Pos

Ilustrasi agama dan kesepian, sumber: http://www.adrianashton.co.uk/

[:id]Agama yang Mengasingkan[:]

[:id]

Dony Anggoro

Dony Anggoro

Oleh Donny Anggoro *

Setiap zaman, agama di segala tempat menjadi masalah yang pelik sekaligus tetap hangat bagi manusia.  Di satu pihak ia dijunjung sebagai pedoman keselamatan sedangkan di pihak lain, peran agama ternyata malah memicu pertikaian.

Meretas sejarahnya, beberapa abad silam sejak ilmuwan Copernicus dan Galileo menemukan bahwa dunia bukan pusat semesta alam- bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, pemuka agama di zaman itu mendadak berang ketika gambaran Alkitab tentang alam semesta ternyata tidak akurat, seolah mereka sudah mencemari keyakinan yang telah dipercaya berabad-abad. Seusai heboh perdebatan penemuan Galileo dan Copernicus, muncul Darwin yang juga dikecam dengan teori evolusinya.

Dalam tataran internal, agama kemudian diorganisir agar mampu menjalankan misinya: kebaikan untuk manusia. Namun ketika menjadi organisasi yang notabene membutuhkan umat dan anggota, usaha untuk menambah jumlah pengikut kemudian menjadi pemicu konflik sehingga agama menjadi sebuah kenyataan yang tidak menguntungkan.

Ketika agama mulai banyak dipakai untuk kepentingan politik, para pemimpin dan pemukanya ramai-ramai dipinang partai politik sebagai “ikon” atawa “penglaris” untuk menambah jumlah pengikut. Ia kemudian menjadi kendaraan dan sarana semata yang dapat menguntungkan pihak tertentu. Tantangan yang timbul dalam organisasi agama bukan lagi untuk menambah kualitas keimanan, melainkan menambah jumlah anggotanya. Selain peran politik dengan label agama, ada pula tokoh-tokoh agama yang lantas rentan terhadap godaan seksual dan materi sampai praktik korupsi dalam bisnis donatur kaya yang dihormati organisasi keagamaan.

Sedangkan dalam industri televisi kita beredarnya tayangan religius dengan memadukan aspek mistis dan religius seperti Taubat dan Rahasia Illahi seolah-olah menunjukkan kesadaran keimanan di masyarakat sedang meningkat dengan tidak ditayangkannya lagi acara tersebut hanya pada bulan Puasa menjelang Idul Fitri. Padahal, tayangan-tayangan tersebut menjadi tren ketika para produser televisi melihat bahwa sinetron bernafaskan Islami toh bisa laku dijual setelah diproduksinya sinetron glamor adaptasi telenovela Meksiko dan cerita-cerita ala Meteor Garden. Belum lama berselang, kaum ulama di negeri ini sepertinya sedang risau bahwa “plularisme”, “sekularisme”, dan “liberalisme” akan mengalahkan Tuhan.  Karena di segala zaman persoalan agama tetap hangat digulirkan, guru besar Karl Marx, Feurbach kemudian menulis: “Agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri”.

Pertanyaan mengusik, jika benar agama sudah mengasingkan umat manusia, apakah yang sesungguhnya telah terjadi? Bukankah agama semula berasal dari Tuhan?

***

Secara logis, memang benar agama adalah ciptaan manusia. Sedangkan Dr. Franz Dahler, filsuf asal Swiss dalam bukunya Masalah Agama (Kanisius, 1970) mengatakan adalah benar agama didefinisikan sebagai hukum yang diturunkan Tuhan melalui perantaraan nabi-nabi. Sekalipun benar, definisi ini kemudian menjadi pengertian yang dangkal sehingga menimbulkan kesan jika sudah menaati semua hukum dalam agama dari Tuhan, segala persoalan sudah selesai. Padahal ketaatan tanpa keyakinan hati, tetap saja kosong. Inilah yang membuat agama dirasa telah mengasingkan manusia.

Memang agama menurut Harold S. Kushner seorang rabi asal Massachusetts, Amerika dalam bukunya Who Needs God? adalah usaha untuk mengerti dan mengontrol sesuatu yang belum diketahui meskipun semakin lama setelah memahami bagaimana dunia ini bekerja, wilayah agama menjadi kecil. Memang benar pada abad 19 dan 20 yang ditandai dengan kejayaan ilmu pengetahuan serta pencarian obyektif tentang kebenaran yang dapat diuji, iman kemudian tergantikan sehingga di dalam agama lama-lama hanya terasa seperti cerita rakyat atau khayalan saja. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ramai-ramai memilih kebenaran, melihat agama sebagai musuh kejujuran, kemajuan, dan sains.

Dalam novel masterpiece-nya yang berjudul 100 Years of Solitude sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez mengisahkan sebuah desa yang terjangkit wabah pelupa. Diawali dari penduduk paling tua, wabah tersebut mengakibatkan orang sampai lupa bahkan pada benda sehari-hari paling umum sekalipun. Seorang pemuda yang belum terjangkiti mencoba mengatasi dengan melabeli setiap  benda seperti “ini meja”, “ini jendela”, “ini sapi” dan seterusnya. Sampai pada pintu gerbang kota di jalan utama dia menuliskan tanda berukuran besar. Yang satu bertuliskan “Nama pemukiman kita adalah Macondo” sedangkan pada tanda berukuran lebih besar lagi pemuda itu menuliskan “Tuhan Ada”.

Marquez lewat novelnya seolah mengingatkan kita di abad 21 ini masih terjadi wabah penyakit lupa. Mirip dengan novel Marquez tersebut, setelah mengalami represi selama lebih dari 30 tahun, kita lalu mengalami “amnesia” kronis dengan melupakan kesalahan masa lalu. Seakan menegaskan apa yanng pernah dituliskan Marquez, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting mengatakan, melupakan adalah bentuk lain dari kematian. Dan yang sesungguhnya terjadi kita toh lupa bahwa setiap agama jika tak mau membeku harus sanggup berevolusi.

