al-Sadr meninggalkan gedung tersebut. Al-Sistani menjelaskan kepada Syiah Irak, bahwa tidak perlu melawan Amerika. Sebaliknya, mereka bisa bekerja sama dengan mereka.

Al-Sistani dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian pada 2005 dan lagi pada 2014.

Dia bertindak lebih tegas pada bulan Juni 2014, saat mengeluarkan fatwa, yang sangat terbatas pada prinsip mempertahankan diri, terhadap organisasi jihadi Sunni yang dikenal dengan ISIS. Warga harus mengangkat senjata dan “membela negara mereka, rakyat mereka, dan tempat-tempat suci mereka,” seorang juru bicara al-Sistani mengatakan di Karbala, yang menjadi kota umat Syiah. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Kompas.Com | DW.com | beritasatu.com

Bupati Pasaman: NU Pasaman Harus Jaga Kedamaian di Tengah Kemajemukan

Minggu, 7 Maret 2021

 

Pasaman – Bupati Pasaman, Benny Utama meminta pengurus NU untuk terus tetap berperan menjaga kehidupan yang damai dan berdampingan satu sama lain. Sekalipun warga Kabupaten Pasaman terdiri dari berbagai suku dan keyakinan agama yang berbeda.

Hal tersebut ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat masa khidmah 2020-2025 resmi dilantik, Sabtu (6/3) di aula lantai III Kantor Bupati Pasaman, Lubuk Sikaping.

Menurut Benny, seperti dilansir NU Online, warga Kabupaten Pasaman berasal dari berbagai suku seperti dari Minang, Batak, Jawa, Mandahiling, dan lainnya. Selain mayoritas beragama Islam, ada sebagian kecil beragama non-Muslim.

“Sudah sejak lama mereka hidup berdampingan dan saling hormati menghormati satu sama lain. Tidak pernah terjadi konflik satu sama lain. Hal ini menunjukkan masyarakat Pasaman mampu hidup berdampingan walaupun ada perbedaan,” ujarnya, kutip nu.or.id (6/3).

Karena itu, kehadiran NU dengan kepengurusan yang baru dilantik tentu tinggal melanjutkan memelihara kondisi yang damai, tentram, dan saling menghargai satu sama lain. “Pemerintah Kabupaten Pasaman sangat mendukung program-program yang dilakukan NU untuk kemaslahatan umat di Kabupaten Pasaman,” imbuh Benny.

Dikatakan Benny, organisasi NU merupakan organisasi Islam terbesar dan tertua di tanah air. Keberadaan NU dalam menjaga dan merawat kebangsaan patut diapresiasi. Atas dasar itu, kata dia, NU sangat dicintai oleh banyak orang. Siapapun bisa bergabung dengan NU untuk menjaga bangsa dan negara tetap utuh dan damai.

“Siapa pun bisa masuk, karena NU ini bukanlah partai politik. NU ini milik semua umat. Termasuk di Pasaman, nenek saya dulu juga penganut NU setia,” tandasnya.

Ia mengaku bangga, kepengurusan NU di Pasaman dipimpin barisan anak muda. Ini pertanda baik, agar NU ke depan mampu merawat keutuhan bangsa dan tetap menjaga tradisi serta kearifan lokal dengan baik.

Mengutip tulisan Muhammad Yusuf Aunur Sabri, Pemandu Kerukunan Umat Beragama Kankemenag Kab. Pasaman dalam laman sumbar.kemenag.go.id, berdasarkan data dari BPS Kabupaten Pasaman tahun 2016, ia menyebut penduduk Kabupaten Pasaman yang berdomisili di 12 kecamatan berjumlah 269.883 jiwa. Memiliki keyakinan atau memeluk agama yang berbeda yaitu Islam, Khatolik dan Protestan. Selain itu juga terdapat kemajemukan kesukuan/ budaya yaitu Minang, Mandailing, Batak dan Jawa serta sedikit lainnya.

Dari data yang diperoleh, pemeluk agama yang terbanyak di ranah Pasaman adalah Islam dengan jumlah  269.168 jiwa, sementara Protestan 200 jiwa dan Khatolik 65 jiwa. Begitu halnya dengan kesukuan secara persentase 90 persen dominasi suku minang, sedikitnya 9 persen batak dan mandailing dan 1 persen suku jawa bercampur dengan suku lainnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat Prof Ganefri menegaskan, salah satu tugas Nahdlatul Ulama adalah mensyiarkan ajaran Islam yang mayoritas dianut masyarakat Pasaman. Selain itu, NU perlu meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Kabupaten Pasaman. Demikian ini adalah pekerjaan rumah (PR) yang harus diperhatikan PCNU Pasaman.

