Serasa Melihat Wajah Allah!

Oleh Albertus Patty

Bible Study Senior GMKI pagi ini (20 Januari 2021) mendiskusikan topik ‘Yakub Berbaik Kembali dengan Esau” (Kejadian 33:1-20). Seperti biasa, berbagai refleksi berdasarkan pengamatan dan pengalaman menarik terungkap. Spiritualitas pun diperkaya! Dan terutama kami merasakan pengalaman spiritual Yakub “Serasa melihat wajah Allah.”

Pesan kisah itu jelas. Inisiatif perdamaian dan rekonsiliasi dari Yakub ternyata disambut positif oleh Esau. Yakub mohon dimaafkan. Esau bersedia memaafkan. Yakub tidak menduga kebaikan Esau. Surprise besar! Keduanya bertemu, lalu berpelukan. Merekat! Tidak ada jarak! Saat itu Yakub berkata: ” Melihat mukamu serasa melihat wajah Allah.” Ya, wajah Allah yang penuh rahmat dan cinta. Wajah Sang pengampun pemberi keadilan! Belenggu dendam dan konflik masa lalu berhasil dilepaskan. Yakub, sang penindas dan penipu, serta Esau, korban yang ditindas dan yang ditipu sama-sama mengalami pembebasan. Merdeka!

Konflik dan perpecahan ada dimana-mana. Melibatkan siapa saja. Konflik bagaikan pandemi yang menghancurkan relasi di dalam keluarga, antar dan intra agama, antar etnik, antar kelas sosial dan antar ideologi dan kelompok politik. Yang lain dianggap sebagai musuh yang mengancam eksistensinya. Musuh harus ditindas, didiskriminasi, dilemahkan, dan bahkan bila perlu dibinasakan. Yang celaka, sering konflik diwariskan turun temurun kepada generasi berikutnya. Lebih celaka lagi, konflik dan permusuhan itu dijustifikasi oleh ayat-ayat suci!

Gaus Ahmad pernah bercerita bagaimana seorang Nurcholis Madjid sempat menjadi pembenci umat lain karena dirinya tertawan oleh kisah konflik Perang Salib. Harry Tjan Silalahi menolongnya. Lalu, Nurcholis Madjid mampu melihat sejarah dari perspektif lain. Dia pun melepaskan belenggu masa lalu. Dia mengalami pembebasan. Ia bahkan menjadi tokoh pembebas, penabur benih cinta dan persaudaraan lintas agama. Siapa pun yang pernah menjumpainya atau paling tidak membaca tulisan-tulisannya serasa melihat wajah Allah yang penuh rahmat.

Mereka yang berkonflik menciptakan stereotype dan labelisasi terhadap lawannya. Dalam dunia politik ada istilah Cebong Vs Kampret. Dalam dunia agama, sang liyan dilabel: kegelapan, anak setan, sesat, kafir, pengikut iblis, dan sebagainya. Label yang menciptakan dikotomi! Proyek sorga menciptakan kepongahan rohani yang mengikis kemanusiaan. Agama pun bergeser fungsi. Bukan lagi pembawa rahmat, tetapi menjadi pencipta diskriminasi, ketidakadilan, penindasan, konflik dan permusuhan.

Politik segeregasi yang merendahkan kaum kulit hitam di Afrika Selatan bertahan ratusan tahun karena justifikasi agama. Menariknya, perjuangan keras melawan politik segregasi yang diskriminatif itu mendapatkan inspirasi daari agama. Politik agama yang menciptakan segregasi dan konflik pun dipraktekkan dimana-mana: di India, Burma, Amerika Serikat dan bahkan di Indonesia. Rakyat yang lugu menjadi korban! Tanggungjawab kita untuk mengubah agama yang sering digunakan sebagai instrumen kekuasaan dan penindasan menjadi inspirasi keadilan dan kemanusiaan.

Sesungguhnya agama adalah inspirasi keadilan dan kemanusiaan, kata Gus Dur. Dan ini bukan sekedar kalimat verbal tetapi harus menjadi aksi nyata. Fatwa NU pada bulan Maret 2019 di kota Banjar adalah aksi nyata. Fatwa ini melarang umat Islam menyebut kaum non-Muslim sebagai ‘Kafir.’ Ini adalah terobosan teologis dahsyat yang sama nilainya dengan Konsili vatikan II. Fatwa ini mengubah relasi antar sesama: dari vertikal menjadi horizontal. Egaliter! Sarat dengan keadilan dan kemanusiaan! Pesannya jelas: perdamaian dan rekonsiliasi dimulai dari kesediaan mengakui dan menghormati keberadaan orang atau kelompok lain! Musuh berubah menjadi saudara! Pergeseran relasi seperti ini yang dialami Esau dan Yakub! Serasa melihat wajah Allah dalam fatwa NU ini!

Di tengah maraknya potensi konflik dan perpecahan antar etnik, antar dan intra agama, serta antar ideologi dan kelompok politik, kita terpanggil membawa pesan cinta, keadilan dan perdamaian di tengah bangsa ini. Kadang kita berfungsi seperti Esau yang mampu menerima dan memaafkan. Kadang kita berfungsi seperti Yakub yang berinisiatif melakukan gerak perdamaian dan rekonsiliasi. Kedua peran itu dibutuhkan bangsa kita kini. Dalam kedua peran itu siapa pun akan merasakan pengalaman spiritual Yakub: “Serasa melihat wajah Allah.” Ya wajah Allah yang penuh rahmat!

Pecah Kopi,
20 Jan 2021

Sumber ilustrasi: https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2203-agama-menjadi-inspirasi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.