Pos

Imlek Virtual, Bukti Cinta untuk Keragaman Indonesia

Jakarta – Kemeriahan Imlek masih dirasakan hangatnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Perayaan ini tidak hanya untuk Tionghoa dan oemeluk agama Kong Hu Cu saja akan tetapi menjadi milik bersama masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, Gerakan Optimisme Indonesia (GOI) merayakan Imlek 2021 secara virtual dan disiarkan langsung dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat (26/2).

Ketua Panitia, Michael Sebastian dalam sambutannya mengatakan bahwa Imlek merupakan perayaan keberagaman di Indonesia.

“Imlek adalah momentum merayakan keberagaman, sama dengan hari raya lainnya,” tuturnya.

Baginya, semangat Imlek ini mengingatkan akan perkataan Gus Dur bahwa Indonesia ada karena perbedaan.

Hal senada disampaikan oleh Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua MATAKIN mengatakan Imlek ini menjadi perayaan bersama.

“Imlek ini adalah milik bersama. Mudah-mudahan kita tidak lagi ada perseteruan karena perbedaan politik. Saatnya memperbaharui diri menjadi lebih baik. Tidak ada lagi ujaran kebencian dan saling hina,” katanya.

Dia berharap, semoga Imlek bisa meningkatkan rasa cinta kepada Indonesia.

“Orang beriman, niscaya akan rukun dan damai. Kalau tidak bisa rukun dan damai, imannya diragukan,” tegasnya.

Acara yang bertepatan dengan Cap Go Meh ini diikuti oleh lembaga lintas iman dan dihadiri oleh peserta dari seluruh penjuru negeri. Penampilan Barongsai dari Sanggar Seni Betawi membuka acara dengan sangat meriah dan dilakukan pula doa lintas iman.

Tak hanya Barongsai, seni khas Betawi juga ditampilkan di atas Panggung Imlek Virtual tersebut yang kembali menampilkan betapa Indonesia itu sangat beragam.

Dalam sambutannya Menteri Agama, Gus Yaqut berpesan agar kita jangan bercerai berai dan harus senantiasa menjaga persatuan dan persaudaraa. [ISA]

Merayakan Perbedaan, Mensyukuri Keberagaman, GOI Adakan Imlek Indonesia Virtual

Jakarta Dalam rangka menebarkan optimisme dan merayakan perbedaan di tengah suasana pandemic,

Gerakan Optimisme Indonesia (GOI) menyelenggarakan Panggung Budaya Imlek Indonesia tahun 2572
Kongzili yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (26/2), setelah sebelumnya mengadakan Natal Virtual
2020.

Panggung Budaya tersebut mengusung tema “Menebarkan Optimisme untuk Indonesia” dengan
menghadirkan ucapan-ucapan sejumlah pejabat Kementerian, tokoh, penampilan budaya Tionghoa, musik religi, serta penampilan live musik.

Menurut ketua panitia, Michael Sebastian, tema yang diusung dalam Imlek GOI sangat relevan “Saat ini di tengah pandemi, di tengah masih ada keributan antarsesama anak bangsa, energi Optimisme indonesia kami lihat makin meredup. Padahal Indonesia punya energi yang sangat baik yang ini harus ditularkan,” lanjutnya.

Sementara itu, Tim Pengarah GOI Nia Sjarifudin mengungkapkan, kegiatan tersebut terselenggara atas
komitmen GOI untuk merayakan perbedaan serta mensyukurinya sebagai karunia Tuhan yang luar biasa.

“Karena keberagaman itu jati diri bangsa yang tak boleh dilemahkan apalagi dihilangkan. Maka penting kita merawat dan mempertahankan tradisi silaturahmi dan memperkuat persaudaraan antarsesama anak bangsa,” lanjut Nia

“Ini juga sebagai strategi dalam mengelola keberagaman menjadi harmoni kehidupan yang tidak saja akan melahirkan toleransi semata, tapi juga mempertahankan karakter solidaritas atau gotong royong bangsa Indonesia,” tegasnya.

Pelaksanaan kegiatan ini bekerjasama dengan MATAKIN dan BAKTI Keminfo RI yang juga mendapat
dukungan dari lembaga-lembaga pemerintahan seperti Kementerian Agama RI, Ditjenbud Kemendikbud,

Deputi Moderasi Beragama Kemenko PMK, juga tokoh parlemen dan 80 organisasi atau komunitas
diantaranya ANBTI, Puan Amal Hayati, Duta Damai, GEMAKU, PGI, KWI, PHDI, MLKI, PERMABUDHI, ICRP, JAI,

Percik Salatiga, Jaringan NU, Jaringan Ahmadiyah Indonesia, PERADAH dan masih banyak lagi.
Sementara itu secara terpisah, Sekretaris Eksekutif Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sekaligus

Tim Pengarah GOI Pdt. Jimmy Sormin berharap dengan terselenggaranya acara tersebut, masyarakat
bersama-sama semakin solid dalam merajut persaudaraan, dan terbangun optimisme dalam menghadapi berbagai krisis yang melanda.

