BuletinHarian

Memperingati Hari Lahir Gus Dur

Bertepatan dengan hari lahir K.H Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal Gus Dur, yaitu pada  tanggal 7 September, Gusdurian Bersama dengan Temu Kebangsaan Orang Muda berkolaborasi dengan Ford Foundation memperingati hari besar tersebut dengan mengadakan webinar dengan tema “Peranan Anak Muda Dalam Perwujudan Sikap Anti-Diskriminasi dan Penghargaan Terhadap Keberagaman”. Webinar tersebut menjadi ruang refleksi pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Webinar ini dibuka oleh Alexander Irwan sebagai Direktur Regional Ford Foundation Indonesia, dalam sambutannya ia mengatakan agar semangat pluralisme yang ada di Indonesia bisa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia, masyarakat tidak terpolarisasi, agar program-program Ford Foundation bisa dengan mudah menjangkau anak muda.

Dalam webinar tersebut ada tiga narasumber yang dihadirkan yang pertama Alissa Wahid yang merupakan putri dari Gus Dur dan juga sebagai Koordinator Jaringan Gus Dur, yang kedua Ernest Prakarsa seorang komika dan komedian, dan yang terakhir Thomas Albertin sebagai alumni Temu Kebangsaan Orang Muda tahun 2019.

Dalam webinar tersebut, Allisa Wahid mengatakan ada dua sikap yang terjadi di masyarakat yang menjadi tantangan keberagaman di Indonesia pada saat ini:

  1. Sikap Eksklusivisme, sebuah sikap yang maunya berteman dengan orang yang sepaham dengan dia atau dari kalangan dia, di luar itu jika ada yang berbeda dianggap sebagai musuh.
  2. Mayoritarianisme, sebuah pandangan atau sikap dimana orang yang merasa mayoritas hidup sesuai kehendak mayoritas, tidak menggunakan prinsip-prinsip keadilan, prinsip-prinsip konstitusi.

Selain itu Allisa Wahid juga mengatakan bahwa Gus Dur sebagai manusia mempunyai tugas memakmurkan bumi, membawa kebaikan di bumi. Bagi Gus Dur manusia di muka bumi harus dijaga kemartabatannya sebagai manusia dimanapun ia berada dan sebagai sesama manusia harus saling mendukung, saling menjaga. Semua itu harus dilakukan sepanjang hidup kita sebagai manusia bukan hanya di waktu-waktu tertentu dan bukan untuk kepentingan sesaat.

Hal tersebut sejalan dengan yang Ernest sampaikan berdasarkan pengalaman dirinya sebagai etnis cina yang pernah mengalami diskriminasi. Ernest mengatakan bahwa Gusdur adalah simbol dari kemanusiaan, anomaly beliau berada di tempat tertinggi tapi kemanusiaan tetap menjadi kompasnya. Gus Dur adalah sebuah simbol kemanusiaan yang dalam gesture politik paling humanis dalam sejarah kita, termasuk untuk etnis cina di Indonesia.

Thomas Albertin sebagai perwakilan orang muda dalam webinar ini, mengajak orang muda untuk bergerak aktif bersama, melakukan kolaborasi untuk sebuah gerakan dalam menjaga dan merawat keberagaman. Menjadi bagian dari Temu Kebangsaan Orang Muda bagi Thomas merupakan bagian dari dirinya yang ingin aktif menjaga dan merawat keberagaman.

Temu Kebangsaan Orang Muda sendiri diinisiasi oleh lima Lembaga yakni Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jaringan Gusdurian (JGD), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), dan Dewan Pengurus Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (DPN PERADAH).

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close