Harian

[:id]Said Aqil : Wahabi Bukan Teroris, Tapi…[:]

[:id]JAKARTA, ICRP – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siraadj menolak adanya pernyataan para pengikut Wahabisme sebagai pelaku teroris. Namun, Ia juga menyangkal ketidakberadaan hubungan antara Wahabisme dan terorisme.

“Ajaran Wahabi itu sedikit lagi menjadi teroris. Tinggal tunggu kesempatan saja menjadi teroris,” ujar Said Aqil dalam sambutannya di acara Seminar Kebebasan Beragama, Gerakan Takfir dan Deradikalisme di lantai 8 gedung PBNU, Senin (22/2).

Ulama yang dikenal humoris ini mencontohkan sejumlah serangan terorisme yang dilakukan oleh santri-santri lulusan pesantren Wahabi. Dalam penuturannya, Said Aqil menyebutkan beberapa pengeboman Gereja dilakukan alumni pesantren-pesantren Wahabi.

Said Aqil meyakini terorisme bukanlah gagasan yang berasal dari Indonesia. Dalam pengamatannya, Said Aqil menjelaskan bahwa ulama-ulama nusantara tidak seperti ulama-ulama di Timur Tengah. “Di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis dan nasionalis yang ulama. Di Indonesia para ulama ya nasionalis,” tuturnya.

Nasionalisme para ulama di Nusantara, kata Said Aqil, tidak berasal dari para filsuf Barat seperti Ernest Renan. Kecintaan pada tanah air dilandasi atas rasa keimanan. “Ini bukan hadits ya, tapi dari Mbah Hasyim Asy’ari. Mencintai tanah air bagian dari iman. Itu Fardhu Ain kata Mbah Hasyim,” tegasnya.

Karena itu, Said Aqil melihat tidak ada alasan muslim di Indonesia tidak mencintai tanah airnya. Secara kelembagaan cinta tanah air bagi muslim di Nusantara bahkan ditegaskan oleh NU pada tahun 1984. “Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi NU sudah final dan dipertegas oleh Gus Dur pada Muktamar NU tahun 1984,” kata Said Aqil.

Fenomena ‘ulama nasionalis’ ini tidak terjadi di Timur Tengah. Ia menuturkan di jazirah Arab ulama dan nasionalis berada pada kutub yang berseberangan. Sehingga tidak mengherankan, kata Said Aqil, di Timur Tengah tidak akan dijumpai sosok sekelas Hasyim Asyari yang mempromosikan nasionalisme.

Said Aqil tidak memberikan data palsu. Dalam acara yang diinisiasi oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SeJuK) dan International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Ia menyebutkan sejumlah ulama di Timur Tengah yang menolak konsep nasionalisme. Sosok-sosok ulama itu yang Ia sebutkan siang itu di antaranya Hassan Al Bana dan Sayyid Qutb.

“Pada dasarnya Islam Timur Tengah tidak cocok di Indonesia,” tegasnya.[:]

Show More

Related Articles

One Comment

  1. Sungguh tulisan ini adalah gambaran dan lingkup pemikiran yang dianut dan dijalankan oleh KH Said Aqil dan pandangannya khususnya dengan lontaran dia terkait dengan proyek Islam nusantaranya maka dengan ini untuk mendukung ini dubutuhkan adanya isu pembanding khususnya ketika ada isu islam nusantara maka ada islam arab dan islam timur tenggah, jadi dengan demikian ada dikotomi antara ini islam nusantara dan arab tentu ini sepertinya yang diharapkan dari statemen ini padahal dalam islam sebagaimana kita ketahui tidak ada dikotomi islam demikian karena islam hanya ada satu yaitu islam saja tampa ada embel-embel lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close