Esai

[:id]Penghulu Nikah Beda Agama Lintas Negara[:]

[:id]Oleh: Mohammad Monib

Jum’at sore, 15 Juli 2016, pukul 18.00 saya boarding dari Soekarno-Hatta Tanggerang. Pesawat delay. Harusnya cukup 110 menit ke Changi. Iiiih dasar Lion Air lelet  forever.Keduanya kalinya saya ngunjungi negeri seupil yang kreatif dan bernalar  “kesempatan dalam kesempitan” tetangganya ini.

Untuk apa saya di Singapore kali ini?Hiks hiks hiks. Entah darimana, keluarga Parvez imigran asal Pakistan ini tahu nama dan posisiku sebagai konsultan dan penghulu nikah beda agama. Penghulu swasta lagi. Padahal itu amanah sampingan. Utamaku ngantor di ICRP dan ngajar di beberapa kampus swasta. Kok namaku ngetop sampai lintas negara ya? Bahkan aroma namaku tercium sampai Amerika Serikat. Beberapa kali saya menerima konsultasi via telpn dari negeri Paman Sam itu. Apa kamu bangga Nib?

Gak bangga sich. Apa yang mesti dibanggain?Orang posisi ini disumpahserapahi dan dicaci maki sebagai agen kristenisasi, penoda Islam dsb. Saya hanya heran aja dengan global village dan medsos. Dunia tanpa batas dan gak bisa nyembunyikan sesuatu. Kamu pasti ketahuan! Bila selingkuh. Saya bukan untuk selingkuh ke negara ini. Tugas keislaman dan kemanusiaan. Menyatukan takdir dua hati.

CAN I PAY WITH RUPIAH

Warteg Singapr
Foto sebuah restoran di Singapore

Sabtu pagi saya eluar dari hotel. Cari sarapan. Kali ada uduk atau bubur ayam. Tak jauh saya lihat warteg orang Pakistan dan India. Saya lapar sekali. Sayang sekali saya kehabisan dollar Singapore. Di dompet hanya ada lembaran rupiah.

“Hey, brother, I’m very hungry. But i have no SGD”,sapaku pada penjaga warteg yang rame itu. “Oh, moment”, dia noleh ke teman2nya. “What do u want”?, tanyanya. “Biryani n coffe”, jawabku. Saya sodorkan 100 ribuan. “Ok. Nevermind”, katanya. Jadilah saya sarapan nikmat tanpa SGD.

MAHARNYA SEBESAR 1000 SGD

Seperti biasa setelah opening speech menuju ijab qabul, saya memberikan pengantar syarat-rukun nikah: kedua mempelai, wali, ijab qabul, mas kawin dan saksi2.

Rameez, what’s a dowry you would like to give to your honey”, tanya saya pada mempelai laki. Rameez Parfez, anak seorang pebisnis asal Pakistan. “Just 1000 SGD”, jawabnya. “Ok. But this is not the prize of the women”, sambut saya.

Ya, mahar hanya simbol cinta dan tanggung jawab laki2 kepada istri dan keluarganya. Istri yang kita nikahi tak ternilai harganya. Ia ibu anak, teman, mitra dan segalanya.

Para tamu2 agung, keluarga keduanya tertawa. He he he. Bisa juga saya melawak dalam bahasa Inggris. Padahal bahasa Inggris buruk sekali. Si cewek Sinmok Cho, Katolik asal Korea tertawa juga. “Yes you are right. So cheap”, katanya. “Ok. I add 1 billion”, sambutnya. Wawwwwww. Very amazing. Itulah sekulumit dialog jelang ijab qabul pagi di Hotel Peninsula Singapore. Happy family ya Rameez Parvez dan Sinmok Cho.

Beruntung di Singapore gak ada FPI dan MUI. Jadi besok gak kuatir ada gerombolan yang bisa ngeruduk acara akad nikah. Kalau urusan sipil, negara ini netral, negara tak berteologi dan berakidah tertentu. Tidak ada favoritisme agama tertentu. Bahkan agama tidak diajarkan di sekolah publik. Singapore sukses menjadikan warganya tidak ribut dan berisik urusan iman. Iman dan agama itu urusan pribadi, hubungan langsung seseorang dengan Tuhan. Agama diurus keluarga dan komunitas saja.

Keluarga Parvez pening dan bingung. Rameez,anak laki2nya jatuh hati mendalam kepada Sinmok Cho, cewek asal Korea Selatan, Katolik. Keduanya tak lagi mau pisah. Berkomitmen menikah dengan tetap menghormati agama2 masing2.

Ramadhan minggu kedua mereka kontak saya. Konsultasi via telpon. Saya jelaskan aspek pro kontra secara agama, konsekuensi rumah tangga beda agama dan hal2 yang mesti dikomitmenkan bagi pasangan beda. Urusan iman, anak dan aroma rumah tangga. How to manage their heart dan tradition? Selanjutnya biarkan pasangan dan keluarga itu ambil keputusan. Maju atau putus cinta.

