Harian

[:id]Pidato Kebudayaan Karlina L Supeli; Pentingnya Berpikir dan Bertindak Rasional[:]

[:id]Jakarta – Bulan April 2016 sebuah berita menggemparkan dari Pulau Banggai, Sulawesi Tengah. Berita tersebut menyebutkan sesosok bidadari rupawan telah jatuh dari langit ke perairan sekitar pulau. Seorang nelayan menggendongnya ke rumah dan merawat, mengenakan pakaian dan setiap hari mengganti pakaiannya. Berita tersebut viral ke sosiala media bahkan sampai ke internasional. Setelah melakukan pengecekan, kapolres Banggai menyatakan bahwa “bidadari” itu hanyalah sebauh boneka intim.

Cerita tersebut adalah petikan pembukaan pidato kebudayaan Karlina Leksono Supelli yang dilaksanakan dalam acara penganugerahan Diversity Award 2016 Rabu (31/8/2016) kemarin. Pidato tersebut disampaikan sesaat sebelum penyerahan Diversity Award 2016 dari Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk).

Pidato yang berjudul “Masyarakat Ilmiah Vs Masyarakat Takhayul” tersebut berhasil memukau peserta yang hadir dalam malam hari itu. Dalam pidato yang berdurasi sekitar 1 jam itu Lina, begitu beliau akrab disapa, menyampaikan, saat ini orang semakin mudah mengedarkan segala macam omongan, mulai dari kabar serius sampai desas-desus politik, kabar burung, takhayul, cerita ghaib, perang ideologi, rasisme, dll. Memeriksa kesahihan sebuah berita membutuhkan jerih payah yang lebih besar ketimbang sekadar meneruskan kabar.

Menurut Lina, teknologi dunia maya telah menciptakan Budaya Komentar. Siapa saja boleh komentar. Tak peduli apakah komentar tersebut mulukai bahkan menyingkirkan orang lain. Teknologi telah membuat setan yang membuat kita saling membenci, saling memakan, dan saling membuat orang lain menjadi korban. Namun, Lina menegaskan kita tidak perlu melarang teknologi. Bukan karena manfaat dan madlaratnya, tapi kesiapan kita. Sanggup atau tidak sanggup hidup dalam tegangan dunia baru, dunia maya.

Perempuan yang dikenal sebagai salah satu filsuf perempuan Indonesia ini menekankan, sekarang penting sekali berpikir, bersikap, dan bertindak masuk akal. Apabila kita menerima sebuah kabar tentang suatu kejadian, kita perlu berpikir, masuk akalkah berita tersebut dengan pemahaman kita. Dan sebaliknya, masuk akalkah jika kita tidak langsung mempercayai berita tersebut karena alasan tertentu. Setelah kita berpikir dan memeriksa, maka kita dapat menyatakan berita bohong (Hoax), kabar burung, dan takhayul.

“Takhayul adalah kepercayaan atau praktik tentang hal ihwal yang hanya ada dalam khayal. Orang yang percaya pada takhayul percaya pada suatu yang dianggap sakti atau bertuah, padahal tidak. Takhayul muncul karena ketidaktahuan atau rasa takut atau takjub pada yang tidak diketahui.” tegas Lina.

Sementara Ilmu pengetahuan adalah sebuah cara untuk mengetahui realitas manusia dalam cakupan ruang dan waktu, baik yang konkret maupun abstrak. Ilmu pengetahuan, tegas Lina, hanya salah satu cara untuk mengetahui bukan satu-satunya cara. Ilmu adalah cara berpikir yang sistematis dan bertopang pada pernyataan-pernyataan yang dapat diuji.

Ilmu pengetahuan pada tingkat paling sederhana mengajarkan kita untuk berpikir pada hal-hal yang tertanam di dunia. Mengapa? Supaya kita dapat menjelaskan dan meramalkan kapan peristiwa serupa akan terjadi dan kita bisa mencegah bencana yang mungkin ditimbulkan.