Kita memang sedang dikutuk untuk melakukannya dengan terus menerus mengulang kebodohan lantaran telah melupakan siapa pemilik kita yang sedang gusar melihat tindakan para pemuka agama beserta label-label agama yang digunakannya, yaitu Tuhan itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita beranjak untuk mulai melawan lupa? *

*) eseis, tinggal di Jakarta. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah MaJEMUK, ICRP

 [:]

Perenialisme Agama-AgamaPerenialisme Religions

Ahmad NurcholishOleh Ahmad Nurcholish

 “..secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar

di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab,

melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama

menemukan transcendent unity of religions, tetapi

juga mendiskusikannya secara lebih mendalam

Diskursus filsafat perennial kembali mengemuka sejak 20 tahun terakhir di Indonesia. Sebelumya, mereka yang pernah mempelajari tema filsafat di sebuah jurusan filsafat, tak mengenal materi ini. Kalau toh mengenal, hanya sepintas lalu saja, dan tidak secara mendalam dibahasnya. Bahkan, filsafat ini nyaris tidak pernah diperkenalkan dalam universitas. Mengapa demikian? Apakah filsafat perennial ini merupakan sebuah filsafat semu (pseudo philosophy), sebagaimana pernah disinggung oleh Budhy Munawar-Rahman – BMR (2001: 80-98), sehingga para ahli filsafat di era modern ini tidak membicarakannya sama sekali, dan menjadikannya sebagai sebuah perspektif? Padahal, sebagai istilah, filsafat perennial (the perennial philosophy) sangat popular di kalangan New Age.

Filsafat perennial (philosophia perennis) dalam definisi teknisnya, adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Dalam ungkapan Frithjof Schuon, ia mengatakan, “the timeless metaphysical truth underlying the diverse religion, whose written sources are the revealed Scriptures as well as writtings og the graet spiritual masters.” Definisi yang lebih terang dikemukakan oleh Aldous Huxley, yang menyebut bahwa filsafat perennial adalah: Pertama, Metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan Ilahi dalam segala sesuatu: kehidupan dan pikiran; Kedua, Suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu dalam jiwa manusia (soul) identic dengan kenyataan Ilahi itu; dan Ketiga, Etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan, yang bersifat imanen maupun transenden, mengenai seluruh keberadaan. (The Perennial Philosophy, 1945; BMR, Islam Pluralis, 2001: 86).

Pengetahuan filsafat perennial ini, demikian Rahman, memang memperlihatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini, dengan realitas Yang Absolut. Realisasi pengetahuan ini dalam diri manusia, hanya bisa dicapai melalui apa yang – sejak era Plotinus melalui bukunya The Six Eneals, – disebut “intelek” (Soul/Spirit), yang “jalannya” pun hanya dapat dicapai melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, symbol-simbol dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perennial ini sebagai bersumber dari Tuhan. Dasar-dasar teoritis pengetahuan tersebut, ada dalam setiap tradisi keagamaan yang otentik, yang dikenal dengan berbagai konsep.

Contoh yang dapat kita paparkan, dalam agama Hindu disebut Sanathana Dharma, yaitu kebajikan abadi yang harus menjadi dasar kontekstualisasi agama dalam situasi apa pun, sehingga agama senantiasa memanifestasikan diri dalam bentuk etis, dalam keluhuran hidup manusia. Pun dalam Taoisme, diperkenalkan konsep Tao, sebagai asas kehidupan manusia yang harus diikuti  kalau ia mau alami sebagai manusia. Di Tiongkok, misalnya Taoisme berusaha mengajak manusia untuk berpaling dari dunia kepada Tao (“jalan”) yang dapat membawa manusia kepada penyucian jiwa dan kesalehan dalam bahasa Islam. Dengan Tao, manusia dibawa kepada jati diri yang asli, yang hanya dapat dicapai dengan sikap wu-wei (tidak mencampuri) jalan semesta yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, Tao mengajak manusia untuk hidup secara alami (suci), yang dalam Islam dikenal dengan istilah fitrah. Begitu pun dalam agama Buddha, diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran untuk sampai kepada The Buddha-nature, atau dalam agama Islam disebut al-Din, yang berarti “ikatan” yang harus menjadi dasar beragama bagi seorang Muslim. Inilah yang dalam filsafat abad pertengahan diistilahkan dengansophia perennis, dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika disebut perennial religion, itu artinya ada hakikat yang sama dalam setiap agama, yang dalam istilah Sufi kerap diistilahkan dengan religion of the heart, meskipun terbungkus dalam wadah/jalan yang berbeda. Ini sejalan denga apa yang dikatakan Sri Ramakrisna, seorang suci dan filsuf India abad ke-19 bahwa, “Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai pemeluk, berbagai waktu dan berbagai negeri. Semua ajaran merupakan jalan. Sesungguhnya seseorang akan mencapai Tuhan, jika ia mengikuti jalan mana pun, asal dengan pengabdian yang sepenuh-penuhnya.”

Dengan demikian, hakikat dari agama perennial adalah, “mengikatkan manusia dengan Tuhannya.” Kata ini sebetulnya biasa dan kerap didengar. Tetapi, sebagaimana diuraikan Rahman, karena tidak adanya kesadaran perennial, maka menjadi verbal semata. Padahal, dari sudut pandang perennial, ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah, demi kebajikannya sendiri. Religion, yang berasal dari kata religio, yang berarti to bind with God. Istilah ini, hakikatnya mengatasi aspek institusional dari agama – termasuk komunitas, system symbol, ritus, pengalaman religious, dan sebagainya – yang kini telah menjadi arti sempit dari agama itu sendiri. (BMR, 2001: 88).

