Pos

Santun Beragama Melalui Kampung Bhinneka

Akbar Arry Syaifulloh

Agama merupakan sebuah hal yang menjadi bagian integral dalam kehidupan kita. Agama sendiri terhimpun dari kesadaran kognitif tentang penghayatan terhadap Sang Adi Kodrati. Lebih jauh lagi Yuval dalam bukunya Sapiens menyebutkan bahwa agama hanya sebagai sebuaha rekayasa situasi dimana saat manusia telah berhasil merekayasa lingkungannya namun mereka gagal dalam mengakomodir segala keperluan seperti hujan, tornado hingga bencana yang kerap menerpa mereka.

Maka kebutuhan akan agama merupakan sebuah hal yang fundamental dalam diri manusia guna merefleksikan tentang ketidakmampuan manusia terhadap alam sekitarnya. Di sisi lain definisi agama juga diberikan oleh beberapa tokoh-tokoh lain dengan pemaknaan yang berbeda-beda pula.

Ada yang menafsirkan bahwa agama merupakan halusinasi manusia terhadap kondisi psikisnya seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud ada pula yang mengatakan bahwa agama merupakan sebuah kesadaran komunal yang terbentuk karena keperluan untuk menghimpun stabilitas hidup seperti yang dikatakan oleh Durkheim dalam bukunya The Elementary Of Relegion.

Terlepas dari itu semua peran agama dikehidupan masyarakat kita, merupakan sebuah jatidiri yang bersifat fundamental dan acapkali tidak dapat diperdebatkan. Karena kefundamentalan agama inilah, seringkali agama juga bersifat misionaris. Hal ini yang menyebabkan banyaknya gerakan-gerakan konversi agama secara massif yang dilakukan para demagog untuk menyampaikan ‘Risalah’ yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.

Keberagamaan di Indonesia pun tak luput dari hal tersebut. Sikap misionaris para domagog, sering kali membuat persingungan antara penganut agama satu dengan agama yang lain. Karena mereka mempunyai sebuah ke-’benaran’ yang mereka tafsiri masing-masing. Dan berusasha merealisasikan kebenaran tersebut kepada umat agama yang lain. Hal inilah yang mengakibatkan pergesekan dimasyrakat kita.

Kasus-kasus seperti pembakaran gereja, persekusi jemaaat aliran sebuah agama hingga penolakan pendirian rumah ibadah mengiringi dinamika beragama di indoensia. Padahal masyarakat kita notabene merupakan sebuah masyarakat yang mempunyai karakteristik keagamaan majemuk, dipaksa harus melewati rintangan-rintangan dalam kehidupan beragama ini.

Maka sudah seharusnya kesadaran kita terhadap penghayatan agama jangan sampai mengganggu umat yang lain. Kita harus dapat memaknai ‘kebenaran agama’ sebagai sebuah bagian integral dalam iman kita sendiri, bukan sebagai sebuah hal yang perlu diseragamkan kepada umat beragama yang lain. Dalam buku Melampaui Pluralisme yang ditulis oleh Garadette Philips, gagasan Hans Kung menyatakan bahwa diperlukannya sebuah ‘Etika Global’ yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan untuk menjadi dasaran manusia dalam bertindak dan bersikap, agar masyarakat beragama tidak repot-repot memaaksakan dokrin keagamaanya dilingkungannya. Hal inilah yang dapat mendasari harmonisasi sosial dikalangan masyrakat kita. Dimana ada sebuah konsepsi komunal yang diafirmasi oleh masyarakat tanpa harus menonjolkan sebuah ajaran agama masing-masing.

Impelementasi tentang Etika Global yang digagas Hans Kung di Indonesia ini dapat efektif mengingat masyarakat kita sudah memiliki sebuah etika-etika kebudayaan seperti Sawang sinawang, Menang tanpo ngasorake dan adagium-adagium yang telah diketahui oleh masyarkat kita.

Hal ini tentu bukan dalam rangka mereduksi keagamaan secara general. Melainkan mencari titik tengah dan jalan keluar bagaimaana dapat beragama ditengah-tengah derasnya arus perbedaan. Tidak hanya kesadaran personal masing-masing masyrakat kita dalam membangun sikap beragama yang santun. Pemerintah melalui lembaga-lembaga seperti FKUB dan Kemenag juga berperan aktif dalam menciptakan iklim beragama yang santun. Tentu dalam hal ini diskusi-diskusi dan dialog sudah tidak relevan lagi bagi masyarakat kita.

Masyarakat kita sudah mengetahui eksistensi agama lain, dan karena hal tersebut masing-masing dari penganut agama tersebut mencoba mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Maka diskusi-diskusi yang biasanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti FKUB dan Kemenag dirasa kurang efektif. Meminjam istilah Sri Wisnoady masyarakat kita sudah beralih dalam tahapan Apolegtis (kondisi dimana masyarakat mengetahui eksistensi keberagamaan dan berusaha saling mendominasi) menuju tahapan Ko-eksistensi. (tahap toleransi, namun hanya sebagai formalitas dan acapkali dapat menuai konflik).

FKUB dan Kemenag perlu bertindak lebih, dari yang sebelumnya hanya melakukan kegiatan dialog lintas agama dan Live in (semacam perkemahan atau agenda hidup bersama, lintas agama) kearah yang lebih progresif yakni mencitakan kantung-kantung kampong Bhineka. Dari Kampung-kampung Bhinneka inilah minimal masyarakat mempunyai sebuah Role Play bagaimana cara Bergama yang santun.

Kampung-kampung Bhinneka yang di inisiaisi oleh FKUB dan Kemenag sendiri murni sebuah program yang menciptakan kondisi kebaragaman beragama ditengah-tengah masyarakakat. Langkah awalnya agar meminimalisir pengeluaran lembaga-lembaga terkait dapat bekerja sama dengan kecamatan atau kelurahan setempat dalam merealisasikan program ini.

Dengan mengacu kepada tempat-tempat yang secara kultural telah terbentuk kemajemukannya. Lantas pihak-pihak FKUB dan Kemenag dapat membranding kampung tersebut hingga menjadi destinasi wisata. Jika demikian, maka FKUB dan Kemenag dapat secara masing menciptkan kampung-kampung Bhineka di setiap kota dan kabupaten.

