Pos

Perdamaian Aktif  ala Romo Yohanes Hariyanto (Bagian 1)

Rabu, 31 Maret 2021

 

Jakarta – Romo Yohanes Hariyanto, atau biasa disapa Romo Hari, adalah Sekertaris Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Beliau adalah alumni dari Innsbruck University dengan gelar Master of Theology.

Selama masa pandemi, Romo Hari bersyukur karena kegiatan di ICRP tetap berjalan. Ia mendukung seluruh kegiatan rutin ICRP dari jarak jauh. Meskipun ia tidak selalu berada di kantor ICRP, ia tetap membantu menjalankan kegiatan ICRP dengan caranya sendiri dan mengatur arahnya akan ke mana, termasuk apa yang harus diusahakan atau perlu diusahakan terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Tahun lalu, Romo Hari melihat bahwa kegiatan yang dilakukan oleh ICRP berfokus pada pengelolaan bantuan kemanusiaan. Berbagai macam sumber dukungan yang diberikan untuk ICRP menunjukkan betapa luasnya tingkat kepercayaan yang diberikan kepada ICRP dari banyak pihak.

“Penyaluran bantuan tersebut menjadi suatu hal yang mampu menumbuhkan kesadaran diantara kita bahwa kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama,” ujar Romo Hari saat diwawancari melalui Zoom.

 

Titik Temu

Bagi Romo Hari, masalah Covid-19 menjadi fokus yang paling mendominasi di tahun 2020, sebab berada di luar keinginan dan kontrol manusia. Dari situ, Romo Hari menyatakan bahwa ternyata ICRP dipercaya oleh begitu banyak lembaga.

Kepercayaan banyak lembaga pada ICRP berasal dari komunitas agama dan juga lembaga-lembaga yang lain. ICRP dipercaya untuk menyalurkan bantuan yang sifatnya tidak hanya untuk kelompok tertentu, tapi terbuka bagi semua yang membutuhkan dengan jangkauan yang luas dan dukungan yang besar.

Pada mulanya, Romo Hari tidak membayangkan ada banyak hal positif yang terjadi saat ICRP memberikan bantuan berupa sembako. Ternyata, ada satu hal yang bisa menjadi titik temu bagi banyak orang muda untuk ikut serta dan terlibat dalam menyalurkan bantuan.

Bagi Romo Hari, keterlibatan tersebut adalah sesuatu yang harus disyukuri sebab membuktikan bahwa orang muda ternyata bukan generasi yang tidak peduli terhadap situasi yang ada di dalam masyarakat.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa orang muda bisa menjadi penggerak yang luar biasa dan bisa dipercaya. Selain itu, keterlibatan orang muda juga menunjukkan kesadaran kebersamaan dalam konteks kebinekaan tidak memerlukan teori.

Romo Hari menceritakan bahwa ia ikut serta dalam kegiatan tersebut dan merasakan adanya kebersamaan dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Ia berterima kasih sebab hal tersebut bisa terjadi dan menunjukkan bahwa anak muda ingin mengusahakan perdamaian dan kebinekaan di mana keduanya bukan hal yang mustahil, tetapi malah sudah ada.

Persoalan yang ada bukan tentang membangkitkan kebinekaan, tapi lebih mencari cara agar kebinekaan menjadi kekuatan, tidak menjadi ancaman, dan tidak disepelekan begitu saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi kekuatan. Sebab, ada banyak faktor lain yang juga menjadi unsur pemecah.

Mengelola usaha-usaha dan membantu orang-orang yang terdampak dalam konteks Covid-19 justru menjadi kekayaan. Keterlibatan orang muda muncul dan menjadi kekuatan.

 

Kekayaan Orang Muda

Saat membahas tentang kebinekaan, Romo Hari menyinggung tentang ciri khas orang muda. Baginya, orang muda bukan generasi atau angkatan atau kelompok orang yang mau menancapkan kukunya di suatu wilayah tertentu saja.

Pada prinsipnya, orang muda adalah explorer yang selalu merasa harus menjaga diri dan keluar dari dirinya sendiri. Dengan keluar dari dirinya sendiri, orang muda terpaksa bertemu dengan orang lain.

Pertemuan dengan orang lain inilah yang menyadarkan orang muda bahwa ternyata perbedaan bukanlah masalah. Selalu ada unsur pembeda. Selalu ada unsur yang menyatukan. Selalu ada titik temu.

Selain mengorganisir bantuan pada tahun 2019 sampai dengan 2021, ICRP juga menjalankan program Peace Train. Ternyata, Peace Train mempunyai multiplayer effect.

Romo Hari menjelaskan bahwa biasanya suatu kegiatan yang dilakukan hasilnya hanya dinikmati oleh yang ikut. Padahal, kesadaran akan kebinekaan dan perdamaian bukan menjadi suatu yang menakutkan, tapi menjadi suatu kekuatan bersama ketika dimiliki oleh para peserta Peace Train Indonesia.

Akhirnya, sedikit banyak orang mulai berani mengeksplor teritorial di daerah lain, padahal sebelumnya tidak terlalu tertarik dan masih takut mencoba. Tidak ada lagi kegamangan untuk keluar dari batas-batas yang sebelumnya ada.

Semua orang muda harus keluar dari daerahnya sendiri sehingga akan menemukan hal-hal baru yang memperluas cakrawala. Tentu saja hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik terutama untuk orang muda.

Ada proses secara psikologis yang berkembang saat orang muda keluar dari diri sendiri, keluarga, dan lain sebagainya. Proses yang terjadi mendobrak batas-batas. Sejak bayi, pertumbuhan manusia berkutat pada prose mendobrak batas fisik.

Mulai dari melakukan kegiatan fisik mengeksplor dirinya ketika kecil, lalu pada saat remaja mulai mendobrak batas-batasan lingkaran aman dalam keluarga, pertemanan di luar, dan lain-lain.

“Ada proses yang diulang yakni keluar dari zona nyaman masing-masing. Kita selalu hidup dalam zona nyaman. Kalau kita ingin berkembang, kita harus mendobrak zona nyaman kita lalu masuk ke wilayah  lainnya dan seterusnya.” Pesan Romo Hari orang muda.

Baca juga: Justina Rostiawati: Keberagaman Adalah Keniscayaan

Perdamaian Aktif

Perdamaian bisa dipahami secara pasif dan secara aktif. Demikian cara Romo Hari memaknai perdamaian. Orang bisa damai secara pasif dan terbenam dalam gawainya di kamar masing-masing.

Jika demikian, maka masalah yang timbul adalah perdamaian seolah-olah diterjemahkan dengan hanya tidak adanya konflik karena menganggap bahwa cara paling baik untuk mencapai perdamaian adalah mengisolasi diri.

Menurut Romo Hari, anggapan tersebut bukan ciri orang muda sebab pemikiran tersebut sejatinya tengah mengerdilkan diri orang muda. Perdamaian seharusnya diwujudkan secara aktif sebagai suatu perlindungan bersama.

Ketika orang keluar dari zona nyaman, ada risiko, “saya menemukan sesuatu yang baru” yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan baru seorang manusia. Tapi, perlu diingat bahwa ada juga risiko “saya belajar dari orang lain dan orang lain belajar dari saya”.

Ada simbiosis mutualisme yang menjadikan sesama manusia harus saling belajar satu sama lain untuk memperkaya diri masing-masing. Keluar dari zona nyaman bisa menciptakan mindest yang berbeda dengan daerah-daerah asal seseorang.

Saat seserorang yang mengambil kebaikan dan membagikannya ke orang lain, bisa jadi orang lain malah merasa dirugikan. Hal ini bisa terjadi dan menyebabkan konflik.

