Pos

Peace Train Indonesia Temui Ratu Kesultanan Kanoman Cirebon

Ratu Arimbi, adik dari Sultan Kanoman Cirebon menemui para peserta Peace Train Indonesia 10 di Keraton Kanoman Cirebon Jawa Barat yang berkunjung ke Keraton dan telah 3 hari berada di Cirebon.

Para peserta dan juga panitia yang terdiri dari penganut agama yang berbeda-beda ini disambut dengan sangat baik dan hangat oleh Ratu.

Ratu mengapresiasi kegiatan ini karena dapat mempertemukan orang-orang yang berbeda keyakinan. “Karena untuk menciptakan kedamaian, kita harus bersatu,” ujar Ratu, Minggu (26/1).

Ratu juga menerangkan tentang bagaimana peran keraton bagi masyarakat saat ini. Ketika seseorang tidak punya baju, tidak bisa bayar listrik atau tidak bisa membayar sekolah anaknya maka mereka akan datang ke keraton. “Bukan ke dinas sosial atau pejabat negara,” terangnya.

Selain itu, Keraton Kanoman juga turut serta menyiarkan ajaran Islam. Menampilkan wajah agama yang ramah, rukun dan toleran.

Hal tersebut membuat peran Keraton Kanoman tidak begitu berubah sejak dahulu, senantiasa membantu dan mengayomi masyarakat sekitar.

Dialog Keberagaman Bersama Suku Dayak Losarang

Setelah ke Pesantren Kebon Jambu, para peserta Peace Train kesepuluh berkunjung ke Kepercayaan Dayak Losarang Indramayu Jawa Barat.

Wardi, Juru Bicara Aliran Kepercayaan Dayak Losarang menjelaskan, kepercayaan ini sudah ada sejak abad ke-18. Dalam perjalanannya, mengalami beberapa kali pergantian nama.

Kepercayaan Dayak murni berasal dari Indramayu. Kata “dayak”, atau dalam bahasa setempat “ngayak” berarti menyaring. Antara yang baik dan yang benar, antara yang dalam dan yang luar, antara bumi dan langit.

Di tengah kuatnya arus globalisasi, mereka tetap teguh menjalankan kepercayaan yang telah dianut. Menjaga harmoni dan keseimbangan.

Kepercayaan Dayak sangat menjaga apa-apa yang dimakan, diucapkan dan dilakukan. Tidak boleh sembarang memakan yang bukan haknya. “Walaupun seorang Dayak menemukan buah yang jatuh di tanah, tidak boleh mengambilnya apalagi memakannya,” ungkap Wardi, Sabtu (24/1).

Kepercayaan ini juga sangat menghargai perbedaan. Mereka merangkul semua agama. Sangat dilarang untuk menyakiti. “Daripada mengaku benar, lebih baik mengaku salah,” ujar Wardi.

Para peserta sangat antusias, bertanya tentang banyak hal. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan baik dan terbuka. Kunjungan dan dialog ini ditutup dengan penyerahan cinderamata dan foto bersama.

Potret Keberagaman di Makam Sunan Gunung Jati

ICRP~Cirebon :: Selain mengunjungi rumah-rumah ibadah dan organisasi lintas iman, Peace Train, kegiatan yang bertajuk toleransi dan perdamaian ini juga mengunjungi makam Syeikh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati merupakan satu dari sembilan wali–yang akrab dikenal dengan sebutan Wali Songo–dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Pusarannya bertempat di Cirebon, Jawa Barat, sesuai dengan lokasi kegiatan Peace Train yang kesepuluh.

Makam Syeikh Syarif Hidayatullah juga dikelilingi oleh makam-makam anak cucunya. Sebagaimana makam para Wali Songo yang lain, makam ini juga tidak pernah sepi pengunjung. “Mereka datang dari berbagai daerah di tanah air,” ucap salah satu penjaga makam, Sabtu (24/1).

Jika biasanya makam wali dikunjungi oleh para Muslim, ulama, organisasi keislaman atau majlis taklim, kali ini makam Sunan Gunung Jati dikunjungi para peserta Peace Train yang terdiri dari berbagai keyakinan.

Walaupun begitu, para peserta tetap disambut hangat dan juga ikut turut serta berdoa dengan khuyuk sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Perwujudan Kesetaraan di Dunia Pesantren

ICRP~Cirebon :: Peace Train Indonesia yang kesepuluh mengunjungi Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Cirebon. Jika biasanya pimpinan pesantren adalah seorang kiai laki-laki, maka pesantren ini dipimpin oleh seorang perempuan, yaitu Nyai Masriyah Amva.

Para peserta disambut dengan bacaan ayat suci al-Qur’an yang dilantunkan oleh salah seorang santriwati.

