Frangky TampubolonOpini

Mencari Norma Baru Jejaring Lintas Iman

Solidaritas Kemanusiaan Hadapi Pandemi Covid-19

Ada koreksi besar bahwa fundamentalisme beragama tidak relevan lagi, ini sudah cukup lama ditengarai, terutama karena fundamentalisme gagal total menghadapi krisis kemanusiaan. Fundamentalisme sangat tidak cocok dengan kehidupan global yang menuntut kolaborasi dan solidaritas. Solidaritas kemanusiaan dalam menghadapi Pandemi Covid-19 inilah yang dibutuhkan saat ini, ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa fundamentalisme nol besar kontribusinya bagi kemanusiaan.

Tentu saja ada recovery yang kita imajinasikan setelah pandemi covid ini berlalu. Misalnya ada beberapa yang memulai mempercakapkan secara serius misalnya Ketahanan Pangan oleh PGI, secara menyeluruh hal ini telah menjadi wacana yang tidak dapat lagi ditolak.

Beberapa pengusaha yang saya kenal telah mengatakan bahwa pandemi covid menghantam telak dunia usaha. Pada kesempatan ini penting bagi kita untuk focus pada new normal. Pandemic covid-19 dalam pendekatan lama mengatakan kita merugi secara material plus non-material.

Pendekatan baru para pegiat lingkungan, pegiat lintas agama dan seharusnya bagi kita semua tanpa terkecuali.  Inilah saatnya mengatur ulang langkah bersama tanpa seorangpun terpinggirkan. Seorang teman mengatakan, “Bumi bisa bernafas kembali dari istirahatnya hiruk pikuk keserakahan manusia.”

Karena itu sumbang saran sekaligus catatan acak saya bagi kita bersama dalam upaya membangun kerjasama lintas iman bisa dimulai dengan hal-hal berikut:

  1. Dalam dialog lintas iman, relasi sosial yang baru tentu saya mengamati masih banyak orang atau lembaga agama hidup dengan pola lama yakni mencari aman. Koreksi terbesar saat ini pola dialog antar iman “kemenag dengan selalu memakai template hanya 6 agama” yang dilakukan di atas panggung masih gencar dilakukan. Semua media meliput dialog ala “kemenag style”, pengaruh gaya seperti ini sudah terasa juga di kalangan anak muda dan anak-anak, ini memprihatinkan sekali. Kita tahu pada masa lampau gus dur, Nucholish Madjid, TH Sumartana meskipun mereka adalah tokoh elit/popular tetapi mereka merakyat dan banyak mengoreksi dengan tegas kepada penguasa.
  2. ICRP tidak henti-hentinya mengkampanyekan bahwa Indonesia itu bukan hanya terdiri atas 6 agama. Ada ratusan agama dan kepercayaan yang seharusnya memperoleh kesempatan yang sama dalam. Spiritualitas perdamaian menjadi panggilan kolaborasi lintas iman. Dan generasi muda menjadi fokus terbesar saat ini. Post Secularism bisa kita pakai untuk melihat bersama bahwa cara lama (cat. kolonialisasi Barat) yang kental menjadi nilai penentu dalam kita melakukan pengamatan. Pelanggaran KBB buah dari konservatisme menguat, yang disebut dengan politik identitas. Kita semua ditantang untuk mengakui bahwa kita enggan melangkah keluar dari ruang nyaman rumah ibadah kita semua. Melauli pandemi Covid-19 ini, secara perlahan,  orang mulai mengerti untuk berpikir dan bertindak berbeda harus dilakukan dalam kehidupan beriman maupun relasi sosial masyarakat.
  3. Saya sangat setuju Pdt Gomar ketum PGI mengatakan berulang-ulang bahwa tantangan terbesar kehidupan sosial masyarakat termasuk hubungan antar iman yang sangat berbahaya adalah, bila terjadi perselingkuhan antara pengusaha, penguasa dan tokoh agama. Kuatnya pengaruh pengusaha dalam ruang agama bisa dibuktikan dengan tidak sedikit pengusaha yang menjadi tokoh agama, dan tentu ada juga tokoh agama yang ingin menjadi pengusaha dan gejala ini muncul diberbagai lapisan. Saya juga menaruh hormat kepada pengusaha yang pada akhirnya menjadi tokoh agama ini berarti lebih mendekatkan diri kepada spiritualitas. Kita sangat senang masih ada AA Yewangoe, Buya Safii Maarif yang secara tegas memperlihatkan keteladanan hidup sederhana dan berlaku selayaknya tokoh agama.
  4. Saya sendiri sangat tertantang untuk melakukan sebuah pendalaman studi dialog antar iman, saya akan mencoba fokus pada pengamatan dialog pasca reformasi. Masih sebuah pengamatan yang perlu dibuktikan bahwa dialog semakin elitis nyaris tidak berkembang. Apakah hal ini bisa disebabkan banyaknya tokoh agama dan jaringannya yang melingkari pusat kekuasaan sehingga ketika ada persoalan diskriminasi umat beriman. Lihatlah kasus yang mengemuka: Sudarto di Padang, Ibu Meliiana di Tanjung Balai, pembakaran masjid di Tolikara Papua dan pembakaran gereja di Aceh Singkil, GKI Yasmin dan HKBP Filadelphia,  apapun yang terjadi, daya kritis yang diperlukan kian memudar/terhilang untuk dapat tetap jernih dan menyelesaikannya. Tentu saja dialog sampai kapanpun adalah sebuah perjalanan bersama, yang sekaligus menjadi sebuah perjalanan yang seharusnya banyak berbagi cerita (bahagia), bukan rasa curiga.
  5. Krisis Kaderisasi. Cerita bahwa ruang dialog lintas agama dilabeli dengan 4L (Lu lagi-lu lagi) membuktikan persoalan kaderisasi adalah mutlak. Adakah lembaga-lembaga agama yang secara serius melakukan ini secara terencana? Proses alamiah kaderisasi tidak akan mencukupi pemenuhan kebutuhan nyata di masa mendatang. Harus ada upaya serius mempersiapkan kader-kader penggiat dialog lintas iman, demi memenuhi kebutuhan nyata di saat pendemi Covid-19 seperti sekarang dan di masa mendatang.

Salam damai Frangky Tampubolon – pegiat perdamaian lintas iman.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close