Dalam cara komunikasi orang muda, bisa berarti bahwa ada semangat membuka diri tetapi di dalam hati justru tidak menyerap apa yang dia dapatkan. Di sana orang muda bergaul satu sama lain tetapi menganggap orang lain lebih rendah dari dia. Hal tersebut jelas menimbulkan konflik.

Maka, berani keluar dari zona nyaman berarti harus ada satu semangat yang penting yaitu respect; menghormati dan menghargai pihak lain. Artinya, saat agama dikaitkan dengan perdamaian, agama seperti pisau bermata dua.

Agama bisa menjadi pembawa perdamaian dan sebaliknya, agama bisa menghasilkan konflik. “Jadi jangan sampai dengan sangat naif kita mengatakan, ‘Pokoknya kalau udah dengan agama, semuanya beres.’ Enggak,” tegas salah seorang pendiri ICRP ini.

Sejarah membuktikan bahwa agamalah yang justru membawa pertumpahan darah meskipun maksud kehadiran agama tidak seperti itu. Sebagai orang yang menyadari kalau di satu pihak memiliki kekayaan agama tapi di lain pihak juga mau membangun perdamaian, orang muda harus bisa melihat apa saja yang perlu diperhatikan terutama ketika agama yang satu berhadapan dengan agama yang lain.

Problem yang disebut dalam banyak dialog tersebut adalah Truth Claim yakni setiap agama mempunyai klaim kebenaran di mana masing-masing agama merasa bahwa hal tersebut adalah mutlak.

Agama mengatakan We Are The One and The Only sebagai pembawa kebenaran. Dalam konteks pemahaman filsafat, orang muda bisa melihat bahwa ada yang tidak beres. Letak ketidakberesannya adalah karena instrumen dalam agama dimutlakkan dengan ide dan gagasan agama.

Seolah-olah, instrumen tersebut sama dengan gagasan agama yang mutlak. Tuhan itu mutlak. Agama adalah instrumen. Ada banyak istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa agama adalah instrumen.

Sebagai misal, konsep Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus, dalam Islam. Jalan bukan tujuan. Konflik yang sering terjadi antaragama juga terjadi dalam konflik dalam tafsir agama itu sendiri.

Masing-masing kelompok mengklaim “kami yang paling benar” sehingga kelompok yang lain masuk neraka. Pada prinsipnya, ide dasar agama sebenarnya sudah baik. Saat diterjemahkan di dalam cara, cara yang dipakai justru diidentikkan dengan ide tentang agama.

 

Agama Food Court

Merawat agama adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan perdamaian. Pertama, cara dari internal agama sendiri yakni harus belajar untuk rendah hati. Ibarat menyewa rumah, pemeluk agama bukanlah pemilik rumah.

Artinya, manusia juga banyak menciptakan rumusan-rumusan, baik dalam bentuk kalimat dan dalam bentuk apapun yang merupakan bentuk lahiriyah tentang agama.

“Saya bisa mengucapkan kalimat syahadat dari semua agama tapi tidak mengubah keyakinan saya tentang agama saya. Apa susahnya sih mengucapkan kalimat?” tanya Romo Hari.

Saat ini, kabar tentang seseorang yang pindah agama dari satu agama ke agama yang lain selalu menjadi berita yang super besar. Hal tersebut (pindah agama) sebetulnya biasa-biasa aja.

Setiap manusia memiliki hak untuk memilih memeluk agama apa saja. Pilihan tersebut mesti dilakukan dengan baik dan dengan penuh kesadaran agar menjadi rahmat.

Kesadaran tersebut berguna untuk mengikis pilihan agama seseroang yang hanya berdasarkan apa yang sedang “in” saat ini, mana yang proyeknya lebih banyak, kerjaan terjamin, atau demi pasangan hidup. Betapa mudahnya seorang manusia loncat sana-loncat sini.

Dalam perspektif keagamaan masing-masing, orang muda harus mulai melihat dan mendalami kayaannya sendiri. Jangan sampai orang muda beragama hanya sekadar seperti berkunjung di food court saja.

Mencoba ini dan itu. Semuanya enak, semuanya baik. Pada akhirnya, banyak orang tidak mendapatkan sesuatu yang sungguh-sungguh. Agama hanya dijadikan sebatas apa yang bisa dinikmati dengan enak ala makanan di food court.

“Kita tahu kalau yang namanya makanan di food court, jangan mengharapkan yang kompleks, yang sulit dibuat, yang sungguh-sungguh mewakili suatu seller. Rasa rata-rata harganya juga yang murah-murah. Nggak mungkin mahal banget,” tutur Romo Hari memberikan perumpamaan.

 

Merawat Agama

Dalam hal merawat perdamaian dan kebinekaan, Romo Hari mengimbau orang-orang muda agara perjumpaan dengan berbagai macam agama membuat masing-masing dari orang muda mulai menggali kekayaannya sendiri, apa pun itu.

Sebab, jika seseorang memiliki sesuatu yang berharga, maka orang tersebut akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Seseorang bisa menemukan hal berharga dari orang lain. Jika seseorang tidak punya apa-apa, maka ia juga tidak akan mendapatkan apa-apa.

Selain menggali dengan dengan sungguh-sungguh kekayaan masing-masing, orang muda juga harus melihat–karena agama sebagai jalan–bahwa agama seharusnya menjadi cara untuk mencapai tujuan.

Setiap agama merumuskan tujuannya dengan berbagai macam cara dan undangan. Prinsipnya adalah bahwa sebagai seorang manusia, satu orang melalui jalan tersebut dan mau mencapai tujuan hidup. Secara sederhana, tujuan hidup tersebut harus menjadi tujuan bersama.

Romo Hari mengajukan pertanyaan: “Emangnya kamu mau masuk ke surga sendirian aja? Betapa kesepiannya berada di surga sendirian dan itu kesepian abadi. Sekarang, nggak ada wi-fi aja sudah bingung apalagi membayangkan kesepian abadi.”

Jika ingin mencapai tujuan, maka seseorang mesti menggandeng tangan yang lainnya dan berjalan bersama dengan yang lain sehingga kesadaran untuk menghormati yang lain bisa terlaksana.

Kebinekaan menunjukkan bahwa orang lain mempunyai makna bagi seseorang meskipun berbeda. Apabila setiap orang sama, hidup manusia hanya diibaratkan bertemu dengan fotokopian saja.

Orang muda harus menyadari kekayaan sendiri. Tapi, agar kekayaan berkembang, orang muda harus membuka diri dan menerima berka-berkah dari orang lain dan membagikan sesuatu kepada orang lain. Di sinilah kesadaran kemanusiaan dapat dimiliki bersama.[ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: Ahmad Nurcholish

SKB 3 Menteri: Perlindungan Konstitusional Untuk Hak-hak Sipil

Kamis, 18 Maret 2021

 

Bingung atau marah dengan SKB 3 Menteri tentang pengaturan seragam sekolah? Jangan dong!

Terbitnya SKB ini sangat mendasar menyelamatkan peserta didik dan para pendidik dari tindak intoleransi dan diskriminasi bernuansa agama. Ayo simak secara seksama penjelasan langsung dari 3 Menteri terkait upaya-upaya konstitusionalnya dalam menghormati keberagaman tafsir agama dan memenuhi hak-hak sipil segenap warga, tanpa terkecuali, termasuk di Sumatera Barat dan Aceh (NAD). Hadir juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta tokoh-tokoh penting lainnya.

Baca juga: Meluruskan Distorsi Informasi Tentang SKB 3 Menteri

Kunci segera yuk jadwalnya agar tidak terlewat dan jangan lupa daftar karena Zoom terbatas untuk 500 orang! Acara ini langsung disiarkan di kanal YouTube Kabar Sejuk.

Dialog Nasional “SKB 3 Menteri: Perlindungan Konstitusional untuk Hak-hak Sipil digelar Jumat, 19 Maret 2021, pkl. 09.00-11.00.