Masriyah Amva, selaku pimpinan pesantren menceritakan bahwa dahulunya, saat dipimpin suaminya, pesantren ini sangat patriarki. “Santri laki-laki selalu muncul di permukaan, di depan dan perempuan hanya di belakang. Jumlah santrinya sekitar tiga ratus lima puluh orang kala itu,” ucap Nyai Masriyah Amva, Sabtu (24/1).

Ketika suami Masriyah meninggal, pesantren ini sempat ditinggal para santrinya. Hal tersebut membuat Masriyah merasa kecewa. Kenapa perempuan begitu direndahkan, kenapa pesantren hanya dipimpin lelaki, pikirnya.

Melalui perenungan yang mendalam dari kekecewaannya sekaligus kedudukan perempuan di pesantren, ia mulai bangkit. Masriyah mengangkat Tuhan langsung sebagai pasangan dan pemimpinnya. Bukan lagi pada suami, bukan lagi pada lelaki. “Karena Tuhan lebih hebat, lebih kuasa, lebih memimpin,” terangnya di depan Peserta Peace Train Indonesia.

Masriyah juga mengungkapkan, jika kita hanya bersandar dan bergantung kepada Tuhan, maka posisi laki-laki dan perempuan dengan demikian menjadi setara. Jika kita memuliakan Tuhan, maka kita juga harus memuliakan semua makhluknya. Pemikirannya tersebut membuat ia sering dianggap sebagai tokoh feminis, pluralis hingga ulama.

Selain Masriyah, anaknya yaitu Awwaliyah Amva juga turut serta memimpin berbagai kegiatan di pesantren. Di bawah pimpinan perempuan-perempuan tersebut, Pesantren Kebon Jambu terus berkembang. Bahkan kini jumlah santrinya sudah lebih dari seribu enam ratus orang. Laki-laki dan perempuan.

Hal ini membuat Pesantren Kebon Jambu menarik perhatian banyak kalangan. Dikunjungi berbagai macam lapisan masyarakat, dari rakyat biasa, artis, ulama, aktivis hingga pejabat publik. Dari dalam dan luar negeri. “Dukungan terus mengalir tiada henti, kepada saya, kepada Pesantren Kebon Jambu.”

Peace Train Indonesia Kunjungi Ponpes Kebon Jambu

Perjalanan kedua, rombongan Peace Train Indonesia (PTI) berlabuh di daerah Babakan Ciwaringin. Sebuah daerah yang terkenal dengan ‘kampung santri’ karena terdapat beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di daerah ini.

Terletak cukup dekat dari Stasiun Cirebon, rombongan kami sampai ke Ponpes Kebon Jambu. Awalnya, ponpes ini merupakan sebidang tanah dengan ramainya pepohonan jambu. Hal tersebut yang menjadikan ponpes ini diberi nama Ponpes Kebon Jambu.

Ponpes ini memiliki beberapa keunikan atau daya tarik. Pertama, penggunaan nama Kebon Jambu–berbeda dengan mayoritas ponpes lainnya yang menggunakan Bahasa Arab.

Ternyata nama ini dipilih lantaran alasan khusus. Pendiri ponpes sengaja menggunakan Bahasa Indonesia agar orang-orang dapat dengan mudah mengerti. “Sesederhana itu, namun maknanya sangat dalam,” ungkap Nyai Masriyah Amva yang merupakan Pimpinan Ponpes Kebon Jambu, Sabtu (24/1).

Daya tarik kedua, pemimpin ponpes ini seorang perempuan–ditengah stigma masyarakat yang masih menganggap perempuan tak ubahnya ‘konco wingking’ belaka. Dipimpin oleh Marsiyah Amva, ponpes ini menjadi berbeda dengan ponpes lainnya.

Daya tarik terakhir adalah perjalanan hidup yang dialami oleh Nyai–panggilan yang disematkan kepada Ibu Marsiyah. Kisah hidupnya dapat menjadi berkat serta sumber penguatan bagi sesama, khususnya perempuan.

Secara singkat, ponpes ini didirikan Nyai bersama almarhum suaminya. Suatu ketika, suami Nyai dipanggil oleh Sang Pencipta.

Saat itu, nyai merasa sangat rapuh dan terpuruk. Ditambah lagi dengan kemungkinan besar ponpesnya akan berhenti beroperasi sepeninggal suaminya. Di titik rendahnya, Nyai berkontemplasi akan permasalahannya yang datang dan sangat membuatnya terpuruk. “Saya gemetar dan hampir putus asa,” kata Nyai.

Dalam kontemplasinya, Nyai mendapatkan sebuah pemahaman yang mengatakan, manusia harus bersandar pada Allah, bukan kepada sesama makhluk (manusia). Digambarkan seperti ini, laki-laki bersandar pada Tuhan, sementara perempuan bersandar pada laki-laki. Hasil perenungan Nyai membawanya pada pemikiran kesetaraan gender. Laki-laki dan perempuan harus sama-sama menyandarkan dirinya pada Tuhan.