“PCNU Pasaman harus menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan di Kabupaten Pasaman. Salah satunya di bidang pendidikan. Harus diakui, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pasaman masih berada di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan masih rendahnya partisipasi warga di bidang pendidikan. Karena itu, harus didorong dan dongkrak peningkatan partisipasi tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi,” tuturnya, kutip nu.or.id.

Sebagai Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), kata Ganefri, dirinya siap memberikan kesempatan kepada tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan pendidikan ke UNP. Setiap tahun rata-rata 10.000 mahasiswa diterima. Ada sebanyak 2.200 peluang beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi tapi kurang mampu.

“Kita berikan kesempatan kepada Bupati Pasaman dan PCNU Pasaman untuk mendorong anak-anaknya yang tamatan sekolah menengah melanjutkan pendidikan ke UNP dan meraih beasiswa tersebut,” tandasnya.

 

Enam Poin Jaga Kerukunan

Untuk terus menjaga kerukunan hidup beragama di ranah Pasaman menurut Muhammad Yusuf Aunur Sabri, perlu dilakukan diantaranya:

Pertama, menjunjung tinggi toleransi antar umat Beragama di Kabupaten Pasaman. Baik yang merupakan pemeluk Agama yang sama, maupun dengan yang berbeda Agama. Rasa toleransi bisa berbentuk dalam macam-macam hal. Misalnya seperti, pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain dalam interaksi sehari – harinya, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya mereka melakukan ibadah.

Kedua, Selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun dan tanpa melihat status orang tersebut. Jangan melakukan perlakuan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan. Misalnya, di suatu daerah mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi Anda yang memeluk agama lain, jangan lantas malas dan enggan untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbedaan agama.

Ketiga, hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan sopan kepada siapapun. Biasakan pula untuk menomor satukan sopan santun dalam beraktivitas sehari harinya, terlebih lagi menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama.

Keempat, Bila terjadi masalah yang membawa nama agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin dan damai, tanpa harus saling tunjuk dan menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak – pihak manapun.

Kelima, Diperlukan juga aktivasi FKUB sebagai wadah yang mempersatukan umat beragama, maka pemerintah daerah harus bersungguh-sungguh memfasilitasi dengan setiap tahunnya menganggarkan biaya operasional FKUB dalam APBD.

Keenam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman yang juga selaku pemerintah dalam membidangi persoalan agama dan keagamaan harus selalu memprogramkan bermacam kegiatan pembinaan antar tokoh dan pemeluk antar agama juga intra agama.

Jika keenam poin tersebut terlaksana, maka menurut Muhammad Yusuf, beberapa manfaat akan diperoleh yakni: terciptanya suasana yang damai dalam bermasyarakat; toleransi antar umat Beragama meningkat; menciptakan rasa aman bagi agama – agama minoritas dalam melaksanakan ibadahnya masing masing; dan meminimalisir konflik yang terjadi yang mengatasnamakan Agama. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: NU Online (nu.or.id), sumbar.kemenag.go.id

Paus Fransiskus Helat Misa Pertama di Irak

Minggu, 7 Maret 2021

 

Jakarta – Paus Fransiskus menghelat misa publik pertama dalam perjalanannya ke Irak di Baghdad.

Dilansir CNN Indonesia dari AFP, ibadah dilakukan di gereja St. Josep, Baghdad tengah. Paus yang berusia 84 tahun tersebut memimpin liturgi pertamanya dalam ritus Timur.

Paus Fransiskus berangkat dari Vatikan ke Irak pada Jumat (5/3). Dia pun akan melakukan pertemuan dengan ulama Syiah, Ayatollah Ali Sistani dalam kunjungan bersejarahnya.

Mengutip Reuters, Paus diagendakan akan mengunjungi empat kota di Irak yakni ibu kota Baghdad, bekas pertahanan ISIS di Mosul yang menyimpan gereja dan bangunan lain saksi bisu konflik, tempat kelahiran Nabi Ibrahim di Ur, dan kota suci Najaf.

Menyambut kedatangan Paus, Irak mengerahkan ribuan personel keamanan untuk memberikan pengamanan selama kunjungan. Terlebih Irak digempur serangkaian serangan roket dan bom bunuh diri yang memicu kekhawatiran terhadap keselamatan Paus.

