Pos

Sejumlah pemuda lintas iman melakukan peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Parung Bogor

[:id]Kaum Muda Lintas Iman Rayakan Hari Kemerdekaan RI [:]

[:id] 

Merdeka itu harus nyata, terlihat dan terasa

Suasana pengibaran bendera merah putih oleh komunitas pemuda lintas iman di Parung Bogor

Suasana pengibaran bendera merah putih oleh komunitas pemuda lintas iman di Parung Bogor

Selasa, 16 Agustus 2016, lapangan kampus Mubarak Ahmadiyah, Parung Jawa Barat tampak ramai. Sejumlah mahasiswa calon mubaliq ahmadiyah sedang berlatih untuk persiapan upacara bendera. Mereka akan bertugas sebagai pemimpin upacara dan pengibar bendera tanggal 17 Agustus. Kampus Mubarak menjadi tempat berkumpul temu kaum muda lintas iman dalam rangka peringatan kemerdekaan RI ke-71.

Menjelang sore, utusan kaum muda dari berbagai  lembaga dan jaringan lintas iman mulai berdatangan. Kaum muda Islam Syiah, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, Khong Hu Chu, serta  utusan lembaga jaringan seperti LBH Jakarta, The Wahid Institute, FMKI KAJ, dll. Lebih dari 100 peserta ikut terlibat dalam peringatan kemerdekaan ini.

Acara yang diinisiasi oleh ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika) ini melibatkan berbagai jaringan dalam kepanitiaan antara lain ICRP, Komisi Kepemudaan KWI, PGI, PERADAH (Organisasi Mahasiwa Hindu), HIKMABUDHI(Organisasi Mahasiswa Budha), Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, Gusdurian, LBH Jakarta, Universitas Mpu Tantular, ABI(Ahlul Bait Indonesia), Komunitas Sunda Wiwitan dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman(SEJUK). Mengusung tema “Merdeka sebagai hak setiap warga Negara”, kegiatan ini diharapkan menjadi satu langkah dasar dalam memperkuat persatuan Indonesia dengan basis masyarakat lintas iman se JABODETABEK.

Tumpeng kemerdekaan yang unik. Berwarna Merah Putih.

Tumpeng kemerdekaan yang unik. Berwarna Merah Putih.

Acara dikemas untuk 2 hari,  Pentas seni dan budaya di hari pertama serta Upacara Bendera dan lomba-lomba di hari kedua. Turut memeriahkan malam pentas seni dan budaya yakni anggota DPR RI dari komisi VIII Kyai Maman Imanul Haq juga Zuhairi Misrawi (Gus Mis) cendekiawan muslim asal Madura dari basis Nahdlatul Ulama.

Di hari kedua, setelah makan pagi kami menuju lapangan untuk bersiap mengikuti upacara bendera. Teman-teman GKI Yasmin dan HKBP Philadelpia bergabung dalam paduan suara mahasiswa Ahmadiyah untuk menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Mahasiswa Budha bertugas membacakan teks Proklamasi dan mahasiswa Hindu membacakan teks UUD’45.  Usai Upacara Bendera, panitia dibantu tuan rumah menyiapkan berbagai atribut lomba untuk memeriahkan pesta kemerdekaan. Lomba yang digelar adalah sendok kelereng, makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, futsall serta menghias tumpeng untuk para ibu.

Acara peringatan kemerdekaan di meriahkan dengan berbagai perlombaan, salah satunya adalah lomba balap karung.

Acara peringatan kemerdekaan di meriahkan dengan berbagai perlombaan, salah satunya adalah lomba balap karung.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba dan makan siang bersama yang dihidangkan oleh ibu-ibu Ahmadiyah.  Tumpeng merah putih buatan ANBTI turut mendampingi makan siang dalam suasan kekeluargaan. Tak lupa kami mengabadikan momen yang indah ini dengan foto bersama di depan Masjid Ahmadiyah.

 [:]

Suasana demonstrasi kelompok antiAhmadiyah di Bangka - sumber dokumen JAI Bangka

[:id]Pengusiran Minoritas Jadi Trend, Musdah Mulia Minta Pemerintah Turun Tangan[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace, Musdah Mulia melihat pengusiran terhadap kelompok-kelompok minoritas agama sekarang telah menjadi trend.  Trend ini menurutnya bisa menjadi preseden buruk bagi penegakan HAM dan kebebasan beragama di Indonesia.

