Harian

Radikalisasi di Lembaga Pendidikan

Persoalan radikalisasi merupakan persoalan yang pelik sekaligus berbahaya. Eskalasi radikalisasi 10 tahun terakhir sangat menghawatirkan. Seperti diungkapkan Abdul Muqsith Ghazali dalam pengajian komunitas titik-temu yang diselenggarakan oleh Nurcholis Majid Society Kamis, (1/12/2011) kemarin. “10 tahun terakhir ada pelipatgandaan radikalisme” ungkapnya.

Dalam acara yang mengambil tema “Radikalisasi di Lembaga Pendidikan”  ini selain Muqsith, hadir pula sebagai pembicara Al Chaidar, peneliti radikalisme. Menurut Al Chaidar, berdasarkan dari penelitiannya selama ini bahwa lembaga pendidikan di Indonesia sudah banyak yang terkontaminasi dengan teologi radikalisme. “ada sekitar 127 sekolah yang menganut faham atau mengajarkan faham radikalisme” tegasnya.

Hal senada juga diamini oleh Muqsith Ghazali. Muqsith yang selama ini dekat dengan dunia pendidikan pesantren, mengemukakan fakta bahwa sekitar 14 pesantren di Indonesia dikelola oleh kelompok-kelompok gerakan fundamental. Diantara gerakan fundamental tersebut adalah faham Wahabi yang berasal dari timur tengah. Menurut Muqsith, gerakan-gerakan fundamental ini tengah jauh menanamkan ideologinya kedalam pendidikan baik formal maupun non formal. Muqsith mencontohkan kasus pengajaran bahasa arab dan mata pelajaran yang lain yang mempergunakan term-term radikal ke siswa.

Lebih jauh Al Chaidar mengungkapkan sistem kaderisasi gerakan radikal terdapat dua tipologi utama. Pertama, pola ormas Islam (tandzim jama’i). Sistem ini banyak dilakukan dengan format lembaga pengabdian masyarakat, sehingga banyak orang yang tertarik. Dan secara sedikit demi sedikit akan diberi masukan ideologi-ideologi radikal. Kedua, sistem pondok pesantren. Pondok pesantren menjadi lembaga yang menjadi sasaran kaderisasi dengan mengedepankan pendidikan bagi para kadernya.

Baik Muqsith maupun Al Chaidar menyetujui bahwa persoalan radikalisasi di lembaga pendidikan adalah masalah bangsa yang harus ditangani dengan komprehensif oleh lintas sektoral seperti pemerintah dan masyarakat. Dan selama ini justru pemerintah dinilai oleh kedua pembicara ini terlampau tidak bertindak tegas kepada gerakan radikal ini. Bahkan terkesan ada pembiaran dan pemeliharaan gerakan radikal oleh pemerintah. “buktinya beberapa pemimpin organisasi radikal justru terlihat akrab dengan beberapa petinggi pemerintahan dan TNI” ungkap muqsith.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close