Berangkat dari pemahaman di atas, memungkinkan kita untuk mencapai “kesatuan transenden agama-agama” atau istilah asli yang digunakan Frithjof Schuon adalah The Transcendent Unity of Religion. Tetapi, yang mesti kita pahami pula, bahwa kesatuan agama-agama ini hanya berada pada level “esoteric” dalam bahasa Huston Smith,  “essensial” dalam istilah Baghavas Das, atau “transenden” istilah yang gunakan oleh Schuon dan Seyyed Hossein Nasr, selain oleh pengikut setia filsafat perennial sendiri. Oleh karena itu, kesatuan agama-agama tidak terjalin pada ranah eksoterisme (lahiriah). Inilah yang kerap disalahpahami oleh kalangan atau kelompok yang selalu menkritik konsep pluralisme agama yang dipahaminya sebagai kesamaan atau penyamaan agama-agama, termasuk dalam hal ajaran, syariat, atau ritualnya. Jadi, yang menandaskan adanya kesatuan agama-agama itu “hanya” pada level esensi atau subtansi ajaran, bukan pada level tata-cara ibadah, syariat, ataumanhaj dalam berteologi.

Mari kita simak metaphor yang tepat untuk menggambarkan kesatuan agama-agama yang kerap digunakan oleh kaum perennialis. Jika esoterisme adalah cahaya, maka setiap agama menangkap cahaya itu dalam berbagai warna (sebagai agama-agama) dan berbagai “daya terang” – ada yang sangat terang, ada yang terang biasa, dan ada juga yang redup-samar. Tentu ini perumusan doktrin metafisiknya. Tetapi dari sudut pandang filsafat perennial, adanya aneka warna cahaya berikut “daya terang”-nya tidaklah penting. Ada dua alasan, sebagaimana dikemukakan Budhy Munawar-Rachman:

Pertama, meskipun ada berbagai macam cahaya (merah, kuning, hijau, hitam, dan sebagainya), tetapi semua itu tetap dinamakan cahaya. Jadi, kalau agama itu otentik, tetap ada core yang sama. Kesamaan ini ada pada tataran esoteric, bukan pada ranah eksoterik.

Kedua, walaupun cahaya memiliki daya terang yang beragam, tetapi semua cahaya (juga agama) akan mengantarkan manusia pada Sumber Cahaya itu (yakni, Tuhan), yang sekalipun ada yang tipis dan remang-remang. Sebab, jika ia terus menelusuri cahaya itu, ia akan tetap sampai kepada Sumbernya. “Sampai pada Sumber” inilah yang paling penting dalam agama. Karena itu, hakikat agama adalah adanya sense of the absolute pada diri manusia, sehingga ia merasakan terus-menerus adanya “Yang Absolut” pada dirinya. Kehadiran “Yang Absolut” inilah yang senantiasa mengawal manusia berada dalam jalan “kebenaran”-Nya, jalan suci yang diajarkan oleh semua agama.

Pada aras ini pula, manusia merasakan makna simbolik kehadiran Sang Pemilik Kehidupan. Wujud hakikat agama itu, sejatinya merupakan pengetahuan, sekaligus pula kebijaksanaan. Istilahnya Sophia, kata orang bijak dari Yunani Kuno; atausapientia menurut istilah orang suci Kristiani abad Pertengahan; jnana dalam ungkapan tradisi Hindu; dan al-ma’rifah ataual-hikmah menurut konsep Sufi. Itu sebabnya, hakikat agama kerap disebut sebagai scientia sacra yang berarti pengetahuan suci atau devine knowledge. Pengetahuan ini dialami – bukan sekadar diyakini – berasal dari “Alam Surgawi,” yang kemudian diturunkan sebagai wahyu dengan berbagai cara/metode. Oleh karena itu, sekali lagi, harmoni (kesatuan agama-agama) berada dalam “langit Ilahi” (esoteric, transenden), bukan dalam “atmosfir bumi” (eksoteris), yang kerap memantik perdebatan.

Dengan demikian, filsafat perennial menguraikan keanekaragaman “jalan keagamaan” yang ada dalam kenyataan historis setiap agama, mestinya bisa diterima dengan lapang data dan penuh toleransi. Sebab, pada hakikatnya, ajaran (perennial) Tuhan – seperti Tuhan itu sendiri – hanya Satu, tapi diungkapkan dengan banyak nama dan ajaran yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul. “Yang Satu” ini dalam perspektif perennial adalah “Yang Tidak Berubah,” merupakan fithrah. Mengembalikan keanekaragaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari ini kepada “Yang Tidak Berubah,” merupakan pesan dasar filsafat perennial, yang pada dasarnya adalah pesan keagamaan, sebagaimana disebut dalam terminology Islam al-din-u ‘l-nashihah (“agama itu pesan/nasihat”). Pesan ini tersurat dalam Q., s. al-Rum [30]: 30.

Dari pemaparan ini harapan kita, secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab, melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religions, melainkan bahkan mendiskusikannya secara lebih mendalam. Sehingga terbukalah kebenaran yang betul-betul benar. Dan tersingkirlah kesesatan yang benar-benar sesat – meskipun tetap dalam lingkup langit kearifan. Dan keduanya – kebenaran dan kesesatan – mungkin saja terjadi pada sikap kita atau suatu kelompok tertentu yang seakan berada pada posisi paling atas sehingga yang lain diklaim berada di bawah.

Pendekatan perennial inilah, walaupun secara teoritis memberikan harapan dan kesejukan, namun karena belum secara luas dipahami dan diterima kecuali oleh kalangan terbatas, ke depan pelan tapi pasti mampu mewarnai belantika cakrawala berfikir kita dalam memandang agama kita di tengah keberadaan agama-agama atau keyakinan milik orang lain. [ ]

Ahmad Nurcholish, Ketua Dept. Pendidikan Kebhinekaan dan Perdamaian ICRP, Direktur Eksekutif Nusantara Damai, Jakarta.