“Evakuasi (baca pengusiran) warga yang tidak disukai kelompok mayoritas agaknya menjadi trend kebijakan pemda akhir-akhir ini. Lihat saja, pengusiran kelompok Gafatar dan yang terbaru adalah pengusiran warga Ahmadiyah” ungkap Musdah Mulia.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menegaskan, seharusnya pemerintah melakukan tindakan tegas terhadap pelaku anarkis yang melakukan intimidasi. Siapa pun pelakunya harus ditindak adil sesuai dengan undang-undang.

“Mestinya, Pemda mengadili kelompok anarkis di wilayahnya, siapa pun mereka agar dapat mengungkap motivasi kejahatan dibalik aksi anarkis tersebut” tegas perempuan penerima Yap Tiam Hien Award tersebut.

Musdah menambahkan, segala bentuk tindakan anarkis dan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan.

“Sangat jelas bahwa tindakan pengusiran terhadap warga adalah sebuah kejahatan dan pelanggaran berat terhadap Konstitusi. Tidak ada pembenaran sedikit pun terhadap tindakan anarkis” tegasnya.

Oleh sebab itu, pemerintah harus bertindak tegas menyelesaikan konflik ini, mengadili pelaku tindakan anarkis, dan melakukan tindakan-tindakan preventif untuk mencegah kejadian serupa terjadi kembali.

“Pemerintah pusat segera turun tangan menyelesaikan konflik lokal, jika tidak maka pemerintahan Jokowi dinilai lebih buruk. Sebab, bukan hanya tidak hadir dalam memberi perlindungan terhadap warga, melainkan turut melanggengkan ketidakadilan dan kezaliman melalui pembiaran” pangkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, ratusan warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar yang menetap di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat harus rela di paksa pulang ke daerah masing-masing karena intimidasi dan ancaman dari sekelompok warga setempat. Bahkan rumah mereka sempat menjadi amukan massa dan dibakar, Senin (19/01/16).

Belakangan, pengusiran serupa terjadi terhadap kelompok Ahmadiyah Bangka. Jemaat Ahmadiyah di Kelurahan Srimenanti diusir dari wilayah Bangka oleh Bupati Bangka Tarmizi H. Jumat (5/02/16). Bupati Bangka menggunakan Surat Keputusan Bersama Menteri sebagai landasan pengusiran. Bupati Tarmizi menganggap Ahmadiyah aliran sesat. Selain Bupati, Komandan Distrik Militer Bangka turun tangan membantu kemauan pemerintah kabupaten untuk mengusir jemaat Ahmadiyah.[:]

Masjid Jemaat Ahamadiyah, Baitul Ahad di Jepang. Sumber: http://ahmadiyyamosque.blogspot.co.id

[:id]Masjid Terbesar di Jepang ini Ternyata Didirikan Muslim Ahmadiyah[:]

[:id]Masjid Terbesar di Jepang ini Ternyata Didirikan Muslim Ahmadiyah

Nagoya, ICRP – Ratusan jemaat Ahmadiyah di Jepang kini tengah berbahagia. Pasalnya Masjid Jemaat Ahmadiyah, Bait ul-Ahad Bait yang diklaim sebagai masjid terbesar di Jepang telah diresmikan, 20 November 2015 lalu. Masjid tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah jemaat Ahmadiyah, namun juga untuk wadah interaksi sosial mereka dengan masyarakat Jepang lebih luas.

Pemimpin tertinggi jemaat Ahmadiyah saat peresmian masjid. Sumber: Pemimpin tertinggi jemaat Ahmadiyah saat peresmian masjid. Sumber: http://ahmadiyyamosque.blogspot.co.id

Pemimpin tertinggi jemaat Ahmadiyah saat peresmian masjid. Sumber: Pemimpin tertinggi jemaat Ahmadiyah saat peresmian masjid. Sumber: http://ahmadiyyamosque.blogspot.co.id

Pemimpin tertinggi Jemaat Ahmadiyah Dunia Caliph Mirza Masroor Ahmad, dalam kesempatan peresmian tersebut menuturkan, peresmian masjid Bait ul-Ahad Bait adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi Jemaat Ahmadiyah di Jepang.

“Jika masjid ini memberitakan pesan cinta, damai, dan harmonis, secara alami orang akan tertarik untuk itu.” tegas pemimpin dari 20 juta Jemaat Ahmadiyah ini.

Menurut Muhammad Ismatullah, pemimpin komunitas Ahmadiyah yang berbasis di Tokyo, jumlah jemaat Ahmadiyah di Jepang kurang dari 300 orang, dan sebagian besar warga Pakistan, dengan kemungkinan 10 persen adalah etnis Jepang. Sebagian besar masyarakat Ahmadiyah tinggal di sekitar kota industri Nagoya.

