Esai

Memaknai Waisak

Oleh Ngasiran

Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku, juga agama di mana setiap agama yang ada memiliki hari raya keagamaan. Setiap agama akan memiliki kesempatan untuk merayakan hari besar keagamaan, meskipun kesempatan secara nasional kapasitasnya berbeda. Agama Buddha akan merayakan hari besar yang mendapatkan hari libur nasional pada bulan antara Mei dan Juni. Bulan antara Mei dan Juni dalam Agama Buddha disebut sebagai Hari Raya Waisak. Agama Buddha sebenarnya memiliki 4 hari raya, yaitu waisak untuk memperingati 3 peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, Asadha yaitu memperingati pembabaran Dhamma yang pertama kali kepada 5 pertapa, Magga Puja yaitu memperingati berkumpulnya 1250 arahat (siswa Buddha Gotama) yang berkumpul tanpa diundang, dan hari Kathina yaitu persembahan kebutuhan kepada Sangha oleh umat setelah melaksanakan masa pendalaman Dhmma secara khusus.

Perayaan waisak tahun 2012 adalah perayaan yang ke 2556 BE dan menurut penghitungan detik-detik waisak adalah pukul 10:34:39. Waisak sebenarnya adalah nama bulan dalam kehidupan Buddha Gotama, karena dalam bulan tersebut terjadi 3 peristiwa penting sehingga setelah Buddha Gotama meninggal atau parinibbana, bulan tersebut dijadikan hari raya. Tiga peristiwa penting tersebut adalah kelahiran pangeran Sidharta (Buddha Gotama), tercapainya pengetahuan yang sempurna (keBuddhaan), dan parinibbana Buddha Gotama. Tiga peristiwa penting tersebut semuanya terjadi pada bulan waisak. Kelahiran, pencapaian cita-cita (pengetahuan sempurna, dan kematian terjadi dalam bulan yang sama merupakan kejadian yang langka, sehingga melihat ke tiga peristiwa tersebut sudah memberikan rasa yang berbeda tentunya.

Tiga peristiwa penting yang berhubungan dengan Buddha Gotama secara jelas di gambarkan dalam buku Riwayat Hidup Buddha Gotama dan buku lain yang menjelaskan tentang masa hidup Buddha Gotama. Di tengah-tengah kondisi masyarakat dewasa ini, apa sebenarnya makna waisak yang dapat diambil maupun dikontribusikan? Peristiwa yang pertama yaitu kelahiran Pangeran Sidharta. Sidharta adalah anak dari raja yang sudah lama tidak memiliki anak. Berbagai usaha untuk mendapatkan anak telah dilakukan, kemudan permaisuri melaksanakan puasa, rajin berdoa, memberikan bantuan makanan, dan perilaku-perilaku baik lainnya. Mendapatkan anak yang baik harus didahului dengan usaha dan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang muncul karena dilatar belakangi hal yang baik, tidak mendapatkan buah sebelum nenanam dan merawat pohon terlebih dahulu.

Peristiwa yang ke dua merupakan peistiwa tercapainya pengetahuan yang agung. Sidharta mencapai pengetahuan agung setelah melalui proses belajar dengan guru-guru yang terkenal baik kepandainya, kebijaksanaannya, maupun kehebattannya. Sidharta juga melakukan pertapaan ektrim yaitu menyiksa diri selama 6 tahun hingga hampir menghembuskan nafas terakhir. Namun pengetahuan itu belum dicapainya, kemudian Sidharta mulai menyadari ada kesalahan dengan usaha yang dilakukannya. Sidharta terinspirasi dari sair lagu penari rogeng yang melewatinya, “jika tali gitar ditarik terlalu kencang saat dipentik akan putus talinya, namun jika terlalu kendor makan bunyinya tidak akan bagus”. Melakukan tindakan secara ekstrim tidak membawa pada pencapaian yang baik. Sidharta pun belajar dari orang lain tanpa memandang siapa orangnya, seperti halnya penari rogeng yang melewatinya. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar memberikan pelajaran yang berharga. Tekad yang kuat dan cara yang tidak ekstrim mengantarkan Sidharta menjadi Buddha (orang yang tercerahkan). Buddha artinya telah menemukan kembali ajaran yang akan mengobati semua makhluk dari kelahiran kembali, kematian, dan penderitaan.