Satu Tuhan, Banyak Sebutan

Oleh Ahmad Nurcholish

 

 

 

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah al-Rahman;

dengan nama apapun kamu seru Dia,

pada-Nya nama-nama yang indah (al-asma’ul husna)”

(Q., s. al-Isra’/17: 110)

The Tao that can be told of

Is not the Absolute Tao;

The Names that can be given

Are not Absolute Names

(Lao-tze)

Though all the Names (of God) refer to a single Reality,

none denotes Its true nature. From this point of view even

the Name of Allah, which is called the “all-comprehensive Name”

(al-ism al-jami’) since it is the referent of all other Names,

is said to denote that Reality only in as much

as It makes It self known

(William C. Chittick)

 

 

Berbeda dari filsafat rasionalisme murni, dalam filsafat perennial, kepercayaan, pengetahuan dan kecintaan terhadap Tuhan merupakan landasan bagi pengembangan epistimologinya. Berangkat dari komitmen imani untuk menjawab sapaan kasih Tuhan, filsafat perennial melangkah pada fase praksis-implementatif untuk melayani manusia sebagai sesama hamba Sang Khaliq. Jadi, sebagaimana diuraikan oleh Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis (Agama Masa Depan, 1995: 23-24), benih iman yang telah tertanam pada setiap kalbu agar tumbuh subur, maka diperlukan siraman berupa pengetahuan, suasana yang memungkinkan untuk merasakan kehangatan dan keintiman dengan Tuhan (dzikir dan doa) dan juga interaksi social. Dengan kata lain, perjalanan iman yang bermula dari pemahaman dan keyakinan terhadap obyek Yang Maha Abstrak  lalu bergerak ke muara kehidupan konkrit berupa amal kebajikan, yang pada akhirnya perjalanan itu menerobos batas duniawi yang empiris memasuki hidup di seberang sana yang meta-empiris.

Oleh karena pengetahuan dan keimanan pada Sang Pencipta merupakan titik awal sekaligus titik akhir (alpha-omega), maka ada sejumlah persoalan mendasar yang muncul dan menggelitik pikiran kita. Seberapa dekat manusia bisa mengenal Tuhan secara benar? Atau, dapatkan Tuhan Yang Absolute dikenali oleh manusia yang relative dan serba terbatas ini? Bisakah manusia dalam menyembah Tuhan terbebaskan dari “konsep tuhan” yang ia kontruksikan dalam pikirannya sendiri? Adakah dengan banyaknya sebutan atau nama Tuhan berarti secara ontologis juga terdapat banyak Tuhan? Adakah kesamaan antara Tuhan yang dipuja oleh orang Yahudi, Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu, Sikh, Baha’i, dan pemeluk agama-agama lain?

Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas nama,  sebutan, atau sifat Tuhan, persoalan pertama yang perlu dituntaskan adalah, apakah hubungan antara “nama” (ism, name) dan “yang diberi nama” (al-musamma, the named)? Apakah nama identic dengan yang diberi nama? Apakah ia sekedar tanda penuntuk? Apakah ia sebatas sebutan saja? Seberapa jauh sebuah nama dapat menunjuk dan menjelaskan sesuatu yang ditunjuk? Sebab Tuhan itu Maha Absolut dan Maha Gaib, seberapa jauh bahasa manusia mampu menangkap dan memahami Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan  ini penting untuk dikemukakan, untuk menyadarkan kita bahwa sejauh-jauh bahasa menjelaskan tentang Tuhan, termasuk bahasa yang dugunakan untuk mengekspresikan wahyu Tuhan, di sana tetap terdapat suatu “jarak” antara proposisi kognitif yang dibangun oleh nalar manusia di satu sisi dan hakikat Tuhan yang “tak terjangkau” pada sisi lain.

Persoalan berikutnya, sebagaimana disinggung oleh Hidayat dan Nafis (Ibid., 28), jika kesimpulan di atas kita terima, maka problem serius akan menyusul kemudian. Yakni, kalau memang Tuhan yang Maha Absolut itu tak terjangkau dan tidak mungkin bisa dipahami oleh manusia, bukankah istilah “mengetahui Tuhan” adalah ungkapan yang paradox dan absurd? Selain itu, jika memang Tuhan tidak mungkin dijangkau oleh pemahaman manusia, bukankah lebih masuk akal jika manusia tidak perlu membicarakan dan mencari sesuatu yang tidak mungkin bisa dipahami dan didapatkan?

Dalam sebuah riwayat, Muhammad Rasulullah pernah memberi nasehat kepada seorang sahabat, “Janganlah kamu membicarakan tentang Tuhan, tetapi sebaiknya kamu pikirkan saja tentang ciptaan-Nya”. Sabda Nabi ini dapat kita tafsirkan dengan beragam cerna. Bisa jadi sahabat yang dihadapi merupakan kelompok awam sehingga tidak memungkinkan kalau dijelaskan lebih jauh dengan pendekatan filosofis. Bukannya paham, justru malah bingung jika diajak mempelajari agama dengan pendekatan intelektualistik. Nah, apa yang disampaikan Nabi Muhammad tersebut tepat jika ditujukan kepada kelompok orang semacam ini.

Tetapi, tidak demikian dengan kaum intelektual. Bagi mereka yang akrab dan terbiasa dengan penalaran yang konsisten dan filosofis, bisa jadi justru  dengan membahas apa dan siapa Tuhan maka kadar imannya justru malah meningkat. Bahkan, bagi orang seperti ini, dianjurkan untuk berfikir tentang Tuhan. Hadits Nabi tersebut juga bisa kita pahami bahwa, menjadikan Tuhan sebagai obyek kajian memang tidak mudah, terlebih kajian tentang Tuhan, karena apapun yang dihasilkan oleh penalaran kita tentang Tuhan, termasuk juga hasil pemahaman kita terhadap kitab suci, tetap terdapat jarak ontologis dan epistimologis antara produk pemahaman manusia di satu pihak dan Tuhan Yang Sesungguhnya di pihak yang lain.

