BukuMusdah Mulia

Muslimah Reformis, Membuka Pemahaman Kekininan nan Keren Perempuan Dalam Islam

Saya ingat ketika buku setebal 700 halaman itu datang. Saat itu saya tengah didera deadline. Dalam bayangan saya, tulisan di dalamnya bakal dipenuhi beragam telusuran ayat-ayat dan surah-surah dalam Al Quran, yang tentunya memerlukan pemahaman mendalam.

Ternyata, setelah membaca buku itu di bab pertama. Saya terus kepo menelusuri halaman demi halaman selanjutnya. Terutama membaca bab perempuan dan ekonomi. Mengigilkan sekujur tubuh saya menahan haru. Mungkin saya lebay. Tapi saya menangis membacanya. Ini adalah penjelasan paling komprehensif dari centang perenang pemahaman keliru soal perempuan dan feminism dalam Islam.

Ada banyak kesalahpahaman mengenai feminism. Feminisme itu ateis, feminisme ini benci laki-laki, feminisme melemahkan laki-laki, feminism hanya mendukung perempuan saja, feminisme hanya untuk perempuan, feminisme tidak menikah, membenci kecantikan, atau upaya budaya barat melemahkan Islam. Kalian mesti baca ini. Serius. Bahkan untuk aktivis feminism sekalipun, ini adalah literature keren.

Saya mengutip perkataan Prof. Musdah, bahwa arti kata muslimah dari kata al-salam. Dalam Bahasa arab artinya damai, tenang, aman, dan sejahtera. Kata-kata muslimah pun merupakan kata kerja aktif. Sehingga, bisa dikatakan peran muslimah sejatinya adalah aktif merajut damai, mulai dari diri sendiri, dan bukan hanya untuk sesama muslim saja, tapi juga sesama manusia, bahkan semesta alam. Cool kan?

Ini panduan kita beraksi. Jadi manusia wanita kekinian, namun sesuai dengan ajaran Islam. Islam itu pun sangat keren. Hal ini juga pasti diatur dalam ajaran agama lain, yang sama kerennya. Namun sejatinya, semakin kita beragama, seharusnya kita menjadi semakin manusiawi.

Musdah menekankan bahwa ajaran agama yang mengedepankan prinsip-prinsip konservatif, intoleran, dan radikal pada akhirnya akan membangun sebuah belenggu yang menghambat tumbuhnya peradaban manusia.

Bahkan, Prof Musdah mendorong agar muslimah berjihad dengan menegakkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan yang menjadi esensi ajaran Islam, dan berdialog aktif mengenai persoalan-persoalan kemanusiaan. Di buku ini juga dijawab mengenai stereotype HAM yang banyak dipahami sebagai budaya asing. Prof Musdah mengajak orang yang menilai penegakan HAM sebagai nilai asing, untuk mengkaji konsep Tauhid.

Dalam buku ini disebutkan, konsep Tauhid Islam itu menerapkan prinsip keseteraan manusia, dimana kesetaraan manusia merupakan pijakan utama dalam prinsip penegakan HAM. Saya bangga Indonesia punya perempuan keren seperti Ibu Musdah.

 

Penulis : Aseanty Pahlevi (Jurnalis Tempo dan Aktivis Perempuan)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close