Pos

Ini Dia Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

Selasa, 23 Maret 2021

 

Jakarta –Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata kuliah wajib yang selalu ada di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ketentuan ini berdasarkan Pasal 35 Ayat 5 Undang-undang No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Pasal tersebut menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah pendidikan agama, pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, pendidikan Pancasila adalah pendidikan ideologi di Indonesia.

Tujuan pendidikan Pancasila, ulas laman BPIP (19/3),  dapat membentuk warga negara yang baik dan paham akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta memiliki rasa cinta dan nasionalisme terhadap negara Indonesia.

Baca Juga : Mendikbud: Pengajaran Pancasila Tak Sekadar Hafalan

Liputan6.com, yang dikuti pula bpip.go.id, telah merangkum dari berbagai sumber tujuan pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi disertai dengan landasan pendidikan Pancasila, Jumat (19/3).

Untuk mengetahui tujuan pendidikan Pancasila, perlu pahami dulu landasan pendidikan Pancasila. Terdapat empat landasan pendidikan Pancasila yaitu landasan historis, landasan kultural, landasan yuridis, dan landasan filosofis. Berikut penjelasannya:

 

 

Landasan Historis

Landasan Historis adalah fakta-fakta sejarah yang dijadikan dasar bagi pengembangan pendidikan Pancasila, baik menyangkut formulasi tujuan, pengembangan materi, rancangan model pembelajaran, dan evaluasinya.

Berdasarkan landasan historis, pancasila dirumuskan dan memiliki tujuan yang dipakai sebagai dasar Negara Indonesia. Proses perumusannya diambil dari nilai-nilai pandangan hidup masyarakat.

Fakta historis tersebut membentang mulai dari kehidupan prasejarah, sejarah Indonesia lama, masa kejayaan nasional, perjuangan bangsa Indonesia melawan sistem penjajahan, proklamasi kemerdekaan, hingga perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

 

Landasan Kultural

Landasan kultural adalah pengembangan pendidikan Pancasila didasarkan atas nilai-nilai yang diagungkan, dan karenanya disepakati dalam kehidupan nasional. Pancasila merupakan salah satu pencerminan budaya bangsa, sehingga harus diwariskan ke generasi penerus.

Secara kultural unsur-unsur Pancasila terdapat pada adat istiadat, tulisan, bahasa, slogan, kesenian, kepercayaan, agama, dan kebudayaan Indonesia secara umum. Pendidikan Pancasila memelihara dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila yang telah dan terus disepakati tersebut.

 

Landasan Yuridis

Landasan Yuridis menyangkut aturan perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan Pendidikan Pancasila. Pancasila secara yuridis konstitusional telah secara formal menjadi dasar negara sejak dituangkannya rumusan Pancasila dalam pembukaan UUD 1945.

Secara hierarkis, landasan yuridis dapat ditelusuri dari UUD 1945, Ketetapan MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, Keputusan Direktur Jenderal, dan lain-lain.

 

Landasan Filosofis

Landasan filosofis adalah penggunaan hasil-hasil pemikiran filsafat Pancasila untuk mengembangkan Pendidikan Pancasila. Secara praktis nilai-nilai tersebut berupa pandangan hidup (filsafat hidup) berbangsa.

Pancasila yang merupakan filsafat negara harus menjadi sumber bagi segala tindakan para penyelenggara negara, menjadi jiwa dari perundang-undangan yang berlaku bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tujuan pendidikan Pancasila menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional yang juga tercantum di dalam SK Dirjen Dikti. No.38/DIKTI/Kep/2003, ialah guna menunjukan arah tujuan pada moral dan diharapkan dapat terealisasi di kehidupan bermasyarakat setiap hari.

Yakni tingkah laku yang memperlihatkan iman serta taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (keyakinannya masing-masing), bertingkah-laku kerakyatan dengan selalu mendahulukan kepentingan umum. Tujuan pendidikan Pancasila menjadi sebuah sarana dalam mengerti, memahami, serta mendalami makna Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia.

 

Tujuan Umum Pendidikan Pancasila

Mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat amat penting. Hal ini sesuai dengan cita-cita serta tujuan nasional yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

 

Tujuan pendidikan Pancasila secara umum diantaranya:

  1. Memiliki keimanan serta ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memiliki sikap kemanusiaan yang adil juga beradab kepada orang lain dengan selalu memiliki sikap tenggang rasa di tengah kemajemukan bangsa.
  3. Menciptakan persatuan bangsa dengan tidak bertindak anarkis yang dapat menjadi penyebab lunturnya Bhinneka Tunggal Ika di tengah masyarakat yang memiliki keberagaman kebudayaan.
  4. Menciptakan sikap kerakyatan yang mendahulukan kepentingan umum dan mengutamakan musyawarah untuk mencapai keadaan yang mufakat.
  5. Memberikan dukungan sebagai cara menciptakan keadaan yang berkeadilan sosial dalam masyarakat.

 

Tujuan Pendidikan Pancasila di PT

Adapun tujuan pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi adalah untuk:

  1. Memperkuat Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan ideologi bangsa melalui revitalisasi nilai-nilai dasar Pancasila sebagai norma dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  2. Agar mahasiswa dapat mengembangkan karakter manusia Pancasilais dalam pemikiran, sikap, dan tindakan.
  3. Memberikan pemahaman dan penghayatan atas jiwa dan nilai-nilai dasar Pancasila kepada mahasiswa sebagai warga negara Republik Indonesia, serta membimbing untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  4. Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menganalisis dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui sistem pemikiran yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD RI Tahun 1945.
  5. Membentuk sikap mental mahasiswa yang mampu mengapresiasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kecintaan pada tanah air dan kesatuan bangsa, serta penguatan masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan bermartabat berlandaskan Pancasila, untuk mampu berinteraksi dengan dinamika internal dan eksternal masyarakat bangsa Indonesia.

 

Implementasi Pancasila melalui PKn

Dalam tulisannya Dr. Winarno Narmoatmojo, M Si Para   informan   pakar   pada   umumnya   sependapat   bahwa   pendidikan kewarganegaraan  berkaitan  dengan  Pancasila  yakni  pendidikan  kewarganegaraan di Indonesia bertugas membelajarkan Pancasila kepada para siswa. Namun kaitan antara  pendidikan,  pendidikan  kewarganegaraan  dan  Pancasila  lebih  dari  sekedar hal  tersebut.

“Bahwa  Pancasila    itu  menjadi  dasar,  asas  bagi  pendidikan  nasional dan  Pancasila  itu  ada  dalam  PKn.  PKn  secara  umum  bertugas    mendidik  warga negara agar paham dan menjadi warga negara  yang baik,” tuturnya dalam artikelnya berjudul Implementasi Pancasila Melalui Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia. (ppkn.fkip.uns.ac.id).

Menurutnya, dengan menyampaikan Pancasila melalui pendidikan kewarganegaraan mendidik agar warga negara tahu local wisdom, pengalaman sejarah, sistem kenegaraan, sadar apa  yang ada dalam negara,  tahu  hak  dan  kewajibannya  sehingga  nanti  kita  tidak  kehilangan  jatidiri bangsa,  bukan  melulu  demokrasi.

“Sebenarnya  Pancasila  itu core dari  pendidikan kewarganegaraan  di  Indonesia.  Ia  menjadi  jatidiri  pendidikan  kewarganegaraan bukan melulu pendidikan demokrasi, “imbuh Winarno.

Dengan Pancasila ini, katanya lagi, PKn bicara dari sisi filosofi. Jadi isi Pancasila dimasukkan dalam PKn guna mendidik warga negara yang baik perlu tahu filosofi negaranya.

