Harian

[:id]Siswa Dipaksa Ikut Pelajaran Islam, Monib: Jangan Jadikan Islam Agama Kolonialistik![:]

[:id]Semarang, ICRP – ZNR, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Semarang, Jawa Tengah, gagal naik kelas karena menolak mengikuti pelajaran agama Islam. Dia menolak paksaan mengikuti pelajaran agama Islam karena dia penganut aliran kepercayaan yang notabene enam agama yang diajarkan kurikulum.

Banyak pihak geram terhadap kejadian tersebut. Salah satunya datang dari direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Mohammad Monib. Monib menyesalkan mendengar kejadian tersebut.

“Berita ini menyedihkan. Miris dan saya berduka. Begitukah tafsir makna Islam yang benar?Begitu bernafsukah ngumpulin pahala?Begitu nyandu masuk surgakah mereka ini?Sadarkah para ‘predator’ keagamaan ini merusak wajah Islam?Apa begitu tafsir dakwah dan tabligh?Benarkah Tuhan bernafsu keimanan manusia?” tegas Monib.

Lanjut Monib, Islam tak ubahnya kaum kolonial yang melakukan penjajah teologi. Hal ini justru akan merusak citra dan ajaran Islam itu sendiri.

“Sebuah sekolah memaksa siswanya masuk Islam supaya naik kelas. Islam dipaksakan. Dijadikan agama predator. Tak ubahnya kaum kolonial. Penjajah teologi. Agama diberingaskan. Seharusnya agama itu mengindahkan,menenteramkan dan mengharmoniskan. Dakwah atau tablig itu sejatinya menyejukkan dan menawarkan bahagia dan suka cita” jabarnya.

Mengajarkan Islam kepada orang lain dengan cara memaksa menurut Monib adalah perbuatan yang sia-sia. Dia mengingatkan, tidak perlu bangga dengan banyaknya jumlah umat Islam, jika perilakunya beringas dan provokatif.

“Jangan jadikan Islam colonialistic theology dong! Jauhkan Islam dari posisi sebagai agama predator!Tak ada untungnya. Tak ada manfaatnya. Untuk apa bangga-banggaan dengan jumlah kalau toh tak lebih dari buih-buih yang tak berguna? Untuk apa bila yang ada saja mampunya bergerombol dan tak lebih dari kerumunan beringas? Untuk apa memuslimkan non-muslim bila ujungnya hanya memproduksi provokator dan agitator kemanusiaan? Ah, kalian itu senangya bergincu dan pepesan kosong saja” kecamnya tegas.[:]

Tags
Show More

Related Articles

5 Comments

  1. Pemerintah secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu (UU No.23 Tahun 2006). Jadi Aliran Kepercayaan bukan termasuk Agama…. Jadi kalau menulis berita jangan ngawur….

  2. Predator keagamaan dan Colonialistic Theology?

    sepertinya itulah yang sanggat dipaksakan, demi untuk melampiaskan dan mengutarakan pendadap yang tidak tepat dari narasumber, diman dalam kasua ini, tentu kalau memaksa orang untuk masuk islam itu salah namun kalau mendakwahkan dan mengajak orang masuk islam tetu ini perbuatan muliya dalam pandangan Islam namun berbeda menurut kaum liberal, lalu kemana suara kaum liberal ketika pemurtadan terjadi di beberapa daerah kenapa kaum liberal seolah buta, tuli dan bisu?

  3. untuk muhammad munib siswa bernama ZNR adalah teman saya, di biodata dia menuliskan islam dikolom agamanya dan juga di KK juga agama islam, jadi wajar jika guru agama islam tidak memberi nilai karena dia tidak mengikuti prosedur yang ada di kurikulum.
    ZNR tidak naik kelas karena mpel pai nya kosong, diprosedur kenaikan kelas, jika satu mata pelajaran tidak diikuti maka kolom nilainya kosong. jadi wajar kalau tidak naik kelas kan?
    saya tegaskan kami hanya mengikuti peraturan yang ada
    untuk muhammad munib allah berfirman “janganlah kamu mempercayai sesuatu apabila kamu tidak mengetahui tentangnya…”

    1. Kalau aliran kepercayaan tidak diakui pemerintah, bisa jadi ini yg menyebabkan orang yg beraliran kepercayaan terpaksa menulis kolom agamanya dengan salah satu agama yg diakui pemerintah.

      Negara seharusnya memberi ruang resmi bagi pemeluk selain 6 yg sudah diakui, agar tidak terjadi diskriminasi. Jangan sampai yg mayoritas ( yg menguasai institusi negara dibidang agama ) menutup mata terhadap realitas keyakinan yg dianut dalam masyarakat.

      1. Setuju sekali, pemahaman mengenai agama dalam sudut pandang setiap orang berbeda beda, jadi sangat mungkin ada yang menganut agama di luar 6 yang diakui, membatasi hanya 6 yang diakui sebenarnya merupakan pemaksaan secara halus. Kolom di dalam KTP pun terpaksa diisi, dan ini juga tergantung agama yg dianut aparat pemerintah (kelurahan, kecamatan) untuk mengarahkan yang bersangkutan, mau pilih agama mana..ckkckckc…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close