Pengetahuan yang Buddha Gotama temukan bukan karena usahanya yang selama 6 tahun bertapa, namun karena beliau telah belajar selama berkalpa-kalpa dalam kelahirannya yang lampau. Kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki bukanlah suatu wahyu atau spontan beliau peroleh dalam sekejab. Kematangan perbuatanya yang lampau mendorong tekadnya untuk mendapatkan pengetahuan sempurna. Segala pengetahuan dan kemampuan Buddha Gotama yang luar biasa diperolah karena beliau telah belajar, mengalami sendiri, dan mempraktikkannya dalam kehidupannya yang lampau. Ajaranya yang penuh cinta kasih, mengormati kepada yang patut dihormati, berempati terhadap semua makhluk, dan menunjukkan bagaimana cara untuk menaklukan diri sendiri adalah cara untuk memperoleh kejayaan. Buddha gotama mengetahui semua hal tersebut karena telah di praktikkan dan telah beliau buktikan, sejak dalam kehidupannya yang lampau.

Setelah mencapai penerangan sempurna Buddha Gotama memberikan penghormatan kepada pohon Bodhi yang menjadi tempat bernaung saat mencapai keBuddhaan. Buddha Gotama menatap pohon tersebut tanpa berkedip dalam waktu yang cukup lama sebagai tanpa ucapan terima kasih. Terhadap pohon pun Buddha Gotama tetap memberikan penghormatan, apabila semua manusia meneladaninya tentu kebanjiran dan kerusakan alam tidak akan terjadi, kecuali karena gempa atau bencana alam lain. Kepaada umat awam buddha memberikan 5 latihan dasar untuk dipraktikkan. Pertama adalah tidak membunuh, kemudian tidak mencuri, tidak berlaku asusila (sek bebas), tidak berbohong, memfitnah, berbicara kasar, dan yang kelima adalah tidak minim dan makan yang dapat memabukkan dan melemahkan kesadaran. Telandan Buddha Gotama untuk kesejahteraan hidup bagi seluruh makhluk baik manusia, laki-laki maupun perempuan, binatang, dewa, yang tampak maupun yang tak tampak.

Bulan Mei Indonesia juga memperingati Hari Pendidikan Nasional, bulan yang penuh berkah. Buddha mengajarkan kepada siswanya agar meneliti dulu apa yang ia ajarkan, jangan asal dipercaya. Ehipasiko datang dan buktikan, suatu pembelajaran yang baik untuk diterapkan dalam belajar, agar para peserta didik tidak tersesat dalam menuntuk ilmu. Peserta didik secara umum terbiasa hanya menerima apa yang disampaikan, sehingga menciptkan generasi muda yang hanya cerdas secara IQ, namun EQ, dan SQ nya tidak diasah dengan baik. Belajar adalah proses, memahami setiap proses yang dilalui, praktikkan kembali yang dipelajari, pertimbangkan apakah membawa manfaat atau justru merugikan. Inilah belajar, manusia yang sepanjang hidupnya terus belajar, harus memperhatikan proses jangan sampai hanya berorientasi terhadap hasil. Kecerdasa secara emosi harus dikembangkan agar peserta didik memiliki rasa empati, simpati, kasih sayang, dan mengetahui kehidupan yang sebenarnya. Kecerdasan spiritual yang dikembangkan hendaknya tidak memicu permusuhan dengan kelompok spiritual yang berbeda, namun hendaknya membantu mewujudkan kehidupan yang damai, tanpa kekerasan, kebohongan, ketamakan.

Pendidikan sangatlah penting, dengan semangat waisak, ikuti jejak Buddha Gotama tidak berbuat jahat, mengembangkan perbuatan baik, dan mensucikan hati serta pikiran. Generasi muda yang dengan meneladani sifat Buddha Gotama niscaya bumi ini akan menjadi damai. Dengan generasi muda yang berkualitas IQ, EQ<,dan SQnya. Begitu luhur dan mulianya Buddha Gotama saat beliau Parinibbana segenap makhluk dan alam menghormatinya. Pohon berbunga tidak pada musimnya, bumi bergentar, dan harum kayu cendana bertaburan. Itulah penghormatan yang diperoleh oleh seorang pejuang sejati, yang mampu menklukkan diri sendiri untuk kesejahteraan seluruh makhluk.

Penulis adalah Aktifis Lintas Agama Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Nallanda

 

Show More

Related Articles

One Comment

  1. ketika saya menghadari perayaan waisak di borobudur tahun ini dalam tema “beragama dan keberagamaan” sangatlah berbeda dengan tahun yang lalu, mungkin karena banyak problem konflik dalam keberagamaan. entah dalam memaknai perasaan waisak tahun ini aku merasakan sangat pesimis ketika melihat bagaimana proses dalam mewujudkan masyarakat yang menjujung tinggi kebineka tunggal ika..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close