“Terdapat  kesepakatan  pandangan  bahwa  PKn memiliki  kaitan  dengan  Pancasila.  Kaitan  itu  adalah  Pancasila  menjadi  isi  atau muatan  PKn.  Denganmuatan  Pancasila  itu  akan  menjadikan  PKn  di  Indonesia memiliki  jatidiri  sebagai  pendidikan  yang  bertugas  membentuk  warga  negara yang baik untuk konteks Indonesia. Pancasila menjadi core-nya PKn di Indonesia,” tandas Dosen Prodi PKn, FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: bpip.go.id | Liputan6.com | ppkn.fkip.uns.ac.id

Hindu dan Pentingnya Merawat Kebhinekaan

Selasa, 23 Maret 2021

 

Oleh: Pitri Widyowati

 

Om swastyastu. Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai pulau Rote. Dari berbagai suku bangsa, yang memeluk agama yang berbeda, dengan budaya yang berbeda menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multiculture , berbagai macam suku bangsa agama dan budaya. Ini semua merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Masyarakat Indonesia sangat majemuk  dengan keanekaragaman agama, budaya, dan bahasa. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa berpotensi menjadi sumber konflik. Karenanya perlu dasar yang bisa mengikat semua anggota kelompok sosial yang berbeda-beda. Dasar negara Pancasila  adalah pilihan yang tepat dari para pendiri bangsa untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan lambang Burung Garuda dan Bhineka Tunggal Ika

Merawat Kebhinekaan

Pluralitas dan heterogenitas yang tercermin pada masyarakat diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan Bhinneka Tunggal Ika . Semboyan ini bersumber dari Kakawin Suta Soma yang ditulis oleh  Mpu Tantular: Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua)

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, merawat kebhinekaan menjadi sebuah kewajiban bagi umat Hindu. Ini ditegaskan dalam Sloka Bagavad Gita Bab IV Sloka 11: Bagaimanapun (jalan) manusia mendekatiku , aku terima wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.

Sloka dari Bagavad Gita tersebut memberikan ajaran yang sangat jelas bahwa  Tuhan tidak diskriminasi, hanya memihak satu bangsa dan agama, melainkan mengajarkan adanya perbedaan jalan menuju kepada-Nya.

Ajaran Hindu juga mengenal filosofi Wasudhaiwa Kutumbhakam. Artinya, kita semua bersaudara. Dengan dasar inilah, perbedaan budaya dan agama tidak membuat umat Hindu menjadi terkotak-kotak dan saling curiga. Kita  tetap sebagai saudara.

Baca juga: Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di masa Pandemi

Ajaran lainnya adalah Tat Twam Asi, engkau adalah aku, aku adalah engkau. Sebagai sesama makhluk Tuhan yang sama-sama memiliki atman yang bersumber dari Brahman (Brahman Atman Akyam), rumusan ini membimbing kita mengasihi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri . Inilah jalan utama menuju masyarakat santih, kehidupan damai dan harmonis. Kita merasakan perasaan yang sama bila saudara kita tersakiti. Sehingga, kita tetap saling menjaga, melindungi, memahami satu sama lain. Jika demikian, niscaya kedamaian kita dapatkan.

Tat Twam Asi berarti selalu mengutamakan cinta kasih, bhakti, rela berkorban tanpa pamrih untuk menjaga  keharmonisan dalam kebhinekaan

Di masa Pandemi Covid -19, penyebaran virusnya tidak memilih siapa dan apa suku agamanya. Semua tersasar oleh virus ini. Dengan demikian, marilah kita saling menjaga, bahu-membahu, saling menolong tidak menyebarkan berita hoak yang dapat menciptakan suasana kegaduhan. Mari kita merawat kebhinekaan dengan terus memupuk rasa persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan filosofi Vasudhaiwa Kutumbakam, bahwa kita adalah bersaudara. Bhineka Tunggal Ika, bahwa berbeda-beda tetap satu juga. Loka samasta sukhina bhawantu, biarlah seluruh dunia Bahagia.

 

OM Santih Santih Santih Om

Pitri Widyowati, Rohaniwan Hindu

 

Sumber: kemenag.go.id

Wapres: Solidaritas Kebangsaan Diperlukan untuk Atasi Pandemi

Sabtu, 20 Maret 2021

 

Jakarta – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menuturkan bahwa solidaritas kebangsaan diperlukan agar pandemi segera berakhir.

“Kita saat ini berhadapan dengan kondisi luar biasa yang membutuhkan solidaritas kebangsaan, semangat berbagi di antara sesama anak bangsa serta ketakwaan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam,” ujar Ma’ruf dalam acara Doa Kebangsaan Lintas Agama untuk Keselamatan Bangsa dan Kerukunan Masyarakat Indonesia, yang diselenggarakan Kementerian Agama di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta, Kamis (18/3).

Diwartakan Kompas.com, Wapres mengapresiasi kegiatan doa lintas agama tersebut, yang sekaligus dapat mempererat persatuan dan kesatuan antarumat beragama. Doa bersama juga menjadi salah satu upaya penting dalam menghadapi masa sulit akibat pandemi ini.

Baca Juga : 12 Bulan, 12 Pelajaran Nilai dari Masa Pandemi

“Keimanan dan ketakwaan adalah energi rohaniah yang senantiasa memberi harapan dan optimisme agar musibah global ini segera diangkat Allah dari muka bumi,” imbuh Ma’ruf.

Program vaksinasi Covid19 yang tengah dilakukan saat ini juga disebutkan sebagai salah satu upaya penanganan penting.

Usaha tersebut memerlukan peran semua pihak agar mata rantai penyebaran virus tersebut dapat dihentikan dan pandemi segera berakhir.

“Tantangan dan cobaan seberat apapun akan terasa ringan bila kita beriman dan teguh bersatu padu. Sebaliknya, kondisi apapun akan terasa hampa dan hilang makna bila jiwa kita menjauh dari Tuhan dan hidup dalam perseteruan, kebencian, dan kecurigaan terhadap satu sama lain,” ungkapnya.

 

Penulis: Hana Hanifah

Sumber: Kompas.com, Antaranews.com

Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di masa Pandemi

Sabtu, 20 Maret 2021

 

Jakarta –Umat Kristen di seluruh Indonesia yang dikasihi Tuhan Yesus. Tema khotbah Mimbar Kristen hari ini adalah Yesus Kristus Sumber Kekuatan Kita di Masa Pandemi Covid-19. Tema ini didasarkan pada pembacaan Alkitab dari Yohanes 15:1-8;

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Demikianlah pembacaan Alkitab, Tuhan Yesus berkata: “Yang Berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya.” (Lukas 11:28)

Umat Kristen di seluruh Indonesia. Kita semua mengalami dampak Covid-19 dan banyak dari kita yang sudah mendengar bahwa dalam menghadapi Covid-19 kita perlu melakukan 3 wajib yaitu wajib iman, wajib aman, dan wajib imun. Wajib aman kita harus memakai masker secara benar, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, selalu menjaga jarak, membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan atau tidak menyebabkan kerumunan.

Baca Juga : Hindu dan Toleransi Kehidupan Beragama

Wajib imun, kita wajib berolah raga secara teratur, makan makanan bergizi, tidur cukup supaya kita kuat. Lalu bagaimana dengan wajib iman? Wajib iman artinya kita harus kuat di dalam Tuhan sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 6:10, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

Karena itu kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa kuat hubungan kita dengan Tuhan Yesus Kristus? Apakah dalam pergumulan kita menghadapi Covid-19 ini kita memiliki keyakinan atau iman yang kokoh di dalam Yesus Kristus Tuhan kita?