Diharapkan dari kampung-kampung bhinneka tersebut dapat juga menjadi laboratorium penelitian. Progresifitas pendekatan beragama inilah yang seharusnya diinisiasi oleh lembaga terkait. Maka dengan berdirinya kampung-kampung Bhineka ini juga dapat sebagai marcusuar dalam menyebarkan bagaimana beragama yang santun. [ ]

 

Akbar Arry Syaifulloh, mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi

Menandai awal tahun 2020, Club Islam Salam kembali menggelar kajian di Kantor Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP), Cempaka Putih Barat XXI No. 34, Jakarta Pusat pada hari Rabu, 22/1/2020.

[dropcap]T[/dropcap]ema kali ini adalah Memaknai Hijrah sebagai Proses Transformasi. Dari waktu ke waktu, makna hijrah mengalami pergeseran. Kita sering mendengar orang-orang berhijrah kemudian menutup diri dari pergaulan. Banyak yang hijrah dan tidak bisa menerima perbedaan. Berbagai praktik diskriminasi, persekusi dan intoleransi pun kian menguat akhir-akhir ini.

Lalu, apa makna hijrah yang sebenarnya? Menilik arti katanya, hijrah berarti meninggalkan. Menurut Ragib Al-Isfahani, istilah hijrah ini mengacu pada tiga hal. Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai. Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS. Al-Ankabut: 29:26). Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mengontrol hawa nafsu: “Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan segala yang dibenci Allah.” (HR. Bukhori).

Dalam konteks Islam, peristiwa hijrah dikaitkan dengan aktivitas Nabi Muhammad saw yang meninggalkan Kota Mekkah ke Madinah. Saat di Mekkah, Nabi saw menghadapi masa-masa berat penuh ancaman dan penderitaan. Nabi kemudian berhijrah ke Madinah. Di sana, beliau diangkat menjadi kepala negara dan memegang kekuasaan politik. Disinilah, hijrah menjadi momentum perubahan dan pembebasan umat Islam dari semua belenggu diskriminasi dan kezaliman.

Masyarakat Madinah yang majemuk diikat dalam sebuah tali persaudaraan atau ukhuwah. Selain ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman), diperkenalkan pula ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Melalui persaudaraan umat Islam diajarkan untuk menghayati perbedaan dan keberagaman. Nabi saw juga memberi tanggung jawab yang sama bagi semua golongan untuk memelihara keamanan dan ketertiban. Mereka diberi hak, kesempatan serta jaminan yang sama, sehingga tidak ada yang mendominasi serta memaksakan kehendaknya satu sama lain.

Masyarakat Indonesia seharusnya mengaca pada teladan Nabi saw. Hijrah bukannya membuat kelompok dan golongan saling gontok-gontokan dan merasa diri paling benar. Hijrah seharusnya menjadi momentum perubahan dan transformasi sosial. Melalui semangat hijrah, seharusnya umat Islam terdepan dalam memberantas KKN; menghapus diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan. Terakhir, kita harus melek ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terbelakang.

Pewarta: Siti Rubaidah

CISForm Meluncurkan Film Animasi Religi

CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meluncurkan film animasi religi di Jakarta. Kegiatan ini adalah launching ke-2 setelah kegiatan serupa telah dilaksanakan di Yogyakarta, 3 Februari 2018. Film animasi religi CISForm yang masing-masing berdurasi sekitar 1,5 s/d 2 menit ini berjumlah 40 film. 20 film animasi religi pertama sudah dilaunching di Yogyakarta dan 20 film berikutnya diluncurkan di Jakarta ini. Film animasi religi ini merupakan komitmen CISForm untuk mengantisipasi penyebaran narasi Islamisme dan radikalisme di Indonesia. Acara ini merupakan bentuk kerja sama antara CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam peluncuran di Jakarta ini, acara diisi dengan pemutaran film animasi religi dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Ustadz H. Muhammad Nur Hayid sekalu tokoh ulama dan Dhania selaku returnee Syiria. Kegiatan ini dihadiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan akademisi, yang dibuka langsung oleh Dr. Muhammad Wildan selaku Direktur CISForm.

CISForm adalah salah satu pusat studi dan penelitian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kosen dalam menangani fenomena radikalisme melalui pendekatan yang lunak/moderat. Studi terbaru menunjukkan bahwa rata-rata kebiasaan membaca kaum muda di negara Indonesia ini kurang dari 10%. Menariknya, media sosial online lebih dipilih menjadi alternatif yang cukup efektif untuk mendapatkan isu-isu update terkini. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa banyak pemuda akhir-akhir ini yang lebih suka memilih akses mudah ke gadget dan internet dalam mencari dan memperlajari segala hal termasuk dalam belajar ilmu agama. Maka dari itu CISForm berupaya menggunakan animasi sebagai sarana yang mudah dan fleksibel untuk menjangkau kaum muda.

CISForm menyadari bahwa tidak bisa dipungkiri arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, paham extremisme dan radikalisme menyebar dan berkembang dengan pesat. Media sosial merupakan media paling rawan untuk penyebaran ideologi ultra-konservatif seperti ISIS. Gerakan-gerakan ultra-konservatif tersebut menyebarkan ideologi (propaganda) mereka khususnya ke generasi muda dengan narasi-narasi extremism dan radikalisme. Berdasaran pengamatan dan penelitian CISForm, ideologi yang dikembangkan oleh gerakan-gerakan extremism adalah seputar narasi hijrah, jihad, khilafah dan intoleransi. Oleh karena itu, CISForm berusaha untuk menangkal perkembangan ideologi ultra-konservatisme tersebut dengan membuat film animasi religi yang menarik yang berisi pesan-pesan Islam moderat yang rahmatan lil’alamin.

Harapannya, melalui animasi religi ini mampu menjadi counter-narratif yang efektif bagi kalangan muda yang familiar dengan sosial media, dan mudah untuk disebarkan melalui youtube, facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Dengan demikian mampu diharapkan dapat berkontribusi dalam mengarusutamakan pemahaman Islam moderat yang rahmatan lil’alamin di kalangan muda, sekaligus menjadi sebagai wacana tanding (counter violent extremism) untuk meredam propaganda ideologi radikalisme di Indonesia melalui pesan-pesan yang dikemas dalam bentuk animasi yang menarik, dan menghibur.

