Merawat Kebinekaan di Era Pandemi

Merawat Kebinekaan di Era Pandemi

(Catatan Pengantar Peace Train Indonesia ke-11 Jakarta – Temanggung)

Ahmad Nurcholish

Pandemi Covid-19 yang menerpa Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu tak menghalangi sejumlah orang maupun komunitas untuk tetap berupaya bagaimana merawat kebinekaan sekaligus perdamaian di Tanah Air, bahkan dunia. Upaya tersebut tak hanya sekadar wacana melainkan sudah mewarna dalam bentuk aksi nyata.

Salah satu contoh adalah keberadaan Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC) yang diinisiasi oleh berbagai lembaga agama dari berbagai agama maupun lembaga interfaith yang ada di Indonesia. Tak kurang dari 20 lembaga agama dari  berbagai agama bergabung dalam JIC.

Diantara Lembaga-lembaga yang tergabung adalah ICRP, Pemuda Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Commad Center, NU Peduli, GP. Ansor, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), GEMABUDHI, PERMABUDHI, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) – Keluarga Buddhis Indonesia (KBI), Komisi HUbungan Antar-Agama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), JKMC, Badal Amal Kasih Katolik (BAKKAT), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Puskor Hindunesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN), Majelis Rohani Nasional Bahai Indonesia, Yayasan Sosial Guru Nanak (Sikh Indonesia), Temu Kebangsaan Orang Muda, Jaringan Gusdurian, Kafkaf Foundation, dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Mereka tak sekedar menebar rasa keprihatinan terhadap merebaknya pandemic korona, tapi beranjak ke aksi nyata dalam bentuk menghimpun bantuan dan kemudian menyalurkan Kembali kepada mereka yang terdampak atau membutuhkan uluran tangan. Selanjutnya masyarakat pun, mereka yang tergerak untuk membantu berdatangan menitipkan bantuan/donasi untuk disalurkan kembali ke masyarakat yang membutuhkan.

Dari JIC kita belajar bahwa era pandemic tak seharusnya mengehentikan kita bergandeng tangan dalam mewujudkan solidaritas sosial, merealisasikan semangat kemanusiaan dalam aksi nyata di tengah masyarakat. JIC juga wujud bagaimana dialog antar-umat beragama boleh kita tingkatkan menjadi kerjasama antar-umat beragama.

Oleh karenanya, pandemic Covid-19 tak seharusnya menghentikan aktivitas kita dalam upaya merawat kebinekaan dan mewujudkan perdamaian bersama. Inilah yang hendak dilakukan oleh orang-orang muda dari berbagai agama dalam upaya dimaksud. Melalui program Peace Train Indonesia mereka bergandeng tangan mengenal keberadaan orang atau komunitas lain yang beragam, belajar memahami secara mendalam perbedaan-perbedaan yang ada, sembari terus belajar bagaimana mengelola konflik akibat perbedaan tersebut, lalu bersama-sama menemukan treatment bagaimana mengurai dan mengelola konflik yang kerap muncul.

Itu sebabnya moment Peace Train Indonesia ke-11 Jakarta Temanggung yang dihelat pada 15 – 17 Januari 2021 ini mengusung sejumlah tujuan yang hendak dicapai bersama.

Pertama, pandemic Covid-19 tak selayaknya membuat kita takut berlebihan dalam beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. Bahwa kita mesti berhati-hati agar tak tertular virus tersebut itu setuju. Tetapi khawatir berlebihan juga tak semestinya. Bahkan mungkin jika kita berlebihan dalam kekhawatiran, rasa takut yang tak masuk akal justru akan membuat imun tubuh kita menurun.

Karenanya wajar-wajar saja. Tetap mengikuti protokol kesehatan: jaga jarak, sering cuci tangan, pakai masker. Olah raga rutin, mengkonsumsi makanan sehat, vitamin menjadi hal penting untuk meningkatkan imun tubuh agar tak mudah tertular virus. Dengan begitu tak harus mengurangi aktivitas secara berlebihan. Apa yang harus kita lakukan ya kita kerjakan.

Kedua, tantangan kebinekaan kita tak mengenal pandemi. Kelompok-kelompok intoleran, mereka yang kerap mengganggu orang atau komunitas lain yang berbeda (terutama dalam hal agama) tak pernah libur dalam melancarkan aksi-aksi mereka. Salah satu contohnya adalah pembubaran pelaksanaan ibadah pada rumah salah satu warga (Jamin Sihombing) di  Cikarang, Jawa Barat. Ini terjadi di hari ke-48 pandemi Covid-19 di Indonesia.

Padahal, mereka beribadah di rumah dalam rangka mengikuti himbauan pemerintah untuk tidak beribadah di rumah ibadah. Celakanya dua orang pria mendatangi rumah mereka, salah satu diantaranya bersarung memakai peci, berbaju putih dan tidak memakai masker bernama Imam Mulyana menghardik sembari membubarkan ibadah tersebut dengan alasan tidak boleh kumpul-kumpul.

Oleh sebab itu, upaya-upaya merawat kebinekaan, bagaimana menumbuhkan sikap toleran di tengah masyarakat tak boleh berhenti. Peace Train Indonesia kali ini adalah salah satu ikhtiar itu. Intoleransi sudah lama menjadi pandemi. Meningkat menjadi tindakan-tindakan radikal. Maka harus dicounter dengan aksi-aksi sebaliknya: menumbuhkan sikap toleran di tengah masyarakat yang plural.

Ketiga, generasi muda harus menjadi promotor terdepan bagi dua hal sekaligus: penggerak protocol Kesehatan di masa pandemic, menjadi contoh inspirastif bagi upaya mencegah merebaknya Covid-19, sekaligus pula menjadi peacemaker, promotor kerukunan dan perdamaian di tengah masyarakat.

Generasi muda adalah kunci. Mereka harus berada di garda terdepan dalam memberikan contoh hidup sehat di era baru tatanan kehidupan (new normal). Dalam waktu bersamaan juga menjadi contoh terdepan bagaimana merawat kebinekaan yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan. Tak boleh ada yang mengoyak.

Ketiga tujuan inilah yang oleh 15 peserta Peace Train Indonesia ke-11 ini hendak dicapai. Kelima belas peserta ini merupakan orang-orang muda pilihan dari daerah mereka masing-masing. Ada yang berasal dari Pontianak – Kalbar, Manado – Sulawesi Utara, Madura – Jawa Timur, selain dari Jakarta dan sekitarnya. Sengaja membatasi hanya untuk 15 orang mengingat masih pandemic. Sebelum-sebelumnya tiap trip Peace Train Indonesia kita membuka kuota untuk 40 orang peserta.

Selama tiga hari mereka berproses, belajar bersama bagaimana melihat kebinekaan, mengelolanya menjadi kekuatan dan mengantisipasi jika kebinekaan tersebut memantik konflik sosial. Sebelumnya mereka sudah dipertemukan secara virtual (daring) dalam dua kali kegiatan sebagai momen pengantar. Kesemuanya dilakukan dalam rangka mengasah, menambah wawasan dan skil mereka untuk menjadi peacemaker yang tangguh, siap menghadapi berbagai persoalan terkait dengan keragaman di sekitar kita. [ ]

Ahmad Nurcholish, salah seorang penggagas Peace Train Indonesia, deputi direktur ICRP

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.