 

Pentingnya Perdamaian

Dikabarkan BBC News, dalam lawatannya Paus Fransiskus membahas keselamatan kelompok minoritas Kristen di Irak dengan seorang ulama Islam Syiah terkemuka, pada hari kedua lawatan bersejarahnya ke negara itu.

Kantor Ayatollah Agung Ali al-Sistani, pemimpin spiritual jutaan Muslim Syiah, mengatakan pembicaraan tersebut menekankan perdamaian. Sang Ayatollah menerima Paus di rumahnya di kota suci Najaf.

Kunjungan ke Irak merupakan kunjungan internasional pertama Paus sejak awal pandemi – dan lawatan pertama pemimpin Katolik dunia ke Irak.

Dalam perbincangannya dengan Paus, Ayatollah Agung al-Sistani “menegaskan kepeduliannya bahwa warga Kristen harus hidup dalam perdamaian dan keamanan seperti semua warga Irak, dan dengan hak konstitusional mereka secara penuh “.

Paus Fransiskus berterima kasih kepada Ayatollah karena telah “mengangkat suaranya untuk membela mereka yang paling lemah dan paling teraniaya” selama masa-masa paling kejam dalam riwayat Irak, lansir kantor berita Associated Press.

Pesan perdamaian pemimpin Syiah itu, katanya, menegaskan “kesucian hidup manusia dan pentingnya persatuan rakyat Irak”.

Paus Fransiskus setelah ini akan berangkat ke kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim, tokoh sentral bagi agama Islam, Kristen, dan Yahudi.

BBC News menyebut Komunitas Kristen di Irak, salah satu yang tertua di dunia, telah menyaksikan jumlah mereka merosot dalam dua dekade terakhir dari 1,4 juta hingga sekitar 250.000, kurang dari 1% populasi.

Banyak yang melarikan diri ke luar negeri dari kekerasan yang telah melanda negeri itu sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003, yang menggulingkan Saddam Hussein.

Puluhan ribu orang Kristen juga terusir dari rumah mereka ketika kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) menyerbu Irak utara pada 2014, menghancurkan gereja bersejarah, merampas properti mereka, dan memberi mereka pilihan untuk membayar pajak, masuk Islam, pergi, atau dihukum mati.

Bagi Vatikan, lawatan ke Irak menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi Paus Fransiskus untuk menemui langsung komunitas Kristen, berada di tengah-tengah mereka dan memberikan dukungan penuh.

Sebelumnya, di dalam pesawat menuju Irak, Paus mengatakan dirinya senang bisa melakukan perjalanan lagi, dan menambahkan, “Ini adalah perjalanan simbolik dan ini adalah tugas menuju tanah yang menjadi martir selama bertahun-tahun.”

 

Menyembuhkan Luka Irak

Menurut The New York Times, presiden Irak saat ini, Barham Salih, mengirim undangan untuk Paus Fransiskus pada Juli 2019 dengan harapan lawatannya bisa membantu menyembuhkan luka Irak, negara yang dikoyak-koyak perang selama bertahun-tahun.

Paus menerima undangan ini dan mengatakan bahwa dirinya tak ingin mengecewakan rakyat Irak, terutama komunitas Kristen di sana.

Vatikan memahami tantangan yang dihadapi Paus — baik faktor keamanan maupun situasi pandemi — tapi manfaat yang didapat dinilai jauh lebih banyak. Ini adalah kesempatan berharga bagi Paus untuk mendukung dan berada di tengah mereka, salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.

Beberapa jam setelah serangan roket ke sebuah pangkalan militer yang menampung pasukan AS pada Rabu (03/03), Paus menegaskan bahwa umat Katolik di Irak tidak boleh “dikecewakan kedua kalinya”. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: CNN Indonesia, BBC News, The New York Time

Ini Dia Tantangan Perlindungan HAM bagi Kelompok Rentan dan Marjinal di Indonesia

Jakarta – Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM RI, Beka Ulung Hapsara menjelaskan tantangan ke depan dalam pemenuhan hak asasi manusia bagi kelompok rentan dan marjinal di Indonesia. Tantangan pertama ialah terkait kebijakan diskriminasi dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan Aparat Penegak Hukum.