Untuk dapat menikmati film-film animasi hasil karya CISForm, cukup menonton melalui kanal Youtube Cisform Uinsuka.

FTSM se-Jakarta mengadakan konferensi pers dengan tema Menolak Politisasi Masjid “Upaya Mengembalikan Fungsi Masjid dan Merawat NKRI”, Sabtu (27/1/2018) di Jakarta.

Takmir Masjid Se-Jakarta Tolak Politisasi Masjid. Dukung!!!

Jakarta, ICRP – Nampaknya masyarakat sudah mulai jengah dengan digunakannya Masjid sebagai ajang kampanye politik. Sejumlah pemuka agama yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Takmir Masjid (FTSM) se-Jakarta, Sabtu (27/1/2018) lalu melakukan konferensi pers dan menegaskan menolak politisasi masjid.

Koordinator FTSM Jakarta, Ustaz Muhammad Husni Mubarok mengatakan masjid sudah seharusnya dikembalikan kepada fungsinya, yaitu menyampaikan dakwah atau ajakan menjalankan ajaran agam secara sejuk dan damai, bukan dengan caci maki, ujaran kebencian hingga ajakan permusuhan.

Husni menyayangkan belakangan ini marak ceramah yang menghujat dan menghasut. Penuh nada-nada kebencian kepada pemerintah. Menurutnya hal tersebut dapat menjadi ancaman persatuan dan kesatuan kita sebagai negara yang beragam.

“Mereka biasanya menggunakan slogan dan simbol agama untuk menunjukkan kebencian dan permusuhan kepada pihak yang berbeda. Mereka berdalih bahwa itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi dan menggunakannya untuk mengelak dari tudingan sebagai kelompok antidemokrasi dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (26/1/2018).

Oleh sebab itu ia menolak penggunaan masjid yang seharusnya digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam yang sejuk justru digunakan untuk mengungkapkan khotbah permusuhan dan kebencian kepada pihak lain.

Ia juga berharap masyarakat dan negara turut aktif untuk mengikis pemanfaatan masjid sebagai tempat menyebarkan ujaran kebencian sehingga memecah belah persatuan bangsa.

“Dalam kaidah fiqih juga sesungguhnya ada istilah lebih baik mendahulukan menolak kerusakan dibandingkan mendatangkan kebaikan. Islam tidak menafikan gerakan politik yang dimulai dari masjid, tapi politik untuk membawa kemaslahatan bagi umat dan negara, bukan politik untuk memecah belah bangsa,” ungkapnya. [sumber: tribunnews.com]

Ilustrasi - Bocah suku Baduy Luar bermain di balik tumpukan kayu hasil penebangan, di aliran Sungai Ciujung, Kanekes, Lebak, Banten. Kelompok masyarakat yang mendiami sekitar 5.100 hektare kawasan tanah hak ulayat di Pegunungan Kendeng itu hingga kini masih tetap menjaga dan mematuhi warisan tradisi nenek-moyang mereka yang berlandaskan sistem kepercayaan kuno, Sunda Wiwitan. (ANTARA/Ismar Patrizki)

Kabupaten ini siap masukkan aliran kepercayaan dalam kurikulum

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara siap memasukkan pelajaran aliran kepercayaan dalam kurikulum pendidikan apabila resmi diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kami masih menunggu edaran resmi dari Kemendikbud untuk penerapan aliran kepercayaan di dalam kurikulum pembelajaran,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara Marjani di Penajam, Kamis.

Marjani tidak terlalu sulit mendapatkan pengajara untuk aliran kepercayaan karena aliran kepercayaan hanya sebatas diketahui, bukan untuk dipahami peserta didik.

Namun demikian, Marjani menilai aliran kepercayaan lebih tepat jika digabung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau PKN.

“Kami siap menerapkan aliran kepercayaan di dalam kurikulum pendidikan jika ada surat edaran resmi dari Kemendikbud,” kata Marjani.

Kemendikbud sudah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 27 Tahun 2016 tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada satuan pendidikan.

Regulasi ini mengatur layanan pendidikan kepercayaan Terhadap tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada peserta didik penghayat kepercayaan.

Sumber: Antara

Ilustrasi Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sumber: Detik.com

[:id]Fenomena Padepokan Dimas Kanjeng, Potret Masyarakat Instan Tak Rasional[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Di zaman modern seperti saat ini ternyata masih banyak masyarakat terbuai iming-iming mendapatkan uang instan dengan cara ghaib. Seperti yang dilakukan di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang belakangan ini ramai. Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditengarai bisa menggandakan uang santri-santrinya. Hingga akhirnya dicokok polisi karena dugaan pembunuhan.

Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Ahmad Nurcholish menyatakan fenomena masyarakat berbondong-bondong menggandakan uang ke Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi adalah potret masyarakat instan yang tidak mau berusaha.

“Hal ini menandakan masyarakat kita yang suka sekali dengan budaya instan. Tidak mau bersusah payah dan berusaha keras. Jadinya mudah terpikat dengan cara-cara seperti ini” tegas Nurcholish.

Menurut penulis buku Agama Cinta ini, fenomena padepokan Dimas Kanjeng membukakan mata kita bahwa masyarakat saat ini sudah kehilangan daya kritisnya.

“Masyarakat tidak kritis lagi apakah uang itu benar atau tidak, palsu atau tidak?” ungkapnya.

Selain motif ekonomi, Nurcholish menengarai bahwa ada motif agama dibalik kejadian ini. Menurutnya, pengajaran agama yang salah akan menyebabkan hal-hal tidak rasional seperti ini terus berkembang.