Tersedia juru bahasa isyarat (JBI)

#KabarSEJUK #jurnalismekeberagaman
#SKB3Menteri #PendidikanUntukSemua
#PendidikanYangMembebaskan
#JadiEmpatiKalauNgerti

Najwa Shihab: Kita Memang Berbeda Tapi Kita Tetap Bersama

Selasa, 9 Maret 2021

 

Jakarta – Dalam Convey Day yang diselenggarakan oleh Convey Indonesia pada Jumat 5 Maret 2021, Najwa Shihab menceritakan tentang pengalaman toleransi dalam hidupnya.

Ia memulai pemaparannya dengan penyataan bahwa Indonesia harus memperkuat dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat toleransi merayakan perbedaan dan melihat keragaman sebagai kekayaan bangsa.

Bagi  Najwa, ada sekian hal yang bisa mempersatukan dan hal tersebut tak selalu yang indah dan menyenangkan. Kita bisa dipersatukan bahkan oleh permasalahan. Pandemi Covid-19 sebenarnya adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ternyata kita saling membutuhkan.

Betapa bersama adalah cara bertahan menyepakati perbedaan memang tidak gampang yang tumbuh secara instan. Dibutuhkan toleransi, sebuah kata yang seperti lalat terdengar dengung tapi tak selalu kita raih dan wujudkan.

Najwa melanjutkan, toleransi harus dialami dan diajarkan atau disosialisasikan salah satunya lewat pengalaman hidup menjadi minoritas. Najwa merasa beruntung pernah mendapatkan pengalaman idalam usia yang relatif muda.

Usia Najwa 16 tahun saat mengikuti program pertukaran pelajar, ia lalu hidup dan tinggal di Amerika Serikat.  Ia tinggal di keluarga penganut Katolik yang taat bahkan menjadi satu-satunya muslim di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Najwa terekspos dalam beragam situasi dan muncul banyak pertanyaan hingga tudingan. Ia juga merasakan langsung keterbukaan dan penerimaan termasuk disiapkan makanan sahur setiap malam oleh ibu angkatnya yang beragama Katolik, juga ditemani puasa, diantar ke masjid di luar kota yang jauh untuk salat dan merayakan lebaran bersama komunitas muslim.

Baca Juga: Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Namun di sisi lain, Najwa mengaku pernah dibully saat salat di perpustakaan sekolah. Ia selalu diajarkan oleh orang tua untuk tidak boleh pilih-pilih teman. Ia memperoleh pelajaran tersebur dari didikan sang kakek, Habib Abdurrahman Shihab.

Najwa bercerita bahwa sejak dulu, rumah Abi di Makassar memang selalu dengan sahabat-sahabat habis dari berbagai kalangan termasuk para non-muslim. Keluarga Najwa selalu berinteraksi dengan beragam kalangan.

Sang Habib Abdurrahman Shihab juga mengajarkan anak laki-laki berjalan bersama ke masjid masjid. Biasanya, Habib meminta anak-anak Masuk dari pintu yang berbeda-beda.

Hal tersebut adalah salah satu cara Habib mengajari anak-anaknya untuk melihat segala sesuatu secara seksama tidak hanya dari satu sisi tidak sepotong-sepotong.

 

Pentingnya Sikap Toleran

Dalam ritual keagamaan, Najwa juga mengatakan bahwa Abi menekankan titik pentingnya sikap toleran dan menjauhi fanatisme kebenaran dalam agama yang bisa beragam. Satu-satunya cara untuk hidup harmonis adalah mengedepankan toleransi tanpa melunturkan keyakinan.

Habib Abdurrahman juga tahu pentingnya menuntut ilmu dan pendidikan tinggi. “Abah tidak akan meninggalkan harta buat kalian tapi semoga bekal pendidikan dapat Abah usahakan.” Kata Najwa.

Cinta ilmu dan pentingnya bergaul dengan beragam kalangan itu jugalah nilai yang dijunjung tinggi oleh Habib Quraisy. Hasil didikan itu pula yang diajarkan kepada Najwa beserta kakak dan adiknya.

Najwa diizinkan pergi setahun ke Amerika Serikat saat masih remaja padahal banyak orang yang berkata pada saat itu, “anak perempuan remaja kok dibolehkan ke Amerika, tinggal dengan orang yang tidak dikenal, nonmuslim lagi,” ujar Najwa melanjutkan ceritanya.

Najwa Shihab melanjutkan bahwa ia beruntung menjadi wartawan selama 17 tahun sebab punya kesempatan untuk melihat langsung peristiwa yang memengaruhi lanskap dunia. Ia juga melihat dari dekat aksi terorisme, bencana alam, perang konflik dan lain sebagainya.

Bagi Najwa, hidup di dunia sangatlah kompleks. Karenanya, kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beragam itu sangat penting. Ia percaya bahwa pemimpin masa kini dan masa depan adalah orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi melampaui batas-batas budaya.

Selain itu, bukan hanya sebatas jago berbahasa asing tapi juga peka terhadap sensitifitas budaya lain, punya insting untuk selalu mencari common ground, memiliki pikiran yang terbuka dan perspektif yang luas.

Pengalaman Najwa memungkinkannya untuk berbicara dengan sosok-sosok yang tidak biasa dengan latar belakang dan situasi beragam. Kadang-kadang ekstrem mulai dari pemimpin yang berpengaruh, presiden, aktivis, pahlawan, penyintas, tapi juga ia berbincang dengan koruptor dengan hukuman mati.

Dari pertemuan tersebut, Najwa mulai mengenali karakter dari sosok-sosok tersebut. Sosok pemimpin yang dicintai rakyat atau orang-orang biasa yang punya determinasi luar biasa.

Bagi Najwab, mereka adalah kepala-kepala yang mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak atau melihat dari perspektif yang berbeda dan sadar masing-masing dari kita adalah orang yang perlu mencari gol bersama yang mempersatukan.

Najwa menutup pemaparannya dengan kalimat ajakan sebagai berikut: “Teman-teman, mari memulainya dengan sederhana. Menyadari ada sejuta fakta yang tak bisa dilihat hanya dari sepasang mata. Kita memang berbeda tapi kita tetap bersama.” [ ]

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Editor: A. Nurcholish

Napak Tilas Hari Perempuan Sedunia Tahun 2021

Kabar Damai I Senin, 8 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day, Google menyuguhkan doodle khusus yang menarik dengan pesan yang kuat.

Bila kita membuka laman utama Google hari ini, kita dapat melihat logo Google dilatarbelakangi tangan-tangan terangkat ke atas. Yang paling menonjol adalah huruf kedua, “O”, dari kata Google diganti dengan dua telapak tangan lintas ras yang saling menggenggam.

Dilansir dari KompasTekno, menurut Google, doodle merepresentasikan sebuah penghormatan kepada para pahlawan perempuan yang mencetak sejarah. Di mana tangan yang mengudara, telah membuka pintu bagi perempuan lain untuk generasi-generasi setelahnya.
Kemudian, kalau kita meng-klik logo tersebut, ada video yang bisa diputar. Video Hari Perempuan Sedunia Google tersebut menampilkan ilustrasi para perempuan yang mencetak sejarah dan berpengaruh bagi masyarakat luas.

Para perempuan yang menjadi pionir, pejuang, dan pembuka jalan bagi perempuan lain untuk bisa menyenyam pendidikan, hak-hak sipil, sains, seni, dan berbagai bidang lainnya.

“Doodle hari ini merayakan para wanita di seluruh dunia yang mampu mengalahkan tantangan di masa mereka untuk menciptakan warisan abadi,” tulis Google.