“Sehingga ke depan apapun yang akan kita hadapi, dengan semangat kebersamaan dan optimisme, kita
dapat menghadapinya dengan tangguh, juga semakin terdorong untuk memastikan keadilan dan perdamaian di masyarakat kita,” jelasnya.

Konsolidasi ini menurut Pdt. Jimmy merupakan salah satu upaya yang sangat baik dan perlu dikembangkan baik dalam berbagai kegiatan berikutnya maupun dalam hal-hal yang tidak langsung diperlihatkan kepada publik– demi kemajuan bangsa, keadilan dan perdamaian di negara kita.

Terakhir, GOI akan melanjutkan kegiatan dengan perayaan Nyepi Indonesia Virtual pada 20 Maret 2021
mendatang.

Gerakan Optimisme Indonesia, Hotline: +628164245749

Imlek Nasional, Presiden Jokowi: Kuncinya adalah Kebersamaan dan Gotong Royong

Jakarta – Dalam perayaan Imlek Nasional 2021 yang digelar pada Sabtu, 20 Februari 2021, secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Presiden Joko Widodo, selain menyampaikan ucapan ucapan selamat Hari Raya Imlek ke-2572, ia juga memaparkan sejumlah harapan bagi bangsa dan Negara.

Mengangkat tema “Untukmu Negeri, Kami Berbakti dan Peduli”, tahun baru Imlek kali ini ditandai dengan shio kerbau logam yang memiliki makna pekerja keras, tekun, memiliki kesabaran tinggi, dan terencana untuk mencapai kemajuan. Dengan filosofi itu pula bangsa Indonesia pada tahun ini terus berupaya untuk berhasil menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

“Kekuatan, keberanian, keteguhan, dan kedisiplinan kerbau harus kita tunjukkan untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada, yaitu krisis pada saat ini. Penanganan permasalahan kesehatan akibat pandemi Covid-19 harus terus dilakukan,” kata Presiden seperti dikutip situs resmi Presiden RI presidenri.go.id, Sabtu (20/2).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden kembali menerangkan soal kebijakan vaksinasi gratis yang ditujukan bagi kurang lebih 182 juta penduduk Indonesia. Saat ini pemerintah tengah menjalankan kebijakan tersebut yang bermula untuk para tenaga kesehatan dan kini sedang berlanjut untuk para pekerja publik.

“Minggu ini sudah dilakukan untuk pelayan-pelayan dan pekerja publik baik itu guru, lansia yang juga perlu kita prioritaskan, dan pekerja-pekerja di pasar-pasar dan pusat ekonomi. Kemarin sudah kita mulai di Pasar Tanah Abang, baru kemudian nanti menginjak masyarakat umum,” ucapnya.

Upaya keras yang dilakukan bersama-sama juga harus dilakukan untuk menangani persoalan ekonomi sebagai dampak adanya pandemi ini. Pemerintah sendiri pada tahun 2020 lalu telah menggulirkan sejumlah bantuan sosial untuk masyarakat lapisan bawah yang amat terdampak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus meningkatkan daya beli. Kepala Negara memastikan, bantuan sosial tersebut akan tetap berlanjut di tahun 2021 ini.

Mengenakan pakaian Changshan berwarna merah,  mantan Wali Kota DKI Jakarta ini menekankan bahwa persoalan kesehatan dan perekonomian tidak dapat dipisah-pisahkan. Seluruh pihak harus berupaya keras bahwa bangsa Indonesia dapat bangkit dan keluar dari krisis pandemi saat ini dan menunjukkan bahwa kita dapat melakukan penanganan kesehatan dan membangkitkan ekonomi nasional.

“Kuncinya adalah kebersamaan, gotong royong, sebagai bangsa besar. Saya berharap di tahun kerbau ini kita bisa menggerakkan kekuatan besar, keberanian, dan kedisiplinan untuk melakukan lompatan-lompatan dan terobosan-terobosan baru dalam melakukan langkah-langkah berani yang baru agar kita bisa terlepas dari krisis kesehatan dan perekonomian,” tandasnya.

Hadir secara langsung mendampingi Presiden Joko Widodo dalam acara tersebut ialah Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Sementara Wakil Presiden Ma’ruf Amin, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, Panglima TNI, Kapolri, pimpinan lembaga negara, para gubernur, hingga para tokoh lintas agama juga mengikuti jalannya acara secara virtual. [AN/presidenri.go.id]

Sudahi Kebingungan Masyarakat Mengenai Imlek

Saat saya bersekolah dulu, setiap sincia atau Tahun Baru Imlek senantiasa meminta izin atau membolos.
 
SD sampai SMP saya bersekolah di sekolah Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian berganti nama menjadi Swadaya.
 
