Opini

Relasi Kristen-Islam: Menyelesaikan PR Bersama!

Oleh Pdt. Albertus Patty

Pada Senin malam, 4 Februari 2019, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar, Sheikh Ahmed Al Tayeb melakukan langkah yang sangat bersejarah. Mereka menandatangani “Human Fraternity Document” atau Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan di Founder’s Memorital di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Penandatanganan dokumen ini menjadi momen bersejarah bagi  Al Azhar dan Vatikan, tetapi terutama bagi perbaikan hubungan antara umat Kristen dan umat Islam.  Paus Franciscus dan Sheikh Ahmed Al Tayeb  menjadi tokoh pertama yang mendapatkan penghargaan “Human Fraternity Award.”

Dokumen ini penting karena isinya mendukung perdamaian, persaudaraan sesama manusia dan menolong orang miskin dan yang paling membutuhkan.

Terkait hubungan Kristen dan Islam, dokumen ini bertujuan meningkatkan nilai toleransi dan koeksistensi di antara umat manusia, serta melawan kecenderungan ektrimisme agama. Melalui dokumen ini diharapkan ketegangan dan konflik bisa dihentikan, dan diganti dengan dialog dan kerjasama positif yang menghadirkan kebaikan bagi semua.

Penandatangan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan adalah upaya menyelesaikan pekerjaan rumah (PR)  bersama yang sudah lama terabaikan. Dalam sejarah, kekristenan mengalami empat konflik besar. Pertama, konflik dengan umat Yahudi. Kedua, konflik internal yang mengakibatkan gereja terpecah menjadi gereja Barat dan gereja Timur. Ketiga, konflik antara Kristen dan Islam, dan terakhir perpecahan internal Kristen antara Katolik dan Protestan. Tiga konflik berhasil diselesaikan yaitu konflik dengan umat Yahudi, perpecahan gereja Barat dan gereja Timur, serta antara Katolik dan Protestan. Kini, konflik berubah menjadi persaudaraan.

Satu-satunya PR yang masih harus diperbaiki adalah hubungan Kristen dan Islam. Jumlah umat Kristen di dunia ini 2,4 milyar orang, umat Islam 1,8 milyar. Jadi, perdamaian Kristen dan Islam akan memberi dampak positif bagi kebaikan dunia.

Menurut Ibn Ishaq, seperti yang dituturkan oleh Hugh Goddard, sejak awal kemunculannya, Islam mengalami perjumpaan yang baik dan harmonis dengan kekristenan. Perjumpaan pertama terjadi pada masa pra-Islam. Saat itu Muhammad yang berusia 12 tahun dan pamannya, Abu Thalib berjumpa dengan Bahira, seorang pertapa Kristen di Suriah. Bahira melihat kelebihan yang ada pada diri Muhammad. Perjumpaan lain adalah antara Muhammad dengan Waraqah, seorang Kristen yang juga adalah sepupu Khadijah, istri Muhammad. Waraqah inilah yang meramalkan bahwa Muhammad akan menjadi seorang nabi.  Pertemuan ketiga terjadi saat Muhammad mendapatkan ancaman dari penguasa Mekkah. Muhammad mendapatkan perlindungan dari Najasi, Raja Abissinia yang Kristen. Pertemuan keempat sangat istimewa karena saat itu Nabi Muhammad mengijinkan orang-orang Kristen dari Najran untuk beribadah di dalam masjid.

Cerita-cerita indah dalam perjumpaan Kristen dan Islam inilah yang harus terus dibagikan demi perbaikan relasi antara Kristen dan Islam.

Memang, selain pertemuan yang baik dan harmonis di atas, perjumpaan Kristen dan Islam juga diwarnai dengan konflik dan pertikaian. Ada konflik karena kekuasaan politik. Ada konflik karena kepentingan ekonomi maupun perebutan daerah kekuasaan. Secara psikologis, keduanya saling curiga dan saling merasa terancam. Secara teologis karena adanya penghayatan teologis yang sempit dan sektarian. Ada juga karena trauma  perang salib yang terus diwariskan kepada generasi yang lebih muda.

Nah, langkah bersejarah yang dilakukan pemimpin gereja Katolik, Paus Franciscus dan  Imam Besar Al Azhar, Sheikh Ahmed Al Tayeb harus kita dukung bersama-sama. Mereka berdua telah membuat langkah sangat penting untuk menyelesaikan PR kita bersama.

Moga saja kita semua bersedia melanjutkan dan mengimplementasikannya. Bila tidak, kebangsaan dan kemanusiaan kitalah taruhannya.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close