Hal itulah yang membuat Nyai dapat bangkit dari kerapuhannya selepas ditinggal suaminya. Nyai memberikan diri sepenuhnya pada Allah. Segala permasalahan hidupnya disandarkan pada Allah, tak terkecuali nasib ponpesnya. “Saya menjadikan Allah sebagai pendamping hidupnya saya,” ucapnya.

Benar kiranya, Allah dengan setia memelihara kehidupan Nyai serta ponpesnya. Saat ini, ponpes milik Nyai dapat dikatakan sebagai barometer dalam isu kesetaraan gender. Lebih dari seribu santri tinggal dan menetap di ponpes tersebut. Tak hanya itu, Nyai saat ini juga menularkan dakwahnya hampir ke seluruh penjuru dunia.

Bahkan, tamu-tamu yang datang mengunjungi Nyai di ponpesnya sudah tidak terhitung jumlahnya. Tidak hanya dari Indonesia, tamunya banyak juga dari luar negeri. Sebut saja Amerika, Belanda, Palestina, Jepang, dll.

Bukti Merawat Kebinekaan-Perdamaian

Mereka merupakan rombongan peserta program Peace Train Indonesia (PTI) 10, yang akan belajar dan melihat lebih dekat rumah-rumah ibadah dan komunitas adat yang berbeda sebagai kekayaan budaya di kota Cirebon.

Peserta juga akan merayakan bersama saudara-saudara yang merayakan Tahun Baru Imlek 2020 di Cirebon yang tujuannya untuk saling mengenal, menjalin persahabatan sebagai bekal dalam merawat kebinekaan dan mewujudkan perdamaian.

Penggagas Peace Train Indonesia, Ahmad Nurcholish, meyakini bahwa ini merupakan sebuah kegiatan yang menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak muda dari berbagai agama untuk mengubah pola pikir dari yang tadinya masih tertutup dan perasaan prasangka negatif terhadap orang lain yang berbeda menjadi lebih bersahabat dengan yang lainnya.

“Dengan mengikuti kegiatan ini, kemudian diharapkan mereka dapat menjadi cair. Mereka juga tidak ada prasangka, bisa lepas berteman, bersahabat dengan mereka yang berbeda dengan agamanya itu,” kata Ahmad Nurcholish kepada satuharapan.com sebelum memberangkatkan rombongan PTI 10 di Stasiun Gambir, Jakarta, Jumat (24/1) sore.

Ustadz Nurcholish, sapaan akrabnya, mengatakan kegiatan ini ingin membuktikan bahwa di tengah berbagai perbedaan yang ada, tidak ada namanya halangan untuk kita saling berteman, saling bersahabat dan bersama-sama merawat kebhinekaan dan mewujudkan perdamaian.

“Kita ingin anak-anak muda dari berbagai agama itu saling mengenal satu sama lain, berbagi cerita tentang pengalaman dan tantangan dalam merawat kebinekaan dan mewujudkan perdamaian. Sebab di tangan merekalah masa depan Indonesia mendatang,” katanya.

Dia mengatakan bahwa dari program ini jugalah kemudian para peserta akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama atau serupa di tempat mereka masing-masing.

“Karena itu di beberapa daerah mereka melakukan kegiatan serupa, misalnya di Tulungagung peace trip, di Jayapura peace journey, dengan nama-nama berbeda tapi pada prinsipnya sama,” katanya.

“Tak Kenal Maka Tak Sayang”

Deputy Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) itu berharap di mana pun anak-anak muda berada mereka dapat menduplikasi acara serupa, tidak harus namanya peace trainpeace trip, tapi intinya bagaimana komunitas masyarakat yang berbeda-beda itu ada yang berinisiatif untuk menciptakan ruang perjumpaan. Dari situlah diharapkan kita dapat berjumpa, berinteraksi, berdialog untuk mengenal satu sama lain seperti kata pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.

“Kalau tidak ada perjumpaan enggak akan mungkin selamanya yang muslim terhadap yang Kristen dan yang Hindu, prasangkanya itu akan selalu negatif, begitu juga sebaliknya. Melalui ruang-ruang perjumpaan ini diharapkan kita semua itu dapat saling mengenal lebih dekat, kalau kita sudah kenal maka harusnya enggak ada lagi persoalan-persoalan intoleransi, sulitnya membangun rumah ibadah atau rumah ibadah yang sudah berdiri diganggu, itu mestinya tidak ada lagi,” katanya.