 [:]

Ilustrasi keberagaman di Indonesia. Sumber: kompas

[:id]Indonesia dan Masalah Keyakinan (Beragama)[:]

[:id]Oleh: Melkior Sedek (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)

Indonesia merupakan negara terbesar ke empat dunia dilihat dari jumlah penduduknya. Dari segi kultur, Indonesia pun memiliki berbagai macam kultur baik dari segi bahasa, kebiasaan, suku, ras, maupun keyakinannya. Persoalan suku atau ras, Indonesia nampaknya tidaklah seperti negara-negara Afrika yang sering mengalami perang saudara. Artinya, perbedaan suku, etnis atau ras yang dimiliki oleh masyarakat Jawa, Sumatera, Kalimantan, Flores, Ambon ataupun Papua tidak terlalu menjadi persoalan. Namun, bangsa kita memiliki satu kekhasan dalam hal pluralitas. Rupanya perbedaan keyakinan itu memiliki potensi tinggi akan terjadinya konflik. Misalkan saja, kasus Poso dan Ambon. Kalau dilihat dari segi kekerabatannya tentu mereka masih memiliki kedekatan dan kesamaan satu sama lain baik dari segi bahasa, budaya, dan pola pikir.

Dari segi ini, mestinya orang beragama atau agama itu sendiri merefleksikan  diri mengenai kehadirannya bagi masyarakat tertentu. Harapannya, agama menjadi petunjuk kehidupan malah menjauh dari harapan. Tentu, dalam kasus ini, kita tidak mau menyalahkan siapa pun termasuk agama itu sendiri. Saya hanya mencoba menyadarkan dan mencari apa yang menjadi akar dari semua itu. Rupanya, kecemasan “fearness’’ akan kehadiran kelompok lain masih menguasai pemahaman masyarakat kita. Masyarakat kita sering merasa, misalnya “jika sebuah Mesjid dibangun di daerah yang berbasis Kristen maka masyarakat setempat menjadi takut bahwa usaha itu merupakan bagian dari Islamisasi, demikian pun sebaliknya kalau gereja dibangun di daerah yang berbasis muslim”. Kita terkadang jatuh pada prasangka bahwa kehadiran gereja atau mesjid baru itu sebagai usaha penaklukan. Kalau dipikir secara akal sehat, kehadiran kelompok lain mesti menjadi kesempatan bagi kita untuk hidup dan bersaksi sesuai dengan iman yang kita anut. Dengan demikian, mungkin kelompok lain dapat belajar dari kita dan juga sebaliknya sehingga kita dapat saling melengkapi. Namun pemahaman ini sangat jauh dari pemikiran masyarakat kita.

Kedua, kurangnya pemahaman terhadap ajaran yang diimaninya. Masalah ini tentu menyangkut perihal penafsiran yang merupakan tugas dari pemuka/pemimpin agamanya  untuk memberikan penjelasan bagi umatnya. Kurangnya pemahaman ini membawa dampak sangat serius dan berpotensi pada tindakan radikalisme. Dengan menggunakan dalil dari ayat tertentu, kita berani melakukan sebuah tindakan yang diyakini sebagai dogma sekalipun tindakan itu merugikan orang lain. Kalau dipikir secara akal sehat, ajaran agama mesti dilihat secara universal. Artinya tidak hanya berpedoman pada  ayat tertentu karena masih banyak lagi ayat-ayat lain yang dapat menjadi pedoman kita. Akhirnya, kecenderungan ini, kita namakan penafsiran literatur tanpa melihat konteks, budaya, dan situasi kitab-kitab itu ditulis. Saya pikir, kecenderungan ini, dimiliki oleh setiap pemeluk agama, entah itu Kristen, Islam, Hindu, ataupun Buddha.

Ketiga, para pemeluk agama masih kurang kritis untuk membedakan antara penghayatan dan pembelaan iman atau antara hal yang sakral dan hal yang profan. Dalam film PK, kita dapat melihat kecenderungan dari para pemeluk yang kadang menghayati imannya secara buta sehingga apa saja hal yang “mengganggu” imannya akan dilawan tanpa mencari tahu siapa atau motif dari tindakan itu. Lalu, di tengah ketiga fenomena di atas, kita juga dihadapkan dengan kelompok tertentu yang cenderung bersikap radikal. Sebut saja, aksi dari para terorisme. Bagi kita, umat beragama, tindakan mereka itu merupakan bagian dari aksi radikalisme agama yang melegalkan aksinya itu dengan nama atau ajaran agama tertentu. Menghadapi kelompok ini, bukanlah tugas mudah apalagi kalau mereka berafiliasi dengan kelompok Internasional, misalnya ISIS.

Namun di sini, saya hanya mau memberikan sebuah jawaban yang kiranya dapat memperkokoh perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya masalah pertama di atas, ketakutan “fearness” terhadap kelompok dengan keyakinan berbeda. Kalau hal ini dapat disadari dan diatasi oleh masyarakat kita maka dengan demikian tidak ada terjadi penolakan terhadap Gereja Yasmin, Gereja Filadelfia, atau Masjid Batu di Kupang, misalnya. Dalam masalah ini, pemerintah juga mesti bersikap adil, tegas,  melindungi, dan bahkan mesti berpihak pada kelompok korban. Artinya, pemerintah mesti  memberikan ketegasan dalam hal kebebasan beragama terlepas itu sesat atau salah dari segi iman. Kita juga sering mendengar keluhan dari saudara/i Syiah ataupun Ahmadiyah yang mendapat perlakuan tidak adil dari kelompok tertentu. Dari segi ini, mereka sudah kehilangan haknya hidup sebagai warga negara di mana mereka dapat dengan bebas memeluk keyakinan tertentu!

Masalah kedua,  kurangnya pemahaman terhadap iman yang diyakini, berdampak pada mudahnya masuk ideologi tertentu terhadap diri seseorang misalnya, paham yang berbau radikalisme. Dengan tawaran melalui janji-janji luhur “agama”, dapat dengan mudah diterima oleh mereka yang belum terlalu memahami dan mengerti akan iman yang dimilikinya. Maka tugas penting dari kita sebagai orang beragama adalah mendalami dan memahami secara benar akan iman yang kita anut itu. Kita tidak boleh bergantung pada ayat-ayat tertentu tetapi mesti melihat iman kita itu melalui kaca mata yang lebih luas sehingga kita tidak jatuh pada tindakan radikalisme.