Masjid Jemaat Ahamadiyah, Baitul Ahad di Jepang. Sumber: http://ahmadiyyamosque.blogspot.co.id

Masjid Jemaat Ahamadiyah, Baitul Ahad di Jepang. Sumber: http://ahmadiyyamosque.blogspot.co.id

Imam Ahmadiyah pertama tiba di Jepang sudah ada pada 1935 tetapi baru sekarang kelompok minoritas itu memiliki sumber daya untuk membangun pusat ibadah sendiri, Masjid Bait ul-Ahad Bait.

Masjid pertama di Jepang, Masjid Muslim Kobe, dibuka pada Oktober 1935 dan tetap menjadi pusat doa umat muslim selama lebih dari 80 tahun berlalu. Beberapa lusin masjid lain telah dibuka sejak saat itu di seluruh negeri sebagai pusat-pusat komunitas untuk puluhan ribu populasi muslim di Jepang.[:]

Masa berjaga-jaga di sekitar lokasi

Ahmadiyah Tebet: Kami Yakin Ahok Mampu Menegakkan Konstitusi

Jakarta, ICRP – Setelah digeruduk ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI), Jum’at (12/6/2015) dan Minggu (14/6/2015) lalu, kini Jemaat Ahmadiyah Tebet berharap pemerintah memberikan perlindungan dan menjadi fasilitator dengan warga yang menolak mereka.

“Kami percaya bahwa Pemda DKI di bawah kepemimpinan bapak Ahok yang tegas mampu menegakkan konstitusi, Pancasila dan UUD 1945 termasuk dalam hak setipa warga melakukan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing sebagai bagian dari kebebasan beragama” demikian tegas warga Ahmadiyah Tebet dalam siaran persnya.

Aryudi Prastowo, Ketua Ahmadiyah Bukit Duri, Tebet, menyatakan Masjid An-Nur Bukit Duri yang dikelola Jemaat Ahmadiyah telah ada sejak tahun 1980-an dan selama 30 tahun tidak pernah ada masalah dengan warga sekitar. Masjid ini juga terbuka untuk umum, tidak seperti tuduhan masa yang mendatangi mereka beberapa waktu lalu.

“Kami selalu terbuka membuka ruang dialog dengan semua pihak untuk turut menciptakan suasana kehidupan bermasyarakat yang beradab, harmonis dan saling menghormati” tegasnya.

Tidak hanya itu, Jemaat Ahmadiyah berharap pihak Pemda melalui Bapak Walikota Jakarta Selatan untuk memfasilitasi Jemaat berdialog dengan masyarakat yang selama ini menghalang-halangi kami untuk sholat dan beribadah di Masjid Bukit Duri.

Maulana Muhammad Diantono memberikan Khotbah Jumat. (Media Center JAI)

FPI Geruduk Ahmadiyah Tebet, Berikut Kronologinya

Jakarta, ICRP –  Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi rumah di Jalan Bukit Duri Tanjakan Batu No 13, RT 2 RW 8, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan yang diduga menjadi markas Jemaah Ahmadiyah. Masa meminta jemaah untuk keluar dan mengosongkan rumah dijadikan sebagai mushalla tersebut.

Anggota dan pengurus Jemaah Ahmadiyah yang sedianya akan melaksanakan Shalat Jumat dirumah tersebut bersedia untuk keluar. Karena tidak bisa kembali masuk ke dalam rumah, belasan Jemaah Ahmadiyah pun melaksanakan shalat jumat di jalanan dekat rumah tersebut.

Berikut kronologi kejadiannya di kutip dari mediacenter JAI:

Masa berjaga-jaga di sekitar lokasi

Masa berjaga-jaga di sekitar lokasi

Pukul 10.30. Pak Lurah Mardi Youce, Bu RW Azhari, Ustadz Syakir, DPD FPI Jaksel Habib Fadri, dan beberapa warga sudah berumpul di depan pagar Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri.

Pukul 10.35. Mereka mulai memasuki halaman Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri.

 

DPD FPI Jaksel Habib Fadri. (Media Center JAI)

DPD FPI Jaksel Habib Fadri. (Media Center JAI)

Pukul 10.40. DPD FPI menanyakan kepada Diantono apakah benar Jamaah Muslim Ahmadiyah akan melakukan shalat jumat di Bukit Duri. Diantono bersikeras untuk tidak menjawab sebelum ada Ketua Jamaah Muslim Ahmadiyah Jaktim Aryudi. Namun karena dipaksa untuk berbicara, akhirnya Diantono menjawab bahwa telah memberikan pemberitahuan sebelumnya ke Polda.

