Siapa ‘Sesama Manusia’ ?

Memang ajaran toleransi yang ada di dalam Alkitab, berbeda dengan konteks yang ada di Indonesia. Karena di Indonesia berbicara toleransi agama, itu berarti hidup rukun dan damai. Agama-agama yang ada di Indonesia seperti agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Khonghucu dan aliran-aliran kepercayaan. Dalam kehidupan Yesus di dunia tidak pernah secara eksplisit dimana Ia bertemu dan berinteraksi dengan pemeluk-pemeluk agama besar yang ada seperti yang berkembang di Indonesia, dikarenakan perbedaan waktu dan letak geografis, tidak memungkinkan Yesus berinteraksi dengan para pemeluk agama yang lain seperti yang di Indonesia. Tetapi walaupun demikian, selama Yesus hidup di dunia bukan berarti Yesus tidak memberikan nilai-nilai kehidupan yang mengandung nilai toleransi.

Yesus mengajarkan tentang bagaimana  kita harus mengasihi sesama manusia, itu tertulis dalam Matius 22 : 39 : “Dan Hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus tidak mengatakan kasihilah hanya sebangsamu atau sesama kepercayaanmu, tetapi Yesus berkata, sesama manusia. Ini berarti seluruh manusia entah itu lintas agama, suku, budaya Yesus menuntut kita mengasihi semua manusia.

Yesus bukan hanya sekedar mengajarkan atau ‘omong doang’, tetapi Yesus meneladani apa yang diajarkan mengenai mengasihi sesama. Dalam Alkitab mencatat bagaimana Yesus mengasihi sekelompok orang yang rentan didiskriminasi.

Orang Yahudi tidak suka bergaul dengan orang Samaria, dikarenakan ada beberapa ajaran yang bagi orang Yahudi itu bertenangan dengan orang Samaria entah itu dalam hal  adat istiadat atau keyakinan, dan Yesus adalah orang keturunan Yahudi tidak melakukan itu terhadap orang Samaria. Yesus melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh orang Yahudi lainnya, yaitu meminta minum dari perempuan Samaria. Ini menunjukan bahwa Yesus menghargai keberadaan orang Samaria. Yesus menunjukan sifat toleran walaupun Dia tau orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Hal lain juga ditunjukan Yesus terhadap para pemungut cukai. Mereka adalah golongan-golongan orang yang dijauhi oleh orang Yahudi karena mereka dicap sebagai pengkhianat bangsa. Para pemungut cukai adalah orang-orang yang bekerja sama dengan pemerintahan Romawi yang pada saat itu menjajah bangsa Yahudi dengan tugas megumpulkan pajak.

Ada satu cerita dimana, seorang pemungut cukai yang bernama Zakheus ingin sekali melihat Yesus sehingga Zakheus harus memanjat pohon untuk melihat Yesus. Mengetahui hal itu Yesus yang seharusnya menjauhi orang seperti itu karena orang Yahudi menjauhi para pemungut cukai.Ttetapi Yesus menyuruh dia turun dan menginap di rumahnya,  ini adalah salah satu bentuk kasih Yesus terhadap manusia ciptaan-Nya bahwa Yesus mengasihi semua manusia.

Yesus memberi nilai-nilai toleransi dan mewujudnyatakan hal-hal tersebut. Memang benar bahwa setiap agama pasti mempunyai ajaran esensial yang bertentangan satu dengan yang lain,  contohnya dalam agama Islam dan Kristen. Islam mengajarkan bahwa yang disalibkan bukan Yesus tetapi yang diserupakan dengan Dia (Qs. An-Nisa: 157), sebaliknya kekristenan percaya bahwa Yesus yang disalibkan (Matius 27). Tentu ini adalah ajaran esensial yang bertentangan antara agama Islam dan Kristen tetapi bukan berarti, ini menyentuh dalam hal kemanusiaan sehingga terjadi hal-hal diskriminatif.

Sama seperti Yesus yang mencintai seluruh manusia walaupun manusia menyalibkan Dia. begitu juga kita meneladani apa yang Yesus lakukan yaitu mencintai semua orang walaupun berbeda keyakinan. Karena semua manusia adalah ciptaan Tuhan.

Penulis: Kevin Samuel Kamagi, S.Th

Sumber ilustrasi: https://renunganhariankatolik.video.blog/2018/10/09/siapakah-sesama-manusia/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.