 

Tema Hari Perempuan Sedunia 2021

Berdasarkan dari pernyataan yang diposting di laman undp.org, tema Hari Perempuan Sedunia 2021 adalah Perempuan dalam kepemimpinan: Mencapai masa depan yang setara di masa COVID-19 (Women in leadership: Achieving an equal future in a COVID-19 world).

Kemudian, dari akun Twitter @womensday meramaikan tema peringatan Hari Perempuan Sedunia 2021 adalah #ChooseToChallenge yang mengusung semangat “dari tantangan akan muncul perubahan.”

Semangat ini mengajak seluruh perempuan di dunia berani memilih tantangan dan menyerukan bias serta ketidaksetaraan gender. Perempuan, bisa memilih untuk meraih dan merayakan capaiannya.

Achim Steiner, UNDP Administrator, menegaskan, “Hari Perempuan Sedunia tahun ini adalah seruan untuk Kesetaraan Generasi. Inilah saatnya untuk memanfaatkan sepenuhnya kekuatan kepemimpinan perempuan demi mewujudkan masa depan yang lebih setara, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan.”

 

Sejarah Hari Perempuan Sedunia

Dilansir dari Tirto.id, terdapat dua tanggal peringatan International Women’s Day. Pertama, seperti yang ditulis Temma Kaplan dalam “On the Socialist Origins of International Women’s Day”, riwayat perayaan Hari Perempuan Sedunia berawal pada 8 Maret 1857 adalah bermula dari protes buruh perempuan yang bekerja di pabrik tekstil di New York. Tindakan semena-mena dan upah rendah menjadi alasan aksi tersebut. Namun, belum ada dampak lanjutan yang signifikan setelah unjuk rasa itu.

Kemudian, dalam The Feminism Book: Big Ideas Simply Explained (2019), disebutkan bahwa tepat 50 tahun kemudian pascaprotes itu, pada tanggal 8 Maret 1907 dikabarkan telah terjadi aksi demonstrasi yang melibatkan lebih dari 15 ribu perempuan buruh pabrik tekstil di New York.

Di Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya, tanggal 8 Maret sudah diperingati sebagai Hari Perempuan Nasional di negara itu dan terus dirayakan setiap tahunnya.

Lalu, pada 8 Maret 1975, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memperingatinya walaupun belum ditetapkan secara resmi. Peresmian tanggal tersebut sebagai Hari Perempuan Sedunia terjadi dua tahun kemudian, tanggal 8 Maret 1977, dan terus diperingati hingga saat ini.

Tanggal peringatan Hari Perempuan Sedunia kedua jatuh pada 19 Maret. Pilihan ini berdasar dari aksi demonstrasi kaum perempuan secara serentak di beberapa negara di Eropa pada 19 Maret 1909.

Pada 19 Maret 1911, lebih dari sejuta orang di Eropa, seperti Austria, Hungaria, Denmark, Jerman, dan Swiss, menggelar demonstrasi demi mewujudkan hak politik, hak memilih, serta hak jabatan publik untuk perempuan. Mereka juga memprotes perlakuan diskriminatif, termasuk pelecehan seksual terhadap buruh wanita di tempat kerja.

Hingga sekarang, setiap kedua tanggal tersebut, 8 dan 19 Maret, terus diperingati oleh warga dunia sebagai Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day.

 

Penulis: Hana Hanifah I Editor: A. Nurcholish

Sumber: –

Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Kabar Damai | Senin, 8 Maret 2021

 

Fakfak | kabardamai.id | Sejak dulu Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan toleransi yang tinggi. Berbeda-beda tetapi tetap satu, nilai toleransi ini dapat dijumpai dalam budaya suku-suku dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya adalah nilai toleransi ala Satu Tungku Tiga Batu di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Haru Suroto, menyebutkan, terdapat tiga agama di Fakfak, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen Protestan, yang dianggap sebagai agama keluarga. “Sehingga muncul semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati Satu Saudara’ untuk mempererat harmonisasi antar sesama,” ujarnya kepada Tempo.Co (18/1/20).

Dalam ulasan Tempo, Satu Tungku Tiga Batu mengandung arti tiga posisi penting dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama. Ketiga batu ini, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak yang sama, posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

“Tungkunya berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan untuk memasak,” kata dia.

Menurut dosen antropologi  itu, kemajemukan masyarakat Fakfak tetap memandang dirinya berasal dari satu rumpun kerabat, satu leluhur jauh sebelum ketiga agama tersebut berkembang di Fakfak. Hal itu juga lazim dijumpai di Fakfak dalam suatu keluarga, terbagi ke dalam tiga agama berbeda.

Salah satu bukti adanya toleransi agama di Fakfak, adalah Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870, arsitektur masjid ini sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Rumah ibadah muslim ini merupakan wujud dari nilai Satu Tungku Tiga batu, yang dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik. “Jika dilihat dari kejauhan, masjid terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa,” tutur Hari.

Pada 1870, Islam, Kristen Protestan, Katolik sudah menjadi tiga agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar. Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu adalah ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan seimbang untuk menopang kehidupan keluarga.

Hari menjelaskan bahwa mereka—masyarakat Fakfak—tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu, atau pun perselisihan terkait agama. “Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebagai bentuk keberagaman dan kebinekaan yang ada di Indonesia,” kata arkeolog yang berusia 40 tahun itu.

Hal yang sama diceritakan oleh budayawan Fakfak Abbas Bahambah (61) kepada Kompas.Com.

“Kita berasal dari satu rahim mama, jangan sampai terpecah hanya kerena perbedaan. Kekerabatan harus dijaga karena kekerabatan usianya lebih tua dibandingkan agama yang kita kenal saat ini,” ujarnya, kutip Kompas.com (20/8/19).

Hal itu ia ungkapkan sebagai cermin kuatnya toleransi di Fak-fak, Papua Barat. Ia menceritakan masyarakat Fakfak memiliki filosofi satu tunggu tiga batu yang dikenalkan nenek moyang mereka sejak zaman dulu.

Satu tungku tiga batu adalah dasar kerukunan di Fak-fak, Papua Barat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari “kau”, “saya” dan “dia” yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona

Dalam buku Jati Diri Perempuan Asli Fakfak yang ditulis Ina Samosir Lefaan dan Heppy Leunard Lelapary menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu adalah pengejawantahan dari filsafat hidup etnis Mbaham Matta Wuh yang disebut Ko, on, kno mi mbi du Qpona yang artinya adalah kau, saya dengan dia bersaudara.

Filosofi ini, masih dalam ulasan Kompas,  mengarah kepada adat, agama dan pemerintah.

Etnis Mbaham Matta Wuh adalah masyarakat adat tertua yang ada di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua. Fakfak juga menjadi salah satu kota tertua di provinsi tersebut.

Di buku itu, Lefaan dan Lelapary juga menjelaskan, Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau yang dikenal satu tungku tiga batu mengandung arti yang sama, tiga posisi penting dalam kekerabatan etnis Mbaham Matta Wuh.

Ko, on, kno mi mbi du Qpona atau satu tungku tiga batu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima.

Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari kaki rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.

Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat.

Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Ketiga batu yang sama kuat itu, dilambangkan sebagai tiga pihak yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang.

Nama Fakfak diyakini berasal dari kata pakpak yaang berarti tumpukan batu berlapis yang banyak ditemui di sekitar wilayah pelabuhan.

Fakfak kemudian menjadi identifikasi diri warga asli yang bermukim sejak masa nenek moyang yang ditandai dengan nama marga sebagai identitas dan digunakan hingga saat ini.

Lalu mereka disebut “anak negeri” untuk membedakan dengan pendatang dari luar wilayah Fakfak, baik dari dalam maupun luar Papua.

“Penduduk Fakfak mayoritas beragama Islam, berbeda dengan wilayah lain di Papua. Bahkan ada yang menyebut bahwa Fakfak adalah serambi Mekkahnya Indonesia, tapi toleransi di sini sangat tinggi,” jelas Abas kepada Kompas.com.

