Ahmad NurcholishOpini

Pandemi Covid-19, Kemanusiaan dan Perdamaian (Bagian 2 – selesai)

Ahmad Nurcholish

Norma Baru

Pandemi Covid-19 juga menggugah gerakan antaragama untuk terus membangun toleransi dan solidaritas di Indonesia. Banyak inisiatif dilakukan oleh organisasi-organisasi keagamaan dan gerakan lintas iman untuk bersolidaritas membantu warga terdampak wabah korona.

Hanya saja, pola kegiatan dan gerakan antaragama di Indonesia selama ini lebih memprioritaskan pada agama-agama yang ‘diakui’ negara. Sehingga, hanya enam agama ‘resmi’ menjadi penerima manfaat dari gerakan-gerakan lintas agama, termasuk bantuan warga terdampak Covid-19.

JIC dan termasuk juga ICRP Peduli tidak demikian adanya. JIC dan IRP  mengubah tatanan lama gerakan antaragama yang sekadar memprioritaskan agama-agama di bawah Kementerian Agama, bahkan mengubah pengucapan salam di acara-acara resmi sebatas pada enam agama.

JIC mempunyai misi yang tidak hanya bersolidaritas di seputar komunitas dari enam agama saja, tetapi telah menyalurkan bantuan ke umat agama lain di luar itu, seperti Sikh da Bahai, termasuk pula  penghayat kepercayaan dan warga negara lainnya dari berbagai komunitas dan identitas seperti transgender atau LGBT secara umum, disabilitas dan sebagainya.

Melalui JIC kita telah memulai gerakan lintas iman dan kepercayaan yang lebih inklusif dalam menurunkan ajaran cinta kasih dan perdamaian yang mampu menyentuh seluruh warga negara, apapun agama dan identitasnya, serta mengoreksi praktik-praktik eksklusif yang mengistimewakan enam agama.

Agama dan para pemuka agama sudah seharusnya tidak berlaku tak adil, diskriminatif. Begitupun ketika semakin banyak warga yang terdampak korona, sepatutnya agama hadir dengan wajah universalnya dalam menyalurkan bantuan, tanpa melihat apa keyakinan dan identitas penerima. Sebab viris Corona itu pun yang memilih pandang bulu menyerang siapa saja, dari latar belakang apa pun juga.

Semangat Perdamaian

Penanganan Covid-19 yang tak sepenuhnya berjalan mulus telah memunculkan berbagai persoalan di tengah masyarakat. Dari  mulai data penerima yang tak akurat, pendistribusian yang tak merata, hingga melahirkan konflik sosial di sejumlah tempat.

Konflik dapat muncul baik dari karakteristik individu/kelompok/masyarakat, interaksi sosial hingga karena terjadinya kelangkaan dan ketimpangan (Krisberg, 1998; Bertrand, 2008). Namun, hal yang penting diperhatikan adalah “perasaan frustasi” atau “ketidakpuasan sosial” (Krisberg, 1998; Bertrand, 2008).

Pentingnya memperhatikan ini yang dapat diindikasikan dari “kegelisahan” (anxiety) masyarakat yang dapat menjadi justifikasi/pembenaran suatu pihak melakukan suatu tindakan antagonistik. Apabila perasaan frustasi atau ketidakpuasan sosial ini berkembang dan meluas maka faktor internal dapat memberikan motif perilaku antagonistik yang mungkin dapat diperkuat oleh faktor lain.

Indonesia dengan 300 kelompok etnik atau suku bangsa (Indonesia.go.id, 2020) bagaikan sebuah padang rumput kering di tengah musim kemarau. Potensi perilaku terpendam saling membenci dapat muncul sewaktu-waktu di tengah pandemi. Hal ini terjadi jika ada suatu tekanan yang kuat dari kegelisahan yang disebabkan perasaan frustasi/ketidaksenangan sosial di masyarakat. Salah satu aspek yang pastinya sangat mendorong orang untuk melakukan tindakan antagonistik adalah “perut” yang pasti selalu menuntut untuk terisi.

Oleh karenanya, selain melahirkan semangat solidaritas kemanusiaan, pandemic Covid-19 juga menumbuhkan semangat menjaga perdamaian. JIC misalnya, jaringan ini telah menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai lembaga yang tergabung dan para relawan, aktivis yang bergiat di dalamnya.

Ruang perjumpaan inilah yang menghantarkan kita pada proses saling mengenal lebh dekat, lebih mendamal yang pada alur selanjutnya menumbuhkan semangat toleransi antar sesama yang berdampak pada semangat menjaga perdamaian.

Karena itu pula saya mengapresiasi Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang ketika memimpin debat terbuka Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai “Pandemi dan Tantangan Bina Damai” yang berlangsung secara virtual, beberapa waktu lalu (8/20) menandaskan bahwa pandemi telah meningkatkan kerentanan negara-negara terdampak konflik. Beberapa negara bahkan terancam jatuh kembali ke jurang krisis.

Dalam pernyataan nasionalnya seperti disampaikan melalui rilis Kemlu, Retno menggarisbawahi tiga poin utama untuk merespons tantangan global yang semakin meningkat dalam usaha menjaga perdamaian dunia pada situasi pandemi.

Pertama, aspek bina damai perlu menjadi bagian dalam upaya penanggulangan pandemi secara komprehensif. Selanjutnya, perlu memastikan partisipasi inklusif para pemangku kepentingan lokal dalam upaya bina damai. Prioritas lainnya juga menciptakan lingkungan internasional yang kondusif untuk mendukung upaya bina damai di masa pandemi.

Kedua, Menlu Retno menegaskan bahwa upaya bina damai membutuhkan sinergi antara badan kerja dalam sistem PBB. Dalam hal ini, PBB harus mengintegrasikan pendekatan yang sensitif terhadap konflik dalam upaya penanganan pandemi. Gencatan konflik dan jeda kemanusiaan akan memampukan penyaluran bantuan dan perawatan COVID-19 dengan tepat waktu kepada warga sipil di daerah konflik.

Ketiga, penting untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terbatas untuk upaya bina damai. Hal ini karena mayoritas negara terdampak konflik tersebut dihadapkan pada pilihan yang sulit antara pengeluaran untuk infrastruktur kesehatan dan pembangunan perdamaian.

Dalam konteks ini, Indonesia menggarisbawahi laporan terbaru Sekretaris Jenderal PBB mengenai “Pembangunan dan Pertahanan Perdamaian” yang mencatat adanya penurunan porsi bantuan luar negeri untuk pembangunan perdamaian di negara-negara yang terdampak konflik.

Pendanaan inovatif seperti Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular serta institusi filantropis menjadi penting dalam menghadapi situasi ini. Di tengah meningkatnya ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi, upaya bina damai dan upaya perdamaian berkelanjutan menjadi semakin sulit untuk dilakukan.

Namun demikian, melalui pengalaman bembaga-lembaga non-pemerintah (NGO/CSO) yang sejak awal pandemic telah berkiprah membantu menangani wabah ini dapat kita jadikan pembelajaran bagi banyak negara. Selain semangat solidaritas sosial dan kemanusiaan, ternyata pula melahirkan semangat toleransi serta menjaga perdamaian. [ ]

Ahmad Nurcholish, Koordinator Pelaksana Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC), deputy direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close