Injil Yohanes 15:1-8 yang sudah kita baca tentu tidaklah asing bagi kita umat Kristiani. Kita sudah sering membaca dan mendengarkan khotbah dari Firman Tuhan ini. Namun pada kesempatan ini, kita kembali membaca, kita kembali memperhatikan dan merenungkan Firman Tuhan ini.

Injil Yohanes 15:1-8 ini menggambarkan hubungan Tuhan Yesus dengan para muridnya, Tuhan Yesus sebagai Pokok Anggur dan para muridnya adalah ranting-rantingnya. Sebagai Pokok Anggur, Yesus adalah sumber kekuatan bagi para murid yang adalah ranting-ranting.

Demikian juga kita sebagai pengikut Kristus. Kekuatan kita dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan di dalam hidup ini, terutama dampak dari Covid-19 ini, kekuatan kita hanya datang dari Yesus Kristus. Ranting-ranting hanya mendapat kekuatan untuk hidup dari pokok anggur. Demikian juga kita, kita hanya mendapat kekuatan dari Yesus Kristus Tuhan kita.

Ayat 1-5 dari bacaan ini menekankan bahwa Yesuslah sumber kekuatan kita. Sebagaimana ranting tidak mungkin berbuah jika tidak melekat dan tertanam pada pokok anggur, demikian juga kita tidak dapat berbuah jikalau tidak kokoh tinggal tetap di dalam Yesus Kristus atau bersekutu erat dengan dia sumber kehidupan dan kekuatan.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk tinggal tetap di dalam Dia, sumber kekuatan kita supaya kita berbuah banyak. Istilah berbuah banyak disebutkan di ayat 5 dan ayat 8. Di ayat 8 disebutkan “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Artinya Bapa menghendaki kita para pengikut Kristus supaya berbuah banyak. Di ayat-ayat selanjutnya, ayat 9-17 disebutkan mengenai buah-buah rohani yang dimaksudkan yakni sukacita dalam kasih Kristus dan saling mengasihi sesuai perintah Tuhan.

Umat Kristen di manapun berada. Di masa Pandemi Covid-19 ini, kita sangat memerlukan sukacita di dalam kasih Kristus. Di ayat 11, Tuhan Yesus mengatakan “Semuanya itu Ku-katakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Tuhan Yesus adalah sumber dari sukacita yang kita perlukan di masa pandemi ini karena Dialah sumber kekuatan kita.

Selanjutnya kita membaca mengenai buah kasih, saling mengasihi. Mulai ayat 9 sampai dengan ayat ke 17 disebutkan mengenai saling mengasihi. Saling mengasihi sebagai wujud ketaatan kita kepada perintah Yesus Kristus. Di ayat 17, Tuhan Yesus berkata, “Inilah perintahku kepadaMu, kasihilah seorang akan yang lain, betapa kita memerlukan atau membutuhkan buah kasih, saling mengasihi di masa pandemi Covid-19 ini.”

Pemirsa Mimbar Kristen. Wajib aman (pakai masker secara tepat, menjaga jarak, mencuci tangan, membatasi mobilisasi, menjauhi kerumunan), semua itu dengan mudah dapat dijalankan, jika kita meningkatkan wajib iman. Karena iman kita kepada Tuhan Yesus yang berwujud, yang nyata di dalam hubungan erat dengan Dia akan membuahkan sukacita di dalam kasih Tuhan dan kasih kepada sesama berdasarkan ketaatan kepada perintahNya.

Mungkin kita bertanya bagaimana supaya bisa berbuah banyak? Bagaimana supaya kita tetap memiliki sukacita dan tetap saling mengasihi secara terus menerus?

Ayat 7 bacaan kita memberi jawabannya. Di ayat 7, Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.” Perkatan Tuhan Yesus ini menekankan bahwa jika kita tetap tinggal di dalam Yesus Kristus, bersekutu  erat dengan Dia sebagai sumber kekuatan kita dan jika Firman-Nya tetap tinggal di dalam kita, maka kita akan selalu berdoa sesuai kehendak Bapa, yaitu berdoa supaya berbuah banyak untuk memuliakan Bapa.

Perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 15:7 ini mendorong kita untuk selalu bersekutu dengan Dia yang adalah sumber kekuatan kita. Misalnya, ibadah minggu, meskipun secara online, harus kita ikuti dengan sungguh-sungguh. Kita harus semakin tekun berdoa dan semakin erat bersekutu dengan Dia. Perkataan Tuhan Yesus ini juga mendorong kita untuk selalu membaca Firman Tuhan, membaca Alkitab secara teratur setiap hari. Tidak hanya membaca, kita juga mentaati perintah-perintahNya.

Umat Kristen yang Tuhan Yesus kasih. Marilah, kita melakukan 3 wajib yang dimulai dengan wajib iman supaya kita didorong untuk melakukan wajib aman dan wajib imun. Marilah kita mengevaluasi diri kita, sekuat apakah, sedalam apakah iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus, sumber kekuatan dalam kesulitan dan penderitaan termasuk dalam menghadapi dampak dari Covid-19.

Yesus Kristus adalah Imanuel (Matius 1:23), Dia adalah Allah yang menyertai kita, dalam kehidupan kita menghadapi kesulitan, tantangan, menghadapi Covid-19 ini dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, karena Dia menyertai kita selama-lamanya (Matius 28:20).

Marilah kita terus beriman hanya kepada-Nya, selalu bersekutu dengan Dia, dengan erat bersandar dan menyerahkan diri kita hanya kepada-Nya. Yesus Kristus sumber kekuatan kita hari ini sampai  selama-lamanya.. Amin

 

Penulis: Pdt. Dr. Jesias Frits Palandi, Ketua Umum Sinode Gereja Misi Injili Indonesia atau GMII

Sumber: kemenag.go.id | dimuat di laman Kementerian Agama RI, 21 Februari 2021

Hati yang Terjaga

Rabu, 17 Maret 2021

 

Jakarta – Wei De Dong Tian. Manusia diciptakan oleh Tian Tuhan Yang Maha Esa adalah sama; tidak memandang apa jenis kelaminnya, apa status sosialnya.

Semua diberi benih yang sama sebagai modal utama atau pertama. Benih yang diberikan adalah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan.

Benih-benih itu ada di dalam diri kita sejak kita lahir. Perkembangan dari benih-benih itu tergantung dari usaha kita sendiri. Bila kita mau mengembangkannya, dia akan berbuah. Sebaliknya, bila kita membiarkannya, dia akan layu dan bahkan akan mati.

Diibaratkan, saat akan menanam, kita akan membeli bibit yang terbaik karena mengharapkan buah yang banyak. Tetapi, bila kita tidak rajin menyiram dan memberi pupuk, buah yang diharapkan juga tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Baca Juga: Isra Mi’raj Kado Spiritualitas – Diperingati atau Dialami?

Jadi, benih kebajikan yang telah diberikan oleh Tian akan tumbuh atau tidak, tergantung dari usaha kita sendiri. Kita mau benih yang ada di dalam diri kita tumbuh dan berkembang atau kita akan membiarkan kosong dan mati.

Ini seperti yang tertulis pada kitab Ajaran Besar Bab I Jenny: 4 yang berbunyi, “Sesungguhnya untuk memperoleh Kegemilangan itu hanya tergantung pada usaha orang itu sendiri.”

