Harian

Mengenang Sang Begawan Pendidikan

Prof. Dr. Mochtar Buchori, M. Ed telah meninggalkan kita semua pada 9 oktober 2011 lalu. Pikiran beliau jernih, ide-ide beliau genuine, tidak mengejar ketenaran dan pencitraan, belum lagi suara kritis konstruktif beliau terhadap berbagai persoalan pendidikan patut untuk nobatkan sebagai sang begawan pendidikan. berbagai ide dan suara kritis tersebut beliau pertahankan sampai akhir hayat menjemput. Untuk mengenang ide-ide beliau tersebut, Rabu (23/11/2011) kemarin Yayasan Paras bekerjasama dengan Tanoto Foundation dan LIPI menggelar refleksi pemikiran Mochtar Buchori.

Bertempat di gedung Widya Graha LIPI, refleksi pemikiran Mochtar Buchori ini dikemas dalam sebuah konsep diskusi panel dengan dua sesi diskusi. Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina dan Agus Suwignyo Pedagog FIB UGM Yogyakarta menjadi pembicara pada sesi pertama. Sedangan pada sesi selanjutnya yang didaulat menjadi pembicara adalah Musdah Mulia Ketua Umum ICRP dan Mochtar Pabotinggi Peneliti LIPI. Dalam refleksi ini juga dihadiri oleh keluarga, saudara, serta berbagai teman dan kolega beliau.

Bagi para praktisi pendidikan seperti Anies Baswedan dan Agus Suwignyo, pribadi Mochtar Buchori adalah sesosok pedagog panutan yang patut dikembangkan ide-idenya. Berbagai ide kritis beliau tentang pendidikan membukakan persepsi lain tentang pendidikan Indonesia. “Masalah utama pendidikan dinegeri ini adalah integritas” ungkap Anies Baswedan. Lanjutnya, integritas harus ditumbuhkembangkan dalam bangku sekolah. Tidak seperti saat ini, pendidikan hanya sebatas memindahkan teks dari buku paket ke buku catatan. Menurut pengamatan Rektor Universitas Paramadina ini penangangan permasalahan-permasalahan pendidikan membuat semakin lambat pula penangan kesejahteraan masyarakat. Seperti penyebaran guru yang tidak merata antara di kota dan di daerah terpencil. “66% kita kekurangan guru di daerah terpencil sedangkan 15% kelebihan guru di perkotaan” resahnya.

Sementara itu Agus Suwignyo mengemukakan bahwa permasalahan pendidikan dewasa ini begitu kompleks. Mulai dari hulu sampai hilir muncul propblematika yang sampai saat ini belum teruraikan solusinya. Kebiijakan menyoal pendidikan masih terasa timpang tindih dan miskin substansi. Sehinga mengakibatkan terputusnya hubungan antara hilir dan hulu pendidikan yang seharusnya terpadu. Sampai saat ini hiruk pikuk kebijakan pendidikan masih berkutat pada sertifikasi guru, pemberian tunjangan profesi, serta aneka persoalan teknis yang menyertainya. Tetapi ternyata itu semua masih dalam satu tahap profesionalisasi guru. Seharusnya juga perlu diatur proses kualitas yang lebih lanjut yang lebih komprehensif.

Mochtar Buchori menjadi lokomotor pendidikan yang egaliter, liberatif, serta menanamkan nilai-nilai karakter. Seperti diungkapkan oleh Romo Sastro, salah satu kolega beliau. “Semua pemikiran Mochtar Buchori adalah permasalahan bangsa kita” ungkapnya. Melihat situasi bangsa saat ini perlu, seperti artikel Mochtar Buchori, diperlukan sebuah upaya berupa strategi pendidikan untuk merubah budaya politik yang saat ini tengah mengalami “vulgarisasi”. Menurut Romo Sastro, Mochtar Buchori merupakan sesosok intellectual organic. Dengan semangat dan pemikirannya beliau mampu menjadi seorang intellektual yang tidak hanya berkutat dibangku akademisi tetapi turun untuk mengurai persoalan yang melilit masyarakat.

Jika kita mencari sosok intelektual yang berkarakter dan berprinsip maka kita akan menemukan pada sosok Mochtar Buchori. Beliau sebagai seorang guru benar-benar mengajarkan karakter dari perilaku beliau. Selama ini kita terlalu sering menggaungkan pendidikan karakter untuk meningkatkan karakter bangsa. Kita seharusnya tidak membangun karakter bangsa tetapi yang harus dibangun adalah bangsa berkarakter. Seperti diungkapkan oleh Mochtar Pabotinggi, peneliti LIPI Jakarta. Kita tidak bisa membangun karakter sebuah bangsa karena itu akan menjadi sebuah proses indoktrinasi. Tetapi kita bisa membangun karakter individu-individunya menjadi berkarakter.

Sebenarnya seberapa siapkah bangsa kita menjadi sebuah bangsa yang berkarakter dalam sebuah sistem demokrasi. Untuk menjawab itu Mochtar Pabotinggi mengemukakan bahwa ada beberapa prinsip yang harus dilaksanakan dalam negara demokrasi yaitu: kesetaraan politik, kebebesan berpendapat, rasionalitas politik, supremasi hukum dan kemerdekaan nasional. Barulah setelah prinsip tersebut terpenuhi akan diperkuat dengan karakter yang kokoh dari pribadi-pribadi anak bangsa.

Pandangan yang senada juga datang dari Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace ini mengemukakan bahwa ide-ide kritis Mochtar Buchori patut untuk diapresiasi setinggi-tingginya. Mochtar Buchori mencerminkan seorang pendidik yang anti diskriminasi, menekankan toleransi dan kesadaran multikultural. “Pak Mochtar mengajarkan kita tentang realitas keberagaman kita” tegas Musdah Mulia. Pendidikan tidak hanya menjadi sebuah proses transformasi ilmu pengetahuan tetapi juga sebagai rekonstruksi budaya. Budaya kita yang toleran dengan kemajemukan adat, etnis, bahasa dan agama harus tetap kita jaga.

Selama ini, menurut Musdah Mulia, pendidikan formal kita cenderung tidak mengajarkan sikap-sikap toleransi. Bahkan dalam buku teks pelajaran agama banyak kecenderungan mengajarkan intoleransi yang cukup menghawatirkan. “Pendidikan agama yang sifatnya elementer, justru melahirkan intoleransi” lanjut Musdah “tetapi sayangnya negara tidak menganggap penting persoalan ini” resahnya.

Melihat kondisi bangsa saat ini, dimana toleransi tengah diuji, pendidikan multikultur menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia dewasa ini. Pasalnya, dengan pendidikan multikulturpaling tidak akan membangun kesadaran akan perbedaan. Perbedaan adalah fitrah yang harus dapat dikelola dengan baik. Mengedepankan sikap positif dan konstruktif dengan perilaku yang anti diskriminasi dan membangun kesadaran inklufisme dan pluralisme.  Selain itu, upaya yang perlu dilakukan menurut Musdah Mulia dalam mengembangkan masyarakat yang harmonis adalah melakukan rekonstruksi budaya, reinterpretasi ajaran agama, serta mereformasi kebijakan yang diskriminatif.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Close