Esai

Vida Semito: Perempuan Punya Sejarah

Vida Semito

Dalam kitab suci, dikisahkan penciptaan perempuan adalah dari tulang rusuk laki-laki, jika kita coba maknai secara filosofis, secara sederhana bisa kita katakana bahwa penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki adalah agar diperlakukan sejajar; equal, setara dengan kaum laki-laki, dan bukan diciptakan dari tulang kepala agar menjadi angkuh, sombong, merasa lebih tinggi dari laki-laki, pun tidak diciptakan dari tulang kaki agar mudah di rendahkan atau dihinakan oleh kaum laki-laki.

Jika perempuan selalu di identikkan sebagai kanca wingking (teman di dapur) yang sering ditafsirkan oleh masyarakat Jawa secara umum sebagai kepasifan perempuan dan tugasnya hanya seputar dapur-sumur-kasur, maka catatan dunia menyebutkan bahwa kontribusi perempuan tidak hanya sebatas sebagai penggembira (cheerleader) dalam sebuah koloni manusia atau hanya sebagai pemanis pada sebuah acara-acara seremonial. Banyak pemimpin-pemimpin perempuan yang tercatat dalam sejarah, dalam Al-Qur’an tercatat ada Ratu Balqis dari Sheba, dalam Alkitab pun mencatat seorang pemimpin perempuan yaitu Ratu Esther yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan bangsanya dari pemusnahan massal kala itu.

Bahkan jauh sebelum negara ini lahir, Nusantara (Indonesia) juga punya banyak pemimpin perempuan, sebut saja Ratu Shima memimpin kerajaan Kalingga yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah pada sekitar abad ke-6 Masehi. Ratu Shima di kenal sebagai pemimpin perempuan yang adil dan tegas dalam menegakkan peraturan di kerajaannya. Setelah Ratu Shima, pada abad 9 Masehi, tanah Jawa pun pernah memiliki pemimpin perempuan bergelar Tri Buana Tungga Dewi sang penguasa kerajaan Majapahit dan berhasil membawa kemasyuharan pada kerajaan ini turun temurun.

Jika dunia dan generasi sekarang mengenal dengan baik kisah Raden Ajeng Kartini dari Rembang yang menjadi ikon pahlawan kesetaraan gender, dalam masa penjajahan pun Indonesia punya perempuan-perempuan perkasa yang tidak banyak di ketahui andilnya dalam kisah-kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi, salah satunya adalah Laksamana Malahayati.

Tidak banyak orang yang tahu  bahwa Malahayati adalah Laksamana perempuan pertama di dunia, sebuah posisi yang setaraf jenderal di TNI dalam kesatuan angkatan laut (AL). Malahayati juga seorang pejuang dan panglima dari laskar Inong Balee, sebuah laskar yang pada awal pendiriannya mayoritas adalah para perempuan-perempuan janda yang suaminya terbunuh dalam pertempuran Aceh melawan Portugis.

Dengan jabatannya sebagai seorang laksamana, sebagaimana pemimpin tertinggi pada masa itu, Malahayati turut serta bertempur di garis depan bersama anak buahnya laki-laki dan perempuan melawan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur selat Malaka.

Dibawah kepemimpinan Laksamana Malahayati Angkatan Laut Aceh berkembang pesat dengan ribuan armada kapal perang dan sepak terjang Laksamana Malahayati dalam mengusir penjajah yang hendak masuk ke tanah rencong ini membuat dirinya di segani baik kawan maupun lawan, salah satunya adalah kerajaan Inggris yang akhirnya memilih menggunakan jalur damai untuk masuk ke tanah Jawa melalui Sultan Aceh.

Nama Malahayati tidaklah sepopuler nama R.A Kartini ataupun Cut Nyak Dien yang sama-sama berasal dari tanah rencong, meski kini nama itu kini hanya bisa dikenali lewat nama jalan, nama kapal perang milik Indonesia bahkan lukisan wajahnya hanya terdiam membisu di satu sudut ruangan di sebuah museum kapal selam di Surabaya, Laksamana Malahayati sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah bahwa perempuan dengan kelembutan hatinya, dengan ketajaman jiwa dan intuisinya, dengan ketulusan cinta dan pengabdiannya pada umat manusia, perempuan  bisa memimpin sama baiknya dengan kaum laki-laki dan perempuanpun bisa punya sejarah *)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close