Namun demikian, setiap kita berhak merasa mengenal Tuhan sehingga karenanya manusia menyebut nama dan sifat-sifat-Nya ketika berdoa, bersembahyang atau ketika dalam situasi membahayakan dengan beragam sebutan yang berbeda. Kata Tuhan, God, Allah,Yahweh, Sang Hyang Widhi, Thianataupun sebutan lain, semuanya tetap bersifat simbolik. Kita harus dapat membedakan antara “nama” dan “yang diberi nama”, “symbol” dan “the thing symbolized”“al-ism” dan “al-musamma”“sign” dan “something signified”, “prediket” dan “subtansi” dan seterusnya.

Dalam bahasa Tillich, seperti dikutip Hidayat dan Nafis (h. 32), God is symbol for God. Meminjam ungkapan Abu Ja’far al-Shadiq, kata Allah itu sendiri artinya Yang Dipuja. Maka barangsiapa memuja Allah (tanpa mengacu pada subtansi-Nya), maka ia telah kafir. Dan barangsiapa memuja Allah (nama dan subtansi-Nya sekaligus), maka ia telah musyrik. Tetapi barangsiapa yang memuja Dzat yang diacu oleh kata Allah itu, barulah benar tauhidnya.

Dalam tradisi keagamaan memang banyak sekali nama atau sebutan tentang Tuhan, tempat dan orang yang dianggap suci, tetapi pada dasarnya tiada suatu apapun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan Yang Mahasuci. Ka’bah, misalnya, bisa saja dikatakan suci tetapi kesuciannya tidak intrinsic. Oleh karena itu, jika seorang Muslim mensucikan Ka’bah sejajar dengan sikap mensucikan Tuhan, maka ia telah jatuh kedalam kemusyrikan, sebab keyakinannya tak jauh berbeda dari keyakinan orang Arab jahiliyah pra-Islam yang juga mensucikan patung yang dianggapnya sebagai Tuhan. Holy things are not holy in themselves, but they point beyond themselves to the source of all holiness, that which is of ultimate concern, demikian imbuh Paul Tillich.

Yang menarik adalah, dari sekian aliran filsafat ataupun agama, ajaran Buddha dinilai yang paling konsisten untuk tidak mau memberi prediket Tuhan secara positif sehingga Buddha kerap dipahami sebagai pahamatheisme, meskipun “atheisme” Buddha sangat berbeda dari pengertian atheism pada umumnya. Jika benar spekulasi sejarawan agama bahwa Budhha (Sidharta) Gautama itu tidak lain adalah Nabi Dzu al-Kifl sebagaimana dinarasikan dalam al-Qur’an – yang lahir di Kapilawastu, India – Lao-tze itu adalah Nabi Luth, maka kita perlu melakukan penafsiran hermeneutic terhadap ajaran Buddha dan Lao-tze.

Ketika keduanya tidak mau menyebut Tuhan tidaklah berarti secara subtansial keduanya tidak mengakui melainkan justru hendak melakukan tanzih, yaitu penyucian absolut pada Tuhan sehingga jika Tuhan itu diberi lebel atau nama, hal itu berarti telah menutup rembulan dengan jari telunjuk. The Buddha tells us that God can only be named in vain, demikian terang Raimundo Panikar sebagaimana dikutip oleh Hidayat dan Nafis (h. 33).

Oleh sebab itu, imbuh Panikar, diam (silence) adalah bahasa tertinggi, yang melampaui bahasa ucapan dan bahasa pikiran, untuk menyapa Tuhan agar terhindar dari sikap mereka-reka tentang Tuhan. Dalam khasanah Islam, Ibn al-‘Arabi juga mengakui munculnya paradox ketika seseorang mau mendekati Tuhan. Bahwa Tuhan dalam keabsolutan-Nya berada di luar konsepsi manusia, sementara manusia tidak mungkin terbebaskan dari bahasa konseptualisasi ketika berkomunikasi dengan Sang Khaliq, yang dalam bahasa Ibn al-‘Arabi disebut al-ilah al-mu’taqad atau “Tuhan sebagaimana yang dibayangkan dan yang diyakini manusia” (the conceived God).

Dengan demikian, nama, sebutan atau sifat Tuhan bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Itu merupakan Tuhan yang ada dalam pikiran kita, Tuhan yang kita konsepsikan, Tuhan yang berhasil kita jangkau melalui nalar intelektual dan keyakinan kita yang terbatas. Meski begitu, dengan beragam nama, sebutan atau sifat-sifat tersebut, apa yang kita komunikasikan kepada-Nya tidak “terhalang” sama sekali. Ia dapat dijangkau oleh siapapun kita, apapun agama atau keyakinan kita, dengan nama dan sebutan apapun jua. Sebab ia Mahacinta, Mahamengetahui terhadap apa yang diinginkan oleh umat-Nya dan Mahatahu apa yang dibutuhkan oleh umat manusia. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pegiat ICRP, Direktur Eksekutif Nusantara Damai

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Kasih Membawamu Kembali IndahKasih Membawamu Kembali Indah (en)

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Oleh: Eryani Kusuma Ningrum*

Indonesia adalah hal yang satu namun mempunyai beragam bentuk hal. Beragam suku, ras, adat istiadat, kebiasaan dan agama. Dari kelima pulau besar di Indonesia, saya pernah merasakan hidup di antara 3 pulau dari 5 pulau besar yaitu Sulawesi dimana Kota Manado menjadi tanah kelahiran saya, Sumatera tepatnya di Medan dan Riau menjadi kota pembelajaran dasar saya dan Pulau jawa menjadi daerah yang saya diami dalam lubuk hati dimanapun saya berada. Di Pulau Jawa saya mempelajari banyak hal dari tingkat menengah hingga sekarang. Ayah Ibu dengan adat Jawanya yang kental selalu mengingatkan saya untuk selalu menjunjung adat istiadat dimanapun saya berada. Adat istiadat tersebut meliputi kebiasaan untuk selalu sopan santun, menghormati, menyayangi dan menghargai kepada setiap orang. Karena dari situlah, orang lain pun akan menghargai kita.