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi daring “Tackling Discrimination, Ending Inequalities : Mendorong Jaminan Perlindungan HAM yang Efektif bagi Kelompok Rentan dan Marjinal di Indonesia” yang diselenggarakan oleh The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), pada Rabu (03/03).

“Untuk pemerintah pusat, kita masih dapat mengontrol agar tidak keluar kebijakan yang diskriminatif. Tetapi, tantangan yang lebih besar adalah kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah. Khususnya, apabila kebijakan tersebut tidak tertulis, atau tidak kuat secara tata negara, tetapi sifatnya hanya instruksi. Tetapi, celakanya kebijakan tersebut dijadikan pegangan sebagai dasar untuk melakukan tindakan diskriminaitif. Kita harus mendorong kebijakan yang setara, melindungi warga negara,” ujar Beka seperti dikutip komnasham.go.id (5/3).

Apabila melihat dari tipologi aduan masyarakat ke Komnas HAM, beberapa tindakan yang paling banyak diaduakan ialah terkait kesewenangan dan penangkapan, dipersulit mendapatkan pendidikan, pembubaran pelatihan, kekerasan dalam proses hukum, serta pengusiran dan persekusi. Sementara itu, pihak yang paling banyak diadukan adalah Kepolisian, Pemerintah Daerah, ASN, dan Organisasi Masyarakat.

“Tantangan kedua ialah tindakan represif Aparat Keamanan. Ketiga, terkait kelompok intoleran. Kelompok intoleran ini mungkin tidak represif, tetapi kemudian mereka seperti mengambil jarak dan menyisikan sebagian orang yang dianggap beda,” ungkap Beka.

Beka, srperti ditulis laman resmi Komnas HAM RI, menjelaskan tantangan lain yang tidak kalah penting dalam pemenuhan hak asasi manusia bagi kelompok rentan dan marjinal di Indonesia, ialah menyangkut isu intoleransi dan konservatisme agama, serta terkait strategi pengorganisasian dan perlawanan yang dapat menjadi refleksi dalam pemenuhan HAM ke depannya.

“Semakin banyak kebijakan-kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang dibuat hanya berdasarkan pada nilai-nilai atau agama tertentu, dan hal ini tidak hanya terjadi disatu daerah saja. Seperti contoh, ketika pemimpin daerah membuat suatu kebijakan yang berdasarkan pada keyakinannya/agama yang dianutinya saja. Sementara itu, kita terkadang ada debat bagaimana menerapkan soal favoritism. Karena, ketika membuat suatu kebijakan, harus berdasarkan pada konstitusi kita, bukan pada satu agama tertentu,” terang Beka.

Turut hadir dalam diskusi, Komisioner Komnas Perempuan, Satyawanti Mashudi, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), Novita Puspitasari, dan Konsorsium Crisis Response Mechanism (CRM), Edison Butar Butar, dan dimoderatori oleh perwakilan Jaringan Transgender Indonesia, Rebecca Nyuei. [AN/komnasham.go.id)

Pembumian Pancasila, BPIP Ajak Millenial Bijak Gunakan Medsos

Jakarta – Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr. Rima Agristina, SH.,SE., MM. A mengatakan salah satu cara dalam membumikan Pancasila dalam tindakan adalah dengan bijak menggunakan sosial media (sosmed).

Hal itu disampaikannya dalam Workshop Digital Culture dengan tema “Peran Aktif Purna Paskibraka Indonesia Dalam Membangun Karakter Bangsa di Era Digital”, Jumat (5/3).

Kegiatan ini dilakukan secara Hybrid Event(luring dan Daring) dengan didukung oleh Narasumber dari artis milenial Tara Budiman, Yossi Project Pop dan Larasati.

“Ini menjadi satu terobosan dan juga berbicara dalam digital literasi dan kak tara dan kak yosi sudah hadir. dan mereka merupakan model kita yang bisa mengangkat konten konten positif”. terang  Rima di Perpustakaan Nasional.

Baca Juga : BNPT: Jangan Ada Lagi Orang Muda Jadi Teroris

Rima, seperti dirilis laman resmi BPIP,  mengungkap Tara Budiman dan Yosi bisa menjadi contoh dalam mengangkat konten konten positif, dan juga dengan menggunakan media sosial dengan berpancasila.

“Jadi kita disini saling sharing aja kemudian untuk mengajak generasi muda menggunakan media sosial dengan bijak dan berpancasila,”jelasnya.

