Berita JaringanUncategorized

Penganiayaan Terhadap Kelompok Minoritas Terulang Kembali

Penganiayaan Kelompok Minoritas Syiah di Solo

Penganiayaan terhadap kelompok minoritas terulang kembali. Pada tanggal 8 Agustus 2020 terjadi penganiayaan terhadap keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri. Berawal saat keluarga menggelar acara Midodareni. Midodareni adalah salah satu prosesi pernikahan adat di Jawa Tengah.

Sekitar pukul 17.45 datang sekelompok massa yang menyebut dirinya adalah kelompok Laskar, kemudian mempertanyakan kegiatan yang sedang berlangsung di dalam rumah itu. Kelompok tersebut mencurigai kegiatan yang dilaksanakan oleh keluarga merupakan kegiatan keagamaan yang ditentang oleh kelompok Laskar. Kelompok tersebut pun berteriak-teriak “Allahuakbar, Bubar, Kafir” dan ada yang mengatakan “Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, darah kalian halal, bunuh”

Kedatangan aparat dari Polresta Surakarta tidak terlalu mengubah keadaan, kelompok Laskar bersikeras bertahan dan tidak mau membubarkan diri jika keluarga masih melakukan kegiatan tersebut. Pihak keluarga juga tidak mau membubarkan diri dengan alasan kuatir jika salah satu dari mereka keluar akan langsung dianiaya oleh kelompok laskar, mengingat kejadian di tahun 2018.

Selang beberapa waktu ada tiga anggota keluarga yang keluar rumah dan dengan tiba-tiba kelompok laskar memukul dan sebagian melempari dengan menggunakan batu. Karena jumlah yang tidak seimbang dengan petugas, tiga orang tersebut mengalami luka-luka. Namun akhirnya petugas mampu mengendalikan kelompok laskar. Kelompok laskar baru membubarkan diri saat Adzan Isya.

Pada malam hari, sekitar pukul 20.55, Habib Novel (Majelis Ar Raudah) tiba di lokasi dan menyampaikan kepada Kompol I Made Sukada (Kabag Ops Polresta Surakarta) untuk segera menangkap otak kejadian atau pemimpin penganiayaan tersebut dan di perhadapkan dengannya. Jika polisi tidak mampu menyelesaikan, Habib Novel akan turunkan seluruh umat muslim ke Solo.

Haryo, salah satu alumni Peace Train Indonesia memberi komentar terkait berita tersebut dan mengatakan :

“Sangat disayangkan di negara Bhineka Tunggal Ika ini masih ada saja kelompok-kelompok orang (utamanya yang mayoritas) yang tidak menghargai perbedaan. Malah merasa paling benar, lalu menyalahkan, membenci bahkan menyerang kelompok lain yang berbeda. Tugas aparat menindak tegas kekerasan dan intimidasi, apapun alasannya karena itu melanggar hukum.”

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close