Pembelaan dan penghayatan iman yang kurang kritis juga  menjadi salah satu problem. Kita sering mengaitkan masalah-masalah agama di luar Indonesia dengan kehidupan berbangsa kita. Misalnya saja, ketika terjadi penyerangan terhadap kelompok muslim etnis Rohingya di Myanmar maka sebagai bentuk “pembelaan” terhadap saudara seiman, beberapa orang mencoba melakukan hal serupa. Bagi saya, hal ini merupakan sebuah bentuk penyelewengan iman yang terbuka. Dengan alasan “balas dendam’’ atau pembelaan, kita berani bertindak tanpa berpikir panjang bahwa iman pada dasarnya tidak bisa dibela secara fisik atau pun bentuk kriminal lainnya. Iman merupakan hubungan personal kita dengan Sang Pencipta. Iman juga tidak bisa dibuktikan sejauh mana jumlah pengikutnya tetapi bagaimana kita menghayati ajaran dan petunjuk di dalamnya. Ketakutan akan ancaman dominasi dari kelompok (agama) lain mesti dihilangkan dalam kehidupan berbangsa. Iman kita juga bukan soal kita menjadi mayoritas atau minoritas tetapi dengan perbedaan mesti menjadi kesempatan untuk bersaksi bagi sesama saudara yang berbeda keyakinan.

Kiranya, dengan beberapa penyadaran di atas, kita semakin rukun dan damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita dapat belajar dari perbedaan. Iman yang kita miliki harus dipertanggunjawabkan melalui tindakan dan perbuatan kita sehari-hari. Tentunya, melalui tindakan yang tidak mengancam atau merugikan orang lain. Masalah perbedaan keyakinan mesti menjadi sebuah masalah bersama. Artinya, kita bersama memikirkan untuk mencari jalan keluar terutama kita yang mengakui menjadi penganut agama. Agama harus dijauhi dari unsur provokasi yang dapat menimbulkan konflik. Akhirnya, kita berharap Pemerintah dapat menjamin kebebasan bagi kita umat beragama dalam menentukan nasib kita sehingga tidak ada kelompok lain yang berhak mengintervensi atas keyakinan yang kita miliki.[:]

Ilustrated. Sumber: desktopnexus.com

[:id]Takwa: Perjumpaan Spiritual Agama-Agama[:]

[:id]

Oleh Ahmad Nurcholish

Sebagaimana pula agama Yahudi dan Kristen, Islam adalah “Agama Perjanjian”. Seluruh dasar perjanjian Allah-manusia itu terutama dalam kitab suci yang merupakan wahyu Allah kepada manusia. Dalam agama Islam, seperti dipaparkan Budhy Munawar-Rachman (2001: 16-17), dasar pemahaman mengenai wahyu itu adalah apa yang disebut “pesan keagamaan” atau “pesan dasar” (risalah asasiyah) Islam, yang pada pokoknya meliputi perjanjian dengan Allah (‘ahd, ‘aqd, mitsaq), sikap pasrah kepada-Nya (islam), dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa, rabbaniyah).

Pesan-pesan dasariah agama ini, menurut Budhy,  bersifat universal dan berlaku untuk semua manusia, dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama – justru karena memang agama-agama dengan caranya sendiri-sendiri mengajarkan soal-soal tersebut. Bahkan “sebagai hukum dasar dari Tuhan, pesan dasar itu meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya, di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja.”

Mengenai ketiga pesan dasar tersebut, Cak Nur (Nurcholish Madjid) menjelaskan:

“Ketiga pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan social yang nyata, yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat, [dalam terjemahan ini] maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. Oleh karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama, maka ditegaskan bahwa menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia.” (1991: 19)

Dalam pandangan teologi umat Islam, al-Qur’an itu adalah “pesan keagamaan” yang harus selalu dirujuk dalam kehidupan keagamaan seorang Muslim. Pandangan ini mengacu kepada sebuah hadits Nabi saw., al-diinu nashihah, “agama itu adalah nasihat” –agama adalah sebuah pesan. Dalam al-Qur’an pun ada penegasan, bahwa pesan keagamaan – merupakan pokok pandangan hidup Islam itu – sama untuk para pengikut Nabi Muhammad saw., dan mereka yang menerima Kitab Suci sebelumnya, yaitu pesan untuk bertakwa kepada Allah.

“Dan sungguh, telah Kami perintahkan kepada mereka, Ahli Kitab sebelum kamu, juga kepada kamu, supaya bertakwa kepada Allah…” (Qs. Al-Nisa’ (4): 131)

Ayat ini menegaskan bahwa pesan keagamaan itu adalah pesan untuk bertakwa (taqwa) kepada Tuhan. Yang menarik adalah, dari segi inklusif dan pluralis, al-Qur’an itu adalah ayat – yakni pertanda, perlambang atau simbol. Dalam hal ini Netton mengatakan, “Al-Qur’an itu penuh dengan rujukan kepada ayat-ayat (yakni, perlambang-perlambang) Tuhan.” (1989: 321).

 Jika pesan keagamaan yang merupakan pokok pandangan hidup Islam itu, sama untuk para pengikut Nabi Muhammad saw., dan mereka yang menerima Kitab Suci sebelumnya, sebagaimana dikatakan di atas, maka dalam akidah Islam pada dasarnya semua agama adalah ayat Tuhan, yang hendak membawa setiap pengikutnya kepada kehidupan takwa, kehidupan dalam kehadiran dengan dan dalam Tuhan.

Jika kita mencermati pesan ketakwaan sebagaimana diuraikan di atas, maka, pada prinsipnya sama untuk semua umat manusia. Sehingga pesan kepada takwa ini dalam pandangan Islam, bersifat universal. Di sinilah, dalam argument keuniversalan pesan keagamaan tersebut, memunculkan arti kesamaan hakikat semua pesan Tuhan.

