Agenda

Sekolah Agama ICRP: Rekam Jejak Syiah di Indonesia (14 September 2012)

 

Latar Belakang

 

Perkembangan peradaban manusia merupakan implikasi dari semakin berkembangnya cara berpikir manusia. Manusia menjadi semakin mudah untuk saling berhubungan meskipun dipisahkan dengan jarak yang jauh. Media dan sarana mempermudah manusia untuk mengakses informasi, berita, dan segala peristiwa yang terjadi di dunia. Paham, ideologi, maupun pemikiran dapat menjalar dari satu negara ke negara yang lain. Sehingga terjadinya perubahan terhadap peradaban tidak dapat dihindari, termasuk dikenalnya mazhab-mazhab keyakinan agama yang baru di suatu tempat. Namun terkadang beberapa pemimpin dari keyakinan yang sudah lama berkembang terlebih dahulu, merasa tidak nyaman dengan adanya perubahan, karena mengusik kenyamanan yang telah dimilikinya.

Peristiwa Syiah di Sampang merupakan kejadian yang masih hangat dalam ingatan. Kejadian tersebut membukakan mata kita bagaimana mudahnya kaum minoritas dirampas dan dilangar hak-hak kemanusiaannya. Persoalan Syiah di Sampang tidak semata persoalan mayoritas dan minoritas, tidak juga sebatas persoalan mazhab dan agama. Melainkan sebuah persoalan besar atas tragedi kebangsaan kita dewasa ini.

Kedatangan Syiah ke Indonesia tidak diketahui secara persis. Namun bisa dipastikan eksistensinya di nusantara bukan “anak baru” lagi. Diperkirakan pada abad ke-8 orang Hadramaut dari Arab yang datang berdakwah di Aceh adalah orang Syiah. Kedatangan Syiah di Nusantara ini yang berlangsung sejak lama ini telah menimbulkan hubungan-hubungan harmonis dengan masyarakat. Salah satunya dapat dijumpai dari tradisi Tabot di Bengkulu (Tempo).

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, termasuk di dalam Syiah itu sendiri. Mengutip buku Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? yang ditulis M. Quraish Shihab, cetakan kedua, April 2007, terdapat empat kelompok yang ada di dalam tubuh Syiah, yaitu: Syiah Ghulat, Syiah Ismailiyah, Syiah Az-Zaidiyah, dan Syiah Istna Asyariah (Kamis, 30 Agustus 2012. TEMPO.CO, Jakarta). Dari masing-masing kelompok Syiah juga masih terbagi ke dalam beberapa kelompok dan memberikan bukti bahwa keberagaman di Syiah sendiri tidak dapat dihindari.

Syiah di dalam negeri sebelumnya telah menunjukkan eksistensi dan keharmonisannya. Hal tersebut ditandai dengan diterimanya organisasi Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di nusantara. Namun situasi belakangan ini menunjukkan situasi yang sangat mencengangkan. Konflik membara terjadi di Sampang Madura dengan korban masyarakat Syiah setempat. Bagaimana menggambarkan kejadian ini memang membutuhkan investigasi yang serius.

Memang ada benarnya bahwa konflik Sunni-Syiah telah terjadi sejak lama di berbagai negara. Namun yang terpenting, apapun persoalannya, segala bentuk tindakan kekerasan dan diskriminasi harus dihilangkan di bumi nusantara. Perbedaan dalam hal kepercayaan, keagamaan, dan peribadatan tidak seharusnya dijadikan pemicu tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Melihat gambaran diatas, Komunitas Sekolah Agama Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bermaksud untuk mendiskusikan lebih lanjut rekam jejak Syiah di Indonesia sebagai sebuah upaya untuk memahami bersama kondisi hubungan keberagama agama. Serta meningkatkan kesadaran bersama dalam membangun sebuah konsepsi beragama yang lebih toleran dan harmonis.

 

Nama Kegiatan

Kegiatan ini diberi nama Sekolah Agama dan dalam kesempatan kali ini mengambil tema “Rekam Jejak Syiah di Indonesia”. Kegiatan Sekolah Agama ini merupakan pertemuan rutin dua mingguan stakeholders ICRP yang mayoritas adalah kalangan muda lintas agama. Forum diskusi ini diarahkan untuk menciptakan kader-kader peduli pluralisme dan memiliki pengetahuan dan sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan yang ada untuk kemudian mengelolanya menjadi kekayaan yang berorientasi pada integrasi bangsa dan bangunan pluralisme yang kokoh. Program ini diharapkan menjadi forum penguatan wacana sekaligus penguatan jaringan antar iman. Forumnya sendiri di desain semi-formal dan mengkondisikan setiap peserta untuk berpartisipasi aktif secara bebas.

 

Tujuan

  1. Mengenal Islam Syiah Indonesia.
  2. Mempelajari aliran-aliran dalam Islam Syiah.
  3. Melihat hubungan Islam Syiah di Indonesia dengan Syiah di luar negeri.
  4. Mempelajari perbedaan lslam Syiah dengan Islam yang lain di Indonesia.
  5. Melihat dan mempelajari latar belakang konflik Syiah di Indonesia.

 

Waktu dan Tempat

Adapun waktu pelaksanaan acara akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal      : Jum’at, 14 September 2012

Narasumber     : Muhsin Labib

Waktu                : 18.30 – 21.00 WIB

Tempat               : Ruang diskusi ICRP

Jalan Cempaka Putih Barat XXI No. 34 jakarta Pusat.

 

Pertanyaan-pertanyaan penting

  1. Bagaimana sejarah masuknya Syiah di Indonesia?
  2. Bagaimana munculnya aliran-aliran di dalam Syiah?
  3. Bagaimana hubungan Syiah Indonesia dengan Syiah di luar negeri?
  4. Apa perbedaan yang mendasar Syiah dengan Islam lain seperti Nahdatul Ulama, Muhamadiyah dan bagimana hubungan Syiah dengan kedua lembaga tersebut?
  5. Apa latar belakang konflik Syiah di Idonesia?

 

Penutup

Demikianlah Term of Reference (TOR) ini kami susun, semoga dapat menjadi titik tolak bersama untuk mendalami dan membahas masalah yang kita hadapi sehingga kita semua dapat membangun kesepahaman dengan lebih baik.

 

Silahkan datang mari kita berdiskusi. Salam

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close