Esai

Sirup Orson dan Valium

Oleh: Wida Semito

Jika kita bicara tentang perdamaian atau usaha-usaha yang dilakukan untuk mewujudkan sebuah kondisi damai terutama di daerah konflik bayangan kita yang sudah dikontruksi oleh budaya patriakhi akan mengarahkan pikiran kita bahwa aktor/pelaku perdamaian adalah berkelamin pria, dan memang harus di akui bahkan di meja-meja perundingan perdamaian di tingkat internasional pun yang hadir di sana adalah mengambil sosok atau tokoh laki-laki dan selalu bahkan bisa di bilang hampir tidak ada sosok atau tokoh perempuan yang hadir di meja tersebut, duduk bersama-sama merumuskan jalan damai yang diinginkan kedua belah pihak yang berkonflik.

Perempuan selalu saja diletakkan sebagai actor di belakang layar yang perannya hanya mengurusi persiapan perundingan, komsumsi ataupun administrasi dan semua hal-hal yang berbau feminim, bahkan nyaris nama mereka pun tidak dikenal karena memang tidak pernah diperkenalkan apalagi disebutkan sebagai orang yang turut serta menginisiasi usaha perdamaian itu sendiri.

Dalam kisah Sirup Orson dan Valium dibawah ini adalah sebuah kisah nyata yang saya rangkum dari buku “Perlawan tanpa Kekerasan”, terbitan Centre for Security and Peace Studies Universitas Gajah Mada, Alliance for Self-reliant Peacebuilding dan Quaker International, dikisahkan bagaimana seorang perempuan turut serta dalam usaha mencegah agar konflik tidak terjadi dengan mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri.

Adalah Ibu Ruaedah salah seorang anggota kelompok kerja (Pokja) Deklarasi Malino, konflik di Poso membuat ibu berjilbab yang penuh semangat dan murah senyum ini nekat menjadi agen perdamaian dikarenakan perasaan senasib dan sepenanggungan tanpa membedakan yang Kristen dan Islam, yang sama-sama menderita karena konflik.

Ibu Ruaedah lahir dalam keluarga muslim yang taat sekaligus demokratis, beliau dididik untuk menghargai perbedaan dalam keluarga dan masyarakat. Sejak kecil Ruaedah merasakan hidup bersama satu atap dengan satu keluarga Kristen asal Lore Selatan yang tinggal bersama dengan orang tuanya, keluarga tersebut tinggal bersama keluaga Ruaedah sejak Ruaedah masih di sekolah dasar sampai menjadi sarjana. “So seperti sodara sendiri”, ujar ibu Ruaedah.

Ibu Ruaedah masih mengenang masa-masa indah ketika konflik Poso belum pecah, bagaimana ketika bulan puasa tiba, keluarga Kristen tersebut ikut sahur bersama bahkan terkadang mereka pun ikut berpuasa, pun ketika keluarga Kristen merayakan Natal, maka keluarga Ibu Ruaedah ikut bergembira merayakan natal bersama-sama, tapi semuanya berubah ketika kerusuhan terjadi, keluarga Ruaedah harus berpisah dengan keluarga Kristen ini yang harus pergi mengungsi ke Napu (Lore Utara)

“Mengapa ini harus terjadi?, selama kami serumah, tidak pernah ada konflik, kami begitu rukun. Kami harus berpisah karena ulah setan-setan yang tidak bertanggung jawab. Abah (Ayah) juga ikut sedih, karena ia sendirilah yang mengajarkan pada kami untuk menghargai orang lain tanpa membeda-bedakan. Abah pedangan kopra yang berdagang hingga ke desa-desa Kristen dan beliau selalu di terima dengan baik” ujar Ruaedah.

Tanggal 3 Juni 2000, situasi amat genting, kerusuhan Poso memasuki jilid ke-tiga, ibu Ruaedah begitu khawatir dengan saudara-saudaranya yang Kristen, karena kota Poso sudah di kuasai oleh komunitas muslim. Ibu Ruaedah bahkan sempat menancapkan bendera putih di depan rumah pendeta Bagau sebagai penanda bahwa rumah tersebut tidak boleh di bakar, bahkan ibu Ruaedah juga berpesan kepada orang-orang yang melintas di depan rumah pendeta tersebut agar tidak menggangu rumah itu karena rumah itu adalah milik saudaranya. Ibu ruaedah juga berinisiatif mencari tokoh-tokoh Kristend an tokoh adat yang masih bisa diajak bicara dan di dengar suaranya, tapi usahanya sia-sia, karena para tokoh yang dia cari semua sudah tidak ada lagi di kota Poso, dan ibu Ruaedah merasa putus asa karena usahanya untuk mengumpulkan para tokoh yang suaranya masih bisa di dengar oleh masyarakat gagal sudah.

Tetapi ibu Ruaedah pantang surut semangatnya untuk meredam konflik dan menghentikan pertikaian, sebagai seorang kepala sekolah, beliau bertanggung jawab untuk mengosongkan sekolah selama ketegangan masih terjadi dan ketika situasi semakin memanas, seorang ibu dari pengajian mendatangi ibu Ruaedah dan mengatakan bahwa pemuda-pemuda muslim yang bertahan menjaga Poso sudah tidak mau mundur, bahkan akan menyerang walau harus berhadapan dengan aparat yang sudah siaga.

Ibu Ruaedah berpikir keras apa yang harus dilakukan dalam situasi yang tegang seperti ini, beliau lalu meminta ibu itu untuk pergi ke rumah sakit mencari dokter Ori dan meminta valium dalam dosis yang akan menidurkan dalam waktu cukup lama,  ibu ruaedah sendiri segera membeli sirup orson dan es batu, kemudian mencampurkan valium tersebut kedalam orson dan minuman itu disajikan kepada para pemuda yang hendak melakukan penyerangan.

Karena siang itu matahari sangat terik, para pemuda tersebut segera meminum sirup orson yang disajikan ibu Ruaedah dan akhirnya merekapun tertidur, saat itulah para pemuda ini di angkut oleh keluarga mereka ke rumah masing-masing.

“Apapun akan saya lakukan agar tidak terjadi pertikaian terbuka, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab telah mengadu domba umat beragama. Hal itu tidak membuat saya putus asa hingga akhirnya saya menjadi agen perdamaian tergabung di pokja, kami memediasi pihak-pihak yang berkonflik, mengajak mereka untuk merawat rekonsiliasi dan perdamaian yang mulai terbangun di antara kita. Prinsip saya, kebenaran pasti yang akan menang!” ujar Ruaedah dengan pasti. []

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close