Orang Kristen Semakin Ditindas Semakin Banyak

Pasti kita pernah dengar kutipan yang mengatakan “Mati satu tumbuh seribu” entah kenapa kutipan ini layak disematkan kepada kekristenan.

Sejak dari Gereja Mula-Mula sampai di dunia modern ini, kekristenan seringkali mengalami persekusi dalam rangka menghilangkan eksistensi mereka tetapi tetap bertahan sampai sekarang dan tidak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan Kristen semakin banyak.

Kita mulai dari kisah yang tercatat dalam Alkitab yaitu seorang Kristen yang bernama Stefanus. Dalam cerita tersebut, gereja masih dalam tahap baru berdiri sehingga para rasul memberitakan Yesus Kristus secara masif.

Stefanus adalah diaken Gereja Mula-Mula pada saat itu dan pada saat Stefanus mengabarkan Injil Yesus Kristus, Stefanus ditangkap dan diperhadapkan dalam Mahkamah Agama Yahudi karena penyebaran Injil Kristus yang ia beritakan.

Bukannya tunduk agar supaya bisa hidup bebas, Stefanus tetap teguh untuk mempertahankan keyakinannya kepada Yesus dan berkhotbah kepada petinggi-petinggi Yahudi dalam persidangan. Alhasil, Stefanus dijatuhi hukuman mati dan dilempari batu sampai mati.

Dalam hal ini kita pasti bertanya apakah “efek jera” yang diberikan kepada Stefanus ini membuat orang Kristen berhenti menyebarkan kekristenan? Tidaklah demikian! Umat Kristen semakin berhasrat dan menggebu-gebu mengenalkan Yesus ke banyak orang sehingga banyak orang menjadi percaya.

Ada satu kisah yang unik mengenai apa yang terjadi kepada Stefanus. Saulus adalah seorang Yahudi yang sangat membenci orang Kristen dan ia adalah salah satu saksi yang menyaksikan kejadian tentang bagaimana Stefanus dieksekusi. Namun akhirnya, diwaktu yang mendatang Saulus juga menjadi pengikut Kristus dan namanya diganti menjadi Paulus. Hal itu terjadi ketika Paulus melakukan perjalananya ke Damsyik untuk menganiaya orang Kristen.

Saat kekristenan mulai berkembang, hadirlah seorang Kaisar Romawi yang bernama Nero yang sangat bengis. Diceritakan, bahwa orang Kristen yang dijadikan kambing hitam oleh Nero dituduh membakar Roma (yang sebenarnya dilakukan oleh Nero sendiri) tubuh mereka dibakar, digantung untuk menjadi obor jalan, beberapa dari mereka diikat/dibungkus dengan kulit hewan lalu dilepas ditengah anjing liar. Betapa bencinya Nero kepada orang Kristen sehingga ia tega melakukan hal tersebut.

Tetapi sekali lagi, kekristenan tidak punah tetapi semakin berkembang hari demi hari dan mengejutkan kekaisaran Romawi yang begitu memerangi kekristenan. Kaisar Konstantin mengeluarkan dekrit Milano pada tahun 313 Masehi dalam rangka memberi kebebasan kepada umat Kristiani dalam beragama dan pada tahun 325 Masehi, era Kaisar Konstantin diadakan Konsili Nicea I.

Di negeri kita tercinta ada juga hal yang sama terjadi, ketika dua misionaris dari Gereja Baptis Boston yaitu Samuel Munson dan Henry Lyman (1834) yang mengabarkan injil di Sumatera Utara lebih tepatnya di daerah Tapanuli. Henry dan Samuel harus mati dibunuh dan dimakan oleh warga suku setempat pada saat datang untuk memberitakan Injil di Tanah Batak. Di atas batu tempat tulang belulang mereka dibuang ditulis “Darah Martir adalah benih Gereja Kristus”. Tulisan ini bukanlah hanya sekedar tulisan bersifat slogan tetapi tulisan ini tergenapi di waktu-waktu kemudian dimana Tanah Batak merupakan salah populasi terbesar umat Kristiani di Indonesia. Karena pada akhirnya banyak misionaris yang pergi ke Tanah Batak, berkembanglah kekristenan disana.

Penindasan-penindasan yang terjadi kepada umat Kristiani pada saat ini, khususnya di Indonesia masih terus berlangung yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Walaupun bentuk penindasan saat ini berbeda, yaitu dengan pelarangan pembangunan/penutupan gedung gereja dan dilarang untuk mengadakan ibadah. Seperti yang terjadi kepada GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia dan beberapa gereja lain. Seperti inilah penindasan yang terjadi kepada umat Kristiani. Hal ini ditujukan  salah satunya tentu karena ada ketakutan dari oknum-oknum tersebut terhadap kemajuan dan pertumbuhan, sehingga kekristenan harus dihambat.

Tetapi jika mengacu kepada sejarah, perlakuan diskriminatif seperti ini adalah tindakan yang sebenarnya memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan jemaat Kristen. Tindakan seperti ini tidak akan memusnahkan eksistensi kekristenan.

Saran saya kepada oknum-oknum yang melakukan tindakan diskriminatif,  alangkah baiknya untuk tidak melakukan hal-hal yang menindas seperti yang terjadi belakangan ini. Karena sesungguhnya oknum-oknum ini bukan menghambat melainkan memberikan pertumbuhan kepada jemaat Kristiani. Seperti kata seorang Bapa Gereja yaitu Tertulianus “Orang Kristen semakin dibabat, semakin merambat” inilah yang akan terjadi jika kekristenan terus ditindas.

-Kevin Samuel Kamagi

FB : Kevin Kamagi, Instagram : @kevkamagi, Twitter : @kevinkamagi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.