Harian

Sekolah Agama ICRP: Ziarah Peradaban Peter Owen-Jones

 

Peter Owen Jones

Indonesian Conference on Religions and Peace, atau biasa disingkat dengan ICRP kembali menggelar Sekolah Agama. Sebuah hajatan rutin untuk membuka ruang diskusi yang dialogis untuk membincangkan mengenai agama-agama dan kemanusiaan  yang terkait di dalamnya. Seperti halnya dengan dua pertemuan sebelumnya yang mendiskusikan mengenai film dokumenter, maka Sekolah Agama (29/06/2012), juga mendiskusikan film karya dari seorang pendeta yang bernama Peter Owen-Jones. Film itu berjudul “Around the World in 80 Faiths”. Film yang telah diproduksi oleh BBC ini mengisahkan seorang Peter Owen Jones, yang merupakan pendeta dari gereja Anglikan, yang ‘berani’ melakukan kunjungan langsung ke berbagai komunitas lintas agama di berbagai belahan dunia.

Berani

Di dalam film itu, Pendeta Peter Owen-Jones memperlihatkan bagaimana dirinya sebagai rohaniawan Kristen, berani melakukan perjalanan spiritual ke berbagai penjuru dunia, dengan berusaha mempelajari agama-agama lain, pada setiap tempat yang telah di kunjungi tersebut. ‘Keberanian’ pendeta yang kerap kali mengenakan kopi koboy ini, turut diapresiasi juga oleh Nelman A. Weny,”Menurut saya apa yang telah dilakukan oleh pastor Owen-Jones adalah sebuah perjalanan spiritual yang memasuki kawasan yang penuh makna. Anglikan itu adalah semi Katolik yang berasal dari monarki Inggris (baca:tradisi). Segala sesuatu di dalam gereja di atur oleh ratu Elizabeth, termasuk acara pernikahan kegerejaan juga di atur oleh pihak kerajaan. Tetapi ketika Pendeta Owen-Jones melakukan perjalanan spiritual, maka dari perspektif gereja Anglikan, sebenarnya ini sebuah perjalanan yang penuh resiko.“

Nelman A. Weny, MTh adalah seorang pendeta, yang saat ini sedang studi doktoral di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STT Jakarta). Menurut Nelman, sangatlah jarang, seorang yang berasal dari denominasi gereja tersebut, yang mau melakukan kunjungan seperti ini. Pendeta dari Gereja Injili Masehi Timur Kupang ini sengaja di daulat menjadi narasumber untuk acara Sekolah Agama, yang akan mencoba membahas:  Seberapa jauh peran agama Kristen dalam menjalankan misi serta melestarikan agama-agama lain yang ada? Termasuk dalam perspektif atau sudut pandang Iman/ teologi Kristiani, manakah bentuk dialog yang harus di dahulukan, antara dialog Iman (spiritual), dialog teologis dan dialog kemanusiaan? Pertanyaan ini menjadi kerangka besar dalam diskusi tersebut. Sekolah Agama kali ini juga dimoderatori oleh Melny Nova Katuuk, mahasiswa STT Jakarta yang sedang magang di ICRP untuk mendalami studi mengenai pluralisme.

Nelman menambahkan tanggapannya,”Oleh karena itu saya juga melihat bahwa apa yang telah dilakukan oleh pendeta Owen-Jones merupakan tamparan dan kritikan kepada misi yang dijalankan oleh kekristenan. Kenapa disebut sebagai tamparan? Karena dalam sejarah perkembangan kekristenan sendiri masih ada dua kubu dari misionaris yang menerima dan menolak budaya lokal.“

Bissu

Perjalanan spiritual dari Pendeta Peter Owen-Jones ini sangat menarik, karena agama-agama yang dikunjungi, tak sebatas hanya agama-agama yang telah terlembagakan tetapi juga agama-agama lokal atau agama-agama suku yang belum terlembagakan, yangs selama ini cenderung masih dipandang sebelah mata oleh kalangan masyarakat modern. Di dalam film dokumenter tersebut, pendeta Owen juga mengunjungi dua komunitas agama yang terdapat di Indonesia, yaitu komunitas Bissu di Makassar dan Kristen di Toraja. Pendeta Anglikan ini melihat secara langsung seorang Bissu tengah menari dan menusuk-nusukan sebilah pedang panjang di lehernya. Namun Bissu itu tidak sedikit pun menderita luka, sesayat pun.

Di Toraja, dia menghadiri tradisi dan upacara pemakaman khas Toraja. Dalam acara tersebut, seorang pendeta perempuan memimpin ibadah pemakaman, setelahnya upacara pemakaman dilakukan dengan menggunakan tradisi lokal setempat. Peti makam berbondong-bondong dibawa oleh orang banyak menuju ke lokasi peristirahatan terakhir, yang lokasinya dekat dengan bukit. Jenazah diantar oleh ratusan orang-orang yang menggunakan dua mobil truk. Saat jenazah dibopong, seakan-akan terdapat sebuah kekuatan yang berlawan dari daya manusia. Peti jenazah tersebut serasa bergerak maju mundur melawan dari orang-orang yang menggotongnya. Di akhir upacara, jenazah yang berbalut kafan putih tersebut dimasukan ke dalam rumah pemakaman, bukan kuburan seperti yang lazim kita ketahui, melainkan sebuah ruangan yang didalamnya sudah terdapat dua jenazah yang lainnya. Selesailah ritual tersebut dan terlihat banyak tanduk kerbau yang bertebaran di sekitar lahan upacara. Peter Owen-Jones, hari di acara tersebut, dan mengikuti detik per detik ritual tersebut tanpa merasa terganggu nalar dan imannya. Mengenai upacara pemakaman di tanah Toraja ini, yang membuka kembali diskusi apa itu agama dan budaya. Termasuk apakah seseorang yang telah beragama masih bisa menjalankan tradisi lokal dari ibadahnya. Diskusi menjadi hangat.