Ia mencontohkan saat perayaan hari raya Idul Fitri, umat Nasrani yang akan menjadi panitianya. Demikian juga sebaliknya, saat Natal, maka umat Islam akan ikut mengurus acara perayaannya.

Termasuk saat pemberangkatan jamaah haji asal Fakfak atau upacara pentahbisan di gereja, Abbas mengatakan semua umat lintas agama akan ikut terlibat.

“Yang membedakan adalah ritual keagamaan. Yang agamanya beda tentu tidak akan terlibat pada ritualnya. Setiap hari raya kita juga pelesiran, berkunjung atau bersilaturhami karena dalam satu marga keluarga ada beberapa agama di dalamnya. Ini adalah bentuk kerukunan,” terang Abbas.

Kerukunan antar-umat beragama juga terlihat saat masuk bulan Safar dalam kalender Islam. Semua umat lintas agama mengikuti tradisi mandi safar dengan saling menyiram air serta menggelar makan bersama.

Selain itu, jika ada masalah atau konflik yang terjadi di masyarakat, maka akan diselesaikan secara adat. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Tempo.co | Kompas.com

Upaya Menurunkan Kesenjangan Gender di Sektor Pelayanan Publik

Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menangani kesenjangan gender melalui kebijakan di berbagai sektor.

“Kesetaraan gender tidak hanya penting dari sisi moralitas, keadilan, tetapi juga sangat penting dan relevan dari sisi ekonomi,” tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) 2019 lalu.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pengarusutamaan gender (PUG) dijadikan salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam pembangunan nasional.

Hal tersebut dicapai dengan cara mengintegrasikan perspektif gender dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan.

Kesetaraan gender yang ditekankan adalah kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam hal partisipasi ekonomi, kesetaraan akses pendidikan, kesehatan serta political empowerment. Selain itu, kesetaraan gender juga berupaya memperhatikan dan menyasar berbagai kelompok rentan, seperti difabel, anak, ibu hamil dan menyusui, lansia dan kelompok marginal lainnya.

Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Diah Natalisa, dalam Acara Virtual Leadership Summit Game Changer for Gender Diversity in the Indonesian Public Sector pada Rabu lalu (3/3) yang diselenggarakan oleh Prospera, Program Kemitraan Indonesia-Australia untuk Perekonomian, menyampaikan bahwa evaluasi terus rutin dilakukan oleh pemerintah, termasuk oleh pihaknya, dalam pelaksanaan pelayanan publik.

Evaluasi itu meninjau dari segi sarana dan prasarana serta fasilitas penyelenggaraan pelayanan agar dapat memenuhi fasilitas pelayanan masyarakat yang ramah bagi keluarga dan kelompok rentan, seperti ketersediaan ruang untuk ibu menyusui, tempat bermain anak, fasilitas yang ramah difabel, serta fasilitas penunjang lainnya.

“Kementerian PANRB juga turut mendorong terciptanya inovasi penyelenggaraan pelayanan publik yang ramah gender dengan memasukan responsif gender dalam pemberian pelayanan sebagai salah satu kategori inovasi, pada pelaksanaan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) yang menjadi agenda tahunan,” terang Diah.

Hingga saat ini, telah lahir berbagai inovasi dari kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang ramah terhadap keluarga, seperti inovasi pelayanan publik dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang disebut Ojol Berlian (Ojek Online Bersama Lindungi Anak) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Bunga Tanjung (Pusat Pelayanan Terpadu Kekerasan Perempuan dan Anak).

Lebih  lanjut, Diah juga menyampaikan bahwa evaluasi juga dilakukan berdasarkan pengaduan dari masyarakat. Pada sektor pengelolaan pengaduan pihaknya juga telah membangun sistem yang ramah gender dan inklusif melalui SP4N-LAPOR! dengan tujuan mengakomodir berbagai pengaduan, khususnya terkait perempuan, penyandang difabel dan kelompok marginal, dan dapat menyesuaikan dengan karakter pengaduan dari kelompok- kelompok tersebut.

“Dari hasil pengaduan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk memperbaiki penyelenggaraan pelayanan publik,” tegasnya.

Penulis: Hana Hanifah

Awal Mula Kedatangan Katolik di Indonesia

Senin, 8 Maret 2021

 

Jakarta – Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara tidak hanya untuk mencari rempah-rempah, tapi juga membawa kejayaan dan keinginan untuk menyebarkan agama Katolik.

Kemudian, dikenallah apa yang disebut dengan goldglorygospel. Pencarian rempah-rempah di Nusantara berjalanan beriringan dengan keinginan untuk menyebarkan agama Katolik.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur adalah bagian dari mandat Paus Alexander VI. Melalui Perjanjian Tordesillas, Paus Alexander VI membagi belahan dunia di luar daratan Eropa.

Sementara di sisi Barat, mandat tersebut diserahkan kepada negara Spanyol. Kedua negara tersebut kemudian bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing negara tetap bisa tetap meraup rempah-rempah.

Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis tentang agama Katolik yang sudah ada pada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara. Agama Katolik lalu menyebar ke daerah lain, termasuk di Pulau Jawa.

J. Bakker menggunakan sumber-sumber Islam dalam penelitiannya dan dia meyakini bahwa agama Katolik yang datang ke Indonesia adalah agama katolik yang berasal dari India Selatan.

Mulanya, Santo Thomas yang mewartakan Injil sampai ke India Selatan. Katolik kemudian berkembang di India Selatan dan menyebar lewat perdagangan ke Sumatra Utara.

Gereja Kristen Katolik kemudian mulai dibangun di daerah Tapanuli sebelum tahun 600 oleh seorang saudagar yang berasal dari India dan menamakan diri sebagai Thomas Christians.

Pada April 1511, setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque yang merupakan gubernur Portugis kedua di India mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka.

Perjalanan dalam waktu singkat tersebut kemudian membuat Alfonso berhasil menaklukkan Malaka, sebuah pelabuhan perdagangan penting yang berada di wilayah Nusantara pada masa itu.

Setelah tiba di Malaka, Alfonso pun mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Alfonso melanjutkan perjalanan ke Banda menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate inilah kemudian Portugis mendapat izin membangun benteng.

Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Setelah menguasai Malaka, Portugis akhirnya bisa memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur yakni Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore.

Salah satu zandeling Katolik di kawasan tersebut adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis yang kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. Misi tersebut dinilai menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri.

Dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia, Jan Bank menuliskan bahwa pada saat hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan tersebut berakhir di awal abad ke-17, gereja Katolik kehilangan pelindung dan wilayah.

 

Jumlah Umat Katolik di Indonesia

JalaPress.com mencatat omat Katolik di Indonesia berjumlah 6,9 juta (2,91%) pada tahun 2013 dan pada tahun 2016 naik kurang lebih 7 juta orang (hamper 3%) dari jumlah populasi penduduk nasional.

Konsentrasi umat Katolik agak merata di Bali dan Nusa Tenggara, dengan pertumbuhan 1,19%. Pertumbuhan dan persebaran tertinggi ada kawasan Indonesia Timur (Maluku-Papua) sebesar 6,39% dan yang terendah di Sumatra sebesar (–0,65%). Pertumbuhan tertinggi ada di Provinsi Papua (6,58%) dan terendah di Provinsi Gorontalo (-6,64%).