Sejak lahir hingga dapat berjalan, saya tinggal di lingkungan dimana kami sekeluarga menjadi minoritas dalam beragama. Di Kota Manado kami menjalin hidup bertetangga dengan kalangan Nasrani yang sangat menjunjung kekeluargaan. Ibu pernah bercerita bahwa di kota tersebut, tidak memandang darimana kita berasal serta agama yang dianut, “Torang semua basodara” yang maksudnya kita semua bersaudara. Ada hal yang membuat saya takjub saat terakhir ke tanah kelahiran saya pada bulan April tahun ini. Saat paskah yaitu hari kematian Yesus Kristus dimana setiap warga kota Manado merayakan dengan membuat diorama di dalam lingkungan mereka. Saat tersebut setiap warga bahu membahu membuat cerita tentang kelahiran sampai kematian Sang Juru Selamat dalam bentuk miniatur tiga dimensi untuk menggambarkannya. Tidak peduli dari suku mana dan agama manapun. Saya melihat pak ustad beserta umat muslim lainnya (tetangga rumah Nenek saya) membantu membuatkan minum dan membawakan makanan. Sungguh terlihat indah kerjasama tersebut. Lalu pada saat adzan berkumandang, kegiatan tersebut pun berhenti sejenak untuk menghormati kaum muslim melaksanakan ibadahnya, terlebih lagi saat maghrib menjelang, sedapat mungkin masyarakat harus berada di dalam rumahnya. Lalu tak lupa saya mengunjungi sebuah bukit yang terletak di Desa Kanonang sekitar 55 kilometer dari kota Manado. Dibangun pada tahun 2002 sebagai pusat spiritual dimana semua pemeluk agama di Indonesia bisa berkumpul, bermeditasi dan di sisi tempat ibadah ini terdapat bukit tropis yang rimbun dan berkabut. Bukit ini disebut Bukit Kasih karena setiap orang yang berlainan agama dapat berkumpul dan berdampingan dalam beribadah sebagai simbol keharmonisan beragama. Di bukit Kasih ini terdapat lima rumah ibadah, yaitu sebuah gereja Katolik, sebuah gereja Kristen, Kuil Budha, Pura Hindu dan Masjid untuk Muslim yang berada di puncak kedua bukit tersebut. Pada puncak pertana adalah sebuah salib putih dengan tinggi 53 meter yang dapat dilihat bahkan dari Pantai Boulevard Kota Manado. Selain itu, tempat ini diyakini menjadi tempat asli nenek moyang suku Minahasa, Toar dan Lumimuut tinggal, karena terdapat ukiran wajah mereka di lereng bukit di bawah puncak kedua. Bercerita tentang Bukit Kasih, mengingatkan kepada saya tentang Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral dimana masing-masing umat pun saling menghormati dan menghargai. Misalnya saat Natal tiba, pihak Masjid mempersilahkan halaman Masjid sebagai tempat parkir umat Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Tidak jauh dengan rumah saya, terlihat salah satu kerukunan di Jakarta yaitu Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien yang dipisahkan oleh satu tembok sejak 50 tahun lamanya. Saat awal melihatnya, hati saya begitu terharu atas keakraban yang terjadi antar umat Nasrani dan Umat Islam. Saat Natal, Kaum Muslimin ikut membersihkan halaman masjid dan gereja, begitu juga sebaliknya saat Idul Fitri tiba, Umat Nasrani bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar untuk kenyamanan bersama,”Dalam kasih kita memberi” Subhahanallah.

Bahagia rasanya jika kita memaknai arti keberagaman dalam bentuk apapun. Keberagaman suku, ras dan agama. Tidak perlu mempersoalkan bahkan hal tersebut dapat menjadikan kita semua indah. Lihat saja alam laut kita yang luasnya lebih dari daratan. Bukankah terdapat beragam ikan yang berlainan jenis dan menjadikannya indah bukan? Sama halnya dengan kita hidup di daratan ini. Tuhan Yang Maha Esa Allah swt sang Gusti Ingkang Moho Suci menciptakan makhlukNya dengan berbagai macam bentuk, berbagai macam suku dan berbagai macam keyakinan dalam menyakiniNya. Untuk apa?  Untuk lebih dekat mengenalNya. Lebih dekat dengan cara yang berbeda-beda dalam kehidupan.

Hidup yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik dan paling benar bagi tiap orang, secara individual (pribadi). Karena hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya

-Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad royo seisine). Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Yang Maha Esa Gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt. Hidup yang tahu, apa, dan bagaimana Raganya (manusianya) setiap saat harus berbuat, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati. Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami, yang berubah-ubah. Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini mengikuti jalannya hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi Rasa Bahagia yang sejati.

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri “The Life Cycle”. Artinya, kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “Perjalanan” yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan. Lalu berada di dunia dengan ragaNya, kemudian lepas dari ragaNya, dan langsung bisa kembali ke asalNya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus menunggu jutaan tahun. Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, di zaman yang dikatakan maju, modern, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati. Paling-paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha senang lagi, dan seterusnya.

Tidak sedikit, keluarga-keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaanya dalam berkeluarga. Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga. Semua itu, karena manusia melupakan bahwa dalam dirinya ada Hidup (Roh/Soul). Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi. Sekalipun manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhannya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas dari hubungan itu. Semua tindakannya, didasarkan hanya atsa dasar akal pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar. Tidak mau tahu, apa yang sebenanrnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan.

