Uncategorized

Pendeta Sinung: Kami Tak Ingin Membuat Anda Menjadi Kristen

Refleksi dari Kunjungan Peace Train Indonesia 6

Malang – Di hadapan puluhan peserta Peace Train 6, Pendeta Sinung Mawanto dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sukun Malang menegaskan bahwa ia dan jamaatnya tak pernah melakukan kristenisasi sebagaimana dicurigai oleh banyak pihak. Hal ini ia sampaikan saat menjamu rombongan Peace Train  6 yang berkunjung ke gerejanya.

Pendeta Sinung menjelaskan bahwa gerejanya dan masyarakat sekitar memiliki jalinan kerjasama dan keakraban yang sangat kuat di tengah perbedaan agama yang ada. Hal ini tampak dari kebiasaan masyarakat dan jemaat Gereja yang selalu bahu-membahu dalam setiap kegiatan sosial maupun acara-acara yang berlangsung di wilayahnya.

Warga desa misalnya, terbiasa menggunakan kursi dan peralatan gereja untuk hajatan atau perayaan hari besar warga. Meski berlatar belakangan agama yang berbeda, keakraban dan kekompakan masyarakat dan jemaat gereja di wilayah ini telah menjadi kekuatan yang terbangun sejak lama dan semakin kuat di tiap harinya.

Tentang ini, pendeta Sinung menyebut bahwa semangat utama yang dibawa oleh gerejanya adalah berkarya atas dasar kemanusiaan. Soal kecurigaan kristenisasi, ia menampiknya dengan menyebut bahwa pihaknya tak pernah berniat membuat orang menjadi penganut agama Kristen.

“Kami tak ingin membuat anda menjadi Kristen, kami hanya merasa perlu berkontribusi kepada masyarakat sebagai wujud dari berkat yang kami terima,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Mbah Mardi. Sesepuh di gereja tersebut menyatakan bahwa kita semua sama, karenanya tak patut bagi kita untuk merasa paling benar sambil menyalahkan yang lain. “Lha wong kulit kita saja sama hitamnya,” ungkapnya.

GKJW Jemaat Sukun menjadi destinasi kedua yang disambangi oleh puluhan peserta Peace Train  6. Sebelumnya, para peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia ini mengunjungi Gereja Katolik St. Albertus de Trapani di Kota Malang. Di sana, peserta Peace Train  6 disambut oleh Frater Brian dan sejumlah orang muda Katolik yang memberi penjelasan seputar keimanan Katolik dan isu-isu terkini.

Salah satunya soal respon umat Katolik pasca serangan terorisme di Surabaya. “Tentu kami sempat khawatir dan takut hal itu (serangan, Red) terjadi di gereja kami, namun kami menanggap anda semua saudara kami. Kami yakin anda tidak akan menyakiti kami, saudara sendiri,” ungkap salah satu pengurus gereja.

Selain dua gereja di atas, di hari pertama ini rombongan Peace Train  6 dijadwalkan juga untuk mengunjungi pesantren Al Hidayah dan Vihara Dhammadipa Arama. Setiap peserta diwajibkan untuk membuat tulisan, vlog dan refleksi di setiap kunjungan untuk kemudian disebar di medsos masing-masing sebagai bagian dari masifikasi pesan-pesan toleransi dan perdamaian.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close