Tak terlalu masalah saat saya meminta izin, sekolah tersebut pada dasarnya didirikan untuk menampung orang-orang Tionghoa yang tak dapat lagi bersekolah di sekolah Tionghoa, karena sekolah Tionghoa ditutup paksa pada tahun 1966 pasca G30S PKI. Namun demikian tetap saja ketika itu siswa beragama Konghucu dipaksa untuk mengikuti pendidikan agama Kristen.
Persoalan mulai timbul saat saya bersekolah di SMA Katolik. Bukan hal yang mudah untuk membolos atau izin untuk bersembahyang dan merayakan Tahun Baru Imlek ketika itu. Setiap Tahun Baru Imlek senantiasa diadakan ulangan dengan ancaman kalau tidak mengikuti ulangan akan diberi nilai nol.Ketika itu, kawan-kawan saya yang telah beralih agama, saat ditanyakan apakah merayakan sincia? Mereka selalu mengatakan tidak merayakan sincia karena sudah tidak beragama Konghucu. Itulah realita yang ada ketika itu. Beriringan dengan dikeluarkan larangan merayakan Tahun Baru Imlek secara terbuka di tempat umum oleh pemerintah Orba.
 
Dapat dikatakan orang-orang Tionghoa ketika itu ‘tiarap’. Perayaan Sincia dijauhi dan dianggap sebagai hal membahayakan yang harus disingkirkan jauh-jauh.
 
Bagaimana dengan umat Konghucu? 
 
Umat Konghucu yang memegang teguh keyakinannya tetap melakukan persembahyangan dan merayakan sincia di rumah dan bersembahyang di kelenteng/bioKong MiaoWen Miao, atau litang.
 

Yang berpaling dari Agama Konghucu dengan tegas mengatakan sudah tidak merayakan sincia.

Kondisi seperti itu tak mengherankan karena tak mudah menjadi penganut Agama Konghucu, pelajaran agama Konghucu dicabut dari kurikulum Nasional, berangsur-angsur dalam KTP tidak dapat mencantumkan agama Konghucu, kelenteng dilarang untuk dibangun atau diperbaiki kecuali berganti nama menjadi vihara atau TITD, dan secara bertahap pernikahan secara agama Konghucu tak dapat dilangsungkan artinya umat Konghucu tak dapat mencatatkan perkawinannya di catatan sipil.

Banyak lagi perlakuan tidak adil terhadap umat Konghucu baik oleh pejabat pemerintah, sekolah, RW, RT, relasi, dan kolega. Hal tersebut saya alami di masa-masa kecil, remaja hingga beranjak dewasa. Bahkan di rapor SMA saya, setelah nomor induk siswa diberi garis miring KHC dengan nada ancaman dari salah seorang guru. Benar-benar bentuk intimidasi dan perlakuan tidak adil terhadap seorang siswa yang jujur mengakui agama yang dianutnya. Dalam KTP saya juga dipaksa untuk mencantumkan agama yang tidak sesuai dengan agama yang saya yakini atau dengan tanda (—).

Kondisi mulai berubah dengan dikeluarkan Keppres No. 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres 14 Tahun 1967. Walau pada faktanya perlu pergantian dua presiden sebelum perkawinan secara Agama Konghucu dapat dicatatkan dan pendidikan Agama Konghucu mulai bisa diajarkan di sekolah dan Perguruan Tinggi. Walaupun sebenarnya hambatan terus dilakukan hingga kini yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu karena khawatir umatnya beralih.

Keppres dikeluarkan oleh Presiden Gusdur karena izin perayaan Tahun Baru Imlek Nasional dan Capgome Nasional yang akan diselenggarakan pertama kalinya setelah era reformasi oleh MATAKIN terganjal Inpres 14 Tahun 1967.

Sekarang semua berubah, sejarah perjuangan umat Konghucu untuk memulihkan hak-hak sipil yang berimplikasi pada seluruh kebijakan pemerintah terhadap masyarakat Tionghoa seakan dengan sengaja dilakukan pengaburan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Dengan tanpa malu-malu orang-orang Tionghoa yang sudah tidak beragama Konghucu ikut merayakan sincia/Tahun Baru Imlek. Tapi celakanya dengan sistematis berupaya mengubah penanggalan Khong Tjoe (Kongzili)—yang sejak ratusan tahun yang lalu digunakan di Indonesia—dengan penanggalan Masehi atau HE.

Tanpa malu-malu pula klaim inkulturasi dan klaim-klaim lain digembar-gemborkan beberapa kelompok keagamaan dengan misi yang diusungnya dengan tujuan Hari Raya Tahun Baru Imlek bukan sebagai hari raya keagamaan—walaupun sejarah, kitab suci dan perundangan menyatakan sebaliknya.

Tujuannya tentu agar mereka bisa mempertahankan umat dari kalangan Tionghoa yang pada dasarnya mempunyai akar agama, tradisi dan way of life Konghucu. Dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan di kelompoknya dihembuskan isu bahwa Konghucu adalah kepercayaan, bukan agama.

