HarianMengenal Agama

Mengenal Ordo Xaverian

Caritas Christi Urget Nos, Kasih Kristus mendorong kami, demikian seruan para Misionaris Xaverian ketika menginjakkan kaki di Indonesia. Jauh dari tanah airnya, entah itu Italia, Mexico, Brasil atau wilayah lain, hanya kasih Kristuslah yang membawa mereka ke Indonesia.

“Xaverian merupakan kelompok kecil dari ratusan kelompok tarekat diKatholik” demikian ungkap Francesco Marini SX dalam Sekolah Agama ICRP Jumat, (08/03/2012). Dalam kesempatan tersebut Romo Marini, begitu beliau akrab disapa, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menjelaskan berbagai macam aliran dalam kehidupan Katholik lengkap dengan sejarah perkembangan masing-masing aliran.

Ordo Xaverian sendiri didirikan oleh satu keluarga misionaris baru yaitu Serikat Misionaris Xaverian (SX) yang diprakarsai oleh Beato Conforti pada tahun 1895 silam. Empat tahun kemudian (1899) dua misionaris Xaverian pertama berlayar menuju ke Cina untuk meneruskan karya misioner St. Fransisikus Xaverius, pelindung Serikat Misionaris Xaverian. Pada tahun 1902 Guido Maria Conforti diangkat menjadi Uskup Agung Ravenna, Italia Utara. Setelah beberapa lama menjabat Uskup Ravenna karena kesehatannya lemah ia minta mengundurkan diri. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia diangkat menjadi Uskup Agung Parma.

Romo Marini menuturkan bahwa kondisi kekairan Cina saat itu tidak memungkinkan untuk para misionaris xaverian. Sehingga banyak dari mereka yang pergi kenegara-negara sekitar Cina, termasuk salah satunya adalah Indonesia.

Perjalanan Xaverian di Indonesia memang belum terlalu lama. Bahkan baru pada tahun 1980-an warga asli Indonesia diundang bergabung menjadi Xaverian. Di Indonesia terdapat 30-an Pastor dan 20-an Xaverian muda yang mengabdi. Tetapi sabagian mereka melayani gereja di luar Negeri. Demikian tutur Romo Marini.

Meskipun begitu, kehadiran Xaverian di Indonesia cepat diterima oleh masyarakat karena mewartakan Injil mereka mempergunakan cara-cara santun dan damai. “Kita sangat terbuka menerima dialog, karena dialog akan menambah wawasan kita” tutur Romo Marini. ” Semua agama berhak untuk berdakwah dan mengajak orang lain, tetapi kami tidak suka fundamentalis” pungkas Romo Marini. [Mukhlisin]

Caritas Christi Urget Nos, Kasih Kristus mendorong kami, demikian seruan para Misionaris Xaverian ketika menginjakkan kaki di Indonesia. Jauh dari tanah airnya, entah itu Italia, Mexico, Brasil atau wilayah lain, hanya kasih Kristuslah yang membawa mereka ke Indonesia.

“Xaverian merupakan kelompok kecil dari ratusan kelompok tarekat diKatholik” demikian ungkap Francesco Marini SX dalam Sekolah Agama ICRP Jumat, (08/03/2012). Dalam kesempatan tersebut Romo Marini, begitu beliau akrab disapa, yang juga Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menjelaskan berbagai macam aliran dalam kehidupan Katholik lengkap dengan sejarah perkembangan masing-masing aliran.

Ordo Xaverian sendiri didirikan oleh satu keluarga misionaris baru yaitu Serikat Misionaris Xaverian (SX) yang diprakarsai oleh Beato Conforti pada tahun 1895 silam. Empat tahun kemudian (1899) dua misionaris Xaverian pertama berlayar menuju ke Cina untuk meneruskan karya misioner St. Fransisikus Xaverius, pelindung Serikat Misionaris Xaverian. Pada tahun 1902 Guido Maria Conforti diangkat menjadi Uskup Agung Ravenna, Italia Utara. Setelah beberapa lama menjabat Uskup Ravenna karena kesehatannya lemah ia minta mengundurkan diri. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia diangkat menjadi Uskup Agung Parma.

Romo Marini menuturkan bahwa kondisi kekairan Cina saat itu tidak memungkinkan untuk para misionaris xaverian. Sehingga banyak dari mereka yang pergi kenegara-negara sekitar Cina, termasuk salah satunya adalah Indonesia.

Perjalanan Xaverian di Indonesia memang belum terlalu lama. Bahkan baru pada tahun 1980-an warga asli Indonesia diundang bergabung menjadi Xaverian. Di Indonesia terdapat 30-an Pastor dan 20-an Xaverian muda yang mengabdi. Tetapi sabagian mereka melayani gereja di luar Negeri. Demikian tutur Romo Marini.

Meskipun begitu, kehadiran Xaverian di Indonesia cepat diterima oleh masyarakat karena mewartakan Injil mereka mempergunakan cara-cara santun dan damai. “Kita sangat terbuka menerima dialog, karena dialog akan menambah wawasan kita” tutur Romo Marini. ” Semua agama berhak untuk berdakwah dan mengajak orang lain, tetapi kami tidak suka fundamentalis” pungkas Romo Marini. [Mukhlisin]

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close