Selain ke Makassar dan Toraja, Owen-Jones, juga mengikuti tradisi Katolik di Filipina, Catholic Carafao. Festival yang berlangsung di Manila ini membuat semua warga kota memenuhi jalan-jalan utama. Seorang ibu yang mengikuti festival tersebut mengatakan setelah mengikuti tradisi ini, dia mendapatkan anugerah anak kembar. Demikian juga dengan ritual upacara-upacara yang lainnya. Setiap mengikuti ritual acara yang berbeda tersebut, pendeta Anglikan ini selalu memberikan komentaranya, dan hampir dari setiap komentarnya jauh dari sifat memberikan penilaian. Ya, Owen-Jones nyaris tidak membanding-bandingkan ritual yang satu dengan yang lain, dia berupaya bersikap semurni dan se-obyektif mungkin. Namun benarkah dia tidak memberikan penilaian sedikit pun?

 Yohanes Pembaptis

Ada dua chapter di film dokumenter ini yang memperlihatkan, biar bagaimana pun pendeta Anglikan tersebut sedikit banyak merasa “terganggu”. Setidaknya hal ini terdapat di chapter Urban Whitcraft.  Di film ini Owen Jones mengikuti sebuah upacara yang dilakukan oleh komunitas di perkotaan. Salah satu ritual yang mereka lakukan adalah: semua jemaat, baik lelaki maupun perempuan tidak mengenakan kain sehelai pun. Mereka semua sambil berpegangan tangan membentuk sebuah lingkaran dan mengelilingi pusara api yang terdapat di tengah-tengah. Pemimpin ibadahnya adalah seorang mengenakan jubah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari nada suaranya, diketahui bila pemimpin ibadahnya seorang perempuan. Owen-Jones mengikuti jemaat yang memutari api tersebut. Awalnya dia ragu namun tetap upacara tersebut dilakukannya.

Pada chapter film The Iraqi Mandeans, Owen-Jones menghadiri komunitas Irak yang beragama Mandean di Sidney, Australia. Mandean adalah agama yang titik sentralnya berfokus kepada Yohanes Pembaptis. Bila di dalam agama Kristen, seorang Yohanes Pembaptis adalah seorang yang merendahkan diri dan hanyalah sebagai oknum yang membaptis Yesus. Namun dalam agama Mandean ini, Yohanes Pembaptis adalah sosok yang paling sentral melebihi yang lain. Bila kita mengandai-andaikan, bisa saja Yesus dalam agama Mandean ini adalah salah seorang karya pemuridan Yohanes Pembaptis yang paling berhasil. Dalam film ini komunitas agama Mandean, yang semuanya berjubah putih-putih, laki-laki dan perempuan, sedang melakukan ritual pembaptisan di sungai. Seorang pemimpin ibadah membawa jamaahnya satu-persatu memasuki sungai dan membenamkan kepala jemaatnya tersebut ke dalam sungai.

Apa yang dilakukan Owen-Jones melihat ritual yang dilakukan oleh komunitas Mandean ini? Ternyata sangatlah berbeda terutama dengan ritual agama-agama yang lain. Di komunitas Bissu-Makassar, beliau mengikuti tarian dari komunitas tersebut, bahkan saat di ritual ‘urban whitcraft’ , dia juga bertelanjang diri dan ikut mengelilingi api tersebut. Meski terlihat tidak nyaman dengan ritual tersebut namun dia tetap melakukannya. Pengecualian besar terlihat saat ritual baptis selam oleh komunitas Madean. Terlihat sekali dia ‘terpaku’ dan hanya melihat ritual ini dari kejauhan. Owen-Jones hanya terlihat di sekitar pohon yang jaraknya cukup jauh dari sungai tersebut. Owen-Jones sangat ‘berjarak’ dengan upacara baptis oleh komunitas Madean ini. Dari sanalah kita mengetahui ada sebuah penilaian yang membuat semuanya menjadi ‘berjarak’. Dalam kasus Owen-Jones ini, ajaran-ajaran agama Kekristenan dan Mandean tersebut yang memiliki sistem nilai yang berbeda, baik dari sosok sentralnya maupun doktrin baptisan itu sendiri.

Tapi itu wajar saja karena agama memang sebuah sistem nilai, dan agama yang satu memiliki sistem nilai yang saling berbeda dengan lainnya. Dari Peter Owen-Jones, kita bisa belajar bagaimana mengapresiasikan perbedaan, merayakan toleransi dan termasuk melakukan ziarah peradaban. Saat kita masuk ke dalam sebuah agama, sesungguhnya kita masuk ke dalam kawasan yang penuh makna, dan merelakan diri kita dimaknai oleh agama itu.*) Chris Poerba

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close