Akan tetapi arti “kesamaa agama” di sini bukan kesamaan dalam arti formal dalam aturan-aturan positif yang sering diacu sebagai istilah agama Islam syari’ah, bahkan tidak juga dalam pokok-pokok keyakinan tertentu. Sebab, Islam par exellance memiliki segi-segi perbedaan dengan misalnya agama Yahudi dan Kristiani, dua agama yang paling dekat karena sama-sama berasal dari millah Ibrahim. Beberapa ayat al-Qur’an menandaskan mengenai kesamaan hakikat ini, dan implikasi-implikasinya, sebagaimana tertuang dalam Qs. Al-Baqarah (2): 148 dan 256, al-Maidah (5): 48, dan Yunus (10): 99.

Jadi, pengertian “kesamaan” di sini adalah kesamaan dalam hal yang di atas disebut “pesan dasar”. Al-Qur’an menyebutnya dengan kata “washiyah” yaitu – seperti diistilahkan – “ajakan untuk menemukan dasar-dasar kepercayaan” yaitu sikap hidup yang hanif, atau lengkapnya al-hanifiyat al-samhah yang arti literalnya “semangat kebenaran yang toleran,” sebagaimana diungkapkan hadits berikut ini,

Ibn ‘Abbas menuturkan bahwa Nabi Saw., ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanifiyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad).

‘Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Hari ini pastilah kaum Yahudi tahu bahwa dalam agama kita ada kelapangan. Sesungguhnya aku ini diutus dengan semangat kebenaran yang toleran (al-hanifiyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad).

Maka dari itu, jika al-Qur’an – bahkan semua Kitab Suci – merupakan “pesan keagamaan,” maka al-Qur’an bagi seorang  Muslim, adalah pesan-Nya yang terakhir, dan dalam kaitannya dengan pesan-pesan sebelumnya dalam Kitab-kitab Suci masa lalu, al-Qur’an itu dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., yang dalam pandangan teologi Islam sebagai “penutup” (khatam) segala Nabi dan Rasul. Pengertian “penutup” di sini, berkaitan dengan klaim argument Islam sebagai “agama terakhir”.

Dalam al-Qur’an kata “khatam” secara harfiah berarti “cincin,” yaitu cincin pengesah dokumen (seal). Fungsi Nabi Muhammad Saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau, memberi pengesahan kepada kebenaran Kitab-KItab Suci dan ajaran mereka. Al-Qur’an adalah pembenar (mushaddiq), penguji (muhaymin) dan pengoreksi (furqan) atas penyimpangan yang terjadi dari pada para pengikut kitab-kitab itu.

Harus diakui, bahwa kerap-kali umat Islam tidak tahan membaca pandangan al-Qur’an yang secara eksplisit jelas-jelas inklusif, bahkan malah pluralis, yang memberi tempat keselamatan sejajar dengan Islam sendiri. Dari segi iklusifnya, penafsiran terhadap ayat-ayat di atas yang menegaskan titik temu antar-agama menuntut dua hal penting.

Pertama, bahwa para penganut agama, dalam hal ini Yahudi dan Kristiani, harus menjalankan kebenaran yang diberikan Allah pada mereka, melalui Kitab-kitab mereka itu – dan kalau mereka tidak melakukan hal tersebut, maka mereka adalah kafir da zalim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an, s. al-Maidah [5]: 44 dan 47.

Kedua, al-Qur’a jelas mendukung kebenaran dasar Kitab Suci itu, tetapi al-Qur’an juga akan mengujinya dari kemungkinan penyimpangan, termasuk kepada kaum Muslim sendiri atas ajaran-ajaran keislamannya. Karena itulah bagi kaum Muslim, al-Qur’an mengajarkan kontiunitas, dan sekaligus perkembangan dari agama-agama sebelum Islam.

Aspek  kebenaran yang didukung dan dilindungi al-Qur’an ini adalah kebenaran asasi yang menjadi inti semua agama Allah. Al-Qur’an member istilah al-din (ketundukan, kepatuhan, ketaatan) yang mengandung makna tidak hanya hukum agama tertentu, tetapi juga kebenaran-kebenaran spiritual asasi yang tidak berubah-ubah – yang merupakan hakikat primordial manusia. [ ]

Ahmad Nurcholish, Ketua Bidang Pendidikan Kebhinekaan dan Perdamaian ICRP

[:]

praying ilustration. Sumber: lbccolumbus.com

[:id]Memahami Hifz al-Din Sebagai Kebebasan Beragama[:]

[:id]Oleh Ahmad Nurcholish

Tujuan pokok (maqasid al-shari’ah) diberlakukannya sebuah hukum, baik yang berupa perintah maupun larangan, adalah untuk mendapatkan dan menjaga kemaslahatan. Dalam pandangan Abu Ishaq al-Shatibi (w.790 H/1388 M), imam ahlussunnah dari mazhab Maliki yang hidup pada masa Spanyol Islam (Andalusia), meliputi lima prinsip: Hifz al-din, hifz al-nasl, hifz al-‘aql, hifz al-nafs, dan hifz al-mal.

Kelima prinsip tersebut yang kemudian dikenal sebagai al-Kulliyat al-Khams, Panca Prinsip Universal/Hak Asasi Manusia (Human Rights), mencakup lima perlindungan. Kelima perlindungan tersebut meliputi: perlindungan agama (hifz al-dîn);  perlindungan jiwa (hifz al-nafs);  perlindungan keturunan (hifz al-nasl);  perlindungan akal(hifz al-‘aql); dan perlindungan harta (hifz al-mâl).

Dalam tulisan ini saya akan membahas yang pertama lebih dahulu, yakni perlindungan agama (hifz al-din) yang dapat kita maknai sebagai kebebasan dalam beragama dan bermadzhab atau beraliran.

Dalam konteks keindonesiaan, berbicara permasalahan kemanusiaan tidak bisa lepas dari perbincangan mengenai pluralitas agama dan toleransi antar sesama manusia yang hingga saat ini masih menimbulkan persoalan bagi masing-masing pemeluk agama. Sulotnya mendirikan rumah ibadah bagi umat tertentu, perusakan dan bahkan pembakaran terhadap rumah ibadah tersebut salah satu contoh bahwa relasi antarumat beragama di Tanah Air masih menyimpan banyak masalah.

Padahal, al-Quran sendiri sebetulnya sudah memberikan penjelasan secara tekstual mengenai cara yang harus ditunjukkan oleh umat beragama, khususnya umat Islam, untuk menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan orang atau kelompok lain yang berbeda dengan kita.