Pernahkah kita mendengar ada orang yang berkata, “Memang sudah dasarnya tidak baik ya tidak baik bawaan sejak lahir.” Ataukah kita pernah melihat anak seorang penjahat tetapi tidak mengikuti jejak orangtuanya.

Benih-benih yang tumbuh dengan baik dapat kita lihat dalam keseharian kita, tercermin dalam sikap, perbuatan, dan polah pikir seseorang. Jika benih itu tumbuh dan berkembang dengan baik maka yang kita lihat adalah pribadi-pribadi yang penuh cinta, hangat dan menyenangkan. Sebaliknya, benih yang tidak tumbuh atau mati akan menjadi pribadi-pribadi yang selalu merugikan orang lain.

Bagaimana menjaga agar benih yang diberikan oleh Tian dapat tumbuh dengan baik? Hanya dengan cara membina diri itulah kita dapat menjaga benih-benih yang ada di dalam diri kita tumbuh dan berkembang dengan baik.

Apakah kita juga membutuhkan pupuk dan air untuk menumbuhkan benih-benih itu? Ya, pupuk dan air yang kita gunakan adalah Firman Tian yang dapat kita dengar melalui Sabda-Sabda Nabi Kongzi yang akan menuntun hidup kita.

Dengan sering membaca Kitab Suci dan mendengar Firman Tuhan, maka jiwa kita akan terisi, tidak menjadi kosong. Dan bila kita melakukan kesalahan, dengan sendirinya suara hati kita akan mengingatkan dan segera kembali ke jalan yang benar.

Sebaliknya, jiwa yang tidak pernah diberi pupuk akan tumbuh menjadi orang yang keras kepala, susah diatur dan mempunyai pribadi yang tidak menyenangkan. Hati nuraninya akan tertutup.

Benih-benih yang telah tumbuh dengan baik itu akan terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang sudah dibaca akan diimani akan terwujud dalam prilaku yang baik. Karena manusia itu harus hidup berdampingan dengan orang lain maka sikap untuk tetap menjaga hati itu sangat penting sekali.

Manusia tidak akan luput dari kesalahan. Tapi bila kita dengan cepat memperbaikinya, kesalahan itu merupakan pelajaran berharga bagi diri kita.

Pada situasi pandemi dan banyaknya bencana yang terjadi seperti sekarang ini, dalam keadaan yang sulit, baik di bidang ekonomi maupun sosial, segala gerak gerik kita sangat terbatas. Di sinilah hati kita akan diuji apakah kita masih di batas tengah.

Banyaknya pengganguran, usaha yang menurun drastis, masih adakah benih cinta kasih di dalam diri kita untuk membantu saudara kita yang lebih terpuruk?

Di dalam Kitab Ajaran Besar Bab X:20 berbunyi: “Seorang yang penuh Cinta Kasih menggunakan harta untuk mengembangkan diri. Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, mengabdikan dirinya untuk memupuk harta.”

Ayat ini mengajarkan kita untuk berbagi. Bila kita dalam keadaan mampu maka kita harus memberi sedekah dari sebagian harta kita untuk membantu mereka yang sedang kesulitan. Harta merupakan rejeki yang diberikan oleh Tian kepada kita dan sepatutnya kita mensyukuri apa yang sudah kita terima dengan cara berbagi.

Harta tidak harus berupa uang atau kekayaan. Tian memberikan kita tubuh yang sehat, punya akal pikiran  bisa kita gunakan untuk membantu saudara yang membutuhkan dengan cara mengumpulkan donasi, itu semua juga harta.

Memang kita mungkin tidak dapat membantu banyak, tetapi dengan membantu mengumpulkan donasi itu juga merupakan tindakan mulia. Jadi perbuatan baik bisa kita lakukan tidak perlu menunggu kita kaya dahulu atau kita sudah makmur. Pada intinya kita di samping cerdas hati juga harus cerdas pikiran.

Terkadang kita melihat ada orang yang memanfaatkan jabatan atau kedudukan dengan memupuk harta yang bukan menjadi haknya, misalnya melakukan tindakan korupsi. Karena melihat adanya peluang dan kesempatan, suara hati nurani dikalahkan oleh nafsu duniawi. Tidak berfikir akan akibatnya. Yang ada hanya penyesalan di kemudian hari.

Ini seperti yang tertulis dalam kitab Sabda Suci jilid VI:19 yang berbunyi : Nabi bersabda, “Hidup manusia difitrahkan lurus. Kalau tidak lurus tetapi terpelihara juga kehidupannya, itu hanya kebetulan.” Segala perbuatan yang tidak benar yang keluar dari Jalan Suci, cepat atau lambat pasti akan diketahui orang lain, meski sepandai pandainya kita merahasiakannya.

Jadi, betapa pentingnya kita merawat benih-benih suci dalam diri agar hidup kita senantiasa di dalam jalan yang benar. Bila hidup kita sudah di jalan yang benar, janganlah takut hidup kita menjadi susah atau terlantar.

Semoga Tian dan Nabi Kongzi senantiasa membimbing kita semua agar selalu dapat menjaga hati kita agar berkah. Tian senantiasa meliputi kita semua. Shanzai

Penulis: Js. Jenny Sudjiono, Penyuluh Agama Khonghucu

 

Sumber: Kemenag.go.id

Arif Menyikapi Perbedaan

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Oleh Ust. Fathoni Muhammad

 

Perbedaan adalah sunnatullah dan keragaman adalah kenyataan yang menunjukkan ke-Maha-Besar-an Sang Khaliq. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Allah berfirman:

Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa (QS. al-Hujurat: 13).

Ayat ini merupakan bentuk pengakuan mengenai realitas keberagaman, termasuk keberagaman di bidang keyakinan. Karena itu, keterbukaan, toleransi dan menghormati agama-agama lain merupakan aspek penting dalam Islam. Al-Quran menegaskan dengan jelas, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. al-Baqarah: 256), “dan bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. al-Kafirun: 6). Al-Quran juga memerintahkan kaum muslim agar tidak mencaci maki orang yang menyembah selain Allah karena mereka tidak tahu (QS. al-An’am). Al-Quran juga mengajarkan agar orang yang beriman menunjukkan rasa hormat kepada semua Nabi, bahwa “mereka semua beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-kitab Suci-Nya dan Nabi-nabi-Nya. Kami tidak membeda-bedakannya” (QS. al-Nisa’:150-151).

Inilah sebabnya, kaum Muslim menghormati seluruh Nabi hingga Nabi terakhir Muhammad Saw., apakah nabi-nabi itu namanya tercantum di dalam al-Quran maupun tidak. Al-Quran juga tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa surga tidaklah dimonopoli oleh sekelompok agama tertentu saja. Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berlaku baik (muhsin), dia akan mendapat pahala dari-Nya (QS. al-Baqarah: 112).

Saat ini sulit sekali menemukan suatu negara atau bangsa dengan warga negara yang berasal dari satu ras, satu agama atau satu ideologi saja. Ketunggalan suatu negara dalam satu ras, suku dan agama semakin jarang terjadi karena mobilitas penduduk yang kian meningkat. Perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain – baik karena alasan profesional maupun alasan personal melalui ikatan pernikahan – menunjukkan kecenderungan yang kian meningkat. Ini menyebabkan keragaman menjadi semakin tak terhindarkan.

Sebagai sunnatullah, perbedaan dan keragaman merupakan kehendak Allah Swt. Dalam beberapa ayat al-Qur’an disebutkan, antara lain:

Kalau saja Allah berkehendak, maka Ia akan jadikan mereka menjadi satu umat saja, tetapi ada orang yang dikehendaki-Nya masuk dalam rahmat-Nya, sementara orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun atau seorang penolong” (QS. Asy-Syura, 42: 8).