Dalam acara ini, Publik figur Tara Budiman mengaku sangat senang dilibatkan kegiatan BPIP. Tara sangat menyadari bahwa dirinya merupakan sebagai penerus bangsa. hal itu dilakukan guna bisa mengantisipasi penyebaran berita hoax yang sering ditemui di media sosial.

“Di zaman sekarang, dari tahun 2018 kan banyak tuh berita hoax dan banyak sekali pertumpahan sehingga generasi muda sekarang saatnya menyadarkan kembali nilai nilai pancasila sendiri serta sangat senang dengan bisa berkreasi”, pungkas Tara.

Upaya pembumian Pancasila tentu tidak hanya dilakukan oleh BPIP. Sejumlah lembaga (NGO/CSO) juga secara intensif berperan serta. Misalnya Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Lembaga lintas agama yang sudah berkiprah selama 20 tahun lebih ini dalam upaya pembumian Pancisila dilakukan dengan beragam cara. Dari mulai diskusi, seminar, workshop, pelatihan hingga aksi sosial kemasyarakatan.

Yang sejak awal pa demi Covid-19 adalah dengan berjejaring membentuk Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC), yang secara berkala menerima dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. [AN]

Sedikit tentang Burma dan Myanmar

Jakarta – Ini soal lain tentang Burma dan Myanmar. Ada beberapa teman yang menjadi bagian dari demonstran saat ini, dan salah satu temen dikabarkan ikut ditangkap aparat di sana. Jadi kepikiran soal Burma (orang sana membacanya Bama) dan Myanmar (orang sana membacanya Myanma. R-nya menguap).

Saya berteman dengan beberapa aktivis dari beberapa negara bagian di Myanmar. Karen, Karenee, Shan. Sebagian tinggal di pengungsian karena sampai hari ini tidak mau mengakui Junta Militer sebagai pemerintahnya. Sebagian malah mantan combattan yang berperang gerilya melawan junta militer di negara bagiannya masing-masing. Saya pernah 3,5 bulan tinggal bersama sebagian dari mereka dalam satu Ashram.

Mungkin sampai hari ini, pasukan gerilya yang tinggal di hutan-hutan masih ada. Teman-teman saya yang mantan gerilyawan adalah yang sekarang berjuang untuk para pengungsi dan perjuangan damai melawan pemerintah Junta.

Rata-rata mereka juga bukan bagian dari barisan perjuangan Aung San Suu Kyi, karena mereka menganggap Suu Kyi tidak sedang memperjuangkan kepentingan mereka, dan Suu Kyi adalah putri dari Jendral Aung San, salah satu aktor yang dianggap melakukan klaim sepihak dan manipulatif bahwa beberapa negara bagian itu adalah bagian dari Burma waktu itu. Meski jika Suu Kyi memimpin Myanmar nasib mereka mungkin akan berubah, namun kepentingan utama mereka bukan di situ.

Nah, karena gerilyawan bersenjata di beberapa negara bagian ini tak kunjung bisa “dihabisi” oleh Junta dan kekeuh dengan perlawanannya, pada tahun 1989 pemerintah Junta mengganti nama negara Burma menjadi Myanmar. Memang ini menjadi salah satu isu perlawanan penting di beberapa negara bagian.

Nama Burma diambil dari suku dominan terutama di Yangoon dan sekitarnya. Karena itu, ketika digabung menjadi satu negara Burma, masyarakat Shan, Karen, Karenee dan beberapa negara bagian lainnya merasa di-Burma-kan. (Bayangkan kalau Indonesia dulu nema negaranya “Jawa”, orang-orang non Jawa dengan mudah akan membangun narasi perlawanan untuk meolak di-Jawa-kan).

Nah, penggantian nama Burma menjadi Myanmar secara umum memang berpengaruh pada mereka. Ketika kita bicara sama mereka, kira-kira mereka akan menegaskan: I’m not a Burmese. And I don’t want to be a Burmese. Kalau disebut berasal dari Myanmar atau orang Myanmar, mereka masih bisa terima.

Meskipun ada kontroversi lain soal pergantian nama ini yang tidak diterima oleh Amerika dan Inggris waktu itu, karena mereka tidak mengakui Junta Militer.

Nah, saya pengen ngomong itu aja, bahwa sebagian dari temen-temen saya itu sensitif jika disebut sebagai “orang Burma”. Meskipun, secara umum dua kata itu secara internasional juga digunakan.

Anick HT, aktivis kebebasan beragama

 

Baca Juga : Komunitas Internasional Kecam Kasus di Myanmar