Tentang pluralitas agama misalnya dapat kta baca pada Qs al-Barah (2): 213, Hud (11): 118, dan Yunus (10): 19. Pun dalam soal pluralitas dalam hukum (agama) seperti yuang terekam dalam Qs al-Maidah (5): 43, 44, 46, 47, 48. Juga penjelasan tentang kebenaran agama-agama yang ada di dunia yang disebut dalam Qs al-Baqarah (2): 62 dan 112, al-Maidah (5): 69, al-Mumtahanan (60): 8 dan Ali-‘Imran (3): 2.

Akan tetapi karena tidak sedikit masyarakat yang membaca dan memahami al-Quran secara tidak lengkap dapat memengaruhi pola pikir serta tindakan sosialnya beragam. Belum lagi dengan banyaknya aliran atau kelompok-kelompok agama tertentu yang menjustifikasi kelompoknya sebagai yang paling benar dengan menyandarkan kepada potongan ayat al-Quran meupun sunnah secara literalis. (Zainuddin Mansyur, 2012: 79).

Ayat-ayat al-Quran yang lazim dijadikan sebagai dalil adalah ayat yang menceritakan tentang eksklusifitas penganut agama-agama Abrahami (Yahudi, Nasrani, Islam). Hal ini dapat kita cermati dalam Qs al-Baqarah (2): 111, 113, dan Ali-‘Imran (3): 19 dan 38.

Sikap semacam itu muncul karena, sebagaimana dikatakan Mansyur, disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat dalam memaknai hifz al-din itu. Meski dalam pemberian maknanya sangat terbuka dengan kondisi zaman yang mengitarinya. Dalam konteks keindonesiaan, maka pembaharuan terhadap makna yang terkandung dalam hifz al-din itu sangat perlu dilakukan. Bahkan sangat mendesak manakala mencermati masyarakat di darah-daerah tertentu dengan mujdah melakukan kekerasan terhadap kelompok lain yang berbeda.

Menurut ulama tradisional bahwa maslahat yang terkandung dalam hifz al-din  selalu dimaknai secara literal tanpa harus melihat konteks yang memiliki peran penting dalam menjaganya. Hal ini wajar ketika dibenturkan dengan kondisi umat islam sebagai minoritas pada saat itu. Lebih wajar lagi ketika al-Quran secara tekstual dalam proses penjagaan terhadap agama dengan memfonis umat Islam mejadi kafir, fasiq, munafiq, jika ia secara sengaja tidak mengunakan hukum Allah dalam menapaki kehidupan sehari-hari.

Contoh lainnya adalah adalah riddah/murtad yang dalam hukum klasik adalah disematkan kepada orang Islam yang pindah ke agama lain selain Islam. Bagi orang murtad dihalakkan darahnya untuk dibunuh. Secara politik agama, hal itu bertujuan untuk memberikan warning kepada pemuluknya agar jangan mudah berpindah agama sekaligus untuk mendukung keabadian agama tersebut. Tujuan pokoknya paling tidak untuk memberi peringatan bagi umat Islam kala itu agar lebih berhati-hati berhubungan dengan agama lain. (Mansyur: 80).

Oleh Abdullah Saeed, direktur Asia Institute di Universitas Melbeourne,  hukum bunuh bagi pelaku murtad justru jauh dari kebenaran dalam konteks kekinian dan kedisinian. Ia menyimpulkan bahwa riddah/murtad yang dihukumi dengan hukum bunuh merupakan pelanggaran berat terhadap nilai kemanusiaan.

Selain itu, seorang yang dihukumi mati gara-gara telah melakukan pemurtadan sama artinya membunuh keluarganya secara tidak langsung. Mengapa demikian? Sebab jika ia dibunuh maka siapakah yang dapat menjamin kehidupan keluarga yang ditinggalkannya yang mungkin selama ini bergantung kebutuhan hidup kepadanya.

Dalam kondisi inilah term hifz al-din harus kita maknai sebagai kebebasan beragama bagi umat manusia sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ini sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 pasal 29 ayat (1) dan (2) dalam konteks Indonesia. Merujuk pada ayat-ayat tersebut setiap pemeluk agama dibebaskan untuk melakukan nilai-nilai keagamaan yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran. Selain itu, masing-masing umat tidak boleh mengganggu, apalagi merusak rumah ibadah penganut agama lain sebagaimana yang masih kerap terjadi belakangan ini.

Dengan demikian, sebagaimana disimpulkan oleh Mansyur (h. 82), memaknai maslahat yang terkandung dalamhifz al-din dengan kebebasan beragama mengindikasikan adanya  semangat pembaharuan terhadap hokum Islam yang humanis dan modernis. Sisi humanisnya masing-masing pemeluk agama dapat saling menghormati, menghargai, toleransi, dan tolong menolong dalam membangun peradaban damai, sejahtera dan bahagia.

Sedangkan sisi modernisnya dapat menjaga persaudaraan dengan kokoh dan lebih mudah mewujudkan nilai kebersamaan dalam menyesusaikan diri dengan dunia global untuk kemajuan masyarakat, sehingga tidak ketinggalan zaman dengan kompleksitas yang terus berubah dan dinamis.

Oleh karena itu, pluralisme yang telah ada di pangkuan masing-masing pemeluk agama di mana mereka bisa bertukar pikiran, saling memahami kekurangan dan kelebihan dalam rangka memicu diri untuk mewujudkan ilia-nilai kesepahaman dalam keanekaragaman budaya, agama, dan lain-lain harus terus dikembangkan.