 “Jika Tuhanmu berkehendak, maka akan beriman seluruh orang di muka bumi  ini, apakah kamu mau memaksa orang-orang agar mereka beriman. Seseorang tidak akan beriman, kecuali atas izin Allah, dan Allah jadikan keburukan bagi orang-orang yang tidak berakal” (QS. Yunus, 10: 99-100).

Kita perlu bersikap arif menghadapi perbedaan dan keragaman, bukan semata-mata karena kehidupan ini penuh dengan keragaman, tetapi juga karena manusia tidak bisa lagi hidup sendiri di dunia jagat raya ini; semuanya saling terkait satu sama lain dan tidak bisa lagi mengelak dari pengaruh yang lain. Salah satu kemajuan penting abad dua puluh satu adalah kenyataan bahwa seluruh negeri-negeri ini telah menjadi tetangga kita berkat kemajuan teknologi informasi yang semakin menglobal.

Jika masalah keragaman tidak ditangani dengan serius di tengah gegap gempita pertemuan berbagai kebudayaan dalam peradaban global, maka perang peradaban bisa semakin dekat dengan kenyataan.

Baca juga: Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa: Pendeta dan Imam yang Mendamaikan Perbedaan

Menghargai Perbedaan, Menghindari Konflik

Realitas keragaman itu tentu tidak bisa dibiarkan apa adanya tanpa ada usaha mengembangkannya dalam suatu harmoni sosial. Sebab, jika tidak dikelola dengan baik, maka perbedan dalam keragaman dapat menjadi bibit-bibit konflik. Perbedaan budaya, bahasa, asal usul, etnis dan keyakinan memang tidak pernah betul-betul menjadi pemicu konflik. Tapi perbedaan dan keragaman seperti itu bisa menjadi kendaraan efektif bagi berbagai kepentingan yang dengan mudah menumpanginya. Perbedaan memang tidak menjadi masalah, tapi begitu kepentingan masuk ke dalamnya, maka perbedaan yang sebelumnya berupa rahmat bisa dengan cepat berubah menjadi laknat.

Karena itu, dibutuhkan sikap yang lebih menghargai perbedaan dan keragaman. Sikap yang tidak hanya mengakui adanya kelompok lain, tetapi juga memberi perlindungan terhadap kelompok lain yang terancam. sebuah sikap pro-aktif untuk menjaga harmoni sosial dalam realitas yang beragam.

Namun, dalam konteks agama, rupanya keragaman tidak semudah dalam konteks lainnya. Kita perlu memikirkan secara serius masalah perbedaan agama yang sering dijadikan sebagai satu-satunya identitas pembeda. Dalam identitas etnis, seseorang bisa saja separuh Cina dan sekaligus separuh Jawa, tapi dalam identitas agama, seseorang tidak bisa memiliki identitas separuh Islam atau separuh Budha misalnya.

Itulah sebabnya, cara pandang terhadap keragaman perlu diperbarui. Selama ini cara pandang keragaman agama terlalu ditekankan pada aspek normatif, bahwa ajaran agama sangat mendukung keragaman dengan mengutip sejumlah ayat kitab suci. Padahal, realitas yang ada dalam kitab suci sangat berbeda dengan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Ada jarak yang demikian lebar antara ajaran luhur kitab suci dengan realitas empiris di depan mata.

Jika kita gagal memperbaharui cara pandang ini, maka yang paling terancam sebetulnya adalah umat beragama itu sendiri. Sebab, jika satu kelompok agama terus hidup dalam komunitasnya sendiri sambil bersikap curiga dan menganggap kelompok agama lain sebagai musuh, maka yang akan terjadi adalah perang agama. Itulah sebabnya, kebenaran agama tidak cukup ditunjukkan hanya dengan ajaran yang terdapat dalam kitab suci, tetapi juga dibuktikan dengan keterlibatan agama itu sendiri untuk turut menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan yang kian hari kian kompleks.

Problem kemanusiaan yang kian kompleks tentu tidak mungkin diserahkan penyelesaianya hanya kepada satu komunitas agama. Dalam konteks seperti ini, mestinya kaum beriman sudah malampaui dialog dengan melakukan aksi nyata secara bersama-sama dalam rangka menanggulangi berbagai bentuk problem kemanusian.

 

Akhlaq dalam Perbedaan

Sebagai sunnatullah, tentu saja perbedaan memerlukan etika atau akhlaq. Sebab, jika perbedaan dibiarkan tanpa akhlaq, maka sangat mungkin perbedaan itu berubah dari rahmat menjadi laknat. Sudah menjadi tugas manusia sebagai khalifah fil ardl untuk memelihara dan melestarikan pesan moral dari hadits yang menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat.

Perbedaan dan keragaman bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan memang sudah disengaja oleh Allah Yang Maha Pencipta.

Kalau saja Tuhanmu berkehendak, maka Ia akan menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja, tetapi mereka akan tetap berselisih dan berbeda pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, Dan karena itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. (QS. Hud, 11: 118-119).

Sebagai hasil ciptaan ALLAH, tentu saja perbedaan dan keragaman mempunyai tujuan. Allah Swt menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya tidak sia-sia. Selalu ada tujuan dalam menciptakan mahluk-Nya. Salah satu tujuan diciptakan-Nya keragaman adalah agar manusia saling kenal dan saling tolong menolong.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat ayat 13)

Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita melihat bahwa perbedaan seringkali menjadi pemicu konflik. Perbedaan tidak dilihat sebagai rahmat, tapi justru dianggap sebagai bencana. Keragaman dianggap sebagai bencana. Dari cara pandang inilah lahir upaya-upaya untuk mengingkari perbedaan dengan cara penyeragaman. Karena menyalahi Sunnatullah, maka penyeragaman ini melahirkan konflik berkepanjangan, bahkan diwarnai kekerasan. Sudah berapa banyak nyawa dan harta melayang karena manusia tidak mampu mengelola perbedaan dan keragaman.

Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut melalui pendekatan toleransi. Sayangnya,  toleransi selama ini hanya difokuskan pada hidup berdampingan secara damai antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, tanpa ada usaha untuk membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka di antara kelompok-kelompok tersebut. Sehingga mereka hidup dalam ketidaktahuan satu sama lain.

Usaha dialog antar pemeluk agama juga sudah lama dilakukan, namun usaha ini lebih bersifat retorik ketimbang empirik. Upaya dialog biasanya lebih sering mencari titik temu ketimbang mencoba mengelaborasi keunikan masing-masing kelompok. Padahal, substansi toleransi bukan pada persamaan, tetapi justru pada pernghargaan terhadap perbedaan. Manusia bergaul akrab dengan yang lain bukan semata-mata karena adanya kesamaan, tetapi terutama karena adanya perbedaan yang menandai keunikan masing-masing. Akibat dialog yang hanya bersifat permukaan tidak mampu memberikan saling pengertian dan pemahaman mengenai keunikan masing-masing. Keunikan tetap tersembunyi di balik permukaan. Ironisnya, ketika terjadi dialog, masing-masing kelompok seringkali masih menggunakan bahasa agamanya sendiri-sendiri sehingga dialog yang berlangsung pun tak ubahnya seperti berbicara kepada diri mereka sendiri, bukan dengan kelompok lain yang berbeda.