Lengkap sudah semuanya berpadu dengan upaya kelompok Tionghoa yang sejak tahun 2007 berupaya merebut perayaan tingkat Nasional Tahun Baru Imlek dari tangan MATAKIN sehingga terkesan ada dualisme penyelenggaraan tingkat Nasional: perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional dan perayaan capgome Nasional pada tahun 2008.

Padahal perayaan capgome tingkat Nasional tersebut dapat terselenggara atas seizin Ketua Umum Matakin ketika itu yang ditelpon oleh Menteri Agama ketika itu atas nama Presiden. Ketua Umum atas dasar perasaan tidak enak dan menjaga persatuan dengan kelompok pengusaha Tionghoa memberi lampu hijau.

Akhirnya sejak 2 tahun yang lalu, yaitu tahun 2019 perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional yang dihadiri presiden berhasil direbut dari Matakin—setelah sebelumnya selama 4 kali Presiden RI tidak menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional yang diselenggarakan MATAKIN dengan berbagai alasan yang awalnya masuk akal tapi pada akhirnya kita tahu bahwa alasan yang dikemukakan adalah alasan yang dibuat-buat, karena ada pihak-pihak tertentu yang terus berupaya mengganjal dan merebut.

Kenapa saya mengatakan alasan yang dibuat-buat? Karena pada tahun 2017 Presiden berjanji kepada saya dan beberapa pengurus MATAKIN yang ketika itu beraudiensi dengan Presiden di Istana Negara akan hadir pada perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional 2569 Kongzili yang diadakan MATAKIN, namun pada saat penyelenggaraan, ternyata presiden memilih menonton film Dilan. Sungguh luar biasa. Ngono yo ngono nanging ojo ngono.

Bagi saya itu merupakan tindakan diskriminatif yang merendahkan MATAKIN dan umat Konghucu yang tidak seharusnya dilakukan oleh Kepala Negara sebuah negara Pancasila. Mudah-mudahan tidak sengaja dilakukan.

Berbeda sekali dengan Presiden sebelumnya yang selalu hadir pada perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional. Pada tahun 2007 ketika upaya merebut perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional oleh kelompok orang Tionghoa dengan tagline Perayaan Tahun Baru Imlek Indonesia Bersatu sebagai perayaan Imlek pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia dan gencar dipromosikan di sebuah stasiun TV.

Satu hari sebelum penyelenggaraan Tahun Baru Imlek Nasional oleh MATAKIN, Presiden mengumpulkan dua pihak berbeda, yaitu MATAKIN dan kelompok tersebut.  Dengan tegas Presiden SBY mengatakan akan hadir pada perayaan Tahun Baru Imlek Nasional MATAKIN sebagai Hari Raya Keagamaan Konghucu seperti beliau menghadiri Waisak Nasional umat Buddha, Hari Raya Nyepi Umat Hindu, Hari Natal umat Kristiani, dan hadir pada perayaan Hari Raya Umat Islam.

Di lain pihak beliau akan hadir pada perayaan kelompok tersebut sebagai Peringatan Commemoration 50 tahun hubungan dagang RI-Tiongkok. Saya bersyukur menjadi satu di antara lima orang MATAKIN yang hadir di Istana ketika itu mendengarkan secara langsung. Sejarah akhirnya mencatat sejak tahun 2008 di Indonesia ada perayaan Tahun Baru Imlek Tingkat Nasional dan perayaan Capgome Nasional. Satu jalan tengah yang diambil. Hal yang aneh tapi itulah Indonesia.Berdasarkan rumor yang beredar, presiden sekarang beranggapan penyelenggaraan dua perayaan ini adalah dualisme perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional, akhirnya entah siapa pembisiknya, beliau lebih memilih tidak hadir di perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional yang diselenggarakan MATAKIN dan memutuskan hadir di perayaan Tahun Baru Imlek tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh kelompok lain, seolah-olah tidak ada lagi dualisme.

Kita tahu perayaan tersebut bukanlah perayaan keagamaan tapi perayaan etnis. Kehadiran Presiden dalam perayaan Tahun Baru Imlek tersebut seakan mempertegas pandangan sebagian kalangan bahwa presiden lebih mengutamakan pembangunan ekonomi dengan mengorbankan bidang lainnya yang sadar atau tidak, apa yang dilakukan mengabaikan keadilan dan sebetulnya—maaf—memalukan.

Keputusan kurang pas karena tak pernah berdasarkan informasi seimbang, hanya mendengarkan orang-orang di lingkaran terdekat beliau. MATAKIN tak pernah diajak bicara mengenai benar atau tidaknya ada dualisme serta mengapa ada perayaan Tahun Baru Imlek Nasional dan Capgome Nasional.

Bagaimana sikap saya?