Dengan menjalani Laku Kasampurnaan Manunggal yang artinya mengetahui arti Hidup secara Keseluruhan, kita akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dalam diri, setiap saat. Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena hiduplah yang bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat. Kita harus melaksanakan keyakinan kita masing-masing untuk mendekatkan Hidup tersebut kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjalani laku Hidup. Laku hidup tersebut yaitu, Sabar, Narimo, Ngalah, Tresno welas lan asih opo lan sopo wae dan Iklhas. Laku sabar maksudnya bukan asal tidak marah namun sebagai contoh sabar yang baik adalah seorang Ibu yang mengandung dengan penuh rasa cinta kasih merawat janin calon bayi sampai dilahirkan. Laku Narimo yaitu berusaha semaksimal mungkin apa yang harus kita lakukan namun selalu menyadari dan siap bahwa Tuhanlah yang menentukan. Laku Ngalah bukan asal mengalah namun kita mengalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Laku Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae (Cinta, Kasih dan Sayang kepada apa dan siapa saja) adalah kita selalu berusaha mencintai dan mengasihi apapun yang ada, dan siapapun yang kita hadapi misalnya mencintai benda, pekerjaan, binatang dan tumbuhan. Mencintai siapa saja adalah mencintai sesama manusia tanpa pilih-pilih. Menghadapi siapapun, bagaimanapun itu hendaknya kita landasi rasa cinta pada diri kita. Serta Laku Ikhlas yaitu menyadari sepenuhnya bahwa segala yang ada pada diri kita, seperti kepandaian, pengalaman, kemampuan karena kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, tenaga, pikiran waktu bahkan orang yang kita cintai, semuanya milik Tuhan Yang Maha Esa, gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt.

Sedikit demi sedikit, kita akan mengetahui arti hidup yang kita miliki. Hidup dalam perbedaan, bermasyarakat dan bernegara. Hidup dalam keberagaman yang justru akan membuat kita bersatu dalam kasihNya. Dengan pengalaman kita dalam mengunjungi rumah-rumah ibadah membuat kita semakin mengetahui kebiasaan yang umat lain lakukan demi Sang Penciptanya, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini supaya kita tetap yakin dan senantiasa berdoa serta bersyukur atas Rahmat dari seluruh alam dari dan untuk Sang Pencipta. Bersyukur kita diciptakan sedemikian rupa dengan berbagai keyakinan yang kita yakini dengan kasihNya. Karena Tuhan ada di dalam hati kita, “Tidak ada kekuatan kecuali dari Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah”. Semoga semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Salam Rahayu, Rahayu, dan Rahayu.

Dewaruci, 22:47181014

Tulisan ini dinobatkan sebagai Juara I Lomba Menulis dalam kegiatan Peace in Diversity yang dilaksanakan ICRP-PGI-The Wahid Institute. Penulis dapat dihubungi melalui eryani_ningrum@yahoo.com

Mohammad Monib

Partai dan Negara Islam?

Oleh: Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

Pemilu legislative 2014 baru berlalu. Quick Count telah membuat peringkat perolehan suara. PDIP, Golkar dan Gerinda sebagai parpol papan atas. Di papan tengah duduk PKB, Demokrat, Nasdem dan PKS. Papan bawah ada Hanura, PKPI dan PBB. Kini ruang publik ribut membincangkan koalisi-koalisi partai menghadapi Pilpres. Berbasis asas partai, publik Indonesia mengenal istilah partai nasionalis, partai Islam, dan tentu tidak ada partai liberal, apalagi partai sekuler di Indonesia. Pancasila menghendaki asas ketuhanan. Sekalipun di sisi lain, kita biasa membincangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Diskusi ini, saya arahkan membicangkan partai Islam. Tepatkah istilah itu dan apa kriterianya?Apa yang membedakan secara esensial partai-partai itu?

Sekalipun William Shakespeare bilang: What is the name?, apalah arti sebuah nama,  saya yakin nama itu sangat penting. Penuh  doa, makna dan simbol sebuah peradaban. Ahmad Ibrahim Zuhad. Itu nama anak laki-laki saya. Terselip doa agar ia menjalani hidup secara asketis, zuhud dan tidak mabuk dunia. Yakin saya, Amira atau Javid, nama 2 anak Pak Didin Nasrudin memiliki makna dan penuh harapan cerah. Contoh lain, Monib, di al-Qur’an kata ini bermakna hamba Allah yang bertaubat. Penuh makna. Tapi, saya penyandang nama ini kuatir tidak mampu menyangga dan memikul makna agung itu. Kuatir jauh dari kualitas muslim yang kaffah, penuh totalitas ketaatan dan kepasrahan  kepada Allah. Bahkan, saya kuatir sebaliknya. Saya masuk dalam kalangan makhluk  berkalang dosa dan tenggelam dalam samudera maksiat. Khianat kepada makna nama. Pak Akil Mochtar itu bermakna pemakan pilihan. Apa karena nama itu beliau akhirnya terjerat dalam skandal korupsi yang hampir merontokkan Mahkamah Konstitusi?Beliau makan apapun yang digodakan atau ia sendiri menggoda memperolehnya. Sifat tamak dan rakus, memang watak manusia. Kata Pak Mahfudz MD, bila tidak rakus, gaji sebagai  Ketua MK tidak akan habis dimakan sebulan.

Sampai detik ini saya yakin jargon “Islam Yes Partai Islam No” yang digagas Cak Nur masih ampuh dan cespleng. Buktinya, sekalipun bernama partai Islam, Islam dijadikan asas organisasi, ia tetaplah lembaga profan, penuh hasrat dan syahwat harta dan kuasa. Politisi muslim tak beda dengan politisi sekuler. Bergelimang  dosa dan maksiat. Korup, penuh intrik, busuk, rebutan lembaga atau komisi negara, vested pribadi dan golongan diprioritaskan dibanding kebutuhan rakyat,  dan bernafsu untuk menggarong uang rakyat sebanyak mungkin. Itulah mengapa saya ketus dan alergi mendalam kepada semua partai yang bawa-bawa agama. Saya nikmat sebagai golput. Lebih-lebih kepada PKS dan PBB. Mendaku sebagai partai dakwah, dan berjuang untuk Islam. Tapi berselimut intrik, korup dan kotor. Berasas Islam apalagi tidak. Tetap sekuler dan ateis dalam praktik. Seakan-akan Tuhan tidak  mengawasi dan mencatat aksi-aksi kotornya. Sudah pasti ada politisi yang amanah, jujur dan benar-benar berjuang dan mewakili rakyat. Hanya segelintir. Karena itu tidak lagi relevan berbicara asas partai dan nama partai. Sekedar simbol dan identitas belaka. Persis muslim secara umum. Beridentitas Islam, tapi jauh dari sikap dan prilaku pasrah, patuh dan taat kepada Ilahi.