Dialog semacam itu harus digeser dari upaya mencari persamaan ke upaya mengenali keunikan masing-masing. Dan, di atas itu semua, tentu saja dialog itu harus ditingkatkan lebih dari sekadar saling mengenal, tetapi juga dalam bentuk dialog kemanusiaan misalnya. Tema dialog yang mesti diangkat bukan tema-tema keagamaan, tetapi tema-tema kemanusiaan yang menyangkut kepertingan dan problem bersama.

Persoalan lainnya adalah bahwa  dialog antar-agama yang selama ini dilakukan hanya terjadi di kalangan elite agama tanpa melibatkan kelompok arus bawah. Padahal justru kelompok arus bawa lah yang seringkali bersentuhan secara riil dengan kelompok lain. Mereka hanya mengetahui kelompok lain berdasarkan prasangka, sehingga ketika terjadi persentuhan diantara mereka – apalagi jika kemudian diwarnai ketegangan – tentu saja akan sangat mudah memicu konflik diantara mereka.

Karena itu, yang paling penting sebetulnya adalah dialog di tingkat akar rumput. Karena di sanalah persinggungan yang sesungguhnya terjadi. Sudah saatnya kita sebagai khalifah fil ardl memulai usaha yang lebih serius untuk membumikan pesan moral dari tujuan diciptakannya keragama ini. Allah Swt menciptakan perbedaan bukan untuk saling bermusuhan, tetapi justru untuk berkenalan, belajar satu sama lain dan tolong menolong dalam kebaikan.***

Menapaki Jejak Agama Sikh di Nusantara

Kamis, 11 Maret 2021

 

Jakarta – Ada sebagian besar orang Sikh tercatat menetap di Sumatra Utara di mana mereka telah tinggal selama empat generasi. Ada sekitar 4.000 Sikh yang tersebar dari Medan, Binjai, Lubuk Pakam, Kaban Jahe, Kisaran, Siantar hingga Belawan.

Data per 2017, ada sekitar 7.000 orang Sikh di Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang, Bengkulu, Pekanbaru, Yogyakarta, Samarinda, Balikpapan sampai ke Batam.

Sejarah kedatangan orang-orang Sikh di Indonesia tercatat dalam buku The Sikh Diaspora, The Search for Statehood karya Darshan Singht Tatla. Orang-orang Sikh tercatat datang sebagai buruh, petani, sampai pedagang dan memiliki kuil sejak masa kolonial.

Pada pertengahan abad ke-19, orang-orang Sikh mulai berdiaspora ke berbagai penjuru di seluruh dunia. Daerah-daerah yang dituju oleh orang-orang Sikh adalah Eropa, Asia Tenggara, Australia sampai Amerika Utara.

Komunitas-komunitas Sikh yang berdiaspora tersebut kemudian berkembang pada waktu era kolonial. Orang Sikh kemudian melakukan migrasi sebagai buruh, pasukan keamanan, petani, dan pedagang.

Saat berdiaspora di Asia Tenggara, orang-orang Sikh kemudian tiba di Malaya yang menjadi pendaratan pertama mereka. Mereka kemudian dibawa oleh Inggris ke tanah Melayu pada 1873.

Tujuan awalnya adalah untuk memerangi pemberontak Tionghoa di pertambangan timah di Perak. Kemudian, orang-orang Sikh di sana direkrut dalam dinas pemerintah dan membentuk pasukan keamanan dalam kendali Inggris.

Pemerintah Inggris kemudian merekrut langsung orang-orang Sikh yang berasal dari Punjab. Lambat laun, komunitas orang Sikh di Malaya pun berkembang ke berbagai tempat di sepanjang Semenanjung Malaya.

Dari situlah orang-orang Sikh kemudian bermigrasi ke tempat-tempat di Asia Tenggara lainnya hingga ke Australia dan Selandia Baru. Dari Malaya, banyak orang Sikh yang kemudian pindah ke wilayah tetangga, Thailand atau Sumatra. Lainnya berangkat ke Australia dan Selandia Baru.

Orang-orang India kemudian dibawa oleh Belanda sebagai buruh kontrak di perkebunan yang berlokasi di sekitar Medan, Sumatra Utara pada abad ke-19. Mereka berasal dari India Selatan dan Utara dengan latar belakang agama Hindu, Muslim, dan Sikh.

Baca juga: Pedagang Arab: Pintu Gerbang Persebaran Islam di Nusantara

Menurut sumber lainnya, Swarn Singh Kahlon dalam Sikhs in Asia Pasific, Travel Among the Sikh Diaspora from Yangon to Kobe menuliskan bahwa permukiman Sikh telah ada di Sumatra sejak sekitar tahun 1898, setelah orang-orang Sikh direkrut sebagai pasukan keamanan wilayah Malaya.

Swan mencatat bahwa asal-usul Sikh Sumatra bukan sebagai orang yang direkrut di kepolisian seperti halnya di negara-negara tetangga, tapi lebih sebagai kawanan petani dan pengusaha kecil.

Pada akhir abad ke-19, cabang De Javasche Bank dibuka di Medan dan mata uang Belanda mulai diperkenalkan. Orang-orang Sikh kemudian dipekerjakan sebagai penjaga keamanan pada bank tersebut.

Populasi Sikh di Medan kemudian meningkat pada awal abad ke-20 dan mendirikan kuil Sikh atau Gurdwara pada 1911. Gelombang selanjutnya datang dengan jumlah yang signifikan pada 1920-an.

Sebagian besar orang Sikh bekerja sebagai petani dan memiliki usaha produk susu. Pada 1931, di dekat Gurdwara Medan, didirikan Sekolah Bahasa Inggris Khalsa yang merupakan sekolah Bahasa Inggris pertama di Medan.

Orang-orang Sikh dari Semenanjung Malaya pun mengirim anak-anak mereka ke sekolah tersebut sebab dianggap memiliki fasilitas asrama. Dari Sumatra, permukiman orang Sikh kemudian terlihat muncul di Batavia.

Pada mulanya, komunitas Sikh berkembang di daerah pelabuhan Tanjung Priok. Dua perusahaan Inggris, Ocean Liner dan General Motors juga membawa orang-orang Sikh sebagai penjaga. Ada juga orang Sikh yang bekerja sebagai penjaga toko milik sesama orang India.

Sebagian besar orang-orang Sikh di Sumatra datang langsung dari India. Sementara itu, orang-orang Sikh di Batavia atau Jakarta kebanyakan berasal dari negara-negara Melayu.

Jumlah orang Sikh di Indonesia kemudian meningkat pada 1925. Pada tahun yang sama, Gurdwara Tanjung Priok didirikan. Sebelum periode Perang Dunia II, ada 100 orang Punjabi dari 25 keluarga di Jakarta.

Sebagian besar dari orang-orang Sikh di Indonesia pada waktu itu adalah penjaga di malam hari dan rentenir di siang hari. Mereka menyimpan kereta kuda, yang mereka sewa ke orang Indonesia setempat untuk digunakan sebagai taksi setiap hari.

Pada masa kependudukan Jepang, orang India di Indonesia bisa dibilang makmur. Namun, pasca Perang Dunia II, banyak orang Sikh dan komunitas India lainnya yang pergi ke India dan Malaya. Keamanan menjadi alasan tindakan tersebut.

Tragedi terjadi pada periode revolusioner pasca perang di Jakarta yang menyebabkan kesalahpahaman tentang peran yang dimainkan oleh orang India dan terjadi kerusuhan. Di Jakarta Barat, ada sekitar dua puluh lima orang India, termasuk orang-orang Sikh, dibakar.