Total jumlah Keuskupan di Indonesia adalah 37 Keuskupan. Sedangkan jumlah Paroki di seluruh Indonesia sebanyak: 1.205 Paroki, dengan rincian: Pulau Jawa (295 Paroki), Pulau Kalimantan (173 Paroki), Pulau Flores (211 Paroki), Pulau Sumba (24 Paroki), Pulau Timor (78 Paroki), Pulau Sulawesi (94 Paroki), Pulau Ambon (40 Paroki), Pulau Papua (116 Paroki), Pulau Bali dan NTB (24 Paroki), Pulau Sumatra (150 Paroki). [ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas | Editor: A. Nurcholish

Sumber: Historia.id | JalaPress.com

Penulis:  Ahmad Nurcholish

 

“Dengan mata hati, lihatlah orang yang beriman dan orang kafir.

Mereka tidak punya apa-apa kecuali hanya bisa menangis dan berseru

‘O, Tuhan, O Yang Maha Hidup,’ berdasar kepercayaan masing-masing.”

Mevlana Jalal al-Din Rumi

 

Djalal al-Din Rumi menulis syair ini dalam karyanya Divan-i Kabir,  1957: vol. V, No. 2578).  Sebait syair itu tercipta dari pengalaman panjang tokoh sufi kelahiran kampung di pinggir sungai Wakhsh, Persia (sekarang Tajikistan).  Di dalamnya, nilai terdalam Agama Cinta dapat diresapi. Ya, Agama Cinta, sebentuk spiritualisme universal yang melampaui bentuk-bentuk keyakinan dan agama umat manusia.

Spiritualisme ini mencerminkan desahan batin terdalam umat manusia dalam mengharap, merindu dan mencintai Sang Tuhan: Tuhan dalam pengertian-Nya sebagai (yang diyakini semua makhluk), Sang Pencipta dan Tempat Bergantung semua makhluk, tanpa terkecuali.

Ini merupakan “Agama Dalam” atau “Agama Batin” yang melampaui bentuk-bentuk, doktrin, model sesembahan dan konseptualisasi manusia atas Tuhan. Menurut Rumi, ketika terjadi hubungan intim sang pecinta dengan yang dicintai, tak bermakna lagi kehadiran setan dan kebencian. Hanya cinta yang ada. Kekufuran pun berubah keimanan jika dilakukan atas nama Cinta kepada Tuhan atau demi Tuhan semata. Cinta kepada Tuhan apalagi menyatu dengan-Nya membuat apa pun yang bertabiat duniawi (bentuk) menjadi tak berarti. Kata Rumi,

“Aku telah membersihkan rumahku dari kebaikan dan keburukan;

rumahku hanya diisi dengan Cinta kepada Yang Esa.”

Untuk sampai hakikat ini, keadaan yang tak semata terpaku pada jalan lahiriah, seorang mesti meresapi Agama Cinta melalui pintu tasawuf.Taraf ini lebih tinggi dibanding sekadar memuja atau mengabdi kepada-Nya. Seseorang yang berhasrat mesti mendalami ilmu tentang-Nya dan tentang hakikat semesta, di samping tentu mempraktikkan jalan tasawuf melalui ibadah, riyadah dan mujahadah dalam maqamat dan ahwal.

Dalam pandangan Rumi, mereka yang sudah meresapi jantung agama-agama melalui jalan tasawuf akan menjadi “manusia Tuhan”. Manusia jenis ini berhasil melampaui bentuk-bentuk agama formal. Dalam bait-bait syair, Rumi menulis:

Manusia Tuhan adalah ia yang telah melampaui kekufuran dan keimanan

Manusia Tuhan adalah ia yang memandang yang benar

dan yang salah sama saja.

Diwan Shamsi Tabrizi of Jalaluddin Rumi, terj. Nicholson (Bethesda, Maryland: Ibex Publisher, 2001), h. 31.

Bagi manusia awam, untaian syair Rumi di atas mungkin dipahami sebagai kesesatan. Bagaimana tidak, Rumi mengatakan “yang benar dan yang salah sama saja”. Dalam logika keimanan “orang awam”, tak mungkin sama antara ‘yang salah’ dan ‘yang benar’. Jelas berbeda.

Jika semata menggunakan kaca mata “syariat formal” seseorang bisa kebingungan.Ungkapan Rumi tak bisa hanya dipahami makna literalnya. Butuh perenungan dan penelaahan lebih mendalam, memasuki relung batin para sufi itu sendiri. Dan bagi setiap orang, hasilnya bisa berbeda. Itulah yang membuat jalan sufi tak serta-merta diamini, terutama oleh kalangan yang hanya “menghamba” pada ritual syariat. Terlebih jika tidak diiringi dengan menyelami dimensi spiritual dalam ritual syariat tersebut.

Bagi kaum sufi, yang baik, salah atau yang kufur dengan beriman sama saja. Apa yang dimaksud semua sama ini bisa dilihat dari dua hal.

Baca Juga: Masyarakat Singkawang dan Harmoni Antaragama

 

Pertama, bagi para sufi yang berada di maqam hakikat atau esensi, semua yang bersifat lahir maupun batin sulit dibedakan. Sama sulitnya membedakan bentuk dan isi. Bentuk dan isi terpatri atau tercampur satu sama lain. Ibarat logam campuran seunsur, mereka sudah tak dapat melihat lagi perbedaan unsur-unsurnya.

Pandangan tentang kesatuan atau yang menyatukan dua aspek biasa disebut dengan paham non-dualisme. Mereka para sufi yang meganut paham kesatuan (wahdat, union) seperti Ibn ‘Arabi dan Jalal al-Din Rumi. Sementara bagi orang yang hanya menyakini kebenaran syariat, bentuk formal merupakan wujud satu-satunya yang riil yang tak dapat ditawar lagi.

Pandangan kesatuan bisa ditemukan dalam Bhagavad-Gita. “Orang arif bijaksana melihat semuanya sama, baik brahmana budiman dan rendah hati maupun seekor sapi, gajah dan anjing ataupun orag hina papa, tanpa kasta,” tulis salah satu sloka.

Kesadaran dan kebahagiaan terhadap Cinta pada Yang Tertinggi hadir pada segala eksistensi. Perbedaannya hanya berkaitan dengan nama dan rupa dalam perwujudan. Bila manusia memandang dari sudut pandang Realitas Tertinggi yang hadir pada semuanya, ia akan melihat dengan pandangan yang sama. Dualisme mendasar ada pada ruh dan sifatnya bukan jiwa dan badan.

Kedua, pada setiap aspek ciptaan selalu terdapat pasangannya.Ini bukti kesempurnaan Tuhan.Pada keburukan atau kekufuran pasti terdapat aspek yang baik atau keimanan. Dalam pandangan Tuhan semua ciptaan sama saja. Tetapi dalam pandangan makhluk, bentuk-bentuk ciptaan terlihat berbeda. Bagi kaum sufi, semua perbedaan atau pertentangan bukanlah dua aspek yang mutlak terpisah dengan realitas masing-masing, melainkan satu.

Dalam aspek batin, tak ada nama dan bentuk. Manusia pencari Tuhan mengarahkan spiritualitasnya pada aspek dalam hanya melihat satu kesempurnaan: sebuah cinta kepada Tuhan yang sama. Inilah relevansi ungkapan Rumi.Dalam mazhab Cinta, tak ada bentuk keimanan dan kekufuran.Cinta bersemayam pada jiwa yang mendalam.Cinta kepada Tuhan sebagai bentuk keimanan tertingggi memiliki kekuatan besar.

Ketika bercerita tentang seorang Muslim yang mengajak seorang Majusi memeluk Islam dan kisah seorang muazin yang memanggil salat di wilayah kaum non-Muslim, Rumi sampai pada kesimpulan bahwa iman dan Agama Cinta ternyata melampaui bentuk-bentuk formal agama. Rumi memberi ilustrasi. Setetes air dari Cinta yang ditumpahkan ke dalam samudra, niscaya samudra itu terserap ke dalam tetesnya. Jika api cinta masuk ke dalam hutan, hutan itu terbakar habis. Jika hasrat cinta merasuki seorang raja atau komandan sebuah pasukan, niscaya musuh-musuh keduanya bisa hancur berantakan.