Saya kasihan pada Presiden yang telah membuat keputusan kurang pas tersebut. Bukan tak mungkin dalam kasus-kasus ketidakadilan pada penganut agama lain, presiden juga mendapat informasi yang salah sehingga membuat keputusan keliru – karena orang-orang di lingkaran terdekat beliau – tanpa pernah mencoba menggali informasi sendiri kepada pihak-pihak termarjinalkan. Berbeda dengan yang beliau lakukan dengan blusukan saat menggali informasi dalam pembangunan infrastruktur atau hal-hal lain.

Saat Munas MATAKIN saya berupaya agar presiden hadir pada acara pembukaan seperti beliau hadir dalam pembukaan Munas, Muktamar, Kongres, HUT ormas, dan organisasi massa dan majelis agama lain. Tapi sekali lagi nampaknya Presiden tidak cukup memahami mengenai keadilan dan UU, mungkin MATAKIN di mata beliau tak begitu besar manfaatnya bagi kepentingan seorang politisi dan seorang presiden dalam mengerek elektabilitas atau pembangunan ekonomi. Entahlah.

Padahal agama bukanlah diabdikan bagi kepentingan politik atau kepentingan lain, agama bertujuan membimbing umat manusia hidup dalam dao.

Apakah saya kesal? Secara manusiawi tentu saja kesal karena tidak diperlakukan adil.

Tapi apa gunanya merasa kesal? Toh hak Presiden mengatur dirinya dan mengambil keputusan. Setiap manusia tentu punya prioritas sendiri. Tak bisa dipaksa.

Bagaimana langkah yang perlu diambil?

Menurut saya lupakan untuk mengharap kehadiran presiden yang sekarang dalam perayaan Tahun Baru Imlek Nasional MATAKIN. Buang-buang energi, toh ketidakhadiran presiden dalam perayaan Tahun Baru Imlek Nasional MATAKIN tidak mengurangi makna agamis dan kegembiraan dari perayaan Tahun Baru Imlek yang telah diselenggarakan MATAKIN sejak tahun 2000.

Untuk apa memaksa orang yang tidak mau hadir? The show must go on. Ketidakhadiran presiden tidak dapat menghapus hak-hak sipil umat Konghucu di negara Pancasila yang kita cintai.

Daripada berebut Tahun Baru Imlek dengan kelompok-kelompok yang menginginkan sebagai perayaan etnis, saya pikir usulkan saja Hari Lahir Nabi Kongzi sebagai hari libur keagamaan Konghucu dan biarkan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur etnis, sambil kita berdoa mudah-mudah tidak akan menimbulkan gejolak tuntutan dari etnis dan suku bangsa lain karena merasa diperlakukan tidak adil dan terkesan Tionghoa adalah etnis istimewa di Indonesia.

Jangan sampai persoalan berlarut-larut ini mengurangi kegembiraan kita dalam merayakan Tahun Baru Imlek dan menyebabkan keretakan hubungan dengan sesama kita. Jangan sampai Tahun Baru Imlek mendorong pemimpin kita menjadi bingung. Dalam hal Tahun Baru Imlek, umat Konghucu lebih bijak mengalah. Umat Konghucu sudah biasa dipaksa mengalah.

Bagi kita, umat Konghucu, apakah Tahun Baru Imlek menjadi hari libur etnis atau bukan, kita tetap beribadah, memberi penghormatan pada orang tua, dan bersilaturahmi dengan kerabat serta kawan tetap kita lakukan seperti saat kita ditekan dan dimarjinalkan pada zaman orba. Pesta hanyalah pinggiran dan pernak-pernik, bukan inti dari sincia. Selamanya, umat Konghucu tak akan menukar inti dengan yang pinggiran.

Usul perlu diajukan agar umat Konghucu dapat tenang beribadah memperingati Hari Kelahiran Nabi Kongzi dan untuk melihat apakah pemerintah di negara Pancasila ini menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran atau tidak?

Atau keadilan dan kebenaran di negeri ini hanya slogan dan utopia nun jauh di sana?

 
 
Uung Sendana Linggaraja
Dosen, Pemuka Agama Khonghucu, dan Ketum Matakin (2014-2018)
 
Tulisan ini pernah dimuat di gentarohani.com

Nubuatan Imlek 2572 Kongzili: Kembalinya Pemerintahan yang Diperkenan Allah

Vincent Jaya Saputra

Tanggal 12 Feb 2021, bangsa Cina dan suku Tionghoa seluruh dunia merayakan Imlek 2572 Kongzili. Saya yakin di tahun kerbau emas ini, Tuhan ingin menyatakan bahwa hukum dan keteraturan bermasyarakat dan bernegara sangat tergantung pada penundukkan diri manusia pada otoritas Allah.

Sudah lama manusia menyampingkan dan dengan sengaja memilih tidak menaati hukum dan peraturan yang ditetapkan Allah. Akibat ketidaktaatan ini, setiap ranah masyarakat terkena dampaknya.