Pada November 1945, sebagian besar orang India pindah ke Pasar Baru untuk mencari perlindungan. Di Pasar Baru, para Sikh berhasil mempertahankan komunitas dan mendirikan Yayasan Sikh Gurdwara Mission pada 1955 yang masih aktif sampai saat ini.

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

 

Sumber: The Sikh Diaspora, The Search for Statehood

https://books.google.co.id/books/about/The_Sikh_Diaspora.html?id=rx1O0QxpkvkC&printsec=frontcover&source=kp_read_button&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

Najwa Shihab: Kita Memang Berbeda Tapi Kita Tetap Bersama

Selasa, 9 Maret 2021

 

Jakarta – Dalam Convey Day yang diselenggarakan oleh Convey Indonesia pada Jumat 5 Maret 2021, Najwa Shihab menceritakan tentang pengalaman toleransi dalam hidupnya.

Ia memulai pemaparannya dengan penyataan bahwa Indonesia harus memperkuat dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat toleransi merayakan perbedaan dan melihat keragaman sebagai kekayaan bangsa.

Bagi  Najwa, ada sekian hal yang bisa mempersatukan dan hal tersebut tak selalu yang indah dan menyenangkan. Kita bisa dipersatukan bahkan oleh permasalahan. Pandemi Covid-19 sebenarnya adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ternyata kita saling membutuhkan.

Betapa bersama adalah cara bertahan menyepakati perbedaan memang tidak gampang yang tumbuh secara instan. Dibutuhkan toleransi, sebuah kata yang seperti lalat terdengar dengung tapi tak selalu kita raih dan wujudkan.

Najwa melanjutkan, toleransi harus dialami dan diajarkan atau disosialisasikan salah satunya lewat pengalaman hidup menjadi minoritas. Najwa merasa beruntung pernah mendapatkan pengalaman idalam usia yang relatif muda.

Usia Najwa 16 tahun saat mengikuti program pertukaran pelajar, ia lalu hidup dan tinggal di Amerika Serikat.  Ia tinggal di keluarga penganut Katolik yang taat bahkan menjadi satu-satunya muslim di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Najwa terekspos dalam beragam situasi dan muncul banyak pertanyaan hingga tudingan. Ia juga merasakan langsung keterbukaan dan penerimaan termasuk disiapkan makanan sahur setiap malam oleh ibu angkatnya yang beragama Katolik, juga ditemani puasa, diantar ke masjid di luar kota yang jauh untuk salat dan merayakan lebaran bersama komunitas muslim.

Baca Juga: Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Namun di sisi lain, Najwa mengaku pernah dibully saat salat di perpustakaan sekolah. Ia selalu diajarkan oleh orang tua untuk tidak boleh pilih-pilih teman. Ia memperoleh pelajaran tersebur dari didikan sang kakek, Habib Abdurrahman Shihab.

Najwa bercerita bahwa sejak dulu, rumah Abi di Makassar memang selalu dengan sahabat-sahabat habis dari berbagai kalangan termasuk para non-muslim. Keluarga Najwa selalu berinteraksi dengan beragam kalangan.

Sang Habib Abdurrahman Shihab juga mengajarkan anak laki-laki berjalan bersama ke masjid masjid. Biasanya, Habib meminta anak-anak Masuk dari pintu yang berbeda-beda.

Hal tersebut adalah salah satu cara Habib mengajari anak-anaknya untuk melihat segala sesuatu secara seksama tidak hanya dari satu sisi tidak sepotong-sepotong.

 

Pentingnya Sikap Toleran

Dalam ritual keagamaan, Najwa juga mengatakan bahwa Abi menekankan titik pentingnya sikap toleran dan menjauhi fanatisme kebenaran dalam agama yang bisa beragam. Satu-satunya cara untuk hidup harmonis adalah mengedepankan toleransi tanpa melunturkan keyakinan.

Habib Abdurrahman juga tahu pentingnya menuntut ilmu dan pendidikan tinggi. “Abah tidak akan meninggalkan harta buat kalian tapi semoga bekal pendidikan dapat Abah usahakan.” Kata Najwa.

Cinta ilmu dan pentingnya bergaul dengan beragam kalangan itu jugalah nilai yang dijunjung tinggi oleh Habib Quraisy. Hasil didikan itu pula yang diajarkan kepada Najwa beserta kakak dan adiknya.

Najwa diizinkan pergi setahun ke Amerika Serikat saat masih remaja padahal banyak orang yang berkata pada saat itu, “anak perempuan remaja kok dibolehkan ke Amerika, tinggal dengan orang yang tidak dikenal, nonmuslim lagi,” ujar Najwa melanjutkan ceritanya.

Najwa Shihab melanjutkan bahwa ia beruntung menjadi wartawan selama 17 tahun sebab punya kesempatan untuk melihat langsung peristiwa yang memengaruhi lanskap dunia. Ia juga melihat dari dekat aksi terorisme, bencana alam, perang konflik dan lain sebagainya.

Bagi Najwa, hidup di dunia sangatlah kompleks. Karenanya, kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beragam itu sangat penting. Ia percaya bahwa pemimpin masa kini dan masa depan adalah orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi melampaui batas-batas budaya.

Selain itu, bukan hanya sebatas jago berbahasa asing tapi juga peka terhadap sensitifitas budaya lain, punya insting untuk selalu mencari common ground, memiliki pikiran yang terbuka dan perspektif yang luas.

Pengalaman Najwa memungkinkannya untuk berbicara dengan sosok-sosok yang tidak biasa dengan latar belakang dan situasi beragam. Kadang-kadang ekstrem mulai dari pemimpin yang berpengaruh, presiden, aktivis, pahlawan, penyintas, tapi juga ia berbincang dengan koruptor dengan hukuman mati.

Dari pertemuan tersebut, Najwa mulai mengenali karakter dari sosok-sosok tersebut. Sosok pemimpin yang dicintai rakyat atau orang-orang biasa yang punya determinasi luar biasa.

Bagi Najwab, mereka adalah kepala-kepala yang mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak atau melihat dari perspektif yang berbeda dan sadar masing-masing dari kita adalah orang yang perlu mencari gol bersama yang mempersatukan.

Najwa menutup pemaparannya dengan kalimat ajakan sebagai berikut: “Teman-teman, mari memulainya dengan sederhana. Menyadari ada sejuta fakta yang tak bisa dilihat hanya dari sepasang mata. Kita memang berbeda tapi kita tetap bersama.” [ ]

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Editor: A. Nurcholish

Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Kabar Damai | Senin, 8 Maret 2021

 

Fakfak | kabardamai.id | Sejak dulu Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan toleransi yang tinggi. Berbeda-beda tetapi tetap satu, nilai toleransi ini dapat dijumpai dalam budaya suku-suku dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya adalah nilai toleransi ala Satu Tungku Tiga Batu di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Haru Suroto, menyebutkan, terdapat tiga agama di Fakfak, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen Protestan, yang dianggap sebagai agama keluarga. “Sehingga muncul semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati Satu Saudara’ untuk mempererat harmonisasi antar sesama,” ujarnya kepada Tempo.Co (18/1/20).

Dalam ulasan Tempo, Satu Tungku Tiga Batu mengandung arti tiga posisi penting dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama. Ketiga batu ini, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak yang sama, posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

“Tungkunya berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan untuk memasak,” kata dia.

Menurut dosen antropologi  itu, kemajemukan masyarakat Fakfak tetap memandang dirinya berasal dari satu rumpun kerabat, satu leluhur jauh sebelum ketiga agama tersebut berkembang di Fakfak. Hal itu juga lazim dijumpai di Fakfak dalam suatu keluarga, terbagi ke dalam tiga agama berbeda.