Demikian pribahasa yang tak pernah hilang dari ingatan kita, kata Ustadz Nurcholish, dari tak kenal itulah kita umat beragama yang berbeda kerap kali hanya saling berprasangka (buruk) pada umat agama lain yang berbeda.  Di media sosial misalnya, ranah yang mestinya dapat kita gunakan untuk saling menyapa, berbagi kebaikan dan mempererat persahabatan justru menjadi hal sebaliknya, saling mencaci, mengumbar rasa benci yang berpotensi merusak kerukunan dan perdamaian kita.

Persahabatan dan Persaudaraan  Dalam Kbhinekaan

Abdiel Fortunatus Tanias (MPH PGI), berharap melalui Peace Train Indonesia ini generasi muda Indonesia secara khusus generasi muda Kristen berkesempatan belajar membuka diri dan berinisiatif untuk mengenal, membangun relasi, bergandeng tangan bersama anak-anak muda lain dari berbagai latar belakang agama dalam semangat persahabatan dan persaudaraan dalam kbhinekaan yang merupakan modal dasar bagi upaya mewujudkan kehidupan rukun dan damai.

“Saat ini kita membutuhkan anak-anak muda yang memiliki jiwa kepemimpinan dengan integritas yang kuat, di mana salah satu karakter yang harus dimiliki adalah inisiatif untuk berpikir dan bersikap terbuka dalam membangun persahabatan dengan mengedepankan kepentingan bersama,” kata anggota Majelis Pengurus Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) itu.

Sementara itu, Pendeta Darwin Darmawan mengingatkan, bahwa di era Orde Baru ruang perjumpaan antarmasyarakat Indonesia yang bhinneka itu terjadi dalam pembatasan dan pemisahan. Saat itu, masyarakat Indonesia bersama tetapi tidak betul-betul bersatu (together but not mixed). Pasca reformasi, menurutnya, ruang perjumpaan antar masyarakat Indonesia yang berbeda, acapkali dirusak oleh politisasi identitas berbasis SARA.

“Sebagai bangsa yang bhinneka, kita belum secara sengaja, serius dan terencana belajar menjadi Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Peace Train Indonesia menjadi salah satu upaya membangun ruang perjumpaan antara sesama anak bangsa yang berbeda. Masa depan Indonesia, sesungguhnya terletak dari seberapa mampu membuka ruang-ruang perjumpaan seperti ini,” kata Wakil Sekretaris Umum Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Barat ini.

Garis Depan dalam Menjaga Kerukunan

Peace Train Indonesia ke-10 dihelat sebagai wahana bagi generasi muda (millennial) sebagai ajang untuk saling kenal, mempererat persahabatan di antara mereka dari berbagai latar agama, suku, ras yang berbeda. Melalui acara ini diharapkan anak-anak muda menyadari bahwa mereka harus berada di garis depan dalam menjaga kerukunan sekaligus bersama-sama mewujudkan perdamaian.

Peace Train Indonesia merupakan program traveling lintas agama dengan menggunakan kereta api, menuju ke satu kota yang telah ditentukan, di mana kali ini ujuannya adalah Cirebon – Jawa Barat. Di kota udang ini peserta akan mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antar agama. Mereka juga akan berproses untuk saling belajar, berbagi cerita, berdialog, bekerjasama, mengelola perbedaan, berkampanye, dan menuliskan pengalaman perjumpaan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Program PTI 10 ini diselenggarakan oleh ICRP bekerja sama dengan PGI, Gerakan Pembumian Pancasila, Fahmina Institute, Institute Studi Islam Fahmina (ISIF), Sinode GKI Jawa Barat, Pelita Perdamaian, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Cirebon (PGIS), Inspiration House (Komunitas Pendidikan Anak dan Toleransi Keberagaman), dan Komunitas Cinta Kota Cirebon, GBI Pekiringan, PSMTI, Parahiangan Komputer, Komunitas Cinta Kota Cirebon (KCKC), Sempoa SIP Perjuangan, Gereja Katolik St. Yosef, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Andi Offset (Penerbit Buku), demokrasi.id, dan Ibis Hotel.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dari berbagai agama di Jakarta dan sekitarnya seperti Abdiel Fortunatus Tanias (MPH PGI), Pendeta Darwin Darmawan, Raja Juli Antony (Tokoh Muda, Sekjen PSI), Sekum PGI, Pendeta Jacky Manuputty, Ketua Umum Gerakan Pembumian Pancasila Antonius Manurung, Wakil Sekretaris Umum Sinode GKI Jawa Barat Pendeta Darwin Darmawan, Pegiat Sosial Masyarakat Benny Lummy, serta sejumlah aktivis muda lintas agama dan alumni Peace Train Indonesia sebelumnya dan didukung sejumlah media seperti Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dan lain sebagainya.

Sumber: SATUHARAPAN.COM