Negara Islami

Ada tiga pemikiran dalam umat berkaitan dengan Islam dan Negara. Pertama, umat yang meyakini, Islam agama dan politik (Negara). Keyakinan ini direpresentasi dalam ungkapan al-din wa al-daulah. Bagi penganutnya, agama ini memuat perangkat lengkap semua konsep dan sistem: politik, ekonomi, budaya, teknologi, ilmu pengetahuan, pertanian, pendidikan dan seni. Kedua, Islam hanya semata-mata mengurus relasi manusia dan Allah. Urusan ibadah dan akhirat semata. Tidak ada perintah Allah secuilpun kepada Rasul untuk urusan Negara dan politik. Ketiga, sekalipun Islam tidak lengkap dan sempurna, tetapi, Islam mengajarkan prinsip dan kaidah dasar, prinsip etika dan moralitas sebagai batu pijak mengelola kehidupan politik dan Negara.

Kita bisa memotret Islam dalam berbagai sudut disiplin ilmu. Muncul darinya berbagai inspirasi konsep dan sistem kehidupan. Termasuk urusan Negara. Tapi, saya yakin negara bukan bagian dari agama.Yang saya maksud, Allah tidak mewahyukan kepada Rasululah urusan Negara. Bila kita lacak, tidak akan kita temukan istilah al-dawlah atau Negara dalam al-Qur’an dan Hadis. Secara historis, umat Islam pernah memiliki kegemilangan kuasa dan politik. Sudah pasti tidak bisa dipungkiri, saat hidup Rasulullah kuasa agama dan politik memang dalam satu tangan.Tetapi saya bisa memastikan dan tidak bisa ditarik kesimpulan tidak ada kesatuan agama dan politik dalam Islam. inilah priode teokrasi. Kedaulatan di tangan Allah. Karena segala sesuatu dalam tuntunan dan bimbingan langsung Tuhan. Priode Khulafaurrasyidin, merupakan priode rebutan kepemimpinan politik dalam diri umat Islam. Bahkan, Umar, Ustman dan Ali, sahabat-sahabat utama Rasul terbunuh. Inilah priode semacam republik, rakyat memilih pemimpinnya. Pada era ini skisme umat Islam bermula. Perpecahan dan pengelompokan umat dalam doktrin dan ideologi masing-masing. Priode monarki juga dialami umat Islam. Era Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Atas dasar itu, bagi saya Islam tidak bisa dipaksa sebagai agama, sekaligus Negara. Tidak ada  teks untuk menegakkan Negara Islam. Yang Islam perintahkan adalah penegakan nilai-nilai kebenaran dalam segala dimensi. Hal ketuhanan, hanya tauhid yang paling simpel dan mudah dipahami. Selainnya ribet dan mbulet. Keadilan, kedamaian, ketentraman dan keharmonisan  adalah tiang-tiang eksistensi kehidupan. Inilah esensi dan tujuan bernegara sebagai entitas pengelola dan pengorganisasi tujuan bersama. Umat Islam boleh memilih bentuk dan konsep pengelolaan dalam format apapun. Bentuk negara masuk dalam urusan ijtihadiyah. Boleh demokrasi, monarki atau aristokrasi. Yang terpenting tujuannya adalah kemaslahatan dan kebaikan kemanusiaan.

Negara tidak lebih dari medium. Yang terpenting esensi tujuan bersama tercapai. Boleh-boleh saja bila memang yakin untuk menengakkan Negara Islam. Tetapi jangan hanya sekadar nama semata. Perhatikan dulu apa yang terjadi di Pakistan, Irak, Saudi Arabia, Afghanistan? Bukankah bangsa dan Negara itu mayoritas ber-KTP Islam?Apa hasil dan kualitas prilaku dan akhlak  umat di sana? Tidak jauh dengan Negara kita yang mayoritas beragama Islam. Boleh juga  sebagai perbandingan bila kita meriset prilaku penduduk Vatikan yang Katolik?Selaraskah dengan ajaran kasih Isa al-Masih?

Menarik sekali membaca riset “How Islamic are Islamic country”, yang dilakukan oleh Professor Scheherazade S Rehman dan Professor Hossein Askari dari The George Washington University. Hasilnya, Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara. Berikutnya Luksemburg di urutan kedua. Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Bagaimana bisa Negara yang tidak berkonstitusi Islam menjadi Negara paling Islami?Apa kriteria keislaman yang dinilai?Misalnya, rendah korupsi, perhatian terhadap dhuafa, fakir dan miskin, mudah menolong, bersih, tenang dan damai, angka kejahatan atau kriminalitas rendah, perhatian Negara kepada kaum dhuafa, fakir dan miskin tinggi. Bukankah kualitas-kualitas tersebut tujuan utama ajaran Islam?Bukankah hal-hal itu merupakan esensi seruan al-Qur’an dan Hadis? Dan, ternyata, dari  56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),  rata-rata berada di urutan ke-139. Maka benar apa yang Muhammad Abduh katakan, setelah berkunjung ke Eropa. ”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab,” katanya. Kita hanya membutuhkan Negara penegak nilai-nilai Islam. Negara yang berjuang untuk pemenuhan kebenaran-kebenaran universal.Negara Islami.

Saya rasa, memang tidak terlalu releven teriakan dan hentakan provokasi mendirikan dan menegakkan Negara Islam. Karena kenyataannya, tidak ada model yang tepat dan baik sebagai alat konfirmasi. Rasanya penting kita menginsafi ungkapan Ibnu Taimiyah: “Akan tetap berdiri tegak sebuah negara sekalipun Negara non-Islam asalkan adil. Dan akan segera runtuh sekalipun mengklaim sebagai Negara Islam tapi mengabaikan keadilan. Wallahu a’lam bi al-shawab.