Habib Fadri menyampaikan bahwa warga “Menolak aktivitas apa pun yang berbentuk agama ataupun ibadah.” Habib Fadri, mewakili warga Bukit Duri, menyampaikan bahwa “Harga mati! Tidak ada ibadah di sini!”

Pukul 10.55. Lurah Mardi, Bu RW Azhari, Ustadz Syakir, Habib Fadri, dan beberapa warga meninggalkan halaman Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri.

Pukul 11.00. Ketua Jamaah Muslim Ahmadiyah Jaktim Aryudi masuk ke dalam rumah Diantono, bertemu dan berbicara dengan beberapa orang perwakilan dari pemerintah—Polda, RT, RW, dan Kelurahan. Mereka menyampaikan agar Jamaah Muslim Ahmadiyah ikut menjaga keamanan Bukit Duri.

Pukul 11.30. Spanduk yang terpasang di dekat tempat JAI Bukit Duri dipindahkan ke depan pagar tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri hingga menutupi pintu masuk.

Pukul 11.35. Ketua Jamaah Muslim Ahmadiyah Jaktim meminta agar spanduk tersebut dilepas namun malah ditanyakan KTP apakah warga Bukit Duri atau bukan. Kemudian datang Muballigh Diantono dan isterinya, kembali meminta untuk melepaskan spanduk yang telah terpasang namun tetap tidak dipedulikan hingga terjadi adu mulut dan tarik-menarik spanduk.

Pukul 11.40. Anggota-anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah mulai datang ingin memasuki tempat JAI Bukit Duri namun dihalangi di depan pagar. Hingga beberapa orang pemuda membentuk barisan agar tidak ada Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang bisa masuk ke dalam.

Pukul 11.45. Terjadi adu mulut dan saling dorong antara anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah dengan orang yang berbaris menghalangi di depan pagar. Anggota berusaha masuk ke dalam namun tetap dihalangi.

Pukul 12.00. Memasuki waktu Ṣalāt Jumat, Anggota-anggota kembali untuk tetap berusaha bisa melakukan Ṣalāt Jumat di dalam namun tetap terus dihalangi, hingga akhirnya memutuskan untuk ṣalāt di jalan depan tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukti Duri. Mereka tetap menghalangi dan berniat untuk memarkir mobilnya di depan tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri agar anggota tidak dapat melakukan shalat jumat.

Pukul 12.05. Jamaah Muslim Ahmadiyah mengumandangkan adzan. 12 jamaah dipimpin oleh Muballigh Diantono memulai melakukan Ṣalāt Jumat di jalan depan tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri.

Maulana Muhammad Diantono memberikan Khotbah Jumat. (Media Center JAI)

Maulana Muhammad Diantono memberikan Khotbah Jumat. (Media Center JAI)

Pukul 12.10. Muballigh Diantono mulai menyampaikan khotbah.

Pukul 12.20. Khotbah selesai kemudian melakukan Ṣalāt Jumat.

Pukul 12.28. Jamaah Muslim Ahmadiyah telah menyelesaikan Ṣalāt Jumat.

Pukul 12.30. Masjid Al-Islah selesai melakukan Ṣalāt Jumat.

Pukul 12.33. Beberapa Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah langsung meninggalkan lokasi dan Pak Dian serta beberapa anggota lainnya kembali ke dalam Tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri. Pemuda yang berbaris didepan pagar sudah tidak menghalangi hanya berdiri saja.

Pukul 12.35. Spanduk yang terpasang di pagar tempat JAI Bukit Duri dilepas. Ketua JAI Jaktim melakukan wawancara dengan beberapa reporter stasiun TV di jalan depan tempat JAI Bukit Duri.

Jalanan di sekitar tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri bertambah ramai, Ustadz Syakir datang dan terjadi adu mulut serta aksi dorong-mendorong dengan massa. Hingga akhirnya, Ketua Jamaah Muslim Ahmadiyah Jaktim kembali ke dalam tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Jaktim.

Beberapa orang memasuki halaman tempat JAI Bukit Duri hingga pagar tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri roboh. Polisi menyuruh Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri yang bukan warga setempat untuk meninggalkan lokasi.

Pukul 12.38. Wira dari KontraS meninggalkan lokasi. Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang bukan warga Bukit Duri meninggalkan lokasi. Massa mengerubungi Anggota-anggota yang ingin meninggalkan lokasi. Ada satu Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang terkena sundutan rokok oleh massa.

Pukul 12.50. Polisi membubarkan massa. Spanduk dipasang kembali ke jalan dekat tempat Jamaah Muslim Ahmadiyah Bukit Duri, tempat semula spanduk terpasang.