“Saya tidak mengatakan bahwa penjelasan adialami (supranatural) tidak ada dan bahwa ilmu menyangkal penjelasan itu. Ilmu tidak membicarakan masalah itu dan tidak memasuki kawasan itu. Bayangkan kalau ilmuwan masuk kawasan itu, yang ilmu sendiri tidak dapat menjamin bahwa orang lain dapat menguji pernyataannya sampai ke kesimpulan yang serupa. Penjelasan ilmiah mengurangi subjektivitas menjadi sekecil mungkin” tegas peraih gelar doktor Filsafat di Universitas Indonesia tersebut.

Campur aduk subjektif dan objektif bisa sangat berbahaya. Tanpa melatih kebiasaan membedakan dua hal itu, orang tidak akan bisa membedakan mana urusan dunia dan mana urusan surga. Kehidupan publik kita akan semrawut.

“Apa saja yang menyangkut agama dikatakan sebagai urusan tuhan dan karena itu orang boleh melakukan apa saja” tegas Lina.

Salahnya pendidikan kita belum diarahkan untuk berpikir masuk akal dan membedakan objektif-subjektif.

“Dalam sistem pendidikan kita, ilmu diajarkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kita lupa bahwa ilmu punya tujuan etis. Bentuk dari praktik etis yang muncul dari kebiasaan menjalankan tradisi berpikir sistematik dan pengujian empiris atas setiap pernyataan adalah: melatih kesanggupan untuk melihat realitas objektif dan memilah-milah mana yang menurut kita sendiri dan mana yang berasal dari realitas itu”. Ungkapnya.

Dampak dari kebijakan pendidikan yang teknokratik

Dosen STF Driyarkara ini menyatakan, pendidikan pada dasarnya melatih kebiasaan untuk berpikir dan memilah-milah informasi. Namun sayangnya, kebijakan pendidikan di Indonesia yang teknokratik tidak seperti itu. Kita dilatih dengan stimulus dan respons.

“Dari kecil kita ditakut-takuti dengan pelbagai takhayul, media sosial dan situs-situs berita masih terus menerus menyebarkan macam-macam takhayul, dan kebijakan pemerintah pun bertumpu di atas pendekatan yang pada dasarnya berbeda dengan takhayul, tetapi implikasinya sama. Kita semua dilatih bertindak seperti anjing Pavlov. Perilaku dan tindakan masuk akal tidak akan terjadi oleh respons dan stimulus yang dasarnya bersifat instinktual – dijalankan demi keselamatan diri sendiri atau kelompok” ucap perempuan yang menempuh gelar Doktor di University College of London, Inggris.

Meskipun begitu kebijakan teknokratis tetap diperlukan. Pemerintahan yang baik membutuhkan kebijakan teknokratik yang memerlukan ilmuwan yang bisa membahas untung rugi. Namun, ilmuwan teknis saja tidak cukup. Karena ilmu pengetahuan adalah satu hal, transformasi cara berpikir, bersikap, dan bertindak adalah hal lain.

Menurutnya, pendidikan tidak terlepas dari kebudayaan. Kebudayaan bukan hanya sebatas panggung pertunjukan seni dan pameran benda-benda seni. Kebudayaan melibatkan cara berpikir, nilai-nilai, perilaku dan etos bertindak.

“Seperti kata filsuf zaman silam: kita berbuat adil bukan karena kita belajar secara kognitif tentang apa itu adil, tetapi kare kita terbiasa bertindak adil” pangkasnya. [MM]

 [:]

Tags
Show More

Related Articles

One Comment

  1. Sepakat pentingny berfikir dan bertindak rasional, karena dengan keduannya kita akan bisa selamat sepertinya dalam era saat ini dimana tampa kediannya maka kita hanya akan menjadi rumput piggir jalan dan hanya akan menjadi korban dan tmbal diera saat ini.

    namun kalau kita benar-benar mau selamat maka tidak cukup hanya denga dua itu saja namun kita harus tamab satu lagi yakni agama (Islam) karena hanya dengan Islam selain kita bisa selamat di dunia namun juga di Akhirat kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close