Mulai dari hilangnya hubungan yang akrab dengan Allah di ranah agama, hilangnya komunikasi yang terbuka dalam ranah keluarga, hilangnya kemanusiaan dalam ranah ekonomi, hilangnya keadilan sosial dalam ranah pemerintahan, tereduksinya keutuhan manusia hanya menjadi manusia intelek yang kehilangan empati dalam ranah pendidikan, hilangnya batas nilai moral dan etika dalam ranah seni budaya, hilangnya keberanian memberitakan kebenaran yang mencerahkan dan memerdekakan dalam ranah media.

Tuhan menetapkan pemerintahan agar masyarakat dapat merasakan ketertiban, kedamaian dan kesejahteraan yang terjadi bila manusia menaati hukum-hukumNya. Interpretasi hukum yang diserahkan pada masyarakat sedemokratis apapun negara tersebut akan melahirkan tindakan semena-mena seperti yang pernah kita lihat paada waktu masyarakat Athena menghukum Socrates yang berbeda keyakinan.

Karena itu, siapapun yang duduk dalam posisi otoritas sudah selayaknya memohon kepada Allah untuk memberikan dia hati yang bisa menimbang benar dan salah, yang bisa memberikan keadilan sosial bagi rakyat yang kurang beruntung. Mazmur 72 merupakan pasal yang penulis jadikan referensi saat membahas bagamana menegakkan keadilan dalam otoritas pemerintahan, Mazmur 72 ini merupakan nasehat Daud bagi putra mahkotanya Salomo bagaimana menjalankan pemerintahan.

Perhatikan bagaimana keadilan sosial harus terlebih dahulu ditegakkan bukannya mengajak manusia mengikuti ajaran-ajaran agamanya terlebih dahulu. Ini persis seperti yang dikatakan Konghucu bahwa percuma berbicara mengenai hal-hal rohani bila kebutuhan jasmani belum bisa dipenuhi.

Pemulihan otoritas sesuai amanat Allah ini akan melahirkan ketertibam kedamaian dan kesejahteraan umat. Pemulihan otoritas pemerintahan dimulai dari pemulihan otoritas keluarga. Kejatuhan Adam menyebabkan hilangnya otoritas pria sebagai kepala keluarga. Pria lebih suka menenggelamkan diri dalam kesibukan keagamaan, pekerjaan dan menyalurkan hobinya melalui komunitas sosialnya daripada menjadi imam bagi keluarganya. Akibatnya wanita kehilangan pelindung spiritual dan rentan dengan bujuk rayu si jahat. Wanita akan terpaksa menjalankan otoritas yang vakum ditinggal pria dan menjadi dominan. Anak-anak akan kehilangan keteladanan sehingga menjadi hidup liar tidak bisa lagi membedakan apa yang benar dan apa yang salah.

Kekacauan insititusi keluarga ini berdampak pada pilihan gaya kepemimpinan seseorang yang cenderung mengukur keberhasilan melalui meningkatnya kekayaan materi bukan kesejahteraan yang utuh raga, jwa dan rohnya yang seharusnya menjadi barometer kemakmuran yang sesungguhnya. Bagaimana bisa negara bisa tertib bila keluarga tidak tertib, demikian kata Konghucu. Bagaimana masyarakat bisa mengenal Allah bila manusia kehilangan kemanusiaannya?

Bukan kebetulan tahun 2572 adalah tahun kerbau emas. Kerbau dalam Alkitab merupakan lambang dari kerja keras mengusahakan keselamatan yang telah diterima umatNya, yang sadar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mulus tapi penuh tantangan sehingga hanya orang yang mengenal dan mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati lah yang sanggup bertindak menghadapi setiap tantangan yang ditemuinya.

Karena itu, marilah kita sebagai masyarakat Indonesia pada umumnya dan suku Tionghoa pada khususnya bekerja keras mewujudkan visi Indonesia Maju 2045 bergandengan tangan bergotong royong membangun negeri ini. Emas memiliki makna kilaunya kemuliaan yang menanti siapapun yang mau melewati jalan kehidupan yang penuh tantangan di masa pandemic ini. Kemuliaan yang bukan hanya diukur secara materi tapi kemuliaan yang didapat dari kesadaran Allah menyertai umatNya, menaungi umatNya degan kebaikan dan kasih karuniaNya.

Akhir kata, izinkan saya sekali lagi mengucapkan Selamat tahun baru Imlek 2572. Gong XI Fa Cai!

Vincent Jaya Saputra, Direktur Global Sevilla School, Pengurus ICRP

Imlek 2572, Menag: Kebersamaan Kita dalam Kemajemukan Kian Kokoh

Dalam perayaan Imlek 2572, – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas berpesan agar pada Tahun Kerbau ini semua orang senantiasa diberikan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Menurutnya, perayaan Tahun Baru Imlek 2572 dengan tema “Bahaya yang Datang oleh Ujian Tian Tuhan Yang Maha Esa Dapat Dihindari Tetapi Bahaya yang Dibuat Sendiri Tidak Dapat Dihindari” menjadi sangat menarik karena sangat relevan dengan kondisi pandemi Covid-19.

“Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi kita semua dan segera mengangkat penyakit ini dari kehidupan umat manusia,” uja
ucapnya dalam acara Perayaan Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili Tingkat Nasional yang diselenggarakan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), dikutip dari YouTube Matakin Pusat, Minggu (14/1/2021).

Dalam perayaan yang diselenggarakan secara daring ini Menag juga mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur karena tahun ini adalah tahun ke-22 bagi umat Konghucu dapat merayakan Tahun Baru Imlek secara nasional.

Hal tersebut dinilainya sebagai wujud kepedulian negara dan pemerintah serta menunjukkan terjalinnya hubungan yang harmonis antarumat beragama.

“Kenyataan ini menunjukkan makin kokohnya kebersamaan kita sebagai bangsa yang majemuk. Persaudaraan kita sebagai sebuah bangsa tidak boleh terganggu apalagi sampai tercerai-berai hanya karena perbedaan etnis dan perbedaan agama yang kita yakini,” ungkap Menag yang juga Ketua Umum GP. Ansor ini.

Menurut Menag, agama dan negara saling membutuhkan dimana untuk mewujudkan peradaban sebuah bangsa.

“Penguatan keagamaan di satu sisi dan penguatan identitas kebangsaan di sisi yang lain tidak boleh dipisahkan apalagi dipertentangkan,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Matakin, XS Budi S Tanuwibowo, mengatakan, suasana perayaan Imlek kali ini terasa berbeda karena pandemi covid-19, ditambah dengan berbagai bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah.

“Karena pandemi covid-19, maka perayaan Hari Raya Tahun Baru 2572 Kongzili secara nasional kali ini tidak dirayakan secara besar-besaran, melainkan secara virtual,” kata Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (11/2/2021). [ ]

GEBER Rayakan Imlek, Berkunjung ke Pure Parahiyangan

Dalam momen perayaan Imlek 2562 Kongzili, rombongan pesepeda yang tergabung dalam GEBER berkunjung ke Pure Parahyangan, di lereng gunung Salak Bogor (12/2).

GEBER singkatan dari Gerakan Bersepeda untuk Keragaman. Dibentuk pada 1 Februari 2021 yang merupakan wadah beraktivitas bersama bagi siapapun yang senang bersepeda, untuk meningkatkan kesehatan tubuh, mental, dan spiritual.

Selain itu, melalui kegiatan besepeda bersama ini GEBER hendak mengajak mengenal lebih dekat kergaman agama, suku, dan budaya yang ada di Indinesia.

Berangkat dari titik kumpul di Cilebut Residence, melalui rute Dramaga dan Tanjakan Demit, untuk menguji stamina para goweser yang tergabung dalam GEBER.

“Tujuan utama kunjungan kami adalah dalam rangka menjalin relasi dengan pengurus dan jamaah pure, memperluas wawasan keragaman budaya, agama dan keyakinan masyarakat Indonesia yang dikenal sangat religius, serta merawat keragaman bangsa kita sebagai kekayaan yang tak ternilai,” tutur Komar, pencetus GEBER.

Oleh karena pandemi rombongan GEBER tidak diperkenankan masuk ke komplek pure.

“Namun kami sempat bertemu dan berdiskusi dengan sebagian jemaah yang selesai melaksanakan ritual di sana. Perjumpaan tersebut sebagai awal dari upaya untuk merajut tenun kebangsaan kita. Jika pandemi sudah berakhir, kami akan kembali berkunjung ke pure yang indah ini,” terang Komar.

Kegiatan kali ini diikuti oleh 20 pesepeda. Komar yang juga guru SMA Al-Izhar mengatakan inilah saatnya kita mengeksoplorasi kebinekaan di sekeliling kita sebagai kekayaan bangsa.

“Inilah saatnya kita berkontribusi untuk negeri,”pungkas Komar yang aktif pula di Yayasan Cahaya Guru. [AN]

Menko Muhajir: Semoga Tahun Baru Imlek Membawa Harapan Baru

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili kepada umat konghucu yang jatuh pada hari Jumat (12/2). Muhadjir berharap Imlek yang dirayakan di tengah pandemi Covid-19 bisa membawa Indonesia memiliki harapan baru.

“Saya mengucapkan selamat tahun baru imlek tahun baru dengan harapan baru, setidaknya kita semua diberikan kesehatan, kebahagiaan dan rejeki yang berlimpah. Mari kita berdoa bersama, agar Indonesia segara keluar dari Pandemi Covid-19,” kata Muhadjir kepada merdeka.com, Jumat (12/2).

Dia mengajak umat Konghucu untuk merayakan Imlek dan bersilaturahmi menaati protokol kesehatan. Serta menggunakan media daring tanpa menghilangkan nilai dari perayaan tersebut.