Salah satu bukti adanya toleransi agama di Fakfak, adalah Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870, arsitektur masjid ini sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Rumah ibadah muslim ini merupakan wujud dari nilai Satu Tungku Tiga batu, yang dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik. “Jika dilihat dari kejauhan, masjid terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa,” tutur Hari.

Pada 1870, Islam, Kristen Protestan, Katolik sudah menjadi tiga agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar. Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu adalah ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan seimbang untuk menopang kehidupan keluarga.

Hari menjelaskan bahwa mereka—masyarakat Fakfak—tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu, atau pun perselisihan terkait agama. “Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebagai bentuk keberagaman dan kebinekaan yang ada di Indonesia,” kata arkeolog yang berusia 40 tahun itu.

Hal yang sama diceritakan oleh budayawan Fakfak Abbas Bahambah (61) kepada Kompas.Com.

“Kita berasal dari satu rahim mama, jangan sampai terpecah hanya kerena perbedaan. Kekerabatan harus dijaga karena kekerabatan usianya lebih tua dibandingkan agama yang kita kenal saat ini,” ujarnya, kutip Kompas.com (20/8/19).

Hal itu ia ungkapkan sebagai cermin kuatnya toleransi di Fak-fak, Papua Barat. Ia menceritakan masyarakat Fakfak memiliki filosofi satu tunggu tiga batu yang dikenalkan nenek moyang mereka sejak zaman dulu.

Satu tungku tiga batu adalah dasar kerukunan di Fak-fak, Papua Barat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari “kau”, “saya” dan “dia” yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona

Dalam buku Jati Diri Perempuan Asli Fakfak yang ditulis Ina Samosir Lefaan dan Heppy Leunard Lelapary menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu adalah pengejawantahan dari filsafat hidup etnis Mbaham Matta Wuh yang disebut Ko, on, kno mi mbi du Qpona yang artinya adalah kau, saya dengan dia bersaudara.

Filosofi ini, masih dalam ulasan Kompas,  mengarah kepada adat, agama dan pemerintah.

Etnis Mbaham Matta Wuh adalah masyarakat adat tertua yang ada di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua. Fakfak juga menjadi salah satu kota tertua di provinsi tersebut.

Di buku itu, Lefaan dan Lelapary juga menjelaskan, Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau yang dikenal satu tungku tiga batu mengandung arti yang sama, tiga posisi penting dalam kekerabatan etnis Mbaham Matta Wuh.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau satu tungku tiga batu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima.

Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari kaki rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.

Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat.

Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Ketiga batu yang sama kuat itu, dilambangkan sebagai tiga pihak yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang.

Nama Fakfak diyakini berasal dari kata pakpak yaang berarti tumpukan batu berlapis yang banyak ditemui di sekitar wilayah pelabuhan.

Fakfak kemudian menjadi identifikasi diri warga asli yang bermukim sejak masa nenek moyang yang ditandai dengan nama marga sebagai identitas dan digunakan hingga saat ini.

Lalu mereka disebut “anak negeri” untuk membedakan dengan pendatang dari luar wilayah Fakfak, baik dari dalam maupun luar Papua.

“Penduduk Fakfak mayoritas beragama Islam, berbeda dengan wilayah lain di Papua. Bahkan ada yang menyebut bahwa Fakfak adalah serambi Mekkahnya Indonesia, tapi toleransi di sini sangat tinggi,” jelas Abas kepada Kompas.com.

Ia mencontohkan saat perayaan hari raya Idul Fitri, umat Nasrani yang akan menjadi panitianya. Demikian juga sebaliknya, saat Natal, maka umat Islam akan ikut mengurus acara perayaannya.

Termasuk saat pemberangkatan jamaah haji asal Fakfak atau upacara pentahbisan di gereja, Abbas mengatakan semua umat lintas agama akan ikut terlibat.

“Yang membedakan adalah ritual keagamaan. Yang agamanya beda tentu tidak akan terlibat pada ritualnya. Setiap hari raya kita juga pelesiran, berkunjung atau bersilaturhami karena dalam satu marga keluarga ada beberapa agama di dalamnya. Ini adalah bentuk kerukunan,” terang Abbas.

Kerukunan antar-umat beragama juga terlihat saat masuk bulan Safar dalam kalender Islam. Semua umat lintas agama mengikuti tradisi mandi safar dengan saling menyiram air serta menggelar makan bersama.

Selain itu, jika ada masalah atau konflik yang terjadi di masyarakat, maka akan diselesaikan secara adat. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Tempo.co | Kompas.com

Para Waria Belajar Agama di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta

Yogyakarta – Pesantren Al Fatah Yogyakarta adalah tempat bagi para waria untuk belajar agama. Pesantren tersebut juga sekaligus menjadi bukti bahwa waria juga perlu beribadah. Waria juga manusia yang memiliki hak untuk beribadah.

Stigma kerap menerpa para waria dan membuat para waria minder untuk bisa masuk masjid atau musala untuk melaksanakan ibadah. Alih-alih belajar agama, para waria justru menghindari beribadah dengan banyak orang demi menghindari tuduhan, fitnah, dan stigma yang dialamatkan kepada mereka.

Untuk itu, Pesantren Al Fatah sengaja dikhususkan sebagai tempat para waria belajar agama. Di pesantren tersebut, ada sebuah pendopo utama rumah lawas berbentuk Joglo. Ruangan tersebut dijadikan sebagai tempat di mana pusat kegiatan pesantren dilakukan.

Dalam pendopo tersebut, para santri yang semuanya waria melaksanakan kegiatan mengaji dan sembahyang. Ruangan tersebut tidak besar diisi oleh beberapa mahasiswa dan santri di sore hari.

Bangunan joglo yang terletak di kawasan Kabupaten Bantul tersebut tidak dibangun khusus untuk dijadikan sebagai pesantren. Bangunan tersebut adalah rumah pribadi milik Shinta.

Sejak 2014, rumah joglo tersebut dimanfaatkan sebagai pesantren setelah pesantren yang sama di Notoyudan dipindahkan. Shinta adalah salah satu waria yang juga aktif dalam kegiatan di pesantren Al-Fatah.

Selain Shinta, ada juga enam orang waria lain yang menjadi pengurus Al Fatah. Kini, ada sekitar 40-an waria yang bergabung di pesantren tersebut.

Pada bulan biasa mereka berkegiatan setiap hari Minggu. Saat Ramadan, kegiatan diadakan dua kali dalam sepekan, yakni pada hari Rabu dan Minggu.

Kegiatan yang mereka lakukan diantaranya adalah mengaji, belajar fiqih, membaca Alquran, dan membaca kitab kuning. Kegiatan yang dilakukan didampingi oleh Ustaz.

Shinta menyatakan kepada Tirto.id bahwa waria sebagai mahluk ciptaan Tuhan punya tanggung jawab untuk bisa beribadah dan tunduk sebagai hamba. Oleh karena itu, ia percaya agama Islam juga menerima waria yang juga mahluk ciptaan Tuhan.

Baginya, agama Islam adalah agama rahmatan lil alamin dan para waria ingin membuktikan bahwa agama Islam hadir untuk merahmati orang-orang, termasuk waria. Sebab pada dasarnya, menjadi waria bukanlah pilihan.

Shinta melanjutkan bahwa menjadi waria adalah takdir yang tidak bisa diingkari. Sepahit apa pun hidup sebagai waria, maka harus dijalani dengan penuh tanggung jawab yaitu beribadah dan menyembah Allah Swt.[AAJ/Tirto.id]