Melihat agama dari bentuk-bentuk “formal” tetap dibutuhkan, terutama bagi mereka yang mulai menempuh kehidupan keagamaan. Ini tahap persiapan untuk mengarungi kedalaman esensi atau jantung agama. Saat persiapan matang dan simbol-simbol formal tak lagi memadai, bersatu dengan Sang Kekasih akan jadi tujuan akhir yang mesti dicapai para penempuh jalan. Pada maqam ini yang dapat dicapai pemeluk agama mana pun, seseorang akan bernyanyi dengan Agama Cinta. Agama Cinta yang dianut kaum mistikus beragam agama adalah agama universal; satu-satunya agama yang mesti dianut umat manusia.

Agama universal itulah yang memungkinkan setiap penganutnya tak lagi terjebak pada ritual formal, simbol-simbol dan sejenisnya, yang seringkali menjadi sumber perdebatan, bahkan saling menyesatkan. Agama universal hanya dapat ditemukan dalam Agama Cinta, agama yang dapat diamalkan semua penganut agama, bahkan mazhab maupun tradisi ketika mereka berhasil menembus hijab kepada Yang Hakiki. Karena itu, Agama Cinta ala Rumi adalah agama universal yang dapat direguk berbagai pemeluk agama dan tradisi jika mereka semua dapat menembus yang hakiki dengan melampaui simbol-simbol, atau dapat keluar dari kungkungan bentuk-bentuk formal lahiriah semata. Rumi kembali menyakinkan bahwa,

“Agama Cinta adalah terpisah dari seluruh agama, hanya Tuhan saja miliknya.”

Pernyataan Rumi tersebut dalam pengertian bahwa para pecinta Tuhan adalah manusia-manusia yang dapat merefleksikan cahaya Tuhan. Karena Tuhan dapat mendekat dan menyapa siapa pun dan dari agama apa pun, maka Tuhan menjadi milik yang disapa. Nikmatnya bermesraan dengan Tuhan membuat sang pecinta merasa bentuk formal agama atau bentuk ikatan apa pun sudah tidak memadai lagi. Dalam keadaan begini, Rumi (dalam Talat Sait Halman dan Metin, Mevlana Celaluddin Rumi and The Whirling Dervishes, h. 28) menandaskan:

“Agama dan kebangsaanku adalah Tuhan.”

Para sufi memandang bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada Agama Cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Cinta adalah esensi segala kepercayaan. Hal ini sebagaimana pernah diungkapkan oleh Ibn ‘Arabi sebagai berikut:

 

My heart has become capable of every form;

it is a for gazelles and a convent

for Christian monks,

And a temple for idols, and the pilgrim’s Ka’ba,

And the table of the Tora and the book of the Koran

I follow the religion of Love, whicherver way

His camels take, My religion and my faith

Is the true religion.

We have a pattern in Bishr, the lover of Hind

and her sister, and in Qays and Lubna,

and in Mayya and Ghaylan.

(R.A. Nicholson, The Mistics of Islam, h. 106)

Melalui puisi tersebut ‘Arabi hendak menegaskan, ia menerima berbagai bentuk keyakinan atau agama, juga beragam bentuk rumah ibadah tempat penganutnya menghamba pada Sang Mahacinta, yang sejatinya sama-sama mengagungkan-Nya.Ia pun dapat mengambil atau menempuh semua jalan yang tidak ada bedanya jika mampu melihat esensi dari berbagai jalan itu melalui Agama Cinta.

 

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015, deputi direktur ICRP)

Bertemu Paus Fransiskus, Ulama Terkemuka Irak Dukung Kristen dan Muslim Hidup Damai

Senin, 8 Maret 2021

 

Bagdad – Ulama terkemuka Syiah Irak  Ayatollah Agung Ali al-Sistani mengatakan kepada Paus Fransiskus dalam pertemuan bersejarah di kota Najaf Irak pada Sabtu (6/3/2021) bahwa ia mendukung umat Kristen di negaranya hidup dalam ” damai”.

Diberitakan Kompas.Com, pertemuan itu berlangsung pada hari kedua dari jadwal kunjungan Paus di Irak untuk pertama kalinya, yang menandai momen penting dalam sejarah agama modern.

Meski sedang terjadi gelombang kedua virus corona dan ancaman keamanan, itu tidak menggentarkan Paus untuk mengunjungi Irak, tempat yang telah “lama ia nantikan”.

Tujuannya adalah untuk menghibur komunitas Kristen kuno di negara tersebut dan memperdalam dialognya dengan tokoh agama lainnya, seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (6/3).

Pertemuan antara dua tokoh agama berpengaruh itu berlangsung selama 50 menit di kantor al-Sistani. Tak lama setelah pertemuan itu, kantor al-Sistani mengeluarkan ucapan terima kasih kepada Paus 84 tahun itu atas kunjungannya di kota suci Najaf.

Melansir DW.Com (7/3), dalam pertemuan tersebut Pus Fransiskus juga mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan dan menyebut hal itu sebagai “penistaan terbesar”.

“Dari tempat ini, tempat lahirnya iman, dari tanah bapak kami Ibrahim, marilah kita tegaskan bahwa Tuhan itu penyayang dan bahwa penistaan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita,” ujar Paus Fransiskus di Ur, tempat kelahiran Ibrahim.

Al-Sistani (90 tahun) “menegaskan perhatiannya terhadap warga Kristen yang harus dapat hidup seperti semua warga Irak dalam perdamaian dan keamanan, serta dengan hak konstitusional penuh mereka”.

Kunjungan pemimpin tertinggi Katolik Roma itu adalah salah satu hal menarik dari perjalanan empat hari Paus Fransiskus ke Irak yang dilanda perang, di mana Sistani telah memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan dalam beberapa dekade terakhir.

Butuh berbulan-bulan negosiasi yang cermat antara Najaf dan Vatikan untuk mengamankan pertemuan satu lawan satu.

“Kami merasa bangga atas apa yang diwakili oleh kunjungan ini dan kami berterima kasih kepada mereka yang memungkinkan,” kata Mohamed Ali Bahr al-Ulum, seorang ulama senior di Najaf, lansir beritasatu.com (7/3).

Paus Fransiskus dikenal sebagai pendukung kuat upaya dialog antaragama, telah bertemu dengan ulama Sunni di beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Bangladesh, Turki, Maroko, dan Uni Emirat Arab.

 

Siapa Ali Sistani?

Sementara itu, Sistani dihormati oleh sebagian besar dari 200 juta penganut Islam Syiah di dunia – minoritas di antara Muslim tetapi mayoritas di Irak. Dia merupakan tokoh nasional bagi warga Irak.

“Ali Sistani adalah pemimpin agama dengan otoritas moral yang tinggi,” puji Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, kepala Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan spesialis studi Islam.

Sebagai seorang teolog, Ali Sistani jelas mendukung keterbukaan terhadap dunia – tetapi dengan syarat yang jelas bahwa hal itu tidak membawa umat Islam yang beragama menjauh dari jalan yang benar.

“Berkat toleransi dan penghormatan Sistani terhadap kebebasan berpikir dan berdebat, Najaf, sebagai pusat keagamaan, menyaksikan era paling toleran dalam seluruh sejarahnya,” tulis ilmuwan politik Abbas Kadhim dan Barbara Slavin pada musim semi 2020 dalam sebuah studi untuk Atlantic Council, lembaga pemikir Amerika.

Al-Sistani secara fundamental cenderung ke posisi moderat. “Secara politis, dia tampil sebagai orang yang moderat dan pragmatis,” kata Eckart Woertz. “Inilah yang mendasari reputasi dan otoritasnya.”