Sebetulnya ke Singapore saya kedua kalinya. Dulu, 2010 juga ke sini. Saat itu ceweknya asal Indonesia. Dia lahir di Padang. Tentu fanatik agama. Cowoknya Protestan asal Amerika Latin. Mereka jatuh hati. Witing tresno jalaran suko kulino. Teman sekantor. Keluarga besarnya dari Padang pada datang.

Jelang acara, keluarga itu ribut di hotel. Tak seorang pun tau bagaimana ritual akad nikah beda agama itu. Ada yang gak mau ke acara. Nikah beda agama haram, zina dan masuk neraka. Para ibu ambil inisiatif. Datang ke kamar hotel. Saya jelasin pro kontra nikah ini. Ribut mereka reda dan terkendali. Akhirnya semuanya masuk dan menyaksikan ijab qabul. Semuanya senang. Kabar terakhir, sang suami melanjutkan ke Islam. Dapat hidayah.

Tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke dada bumi kecuali tertulis di lauhul mahfudz. Di mega kitab Ilahi. Begitupun pasangan beda agama. Kekuatan sifat arrahman,kasih Tuhan yang mempertemukan dan menyatukan 2 hati suci itu. Kata Mashabi, penyanyi Melayu”Rasa cinta pasti ada pada semua manusia. Cinta ciptaan yang kuasa”. Jangan pernah salahkan cinta!

LHO KOK USTADZ DI SINI?

Tak dinyana, karena jadual pesawat balik Jakarta masih lama, saya jalan2 pakai MRT. Supaya biasa nanti pas proyek MRT Pak Jokowi tuntas di Jakarta.

Pas clingak clingok mau beli tiket kok ada wajah populer. Siapa ya?Kok saya rasa kenal wajahnya. “Assalamualaikum pak Eros”, sapa saya. Tentu beliau lupa.

“Saya Monib. Dulu kita jumpa n ngobrol di Bali saat pernikahan puteri PakDicky Adiwoso pak”, terang saya. “Oh, Om Dicky kan?”. Akhirnya kami ngobrol. “Kok ustadz di sini”?, tanya beliau. ” Iya baru ada nikah beda agama”,jawabku. “Ah, ustadz uda go internasional”, canda beliau. Ha ha ha ha. Kami sempat ngobrol tentang Bangkalan. Kab saya. “Saya kenal keluarga Mbah Chalil Bangkalan”, katanya. “Siapa pak.Kiai Fuad Amin”?, tanyaku. “Iya. Beliau temanku. Saya bilang jangan terlaku serakah dong”, cerita beliau. Wah, kebetulan saya pernah akrab dengan “Raja-Kiai” Bangkalan itu. Have a nice jalan2 Pak Eros Djarot.

Itulah kisah semalam di Singapore. Jujur, iri hati saya. Negeri gak sampai sejengkal. Seupil. Tapi jalan-jalannya lebar dan bagus. Gak ada maceeeeet panjang. Bersih dan kerrren. Kita, bangsa Indonesia, tanah seluas-luasnya. Tapi jalannya sempit dan biang maceeeet dimana-mana. Kapan negera ini diurusan secara benar dan baik ya. Uang rakyat dikorup dan diburu untuk kepentingan segelintir pihak dan pribadi-pribadi rakus.  Sayang sekali, kali saya gak sempat jalan2. Jadual pekerjaan dan pembangunan pesantren uda nunggu. Mesti cepat balik ke negeri tercinta dan Fatihatul Qur’an, pesantren yang saya rintis di Bogor. Selamat tinggal negara seupil yang hidup dari kesempatan dalam kesempitan bangsa Indonesia. Pak Jokowi terus lakukan pembangunan ya![:]

Show More

Related Articles

4 Comments

  1. Cerita yang cukup menyesatkan bagi kaum muslimin berdasarkan pengalaman pribadi penulis diatas, sungguh hal demikiankah yang anda banggakan, kalau saya malah justru mengasihani penulis yang justru membanggakan hal demikian, diman ini adalah sebuah aif namun bagi penulis ini adalah sebua prestasi yang patut dibanggaka dan dapat dijadikan conttoh, maka sungguh sanggat kasiahn melihat penulis ini, bisa jadi anada berbahagia dan berseang-senang dengan apa yang anda dapatkan sekarang bukankah Allah sudah menginggatkan didalam Al Qur’an bagaiman dengan orang yang menjual agamanya demi dunia yang sedkit, semoga saja tidak ada penduduk negri ini yang tersesat dan teracuni oelah pemikiran si penus ini yang singguh sanggat membahayakan bagi umat manusia, khususnya yang beragama Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close