Ahmad NurcholishOpini

Pandemi Covid-19, Kemanusiaan dan Perdamaian (Bagian 1)

Ahmad Nurcholish

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

Setelah itu hingga pekan kedua September 2020, virus mematikan yang telah merenggut 19 juta jiwa di seluruh dunia ini menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Paling tidak hingga waktu yang sama sebanyak 194 ribu orang terkonfirmasi terkena virus covid-19 dan 8.025 orang mennggal dunia.

Yang tak kalah ganasnya dari penyebaran wabah pandemic tersebut adalah dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Staf khusus Menteri Ketenagakerjaan Dita Indah Sari mengatakan, dampak Covid-19 membuat sejumlah pelaku usaha, baik besar, menengah dan kecil menutup perusahaannya. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin bertambah.

“Sebelumnya angka pengangguran akibat pandemi itu sampai 6,2 juta. Nah kini bertambah sebesar 3,66 juta orang. Bertambahnya angka itu bersumber baik dari tenaga kerja formal, informal serta TKI (tenaga kerja Indonesia) yang gagal berangkat.” kata Dita dalam Market Review di IDX channel, Senin (13/7/2020), sebagaimana dikutip iNews.id.

Akibat bertambahkannya angka pengangguran tersebut tentu menambah deretan panjang angka kemiskinan di Indonesia. Sewaktu Covid-19 baru muncul awal Maret 2020 jumlah penduduk miskin sebesar 26,42 juta orang. Hingga Agustus 2020 diperkirakan sudah mencapai 30 juta orang.

Solidaritas Kemanusiaan

Selalu ada hikmah dibalik musibah. Demikian orang bijak senantiasa mengatakan. Pun dengan merebaknya Covid-19 ini telah membangkitkan solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat kita. Sejumlah orang, lembaga nirlaba, perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, maupun instansi pemerintahan berjibaku membuka posko kemanusiaan sebagai wujud peran serta mereka dalam penanggulangan Covid-19 dan dampak dari akibat pandemic tersebut.

Diantara posko-posko tersebut adalah Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 yang disingkap JIC. JIC merupakan kolaborasi organisasi lintas iman dan kepercayaan yang bergerak bersama dalam penanganan Covid-19. JIC telah menggalang bantuan dari berbagai pihak yang ingin berperan serta dalam solidaritas lintas iman untuk membantu warga miskin yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Hingga Agustus 2020 JIC paling tidak telah menyalurkan lebih dari 20 ribu paket sembako di wilayah Jabodetabek. Selain itu juga telah membagikan 100.000 masker medic untuk tenaga medis di pulau Jawa, Sumatera, NTT, NTB, Maluku, Ambon, dan Papua Barat dan Papua. JIC bersama Pengusaha Peduli NKRP juga telah menyalurkan bantuan 1,5 milyar rupiah untuk paket makanan bagi para driver ojek online.

JIC terdiri dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Pemuda Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Commad Center, NU Peduli, GP. Ansor, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), GEMABUDHI, PERMABUDHI, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) – Keluarga Buddhis Indonesia (KBI), Komisi HUbungan Antar-Agama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), JKMC, Badal Amal Kasih Katolik (BAKKAT), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Puskor Hindunesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN), Majelis Rohani Nasional Bahai Indonesia, Yayasan Sosial Guru Nanak (Sikh Indonesia), Temu Kebangsaan Orang Muda, Jaringan Gusdurian, Kafkaf Foundation, dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Menariknya adalah bantuan tak hanya datang dari para pengusaha dan jaringan Lembaga keagamaan, tapi juga dari para pemilik warteg di Jakarta. Mereka secara berkala menyalurkan bantuan paket makanan melalui JIC. Dari mulai 30 paket makanan hingga 100 paket makan setiap hari.

Para pengusaha Warung Tegal tersebut merasa terpanggil untuk membantu meringankan mereka yang terkena dampak Covid-19 sebagai solidaritas sosial dan pedulikemanusiaan kepada sesama. Oleh JIC bantuan makanan tersebut diberikan kepada  para pemulung, petugas kebersihan, petugas keamanan dan driver ojol maupun opang (ojek pangkalan).

Gerakan kemanusiaan tersebut muncul atas kesadaran dan inisiatif masyarakat sendiri untuk memerangi pandemi Covid-19 dan memutus persebarannya. Masyarakat sadar betul bahwa upaya penanggulangan dan pencegahan pandemi Covid-19 tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah melainkan butuh peran serta masyarakat. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam rangka mempercepat penanggulangan pandemi Covid-19 di bumi pertiwi.

Bersambung…

Ahmad Nurcholish, Koordinator Pelaksana Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC), deputy direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close