Hal tersebut patut dilakukan dalam rangka mengeksplorasi apa yang pernah dikemukakan Amin Abdullah, yakni: umat islam perlu kepada pemikiran baru ketika berhadapan dengan orang untuk membangun hubungan yang lebih baik dan arif dalam berbagai hal dengan tujuan kedamaian melalui sabab al-nuzul jadid: “Correlation Interfaith Interaction”, sehingga umat Islam tidak hanya mengenal dunianya sendiri, melainkan mengenal juga orang lain, sehingga terjalin satu kesepahaman, toleransi, persatuan, perdamaian dan al-maslahah al-ammah(kemsalahatan/kepentingan umum) dalam dunia global yang terus bergerak dan syarat pelbagai tantangan.  [ ]

 

Ahmad Nurcholish, penggiat kebebasan beragama dan perdamaian.[:]

[:id]Agama dan Humor[:]

[:id]Oleh: Jaya Dani Mulyanto

Suatu ketika Gus Dur ngobrol santai bersama Romo Mangun  dan Ibu Gedong Bagus Oka, mereka membincang umat siapa yang paling dekat dengan Tuhan.

“Jelas Hindu, yang paling dekat dengan Tuhan. Setiap hari, berkata O(h)m shanti shanti. Hubungan antara paman dan keponakannya,” ujar Ibu Gedong.

“Tidak. Kami umat Kristiani yang paling dekat. Kami berdoa “Bapa kami yang di surga…” Hubungan mana yang lebih dekat daripada antara anak dan bapaknya.”

Melihat Gus Dur diam saja, Romo Mangun dan Ibu Gedong nampak bingung.

“Sebagai umat Islam, tentu juga mengklaim yang paling dekat dengan Tuhan, ya?!”
Mendengar pertanyaan ini, Gus Dur hanya nyengir saja.

“Ha, dekat? Manggil saja pakai toa….”
Penulis tidak tahu apakah percakapan antara ketiga tokoh itu benar-benar terjadi. Namun, kisah itu, beberapa kali penulis dengar. Dan, Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, malam itu – di acara Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah Amor Fati “Menghayati Humor,” menceritakan lagi kisah itu. Walau telah mendengar beberapa kali, penulis tetap terhibur, dan yang paling penting, seperti mendapat sesuatu. Momen “Aha!”

Memang suatu momen itu subjektif dan personal. Relativisme budaya memegang peranan di sini. Apa yang lucu atau bermakna buat seseorang, belum tentu bagi orang yang lain. Dan sebaliknya. Arman Dhani, seorang penulis, yang juga menjadi nara sumber waktu itu, menyampaikan puisi “Celana Ibu” karya Joko Pinurbo. Beberapa orang tergelak, namun beberapa orang terdiam. Mungkin merasa tak pas, atau tak mengerti di mana lucunya. Salah satu kisah (humor) yang paling berkesan bagi penulis, adalah kisah Yesus menonton pertandingan sepak bola antara tim Katolik dan Protestan, yang ditulis oleh Anthony de Mello. Ketika pertama kali membaca kisah itu adalah sewaktu SD, dalam sebuah buku pelajaran agama Katolik untuk SMP. Kisah itu membuat penulis tersenyum (bahkan, hingga saat ini). Tentu saja, respon orang lain sangat mungkin bisa berbeda, bahkan 180 derajat.

Humor sendiri ada berbagai macam. Kalau mencoba mengingat-ingat acara humor yang pernah ada – seperti Ria Jenaka, Warkop DKI, Srimulat, Sentilan Sentilun hingga Stand Up Comedy yang belakangan populer, tentu kita bisa berkata mana yang lebih kita suka, mana yang kurang. Kenyataannya, ada humor yang bisa membuat kita sakit perut, terkekeh-kekeh, merengut hingga merah padam. Setidaknya, ada beberapa penggolongan yang dikenal, misalnya satir, parodi, slapstick, dan lainnya. Apabila dibawa ke ranah agama (dan dialog antar agama), tentu saja responnya juga beragam. Namun, sifat dasar sebuah keyakinan, yang memiliki bagian yang disucikan (sacred) membuat pemakaian humor menemui tantangan tersendiri. Kasus kartun Charlie Hebdo adalah salah satu contohnya.

Lalu, apakah humor harus dihindari dalam dialog antar iman? Menurut penulis, justru sebaliknya. Humor, sebagai suatu seni yang mengolah rasa dan karsa, adalah alat yang paling efektif untuk melompati tembok-tembok pengukung: kepekaan semu dan keasingan – ketakutan terhadap sang liyan. Bahkan, pandangan biner (atau mendekati biner), akan menemukan cakrawala yang lebih lapang, daripada sekedar aku benar vs kamu salah. Memang, apabila lepas keseimbangan, sekeping humor dapat memicu ketegangan, konflik bahkan kekerasan. Namun di sinilah, humor justru seharusnya dimaknai sebagai sebuah peluang yang dapat membawa lompatan spiritual. Ini berarti kesempatan untuk menafsir kembali diri sendiri, mentransformasikan krisis dan menemukan kemanusiaan yang baru. Seorang komika, Sakdiyah Ma’ruf dalam pidato penerimaan penghargaan Václav Havel International Prize for Creative Dissent, mengatakan “Komedi bukan tentang aku, tetapi tentang Anda dan aku, tentang kita. Tentang kita yang merayakan kemanusiaan, mengakui bahwa kita semua adalah manusia, yang memiliki kekurangan. Kita tak memiliki hak untuk merasa bahwa kita yang paling benar.” Kisah Diyah, baik di atas dan di bawah panggung, adalah sebuah contoh lompatan spiritual itu.

Contoh lain, adalah trio Rabbi Ted Falcon, Pastor Don Mackenzie dan Imam Jamal Rahman, yang lebih dikenal dengan Interfaith Amigos. Di balik kerumitan hubungan pemeluk agama Samawi yang telah berlangsung selama berabad-abad, ketiga tokoh ini mencoba menawarkan percakapan yang lebih otentik. Humor, adalah salah satu elemen pentingnya. Kembali ke kisah humor oleh Gus Dur diatas. Apabila dirunut baik secara tekstual maupun kontekstual, kisah itu juga menunjukkan lompatan dari dinding keakuan dan kejumudan, yang ditembus, dibongkar, dan diruntuhkan. Akhirnya, sebuah bangunan baru yang lebih memberi harapan, dibangun.

Humor dalam dialog antar iman, tidak sekedar haha, hehe ataupun hihi. Ia adalah sebuah lompatan spiritual.

Anda memiliki kisah itu?

Penulis adalah pegiat dialog antar iman & budaya[:]