“Pesan saya hindari saling mengunjungi antar keluarga besar, melakukan silaturahmi secara virtual tanpa mengurangi makna dan nilai luhur imlek itu sendiri,” pinta mantan Rektor Universitas Muhammadiyah, Malang, Jawa Timur ini.

Dia juga mengapresiasi kegiatan sosial manusia yang dilakukan masyarakat Tionghoa. Hal tersebut dalam rangka untuk Indonesia dan acara Imlek Nasional 2021.

“Saya mengapresiasi kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan, yang diisi dengan bentuk bakti dan kepedulian masyarakat tionghoa untuk Indonesia dalam rangkaian acara imlek nasional 2021,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 2016 – 2019 ini.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas juga menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat Tionghoa yang merayakan Tahun Baru Imlek 2572, pada Jumat (12/2).

Dirinya berharap masyarakat Tionghoa senantiasa mendapat banyak peruntungan dan keberkahan.

“Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi. Semoga bergelimang berkah dan segala upaya dapat terlaksana sebaik-baiknya,” ujar Yaqut melalui keterangan tertulis dari Kemenag, Kamis (11/2). [AN/merdeka.com/tribunnews.com ]

Said Aqil: Tidak Ada Masalah Perbedaan Agama, Suku, dan Budaya

Dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan ucapan selamat dan harapan untuk bangsa Indonesia.

“Salam sejahtera untuk kita semua. Saya Ketua Umum PBNU, mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek yang ke-2572,” ucap  Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam tayangan 164 Channel di kanal Youtube milik PBNU ini.

Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini berharap dengan peringatan Tahun Baru Imlek ini, kita semua mendapatkan rahmat dari Allah, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman, damai, tenang, dan sejahtera.

“Mari kita tingkatkan kedekatan kita kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” ajaknya kiyai kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 3 Juli 1953 ini.

Lebih lanjut ia berharap agar momentum Tahun Baru Imlek ini, bangsa Indonesia dapat meningkatkan sikap kemanusiaan satu untuk semakin menguatkan rasa persaudaraan, sehingga tidak lagi ada sekat antara satu dengan yang lainnya.

“Kita sama-sama sebangsa dan setanah air, dan juga sama-sama keturunan Adam dan Hawa. Maka bagi kita tidak ada masalah perbedaan agama, perbedaan suku, budaya,” tandas alumni S3 Aqidah dan Filsafat Islam, University of Umm al-Qura, Mekah, 1994, ini.

Oleh sebab itu, tahun yang memiliki shio kerbau logam ini dapat dijadikan untuk menciptakan harapan baru ke depan yang menjanjikan,  yakni agar bangsa Indonesia menjadi bermartabat, berbudaya, berperadaban, berkepribadian, dan mendapat penghargaan serta dihormati oleh bangsa-bangsa yang lain.

Perayaan Imlek tahun ini dirayakan dalam suasana serba terbatas mengingat pandemic Covid-19 masih belum menunjukkan angka penurunan. Karenanya Sebagian besar warga Tionghoa merayakannya hanyak dalam lingkup keluarga saja. Selebihnya diselenggarakan secara daring. [ ]

Imlek 2572, Presiden Jokowi Berharap Kita Semua dalam Semangat Persaudaraan

Jakarta, kabardamai.id – Dalam momen perayaan Imlek tahun ini Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan Imlek 2572 Kongzili kepada umat Konghucu dan masyarakat etnis Tionghoa.

Mantan Walikota DKI Jakarta ini menyebut, perayaan Imlek tahun ini berbeda dengan sebelumnya.

“Hari raya Imlek ini kita tak leluasa untuk merayakannya dengan sukacita bersama-sama. Tapi semua itu tak mengurangi rasa syukur atas limpahan kedamaian dan cinta kasih dalam keluarga,” ujar Jokowi dalam unggahan di akun Twitter resminya @Jokowi pada Jumat (12/2/2021).

Presiden ke-7 RI ini berharap, semangat Imlek 2021 membawa kebaikan bagi semua pihak.

“Semoga kita semua tetap dalam semangat persaudaraan serta dijauhkan dari penyakit dan bencana. Gong xi fa cai,” imbuhnya.

“Hari raya Imlek ini kita tak leluasa untuk merayakannya dengan sukacita bersama-sama. Tapi semua itu tak mengurangi rasa syukur atas limpahan kedamaian dan cinta kasih dalam keluarga. Semoga kita semua tetap dalam semangat persaudaraan serta dijauhkan dari penyakit dan bencana,” tulisnya lagi di pic.twitter.com/tnrCFKhENd — Joko Widodo (@jokowi) February 12, 2021

Perayaan Imlek tahun ini memang terasa berbeda karena masih dalam pandemic Covid-19. Hamper semua warga Tionghoa yang merayakannya membatasi diri dalam perayaan ini. ini dalam rangka mematuhi protocol kesehatan yang diatur oleh pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau agar Tahun Baru Imlek 2572 dirayakan secara sederhana dan digelar virtual. Sebab, pandemi Covid-19 belum mereda. [ ]