Ketika pemerintah Irak mengeluarkan ultimatum kepada pasukan al-Sadr, al-Sistani menyuruh pengikutnya berbaris di luar masjid. Akibatnya pasukan al-Sadr meninggalkan gedung tersebut. Al-Sistani menjelaskan kepada Syiah Irak, bahwa tidak perlu melawan Amerika. Sebaliknya, mereka bisa bekerja sama dengan mereka.

Al-Sistani dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian pada 2005 dan lagi pada 2014.

Dia bertindak lebih tegas pada bulan Juni 2014, saat mengeluarkan fatwa, yang sangat terbatas pada prinsip mempertahankan diri, terhadap organisasi jihadi Sunni yang dikenal dengan ISIS. Warga harus mengangkat senjata dan “membela negara mereka, rakyat mereka, dan tempat-tempat suci mereka,” seorang juru bicara al-Sistani mengatakan di Karbala, yang menjadi kota umat Syiah. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: Kompas.Com | DW.com | beritasatu.com

Bupati Pasaman: NU Pasaman Harus Jaga Kedamaian di Tengah Kemajemukan

Minggu, 7 Maret 2021

 

Pasaman – Bupati Pasaman, Benny Utama meminta pengurus NU untuk terus tetap berperan menjaga kehidupan yang damai dan berdampingan satu sama lain. Sekalipun warga Kabupaten Pasaman terdiri dari berbagai suku dan keyakinan agama yang berbeda.

Hal tersebut ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat masa khidmah 2020-2025 resmi dilantik, Sabtu (6/3) di aula lantai III Kantor Bupati Pasaman, Lubuk Sikaping.

Menurut Benny, seperti dilansir NU Online, warga Kabupaten Pasaman berasal dari berbagai suku seperti dari Minang, Batak, Jawa, Mandahiling, dan lainnya. Selain mayoritas beragama Islam, ada sebagian kecil beragama non-Muslim.

“Sudah sejak lama mereka hidup berdampingan dan saling hormati menghormati satu sama lain. Tidak pernah terjadi konflik satu sama lain. Hal ini menunjukkan masyarakat Pasaman mampu hidup berdampingan walaupun ada perbedaan,” ujarnya, kutip nu.or.id (6/3).

Karena itu, kehadiran NU dengan kepengurusan yang baru dilantik tentu tinggal melanjutkan memelihara kondisi yang damai, tentram, dan saling menghargai satu sama lain. “Pemerintah Kabupaten Pasaman sangat mendukung program-program yang dilakukan NU untuk kemaslahatan umat di Kabupaten Pasaman,” imbuh Benny.

Dikatakan Benny, organisasi NU merupakan organisasi Islam terbesar dan tertua di tanah air. Keberadaan NU dalam menjaga dan merawat kebangsaan patut diapresiasi. Atas dasar itu, kata dia, NU sangat dicintai oleh banyak orang. Siapapun bisa bergabung dengan NU untuk menjaga bangsa dan negara tetap utuh dan damai.

“Siapa pun bisa masuk, karena NU ini bukanlah partai politik. NU ini milik semua umat. Termasuk di Pasaman, nenek saya dulu juga penganut NU setia,” tandasnya.

Ia mengaku bangga, kepengurusan NU di Pasaman dipimpin barisan anak muda. Ini pertanda baik, agar NU ke depan mampu merawat keutuhan bangsa dan tetap menjaga tradisi serta kearifan lokal dengan baik.

Mengutip tulisan Muhammad Yusuf Aunur Sabri, Pemandu Kerukunan Umat Beragama Kankemenag Kab. Pasaman dalam laman sumbar.kemenag.go.id, berdasarkan data dari BPS Kabupaten Pasaman tahun 2016, ia menyebut penduduk Kabupaten Pasaman yang berdomisili di 12 kecamatan berjumlah 269.883 jiwa. Memiliki keyakinan atau memeluk agama yang berbeda yaitu Islam, Khatolik dan Protestan. Selain itu juga terdapat kemajemukan kesukuan/ budaya yaitu Minang, Mandailing, Batak dan Jawa serta sedikit lainnya.

Dari data yang diperoleh, pemeluk agama yang terbanyak di ranah Pasaman adalah Islam dengan jumlah  269.168 jiwa, sementara Protestan 200 jiwa dan Khatolik 65 jiwa. Begitu halnya dengan kesukuan secara persentase 90 persen dominasi suku minang, sedikitnya 9 persen batak dan mandailing dan 1 persen suku jawa bercampur dengan suku lainnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat Prof Ganefri menegaskan, salah satu tugas Nahdlatul Ulama adalah mensyiarkan ajaran Islam yang mayoritas dianut masyarakat Pasaman. Selain itu, NU perlu meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Kabupaten Pasaman. Demikian ini adalah pekerjaan rumah (PR) yang harus diperhatikan PCNU Pasaman.

“PCNU Pasaman harus menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan di Kabupaten Pasaman. Salah satunya di bidang pendidikan. Harus diakui, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pasaman masih berada di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan masih rendahnya partisipasi warga di bidang pendidikan. Karena itu, harus didorong dan dongkrak peningkatan partisipasi tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi,” tuturnya, kutip nu.or.id.

Sebagai Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), kata Ganefri, dirinya siap memberikan kesempatan kepada tamatan sekolah menengah untuk melanjutkan pendidikan ke UNP. Setiap tahun rata-rata 10.000 mahasiswa diterima. Ada sebanyak 2.200 peluang beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi tapi kurang mampu.

“Kita berikan kesempatan kepada Bupati Pasaman dan PCNU Pasaman untuk mendorong anak-anaknya yang tamatan sekolah menengah melanjutkan pendidikan ke UNP dan meraih beasiswa tersebut,” tandasnya.

 

Enam Poin Jaga Kerukunan

Untuk terus menjaga kerukunan hidup beragama di ranah Pasaman menurut Muhammad Yusuf Aunur Sabri, perlu dilakukan diantaranya:

Pertama, menjunjung tinggi toleransi antar umat Beragama di Kabupaten Pasaman. Baik yang merupakan pemeluk Agama yang sama, maupun dengan yang berbeda Agama. Rasa toleransi bisa berbentuk dalam macam-macam hal. Misalnya seperti, pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain dalam interaksi sehari – harinya, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya mereka melakukan ibadah.

Kedua, Selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun dan tanpa melihat status orang tersebut. Jangan melakukan perlakuan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan. Misalnya, di suatu daerah mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi Anda yang memeluk agama lain, jangan lantas malas dan enggan untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbedaan agama.

Ketiga, hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan sopan kepada siapapun. Biasakan pula untuk menomor satukan sopan santun dalam beraktivitas sehari harinya, terlebih lagi menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama.

Keempat, Bila terjadi masalah yang membawa nama agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin dan damai, tanpa harus saling tunjuk dan menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak – pihak manapun.

Kelima, Diperlukan juga aktivasi FKUB sebagai wadah yang mempersatukan umat beragama, maka pemerintah daerah harus bersungguh-sungguh memfasilitasi dengan setiap tahunnya menganggarkan biaya operasional FKUB dalam APBD.

Keenam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman yang juga selaku pemerintah dalam membidangi persoalan agama dan keagamaan harus selalu memprogramkan bermacam kegiatan pembinaan antar tokoh dan pemeluk antar agama juga intra agama.

Jika keenam poin tersebut terlaksana, maka menurut Muhammad Yusuf, beberapa manfaat akan diperoleh yakni: terciptanya suasana yang damai dalam bermasyarakat; toleransi antar umat Beragama meningkat; menciptakan rasa aman bagi agama – agama minoritas dalam melaksanakan ibadahnya masing masing; dan meminimalisir konflik yang terjadi yang mengatasnamakan Agama. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: NU Online (nu.or.id), sumbar.kemenag.go.id